Top Banner
KAPITA SELEKTA FARMASI “Pelayanan Kefarmasian Rumah Sakit” Riska Arguar Syah 1243050073 Universiras 17 Agustus 1945 Jakarta
30

TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

Dec 14, 2015

Download

Documents

arguar

umum
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
Page 1: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

KAPITA SELEKTA FARMASI

“Pelayanan Kefarmasian

Rumah Sakit”

Riska Arguar Syah

1243050073

Universiras 17 Agustus 1945 Jakarta

Fakultas Farmasi

2014 – 2015

Page 2: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

BAB I

(Pendahuluan)

1.1 Latar Belakang

Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejaterahan umum yang penting dan

harus dapat di wujudkan melalui pembangunan yang berkesenambungan. Pembangunan

kesehatan merupakan salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna

tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar

terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal (Depkes RI, 1992). Rumah sakit

mempunyai salah satu peranan yang penting untuk meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat. Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan tempat menyelenggarakan

upaya kesehatan. Upaya kesehatan adalah kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan

kesehatan, yang bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi

masyarakat.

Pelayanan kefarmasian merupakan unsur dari pelayanan utama di rumah sakit,

dan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem pelayanan rumah sakit. Pelayanan

kefarmasian berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu,

termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.

Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) didefinisikan sebagai unit suatu rumah sakit di

bawah pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh asisten apoteker yang telah

memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kompeten secara

professional.

2

Page 3: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

BAB II

Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit

2.1 Pengertian

Pelayanan kefarmasian dirumah sakit merupakan bagian yang tidak dapat

terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang utuh dan berorientasi

kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi

klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Farmasi rumah sakit bertanggung

jawab terhadap semua barang farmasi yang beredar di rumah sakit tersebut. Hal ini sudah

ditentukan sesuai SK Menkes No. 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan

Rumah Sakit. Didalam rumah sakit terdapat Instalasi yang merupakan fasilitas di rumah

sakit sebagai tempat kegiatan pekerjaan kefarmasian yang ditujukan untuk keperluan

rumah sakit.

2.2 Tujuan Pelayanan Farmasi

1. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal, baik dalam keadaan biasa maupun

dalam keadaan gawat darurat, sesuai dengan keadaan pasien maupun fasilitas yang

tersedia.

2. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan profesional berdasarkan prosedur

kefarmasian dan etik profesi.

3. Melaksanakan Komunikasi Informasi dan Edukasi mengenai obat.

4. Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang berlaku.

5. Melakukan, mengawasi dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, tela’ah

dan evaluasi pelayanan.

6. Mengadakan penelitian di bidang farmasi dan peningkatan metoda.

2.3 Tugas Utama

1. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal.

2. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan farmasi yang profesional berdasarkan

prosedur kefarmasian dan kode etik profesi.

3. Melaksanakan komunikasi, informasi dan edukasi.

3

Page 4: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

4. Memberi pelayanan bermutu melalui analisa dan evaluasi untuk meningkatkan

mutu pelayanan farmasi.

5. Melakukan pengawasan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku.

6. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang farmasi.

7. Mengadakan penelitian dan pengembangan di bidang farmasi.

8. Memfasilitasi tersusunnya standar pengobatan dan formularium rumah sakit.

2.4 Fungsi

Pengelolaan Perbekalan Farmasi

1. Memilih perbekalan farmasi sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit.

2. Merencanakan kebutuhan perbekalan farmasi secara optimal.

3. Mengadakan perbekalan farmasi berpedoman pada perencanaan yang telah

dibuat sesuai ketentuan yang berlaku.

4. Memproduksi perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan

kesehatan di rumah sakit.

5. Menerima perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi danketentuan yang

berlaku.

6. Menyimpan perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan

kefarmasian.

7. Mendistribusikan perbekalan farmasi ke unit-unit pelayanan di rumah sakit.

Pelayanan Kefarmasian dalam Penggunaan Obat dan Alat Kesehatan

1. Mengkaji instruksi pengobatan / resep pasien.

2. Mencegah, mengidentifikasi dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan

penggunaan obat dan alat kesehatan.

