Top Banner
KAJIAN ENTREPRENEURSHIP Dwi Retno Andriani, SP., MP Lab. Manajemen Analisis Agribisnis- Universitas Brawijaya dwiretno.fp@ub.ac.id Diskripsi Modul 1. Konsep Entrepreneurship 2. Agribisnis dan proses entrepreneurship MODUL 3 SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT (SPEED) 1. Deskripsi Modul Sejak tahun 2007, Universitas Brawijaya telah mendeklarasikan visinya sebagai Entrepreneurial University yang bertujuan untuk meningkatkan daya saingnya melalui : (1) pengembangkan pendidikan yang dirancang untuk menghasilkan lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja, (2) pengembangan penelitian yang diarahkan untuk menghasilkan produk atau IpTek yang dibutuhkan masyarakat dan bisa dikomersialkan, (3) pengembangan pengabdian masyarakat yang diarahkan untuk dapat mengembangkan perekonomian regional maupun nasional melalui pengembangan industri khususnya skala kecil-menengah, (4) pengembangan universitas menjadi perguruan tinggi entrepreneurial dalam rangka meningkatkan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kata entrepreneur dan entrepreneurship dalam bahasa Inggris,menurut Holt (1992), berasal dari bahasa Prancis yakni dari entreprendre.The Concise Oxford French Dictionary (1980) mengartikan entreprendre sebagai to undertake (menjalankan, melakukan, berusaha), to set about (memulai), to begin (memulai); to attempt (mencoba, berusaha). Ide dan defenisi entrepreneur banyak sekali, Schumpeter seorang pakar strategi melihat entrepreneur adalah sebuah proses “destruktif yang kreatif”, dimana produk-produk atau metode produksi yang sudah ada dihancurkan dan diganti dengan yang baru.
18

riyanti.lecture.ub.ac.idriyanti.lecture.ub.ac.id/.../02/RUA_3_entrepreneurship1.docx · Web viewDari pendapat dan penemuan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pengalaman dalam

Apr 11, 2018

Download

Documents

ledat
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript

(Brawijaya University) ( 2012) (Rancangan Usaha Agribisnis)

KAJIAN ENTREPRENEURSHIP

Dwi Retno Andriani, SP., MP

Lab. Manajemen Analisis Agribisnis- Universitas Brawijaya

dwiretno.fp@ub.ac.id

(MODUL)

Diskripsi Modul

1. (3)Konsep Entrepreneurship

2. Agribisnis dan proses entrepreneurship

(Deskripsi ModulSejak tahun 2007, Universitas Brawijaya telah mendeklarasikan visinya sebagai Entrepreneurial University yang bertujuan untuk meningkatkan daya saingnya melalui : (1) pengembangkan pendidikan yang dirancang untuk menghasilkan lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja, (2) pengembangan penelitian yang diarahkan untuk menghasilkan produk atau IpTek yang dibutuhkan masyarakat dan bisa dikomersialkan, (3) pengembangan pengabdian masyarakat yang diarahkan untuk dapat mengembangkan perekonomian regional maupun nasional melalui pengembangan industri khususnya skala kecil-menengah, (4) pengembangan universitas menjadi perguruan tinggi entrepreneurial dalam rangka meningkatkan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.Kata entrepreneur dan entrepreneurship dalam bahasa Inggris,menurut Holt (1992), berasal dari bahasa Prancis yakni dari entreprendre.The Concise Oxford French Dictionary (1980) mengartikan entreprendre sebagai to undertake (menjalankan, melakukan, berusaha), to set about (memulai), to begin (memulai); to attempt (mencoba, berusaha).Ide dan defenisi entrepreneur banyak sekali, Schumpeter seorang pakar strategi melihat entrepreneur adalah sebuah proses destruktif yang kreatif, dimana produk-produk atau metode produksi yang sudah ada dihancurkan dan diganti dengan yang baru.)

(SELF-PROPAGATING ENTREPRENEURIAL EDUCATION DEVELOPMENT (SPEED))

Oleh karena itu entrepreneuship berkaitan dengan penemuan, pendayagunaan peluang-peluang yang menguntungkan. Dengan kata lain fungsi spesifik dari entreprenur adalah inovasi. Inovasi berarti penciptaan nilai sebagai sumber keunggulan kompetitif. Tanpa inovasi cara/metode baru tidak akan pernah ditemukan. Melalui inovasi, para entrepreneur akan terus melakukan ekspansi memperluas daerah pemasaran, menambah jumlah pelanggan meningkatkan penjualan dan laba. Adam Smith, yang kita kenal sebagai bapak ekonomi memiliki pandangan tersendiri. Dalam pandangannya wirausaha berarti orang yang mampu bereaksi terhadap perubahan ekonomi, lalu menjadi agen ekonomi yang mengubah permintaan menjadi produksi. Ahli ekonomi perancis Jean Baptise berpendapat bahwa wirausaha adalah orang yang memiliki seni dan kterampilan tertentu dalam menciptakan usaha ekonomi yang baru. Sedangkan Cantilon berpendapat bahwa wirausaha adalah seorang inkubator gagasan-gagasan baru yang sellau berusaha menggunakan sumber daya secara optimal untuk mencapai tingkat paling tinggi.

