Top Banner
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG REFERAT “DISLOKASI PATELLA” Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian IlmuPenyakit Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang Diajukan Kepada : Pembimbing :Dr. Suhardiyono Sp.B Disusun Oleh : Kunthi Rahmawati H2A010029 Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Penyakit Bedah 1
34

Referat Dislokasi Patella

Feb 03, 2016

Download

Documents

Dislokasi patella
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
Page 1: Referat Dislokasi Patella

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

REFERAT

“DISLOKASI PATELLA”

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik

di Bagian IlmuPenyakit Bedah

Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang

Diajukan Kepada :

Pembimbing :Dr. Suhardiyono Sp.B

Disusun Oleh :

Kunthi Rahmawati H2A010029

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Penyakit Bedah

FAKULTAS KEDOKTERAN – UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang

1

Page 2: Referat Dislokasi Patella

LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN

ILMU PENYAKIT BEDAH

Presentasi referat dengan judul :

Dislokasi Patella

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik

di Bagian Ilmu Penyakit Bedah

Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang

Disusun Oleh:

Kunthi Rahmawati H2A010029

Telah disetujui oleh Pembimbing:

Nama pembimbing Tanda Tangan

Dr. Suhardiyono Sp.B ...........................

2

Page 3: Referat Dislokasi Patella

PENDAHULUAN

Persendian atau artikulasio adalah suatu hubungan antara dua buah tulang atau

lebih yang dihubungkan melalui pembungkus jaringan ikat pada bagian luar dan pada

bagian dalam terdapat rongga sendi dengan permukaan tulang yang dilapisi oleh

tulang rawan. Fungsi dari sendi secara umum adalah untuk melakukan gerakan pada

tubuh.

Sendi lutut merupakan bagian dari extremitas inferior yang menghubungkan

tungkai atas (paha) dengan tungkai bawah. Fungsi dari sendi lutut ini adalah untuk

mengatur pergerakan dari kaki. Dan untuk menggerakkan kaki ini juga diperlukan

antara lain :

- Otot- otot yang membantu menggerakkan sendi

- Capsul sendi yang berfungsi untuk melindungi bagian tulang yang bersendi

supaya jangan lepas bila bergerak

- Adanya permukaan tulang yang dengan bentuk tertentu yang mengatur luasnya

gerakan.

- Adanya cairan dalam rongga sendi yang berfungsi untuk mengurangi gesekan

antara tulang pada permukaan sendi.

- Ligamentum-ligamentum yang ada di sekitar sendi lutut yang merupakan

penghubung kedua buah tulang yang bersendi sehingga tulang menjadi kuat

untuk melakukan gerakan-gerakan tubuh.

Sendi lutut ini termasuk dalam jenis sendi engsel , yaitu pergerakan dua condylus

femoris diatas condylus tibiae. Gerakan yang dapat dilakukan oleh sendi ini yaitu

gerakan fleksi , ekstensi dan sedikit rotatio. Jika terjadi gerakan yang melebihi

kapasitas sendi maka akan dapat menimbulkan cedera yang antara lain terjadi

robekan pada capsul dan ligamentum di sekitar sendi.

3

Page 4: Referat Dislokasi Patella

TINJAUAN PUSTAKA

JENIS SENDI PADA LUTUT

Persendian pada sendi lutut termasuk dalam jenis sendi synovial (synovial joint ),

yaitu sendi yang mempunyai cairan sinovial yang berfungsi untuk membantu

pergerakan antara dua buah tulang yang bersendi agar lebih leluasa. Secara anatomis

persendian ini lebih kompleks daripada jenis sendi fibrous dan sendi cartilaginosa.

Permukaan tulang yang bersendi pada synovial joint ini ditutupi oleh lapisan hyaline

cartilage yang tipis yang disebut articular cartilage , yang merupakan bantalan pada

persambungan tulang. Pada daerah ini terdapat rongga yang dikelilingi oleh kapsul

sendi. Dalam hal ini kapsul sendi merupakan pengikat kedua tulang yang bersendi

agar tulang tetap berada pada tempatnya pada waktu terjadi gerakan.

Kapsul sendi ini terdiri dari 2 lapisan :

1. Lapisan luar

Disebut juga fibrous capsul , terdiri dari jaringan connective yang kuat yang tidak

teratur

Dan akan berlanjut menjadi lapisan fibrous dari periosteum yang menutupi

bagian tulang. Dan sebagian lagi akan menebal dan membentuk ligamentum.

