Top Banner
BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 21 BAB 2 : PERKEMBANGAN INFLASI Inflasi Gorontalo pada triwulan III-2011 sebesar 3,27% (y.o.y) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,11% (y.o.y). Melemahnya tekanan inflasi disebabkan oleh menurunnya harga komoditas bahan makanan. Lancarnya ketersediaan pasokan menjadi faktor utama menurunnya harga komoditas bumbu-bumbuan seperti cabe dan bawang merah. 2.1 INFLASI GORONTALO Inflasi Gorontalo pada triwulan III-2011 sebesar 3,27% (y.o.y) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,11% (y.o.y). Melemahnya tekanan inflasi periode laporan terutama akibat dari menurunnya volatile food yang mengalami deflasi sebesar 0.90% (y.o.y) jauh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 12,07% (y.o.y). Sementara itu, core inflation sebesar 6,44% (y.o.y) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,64% (y.o.y). Sedangkan administered price sebesar 2,96% (y.o.y) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,47% (y.o.y). Tabel 2.1 Disagregasi Inflasi Provinsi Gorontalo Sumber : Bank Indonesia Gorontalo (Data Diolah) Melemahnya tekanan inflasi disebabkan oleh menurunnya harga komoditas bahan makanan terutama bumbu-bumbuan. Meskipun harga barang sandang mengalami kenaikan karena meningkatnya tekanan permintaan masyarakat saat Ramadhan dan Lebaran, namun penurunan harga yang signifikan dari komoditas bumbu-bumbuan terutama tomat, cabe dan bawang merah menyebabkan secara keseluruhan inflasi Gorontalo mengalami perlambatan. Lancarnya ketersediaan pasokan menjadi faktor utama menurunnya harga komoditas bumbu-bumbuan. Cuaca yang mendukung meningkatkan produktivitas tanaman tomat dan cabe. Di sisi lain, permintaan cabe dari Manado juga masih minim sehingga harga cabe di Gorontalo cenderung menurun. Sementara itu, harga bawang juga jatuh karena hasil liason JUNI SEPT DES JAN FEB MAR APR MEI JUNI JULI AUG SEPT Total Inflasi 2.73% 7.60% 7.43% 7.13% 5.28% 5.77% 6.17% 6.69% 7.11% 6.91% 3.92% 3.27% Core Inflation 3.41% 3.40% 2.68% 2.79% 3.43% 3.53% 4.23% 4.27% 4.64% 4.50% 5.47% 6.44% Volatile Food 1.95% 15.71% 16.30% 15.41% 8.40% 8.57% 8.69% 11.35% 12.07% 12.46% 1.55% -0.90% Administered Price 2.39% 5.30% 5.25% 4.90% 4.69% 6.52% 6.75% 5.30% 5.47% 4.26% 4.25% 2.96% Total Inflasi 0.20% 0.36% 0.59% 0.10% -0.07% -0.01% -0.50% 0.92% 0.60% 1.26% 0.84% -0.27% Core Inflation 0.23% 0.03% 0.19% 0.56% 0.55% 0.20% 0.56% 0.12% 0.59% 1.18% 1.60% 0.95% Volatile Food 0.29% 0.22% 1.22% -0.32% -0.83% -1.56% -2.49% 2.68% 0.94% 2.00% -0.15% -2.20% Administered Price -0.02% 1.24% 0.46% -0.21% -0.20% 1.92% 0.21% 0.08% 0.14% 0.33% 0.71% -0.01% 2010 Disagregasi 2011 Inflasi Bulanan (mtm)
26

PERKEMBANGAN INFLASI BAB 2 : PERKEMBANGAN INFLASI · 2013-10-12 · Putih kg 27,000 18,000 26,000 28,000 26,000 ... Gula Pasir kg 12,000 12,000 12,000 11,500 11,500 ... komoditas

Jul 26, 2019

Download

Documents

vokien
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
  • BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI

    BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 21

    BAB 2 : PERKEMBANGAN INFLASI

    Inflasi Gorontalo pada triwulan III-2011 sebesar 3,27% (y.o.y) lebih rendah

    dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,11% (y.o.y). Melemahnya tekanan inflasi

    disebabkan oleh menurunnya harga komoditas bahan makanan. Lancarnya ketersediaan

    pasokan menjadi faktor utama menurunnya harga komoditas bumbu-bumbuan seperti cabe

    dan bawang merah.

    2.1 INFLASI GORONTALO

    Inflasi Gorontalo pada triwulan III-2011 sebesar 3,27% (y.o.y) lebih rendah

    dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,11% (y.o.y). Melemahnya tekanan inflasi

    periode laporan terutama akibat dari menurunnya volatile food yang mengalami deflasi

    sebesar 0.90% (y.o.y) jauh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami

    inflasi sebesar 12,07% (y.o.y). Sementara itu, core inflation sebesar 6,44% (y.o.y) lebih

    tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,64% (y.o.y). Sedangkan administered

    price sebesar 2,96% (y.o.y) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,47%

    (y.o.y).

    Tabel 2.1 Disagregasi Inflasi Provinsi Gorontalo

    Sumber : Bank Indonesia Gorontalo (Data Diolah)

    Melemahnya tekanan inflasi disebabkan oleh menurunnya harga komoditas bahan

    makanan terutama bumbu-bumbuan. Meskipun harga barang sandang mengalami kenaikan

    karena meningkatnya tekanan permintaan masyarakat saat Ramadhan dan Lebaran, namun

    penurunan harga yang signifikan dari komoditas bumbu-bumbuan terutama tomat, cabe dan

    bawang merah menyebabkan secara keseluruhan inflasi Gorontalo mengalami perlambatan.

    Lancarnya ketersediaan pasokan menjadi faktor utama menurunnya harga komoditas

    bumbu-bumbuan. Cuaca yang mendukung meningkatkan produktivitas tanaman tomat dan

    cabe. Di sisi lain, permintaan cabe dari Manado juga masih minim sehingga harga cabe di

    Gorontalo cenderung menurun. Sementara itu, harga bawang juga jatuh karena hasil liason

    JUNI SEPT DES JAN FEB MAR APR MEI JUNI JULI AUG SEPT

    Total Inflasi 2.73% 7.60% 7.43% 7.13% 5.28% 5.77% 6.17% 6.69% 7.11% 6.91% 3.92% 3.27%

    Core Inflation 3.41% 3.40% 2.68% 2.79% 3.43% 3.53% 4.23% 4.27% 4.64% 4.50% 5.47% 6.44%

    Volatile Food 1.95% 15.71% 16.30% 15.41% 8.40% 8.57% 8.69% 11.35% 12.07% 12.46% 1.55% -0.90%

    Administered Price 2.39% 5.30% 5.25% 4.90% 4.69% 6.52% 6.75% 5.30% 5.47% 4.26% 4.25% 2.96%

    Total Inflasi 0.20% 0.36% 0.59% 0.10% -0.07% -0.01% -0.50% 0.92% 0.60% 1.26% 0.84% -0.27%

    Core Inflation 0.23% 0.03% 0.19% 0.56% 0.55% 0.20% 0.56% 0.12% 0.59% 1.18% 1.60% 0.95%

    Volatile Food 0.29% 0.22% 1.22% -0.32% -0.83% -1.56% -2.49% 2.68% 0.94% 2.00% -0.15% -2.20%

    Administered Price -0.02% 1.24% 0.46% -0.21% -0.20% 1.92% 0.21% 0.08% 0.14% 0.33% 0.71% -0.01%

    2010Disagregasi

    2011

    Inflasi Bulanan (mtm)

  • BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI

    22 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011| BANK INDONESIA

    dengan para pedagang menginformasikan bahwa daerah asal impor bawang sedang

    mengalami panen raya.

    Sumber : Bank Indonesia Gorontalo (Data Diolah)

    Grafik 2.1 Disagregasi Inflasi Tahunan (y.o.y) Provinsi Gorontalo

    2.1.1 FAKTOR FUNDAMENTAL

    Core inflation atau inflasi inti pada triwulan III-2011 sebesar 6,44% (y.o.y) lebih tinggi

    dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,64% (y.o.y) seiring dengan meningkatnya

    berbagai tekanan faktor fundamental terutama output gap, ekspektasi inflasi, dan imported

    inflation. Output gap negatif diperkirakan memberi tekanan inflasi terkait dengan

    meningkatnya permintaan masyarakat dalam rangka perayaan Ramadhan dan Lebaran

    pada triwulan laporan. Permintaan masyarakat tersebut terutama mendorong kenaikan

    harga barang sandang yang pada umumnya masuk dalam perhitungan inflasi inti. Di sisi

    lain, diperkirakan kapasitas produksi masih belum mampu mengimbangi tingginya

    permintaan masyarakat. Hal ini diindikasikan oleh Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU)

    yang menunjukkan lemahnya kapasitas produksi pada triwulan laporan.

    Sumber : SKDU, Bank Indonesia Gorontalo

    Grafik 2.2 Kapasitas Produksi

  • BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI

    BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 23

    Ekspektasi inflasi pada triwulan laporan diperkirakan masih optimis dengan nilai

    indeks di atas 100, yang berarti bahwa masyarakat menganggap bahwa harga barang akan

    mengalami kenaikan.