Secara komprehensif Meng & Liang, (1996), merangkum pandangan beberapa ahli, dan mendefenisikan wirausaha sebagai: (a) Seorang inovator (b) Seorang pengambil risiko atau a risk-taker (c) Orang yang mempunyai misi dan visi (d) Hasil dari pengalaman masa kanak-kanak (e) Orang yang memiliki kebutuhan berprestasi tinggi. (f) Orang yang memiliki locus of control internal.

A. Sifat-Sifat Wirausaha

Dari berbagai penelitian yang ada ditemukan sembilan belas sifat penting wirausaha yang diperoleh dari tujuh penelitian yang pernah dilakukan. Kesembilan belas sifat itu dikelompokkan menjadi enam sifat unggul (research methodology workshop, 1977), sebagai berikut. (1) Percaya diri:(2) Originalitas (3) Berorientasi manusia (4) Berorientasi hasil kerja (5) Berorientasi masa depan (6) Berani ambil risiko Kita akan membahas satu per satu dari keenam sifat tersebut;

1. Percaya Diri, seorang entrepreneur haruslah memiliki sifat percaya diri yang tercermin dari:

a. Yakin dan optimisme: ia harus yakin dan optimis bahwa usahanya akan maju dan berkembang untuk itu Seorang wirausaha harus mampu menyusun rencana keberhasilan perusahaannya. Mandiri: Tidak mengandalkan dan bergantung orang lain atau keluarga.

b. Kepemimpinan, dan dinamis: Seorang wirausaha harus mampu Bertanggung jawab terhadap segala aktivitas yang dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Tanggung jawab seorang pengusaha tidak hanya pada material, tetapi juga moral kepada berbagai pihak.

2. Originalitas: seorang entrepreneur haruslah memiliki sifat orginalitas yang tercermin dari:

a. Kreatif: mampu mengembangkan ide-ide baru dan menemukan cara-cara baru dalam memecahkan persoalan

b. Inovatif: mampu melakukan sesuatu yang baru yang belum dilakukan banyak orang sebagai nilai tambah keungulan bersaing.

c. Inisiatif/proaktif, mampu mengerjakan banyak hal dengan baik, dan memiliki pengetahuan. Inisiatif dan selalu proaktif. Ini merupakan ciri mendasar dimana pengusaha tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetap terlebih dahulu memulai dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan.

3. Berorientasi Manusia, terdiri dari:

a. Sifat suka bergaul dengan orang lain berarti anda harus mampu mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun tidak. Hubungan baik yang perlu dijalankan antara lain kepada para pelanggan, pemerintah pemasok, serta masyarakat luas

b. Komitmen, Komitnen pada berbagai pihak merupakan ciri yang harus dipegang teguh dan harus ditepati. Komitmen untuk melakukan sesuatu memang merupakan kewajiban untuk segera ditepati dan direalisasikan.

c. Responsive terhadap saran/kritik. Menganggap saran dan kritik adalah dasar untuk mencapai kemajuan. Saran dan kritik yang masuk di respon dengan baik untuk memperbaiki pelayanan kepada pelanggan, proses bisnis dan efesiensi perusahaan

4. Berorientasi Hasil Kerja, terdiri dari sifat:

a. Ingin berprestasi, kemauan untuk terus maju dan mengembangkan usaha. IQ dan EQ tidak cukup untuk memprediksi keberhasilan. Dibutuhkan AQ (Adversity quotient) yaitu tingkat ketahanan terhadap hambatanhambatan yang ditemuinya dalam mencapai keberhasilan. Dalam AQ ada tiga tipe pendaki puncak keberhasilan, yaitu quitter, champer, dan climber.

b. Tipe quitter adalah mereka yang langsung menyerah atau tidak mau memanfaatkan peluang. Tipe champer adalah mereka yang cepat puas dengan apa yang sudah dicapai walaupun bisa mencapai keberhasilan yang lebih tinggi kalau mereka mau. Tipe climber adalah orang yang terus mendaki tangga keberhasilan hingga mencapai puncak tertinggi meski menemui berbagai hambatan atau rintangan.

c. Ketahanan terhadap berbagai hambatan ini terdiri dari empat komponen, yaitu reach, ownership & original,control, endurance. Reach berarti seberapa jauh kemalangan/rintangan yang ditemui itu mempengaruhi hal-hal lain dalam kehidupan. Ownership & original adalah persepsi orang terhadap rintangan/hambatan. Control berarti melihat kemampuan mengontrol hambatan/rintangan dalam kehidupan. Endurance berarti sejauh mana kita melihat rintangan/hambatan senagai sesuatu yang terus terjadi atau hanya terjadi secara kebetulan, cepat berlalu dan tidak akan terjadi lagi.

d. Berorientasi keuntungan, semua cara dan usaha yang dilakukan harus mendatangkan profit, karena bisnis tidak akan bisa bertahan dan berkembang jika tidak ada profit

e. Teguh, tekun, dan kerja keras, Kerja keras. Jam kerja pengusaha tidak terbatas pada waktu, di mana ada peluang di situ ia datang. Kadang-kadang seorang pengusaha sulit untuk mengatur waktu kerjanya.

Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ideide baru selalu mendorongnya untuk bekerja keras merealisasikannya. Tidak ada kata sulit dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.

Penuh semangat, dan Penuh energi. Melakukan semua aktivitas dengan semangat untuk keberhasilan.