2. Lapisan dalam

Disebut juga synovial membran, bagian dalam membatasi cavum sendi dan

bagian luar merupakan bagian dari articular cartilage.. Membran ini tipis dan

terdiri dari kumpulan jaringan connective. Membran ini menghasilkan cairan

synovial yang terdiri dari serum darah dan cairan sekresi dari sel synovial.

Cairan synovial ini merupakan campuran yang kompleks dari polisakarida

protein , lemak dan sel sel lainnya. Polisakarida ini mengandung hyaluronic

acid yang merupakan penentu kualitas dari cairan synovial dan berfungsi

sebagai pelumas dari permukaan sendi sehingga sendi mudah digerakkan

4

Page 5: Referat Dislokasi Patella

Ada 2 condylus yang menutupi bagian ujung bawah sendi pada femur dan 2

tibial condylus yang menutupi meniscus untuk stabilitas artikulasi femorotibial.

Patella yang merupakan jenis tulang sesamoid terletak pada segmen inferior dari

tendon quadriceps femoris, bersendi dengan femur, dimana patella ini terletak

diantara 2 condylus femoralis pada permukaan anteroinferior.

Menurut arah gerakannya sendi lutut termasuk dalam sendi engsel (mono

axial joints ) yaitu sendi yang mempunyai arah gerakan pada satu sumbu. Sendi lutut

ini terdiri dari bentuk conveks silinder pada tulang yang satu yang digunakan untuk

berhubungan dengan bentuk yang concave pada tulang lainnya.

5

Page 6: Referat Dislokasi Patella

ANATOMI SENDI LUTUT

Sendi lutut merupakan persendian yang paling besar pada tubuh manusia.

Sendi ini terletak pada kaki yaitu antara tungkai atas dan tungkai bawah. Pada

dasarnya sendi lutut ini terdiri dari dua articulatio condylaris diantara condylus

femoris medialis dan lateralis dan condylus tibiae yang terkait dan sebuah sendi

pelana , diantara patella dan fascies patellaris femoris.

Secara umum sendi lutut termasuk kedalam golongan sendi engsel, bagian sendi yang

kompleks yaitu :

1. condyloid articulatio diantara dua femoral condylus dan meniscus dan

berhubungan dengan condylus tibiae

2. satu articulatio jenis partial arthrodial diantara permukaan dorsal dari patella

dan femur.

Pada bagian atas sendi lutut terdapat condylus femoris yang berbentuk bulat,

pada bagian bawah terdapat condylus tibiae dan cartilago semilunaris. Pada bagian

bawah terdapat articulatio antara ujung bawah femur dengan patella.

Fascies articularis femoris . tibiae dan patella diliputi oleh cartilago hyaline. Fascies

articularis condylus medialis dan lateralis tibiae di klinik sering disebut sebagai

plateau tibialis medialis dan lateralis.

6

Page 7: Referat Dislokasi Patella

LIGAMENTUM PADA SENDI LUTUT

A. LIGAMENTUM EXTRACAPSULAR

1. Ligamentum Patellae

Melekat (diatas) pada tepi bawah patella dan pada bagian bawah melekat

pada tuberositas tibiae. Ligamentum patellae ini sebenarnya merupakan

lanjutan dari bagian pusat tendon bersama m. quadriceps femoris.

Dipisahkan dari membran synovial sendi oleh bantalan lemak intra patella

dan dipisahkan dari tibia oleh sebuah bursa yang kecil. Bursa infra patellaris

superficialis memisahkan ligamentum ini dari kulit.

2. Ligamentum Collaterale Fibulare

Ligamentum ini menyerupai tali dan melekat di bagian atas pada condylus

lateralis dan dibagian bawah melekat pada capitulum fibulae. Ligamentum

ini dipisahkan dari capsul sendi melalui jaringan lemak dan tendon m.

popliteus. Dan juga dipisahkan dari meniscus lateralis melalui bursa m.

poplitei.

3. Ligamentum Collaterale Tibiae

Ligamentum ini berbentuk seperti pita pipih yang melebar dan melekat

dibagian atas pada condylus medialis femoris dan pada bagian bawah

melekat pada margo infraglenoidalis tibiae. Ligamentum ini menembus

dinding capsul sendi dan sebagian melekat pada meniscus medialis. Di

bagian bawah pada margo infraglenoidalis, ligamentum ini menutupi tendon

m. semimembranosus dan a. inferior medialis genu .