    Sumber : Survei Konsumen, Bank Indonesia Gorontalo

    Grafik 2.3 Indeks Keyakinan Konsumen

    Faktor kenaikan harga-harga barang yang diimpor (imported inflation) dari luar

    daerah atau luar negeri turut mempengaruhi pergerakan tingkat inflasi inti di Gorontalo. Tren

    kenaikan harga komodtias internasional seperti emas ikut memberi sumbangan kepada

    kenaikan core inflation.

    Sumber : Bloomberg

    Grafik 2.4 Perkembangan Harga Emas Internasional

    Harga

    Perubahan Harga (yoy)

    % yoy

  • BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI

    24 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011| BANK INDONESIA

    2.1.2 FAKTOR NON FUNDAMENTAL

    Faktor non-fundamental merupakan penyebab utama melemahnya inflasi Gorontalo

    terutama dari volatile food inflation. Adapun komoditas yang mengalami tren penurunan

    yang cukup signifikan adalah bawang merah, cabe merah, dan cabe keriting. Hasil

    konfirmasi dengan para pedagang mengemukakan bahwa merosotnya harga-harga

    komoditas dimaksud disebabkan oleh melimpahnya pasokan. Untuk komoditas bawang

    merah, penurunan harga terjadi karena pada periode laporan terjadi panen raya bawang

    merah di kota asal impor yaitu Bima, Nusa Tenggara Timur. Sebagai informasi bahwa

    Gorontalo belum dapat memproduksi bawang merah sendiri sehingga mengimpor dari NTT

    atau Sulawesi Tengah. Sementara itu, pasokan cabe sangat melimpah pada periode

    laporan seiring dengan menguatnya produksi akibat musim yang mendukung (kemarau)

    disamping permintaan ekspor ke Manado pada periode ini masih relatif rendah.

    Sumber : BPS Prov. Gorontalo

    Grafik 2.5 Perkembangan Inflasi kelompok Bahan makanan

    Tabel 2.2 Perkembangan Harga-Harga

    Sumber : Survei Pemantauan Harga, KBI Gorontalo

    Komoditas Satuan 28/3 25/4 23/5 6/6 20/6 11/7 8/8 22/8 12/9 26/9

    Beras

    Super Win kg 8,000 8,000 7,500 7,000 8,500 7,000 8,000 8,000 8,000 8,000

    Ciheran kg 7,000 7,000 6,500 6,000 7,000 6,500 7,500 7,500 7,000 7,000

    IR 64 kg 7,000 7,000 6,000 5,000 6,000 6,000 7,000 7,000 7,000 7,000

    Cabe

    Cabe Rawit kg 50,000 48,000 40,000 40,000 45,000 30,000 22,000 22,000 24,000 22,000

    Cabe Keriting kg 16,000 18,000 14,000 16,000 20,000 15,000 16,000 10,000 14,000 12,000

    Bawang

    Merah kg 25,000 27,000 24,000 27,000 28,000 28,000 28,000 18,000 18,000 16,000

    Putih kg 27,000 18,000 26,000 28,000 26,000 25,000 16,000 16,000 14,000 14,000

    Tomat kg 3,000 6,000 6,000 12,000 7,000 7,000 4,000 4,000 3,000 6,000

    Gula Pasir kg 12,000 12,000 12,000 11,500 11,500 11,500 11,000 10,000 10,000 10,000

  • BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI

    BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 25

    Sementara itu, administered price relatif minimal karena belum terdapat kebijakan

    strategis pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Namun, masih terdapat

    hambatan dalam penyaluran distribusi BBM sehingga masih kerap terjadi antrian panjang di

    SPBU. Disinyalir, terdapat pihak tertentu yang mengganggu distribusi barang melalui

    penimbunan sehingga stok di SPBU seringkali habis walaupun sebetulnya pasokan BBM di

    daerah cukup.

    2.2 INFLASI BERDASARKAN KELOMPOK BARANG DAN JASA

    2.2.1 INFLASI TAHUNAN (y.o.y)

    Secara tahunan, inflasi Gorontalo triwulan III-2011 sebesar 3,27% (y.o.y) lebih

    rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,11% (y.o.y). Melemahnya tekanan

    inflasi terutama disebabkan oleh menurunnya inflasi kelompok bahan makanan.

    Tabel 2.3

    Inflasi Tahunan Kelompok Barang dan Jasa (y.o.y)

    Sumber : BPS Provinsi Gorontalo

    Penurunan inflasi kelompok bahan makanan terutama didorong oleh sub kelompok

    bumbu-bumbuan yang mengalami deflasi sebesar -14,33% (y.o.y) jauh lebih rendah

    dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 45,46% (y.o.y) dan

    tahun sebelumnya sebesar 49,00% (y.o.y). Penurunan inflasi komoditas bumbu-bumbuan

    sangat terasa bila dibandingkan dengan tahun lalu (2011) saat terjadi kenaikan harga cabe

    dan bawang merah secara nasional (terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia) akibat

    cuaca yang kurang mendukung. Sebaliknya pada tahun 2011, kondisi produksi kedua

    komoditas tersebut sangat baik bahkan di sentra-sentra penanaman bawang di Indonesia

    seperti Brebes, Jawa Tengah dan Bima, Nusa Tenggara Barat terjadi panen raya sehingga

    harga bawang pada periode ini jatuh. Gorontalo sebagai daerah yang mengimpor hampir

    seluruh komoditas bawang merah dari daerah lain mendapatkan pengaruh dari turunnya

    harga bawang merah di pasaran lokal. Di sisi lain, produksi cabe Gorontalo pada periode

    laporan juga sangat baik karena cuaca yang mendukung untuk pertanaman cabe.

    9 10 11 12 3 6 7 8 9

    Inflasi Umum 7.60% 5.90% 5.93% 7.43% 5.77% 7.11% 6.91% 3.92% 3.27%

    1 Bahan makanan 15.63% 11.15% 11.25% 16.20% 8.50% 12.04% 12.49% 1.74% -0.70%

    2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 7.87% 7.06% 6.87% 13.43% 8.32% 7.44% 4.65% 4.37% 4.82%

    3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 3.45% 3.11% 2.68% 12.53% 4.21% 5.05% 5.64% 5.92% 6.58%

    4 Sandang 3.05% 3.39% 3.71% 6.39% 4.14% 5.12% 6.61% 12.51% 12.33%

    5 Kesehatan 2.37% 2.33% 2.27% 2.32% 2.22% 3.43% 3.75% 3.39% 3.50%

    6 Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 0.41% 0.51% 0.51% 0.51% 1.18% 0.60% 0.42% 0.48% 3.88%

    7 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 2.57% 1.55% 2.13% 2.53% 2.44% 3.36% 2.34% 2.94% 1.38%

    2010 2011No

    Inflasi Tahunan

  • BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI

    26 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011| BANK INDONESIA

    Sementara, permintaan ekspor ke Manado masih sangat minim sehingga harga terkoreksi

    ke bawah.

    Tabel 2.4

    Inflasi Tahunan Sub-kelompok Bahan Makanan (y.o.y)

    Sumber : BPS Provinsi Gorontalo

    2.2.2 INFLASI TRIWULANAN (q.t.q)

    Secara triwulanan, perkembangan harga-harga di Gorontalo pada triwulan III-2011

    mengalami inflasi sebesar 1,48% (q.t.q) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya

    sebesar 1,01% (q.t.q). Meningkatknya permintaan masyarakat dalam rangka menyambut

    Ramadhan dan Lebaran diperkirakan menjadi faktor utama penyebab kenaikan inflasi

    secara triwulanan.

    Tabel 2.5 Kelompok Barang dan Jasa (q.t.q)

    Sumber : BPS Provinsi Gorontalo

    Secara triwulanan, subkelompok bahan makanan pada triwulan III-2011 mengalami

    inflasi sebesar 1,84% (q.t.q) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1,01%

    (q.t.q). Kenaikan inflasi triwulanan terutama didorong oleh inflasi kelompok sandang sebesar

    7,93% (q.t.q) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,28% (q.t.q). Kenaikan

    harga secara triwulanan secara umum terjadi pada komoditas non-makanan seperti pakaian

    akibat dari meningkatnya permintaan masyarakat dalam menyambut Ramadhan dan

    Lebaran. Di sisi lain, harga emas di Gorontalo juga terus mengalami kenaikan sejalan

    dengan harga internasional. Kenaikan harga emas juga turut memberikan andil dalam

    peningkatan inflasi Gorontalo secara triwulanan.

