Top Banner
Alam Semesta Terciptanya Alam Semesta Menurut Al-Quran by Muhammad Restu Pradana on 07:27 AM, 15-Dec-12 Al-Qur’an merupakan sumber segala ilmu. Al-Qur’an menyebutkan tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya, tentang penciptaan manusia, termasuk manusia yang didorong hasrat ingin tahunya dan dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada disekitarnya seperti keingintahuan tentang rahasia alam semesta. Alam semesta merupakan sebuah bukti kebesaran Tuhan, karena penciptaan alan semesta dari ketiadaan memerlukan adanya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Tuhan telah menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya untuk manusia dan telah menyatakan tentang penciptaan alam semesta dalam ayat-ayat Nya. Meskipun demikian al-Qur’an bukan buku kosmlogi atau biologi, sebab ia hanya menyatakan bagian-bagian yang sangat penting saja dari ilmu-ilmu yang dimaksud. Keinginantahuan manusia tentang alam semesta tidak hanya membaca al-Qur’an saja, akan tetapi juga melakukan perintah Tuhan. Sehingga ia dapat menemukan kebenaran yang dapat dipergunakan dalam pemahaman serta penafsiran al-Qur’an, berdasarkan surat Yunus ayat101. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa penciptaan alam semesta bukanlah produk dari hasil pemikiran manusia, akan tetapi produk dari hasil Allah Swt. A. Alam Semesta dalam Perspektif Klasik dan Modern 1. Pandangan Klasik Menurut pakar fisika bahwa alam tidak hanya tak berhingga besarnya dan tak terbatas, tetapi juga tidak berubah status totalitasnya dari waktu tak berhingga lamanya yang telah lampau sampai waktu tak berhingga lamanya yang akan datang.Menurut
35

Alam Semesta.docx

Nov 20, 2015

Download

Documents

Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript

Alam SemestaTerciptanya Alam Semesta Menurut Al-Quranby Muhammad Restu Pradana on 07:27 AM, 15-Dec-12 Al-Quran merupakan sumber segala ilmu. Al-Quran menyebutkan tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya, tentang penciptaan manusia, termasuk manusia yang didorong hasrat ingin tahunya dan dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada disekitarnya seperti keingintahuan tentang rahasia alam semesta. Alam semesta merupakan sebuah bukti kebesaran Tuhan, karena penciptaan alan semesta dari ketiadaan memerlukan adanya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Tuhan telah menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya untuk manusia dan telah menyatakan tentang penciptaan alam semesta dalam ayat-ayat Nya. Meskipun demikian al-Quran bukan buku kosmlogi atau biologi, sebab ia hanya menyatakan bagian-bagian yang sangat penting saja dari ilmu-ilmu yang dimaksud.Keinginantahuan manusia tentang alam semesta tidak hanya membaca al-Quran saja, akan tetapi juga melakukan perintah Tuhan. Sehingga ia dapat menemukan kebenaran yang dapat dipergunakan dalam pemahaman serta penafsiran al-Quran, berdasarkan surat Yunus ayat101. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa penciptaan alam semesta bukanlah produk dari hasil pemikiran manusia, akan tetapi produk dari hasil Allah Swt.

A. Alam Semesta dalam Perspektif Klasik dan Modern

1. Pandangan KlasikMenurut pakar fisika bahwa alam tidak hanya tak berhingga besarnya dan tak terbatas, tetapi juga tidak berubah status totalitasnya dari waktu tak berhingga lamanya yang telah lampau sampai waktu tak berhingga lamanya yang akan datang.Menurut Einstein bahwa alam semesta tidak pernah diciptakan, yang qadim, langgeng, sesuai dengan konsesus yang didasarkan pada kesimpulan yang rasional sebagai analisis yang kritis terhadap berbagai data yang diperolehnya dari pemikiran dalam pengamatan.

2. Pandangan ModernMenurut Hubble bahwa alam semesta ini tidak statis, melainkan merupakan alam yang dinamis, seperti model Friedman.Hubble melakukan observasi tentang alam melalui teropong bintang terbesar di dunia, melihat galaksi-galaksi di sekeliling kita, yang menurut analisis terhadap spektrum cahayanya tampak menjauhi galaksi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jaraknya dari bumi, yang terjauh bergerak paling cepat meninggalkan kita.Menurut Gamow, Alpher dan Robert Herman, bahwa terjadi ledakan yang maha dahsyat yang melemparkan materi seluruh jagat raya ke semua arah, yang kemudian membentuk bintang-bintang dan galaksi karena tidak mungkin materi seluruh alam itu berkumpul di suatu tempat dalam ruang alam tanpa meremas diri dengan gaya gravitasinya yang sangat kuat, sehingga volumenya menjauhi titik, maka disimpulkan bahwa dentuman besar itu terjadi ketika seluruh materi kosmos terlempar dengan kecepatan yang sangat tinggi keluar dari keberadaannya dalam volume yang sangat kecil. Sehingga menurut mereka alam semesta lahir dari sebuah singularitas dengan keadaan ekstrem.Terciptanya Alam Semesta Menurut Al-Qur'an