3. Memantau efektifitas serta keamanan penggunaan obat dan alat kesehatan.

4. Memberikan informasi kepada petugas kesehatan, pasien serta keluarga.

5. Memberi konseling kepada pasien dan keluarga.

6. Melakukan formulasi sediaan steril (injeksi).

7. Menyiakan nutrisi parenteral.

8. Menentukan penanganan obat kanker.

9. Menentukan kadar obat dalam darah.

10. Mencatatan dan melaporkan setiap kegiatan.

4

Page 5: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

BAB III

Administrasi Dan Pengelolahan

3.1 Kerangka Dasar Organisasi

Pelayanan farmasi diselenggarakan dengan visi, misi, tujuan dan struktur

organisasi yang mencerminkan organisasi dan penyelenggaraan berdasarkan filosofi

pelayanan kefarmasian. Pelayanan farmasi diselenggarakan dan diatur demi kelangsungan

pelayanan farmasi yang efisien dan bermutu berdasarkan fasilitas yang ada dan standar

pelayanan keprofesian yang universal.

Skema organisasi adalah gambaran pembagian tugas, koordinasi dan kewenangan

serta fungsi. Kerangka organisasi minimal dapat mengakomodasi penyelenggaraan

pengelolaan perbekalan, pelayanan farmasi klinik dan manajemen mutu. Kemudian harus

selalu dinamis sesuai perubahan situasi dan kondisi rumah sakit serta tetap menjaga mutu

sesuai harapan pasien. Skema organisasi dan pembagian tugas dapat direvisi kembali

setiap tiga tahun dan diubah apabila terjadi beberapa hal seperti :

a. Perubahan struktur kepegawaian.

b. Perubahan standar pelayanan farmasi.

c. Perubahan peran rumah sakit.

d. Penambahan atau pengurangan pelayanan.

3.2 Peran Apoteker Dalam Rumah Sakit

3.2.1 Sebagai Panitia Farmasi Dan Terapi (PFT)

Merupakan suatu organisasi untuk mewakili hubungan komunikasi antara

para staf medis dengan staf farmasi. Oleh karena itu, anggotanya terdiri dari tiga

dokter sebagai perwakilan spesialisasi - spesialisasi penyakit di rumah sakit dan

apoteker sebagai wakil farmasi di rumah sakit, serta tidak ketinggalan tenaga

kesehatan lainnya. Sebagai ketua dipilih dokter yang biasanya seorang ahli

farmakologi klinis. Untuk jabatan sekretaris dipilih seorang apoteker yang

bertanggu jawab dalam hubungan rapat PFT yang mencangkup persiapan dan

hasil rapat. Susunan anggota dan kegiatan dalam setiap rumah sakit dapat

berbeda-beda.

5

Page 6: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

Peran apoteker dalam PFT sangat strategis dan penting karena semua

kebijakan dan peraturan dalam mengelola dan menggunakan obat seluruh unit di

rumah sakit ditentukan dalam panitia inioleh PFT. Agar dapat mengemban

tugasnya secara baik dan benar, para apoteker harus secara mendasar dan

mendalam dibekali dengan ilmu-ilmu farmakologi, farmakologi klinik,

farmakoepidemologi, dan farmakoekonomi disamping ilmu-ilmu lain yang sangat

dibutuhkan untuk memperlancar hubungan profesionalnya dengan para petugas

kesehatan lain di rumah sakit.

Tujuan dari dibentuknya panitia ini adalah untuk membuat kebijakan

mengenai pemilihan, penggunaan obat dan evaluasinya. Serta melengkapi staf

yang profesional di bidang kesehatan dengan ilmu pengetahuan terbaru yang

berhubungan dengan obat dan penggunaan obat sesuai dengan kebutuhan. Untuk

kegiatannya diadakan rapat minimal dua bulan secara teratur dengan

mengundang pakar-pakar dari dalam maupun luar rumah sakit yang dapat

memberikan masukan bagi pengelolaan kepanitiaan.

Dalam pelaksanaannya PFT memiliki kewajiban seperti memberikan

rekomendasi pada pimpinan rumah sakit untuk mencapai budaya pengelolaan dan

penggunaan obat secara rasional. Mengkoordinasi pedoman diagnosis dan terapi

serta antibiotika, formularium rumah sakit, melaksanakan pendidikan dalam

bidang pengelolaan dan penggunaan obat terhadap pihak-pihak yang terkait, dan

melaksanakan pengkajian pengelolaan, penggunaan obat dan memberikan umpan

balik atas hasil pengkajian tersebut.