    MAR JUNI SEPT DEC MAR JUNI JULI AUG SEPT

    BAHAN MAKANAN 5.1 2.03 15.63 16.20 8.5 12.04 12.49 1.74 -0.70

    Padi-padian, Umbi-umbian dan Hasilnya 7.46 5.97 16.62 20.20 8.41 13.18 11.18 -0.70 1.67

    Daging dan Hasil-hasilnya 0.31 0.63 5.29 6.19 3.88 6.68 9.84 5.16 7.30

    Ikan Segar 5.58 -8.8 15.86 8.83 -1.17 9.00 17.55 3.10 0.56

    Ikan Diawetkan 10.14 9.94 8.01 6.86 2.46 8.67 15.70 21.37 19.90

    Telur, Susu dan Hasil-hasilnya -2.47 -2.91 -0.92 3.27 5.21 5.74 8.17 6.03 2.96

    Sayur-sayuran 25.92 30.25 21.8 -0.96 0.86 -17.05 7.91 9.38 -11.79

    Kacang - kacangan 4.09 9.04 4.57 14.95 16.27 13.74 15.50 14.96 14.66

    Buah - buahan 27.79 -4.61 20.07 9.93 -20.58 34.39 22.80 8.77 -7.71

    Bumbu - bumbuan -17.84 26.78 49 77.12 97.34 45.46 5.01 -15.27 -14.33

    Lemak dan Minyak 6.45 -7.23 -7.73 -3.42 -4.95 8.38 8.93 7.40 7.84

    Bahan Makanan Lainnya 2.3 0.95 0.83 4.37 4.78 5.25 4.29 7.05 7.05

    Kelompok / Sub kelompok

    2010 2011

    9 10 11 12 3 6 7 8 9

    Umum 5.63 2.93 0.13 0.36 0.02 1.01 2.81 2.73 1.84

    1 Bahan makanan 12.57 7.84 0.17 1.12 -2.66 1.12 5.78 2.93 -0.23

    2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 4.24 0.65 -0.14 -0.29 2.61 0.74 1.03 2.13 1.69

    3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 2.11 0.67 -0.42 -0.11 1.73 1.23 2.43 3.26 3.60

    4 Sandang 1.00 1.37 1.17 1.58 0.18 2.28 2.07 8.09 7.93

    5 Kesehatan 0.69 0.54 0.01 0.03 1.57 1.11 1.36 0.75 0.76

    6 Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 0.26 0.21 0.22 0.11 0.62 -0.38 -0.45 0.03 3.52

    7 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 2.91 0.61 0.92 -0.21 -0.04 0.69 0.40 1.16 0.94

    2010 2011No

    Inflasi Triwulanan

  • BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI

    BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 27

    BOKS 2 : LAPORAN MONITORING HARGA PERIODE PUASA DAN

    LEBARAN TAHUN 2011

    TIM PENGENDALIAN INFLASI DAERAH GORONTALO

    Beras

    Pergerakan harga komoditas beras pada periode Ramadhan mengalami

    peningkatan pada kisaran Rp.500/liter untuk beberapa jenis beras kelas menengah.

    Harga beras jenis Ciheran tercatat sebesar Rp.6.500/liter pada Minggu ke-3 Agustus, lebih

    tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar Rp.6.000/liter. Tren yang sama juga terjadi

    pada beras jenis IR-64 yang tercatat Rp.6.000/liter, lebih tinggi dibandingkan bulan

    sebelumnya sebesar Rp.5.500/liter. Sementara itu, beras kelas premium jenis Super Win

    relatif stabil pada kisaran Rp.7.500/liter, bahkan cenderung turun pada minggu ke-3

    Agustus.

    Grafik 2.6 Harga Beras

    Kenaikan harga beras hingga pertengahan Ramadhan relatif terkendali di tengah

    tingginya tekanan permintaan masyarakat. Hasil konfirmasi dengan pedagang menyatakan

    bahwa stok beras cukup aman karena panen raya terjadi sesaat sebelum periode

    Ramadhan tiba, meskipun terdapat gagal panen di beberapa wilayah karena banjir. Namun,

    masuknya pasokan beras impor dari daerah lain terutama Sulawesi Utara dan Sulawesi

    Tengah menyebabkan pasokan beras cukup melimpah. Di sisi lain, stok beras Bulog juga

    diperkirakan cukup aman mencapai 7.000 ton pada posisi pertengahan Agustus 2010.

    Berdasarkan hasil rapat TPID bulan Juli 2011, Bulog menyatakan bahwa cadangan beras

    Bulog dapat memenuhi kurang lebih hingga 7 bulan ke depan.

  • BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI

    28 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011| BANK INDONESIA

    Daging

    Harga daging meliputi daging sapi dan daging ayam (ras) cenderung

    mengalami tren kenaikan pada periode Ramadhan. Untuk harga daging sapi dan daging

    ayam telah mengalami kenaikan yang mencapai puncaknya pada minggu pertama

    Ramadhan. Pada pertengahan bulan Juli, harga daging sapi sebesar Rp.18.500/kg

    kemudian melonjak naik pada minggu pertama Agustus 2011 hingga mencapai

    Rp.76.500/kg. Tren yang sama juga terjadi pada harga daging ayam yang mencapai

    Rp.42.200/kg pada minggu pertama Agustus lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya

    sebesar Rp.18.500/kg. Berdasarkan informasi dari para pedagang bahwa permintaan

    daging sangat tinggi pada awal Ramadhan karena masyarakat Gorontalo memiliki budaya

    untuk memasak hidangan istimewa terutama pada minggu pertama berpuasa. Oleh karena

    itu, permintaan daging sapi dan daging ayam yang tergolong hidangan istimewa sangat

    tinggi pada periode dimaksud. Perkembangan selanjutnya, harga daging sapi mulai

    menurun namun masih dalam level yang tinggi yaitu sebesar Rp61.000/kg pada minggu ke-

    3 Agustus. Sementara, daging ayam terus menunjukkan tren peningkatan hingga mencapai

    Rp45.000/kg pada minggu ke-3 Agustus.

    Grafik 2.7 Harga Daging Sapi dan Daging Ayam

    Bumbu-Bumbuan

    Perkembangan harga komoditas bumbu-bumbuan yaitu Barito (bawang,

    rica/cabe, dan tomat) diwarnai oleh tren penurunan. Harga cabe merah keriting dan cabe

    merah biasa pada bulan Juli berkisar Rp.16.000/kg dan Rp30.000/kg turun masing-masing

    menjadi sebesar Rp.11.000/kg dan Rp.19.000/kg pada minggu ke-3 Agustus. Hasil

    konfirmasi para pedagang, menginformasikan bahwa kondisi pasokan cabe cukup

    melimpah karena pada periode ini permintaan ekspor cabe ke kota Manado masih terbatas,

  • BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI

    BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 29

    sehingga stok di Gorontalo relatif melimpah. Sementara itu, harga bawang merah pada

    bulan Juli sebesar Rp.24.200/kg turun menjadi sebesar Rp.16.400/kg pada minggu ke-3

    Agustus. Penurunan harga bawang merah, menurut para pedagang, disebabkan karena

    saat ini sentra produksi Bawang Merah di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam kondisi

    panen raya, sehingga harga impor bawang merah menuju Gorontalo relatif murah. Di sisi

    lain, harga tomat juga mengalami penurunan yaitu pada bulan Juli sebesar Rp.7.000/kg

    turun menjadi sebesar Rp.5.000/kg pada minggu ke-3 Agustus. Informasi para pedagang

    menuturkan bahwa saat ini produksi tomat sangat baik seiring dengan berjalannya musim

    kemarau.

    Grafik 2.8 Harga Bumbu-Bumbuan

    Komoditas lainnya

    Pergerakan harga komoditas strategis lainnya seperti tepung terigu, minyak

    goreng (Bimoli), dan gula pasir relatif stabil, namun harga komoditas mentega

    menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Harga tepung terigu relatif stabil pada kisaran

    Rp7.000/kg untuk Merek Segitiga biru dan Rp6.500/kg untuk merek Lencana Mas,

    sedangkan harga minyak goreng (Bimoli) dan gula pasir relatif stabil masing-masing pada

    kisaran Rp16.500/liter dan Rp.10.000/kg. Berdasarkan survei kepada para pedagang,

    bahwa stok tepung terigu di gudang berkisar 329.750 kg, sedangkan stok gula pasir (lokal)

    berkisar 595 ton pada pertengahan Agustus. Sementara itu, stok minyak goreng Bimoli

    tercatat sebanyak 2.450 galon untuk ukuran 20 kg, 550 karton untuk ukuran 5 liter, dan 240

    karton untuk ukuran 1 liter. Sebaliknya, harga mentega menunjukkan tanda-tanda

    peningkatan dari Rp35.000/kg pada bulan Juli menjadi Rp36.500/kg pada pertengahan

    Agustus. Namun, meskipun terjadi kenaikan harga, para pedagang menginformasikan

    bahwa ketersediaan stok mentega cukup baik yaitu sebanyak 4.350 karton untuk kemasan 1

    kg, 3.250 karton untuk kemasan 2 kg, 2.200 karton untuk kemasan 200 gram, dan 2.400

  • BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI

    30 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011| BANK INDONESIA

    karton untuk kemasan 250 gram. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya,

    pedagang menganggap stok sebesar tersebut di atas cukup aman untuk melayani

    permintaan masyarakat hingga periode Puasa dan Lebaran berakhir.