Al-Quran merupakan sumber segala ilmu. Al-Quran menyebutkan tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya, tentang penciptaan manusia, termasuk manusia yang didorong hasrat ingin tahunya dan dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada disekitarnya seperti keingintahuan tentang rahasia alam semesta.Alam semesta merupakan sebuah bukti kebesaran Tuhan, karena penciptaan alan semesta dari ketiadaan memerlukan adanya Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Tuhan telah menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya untuk manusia dan telah menyatakan tentang penciptaan alam semesta dalam ayat-ayat Nya. Meskipun demikian al-Quran bukan buku kosmlogi atau biologi, sebab ia hanya menyatakan bagian-bagian yang sangat penting saja dari ilmu-ilmu yang dimaksud. Keinginantahuan manusia tentang alam semesta tidak hanya membaca al-Quran saja, akan tetapi juga melakukan perintah Tuhan. Sehingga ia dapat menemukan kebenaran yang dapat dipergunakan dalam pemahaman serta penafsiran al-Quran, berdasarkan surat Yunus ayat101. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi bahwa penciptaan alam semesta bukanlah produk dari hasil pemikiran manusia, akan tetapi produk dari hasil Allah Swt.A. Alam Semesta dalam Perspektif Klasik dan Modern1. Pandangan KlasikMenurut pakar fisika bahwa alam tidak hanya tak berhingga besarnya dan tak terbatas, tetapi juga tidak berubah status totalitasnya dari waktu tak berhingga lamanya yang telah lampau sampai waktu tak berhingga lamanya yang akan datang.Menurut Einstein bahwa alam semesta tidak pernah diciptakan, yang qadim, langgeng, sesuai dengan konsesus yang didasarkan pada kesimpulan yang rasional sebagai analisis yang kritis terhadap berbagai data yang diperolehnya dari pemikiran dalam pengamatan.2. Pandangan ModernMenurut Hubble bahwa alam semesta ini tidak statis, melainkan merupakan alam yang dinamis, seperti model Friedman.Hubble melakukan observasi tentang alam melalui teropong bintang terbesar di dunia, melihat galaksi-galaksi di sekeliling kita, yang menurut analisis terhadap spektrum cahayanya tampak menjauhi galaksi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jaraknya dari bumi, yang terjauh bergerak paling cepat meninggalkan kita.1Menurut Gamow, Alpher dan Robert Herman, bahwa terjadi ledakan yang maha dahsyat yang melemparkan materi seluruh jagat raya ke semua arah, yang kemudian membentuk bintang-bintang dan galaksi karena tidak mungkin materi seluruh alam itu berkumpul di suatu tempat dalam ruang alam tanpa meremas diri dengan gaya gravitasinya yang sangat kuat, sehingga volumenya menjauhi titik, maka disimpulkan bahwa dentuman besar itu terjadi ketika seluruh materi kosmos terlempar dengan kecepatan yang sangat tinggi keluar dari keberadaannya dalam volume yang sangat kecil. Sehingga menurut mereka alam semesta lahir dari sebuah singularitas dengan keadaan ekstrem.

B. Alam Semesta dalam Perspektif IslamAlam semesta menurut Islam adalah diciptakan pada suatu waktu dan akan ditiadakan pada saat yang lain.Pandangan Einstein tentang alam semesta sangat bertentangan dengan konsep alam menurut Al-Quran. Karena semula alam tiada tetapi kemudian, sekitar 15 milyard tahun yang lalu, tercipta dari ketiadaan. Sedangkan perbandingan konsepsi fisika tentang penciptaan alam dengan ajaran Al-Quran dapat kita lihat dalam surat Al-Anbiya ayat 30 yang berbunyi:

Dan tidaklah oarang-orang kafir itu mengetahui bahwa langit (ruang alam) dan bumi (materi alam) itu dahulu sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya itu. (Q.S. Al-Anbiya : 30).

C. Ayat-ayat yang berhubungan dengan alam Semesta

Di antara ayat-ayat yang dijadikan sebagai bukti otentik tentang penciptaan alam semesta dalam Al-Quran yaitu:

1 Surat Al-Baqarah ayat 29Bahwa Allah SWT setelah merici ayat-ayat-Nya tentang diri manusia dengan mengingatkan awal kejadian, sampai kesudahannya dan menyebutkan bukti keberadaan serta kekuasaan-Nya kepada Makhluk-Nya melalui apa yang mereka saksikan sendiri pada diri mereka, kemudian Dia menyebutkan ayat-ayat-Nya atau bukti lain yang ada di cakrawala melalui apa yang mereka saksikan, yaitu penciptaan langit dan bumi, untuk menunjukkan kekuasaan-Nya yang meliputi segala-galanya dan menunjukkan betapa banyak karunia-Nya kepada umat manusia dengan menjadikan segala yang di bumi sebagai bekal dan persediaan untuk dimanfaatkan. Untuk itu Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

(29)PenjelasanMenurut Syekh Ahmad Musthofa Al-Maraghi makna ayat: (Dialah Tuhan yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu) yaitu :Dalam memanfaatkan benda-benda di bumi ini dapat ditempuh melalui salah satu dari dua cara, yaitu:1. Memanfaatkan benda-benda itu dalam kehidupan jasadi untuk memberikan potensi pada tubuh atau kepuasan padanya dalam kehidupan duniawi.2. Dengan memikirkan dan memperhatikan benda-benda yang tidak dapat diraih oleh tangan secara langsung, untuk digunakan sebagai bukti tentang kekuasaan penciptanya dan dijadikan santapan rohani.Dengan ayat ini kita mengetahui bahwa pada dasarnya memanfaatkan segala benda di bumi ini dibolehkan. Tidak seorangpun mempunyai hak mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah kecuali dengan izin-Nya sebagaimana telah difirmankan pada ayat 10 surat Yunus. (kemudian Dia menuju langit) yaitu:Kata samaa artinya sesuatu yang jauh berada di atas kepala kita. Dan kata Istawaa berarti langsung menuju tujuan tanpa kecenderungan mengerjakan sesuatu yang lain di tengah-tengah menciptakannya. (lalu menciptakan tujuh langit) yaitu:Maksud dari ayat tersebut, Allah menyempurnakan penciptaan langit hingga menjadi tujuh langit.Menurut Quraisy Shihab makna ayat : yaitu:Dipahami oleh banyak Ulama menunjukkan bahwa pada dasarnya segala apa yang terbentang di bumi ini dapat digunakan oleh manusia, kecuali jika ada dalil yang melarangnya. Makna yaitu:Kata Istawaa pada mulanya berarti tegak lurus, tidak bengkok. Selanjutnya kata itu dipahami secara majazi dalam arti menuju ke sesuatu dengan cepat dan penuh takad bagaikan yang berjalan tegak lurus tidak menoleh ke kiri dan ke kanan. yaitu:Kehendak Allah untuk mewujudkan sesuatu seakan-akan kehendak tersebut serupa dengan seseorang yang menuju ke sesuatu untuk mewujudkannya dalam bentuk seagung dan sebaik mungkin. yaitu:Bahwa langit itu dijadikanNya dalam bentuk sebaik mungkin, tanpasedikit aib/kekurangan apapun. Seperti dalam surat al-Mulk ayat 03.