3.2.1.1 Fungsi dari Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)

Dalam terbentuknya kepanitian memiliki fumgsi seperti :

a. Mengembangkan formularium dirumah sakit dan merevisinya,

kemudian pemilihan obat untuk dimasukan pada formularium

harus berdasarkan evaluasi secara subjektif terhadap efek terapi,

keamanan serta harga obat dan harus meminimalkan duplikasi

dalam tipe obat, kelompok dan produk obat yang sama.

b. PFT harus mengevaluasi produk obat baru atau dosis obat yang di

usulkan oleh staf medis untuk disetujui atau ditolak.

c. Menetapkan pengelolaan obat yang digunakan di rumah sakit dan

yang termasuk dalam kategori khusus.

6

Page 7: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

d. Membantu instalasi farmasi dalam mengembangkan tinjauan

terhadap kebijakan dan peraturan mengenai penggunaan obat di

rumah sakit sesuai dengan peraturan yang berlaku secara lokal

maupun nasional.

e. Melakukan tinjauan terhadap penggunaan obat di rumah sakit

dengan mengkaji medical record dibandingkan dengan standar

diagnosa dan terapi.

f. Mengumpulkan dan meninjau laporan mengenai efek samping

obat.

g. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang menyangkut obat kepada

staf medis lainnya.

3.2.2 Panitia Pengendalian Infeksi Rumah Sakit

Panitia Pengendalian Infeksi Rumah Sakit adalah organisasi yang terdiri

dari staf medis, apoteker yang mewakili farmasi rumah sakit dan tenaga

kesehatan lainnya. Organisasi ini bertujuan untuk menunjang pembuatan

pedoman pencegahan infeksi, memberikan informasi untuk menetapkan

disinfektan yang akan digunakan di rumah sakit, melaksanakan pendidikan

tentang pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit, melaksanakan penelitian

surveilans infeksi nosokomial di rumah sakit.

3.2.3 Panitia – Panitia Lain

Apoteker juga berperan dalam kepanitiaan yang menyangkut dengan

pengobatan, antara lain :

Panitia Mutu Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit.

7

Page 8: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

Tim perawatan paliatif dan bebas nyeri.

Tim penanggulangan AIDS.

Tim Transplantasi.

Tim PKMRS, dan lain-lain.

3.3 Administrasi dan Pelaporan

Administrasi bertujuan melihat data akurat dari arsip dan laporan sebagai acuan

evaluasi, lalu dari data tersebut dapat dijadikan perencanaan. Administrasi perbekalan

farmasi merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pencatatan manajemen perbekalan

farmasi serta penyusunan laporan yang berkaitan dengan perbekalan farmasi secara rutin

atau tidak rutin dalam periode bulanan, triwulanan, semesteran atau tahunan.

Administrasi keuangan pelayanan farmasi merupakan pengaturan anggaran, pengendalian

dan analisa biaya, pengumpulan informasi keuangan, penyiapan laporan, penggunaan

laporan yang berkaitan dengan semua kegiatan pelayanan farmasi secara rutin atau tidak

rutin dalam periode bulanan, triwulanan, semesteran atau tahunan.

Administrasi penghapusan merupakan kegiatan penyelesaian terhadap perbekalan

farmasi yang tidak terpakai karena kadaluarsa, rusak, mutu tidak memenuhi standar

dengan cara membuat usulan penghapusan perbekalan farmasi kepada pihak terkait sesuai

dengan prosedur yang berlaku. Pelaporan adalah kumpulan catatan dan pendataan

kegiatan administrasi perbekalan farmasi, tenaga dan perlengkapan kesehatan yang

disajikan kepada pihak yang berkepentingan. Proses pendataan dan pelaporan dapat

dilakukan dengan cara tulis tangan, mesin tik ataupun otomatisasi dengan menggunakan

software pada komputer.

8

Page 9: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

BAB IV

Staf dan Pimpinan

Personalia pelayanan farmasi rumah sakit merupakan sumber daya manusia yang

melakukan pekerjaan kefarmasian di rumah sakit. Yang termasuk dalam bagan organisasi

rumah sakit, dengan persyaratan terdaftar di Departeman Kesehatan dan Asosiasi Profesi,

Mempunyai Izin Kerja dan mempunyai Surat Keputusan Penempatan. Penyelenggaraan

pelayanan kefarmasian dilaksanakan oleh tenaga farmasi profesional yang berwewenang

berdasarkan undang-undang, memenuhi persyaratan dari berbagai aspek dan sikap

keprofesian terus menerus dalam rangka menjaga mutu profesi dan kepuasan pelanggan.