    Grafik 2.9 Harga Komoditas Lainnya

    Langkah Kebijakan

    Berdasarkan pengamatan di lapangan, mengindikasikan bahwa pergerakan harga

    barang strategis selama periode Puasa relatif terkendali. Tren kenaikan harga terjadi pada

    komoditas beras, daging sapi, daging ayam, dan mentega namun masih dalam level yang

    wajar. Sebaliknya, terdapat komoditas yang mengalami penurunan harga terutama bumbu-

    bumbuan meliputi bawang merah, cabe merah (rica), dan tomat. Kestabilan harga pada

    umumnya disebabkan oleh faktor pasokan yang relatif lancar sehingga dapat memenuhi

    kebutuhan masyarakat selama periode Ramadhan. Di sisi lain, anggota Tim Pengendalian

    Inflasi Daerah (TPID) juga telah melakukan serangkaian kebijakan untuk menjaga kestabilan

    harga meliputi pasar murah dan operasi pasar. Pasar murah telah dijalankan oleh

    Diskoperindag, Bulog, dan Pertamina di seluruh kabupaten/kota melalui penjualan

    kebutuhan pokok dengan potongan harga kurang lebih 20%. Adapun komoditas yang

    tersedia dalam pasar murah diantaranya minyak tanah, minyak goreng, gula, telur, beras,

    dan kue-kue. Di samping itu, operasi pasar untuk mengawasi, mengecek, dan memonitor

    stok barang juga terus dilakukan. Target operasi pasar diantaranya Pasar Central-Kota,

    Pasar Limboto, dan distributor-distributor besar.

  • BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

    BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 31

    BAB 3 : PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

    Aktivitas perbankan di Provinsi Gorontalo pada triwulan III-2011 masih menunjukkan

    peningkatan, yang tercermin dari beberapa indikator perbankan antara lain dari sisi

    penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit. Hingga triwulan laporan,

    DPK yang berhasil dihimpun oleh bank umum adalah sebesar Rp2,60 trilliun atau secara

    (y.o.y) tumbuh sebesar 19,10% dan DPK yang berhasil dihimpun BPR sebesar Rp14,82

    milliar atau secara (y.o.y) tumbuh 27,25%. Sedangkan penyaluran kredit bank umum

    tercatat sebesar Rp4,31 trilliun atau tumbuh (y.o.y) sebesar 28,39%, sementara pada BPR

    tercatat Rp22,09 milliar atau tumbuh (y.o.y) 17,80%. Dilihat dari angka tersebut di atas,

    terlihat bahwa permintaan kredit di Gorontalo cukup tinggi seperti ditunjukkan oleh angka

    LDR yang mencapai 165,65% pada bank umum dan 149,08% pada BPR. Untuk kredit

    bermasalah, hal yang perlu mendapat perhatian adalah pada kredit bermasalah Bank

    Perkreditan Rakyat yang masih cukup tinggi dan relatif meningkat dibanding triwulan

    sebelumnya yaitu 17,91%, sedangkan kredit bermasalah bank umum masih terjaga pada

    level wajar yaitu sebesar 3,33%.

    3.1 FUNGSI INTERMEDIASI

    Dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi, angka statistik

    perbankan mengindikasikan bahwa fungsi intermediasi perbankan Gorontalo telah berjalan

    baik sebagaimana tercermin dari angka Loan to Deposit Ratio (LDR). Hingga triwulan III-

    2011 indikator Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 165,65% pada bank umum, dan

    149,08% pada BPR, artinya bahwa seluruh dana yang disalurkan kepada masyarakat

    Gorontalo jauh lebih besar dari pada dana yang dihimpun perbankan Gorontalo. Dari jenis

    penggunaan, penyaluran kredit bank umum masih didominasi untuk jenis konsumsi, yakni

    sebesar 50,82% dari total kredit yang disalurkan, sedangkan untuk BPR terlihat bahwa

    pangsa terbesar penyaluran kredit adalah untuk kredit modal kerja yakni 51,70% dari total

    kredit yang disalurkan. Sementara itu jika dilihat secara sektoral, kredit terbesar disalurkan

    untuk sektor perdagangan besar dan eceran dengan pangsa sebesar 29,53% pada bank

    umum dan 36,48% pada BPR.

    3.1.1 PERKEMBANGAN KANTOR BANK

    Jumlah bank di Gorontalo hingga triwulan III-2011 tercatat sebanyak 12 Bank Umum

    Konvensional, 3 Bank Umum Syariah dan 4 Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Jumlah bank

    tersebut meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya karena adanya pembukaan kantor

    baru, yakni Bank Pundi Kantor Cabang Gorontalo.

  • BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

    32 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011| BANK INDONESIA

    Dari jumlah bank tersebut, jaringan kantor Bank umum di Provinsi Gorontalo terdiri

    dari 16 kantor cabang, 28 kantor cabang pembantu, 14 kantor kas serta 22 kantor unit.

    Jaringan kantor tersebut selama triwulan III-2011 mengalami penambahan 4 kantor baru

    yaitu Bank Pundi Kantor Cabang (KC) Gorontalo, Bank Mandiri Kantor Cabang Pembantu

    (KCP) Kwandang, BRI Unit Aloei Saboe, dan Bank Mandiri Kantor Fungsional (KF) Isimu.

    Sementara itu, jaringan kantor BPR terdiri dari 4 kantor pusat, 3 kantor cabang dan 1 kantor

    kas.

    3.1.2 PENGHIMPUNAN DANA MASYARAKAT

    Hingga triwulan III-2011 dana yang dihimpun bank umum di Gorontalo tercatat

    sebesar Rp2,60 triliun atau tumbuh sebesar 19,10% (y.o.y). Pertumbuhan DPK tersebut

    lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang sebesar

    15,64% (y.o.y). Pertumbuhan jumlah DPK tersebut terutama bersumber dari tabungan yang

    mengalami pertumbuhan sebesar 21,66% (y.o.y) lebih tinggi dibandingkan triwulan II-2011

    sebesar 15,09% (y.o.y). Dari series data terlihat bahwa share tabungan terhadap

    pembentukan DPK pada triwulan laporan (53,48%) relatif lebih rendah dibandingkan periode

    triwulan II-2011 yang tercatat sebesar 53,97%. Sementara itu simpanan giro masih memiliki

    share terhadap DPK terkecil yaitu sebesar 15,68%, dengan pertumbuhan positif sebesar -

    1,99% (y.o.y).

    Komponen pembentuk DPK lainnya yaitu deposito, pada triwulan laporan

    menunjukkan pelambatan pertumbuhan yaitu tumbuh sebesar 28,46% (y.o.y), lebih rendah

    dibandingkan periode triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 32,58% (y.o.y). Share

    deposito terhadap pembentukan DPK juga menunjukkan penurunan yaitu menjadi sebesar

    30,84% lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 31,31%.

    Grafik 3.1 Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga Grafik 3.2 Komposisi Dana Pihak Ketiga

  • BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

    BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 33

    Untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR), penghimpunan DPK hingga triwulan III-2011

    tercatat sebesar Rp.14,82 milliar atau tumbuh sebesar 27,25% (y.o.y), namun

    pertumbuhannya relatif lebih rendah dibanding pertumbuhan pada triwulan sebelumnya

    yang tercatat sebesar 34,33% (y.o.y). Peningkatan jumlah penghimpunan dana BPR

    tersebut terutama terjadi karena peningkatan jumlah tabungan sebesar 34,59% (y.o.y) yakni

    dari Rp4,52 milliar menjadi Rp6,07 milliar. Hal yang sama juga terjadi pada deposito yang

    meningkat dari Rp7,13 milliar menjadi Rp8,74 miliiar atau tumbuh 22,60% dibandingkan

    dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Dari angka statistik dana pihak ketiga tersebut di atas, terlihat bahwa secara umum

    penyerapan dana masyarakat oleh perbankan di Gorontalo sudah cukup baik namun

    demikian masih diperlukan upaya yang secara berkelanjutan dari perbankan dan

    masyarakat untuk mendorong kesadaran masyarakat untuk menabung atau menyimpan

    uang di perbankan. Pertumbuhan simpanan jangka menengah dan panjang perlu terus

    ditingkatkan untuk menjaga keseimbangan likuiditas keuangan perbankan di Gorontalo

    dalam rangka menunjang pertumbuhan kredit yang cukup tinggi di Gorontalo. Untuk itu,

    sosialisasi dan komunikasi kepada masyarakat perlu terus dilakukan untuk mendorong

    pertumbuhan penghimpunan dana/DPK.

    Dalam rangka mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga, selain sosialisasi juga

    telah dilaunching Program TabunganKu yang merupakan produk tabungan bersama

    perbankan tanpa biaya administrasi. Hasil eveluasi hingga triwulan III-2011 menunjukkan

    bahwa respons masyarakat Gorontalo terhadap program tersebut masih cukup baik yang

    tercermin dari jumlah rekening dan nominal dana yang berhasil dihimpun menunjukkan

    peningkatan yang cukup signifikan. Data statistik hingga September 2011 tercatat sebanyak

    20.561 rekening dengan nominal dana terhimpun sebesar Rp61,82 milliar, mengalami

    peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Jumlah ini diharapkan akan terus

    meningkat pada setiap tahunnya dengan terus mengintensifkan sosialisasi kepada

    masyarakat khususnya pelajar antara lain melalui penyediaan layanan bank mini pada

    sekolah tertentu di Gorontalo dalam rangka memberikan kemudahan akses bagi siswa untuk

    menabung.