Menurut Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Katsir Ad-Dimasqy makna ayat: (kemudian Dia menuju langit) yaitu:Summa dalam ayat ini menunjukkan ataf khabar kepada khabar, bukan ataf fiil kepada fiil yang lain.Istawaa ilas samaa yaitu berkehendak atau bertujuan ke langit. Makna lafadz ini mengandung pengertian kedua lafadz tersebut, yakni berkehendak dan bertujuan, karena ia dimutaaddi-kan denagn memakai huruf ila. (Lalu Dia menciptakan langit tujuh lapis) yakni:Lafadz as-samaa dalam ayat ini merupakan isim jins, karena itu disebutkan saba samaawaat. Maksud ayat ini yaitu Sebagian dari langit berada di atas sebagian lainnya. Dikatakan saba samaawaati artinya tujuh lapis bumi, yakni sebagian berada dibawah yang lain. Ayat ini menunjukkan bahwa bumi diciptakan sebelum langit. (Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu) yaitu:Maksudnya, pengetahuan-Nya meliputi semua makhluk yang telah Ia ciptakan sebagaimana dalam firman-Nya: ..( : 14)Rincian makna ayat ini diterangkan dalam surat Fushilat ayat 9-12 yang berbunyi: (9) (10) (11) (12)Di dalam ayat Fushilat terkandung dalil yang menunjukkan bahwa Allah SWT memulai ciptaan-Nya dengan menciptakan Bumi, kemudian menciptakan tujuh lapis langit. Memang demikianlah cara membangun sesuatu, yaitu dimulai dari bagian bawah, setelah itu baru bagian atasnya. Makna ayat ini juga diterangkan dalam surat an-Naaziaat 27-33: (27) (28) (29) (30) (31) (32) (33) ( : 27-33)Apakah kalian yang lebih sulit penciptaannya atau langit? Allah telah membinanya. Dia meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah dihamparkan-Nya. Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternak kalian.

Menurut Ali Ibnu Abu Talhah, dari Ibnu abbas, bahwa As-Daha (Penghamparan),dilakukan sesudah penciptaan langit dan bumi. As-Saddi telah mengatakan di dalam kitab tafsirnya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Masud, serta dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna surat al-Baqarah ayat 29. bahwa Arasy Allah SWT berada di atas air, ketika itu Allah belum menciptakan makhluk, maka Dia mengeluarkan asap dari air tersebut, lalu asap (agar) tersebut membumbung di atas air hingga letaknya berada di atas air, dinamakanlah sama (langit).Kemudian air dikeringkan, lalu Dia menjadikannya bumi yang menyatu. Setelah itu bumi dipisahkan-Nya dan dijadikan-Nya tujuh lapis dalam 2 hari, yaitu Ahad dan Senin. Allah menciptakan bumi di atas ikan besar, dan ikan besar inilah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran surat al-Qolam ayat 1 : (1)Sedangkan ikan besar (nun) berada di dalam air. Air berada di atas permukaan batu yang licin, sedangkan batu yang licin berada di atas punggung malaikat. Malaikat berada di atas batu besar, dan batu besar berada di atas angin. Batu besar inilah yang disebut oleh Luqman bahwa ia bukan berada di langit dan juga di bumi.Kemudian ikan besar itu bergerak, maka terjadilah gempa di bumi, lalu Allah memancangkan gunung-gunung di atasnya hingga bumi menjadi tenang, gunung-gunung itu berdiri dengan kokohnya di atas bumi. Berdasarkan firman Allah dalam surat al-Anbiya : 31: ..(31)Allah menciptakan gunung di bumi dan makanan untuk penghuni-penghuninya dan menciptakan pepohonan dan semuanya diperlukan di bumi pada hari Selasa dan Rabu.Sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Fushilat ayat 9-10. berdasarkan surat Fushilat ayat 11 yang berbunyi: ..( : 11)Bahwa asap itu merupakan uap dari air tadi. Kemudian asap dijadikan langit tujuh lapis dalam dua hari, yaitu hari Kamis dan Jumat. Sesungguhnya hari Jumat dinamakan demikian karena pada hari itu diciptakan langit dan bumi secara bersamaan.Setelah Allah menyelesaikan penciptaan apa yang Dia sukai, lalu Dia menuju Arasy, sebagaimana dalam firman-Nya surat al-Hadid ayat 4 yaitu : ..( : 4)Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia berkuasa di atas Arasy.Ibnu Jaris mengatakan. Telah menceritakan kepadanya Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnu Saleh, telah menceritakan kepadaku Abu Masyar, dari Said Ibnu Abu Said, dari Abdullah Ibnu Salam yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah memulai penciptaan makhluk-Nya pada hari Ahad, menciptakan berlapis-lapis bumi pada hari Ahad dan Senin, menciptakan berbagai makanan dan gunung pada hari Selasa dan Rabu, lalu menciptakan langit pada hari Kamis dan Jumat. Hal itu selesai di akhir hari Jumat yang pada hari itu juga Allah menciptakan Adam dengan tergesa-gesa. Pada saat itulah kelak hari qiamat akan terjadi.