5. Berorientasi masa depan: terdiri dari sifat pandangan ke depan, ketajaman persepsi. Untuk itu anda harus Memiliki visi dan tujuan yang jelas. Hal ini berfungsi untuk menebak ke mana langkah dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui apa yang akan dilakukan oleh pengusaha tersebut Beorientasi pada prestasi. Pengusaha yang sukses selalu mengejar prestasi yang lebih baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu produk, pelayanan yang diberikan, serta kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama. Setiap waktu segala aktivitas usaha yang dijalankan selalu dievalusi dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.

6. Berani ambil risiko: terdiri dari sifat mampu ambil risiko, suka tantangan. Berani mengambil risiko.

Hal ini merupakan sifat yang harus dimiliki seorang pengusaha kapan pun dan di mana pun, baik dalam bentuk uang maupun waktu. Penelitian Mc Ber & Co di Amerika Serikat pada usaha kecil (dalam Zimmerer & Scarborough, 1998) menemukan sembilan ciri wirausaha yang berhasil, yang dibagi ke dalam tiga kategori, sebagai berikut:

1. bersifat proaktif, yaitu inisiatif yang tinggi dan asertif;

2. orientasi prestasi, yaitu melihat kesempatan dan bertindak langsung, orientasi efisiensi, menekankan pekerjaan dengan kualitas tinggi, perencanaan yang sistematis, monitoring;

3. komitmen dengan pihak lain,yaitu komitmen yang tinggi pada pekerjaan, dan menyadari pentingnya hubungan bisnis yang mendasar.

Sukardi(1991) membuat kesimpulan tentang sembilan sifat yang ada pada wirausaha sebagai berikut:

1. Sifat instrumental, yaitu tanggap terhadap peluang dan kesempatan berusaha maupun yang berkaitan dengan perbaikan kerja.

2. Sifat prestatif, yaitu selalu berusaha memperbaiki prestasi, mempergunakan umpan balik, menyenangi tantangan dan berupaya agar hasil kerjanya selalu lebih baik dari sebelumnya.

3. Sifat keleluasan bergaul, yaitu selalu aktif bergaul dengan siapa saja, membina kenalan-kenalan baru dan berusaha menyesuaikan diri dalam berbagai situasi.

4. Sifat kerja keras, yaitu berusaha selalu terlibat dalam situasi kerja, tidak mudah menyerah sebelum pekerjaan selesai. Tidak pernah memberi dirinya kesempatan untuk berpangku tangan, mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaan, dan memiliki tenaga untuk terlibat terus-menerus dalam kerja.

5. Sifat keyakinan diri, adalah dalam segala kegiatannya penuh optimisme bahwa usahanya akan berhasil. Dia percaya diri bergairah langsung terlibat dalam kegiatan konkret,jarang terlihat ragu-ragu.

6. Sifat pengambilan risiko yang diperhitungkan, yaitu tidak khawatir akan menghadapi situasi yang serba tidak pasti di mana usahanya belum tentu membuahkan keberhasilan.

7. Sifat swa-kendali, yaitu benar-benar menentukan apa yang harus dilakukan dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri.

8. Sifat inovatif, yaitu selalu bekerja keras mencari cara-cara baru untuk memperbaiki kinerjanya. Terbuka untuk gagasan, pandangan, penemuan-penemuan baru yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerjanya.

9. Sifat mandiri, yaitu apa yang dilakukan merupakan tanggung jawab pribadi.

B. Kepribadian Wirausaha

Menurut Miner (1996), ada empat tipe kepribadian wirausaha, yaitu (1) personal achiever, (2) supersalesperson, (3) real manager, dan (4) expert idea generation. Personal Achiever. Ciri-ciri wirausaha tipe personal achiever adalah sebagai berikut:

1. Memiliki kebutuhan berprestasi;

2. Memiliki kebutuhan akan umpan balik;

3. Memiliki kebutuhan perencanaan dan penetapan tujuan;

4. Memiliki inisiatif pribadi yang kuat;

5. Memiliki komitmen pribadi yang kuat untuk organisasi;

6. Percaya bahwa satu orang dapat memainkan peran penting;

7. Percaya bahwa pekerjaan seharusnya dituntun oleh tujuan pribadi bukan oleh hal lain. Supersalesperson. Ciri-ciri wirausaha tipe supersalesperson adalah sebagai berikut:

a. Memiliki kemampuan memahami dan mengerti orang lain;

b. Memiliki keinginan untuk membantu orang lain;

c. Percaya bahwa proses-proses sosial sangat penting;

d. Kebuhan memilik hubungan positif yang kuat dengan orang lain;

e. Percaya bahwa bagian penjualan sangat penting untuk melaksanakan strategi perusahaan.

Real managers. Ciri-ciri wirausaha tipe real managers adalah sebagaiberikut:

1. Keinginan untuk menjadi pemimpin perusahaan;

2. Ketegasan;

3. Sikap positif terhadap pemimpin;

4. Keinginan untuk bersaing;

5. Keinginan berkuasa;

6. Keinginan untuk menonjol di antara orang-orang lain.

The expert idea generator. Ciri-ciri wirausaha tipe expert idea generator adalah sebagai berikut:

1. keinginan untuk melakukan inovasi:

2. Keinginan untuk berinovasi menyebabkan expert idea generator suka menemukan gagasan baru dan melaksanakannya. Keinginan untuk berinovasi konsisten dengan usaha sendiri untuk mencapai keberhasilan dan merasakan kepuasan pribadi dengan itu.