    3.1.3 PENYALURAN KREDIT

    Penyaluran kredit/pembiayaan bank umum di Gorontalo hingga triwulan III-2011

    adalah sebesar Rp4,31 triliun, tumbuh 28,39% (y.o.y) lebih rendah dibandingkan

    pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 30,25% (y.o.y). Pertumbuhan

    kredit pada triwulan ini terutama bersumber dari kredit investasi yang tercatat Rp752,34

    milliar atau tumbuh sebesar 227,55 (y.o.y) jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan

  • BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

    34 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011| BANK INDONESIA

    sebelumnya yang tercatat hanya Rp442,26 milliar dengan pertumbuhan 142,63% (y.o.y).

    Pertumbuhan kredit investasi ini diharapkan menjadi hal positif dalam mendorong

    perekonomian ekonomi khususnya sector riil di Gorontalo. Sedangkan untuk kredit modal

    kerja dan konsumsi meskipun memiliki share tertinggi terhadap kredit namun namun

    pertumbuhannya relatif melambat yaitu masing-masing dari 36,74% dan 15,40% (y.o.y)

    pada triwulan II-2011 menjadi sebesar 21,78% dan 9,26% (y.o.y) pada triwulan III-2011.

    Ditinjau dari jenis penggunaan kredit, pangsa terbesar kredit/pembiayaan di

    Gorontalo hingga triwulan III-2011 masih didominasi oleh kredit konsumsi yang tercatat

    sebesar Rp2,19 trilliun, dengan pangsa sebesar 50,82%. Namun demikian jika diamati

    perkembangannya pada setiap periode, terlihat bahwa pangsa kredit konsumsi relatif

    menurun dibandingkan trilwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 52,20% atau turun

    sebesar 1,38%. Hal yang sama juga terjadi pada share kredit modal kerja, walaupun masih

    tumbuh positif namun pertumbuhannya relatif lebih rendah dibandingkan triwulan

    sebelumnya yaitu dari 37,11% menjadi 31,72. Sedangkan share kredit investasi terhadap

    total kredit/pembiayaan menunjukkan peningkatan dibanding triwulan sebelumnya yaitu dari

    10,70% menjadi 17,47% pada triwulan III-2011. Pertumbuhan positif kredit investasi

    diharapkan menjadi sinyal adanya peningkatan aktivitas sektor riil di Gorontalo serta menjadi

    sinyal meningkatnya peran perbankan dalam menstimulus percepatan pembangunan

    ekonomi di Provinsi Gorontalo. Pertumbuhan kredit penggunaan dan share masing-masing

    jenis kredit terhadap total kredit di Gorontalo, dapat dilihat pada grafik berikut ini.

    Sumber : Bank Indonesia

    Grafik 3.3 Pertumbuhan Kredit Penggunaan Grafik 3.4 Komposisi Kredit Penggunaan

    Untuk BPR, jumlah kredit yang disalurkan hingga triwulan laporan tercatat sebesar

    Rp22,09 milliar atau tumbuh sebesar 17,80% (y.o.y) sedikit meningkat dibandingkan

    dengan triwulan sebelumnya yang tercatat hanya 17,76%. Walaupun pangsa terbesar

    kredit BPR adalah untuk modal kerja (51,70% dari total kredit), namun penyumbang

    pertumbuhan kredit BPR tertinggi adalah kredit konsumsi dimana pada triwulan laporan

  • BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

    BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 35

    tercatat Rp10,22 milliar atau tumbuh sebesar 34,17% yang diperkirakan dipengaruhi oleh

    meningkatnya permintaan kredit yang sifatnya musiman antara lain untuk kebutuhan biaya

    sekolah. Sedangkan pertumbuhan kredit modal kerja dan kredit investasi, pertumbuhannya

    (y.o.y) relatif lebih rendah yaitu masing-masing tercatat sebesar 6,42% (modal kerja) dan

    11,42% (investasi).

    Secara sektoral, penyaluran kredit terbesar oleh Bank umum adalah pada sektor

    perdagangan besar dan eceran. Pada triwulan III-2011, kredit sektor ini tercatat sebesar

    Rp1,27 trilliun atau 29,53% dari total kredit perbankan. Kredit tersebut tumbuh sebesar

    50,14% (y.o.y), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit triwulan sebelumnya yang

    tercatat sebesar 37,52% (y.o.y). Permintaan kredit pada sektor ini antara lain disebabkan

    meningkatnya permintaan yang diperkirakan terkait dengan faktor musiman (khususnya

    puasa dan lebaran) seperti terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan kredit sektor

    pertanian, perburuan dan kehutanan serta sektor konstruksi pada triwulan laporan

    mengalami pertumbuhan negatif yaitu masing-masing sebesar -2,56% dan -3,35%.

    Penurunan jumlah kredit pada kedua sektor tersebut diperkirakan karena faktor musiman

    seperti telah selesainya panen dan pembayaran termijn kontrak selama triwulan periode

    Juli-September. Adapun rincian pertumbuhan dan komposisi kredit sektoral pada triwulan

    III-2011, dapat dilihat pada grafik berikut ini.

    Sumber : Bank Indonesia

    Grafik 3.5 Pertumbuhan Kredit Sektoral Grafik 3.6 Komposisi Kredit Sektoral

    Untuk BPR, dari total kredit sebesar Rp.22,09 milliar, kredit terbesar disalurkan ke

    sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu sebesar Rp8,06 milliar atau 36,48% dari total

    kredit. Sektor perdagangan, hotel dan restoran nampaknya masih menjadi sektor yang

    mendominasi kredit/pembiayaan dari perbankan di Gorontalo. Sedangkan sektor primer

    (sektor pertanian dan sektor pertambangan), meskipun menjadi penyumbang terbesar bagi

    pembentukan PDRB Gorontalo, namun jumlah kredit sektor ini masih relatif kecil yaitu

    masing-masing dengan share sebesar 1,50% dan 0,30% dari total kredit.

  • BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

    36 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011| BANK INDONESIA

    Adapun untuk kredit UMKM pada bank umum, hingga triwulan III-2011, kredit yang

    disalurkan tercatat sebesar Rp2.68 triliun atau mengambil pangsa sebesar 62,25% dari total

    kredit di Gorontalo. Jumlah kredit UMKM tersebut mengalami peningkatan dibandingkan

    triwulan sebelumnya yang tercatat hanya Rp2,53 trilliun dengan pangsa sebesar 61,10%

    dari total kredit. Hal tersebut merefleksikan bahwa selama triwulan III-2011 kredit yang

    disalurkan di Gorontalo mengalami pergeseran dari dominasi kredit non UMKM menjadi

    kredit UMKM. Dari ketiga jenis kredit UMKM (mikro, kecil, menengah), share terbesar

    diberikan oleh kredit skala kecil dimana pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp1,17

    trilliun atau 27,33% dari total kredit yang disalurkan, lebih tinggi dibanding triwulan II-2010

    yang tercatat sebesar Rp1,08 trilliun dengan share 26,10% dari total kredit. Sedangkan

    untuk kredit skala mikro, jumlahnya tercatat sebesar Rp716,99 milliar atau 16,65% dari total

    kredit. Kualitas kredit UMKM yang tercermin dari rasio kredit UMKM bermasalah (NPLs)

    juga masih cukup terjaga yaitu total sebesar 2,68%. Kualitas kredit skala mikro dan skala

    kecil cukup baik sebagaimana tercermin dari angka NPLs dari kedua jenis kredit tersebut

    yaitu masing-masing 0,47% dan 0,87%. Sedangkan kredit skala menengah memiliki kredit

    bermasalah (NPLs) sebesar 1,33%. Kualitas kredit UMKM yang cukup baik tersebut

    memberikan indikasi positif perlunya mendorong penyaluran kredit khususnya skala mikro

    dan kecil sehingga usaha mikro, kecil dan menengah dapat lebih berperan sebagai

    komponen penopang perekonomian daerah Gorontalo dan peningkatan pendapatan

    masyarakat. Adapun gambaran perkembangan penyaluran kredit UMKM pada bank umum,

    secara ringkas dapat dilihat pada grafik berikut ini.

    Sumber : Bank Indonesia

    Grafik 3.7 Pertumbuhan Kredit UMKM

  • BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

    BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 37

    3.2 STABILITAS SISTEM PERBANKAN

    Ditinjau dari aspek stabilitas sistem perbankan di Gorontalo, risiko kredit masih

    terkendali sebagaimana tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non Performing

    Loanss/NPLs) pada triwulan III-2011 yang tercatat sebesar 3,33%. Sedangkan risiko

    likuiditas yang tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 165,65%.

    3.2.1 RISIKO KREDIT

    Kredit bermasalah atau Non Performing Loans (NPLs) pada bank umum hingga

    triwulan III-2011 secara umum masih berada pada level wajar yaitu 3,33% (bruto) walaupun

    tercatat sedikit mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat

    sebesar 3,26%. Angka NPLs tersebut merefleksikan bahwa penyaluran kredit kredit di

    Gorontalo cukup baik dan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian karena rasio kredit

    bermasalah masih terjaga pada level wajar sesuai yang ditetapkan oleh Bank Indonesia

    yaitu 5% (bruto). Secara sektoral, kualitas kredit yang masih perlu mendapat perhatian

    adalah kredit sektor konstruksi dan industri karena sepanjang tahun 2011 (Januari-Juni)

    rasio NPLs kedua sektor tersebut masih cukup tinggi dimana pada September-2011 tercatat

    NPLs kedua sektor tersebut masing-masing tercatat sebesar 25,47% dan 10,32%. Untuk

    BPR, nominal kredit bermasalah (NPLs) pada triwulan III-2011 adalah sebesar 17,91%,

    mengalami peningkatan dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 15,53%.