Pelayanan farmasi diatur dan dikelola demi terciptanya tujuan pelayanan.

Apoteker dalam kefarmasian rumah sakit sebagai ketua yang bertugas melayani

penyelenggaraan dengan pengalaman minimal dua tahun di bagian farmasi rumah sakit. Pada

tempat pelayanan terdapat apoteker dan ada pendelegasian bila apoteker berhalangan hadir.

Terdapat uraian tugas (Job discription) bagi staf dan pimpinan farmasi, jumlah dan kualifikasi

staf sesuai kebutuhan. Selain itu, apoteker harus mampu melatih dan mendidik dan ada

penilaian terhadap staf berdasarkan tugas.

9

Page 10: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

BAB V

Pengembangan Staf Dan Program Pendidikan

Setiap staf di rumah sakit harus mempunyai kesemapatan untuk meningkatkan

pengetahuan dan ketrampilannya. Tujuan dari pengembangan staf dan pendidikan yaitu untuk

mempersiapkan sumber daya manusia agar dapat melaksanakan rencana strategi Instalasi

farmasi di waktu yang akan datang, menghasilkan calon Apoteker, Ahli Madya Farmasi,

Asisten Apoteker yang dapat menunjukkan potensi dan produktifitasnya secara optimal di

bidang kefarmasian. Selain itu bermaksud juga untuk meningkatkan pemahaman tentang

farmasi rumah sakit, memahami tentang pelayanan farmasi klinik, meningkatkan

keterampilan, pengetahuan dan kemampuan di bidang kefarmasian.

5.1 Pengembangan Dan Penelitian

Instalasi Farmasi Rumah Sakit pemerintah kelas A dan B dan rumah sakit swasta

sekelas, sudah mulai meningkatkan mutu perbekalan farmasi dan obat-obatan yang

diproduksi serta mengembangkan dan melaksanakan praktek farmasi klinik. Pimpinan

dan Apoteker Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus berjuang, bekerja keras dan

berkomunikasi efektif dengan semua pihak agar pengembangan fungsi IFRS yang baru

itu dapat diterima oleh pimpinan dan staf medis rumah sakit. Pengembangan yang

dilalukan dengan metode penelitian yang dilakukan apoteker, seperti :

a. Penelitian farmasetik, termasuk pengembangan dan menguji bentuk sediaan

baru. Formulasi dan metode pemberian (konsumsi) dan sistem pelepasan obat

dalam tubuh Drug Released System.

b. Berperan dalam penelitian klinis yang diadakan oleh praktisi klinis, terutama

dalam karakterisasi terapetik, evaluasi, pembandingan hasil outcomes dari terapi

obat dan regimen pengobatan.

c. Penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan, termasuk penelitian perilaku

dan sosioekonomi seperti penelitian tentang biaya keuntungan cost-benefit dalam

pelayanan farmasi.

d. Penelitian operasional operation research seperti studi waktu, gerakan, dan

evaluasi program dan pelayanan farmasi yang baru dan yang ada sekarang.

10

Page 11: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

5.2 Pendidikan Dan Pelatihan

Pendidikan dan pelatihan adalah suatu proses peningkatan pengetahuan dan

pemahaman di bidang kefarmasian atau bidang yang berkaitan dengan kefarmasian secara

kesinambungan untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan. Pendidikan dan

Pelatihan merupakan kegiatan pengembangan sumber daya manusia Instalasi Farmasi

Rumah Sakit untuk meningkatkan potensi dan produktifitasnya secara optimal, serta

melakukan pendidikan dan pelatihan bagi calon tenaga farmasi untuk mendapatkan

wawasan, pengetahuan dan keterampilan di bidang farmasi rumah sakit. Pendidikan yang

didapat biasanya melalui pendidikan formal, pendidikan berkelanjutan (internal dan

eksternal), pertemuan ilmiah (seminar, simposium), studi banding maupun raktek kerja

lapangan.