3. menyukai gagasan-gagasan

4. Suka akan gagasanmencakup banyak unsur, seperti antusiame, memperlihatkan perhatian terhadap pendapat orang lain.

5. Percaya bahwa pengembangan produk baru sangat penting untuk menjalankan strategi dan organisasi.

6. Inteligensi yang tinggi: inteligensi mencakup kemampuan seperti penilaian dan penalaran,serta kemampuan untuk menggunakan abstraksi, konsep, dan gagasan. Juga kemampuan untuk belajar, menganalisis dan membuat sintetis.

7. Ingin menghindari risiko.

Meskipun banyak orang yang menganggap sifat suka ambil risiko sebagai esensi profesi wirausaha, banyak wirausaha yang sangat berhati-hati, dan baru melangkah kalau betul-betul sudah yakin. Bagi wirausaha tipe ini, sifat ini memang penting karena gagasan-gagasannya bisa saja sangat baru dan aneh.

Menurut Miner (1996) tipe kepribadian wirausaha dapat menentukan bidang usaha yang akan membawanya kepada keberhasilan. Berdasarkan penelitiannya, ia menemukan bahwa seorang wirausaha akan berhasil bila ia mengikuti achieving route tertentu sesuai tipe kepribadiannya.

1. Personal achiever akan sukses bila terus-menerus mengatasi rintangan dan menghadapi krisis, dan dalam menghadapi segalanya berusaha sedapat mungkin bersikap positif.

2. Supersalesperson akan berhasil kalau memanfaatkan banyak waktunya untuk menjual dan minta mengelola bisnisnya.

3. Real managers akan berhasil kalau ia memulai usaha baru dan mengelola sendiri usaha tersebut.

4. Expert idea generation akan berhasil kalau terjun ke bisnis teknologi tinggi.

C.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Usaha

a. Motivasi:

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Center for Entrepreneurial Research (dalam Zimmerer & Scarborough; 1998) menemukan 69% siswa menengah atas ingin mulai menjalankan usaha mereka sendiri. Motivasi utamanya adalah be their own bosses.

b. Usia:

Menurut National Federation of Independent Businesess, Washington,usia saat seseorang memulai usaha sendiri adalah sebagai berikut (dalam Zimmerer & Scarborough, 1998). Usia Kronologis bervariasi. Ronstandt (dalam Staw1991) menyatakan bahwa kebanyakan wirausaha memulai usahanya antara usia 25-30 tahun. Sementara Staw (1991), mengungkapkan bahwa umumnya pria memulai usaha sendiri ketika berumur 30 tahun dan wanita pada usia 35 tahun. Hurlock (1991)berpendapat bahwa perkembangan karier berjalan seiring dengan perkembangan manusia. Setiap kelompok manusia memiliki cirri-ciri khas bila dikaitkan dengan perkembangan karier. Ciri khas perkembangan karier menurut Hurlock adalah sebagai berikut:

1. Usia dewasa awal (18 tahun sampai 40 tahun), masa dewasa awal sangat terkait dengan tugas perkembangan dalam hal membentuk keluarga dan pekerjaan. Ketika seseorang masuk dalam masa dewasa awal yang memiliki tugas pokok yaitu memilih bidang pekerjaan yang cocok dalam bakat, minat dan factor psikologis yang dimilikinya. Masih banyak orang dewasa muda yang bingung dengan pilihan kariernya, situasi seperti ini bisa juga terjadi dalam wirausaha. Hurlock (1991) menyebut masa dewasa awal itu coba-coba untuk berkarier. Itulah sebabnya usia bisa berpengaruh pada tinggi rendahnya prestasi kerja mereka.

2. Usia dewasa madya (usia 40 tahun sampai 60 tahun), masa dewasa madya bercirikan keberhasilan dalam pekerjaan. Prestasi puncak padausia ini juga bisa berlaku bagi wirausaha.

3. Usia dewasa akhir (usia di atas 60 tahun), pada masa ini orang mulai mengurangi kegiatan kariernya atau berhenti sama sekali.Mereka tinggal menikmati jerih payahnya selama bekerja dan mencurahkan perhatian pada kehidupan spiritual dan sosial.

Pendapat Hurlock senada dengan pendapat Staw (1991) bahwa usiabisa terkait dengan keberhasilan. Bedanya,Hurlock menekankan padankemantapan karier, sedangkan Staw (1991) menekankan bertambahnya pengalaman. Menurut Staw (1991), usia bisa terkait dengan keberhasilan bila dihubungkan dengan lamanya seseorang menjadi wirausaha. Dengan bertambahnya pengalaman ketika usia seseorang bertambah maka usia memang terkait dengan keberhasilan.

c. Pengalaman:

Staw (1991) berpendapat bahwa pengalaman dalam menjalankan usaha merupakan predictor terbaik bagi keberhasilan, terutama bila bisnis baru itu berkaitan dengan pengalaman bisnis sebelumya. Menurut Hisrich & Brush (dalam Staw, 1991) wirausaha yang memiliki usaha maju saat ini bukanlah usaha pertama kali yang dimiliki. Pengalaman mengelola usaha bisa diperoleh sejak kecil karena pengasuhan yang diberikan oleh orang tua yang berprofesi sebagai wirausaha. Dan hasilnya disajikan dalam tabel berikut:

Pekerjaan Orang Tua Wirausaha

Brockhaus (1982) mencatat empat studi menyatakan bahwa wirausaha cenderung memiliki ayah wirausaha.