    Peningkatan NPLs pada BPR tersebut menjadi perhatian sehingga diharapkan hingga akhir

    tahun 2011 tidak mengalami peningkatan.

    Sumber : Bank Indonesia

    Grafik 3.8 Perkembangan NPL Grafik 3.9 NPL per Sektor

    Untuk konsentrasi penyaluran kredit pada jenis kredit konsumsi terlihat bahwa terjadi

    penurunan share dimana jika pada triwulan sebelumnya tercatat masih sebesar 52,80%

    maka pada triwulan laporan tercatat share kredit konsumsi turun menjadi sebesar 50,82%

  • BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

    38 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011| BANK INDONESIA

    dari total kredit yang disalurkan (keperluan lainnya) seperti tampak pada grafik di bawah ini.

    Meskipun jenis tidak dapat dipungkiri bahwa jenis kredit ini memiliki eksposure risiko yang

    relatif rendah karena sebagian besar merupakan kredit dengan angsuran gaji

    (karyawan/pegawai), namun untuk mendorong perekonomian diperlukan adanya

    keseimbangan dengan kredit sektor produktif.

    Sumber : Bank Indonesia

    Grafik 3.10 Konsentrasi Kredit

    3.2.2 RISIKO LIKUIDITAS

    Indikator risiko likuiditas yaitu konsentrasi jangka waktu sumber dana dan tingkat Loan

    Deposit Ratio menunjukkan risiko likuiditas pada tahun 2011 masih perlu terus mendapat

    perhatian. Hal tersebut terlihat dari komposisi dana jangka menengah panjang yang lebih

    kecil dibanding dana jangka pendek/tabungan, walaupun terlihat adanya pergeseran dari

    tabungan ke jenis simpanan lainnya yaitu giro pada triwulan III-2011. Komposisi dana jangka

    panjang yaitu deposito pada triwulan laporan tercatat mencapai 30,84% dari total DPK,

    relatif menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 31,31% dari total

    DPK. Sementara itu, dana jangka pendek mencapai lebih dari 69,16% dalam struktur dana

    pihak ketiga yaitu giro sebesar 15,68% dan tabungan sebesar 53,48%. Hal tersebut

    menunjukkan bahwa dana pihak ketiga di Gorontalo masih likuid sehingga berpotensi

    mengganggu likuiditas bank.

  • BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

    BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 39

    Sumber : Bank Indonesia

    Grafik 3.11 Perkembangan Portofolio DPK

    Rasio kredit terhadap dana simpanan pihak ketiga (LDR) pada triwulan laporan

    sebesar 165,65% relatif mengalami sedikit penurunan dibanding triwulan II-2011 yang

    tercatat sebesar 170,16%. Angka LDR tersebut menunjukkan bahwa likuiditas Perbankan

    Gorontalo masih sangat ketat, juga merefleksikan masih rendahnya kemandirian penyaluran

    kredit/pembiayaan perbankan di Gorontalo karena hanya sekitar 60% dari kebutuhan kredit

    yang mampu dibiayai oleh dana yang dihimpun perbankan di Provinsi di Gorontalo,

    selebihnya selebihnya bersumber dari dana perbankan di luar Gorontalo. Hal ini tentunya

    dapat mengganggu kondisi likuiditas perbankan dan untuk itu perlu mendapat perhatian

    serta upaya optimal untuk mendorong penghimpunan dana sehingga perbankan di

    Gorontalo lebih mandiri dalam memberikan pembiayaan kepada dunia usaha maupun

    masyarakat secara umum, dan pada akhirnya tercapai tingkat LDR yang dinilai

    wajar/optimal yaitu berada pada kisaran tidak jauh dari 90%. Secara ringkas, gambaran

    kondisi LDR perbankan di Gorontalo dapat dilihat pada grafik berikut ini.

    Sumber: Bank Indonesia

    Grafik 3.12 Perkembangan LDR Perbankan Gorontalo

  • BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

    40 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011| BANK INDONESIA

    3.2.3 RISIKO PASAR

    Risiko pasar yang dihadapi oleh perbankan dapat dilihat dari kestabilan volatilitas

    suku bunga dan kurs. Suku bunga acuan (BI Rate) hingga September 2011 relatif tidak

    berfluktuasi dan sejak Februari 2011 dipertahankan pada level 6,75%. Hal serupa juga

    terjadi pada suku bunga perbankan yang relatif stabil dan bahkan cenderung menurun

    sehingga memberikan akses kredit yang lebih besar kepada masyarakat. Sementara itu,

    volatilitas kurs juga relatif tidak mengalami fluktuasi yang signifikan atau relatif stabil pada

    kisaran Rp8500 per dollar, dan pada posisi September 2011 kurs tengah rupiah terhadap

    mencapai Rp8.823 per dollar Amerika sedikit melemah dibanding Juni 2011 yang tercatat

    sebesar Rp8.597 per dollar. Kondisi suku bunga dan kurs yang relatif stabil tersebut

    merefleksikan bahwa risiko pasar relatif cukup baik dan kondusif dalam mendukung aktivitas

    perbankan baik nasional maupun daerah, termasuk Gorontalo.

    Sumber: Bank Indonesia

    Grafik 3.13 Perkembangan Kurs USD dan BI-Rate

  • BAB 4 KEUANGAN DAERAH

    BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 41

    BAB 4 : KEUANGAN DAERAH

    Realisasi penyerapan belanja APBD Pemerintah Provinsi Gorontalo triwulan III-2011

    relatif sama dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Rendahnya angka penyerapan

    belanja APBD membawa siklus perekonomian regional yang hampir sama dengan periode

    yang sama tahun sebelumnya yakni penurunan pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

    Kondisi yang sama terjadi pada penghimpunan pendapatan daerah, tingkat realisasi

    pendapatan yang telah mencapai 80% namun angka penyerapan belanja daerah yang

    masih mencapai 65% memberikan efek kontraktif fiskal bagi jumlah uang beredar di

    masyarakat sehingga berimplikasi kurang baik bagi pertumbuhan ekonomi regional selama

    triwulan III-2011.

    4.1 PENDAPATAN DAERAH

    Pada triwulan III-2011, secara umum penghimpunan penerimaan keuangan daerah

    mengalami peningkatan. Peningkatan ini lebih disebabkan oleh meningkatnya realisasi dari

    Dana Perimbangan sementara realisasi untuk Penghimpunan Pajak Daerah relatif sama.

    Meskipun secara eksplisit persentase penerimaan keuangan daerah mengalami

    peningkatan namun kualitasnya lebih bersumber pada keuangan pusat sementara

    penerimaan yang bersumber dari keuangan daerah masih belum optimal sehingga

    ketergantungan perekonomian regional terhadap pusat diindikasikan semakin meningkat.

    Secara nominal, realisasi pendapatan triwulan III-2011 sebesar Rp 541,52 Miliar

    dengan capaian 79,99% dari target anggaran APBD-P 2011. Capaian tersebut meningkat

    apabila dibandingkan triwulan III-2010 yang tercatat sebesar Rp 417,74 Miliar dengan

    capaian 78,22% dari target anggaran APBD-P 2010. Dilihat dari strukturnya, penerimaan

    APBD dari Dana Perimbangan menunjukkan realisasi yang lebih baik secara persentase

    target anggaran dibandingkan kondisi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah. Tercatat

    realisasi Dana Perimbangan mencapai 81,23% sementara realisasi PAD mencapai 80,87%.

    Upaya Pemerintah Provinsi untuk mendorong pendapatan asli daerah menunjukkan

    arah yang positif namun kemampuannya untuk mencapai target anggaran APBD-P relatif

    menurun. Dilihat dari laporan keuangan Pemerintah Provinsi tercatat secara nominal PAD

    Pemprov pada triwulan III-2011 mencapai Rp 117,18 Miliar atau sebesar 80,87% terhadap

    target anggaran sementara pada triwulan III-2010 realisasi mencapai Rp 85,36 Miliar atau

    sebesar 82,65% terhadap target anggaran.

    Di sisi dana perimbangan, realisasi DAU dan DAK lebih tinggi dibandingkan tahun

    sebelumnya. Pada triwulan III-2011, penyerapan DAU telah mencapai 83,33% dari target

    anggaran sementara DAK mencapai 75% dari target anggaran. Sementara itu realisasi bagi

  • BAB 4 KEUANGAN DAERAH

    42 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011| BANK INDONESIA

    hasil pajak/bagi hasil bukan pajak masih relatif kecil berkisar 48,07% dari target anggaran.