Menurut Sayyid Quthb makna surat al-Baqarah ayat 29 yaitu: Banyak sekali uraian para Mufassir dan Teolog tentang penciptaan langit dan bumi, mereka berbicara tentang apa yang ada sebelum penciptaan dan sesudahnya dan juga tentang istawaa. Mereka lupa bahwa sebelum dan sesudah adalah dua istilah yang digunakan manusia dan keduanya itu tidak menyentuh sisi Allah dan istawaa adalah istilah kebahasaan yang disini hanya menggambarkan bagi manusia (makhluk terbatas ini), suatu substansi yang tidak terbatas. yaitu:Perkataan untuk kamu memiliki makna yang dalam dan memiliki kesan yang dalam ppula. Ini merupakan kata pasti yag menetapkan bahwa Allah menciptakan manusia ini untuk urusan yang besar. yaitu:Menurut Sayyid Quthb tidak ada tempat untuk mempersoalkan hakikatmaknanya, karena kata itu adalah lambang ynag menunjuk padakekuasaan dan berkehendak untuk membuat sesuatu. Demikian halnyadengan makna berkehendak menuju penciptaan. Sebagaimana halnyatidak ada tempat untuk membahas makna tujuh langit serta bentukdan jaraknya yaitu:Karena Alah pencipta segala sesuatu, yang mengatur segala sesuatu. Dan jangkauan pengetahuan-Nya yang mennyeluruh ini sama dengan jangkauan-Nya yang menyeluruh bagi pengaturan-Nya. Hal ini mendorong keimanan kepada Tuhan Yang Maha Pencipta lagi Esa, memotivasi beribadah kepada Yang Maha Memberi rizqi dan nikmat saja merupakan pengakuan yang indah terhadapnya.Pesan dari ayat ini adalah bumi diciptakan untuk manusia, dimana Allah menciptakan bumi agar manusia berperan sebagai khalifah, berperan aktif dan utama dalam peristiwa-peristiwa serta pengembangannya. Dia adalah pengelola bumi dan pemilik alat, bukan dikelola oleh bumi dan menjadi hamba yang diatur atau dikuasai oleh alat. Tidak juga tunduk pada perubahan dan perkembangan yang dilahirkan oleh alat-alat, sebagaimana diduga bahkan dinyatakan oleh paham materialisme.Informasi Allah ini bertujuan mengecam orang-orang kafir yang mempersekutukan Allah, padahal Dia adalah pencipta yang menguasai alam raya ,yang menghamparkan bumi manusia dan menyerasikan langit agar kehidupan di dunia menjadi nyaman. Semua iti tidak ada tempatnya untuk dibahas karena keterbatasan akal manusia, sekaligus karena membahasnya dan mengetahuinya sekalipun tidak berkaitan dengan tujuan penciptaan manusia dan sebagai hamba Allah dan khalifah di dunia. Demikianlah segmen surat ini, semuanya difokuskan pada masalah keimanan, dan seruan untuk memilih rombongan konvoi orang-orang yang beriman dan bertaqwa.2 Surat Al-Mulk ayat 1-4Yaitu surat yang menunjukkan tentang seluruh kerajaan (kekuasaan) ada dalam tangan Allah.Surat al-Mulk ayat 1 berbunyi : (1)PenjelasanMenurut Prof. Dr. Hamka makna ayat: (Maha Suci Dia, yang di dalam tangan-Nya sekalian kerajaan) yaitu:Bahwa ayat tersebut mengandung pengertian betapa Tuhan memberi ingatan kepada manusia dalam kerajaan dan kemegahan dalam dunia ini, bahwasannya kerajaan yang sebenar kerajaan, kekuasaan yang sebenar kekuasaan hanya ada dalam tangan Allah.Segala kerajaan dan kekuasaan yang ada di muka bumi ini, bagaimanapun manusia mengejarnya atau mempertahankannya bila telah dapat diperoleh, tidaklah semua itu benar-benar kerajaan (kekuasaan). Bagaimanapun seorang Raja (Presiden) memerintah dengan segenap kekuatan, kegagahan dan kadang-kadang kesewenang-wenangan, namun kekuasaan yang seperti demikian hanyalah pinjaman belaka dari Allah dan tidak ada yang akan kekal dipegangnya terus.Naiknya seorang penguasa pun hanyalah karena adanya pengakuan sedang Allah sebagai Maha Kuasa dan Maha Menentukan, tidaklah Dia berkuasa karena diangkat. Itulah sebabnya maka mustahil Allah itu beranak, sebab Allah itu hidup selama-lamanya dan Maha Kuasa untuk selama-lamanya. (Dan Dia atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Menentukan) yaitu:Sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa, pembagi kekuasaan kepada sekalian raja dan penguasa di dunia (di seluruh alam ini), baik di bumi atau di langit, Allah lah yang maha menentukan segala sesuatu. Segala sesuatu adalah meliputi segala sesuatu, baik yang sangat besar maupun yang sangat kecil.Dengan menggali rahasia alam, akan mendapat pengetahuan tentang segala yang dilihat, didengar dan diselidiki, dari yang kecil sampai kepada yang besar, di waktu mendapatkannya itulah kita akan lebih faham apa arti yang sebenarnya dari pada kata takdir.Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa segala sesuatu itu ada ketentuannya. Jika tidak ada, maka tidak akan berarti yang dinamakan ilmu pengetahuan (sains). Dan ini ditegaskan pada dekat penutup surat Ali-Imran ayat 191 : Demikianlah bahwa Tuhan Maha Kuasa dan Menentukan. Sehingga hidup dan mati manusia, musibah atau keselamatan itu adalah pertemuan di antara ketentuan dengan ketentuan, baik yang kecil maupun besar ataupun yang diketahui manusia maupun sebaliknya. Namun seluruh keadaan dalam alam ini tidaklah ada yang terlepas dari ketentuan yang telah ditentukan Tuhan, yang kadang-kadang disebut juga hukum sebab akibat.Surat Al-Mulk ayat 2 berbunyi: (2)PenjelasanMenurut prof. Dr. Hamka makna ayat: (Dan Dia yang menciptakan maut dan hidup) yaitu:Bahwa Allah-lah yang menciptakan mati dan hidup. Tujuan dari ayat tersebut memberi peringatan kepada manusia, bahwa hidup ini tidaklah berhenti di dunia ini saja. Ini adalah peringatan kepada manusia agar mereka ingat akan mati di samping dia terpesona oleh hidup. Berkenaan dengan ayat tersebut, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dari Qatadah yang berbunyi : Sesungguhnya Allah menghinakan keturunan Adam dengan maut, dan Allah menjadikan dunia ini negeri untuk hidup, kemudian itu negeri untuk mati, dan Dia jadikan