4. Ligamentum Popliteum Obliquum

Merupakan ligamentum yang kuat, terletak pada bagian posterior dari sendi

lutut, letaknya membentang secara oblique ke medial dan bawah. Sebagian

dari ligamentum ini berjalan menurun pada dinding capsul dan fascia m.

7

Page 8: Referat Dislokasi Patella

popliteus dan sebagian lagi membelok ke atas menutupi tendon m.

semimembranosus.

5. Ligamentum Transversum Genu

Ligamentum ini terletak membentang paling depan pada dua meniscus ,

terdiri dari jaringan connective, kadang- kadang ligamentum ini tertinggal

dalam perkembangannya , sehingga sering tidak dijumpai pada sebagian

orang.

B. LIGAMENTUM INTRA CAPSULAR

Ligamentum cruciata adalah dua ligamentum intra capsular yang sangat kuat,

saling menyilang didalam rongga sendi. Ligamentum ini terdiri dari dua bagian

yaitu posterior dan anterior sesuai dengan perlekatannya pada tibiae. Ligamentum

ini penting karena merupakan pengikat utama antara femur dan tibiae.

1. Ligamentum Cruciata Anterior

Ligamentum ini melekat pada area intercondylaris anterior tibiae dan

berjalan kearah atas, kebelakang dan lateral untuk melekat pada bagian

posterior permukaan medial condylus lateralis femoris. Ligamentum ini akan

mengendur bila lutut ditekuk dan akan menegang bila lutut diluruskan

sempurna. Ligamentum cruciatum anterior berfungsi untuk mencegah femur

bergeser ke posterior terhadap tibiae. Bila sendi lutut berada dalam keadaan

fleksi ligamentum cruciatum anterior akan mencegah tibiae tertarik ke

posterior.

2. Ligamentum Cruciatum Posterior

Ligamentum cruciatum posterior melekat pada area intercondylaris posterior

dan berjalan kearah atas , depan dan medial, untuk dilekatkan pada bagian

anterior permukaan lateral condylus medialis femoris. Serat-serat anterior

akan mengendur bila lutut sedang ekstensi, namun akan menjadi tegang bila

sendi lutut dalam keadaan fleksi. Serat-serat posterior akan menjadi tegang

8

Page 9: Referat Dislokasi Patella

dalam keadaan ekstensi. Ligamentum cruciatum posterior berfungsi untuk

mencegah femur ke anterior terhadap tibiae. Bila sendi lutut dalam keadaan

fleksi , ligamentum cruciatum posterior akan mencegah tibiae tertarik ke

posterior.

CARTILAGO SEMILUNARIS (MENISCUS)

Cartilago semilunaris adalah lamella fibrocartilago berbentuk C , yang pada potongan

melintang berbentuk segitiga. Batas perifernya tebal dan cembung, melekat pada

bursa. Batas dalamnya cekung dan membentuk tepian bebas . Permukaan atasnya

cekung dan berhubungan langsung dengan condylus femoris.

Fungsi meniscus ini adalah memperdalam fascies articularis condylus tibialis untuk

menerima condylus femoris yang cekung.

1. Cartilago Semilunaris Medialis

Bentuknya hampir semi sirkular dan bagian belakang jauh lebih lebar

daripada bagian depannya. Cornu anterior melekat pada area intercondylaris

anterior tibiae dan berhubungan dengan cartilago semilunaris lateralis melalui

beberapa serat yang disebut ligamentum transversum. Cornu posterior

9

Page 10: Referat Dislokasi Patella

melekat pada area intercondylaris posterior tibiae. Batas bagian perifernya

melekat pada simpai dan ligamentum collaterale sendi. Dan karena perlekatan

inilah cartilago semilunaris relatif tetap.

2. Cartilago Semilunaris Lateralis

Bentuknya hampir sirkular dan melebar secara merata. Cornu anterior melekat

pada area intercondylaris anterior, tepat di depan eminentia intercondylaris.

Cornu posterior melekat pada area intercondylaris posterior, tepat di belakang

eminentia intercondylaris. Seberkas jaringan fibrosa biasanya keluar dari

cornu posterior dan mengikuti ligamentum cruciatum posterior ke condylus

medialis femoris.