11

Page 12: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

BAB VI

Fasilitas dan Peralatan

Dalam Instalasi Kefarmasian Rumah Sakit harus tersedia fasilitas dan alat yang sesuai

dengan standar yang berlaku. Selain sesuai standar fasilitas dan peralatan juga harus dapat

mendukung administrasi, profesionalisme, dan fungsi teknik pelayanan farmasi, sehingga

menjamin terselenggaranya pelayanan farmasi yang fungsional, profesional dan etis.

6.1 Bangunan

Fasilitas bagunan harus sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku seperti :

a. Besar atau luas bagunan cukup untuk penyelenggaraan asuhan kefarmasian di

rumah sakit.

b. Pemisahan antara ruangan penyelenggaraan manajemen, pelayanan langsung pada

pasien, dispensing serta terdapat penanganan limbah.

c. Pemisahkan antara ruangan steril, bersih, daerah abu-abu dan bebas kontaminasi.

d. Persyaratan ruang tentang suhu, pencahayaan, kelembaban, tekanan dan

keamanan baik dari pencuri maupun binatang pengerat. Fasilitas peralatan

memenuhi persyaratan yang ditetapkan terutama untuk perlengkapan dispensing

baik untuk sediaan steril, non steril maupun cair untuk obat luar atau dalam.

e. Lokasinya harus menyatu dengan sistem pelayanan rumah sakit (tidak berjauhan).

f. Ruangannya terdiri dari ruang pimpinan, ruang staf, ruang kerja / administrasi dan

ruang pertemuan.

6.2 Peralatan

Peralatan harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan terutama untuk

perlengkapan dispensing baik untuk sediaan steril, non steril, maupun cair untuk obat luar

atau dalam. Fasilitas peralatan harus dijamin sensitif pada pengukuran dan memenuhi

persyaratan, peneraan dan kalibrasi untuk peralatan tertentu setiap tahun. Peralatan yang

umum yang harus tersedis umumnya alat untuk penyimpanan, peracikan dan pembuatan

obat baik nonsteril maupun aseptik, alat kantor untuk administrasi dan arsip, kepustakaan

yang memadai untuk melaksanakan pelayanan informasi obat, lemari penyimpanan

khusus untuk narkotika, lemari pendingin dan AC untuk obat yang termolabil,

penerangan, sarana air, ventilasi dan sistem pembuangan limbah yang baik serta alarm.

12

Page 13: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

BAB VII

Kebijakan Dan Prosedur

Semua berbagai kebijakan dan prosedur yang ada, harus tertulis dan dicantumkan

tanggal dikeluarkannya peraturan tersebut. Kriteria kebijakan dan prosedur dibuat oleh kepala

instalasi, dan komite farmasi dan terapi, serta para dokter. Peraturan dan prosedur harus

mencerminkan standar pelayanan farmasi yang mutakhir, sesuai dengan peraturan dan tujuan

dari pelayanan farmasi itu sendiri. Pengelolaan Perbekalan Farmasi merupakan suatu

kegiatan kefarmasian yang panjang dimulai dari pemilihan, perencanaan, pengadaan,

produksi, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, penghapusan,

administrasi dan pelaporan serta evaluasi yang diperlukan kegiatan pelayanan. Tujuan dari

pengelolah perbekalan farmasi yaitu :

a. Mengelola perbekalan farmasi yang efektif dan efesien.

b. Menerapkan farmakoekonomi dalam pelayanan.

c. Meningkatkan kompetensi/kemampuan tenaga farmasi.

d. Mewujudkan Sistem Informasi Manajemen berdaya guna dan tepat guna.

e. Melaksanakan pengendalian mutu pelayanan.

7.1 Pemilihan

Merupakan proses kegiatan dari meninjau masalah kesehatan yang terjadi di

rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis, menentukan kriteria

pemilihan dengan memprioritaskan obat esensial, standarisasi sampai menjaga dan

memperbaharui standar obat. Penentuan seleksi obat merupakan peran aktif apoteker

untuk menetapkan kualitas dan efektifitas serta jaminan dalam transaksi pembelian.

7.2 Perencanaan

Merupakan proses dalam pemilihan jenis, jumlah dan harga perbekalan farmasi

yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran. Untuk menghindari kekosongan obat

dengan menggunakan metode yang dapat dipertanggung jawabkan dan dasar-dasar

perencanaan yang telah ditentukan antara lain konsumsi, epidemiologi dan kombinasi

keduanya disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.