negeri akhirat untuk menerima ganjaran dan negeri untuk kekal. (karena Dia akan menguji kamu, manakah di antarakamu yang terlebih baik amalannya.) yaitu:Maka di antara hidup dan mati itulah kita mempertinggi mutu amalan diri, berbuat amalan yang bermutu dan lebih baik. Tegasnya di sini dijelaskan bahwa yang dikehendaki Allah dari kita adalah ahsanuamalan, amalan yang terlebih baik, biar pun sedikit, oleh karena itu janganlah beramal hanya karena mengharapkan kuantitas, tetapi beramallah yang bermutu tinggi walaupun berkualitas. (Dan Dia adalah Maha Perkasa dan Maha Pengampun)yaitu:Dengan menonjolkan terlebih dahulu sifat Allah yang bernama Al-Aziz, Yang Maha Perkasa dijelaskan bahwa Allah tidak boleh dipermainkan. Di hadapan Allah tidak boleh beramal separo atau ragu-ragu, melainkan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, hati-hati dan penuh disiplin. Karena kalau tidak demikian, Tuhan akan murka. Tetapi Tuhan pun memiliki sifat Al-Ghofur, Maha Pengampun atas hamba-Nya yang tidak dengan sengaja melanggar perintah Tuhan, dan berniat hendak berbuat amalan yang lebih baik, tetapi tidak mempunyai tenaga yang cukup buat mencapai yang lebih baik itu.Surat Al-Mulk ayat 03, berbunyi : (3)PenjelasanMenurut Sayyid Quthb makna ayat : (Dia telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat) yaitu:Di dalam zilal nya bahwa langit tujuh tingkat itu jangan ditafsirkan dengan ilmu pengetahuan (science, sains) yang bisa berubah-ubah. Karena penyelidikan manusia tidak akan lengkap menghadapi alam cakrawala yang begitu luas.Menurut Prof. Dr. Hamka makna ayat: (Tidaklah akan engkau lihat pada penciptaanyang Maha Pemurah itu sesuatu pun dari yang bertikaian) yaitu:Bahwa semua yang diciptakan Tuhan dijadikan dengan teratur dan tersusun rapi. Menurut ahli-ahli astronomi bahwasannya bintang-bintang yang bertaburan di langit itu diatur menurut jarak ukuran tertentu, ukuran keseimbangan. Sehingga yang satu berkait dengan yang lain. Dan tidak terjatuh dari tempat yang telah ditentukan. (Maka ulanglah kembali penglihatan adalah engkau lihat semuanya itu janggal) yaitu:Ilmu pengetahuan manusia telah membuktikan bahwa bulan lebih kecil dari bumi. Mengapa sama saja kelihatan besarnya? Alangkah cerdik dan pandai Tuhan mengaturnya. Sebab itu tidaklah ada yang janggal.Surat Al-Mulk ayat 04, berbunyi : (4)PenjelasanMenurut Prof.Dr. Hamka makna ayat : (kemudian itu ulanglah penglihat kedua kalinya) yaitu:Ayat ini menyuruh kita mengulangi penglihatan memperhatikan sekali lagi, dua tiga kali. Karena apabila ditambah mengulangi melihatnya akan terdapat lagi keajaiban yang baru. (niscaya akan kembalilah penglihatan dalam keadaan payah) yaitu:Payah dalam ayat ini adalah payah karena kagum dengan kebesaran Ilahi, bila dilihat keadaan alam yang sekelilingnya kita ini akan terdapatlah sifat-sifat Allah yang mulia tertulis dengan jelasnya. (Dan dia akan mengeluh) yaitu:Mengapa mengeluh? Mengeluh lantaran karena di waktu itu menedesaklah dari dalam jiwa kita sebagai manusia berbagai perasaan. Di antaranya kagum melihat betapa besarnya kekuasaan Tuhan dan terasa kecil diri di bawah kekuasaan Tuhan dan terasa kecil diri di bawah kekuasaan Ilahi.Menurut Ust.Asrari Alfa MAg dan Drs. H. Syuaib H. Muhammad MAg diambil dari Shofwatut Tafsir makna surat al-Mulk ayat 1-4 yaitu: Makna yaitu:Maha mulia dan luhur Allah yang maha tinggi dan maha besar, yang melimpahkan kepada makhluknya bermacam-macam kebaikan .Yang mankerajaan langit dan bumi dalam genggaaman kekuasaan dan berbuat sesuatu sekehendakNya. Ibnu Abbas berkata: DitanganNyalah segala kerajaan, Dia memulyakan dan menghinakan orang yang dikehendaki, menghidupkan dan mematikan, menjadikan kaya dan fakir, serta memberi dan mencegah. yaitu:Dialah yang menguasai segala sesuatu yang baginya kekuasaan yang sempurna, yang menyelesaikan segala urusan secara sempurna tanpa menahan dan menolak kemudian menerangkan kekuasaanNya dan kata hikmahNya sangat mulia. yaitu:Menjadikan di dunia sebuah kehidupan dan kematian, Dia menghidupkan dan mematikan apa yan dikehendakiNya.Dialah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Akan tetapi Dia memberikan kematian karena sesungguhnya kematian itu bertiup dari nafas dan menakutkan.Ulama berkata: Kematian itu bukanlah hal yang fana, yang terputus dari segala kehidupan akan tetapi hanya perpindahan dari satu alam ke alam lain. Hal ini sudah menjadi ketetapan dalam qoul yang shahih bahwa mayyit itu mendengar, melihat dan merasakan di dalam kuburnya sebagaimana Rasulullah bersabda: Sesungguhnya salah seorang diantara kamu apabila diletakkan didalam kuburnya dan para sahabatnya mengiringinya ,sesungguhnya dia mendengar suara langkah kakinya. Kematian adalah terputusnya ruh dari badan terpisahnya dari jasad. yaitu:Allah menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik dari yang jelek. Imam Qurthubi berkata: Yakni amalmu yang diuji, sesungguhnya Allah mengetahui orang yang taat dan berbuat dosa. yaitu:Dzat yang mengalahkan orang yang melawan-Nya. yaitu:Maha pengampun atas dosa-dosaaa orang yang bertaubat dan kembali kepadaNya. yaitu:Menciptakan tujuh langit yang berlapis-berlapis yaitu:Wahai para pendengar kamu tiadak melihat ciptaan Allah sesuatu kekurangan dan cacat atau perbedaan dan perselisihan. Tuhan adalah puncaknya keyakinan, sesungguhnya Dia bersabda Fi kholqir rohmaani dan bukan fi hinna sebagai pengagungan bagi makhlukNya dan mengingatkan atas luasnya kekuasaan Allah. yaitu:Melihat kelangit secara berulang-ulang atas ciptaan Allah dan apakah kamu mellihat ketereblahan dan keterputusan? yaitu:Kemudian mengulang-ulang lagi melihat ke langit yang sangat