    Di tahun anggaran 2011, Pemprov menerima alokasi DAK lebih besar dibandingkan tahun

    sebelumnya baik untuk kepentingan infrastruktur jalan maupun irigasi. Rata-rata alokasi

    DAK meningkat hingga 100% dibandingkan tahun anggaran 2010. Pada tahun anggaran

    2011 pula, Pemprov mendapatkan alokasi DAK untuk kegiatan Kelautan dan Perikanan

    sebesar Rp 4,6 Miliar

    Tabel 4.1 Anggaran Induk dan Realisasi Penerimaan APBD Provinsi Gorontalo

    Sumber : Badan Keuangan Prov. Gorontalo

    Dilihat dari pangsanya, komposisi dana perimbangan masih mendominasi APBD

    triwulan III-2011 sebesar 76,98% hampir sama dibandingkan pangsa dana perimbangan

    pada triwulan III-2010 sebesar 77,22%. Sementara pangsa pembiayaan mandiri dari PAD

    meningkat sedikit dari 21,64% menjadi 20,43%. Ketergantungan sumber penerimaan daerah

    dari Dana Perimbangan masih menunjukkan bahwa perkembangan daerah pemekaran baru

    masih tergantung pada dana alokasi pemerintah pusat.

    Tabel 4.2 Komposisi Penerimaan APBD Provinsi Gorontalo (dalam %)

    Nominal Pencapaian

    (%)Nominal

    Pencapaian

    (%)

    Pendapatan Asli Daerah 103,283,066,210 85,365,508,635 82.65 144,916,740,520 117,188,319,267 80.87

    Pajak daerah 93,420,724,011 79,006,778,558 84.57 133,127,278,321 107,935,524,876 81.08

    Pajak Kendaraan Bermotor 11,742,615,224 25,679,167,128 218.68 42,153,606,599 33,761,534,440 80.09

    Pajak Kendaraan di Air 25,000,000 - - 25,000,000 - -

    Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 57,322,124,099 37,854,799,800 66.04 66,537,687,034 54,285,268,450 81.59

    Bea Balik Nama Kendaraan Di Air 15,000,000 - - 15,000,000 - -

    Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 24,180,984,688 15,419,303,555 63.77 24,180,984,688 19,869,809,141 82.17

    Pajak Air Permukaan 120,000,000 43,337,610 36.11 160,000,000 18,912,845 11.82

    Pajak Air Bawah Tanah 15,000,000 10,170,465 67.80 55,000,000 - -

    Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 550,000,000 - - - - -

    Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 9,312,342,199 6,358,730,077 68.28 11,789,462,199 9,252,794,391 78.48

    Dana Perimbangan 430,749,380,658 322,583,179,848 74.89 513,158,308,835 416,836,605,517 81.23

    Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 19,263,660,658 13,968,886,848 72.51 23,983,008,835 11,528,615,517 48.07

    Dana Alokasi Umum 400,750,820,000 300,563,118,000 75.00 461,118,100,000 384,265,090,000 83.33

    Dana Alokasi Khusus 10,734,900,000 8,051,175,000 75.00 28,057,200,000 21,042,900,000 75.00

    Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah - 9,794,250,000 - 18,900,000,000 7,496,149,600 39.66

    Jumlah Pendapatan 534,032,446,868 417,742,938,483 78.22 676,975,049,355 541,521,074,384 79.99

    Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo

    Pendapatan Daerah APBD-P 2010

    III-2010

    APBDP 2011

    III-2011

    Nominal Komposisi (%) Nominal Komposisi (%)

    Pendapatan Asli Daerah 103,283,066,210 85,365,508,635 20.43 144,916,740,520 117,188,319,267 21.64

    Pajak daerah 93,420,724,011 79,006,778,558 18.91 133,127,278,321 107,935,524,876 19.93

    Pajak Kendaraan Bermotor 11,742,615,224 25,679,167,128 6.15 42,153,606,599 33,761,534,440 6.23

    Pajak Kendaraan di Air 25,000,000 - - 25,000,000 - -

    Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 57,322,124,099 37,854,799,800 9.06 66,537,687,034 54,285,268,450 10.02

    Bea Balik Nama Kendaraan Di Air 15,000,000 - - 15,000,000 - -

    Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 24,180,984,688 15,419,303,555 3.69 24,180,984,688 19,869,809,141 3.67

    Pajak Air Permukaan 120,000,000 43,337,610 0.01 160,000,000 18,912,845 0.00

    Pajak Air Bawah Tanah 15,000,000 10,170,465 0.00 55,000,000 - -

    Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 550,000,000 - - - - -

    Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 9,312,342,199 6,358,730,077 1.52 11,789,462,199 9,252,794,391 1.71

    Dana Perimbangan 430,749,380,658 322,583,179,848 77.22 513,158,308,835 416,836,605,517 76.98

    Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 19,263,660,658 13,968,886,848 3.34 23,983,008,835 11,528,615,517 2.13

    Dana Alokasi Umum 400,750,820,000 300,563,118,000 71.95 461,118,100,000 384,265,090,000 70.96

    Dana Alokasi Khusus 10,734,900,000 8,051,175,000 1.93 28,057,200,000 21,042,900,000 3.89

    Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah - 9,794,250,000 100.00 18,900,000,000 7,496,149,600 1.38

    Jumlah Pendapatan 534,032,446,868 417,742,938,483 100.00 676,975,049,355 541,521,074,384 100.00

    Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo

    Pendapatan Daerah APBD-P 2010

    III-2010

    APBDP 2011

    III-2011

  • BAB 4 KEUANGAN DAERAH

    BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 43

    4.2 BELANJA DAERAH

    Pada triwulan III-2011 realisasi belanja daerah mencapai 65,69% meningkat

    dipbandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 60,94%. Upaya Pemerintah

    Provinsi mempercepat penyerapan APBD cukup terlihat apabila dibandingkan capaian tahun

    2010, namun realisasi dimaksud dirasakan belum optimal. Dampaknya perekonomian

    regional pada triwulan III-2011 masih melemah sama halnya pada triwulan III-2010.

    Pada triwulan laporan, tercatat Rp 504,70 Miliar dana APBD telah dibelanjakan

    dengan persentase realisasi mencapai 65,69%, lebih baik dibandingkan penyerapan belanja

    triwulan III-2010 yang mencapai Rp 346,27 Miliar (60,94%).

    Pada Pos Belanja Tidak Langsung jumlah penyerapan anggaran mencapai Rp

    236,20 Miliar (67,58%) lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya

    sebesar Rp 173,19 Miliar (66,12%). Meningkatnya penyerapan belanja ini terkait

    pembayaran gaji ke-13 pada Juli 2011.

    Penyerapan anggaran pada Pos Belanja Langsung menunjukkan peningkatan. Pada

    triwulan III-2011, penyerapan anggaran Belanja Langsung tercatat Rp 268,50 Miliar

    (64,11%) lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 173,07

    Miliar (56,51%). Peningkatan terbesar terjadi pada pos Belanja Barang dan Jasa yang

    mencapai Rp 160,48 Miliar atau 66,89% dari realisasi anggaran. Hal positif juga terlihat

    pada penyerapan anggaran belanja modal, realisasi penyerapan anggaran belanja modal

    pada triwulan III-2011 sudah mencapai Rp 89,37 Miliar (60,39%) lebih baik dibandingkan

    penyerapan tahun sebelumnya sebesar Rp 47,88 Miliar (42,81%). Meskipun lebih baik

    dibandingkan tahun sebelumnya namun secara umum penyerapannya masih relatif rendah

    sehingga berdampak pada pertumbuhan sektor konstruksi yang terkontraksi.

    Tabel 4.3 Anggaran Induk dan Realisasi Belanja APBD Provinsi Gorontalo

    Nominal Pencapaian

    (%)Nominal

    Pencapaian

    (%)

    Belanja Tidak Langsung 261,960,951,852.00 173,195,955,367 66.12 349,534,816,664.00 236,203,138,699.00 67.58

    Belanja Pegawai 173,594,813,052.00 124,785,601,771 71.88 203,973,905,336.00 151,958,940,274.00 74.50

    Belanja Subsidi 5,300,000,000.00 1,000,000,000 18.87 2,500,000,000.00 - -

    Belanja Hibah 8,500,000,000.00 9,047,400,000 106.44 73,240,000,000.00 34,920,809,500.00 47.68

    Belanja Bantuan Sosial 3,000,000,000.00 2,256,433,582 75.21 7,500,000,000.00 5,457,508,239.00 72.77

    Belanja Bagi Hasil Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 38,500,000,000.00 23,121,754,774 60.06 51,070,911,328.00 36,556,990,611.00 71.58

    Belanja Bantuan Keuangan Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa30,566,138,800.00 12,851,715,240 42.05 7,500,000,000.00 5,639,090,200.00 75.19

    Belanja Tidak Terduga 2,500,000,000.00 133,050,000 5.32 3,750,000,000.00 1,669,799,875.00 44.53

    Belanja Langsung 306,256,934,706.00 173,074,386,848 56.51 418,812,138,202.00 268,506,083,649.00 64.11

    Belanja Pegawai 23,969,649,454.00 13,420,785,886 55.99 30,891,979,880.00 18,652,115,771.00 60.38

    Belanja Barang dan Jasa 170,441,404,162.00 111,768,451,727 65.58 239,917,730,430.00 160,482,649,632.00 66.89

    Belanja Modal 111,845,881,090.00 47,885,149,235 42.81 148,002,427,892.00 89,371,318,246.00 60.39

    Jumlah Belanja 568,217,886,558.00 346,270,342,215 60.94 768,346,954,866.00 504,709,222,348.00 65.69

    Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo

    Belanja Daerah APBD-P 2010

    III-2010

    APBDP 2011

    III-2011

  • BAB 4 KEUANGAN DAERAH

    44 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011| BANK INDONESIA

    Kualitas APBD Gorontalo triwulan III-2011 masih diarahkan pada kepentingan

    konsumsi meskipun disisi lain untuk kegiatan investasi turut ditingkatkan. Pada triwulan

    laporan, komposisi belanja konsumsi mencapai 82,29% sementara untuk belanja investasi

    mencapai 17,71%, kondisi tersebut sedikit lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun

    sebelumnya dimana proporsi belanja investasi hanya sebesar 13,83%.