13

Page 14: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

7.3 Pengadaan

Merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan

dan disetujui dengan cara pembelian, produksi sediaan farmasi, maupun umbangan /

droping / hibah.

7.4 Produksi

Merupakan kegiatan membuat, merubah bentuk dan pengemasan kembali

sediaan farmasi steril atau nonsteril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di

rumah sakit. Kriteria sediaan yang diproduksi diantaranya, dengan formula khusus, harga

murah, kemasan yang lebih kecil, tidak diproduksi dipasaran, untuk penelitian, untuk

nutrisi parenteral, rekonstruksi sediaan obat kanker.

7.5 Penerimaan

Merupakan kegiatan untuk menerima sediaan yang telah diadakan sesuai dengan

aturan kefarmasian, melalui pembelian langsung, tender, konsinyasi atau sumbangan. Hal

yang harus diperhatikan dalam menerima sediaan farmasi yaitu sebagai berikut :

Pabrik harus mempunyai Sertifikat Analisa.

Sediaan harus bersumber dari distributor utama.

Harus mempunyai Material Safety Data Sheet (MSDS).

Khusus untuk alat kesehatan/kedokteran harus mempunyai certificate of

origin Expire date minimal 2 tahun.

7.6 Penyimpanan

Dimaksudkan untuk mengatur perbekalan farmasi menurut persyaratan yang

ditetapkan seperti, pembedaan pemnimpana menurut bentuk sediaan dan jenisnya,

suhunya, kestabilannya, mudah tidaknya meledak / terbakar, dan ketahanan terhadap

cahaya disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan

farmasi sesuai kebutuhan.

7.7 Pendistribusian

Merupakan kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di rumah sakit untuk

pelayanan individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap dan rawat jalan serta untuk

menunjang pelayanan medis. Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan untuk

dijangkau oleh pasien dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas sumber daya

14

Page 15: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

yang ada, metode sentralisasi atau desentralisasi, sistem floor stock, resep individu,

dispensing dosis unit atau kombinasi. Pendistribusian perbekalan farmasi dibedakan atas

kebutuhan pasien :

Pasien rawat inap.

Pasien rawat jalan.

Pendistribusian diluar jam kerja.

7.8 Penghapusan

Terdapat sistem yang mendokumentasikan penggunaan obat yang salah atau

dikeluhkan pasien. Pencatatan di atas penting untuk memperbaiki kesalahan dan

mengatasi masalah obat. Obat yang sudah tidak terpakai kemudian dihapus sesuai

peraturan dan prosedur.

Obat hanya diberikan setelah mendapat pesanan dari dokter dan apoteker

menganalisa secara kefarmasian. Kebijakan dan prosedur tertulis harus mencantumkan

beberapa hal penting berikut :

Cara pembuatan obat yang baik, Macam obat yang dapat diberikan oleh perawat

atas perintah dokter.

Label obat yang memadai dan daftar obat yang tersedia.

Gabungan obat parenteral dan labelnya.

Pencacatan dalam rekam farmasi pasien beserta dosis obat yang diberikan.

Pengadaan dan penggunaan obat di rumah sakit.

Pelayanan perbekalan farmasi untuk pasien rawat inap, rawat jalan, karyawan dan

pasien tidak mampu.

15

Page 16: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

Pencatatan, pelaporan dan pengarsipan mengenai pemakaian obat dan efek

samping obat bagi pasien rawat inap dan rawat jalan serta pencatatan penggunaan

obat yang salah dan atau dikeluhkan pasien.

Pengawasan mutu pelayanan dan pengendalian perbekalan farmasi.

Pemberian Konseling / Informasi oleh apoteker kepada pasien maupun keluarga

pasien dalam hal penggunaan dan penyimpanan obat serta berbgai aspek

pengetahuan tentang obat demi meningkatkan derajat kepatuhan dalam

penggunaan obat.

Pemantauan terapi obat (TDM) dan pengkajian penggunaan obat.

Apabila ada sumber daya farmasi lain di samping instalasi maka secara organisasi

di bawah koordinasi instalasi farmasi.

Prosedur penarikan / penghapusan obat.

Pengaturan persediaan dan pesanan.

Penyebaran informasi mengenai obat yang bermanfaat kepada staf.

Masalah penyimpanan obat, yang sesuai dengan peraturan / undang-undang.