menajubkan. yaitu:Penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sebuah cacat sebagai bukti, dan tidak melihat apa yang kamu inginkan. yaitu:Penglihatanmu dalam keadaan letih dan payah karena penyakit yang tak mau sembuh. Imam fahr berkata: Bahwa makna sesungguhnya apabila kamu mengulang-ulangi pandanganmu, penglihatanmu tidak akan kembali kepadamu dengan apa yang disandarkan dari adanya cacad dan cela tetapi kembali karena tidak menemukan cacad dan melihat keletihan serta kepayahan penyakit yang tak mu sembuh.Imam Qurthubi berkata: mengulangi pandanganmu dan membalikkan penglihatanmu kelangit secara berulang-ulang maka penglihatanmu akan kembali kepadamu karena tunduk dan merasa kecil yang jauh dari melihat cela dan cacad. Akan tetapi masalah pandangan dengan berulang kali karena manusia apabila melihat sesuatu ssekali tidak melihat cela selagi tidak melihat yang kedua kalinya.Dan maksud bil karrotaini adalah untuk memperbanyak dengan dalil yanqolib ilaikal bashoro khosinan wahuwa hasiir ini menunjukkan bukti atas banyaknya melihat kemudian Allah menerangkan tentang bintang yang bercahaya dan memancar menghiasi langit.Sesungguhnya keempat ayat Mulk ini, membawa kita manusia ke halaman alam yang Maha Kuasa untuk mempergunakan penglihatan mata dan pendengaran telinga menghubungkan diri dengan Allah, dengan perantaraan alam yang Allah ciptakan. Benarlah kata-kata yang jadi buah tutur dari ahli tasawuf:Aku ini adalah perbendaharaan yang sembunyi lalu Aku ciptakan hamba-hambaKu. Maka dengan bimbingan-Kulah mereka mengenal Aku.Akal budi dan perasaan yang halus dalam diri dipersambungkan dengan alam keliling oleh penglihatan dan pendengaran, untuk mengambil hasil dan mencari hakikat yang sebenarnya mencari kenyataan sejati di belakang kenyataan yang tampak.Ayat-ayat ini mendorong kita berbuat untuk mencintai seni, berperasaan halus, membawa kita dalam ilmu pengetahuan serta dalam filsafat. Tetapi hasil sejati adalah menumbuhkan keyakinan bahwa kita datang ke bumi tidak kebetulan dan alam sendiri mustahil begini teratur; kalau tidak ada yang mengaturnya.3 Surat Al-Araf ayat 54Yaitu surat yang menunjukkan akidah tentang Tuhan dan fenomena alam semesta.Surat Al-Araf ayat 54 berbunyi : (54)Penjelasan Menurut Sayyid Quthb makna surat al-Araf ayat 54 yaitu: Akidah tauhid Islam tidak meninggalkan satu pun lapangan bagi manusia untuk merenungkan zat Allah Yang Maha Suci dan bagaimana ia berbuat, maka, Allah itu Maha Suci, tidak ada lapangan bagi manusia untuk menggambarkan dan melukiskan zat Allah.Adapun enam hari saat Allah menciptakan langit dan bumi, juga merupakan perkara ghaib yang tidak ada seorang makhlukpun menyaksikannya. Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan segala kebesaran-Nya, yang menguasai alam ini mengaturnya dengan perintah-Nya, mengendalikannya dengan kekuasaan-Nya. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dalam putaran yang abadi ini yaitu putaran malam mengikuti siang dalam peredaran planet ini.Dia menciptakan matahari, bulan dan bintang, yang semuanya tunduk kepada perintah-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pencipta, Pelindung, Pengendali dan Pengatur. Dia adalah Tuhan kalian yang memelihara kalian dengan manhaj-Nya, mempersatukan kalian dengan peraturan-Nya, membuat syariat bagi kalian dengan izin-Nya dan memutuskan perkara kalian dengan hukum-Nya. Dialah yang berhak menciptakan dan memerintah.Inilah persoalan yang menjadi sasaran pemaparan ini yaitu persoalan uluhiah, rububiyah dan hakimiyah, serta manunggalnya Allah SWT. Pada semuanya ini ia juga merupakan persoalan ubudiyah manusia di dalam syariat hidup mereka. Maka, ini pulalah tema yang dihadapkan konteks surat ini yang tercermin dalam masalah pakaian sebagaimana yang dihadapi surat Al-Anam dalam masalah binatang ternak, tanaman,nazar-nazar dan syiar-syiar.Menurut Thahir Ibnu Asyur makna surat al-Araf ayat 54 yaitu: Bahwa hubungan surat ini sangat serasi. Ia memulai dengan menyebut al-Quran, perintah mengikutinya serta larangan mendekati apa yang bertentanngan dengannya. Selain itu juga memperingatkan ttentang apa yang menimpa umat-umat yang dahulu, yang enggan mengakui keesaan Allah serta mendurhakai rasul-rasul mereka . Setelah itu semua kumpulan ayat ini menjelaskan tentang tauhid beserta bukti kebenarannya dan mengajak untuk tunduk dan patuh kepadanNya.Menurut Al-Biqai makna surat al-Araf ayat 54 yaitu: Bahwa tema pokok yang berkisar pada uraian al-Quran tentang tauhid, Nubullah (kenabian), hari kemudian, dan pengetahuan. Ayat ini juga menegaskan bahwa sesungguhnya Tuhan Pemelihara dan Pembimbing, serta yang menciptakan kamu dari tiada dan akan membangkitkan kamu ialah Allah Yang Maha Esa yang telah mneciptakan semua langit dan bumi yakni alam raya dalam enam hari (enam masa).Informasi tentang penciptaan alam dalam enam hari mengisyaratkan tentang qudrat, dan ilmu, serta hikmah Allah swt .Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia berkuasa dan mengatur segala yang diciptakan-Nya, sehingga berfungsi sebagaiman ynag ia kehendaki yaitu Dia menutupkan malam dengan kegelapannya kepada siang ataupun sebaliknya dan silih berganti dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan dan bintang masing-masig tunduk kepada perintah-Nya, yakni alah menetapkan hukkum yang berlaku atasnnya dan benda-benda itu tidak dapat mengelak dari hokum-hukum yang ditetapkan Allah itu. yaitu:Istawa makna dasarnya bersemayam dialihkan ke makna majazi yaitu berkuasa. Sehingga penggalan ayat ini menegaskan tentang kekuasaan Allah SWT dalam mengatur dan mengendalikan alam raya, tetapi hal tersebut sesuai dengan kebesaran dan kesucian-Nya dari segala sifat kekurangan atau kemakhlukkan.Kata Tsumma menggambarkan betapa jauh tingkat penguasaan Arsy, dibanding dengan penciptaan langit dan bumi. yaitu:Terambil dari kata sakhkhara yang berarti ancaman, pengajaran atau pengaturan tanpa meminta imbalan dari yang dittundukkan untuknya. Ini berarti, alam raya dan segala isinya ditundukkan allah SWT untuk dimanfaatkan oleh manusia, jika demikian bukan manusia yang menundukkannya, sehingga manusia tidak boleh annnngkkuh terhadap alam akan tetapi harus bersahabat denngannnnya ssambil mensyukuri nikmat Tuhan denagn jalan mengikuti semua tuntunanNya, baik yang berkaitan dengan alam, maupun diri manusia sendiri. yaitu:Berasal dari kata baraka yang berarti menetap dan mantap. Dan dapat dipahami dalam arti kebajikan yang banyak. Allah adalah wujud yang tak berubah, selalu ada dan menetap lagi banyak kebajikannya.Dari penjelasan ini terlihat, bahwa ketika kata itu dinisbahkan kepada Allah dapat dipahami dalam arti sangat menonjol kebajikan yang disandanng dan dinampakan olehNya. Itu semua terhampar jelas dialam raya ini.Menurut Muhammad Ali Ash-Shabuny makna surat al-Araf ayat 54 yaitu: Di dalam ayat ini Alah menyebutkan beberapa dalil dan bukti tentang keEsaanNya:1. Penciptaan langit tujuh tingkatan, yang merupakan bukti penciptaan dan kemukjizatan2. Arsy ar-Rahman yang tidak dapat dicakup oleh langit dan bumi, yang tak dapat dibayangkan oleh hayalan karena besarnya.3. Bintang, matahari, rembulan, dan berbagai planet, yang semua ada di bawah kekuasaan Allah.Tujuan pemaparan ayat ini adalah jangan menjadikan kita lupa untukberhenti beberapa saat di depan pemandangan yang indah, hidup, bergerakdan memberikan isyarat/kesan yang mengagumkan.4 Surat Ali Imran ayat 190Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain Ibnu Ishaq At-Tushri, telah menceritakan kepada kami Yahya Al-Hammani, telah menceritakan kepada kami Yaqub Al-Qummi, dari Jafar Ibnu Abul Mugirah, dari Said Ibnu Jubairi dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa orang-orang Quraisy datang kepada orang-orang Yahudi, lalu berkata, Mukjizat apakah yang dibawa oleh Nabi Musa kepada Kalian? orang-orang Yahudi menjawab, tongkat dan tangannya yang tampak putih bagi orang-orang yang memandang. Mereka datang kepada orang-orang Nashrani, lalu bertanya, Apakah yang dilakukan oleh Nabi Isa?. Orang-orang Nashrani menjawab, Dia dapat menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya, orang yang berpenyakit supak, dan dapat menghidupkan orang-orang yang mati. Mereka datang kepada Nabi SAW dan berkata, berdoalah kepada Allah, semoga Dia menjadikan kamu bukit Shifa ini menjadi emas. Maka turunlah ayat ini yang berbunyi : ( : 190)Riwayat ini sulit dimengerti, mengingat ayat ini adalah ayat Madaniyah, sedangkan permintaan mereka yang menghendaki agar bukit emas menjadi emas adalah di Makkah.Penjelasan Menurut Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi makna ayat: Yaitu yang ini dalam ketinggiannya dan keluasannya, dan yang ini dalam hamparannya, kepadatannya serta tata letaknya, dan semua yang ada pada keduanya berupa tanda-tanda yang dapat disaksikan lagi amat besar, seperti lautan gunung, pepohonan, hewan, tumbuhan, barang tambang serta berbagai macam manfaat yang beraneka warna, bermacam-macam rasa, bau dan kegunaannya.. Makna ayat: Yaitu saling bergiliran dan mengurangi panjang dan pendeknya; ada kalanya yang ini panjang dan yang lain pendek, kemudian keduanya sama. Setelah itu yang ini mengambil sebagian waktu dari yang lain hingga ia menjadi panjang waktunya, yang sebelum itu pendek dan menjadi pendeklah yang tadinya panjang. Semuanya itu berjalan berdasarkan pengaturan dari Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Karena itu dalam firman selanjutnya disebutkan: Maksudnya yaitu akal-akal yang sempurna lagi memiliki kecerdasan, karena hanya yang demikianlah yang dapat mengetahui segala sesuatu dengan hakikatnya masing-masing secara jelas dan gamblang. Lain halnya dengan orang tuli dan bisu serta orang-orang yang tak berakal seperti yang disebutkan dalam Al-Quran surat Yusuf ayat 105-106, yang berbunyi: (105) (106) ( : 105- 106) Menurut Sayyid Quthb terjemahan Aunur Rafiq Shaleh Thamhid dari Tafsir Fi Dzilalil Quran bahwa makna :Ulul albab yaitu orang-orang yang memiliki kesadaran yang benar, membuka mata hati mereka untuk menerima ayat-ayat kauniyah Allah tanpa memasang berbagi penghalang dan tidak menutup berbagai pintu yang menghubungkan antara diri mereka dan ayat-ayat tersebut.Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa kontek al-Quran disini menggambarkan secara cermat tahap-tahap getaran jiwa yang ditumbuhkan oleh tatapan terhadap pemandangan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang didalam perasan ulul albab. Menjadikan kitab alam yang terbuka ini sebagai kitab penngetahuan bagi manusia dengan Tuhan dan ciptaannya.Kontek ini juga menggabungkan antara perenungan makhluk ciptaan tuhan dan ibadah kepadaNya, sehingga perenungan ini bernilai ibadah dan menjadikanya sebagai bagian dari manifestasi dzikir . Penggabungan tersebut mengisyaratkan dua hal penting yaitu:1. Perenungan tentang ciptaan Tuhan, pencermatan terhadap tangan Allah Yang Maha Pencipta, ketika menggerakkan alam ini dan lembarankitab ini merupakan ibadah yang sejati kepada Alah dan dzikir yang utama kepadanya.2. Bahwa ayat-ayat Allah di alam ini tidak akan terlihat jelas sesuai hakikatnya yang sarat inspirasi, kecuali oleh hati ynag senantiasa beribadah dan berdzikir.5 Surat Ibrahim ayat 32 sampai 34Surat Ibrahim ayat 32 berbunyi: (32)PenjelasanMenurut Sayyid Quthb makna ayat: yaitu:Maksudnya adalah bahwasannya Allah