Batas perifer cartilago dipisahkan dari ligamentum collaterale laterale oleh

tendon m. popliteus, sebagian kecil dari tendon melekat pada cartilago ini.

Akibat susunan yang demikian ini cartilago semilunaris lateralis kurang

terfiksasi pada tempatnya bila di bandingkan dengan cartilago semilunaris

medialis.

10

Page 11: Referat Dislokasi Patella

CAPSULA ARTICULARIS

Capsula articularis terletak pada permukaan posterior dari tendon m. quadriceps

femoris dan didepan menutupi patella menuju permukan anterior dari femur diatas

tubrositas sendi. Kemudian capsula ini berlanjut sebagai loose membran yang

dipisahkan oleh jaringan lemak yang tebal dari ligamentum patellae dan dari bagian

tengah dari retinacula patellae menuju bagian atas tepi dari dua meniscus dan ke

bawah melekat pada ligamentum cruciatum anterior . Selanjutnya capsula articularis

ini menutupi kedua ligamentun cruciatum pada sendi lutut sebagai suatu lembaran

dan melintasi tepi posterior ligamentum cruciatum posterior. Dari tepi medial dan

lateral dari fascies articularis membentuk dua tonjolan , lipatan synovial, plica alares

yang terkumpul pada bagian bawah. Kesemuanya hal ini membentuk suatu synovial

villi.

Plica synovialis patellaris, membentang pada bagian belakang yang mengarah

pada bidang sagital menuju cavum sendi dan melekat pada bagian paling bawah dari

tepi fossa intercondyloidea femoris. Plica ini merupakan lipatan sagital yang lebar

pada synovial membran.

Lipatan ini membagi cavum sendi menjadi dua bagian , berhubungan dengan

dua pasang condylus femoris dan tibiae.

Lipatan capsul sendi pada bagian samping berjalan dekat pinggir tulang

rawan. Sehingga regio epicondylus tetap bebas. Kapsul sendi kemudian menutupi

permukaan cartilago , dan bagian permukaan anterior dari femur tidak ditutupi oleh

cartilago. Pada tibia capsul sendi ini melekat mengelilingi margo infraglenoidalis,

sedikit bagian bawah dari permukaan cartilago, selanjutnya berjalan kebawah tepi

dari masing-masing meniscus.

11

Page 12: Referat Dislokasi Patella

BURSA PADA SENDI LUTUT

Bursa sendi merupakan suatu tube seperti kantong yang terletak di bagian bawah dan

belakang pada sisi lateral didepan dan bawah tendon origo m. popliteus. Bursa ini

membuka kearah sendi melalui celah yang sempit diatas meniscus lateralis dan

tendon m. popliteus.

Banyak bursa berhubungan sendi lutut. Empat terdapat di depan, dan enam terdapat

di belakang sendi. Bursa ini terdapat pada tempat terjadinya gesekan di antara tulang

dengan kulit, otot, atau tendon.

A. BURSA ANTERIOR

1. Bursa Supra Patellaris

Terletak di bawah m. quadriceps femoris dan berhubungan erat dengan rongga sendi.

2. Bursa Prepatellaris

Terletak pada jaringan subcutan diantara kulit dan bagian depan belahan bawah

patella dan bagian atas ligamentum patellae.

12

Page 13: Referat Dislokasi Patella

3. Bursa Infrapatellaris Superficialis

Terletak pada jaringan subcutan diantara kulit dan bagian depan belahan

bawah ligamentum patellae

4. Bursa Infapatellaris Profunda

Terletak di antara permukaan posterior dari ligamentum patellae dan

permukaan anterior tibiae. Bursa ini terpisah dari cavum sendi melalui

jaringan lemak dan hubungan antara keduanya ini jarang terjadi.

B. BURSA POSTERIOR

1. Recessus Subpopliteus

Ditemukan sehubungan dengan tendon m. popliteus dan berhubungan dengan

rongga sendi.

2. Bursa M. Semimembranosus

Ditemukan sehubungan dengan insertio m. semimembranosus dan sering

berhubungan dengan rongga sendi.

Empat bursa lainnya ditemukan sehubungan dengan :

1. tendon insertio m. biceps femoris

2. tendon m. sartorius , m. gracilis dan m. semitendinosus sewaktu berjalan ke

insertionya pada tibia.