Cooper & Dunkelberg (1984) mencatat bahwa 47.5% dari 1394 wirausaha mempunyai orang tua yang memiliki bisnis sendiri.

Jacobowitz & Vidler (1983) menemukan bahwa 72% wirausaha Negara Atlantik memiliki orang tua atau saudara wirausaha.

Shapero & Sokol (1982) mencatat bahwa 50% sampai 58% pendiri perusahaan di Amerika Serikat memiliki ayah wirausaha.

Brockhaus & Nord (1979) menemukan bahwa 31 wirausaha wanita dan pria St Louis memiliki ayah wirausaha.

Menurut Staw (1991) ada bukti kuat bahwa wirausaha memiliki orang tua yang bekerja mandiri atau berbasis sebagai wirausaha. Menurut Duchesneau et al.(dalam Staw 1991),wirausaha yang berhasil adalah mereka yang dibesarkan oleh orang tua yang juga wirausaha, karena mereka memiliki pengalaman luas dalam usaha. Haswell et al.(dalam Zimmerer & Scarborough, 1998) menyatakan bahwa alasan utama kegagalan usaha adalah kurangnya kemampuan manajerial dan pengalaman.Wood (dalam Zimmerer & Scarborough, 1998) juga menyatakan bahwa kurangnya pengalaman adalah salah satu penyebab kegagalan usaha. Dari pendapat dan penemuan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pengalaman dalam mengelola usaha memberi pengaruh pada keberhasilan usaha skala kecil. Dengan demikian, tingkat keterlibatan seseorang dalam suatu kegiatan usaha bisa menjadi tolak ukur pengalam dalam berusaha.

d. Pendidikan:

Pendidikan merupakan syarat keberhasilan bagi seorang wirausaha. Dalam penelitiannya terhadap sejumlah wirausaha, Bowen & Robert (dalam Staw, 1991) merangkum hasil penelitian tentang tingkat pendidikan wirausaha,dan hasilnya table di bawah ini.

Tingkat Pendidikan Wirausaha Menurut Bowen & Robert

Peneliti

Penemuan

Brockhaus (1982)

Mengulas empat penelitian yang menyimpulkan bahwa wirausaha cenderung memiliki pendidikan yang lebih baik dari populasi umum, tetapi di bawah para manajer.

Cooper&Dunkelberg(1984)

Ditemukan bahwa tingkat pendidikan wirausaha di bawah universitas (64%).

Gasse (1982)

Mencatat dari empat studi di mana wirausaha

memiliki pendidikan yang lebih baik daripada masyarakat umum.

Jacobowitz & Vidler(1982)

Hasil wawancara dengan 430 wirausaha menunjukkan bahwa mereka memiliki pendidikan yang kurang memadai, yaitu 30%

drop-out dari Sekolah Menengah Atas. Hanya 11% lulus dari universitas 4 tahun.

Berdasarkan hasil rangkuman di atas ,dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan rata-rata wirausaha adalah pendidikan menengah atas. Menurut penelitian Kim (dalam Meng & Liang,1996)pada para wirausaha di Singapura, bahwa wirausaha yang berhasil memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik daripada wirausaha yang kurang berhasil. Berdasarkan pendapat para ahli di atas,dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan salah satu factor yang menunjang keberhasilan usaha skala kecil,dengan asumsi bahwa pendidikan yang lebih baik akan memberikan pengetahuan yang lebih baik dalammengelola usaha.

Zimmerer (1996) dalam Suryana (2001) menyatakan bahwa kegagalan wirausahawan dalam mengelola bisnisnya dapat disebabkan hal-hal sebagai berikut.

1. Tidak kompeten dalam manajerial, yaitu dicirikan dengan rendahnya kemampuan serta kinerja di dalam pengelolaan usahanya.

2. Kurang memiliki pengalaman dalam berbagai segi, misalnya dalam kemampuan teknik, kemampuan memvisualisasikan usaha, kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mensinergikan operasionalisasi perusahaan.

3. Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berjalan dengan baik maka aspek keuangan harus betul-betul diperhatikan, misalnya menjaga likuiditas perusahaan melalui pengendalian arus kas. Mengendalikan setiap pengeluaran biaya dan penerimaan baik dari pinjaman maupun dari hasil penjualan produk.

4. Adanya kegagalan dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, apabila suatu rencana gagal maka akan berdampak terhadap terhambatnya operasi perusahaan.

5. Lokasi kurang memadai. Lokasi usaha merupakan faktor yang strategis, apabila salah dalam memilih lokasi maka berakibat terhadap terhambatnya operasi perusahaan.

6. Kurangnya pengawasan peralatan. Pengawasan erat kaitannya dengan efisiensi dan efektivitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan tidak efektif.

7. Sikap kurang sungguh-sungguh dalam berusaha. Sikap yang setengahsetengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dijalankan menjadi labil dan dapat mengakibatkan kegagalan fatal.

8. Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan. Wirausahawan yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, cepat atau lambat akan tergusur oleh zaman dan mengalami kemunduran bahkan kebangkrutan usaha. Keberhasilan usaha hanya dapat diperoleh apabila wirausahawan memiliki keberanian mengadakan perubahan dan adaptif terhadap peralihan waktu.