Pengamanan pelayanan farmasi dan penyimpanan obat harus terjamin.

Peracikan, penyimpanan, dan pembuangan obat-obat sitotoksik.

Prosedur yang harus ditaati bila terjadi kontaminasi terhadap staf.

16

Page 17: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

BAB VIII

Evaluasi Dan Pengendalian Mutu

Pelayanan farmasi harus mencerminkan kualitas pelayanan kefarmasian yang bermutu

tinggi, melalui cara pelayanan farmasi rumah sakit yang baik. Pelayanan farmasi dilibatkan

dalam program pengendalian mutu pelayanan rumah sakit. Mutu pelayanan farmasi harus

dievaluasi secara periodik terhadap konsep kebutuhan, proses dan hasil yang diharapkan,

demi menunjang peningkatan mutu pelayanan. Evaluasi dan pengendalian mutu bertujuan

untuk pelayanan farmasi yang memenuhi standar pelayanan yang telah ditetapkan dan dapat

memuaskan pelanggan, terciptanya pelayanan farmasi yang menjamin efektifitas obat dan

keamanan pasien, meningkatkan efesiensi pelayanan, meningkatkan mutu obat yang

diproduksi di rumah sakit yang sesuai CPOB, dan tentu saja menurunkan keluhan pelanggan

atau unit kerja terkait.

Metode evaluasi melalui beberapa tahapan dimulai dari audit (pengawasan), yaitu

evaluasi proses hasil kegiatan apakah yang sudah sesuai standar. Kemudian ada review

(penilaian) yang merupakan evaluasi terhadap pelayanan yang telah diberikan, penggunaan

sumber daya, penulisan resep. Lalu survei untuk mengukur kepuasan pasien, dilakukan

dengan angket atau wawancara langsung dan observasi terhadap kecepatan pelayanan antrian,

ketepatan serta penyerahan obat. Selain motode evaluasi untuk meningkatkan kualitas

dilakukan pula pengendalian mutu. Pengendalian mutu merupakan kegiatan pengawasan,

pemeliharaan dan audit terhadap perbekalan farmasi untuk menjamin mutu, mencegah

kehilangan, kadaluarsa, rusak dan mencegah ditarik dari peredaran serta keamanannya sesuai

dengan Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS).

17

Page 18: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

BAB IX

Penutup

Penetapan standar pelayanan farmasi rumah sakit bukanlah menjadi ketetapan pasti

bagi semua permasalahan yang ada pada rumah sakit. Untuk menjamin pelayan rumah sakit

yang baik dan benar tidaklah mudah, akan banyak kendala yang akan dihadapi baik dari

kebinyakan management rumah sakit beserta staf – staf yang terkait, ketetapan peraturan,

sumber daya manusia atau tenaga pekerja, fasilitas dan peralatan, prosedur pembuatan serta

evaluasi.

Pelaksanaan standar pelayanan farmasi dirumah sakit mengacu pada Surat

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan

Rumah Sakit. Selain itu diperlukan juga komitmen dan kerjasama yang lebih baik antara

Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan dengan Direktorat Jenderal

Pelayanan Medik. Sehingga, pelayanan rumah sakit pada umumnya akan semakin optimal

dan khususnya pelayanan farmasi di rumah sakit akan dirasakan nyaman oleh pasien.

18

Page 19: TUGAS Farmasi Di Rumah Sakit

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2008. Standar Pelayanan Kefarmasian Rumah Sakit. Departemen Kesehatan

Republik Indonesia : Jakarta.

Anonim. 2011. Pelayanan Kefarmasian Rumah Sakit. http://scribd.com/pelayanan-

kefarmasia-rumah-sakit. Di askes Minggu, 21 September 2014

Yanfa. 2013. Dimensi Baru Pelayanan Kefarmasian. http://ocw.usu.ac.id/course/

download/1129-yanfa_slide_dimensi_baru_pelayanan_kefarmasian.pdf. Di akses Senin,

22 September 2014 Pukul 21.15

Dekes RI. 2012. Standar Pelayanan Farmasi Di RS. http://www.hukor.depkes.go.id/

up_prod_kepmenkes/KMK%20No.%201197%20ttg%20Standar%20Pelayanan

%20Farmasi%20Di%20RS.pdf. Di akses Senin, 22 September 2014 Pukul 23.00

19