Top Banner

Click here to load reader

Tugas Pak Yogi 2

Oct 30, 2014

ReportDownload

Documents

yaya-cubby

Tingkat Kesehatan Bank Dilihat dari sisi Capital (Permodalan)

Disusun Oleh : Kelompok 01 Alfian Zulfa Azizi Eva Betawati Ryan Prabowo Deky Prasetyawan Mutiara Reza F3610006 F3610046

Diploma III Keuangan dan Perbankan Fakultas Ekonomi

Universitas Sebelas Maret Surakarta 2013

KATA PENGANTAR

Assalamualiakum Wr,Wb Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan kasih dan rahmatNya, sehingga makalah sebagai tugas mata kuliah praktek indicator tingkat kesehatan bank dapat kami selesaikan. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberikan informasi kepada para pembaca sehingga dapat memperoleh tambahan pengetahuan terkait dengan tingkat kesehatan Bank dari sisi capital. Dalam proses penyusunan laporan ini, kami banyak memperoleh banyak sekali petunjuk, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karenanya dengan segala kerendahan hati kami mengucapkan terimakasih kepada: 1. Bapak Yogi Pasca Pratama SE, MSE selaku pembimbing mata kuliah praktek indicator kesehatan bank. 2. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu dan memberikan dorongan serta bantuan atas selesainya laporan ini. Kami menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan ,sehingga kritik dan dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan, atas kritik dan saran yang telah diberikan kami sampaikan terima kasih.

Wassalamualaikum Wr,Wb

Surakarta, 2 Januari 2013

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................................... 3 BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................... 4

A. INSTITUSI PERBANKAN DI INDONESIA ........................................................... 4 BAB II DASAR HUKUM DAN PERATURAN ............................................................. 5 BAB III STUDI KASUS .................................................................................................. 12 BAB III PENUTUP ...................................................................................................... 27

A. KESIMPULAN ............................................................................................................ 27 B. DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 27

BAB I PENDAHULUAN

1. INSTITUSI PERBANKAN DI INDONESIA Perbankan Indonesia dalam menjalankan fungsinya berasaskan prinsip kehati-hatian. Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Berdasarkan undang-undang, struktur perbankan di Indonesia, terdiri atas bank umum dan BPR. Perbedaan utama bank umum dan BPR adalah dalam hal kegiatan operasionalnya. BPR tidak dapat menciptakan uang giral, dan memiliki jangkauan dan kegiatan operasional yang terbatas. Selanjutnya, dalam kegiatan usahanya dianut dual bank system, yaitu bank umum dapat melaksanakan kegiatan usaha bank konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah. Sementara prinsip kegiatan BPR dibatasi pada hanya dapat melakukan kegiatan usaha bank konvensional atau berdasarkan prinsip syariah

Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP berlaku sejak 31 mei 2004 yang sesuai dengan peraturan Bank Indonesia No.6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4382) Bank wajib melakukan Penilaian Tingkat Kesehatan Bank secara triwulanan. Sehubungan dengan hal tersebut faktor-faktor penilaian tingkat kesehatan Bank mencakup penilaian terhadap faktorfaktor CAMEL yang terdiri dari Capital, Asset Quality, management, Earnings, dan Liquidity

2. PENTINGNYA STABILITAS SISTEM KEUANGAN Sistem keuangan memegang peranan yang sangat penting dalam perekonomian. Sebagai bagian dari sistem perekonomian, sistem keuangan berfungsi mengalokasikan dana dari pihak yang mengalami surplus kepada yang mengalami defisit. Apabila sistem keuangan tidak stabil dan tidak berfungsi secara efisien, pengalokasian dana tidak akan berjalan dengan baik sehingga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Pengalaman menunjukkan, sistem keuangan yang tidak stabil, terlebih lagi jika mengakibatkan terjadinya krisis, memerlukan biaya yang sangat tinggi untuk upaya penyelamatannya. Pelajaran berharga pernah dialami Indonesia ketika terjadi krisis keuangan tahun 1998, dimana pada waktu itu biaya krisis sangat signifikan. Selain itu, diperlukan waktu yang lama untuk membangkitkan kembali kepercayaan publik terhadap sistem keuangan. Krisis tahun 1998 ini membuktikan bahwa stabilitas sistem keuangan merupakan aspek yang sangat penting dalam membentuk dan menjaga perekonomian yang berkelanjutan. Sistem keuangan yang tidak stabil cenderung rentan terhadap berbagai gejolak sehingga mengganggu perputaran roda perekonomian. Maka dari itu penilaian tingkat kesehatan bank perlu untuk diterapkan 2.1. Tingkat Kesehatan Bank Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP berlaku sejak 31 Mei 2004 yang sesuai dengan peraturan Bank Indonesia No.6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara

Nomor 4382) Bank wajib melakukan Penilaian Tingkat Kesehatan Bank secara triwulanan. Dasar Hukum Penilaian Tingkat Kesehatan Bank antara lain : Pasal 29 UU Nomor 10 Tahun 1998 a) Pembinaan dan pengawasan bank dilakukan oleh Bank Indonesia b) Bank Indonesia menetapkan ketetuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek permodalan, kualitas dan asset, aspek kualitas lain yang

manajemen,rentabilitas,likuiditas,solvabilitas

berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian. Pasal 30 UU Nomor 10 Tahun 1998 a) Bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia,segala

keterangan,dan penjelasan mengenai usahannya menurut tatacara yang ditetepkan oleh Bank Indonesia b) Bank atas permintaan Bank Indonesia,wajib memberikan kesempatan bagi pemeriksaan buku-buku dan berkas-berkas yang ada padanya,serta wajib memberikan bantuan yang diperlukan dalam rangka memperoleh kebenaran dari segala keterangan,dokumen dan penjelasan yang dilaporkan oleh bank yang bersangkutan. c) Keterangan tetang bank yang diperoleh berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) tidak diumumkan dan bersifat rahasia. Pasal 31 UU Nomor 10 Tahun 1998 a) BI melakukan pemeriksaan terhadap bank,baik secara berkala maupun setiap waktu apabila diperlukan

Pasal 8 undang-undang No.3 tahun 2004, tentang Bank Indonesia a) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter. b) Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. c) Mengatur dan mengawasi bank

Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatf factor permodalan antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut:

Kecukupan Pemenuhan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum yaitu modal dibagi dengan aktiva tertimbang menurut resiko dikali 100%

Komposisi permodalan Trend ke depan a) Angka pertumbuhan permodalan dan ATMR serta rasio KPMM diperoleh dari hasil stress test rencana bisnis bank b) Trenk KPMM dinilai selama 2-3 tahun ke depan c) Modal adalah modal sesuain dengan ketentuan KPMM yang berlaku d) Presentase pertumbuhan modal e) Presentase pertumbuhan ATMR f) Analisis dilakukan terhadap fgure/grafik dari pertumbuhan modal, pertumbuhan ATMR

Aktiva produktif yang diklasifikasikan dibandingkan dengan modal bank Formula

Kemampuan bank memelihara kebutuhan penambahan modal yang bersal dari keuntungan

Rencana permodalan bank untuk mendukung pertumbuhan usaha Aksese kepada sumber permodalan Kinerja keuangan keuangan pemegang saham untuk meningkatkan permodalan bank antara lain a) Kondisi keuangan pemegang saham Analisis dilakukan dengan solvabilitas, likuiditas, profitabilitas, dan cash flow pemegang saham b) Peringakat perusahaan pemegang saham

Melalui lambaga pemeringkat seperti Pefindo, Standart ,Poors, moodys dan fitch c) Core business pemegang saham Analisis dilakukan terhadap jenis/sector/industry dan posisi perusahan pemegang saham di industry sejenis d) Track record pemegang saham Track record PS dalam memenuhi komitmen kepada Bank Indonesia dalam penambhaan modal.

BAB II STUDY KASUS PADA BANK MANDIRI A. Latar belakang Bank MandiriTransformasi Bank Mandiri Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank pemerintah -- yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia -- dilebur menjadi Bank Mandiri, dimana masing-masing bank tersebut memiliki peran yang tak terpisahkan dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Sampai dengan hari ini, Bank Mandiri meneruskan tradisi selama lebih dari 140 tahun memberikan kontribusi dalam dunia perbankan dan perekonomian Indonesia. Konsolidasi dan integrasi Segera setelah merger, Bank Mandiri melaksanakan proses konsolidasi secara menyeluruh. Pada saat itu, kami menutup 194 kantor cabang yang saling berdekatan dan rasionalisasi jumlah karyawan dari jumlah gabungan 26.600 menjadi 17.620. Brand Bank Mandiri diimplementasikan ke semua jaringan dan seluruh kegiatan periklanan dan promosi lainnya. Salah satu prestasi Bank Mandiri yang paling signifikan adalah dengan mengganti platform teknologinya secara menyeluruh. Bank Mandiri mewarisi total 9 core banking system yang berbeda dari