Selain faktor-faktor yang membuat kegagalan wirausahawan, Zimmerer (1996) dalam Suryana (2001) mengemukakan beberapa potensi yang membuat seseorang mundur dari kewirausahaan, yang disebabkan berikut ini.

1. Pendapatan yang Tidak Menentu

Baik pada tahap awal maupun tahap pertumbuhan, dalam bisnis tidak ada jaminan untuk terus memperoleh pendapatan yang berkesinambungan.Dalam kewirausahaan, sewaktu-waktu dapat mengalami kerugian dankeuntungan. Tingkat ketidakpastian dalam bisnis berpotensi mundurnya seseorang dari kewirausahaan.

2. Kerugian Akibat Hilangnya Modal Investasi

Tingkat kegagalan bagi usaha baru sangatlah tinggi. Tingkat kegagalan/mortalitas usaha kecil di Indonesia mencapai 78% (Wirasasmita, 1998 dalam Suryana, 2001). Kegagalan investasi dapat mengakibatkan seseorang mundur dari dunia kewirausahaan. Padahal, bagi wirausahawan, kegagalan sebaiknya dijadikan pelajaran berharga.

3. Berwirausaha Memerlukan Kerja Keras dan Waktu yang Lama

Wirausahawan biasanya bekerja sendiri dari mulai pembelian, pengolahan, penjualan, dan pembukuan. Apabila tidak dibarengi dengan kesabaran dan ketabahan dalam menggeluti berbagai masalah dan tantangan dapat berpeluang mundurnya seseorang dari kewirausahaan. Bagi wirausahawan yang berhasil pada umumnya menjadikan tantangan sebagai peluang yang harus dihadapi dan ditekuni.

4. Kualitas Kehidupan yang Tetap Rendah meskipun Usahanya Mantap

Kualitas kehidupan yang tidak segera meningkat dalam usaha, akan mengakibatkan seseorang menjadi putus asa dan mungkin mundur dari kewirausahaan. Wirausahawan sejati tentunya tidak akan mudah pasrah, justru keadaan yang dihadapi mendorongnya untuk terus mengadakan perbaikan-perbaikan dan memacu untuk maju terus pantang mundur

Perkembangan ilmu pengetahuan, sosial, ekonomi, politik, budaya, teknologi dan kesejahteraan telah menciptakan kesenjangan (gap) yang menyebabkan perubahan status sosial, perilaku, gaya hidup, kebutuhan, keinginan, selera dan sebagainya. Hal ini membangkitkan inspirasi bisnis yang pada akhirnya memunculkan banyak peluang usaha. Munculnya peluang bisnis yang baru akan menstimulus munculnya banyak enterpreuner muda. Menurut Hendro dan Chandra (2006) beberapa faktor yang menjadi stimulus spirit enterpreunership antara lain adalah:

1. Evolusi produk

2. Evolusi ilmu pengetahuan

3. Perubahan gaya hidup, selera, dan hobi

4. Perubahan teknologi

5. Perubahan budaya

6. Perubahan struktur pemerintahan dan politik

7. Intrapreneruship (kapabilitas usaha internal perusahaan yang disebabkan oleh inovasi, daya saing, perubahan organisasi dsb yang pada gilirannya akan memotivasi pengembangan spirit enterpreunership orang per orang).

Selanjutnya Hendro dan Chandra (2006) menjelaskan bahwa untuk memulai suatu bisnis seorang enterpreneur harus memiliki kunci enterpreneruship yang terdiri dari empat bagian pokok sebagai berikut:

1. Bagian pemutar (pengungkit) leverage key yaitu:

a. Great decision

b. Lingkaran dan peluang emas (golden opportunity):

1. enterpreneur, bisnis dan pasar benang merah bisnis Anda

2. segitiga kreativitas teori kesempurnaan, inspirasi dan intuisi

3. peluang

4. riset dan trial

c. Bagian batang kunci the body of key. Bagian ini adalah bagian yang sangat penting untuk mewujudkan sebuah bisnis yang solid setelah Anda mulai berbisnis. The body of key terdiri dari:

a. bagian sambungan (translation):

1. membentuk keterampilan kelompok bisnis

2. strategi memasuki pasar

3. penetapan sistem bisnis

b. bagian batang (transitional):

1. konsep kualitas

2. 8S : kunci sukses adalah keterampilan manajerial yang baik

3. Aspek finansial: cash flow dan strategi investasi

d. Bagian anak kunci (the primary key) terdiri dari:

1. marketing concept

2. how to promote your business

3. seliing skill is an embryo of enterpreneurial skill

Konsep The Key of Enterpreunership dapat dicermati pada gambar 2 berikut ini:

Gambar 2. The Key of Enterpreunership

Dikutip dari : Hendro dan Candra,2006, Be a Smart and Good Enterpreneur, CLA Publishing, Bekasi

Di Jawa Timur, Bakpao Telo produksi SPAT (Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu) yang unit produksinya berlokasi di Jl Raya Simping No 1 Purwodadi telah sangat terkenal. Sukses Bakpao Telo tak terlepas dari kisah seorang enterpreneur agribisnis alumnus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya yaitu Ir. Unggul Abinowo. Didirikan pada tahun 1984, SPAT merupakan implementasi konsep agribisnis sebagai suatu sistem. Maskot SPAT yaitu bakpao telo, adalah sebuah contoh evolusi produk. Telo yang pada awalnya identik dengan citra bahan pangan inferior, di tangan seorang Unggul Abinowo berubah menjadi produk bergengsi, yang selain unik, memiliki banyak keunggulan lainnya sebab diolah dari bahan baku alami yang kaya antioksidan. Ide kreatif yang melahirkan bakpao telo tentu tak dimungkinkan tanpa evolusi ilmu pengetahuan penggagasnya yang sejak masa kuliah telah menjajal berbagai peluang bisnis.