menciptakan langit dan bumiuntuk manusia. Langit diturunkan darinya air (hujan) dan bumi menerimaair hujan itu. yaitu:Bahwa berbagai buah-buahan keluar dari keduanya (langit dan bumi). Tanaman-tanaman adalah sumber rizki yang pertama dan sumber kenikmatan yang nyata. Hujan dan penumbuhan keduanya mengikuti sunnah yang telah diciptakan padanya alam semesta ini.Juga mengikuti undang-undang yang menetapkan turunnya hujan, tumbuhnya tanaman-tanaman, dan itu berbicara tentang nikmat-nikmat Allah yang tak terhingga. Halaman-halaman yang luas lagi besar menampilkan berbagai warna kenikmatan-kenikmatan itu sejauh mata memandang. yaitu:Bahwa Allah menundukkannya dengan apa yang telah Dia titipkan pada berbagai unsur kekhususan-kekhususan yang dapat menjalankan bahtera pada permukaan air. Juga dengan apa yang telah Dia titipkan pada manusia berupa spesialisasi-spesialisasi yang berhasil ditemukan oleh hukum segala sesuatu. Semua itu ditundukkan dengan kehendak Allah. yaitu:Sungai-sungai mengalir, maka mengalirlah kehidupan dengan membawa berbagai rizki. Air sungai melimpah, maka melimpahlah kebajikan, dengan membawa apa yang terkandung di dalamnya berupa ikan, rumput-rumputan, dan manfaat-manfaat lainnya. Semua itu untuk manusia dan untuk apa yang dipelihara dan didayagunakan manusia, yakni sebangsa burung dan hewan-hewan lainnya.Surat Ibrahim ayat 33 berbunyi: (33)PenjelasanMenurut Sayyid Quthb makna ayat: yaitu:Maksudnya manusia tidak memanfaatkan matahari dan bulan secara langsung sebagaimana memanfaatkan air, buah-buahan, laut, bahtera dan sungai. Akan tetapi, manusia mendapatkan manfaat dari unsur-unsur (pengaruh-pengaruh dan jejak-jejak sinar) keduanya dan mengambil berbagai materi dan potensi kehidupan dan penghidupannya, bahkan dalam struktur dan reformasi sel-sel tubuhnya. yaitu:Demikian pula Allah menunjukkan malam dan siang sesuai dengan kebutuhan dan struktur manusia serta apa yang relevan dengan kegiatan dan waktu santainya. Seandainya yang ada itu siang selamanya/malam selamanya, niscaya rusaklah organ-organ manusia. Di samping itu terjadi kerusakan pada segala yang ada di sekitarnya serta terhalang kehidupan, kegiatan dan produksinya.Semua itu tiada lain kecuali tulisan-tulisan yang terhampar dalam kenikmatan-kenikmatan yang luas pada setiap tulisan terdapat titik-titik yang tiada terhingga. Oleh karena itulah tulisan-tulisan itu dihimpun secara global dan relevan dengan hamparan yang dipertunjukkan dan suasana yang universal.Menurut M. Quraisy Shihab makna ayat: Kata digunakan dalam arti menundukkan sesuatu agar mudah digunakan oleh pihak lain. Sesuatu yang ditundukkan Allah tidak lagi memiliki pilihan, dan dengan demikian, manusia yang mepelajari dan mengetahui sifat sesuatu itu akan merasa tenang menghadapinya karena yang ditundukkan tidak akan membangkang. Dari sini diperoleh kepastian hukum-hukum alam.Penundukkan bahtera adalah kemampuan manusia membuatnya sehingga dapat digunakan untuk berlayar dan mengangkut barang-barang menuju arah yang mereka kehendaki. Ayat ini menyatakan menundukkan bahtera bagi kamu supaya ia berlayar karena kontek ayat ini menyebut nikmat Tuhan sedang alat transportasi laut merupakan salah satu nikmat dari kelautan. Kata yaitu: bentuk dual dari kata dab. kata ini mengandung makna berkelanjutnya suatu aktifitas tertentu secara teratur dan terus menerus. Perurutan penyebutan anugerah Tuhan diatas sungguh serasi.Surat Ibrahim ayat 34 berbunyi: (34)PenjelasanMenurut Sayyid Qutuhb makna ayat: yaitu:Inilah ijaz yang di dalamnya serasi dan harmonis semua sentuhan, tulisan, warna dan bayangan dalam pagelaran alam semesta dan pertunjukkan kenikmatan-kenikmatan. Bahwasannya Allah telah memberikan segala nikmatnya kepada kita, yakni harta, keturunan, kesehatan, perhiasan dan kesenangan. Nikmat Allah itu lebih besar dan lebih banyak dari penghitungan yang dilakukan oleh sekelompok manusia (seluruh manusia). Mereka semua terbatasi di antara dua batas waktu : permulaan dan penghabisan. Juga di antara batas-batas pengetahuan, mengikuti batas-batas waktu dan tempat. Nikmat-nikmat Allah itu mutlak sehingga pengetahuan dan pengamatan manusia tidak bisa melingkupinya. yaitu:Setelah itu semua, mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu. Bahkan semua itu pula, kamu tidak menyukuri nikmat Allah, tetapi justrumenukarnya dengan kekafiran dan melakukan kedzaliman dalam takdirmaupun dalam ibadah.Menurut M. Quraisy Shihab makna ayat 34 yaitu: yaitu:Segala kebutuhan manusia telah disiapkan oleh Allah SWT atau Allah telah menyiapkan dan memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya, baik melalui usahanya yang disukseskan Allah maupun melalui perintahNya kepada yang memiliki kelebihan untuk memberikan sebagian dari yang dimilikinya kepada yang butuh. Kata yaitu:Berarti mendzalimi dan menghalangi orang lain memperoleh haknya, atau menyianyiakan sesuatu dan tidak menggunakannya pada tempat yang semestinya. Kata yaitu:Terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf ha,syad, dan ya. Dan mengandung tiga makna, yaitu mneghalangi/melarang; menghitung dan mampu; dari sini lahir makna mengetahui dan mencatat serta memelihara; dan sesuatu yang merupakan bagian dari tanah, dari sini lahir kata hasha yang bermakna batu. Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa maksud kata tersebut adalah pengetahuan menyangkut sesuatu dari himpunan dan bilangannya, sehingga yang dapat menjangkau segala sesuatu hanyalah TuhanAyat ini ditutup dengan mengemukakan dua sifat buruk manusia yaitusangat dzalim dan kafir. Sehingga kontek ayat 34 mengandung uraian tentang sikap manusia yang durhaka terhadap aneka anugerah Allah.