    Tabel 4.4 Komposisi Belanja APBD Provinsi Gorontalo

    4.3. KONTRIBUSI REALISASI APBD GORONTALO TERHADAP SEKTOR RIIL DAN

    UANG BEREDAR

    Kinerja fiskal selama triwulan III-2011 belum menunjukkan perubahan yang signifikan

    terhadap stimulan sektor riil. Realisasi anggaran konsumsi pemerintah memberikan pangsa

    17,67%, sementara itu belanja modal memberikan pangsa 3,80%. Pangsa konsumsi

    pemerintah terhadap sektor riil mengalami kenaikan dibandingkan triwulan III-2010, hal ini

    terkait pembayaran Gaji ke-13 yang direalisasikan pada bulan Juli 2011.

    Meskipun secara pangsa pasar belanja modal menunjukkan peningkatan namun

    implikasi kepada pergerakan sektor konstruksi dan komponen investasi belum menunjukkan

    dorongan pertumbuhan ekonomi.

    Tabel 4.5 Stimulus Fiskal APBD terhadap Sektor Riil

    Nominal Komposisi (%)

    Nominal Komposisi (%)

    Belanja Tidak Langsung 261,960,951,852.00 173,195,955,367 50.02 349,534,816,664.00 236,203,138,699.00 46.80

    Belanja Pegawai 173,594,813,052.00 124,785,601,771 36.04 203,973,905,336.00 151,958,940,274.00 30.11

    Belanja Subsidi 5,300,000,000.00 1,000,000,000 0.29 2,500,000,000.00 - -

    Belanja Hibah 8,500,000,000.00 9,047,400,000 2.61 73,240,000,000.00 34,920,809,500.00 6.92

    Belanja Bantuan Sosial 3,000,000,000.00 2,256,433,582 0.65 7,500,000,000.00 5,457,508,239.00 1.08

    Belanja Bagi Hasil Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 38,500,000,000.00 23,121,754,774 6.68 51,070,911,328.00 36,556,990,611.00 7.24

    Belanja Bantuan Keuangan Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa30,566,138,800.00 12,851,715,240 3.71 7,500,000,000.00 5,639,090,200.00 1.12

    Belanja Tidak Terduga 2,500,000,000.00 133,050,000 0.04 3,750,000,000.00 1,669,799,875.00 0.33

    Belanja Langsung 306,256,934,706.00 173,074,386,848 49.98 418,812,138,202.00 268,506,083,649.00 53.20

    Belanja Pegawai 23,969,649,454.00 13,420,785,886 3.88 30,891,979,880.00 18,652,115,771.00 3.70

    Belanja Barang dan Jasa 170,441,404,162.00 111,768,451,727 32.28 239,917,730,430.00 160,482,649,632.00 31.80

    Belanja Modal 111,845,881,090.00 47,885,149,235 13.83 148,002,427,892.00 89,371,318,246.00 17.71

    Jumlah Belanja 568,217,886,558.00 346,270,342,215 100.00 768,346,954,866.00 504,709,222,348.00 100.00

    Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo

    Belanja Daerah APBD-P 2010

    III-2010

    APBDP 2011

    III-2011

    Nominal %PDRB Nominal %PDRB

    Konsumsi Pemerintah 456,372,005,468 298,385,192,980 14.15 620,344,526,974 415,337,904,102 17.67

    Belanja Pegawai 197,564,462,506 138,206,387,657 6.55 234,865,885,216 170,611,056,045 7.26

    Belanja Subsidi 5,300,000,000 1,000,000,000 0.05 2,500,000,000 - -

    Belanja Hibah 8,500,000,000 9,047,400,000 0.43 73,240,000,000 34,920,809,500 1.49

    Belanja Bantuan Sosial 3,000,000,000 2,256,433,582 0.11 7,500,000,000 5,457,508,239 0.23

    Belanja Bagi Hasil Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 38,500,000,000 23,121,754,774 1.10 51,070,911,328 36,556,990,611 1.56

    Belanja Bantuan Keuangan Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 30,566,138,800 12,851,715,240 0.61 7,500,000,000 5,639,090,200 0.24

    Belanja Tidak Terduga 2,500,000,000 133,050,000 0.01 3,750,000,000 1,669,799,875 0.07

    Belanja Barang dan Jasa 170,441,404,162 111,768,451,727 5.30 239,917,730,430 160,482,649,632 6.83

    Pembentukan Modal Tetap Bruto 111,845,881,090 47,885,149,235 2.27 148,002,427,892 89,371,318,246 3.80

    Belanja Modal 111,845,881,090 47,885,149,235 2.27 148,002,427,892 89,371,318,246 3.80

    Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo

    Belanja Daerah APBD-P 2010III-2010

    APBDP 2011 I-2011

  • BAB 4 KEUANGAN DAERAH

    BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011 45

    Di sisi pengaruhnya terhadap uang beredar, realisasi anggaran APBD Gorontalo

    sampai dengan akhir triwulan III-2011 menunjukkan kontraksi. Kontraksi terjadi karena

    realisasi dari penerimaan APBD lebih besar dibandingkan penyerapan belanja APBD.

    Surplus penerimaan mencapai Rp 36,18 Miliar lebih rendah dibandingkan periode yang

    sama tahun sebelumnya sebesar Rp 71,47 Miliar.

    Tabel 4.6 Dampak APBD Terhadap Uang Beredar

    Nominal %PDRB Nominal %PDRB

    Pendapatan 534,032,446,868.00 417,742,938,482.94 19.80 676,975,049,355.00 541,521,074,383.92 23.04

    Pendapatan Asli Daerah 103,283,066,210.00 85,365,508,634.94 4.05 144,916,740,520.00 117,188,319,266.92 4.99

    Dana Perimbangan 430,749,380,658.00 322,583,179,848.00 15.29 513,158,308,835.00 416,836,605,517.00 17.74

    Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 19,263,660,658.00 13,968,886,848.00 0.66 23,983,008,835.00 11,528,615,517.00 0.49

    Dana Alokasi Umum 400,750,820,000.00 300,563,118,000.00 14.25 461,118,100,000.00 384,265,090,000.00 16.35

    Dana Alokasi Khusus 10,734,900,000.00 8,051,175,000.00 0.38 28,057,200,000.00 21,042,900,000.00 0.90

    Dana Darurat - -

    Dana Penyesuaian - 9,794,250,000.00 0.46 18,900,000,000.00 7,496,149,600.00 0.32

    Belanja 568,217,886,558.00 346,270,342,215.00 16.42 768,346,954,866.00 504,709,222,348.00 21.48

    Belanja Pegawai 197,564,462,506.00 138,206,387,657.00 6.55 234,865,885,216.00 170,611,056,045.00 7.26

    Belanja Subsidi 5,300,000,000.00 1,000,000,000.00 0.05 2,500,000,000.00 - -

    Belanja Hibah 8,500,000,000.00 9,047,400,000.00 0.43 73,240,000,000.00 34,920,809,500.00 1.49

    Belanja Bantuan Sosial 3,000,000,000.00 2,256,433,582.00 0.11 7,500,000,000.00 5,457,508,239.00 0.23

    Belanja Bagi Hasil Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 38,500,000,000.00 23,121,754,774.00 1.10 51,070,911,328.00 36,556,990,611.00 1.56

    Belanja Bantuan Keuangan Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa30,566,138,800.00 12,851,715,240.00 0.61 7,500,000,000.00 5,639,090,200.00 0.24

    Belanja Tidak Terduga 2,500,000,000.00 133,050,000.00 0.01 3,750,000,000.00 1,669,799,875.00 0.07

    Belanja Barang dan Jasa 170,441,404,162.00 111,768,451,727.00 5.30 239,917,730,430.00 160,482,649,632.00 6.83

    Belanja Modal 111,845,881,090 47,885,149,235 2.27 148,002,427,892 89,371,318,246 3.80

    Surplus/Defisit (34,185,439,690) 71,472,596,268 3.39 (91,371,905,511) 36,811,852,036 1.57

    Pembiayaan Netto (34,185,439,690) - - (91,371,905,511) - -

    DAMPAK RUPIAH - 71,472,596,268 3.39 - 36,811,852,036 1.57

    Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo

    APBD APBD-P 2010III-2010

    APBDP 2011 III-2011

  • BAB 4 KEUANGAN DAERAH

    46 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2011| BANK INDONESIA

    Halaman ini sengaja dikosongkan