Selain bakpao telo SPAT juga mendiversifikasikan produk olahan ubi jalar ungu lain antara lain mie, tepung telo, ice cream, juice, pizza dan sebagainya. Seluruh bahan baku produk-produk ini dipasok dari kebun inti seluas 8 hektar yang dikelola oleh SPAT. Bila pasokan bahan baku kurang, SPAT membeli dari petani mitra dengan menetapkan standar kualitas produk. Ubi jalar yang digunakan sebagai bahan baku produksi bakpao telo adalah ubi jalar organik. Penggunaan bahan baku organik dilakukan sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan gaya hidup dan budaya hidup sehat yang saat ini telah menjadi trend. Dengan menetapkan standar food safety yang tinggi, produk SPAT telah dipersiapkan untuk dapat menembus pasar global.

Jumlah produk yang dihasilkan SPAT yaitu 50.000 bakpao/bulan, 40.000 bungkus mie/bulan, 5000 cup ice cream/bulan. Selama proses produksi SPAT mengantisipasi over stock, karena produk dibuat dalam bentuk sistem rolling. Selain itu produk diproduksi berdasarkan estimasi permintaan konsumen. Karena berorientasi pada produk berbasis permintaan, maka dalam manajemen pemasarannya SPAT melakukan evaluasi pasokan, produksi dan stok setiap saat.

SPAT Bakpao Telo terdiri dari enam divisi yang saling terkait dan mendukung. Divisi-divisi tersebut memiliki program-program yang bertujuan sebagai sarana pemberdayaan masyarakat pertanian dengan meningkatkan kemampuan, ketrampilan dan kemandirian dalam mengelola potensi SDA dan SDM di lingkungannya.

Divisi-divisi tersebut antara lain:

1. Center of data and information.

2. The center of education and training.

3. The center of study and village development strategies

4. The center of adapted technology development

5. Investment and micro credit

6. Agribussines terminal

Gambar 3. Produk Pangan Olahan Berbasis Telo Ungu SPAT

Foto: Dokumentasi Studi Lapang Program Studi Agribisnis (2004)

Dengan visi : To Create an integrated Farming Model which is efficient, strong, modern, on going and people-friendly, SPAT berupaya mewujudkan model pertanian terpadu yang efisien, tangguh, modern, berkelanjutan dan berdimensi kerakyatan. SPAT juga memiliki target sebagai berikut :

1. To produce agribusiness products which are competitive in the marketplace (menghasilkan produk agribisnis yang mempunyai daya saing).

2. To work for welfare of the farmers (mensejahterakan kehidupan petani)

3. To develop the small and medium enterprises (mengembangkan usaha kecil dan menengah)

4. To impart training to make competent farmers (melatih dan mencetak petani yang handal)

5. To rebuild the image of local products (membangun image produk lokal)

6. Sukses bisnis SPAT sebagaimana diilustrasikan di atas merupakan salah satu contoh kasus bagaimana enterpreneurship landscape, yang dipetakan pada sistem agribisnis dapat dikembangkan menjadi sebuah industri.

REFERENSI

Drucker, Peter F.1996. Inovasi dan Kewirausahaan. Erlangga. Jakarta

Danuhadimedjo, R. Djatmiko.1998.Kewiraswastaan dan Pembangunan. Alfabeta. Bandung

GeoffreyG,.Meredith, et all.2000. Kewirausahaan. Teori dan Praktek. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta

Hendro dan Candra,2006, Be a Smart and Good Enterpreneur, CLA Publishing, Bekasi

Hakim, rusman. 1998. Dengan Wirausaha Menepis Krisis (Konsep Membangun Masyarakat Intrepreneur Indonesia). PT Elex media Komputindo Gramedia.Jakarta.

Hisrich, Robert.D., Peter M.P. 1995. Entrepreneurship. Irwin Chichago.

Soemanto, Wasty.1984. Pendidikan Wirausaha (Sekuncup Ide Profesional). Bina aksara. Malang

PROPAGASI

Tugas Pembelajaran

1. Bagaimana penerapan Konsep The Key of Enterpreunership dalam pengembangan usaha anda?

2. Carilah sebuah artikel tentang kisah sukses entrepreneur dalam bidang agribisnis dan non agribisnis.Bahas beberapa hal yang berkaitan dengan enterpreneur yang smart and good

a. Strategic thinker and strong emotional attachment

b. Motivator yang handal bagi diri sendiri atau tim dan self leader

c. Ambisius karena high achiever (tidak mengenal kata puas)

d. Risk manager, not just a risk taker

e. Totalitas dalam bekerja dan target oriented (penuh komitmen dan konsisten terhadap pekerjaan)

Tujuan Tugas :

1. Mahasiswa mempunyai mindset entrepreneur yang smart and good

2. Mahasiswa mampu memotivasi jiwa wirausaha

3. Menjelaskan faktor-faktor penyebab kegagalan personal wirausaha

4. Menjelaskan faktor-faktor penentu kesuksesan personal wirausaha

Uraian Tugas:

1. Obyek garapan:

a. Bentuk kelompok kecil dengan anggota 5 orang per kelompok

b. Searching artikel, makalah atau mengunjungi Bentuk kelompok yang terdiri dari 3-5 mhs/kelompok, tentukan organisasi kelompok

c. Identifikasi Lokal Entrepreneur berbasis Agribisnis yang sukses (1 Agribisnis Hulu, 1 Hilir)

d. Lakukan kontak dengan entrepreneur yang bersangkutan untuk perkenannya belajar dan melihat kegiatan

e. Persiapkan peralatan tulis dan dokumentasi untuk merecord keberhasilannya

2. Batasan tugas:

Lakukan kunjungan untuk mengetahui:

1. aspek enterpreunerial landscape dan proses enterpreunership- nya.

2. Motivasinya menjadi entrepreneur, Mengapa berbasis agribisnis,

3. Awal usaha dimulai sampai dengan berhasil,

4. Informasi lain yang menurut saudara penting

5. Melakukan Observasi:

a. Pengetahuan & Riset

b. Pengalaman

c. Intangible factors

d. Laporan & Diskusi/Presentasi di Kelas

3. Metodologi dan acuan tugas:

a. Bentuk kelompok kecil dengan anggota lima orang per kelompok. Segera lengkapi kelengkapan organisasi kelompok (ketua, sekretaris, bendahara) dan job description masing-masing anggota dua orang anggota bertugas sebagai bagian lapang.

b. Baca modul, dan rujukan pustaka yang dianjurkan yaitu:

Hendro dan Candra, 2006, Be a Smart and Good Enterpreneur, CLA Publishing, Bekasi

Austin, J.A., 1992, Agroindustrial Project Analysis, The Johns Hopkins University Press, Baltimore dan London

Zubir, Z., 2006,Kelayakan Studi Usaha, Lembaga Penerbitan FE UI, Jakarta

Badan Agribisnis, 1997, Rumusan Pemikiran Pembangunan Pertanian Masa Depan, Departemen Pertanian RI.

c. Kelompok kecil mencari 2 perusahaan yang telah menekuni bisnis yang sama dengan jenis agribisnis yang akan dikembangkan sebagai rujukan. Selanjutnya kelompok harus mengidentifikasi profil kedua perusahaan tersebut serta menyusun analisis komparatif terkait kelebihan dan kekurangan dari aspek enterpreunerial landscape dan proses enterpreunership- nya.

d. Seluruh mahasiswa harus menyusun kontrak belajar, yang ditandatangani oleh asisten/ dosen tutor. Konsultasi dilaksanakan secara terjadual. Jadual disepakati dan diatur lebih lanjut oleh asisten.

e. Sebagai kelengkapan administrasi kelompok harus membeli satu ordner dan pervorator untuk mengarsipkan file dan dokumen proses belajar mengajar selama satu semester. Untuk kerapian, seluruh print out tugas dicetak pada kertas kerja berukuran folio. Sedangkan untuk tugas-tugas yang harus ditulis tangan dikerjakan pada kertas folio bergaris.

3. Keluaran tugas:

a. Dokumen profil unit agribisnis yang telah ditetapkan kelompok sebagai dengan menganalisis aspek enterpreunerial landscape dan proses enterpreunership- nya serta faktor kegagalan dan kesuksesan menjadi seorang entrepreneur.dengan menyertakan analisis komparatif yang telah dilakukan kelompok atas dua perusahaan rujukan yang sejenis

b. Dokumen profil unit agribisnis yang telah ditetapkan kelompok sebagai dengan menganalisis aspek motivasi enterpreunership- nya dengan menyertakan analisis komparatif yang telah dilakukan kelompok atas dua perusahaan rujukan yang sejenis

c. Seluruh dokumen keluaran proses pembelajaran diketik dan diprint pada kertas folio 70 mgr. Pengetikan menggunakan font Arial 11, spasi 1 dan margin kiri, kanan, atas dan bawah masing-masing 3, dan 2,5. Dokumen tidak dijilid, tetapi diperforasi dan dihimpun dalam ordner kelompok.

d. Dokumen assesment pribadi berupa tulisan reflektif dikerjakan pada kertas folio bergaris dengan margin lipat kiri sebesar 3 cm.

Kriteria Penilaian:

1. Timbulnya minat untuk mengeksplorasi ide kreatif usaha assesment dilakukan dari tulisan reflektif perorangan yang ditulis tangan sepanjang 1 halaman folio

2. Menyadari bahwa setiap bisnis mengandung resiko assesment dilakukan berdasarkan dokumen profil unit agribisnis dan analisis komparatif yang dilakukan atas dua perusahaan rujukan sejenis

3. Kejelasan dan kelengkapan penguasaan konsep konsep pohon industri berbasis komoditas

4. Tersusunnya gagasan awal rancangan unit agribisnis orisinalitas, kelengkapan, kejelasan dan organisasi data.

5. Kemampuan mengomunikasikan gagasan kreatif dan kerja sama tim assesment dilakukan oleh asisten selama berlangsungnya proses diskusi dan praktikum dalam kelas

Page 15 of 15