3. di bawah caput lateral origo m. gastrocnemius

4. di bawah caput medial origo m. gastrocnemius

13

Page 14: Referat Dislokasi Patella

PERSARAFAN SENDI LUTUT

Persarafan pada sendi lutut adalah melalui cabang-cabang dari nervus yang yang

mensarafi otot-otot di sekitar sendi dan befungsi untuk mengatur pergerakan pada

sendi lutut.

Sehingga sendi lutut disarafi oleh :

1. N. Femoralis

2. N. Obturatorius

3. N. Peroneus communis

4. N. Tibialis

SUPLAI DARAH

Suplai darah pada sendi lutut berasal dari anastomose pembuluh darah disekitar sendi

ini. Dimana sendi lutut menerima darah dari descending genicular arteri femoralis,

cabang-cabang genicular arteri popliteal dan cabang descending arteri circumflexia

femoralis dan cabang ascending arteri tibialis anterior.

Aliran vena pada sendi lutut mengikuti perjalanan arteri untuk kemudian akan

memasuki vena femoralis.

14

Page 15: Referat Dislokasi Patella

SISTEM LYMPH

System limfe pada sendi lutut terutama terdapat pada perbatasan fascia subcutaneous.

Kemudian selanjutnya akan bergabung dengan lymph node sub inguinal superficialis.

Sebagian lagi aliran lymph ini akan memasuki lymph node popliteal, dimana aliran

lymph berjalan sepanjang vena femoralis menuju deep inguinal lymph node

PERGERAKAN SENDI LUTUT

Pergerakan pada sendi lutut meliputi gerakan fleksi , ekstensi , dan sedikit rotasi.

Gerakan fleksi dilaksanakan oleh m. biceps femoris , semimembranosus, dan

semitendinosus, serta dbantu oleh m.gracilis , m.sartorius dan m. popliteus. Fleksi

sendi lutut dibatasi oleh bertemunya tungkai bawah bagian belakang dengan paha.

Ekstensi dilaksanakan oleh m. quadriceps femoris dan dibatasi mula-mula

oleh ligamentum cruciatum anterior yang menjadi tegang. Ekstensi sendi lutut lebih

lanjut disertai rotasi medial dari femur dan tibia serta ligamentum collaterale mediale

dan lateral serta ligamentum popliteum obliquum menjadi tegang , serat-serat

posterior ligamentum cruciatum posterior juga di eratkan.

Sehingga sewaktu sendi lutut mengalami ekstensi penuh ataupun sedikit hiper-

ekstensi , rotasi medial dari femur mengakibatkan pemutaran dan pengetatan semua

Ligamentum utama dari sendi, dan lutut berubah menjadi struktur yang secara

mekanis kaku.

Rotasio femur sebenarnya mengembalikan femur pada tibia , dan cartilago

semilunaris dipadatkan mirip bantal karet diantara condylus femoris dan condylus

tibialis. Lutut berada dalam keadaan hiper-ekstensi dikatakan dalam keadaan

terkunci.

Selama tahap awal ekstensi , condylus femoris yang bulat menggelinding ke

depan mirip roda di atas tanah, pada permukaan cartilago semilunaris dan condylus

lateralis. Bila sendi lutut di gerakkan ke depan , femur ditahan oleh ligamentum

cruciatum posterior, gerak menggelinding condylus femoris diubah menjadi gerak

15

Page 16: Referat Dislokasi Patella

memutar. Sewaktu ekstensi berlanjut , bagian yang lebih rata pada condylus femoris

bergerak kebawah dan cartilago semilunaris harus menyesuaikan bentuknya pada

garis bentuk condylus femoris yang berubah. Selama tahap akhir ekstensi , bila femur

mengalami rotasi medial, condylus lateralis femoris bergerak ke depan, memaksa

cartilago semilunaris lateralis ikut bergerak ke depan.

Sebelum fleksi sendi lutut dapat berlangsung , ligamentum-ligamentum utama

harus mengurai kembali dan mengendur untuk memungkinkan terjadinya gerakan

diantara permukaan sendi. Peristiwa mengurai dan terlepas dari keadaan terkunci ini

dilaksanakan oleh m. popliteus, yang memutar femur ke lateral pada tibia. Sewaktu

condylus lateralis femoris bergerak mundur , perlekatan m. popliteus pada cartilago

semilunaris lateralis akibatnya tertarik kebelakang. Sekali lagi cartilago semilunaris

harus menyesuaikan bentuknya pada garis bentuk condylus yang berubah.

Bila sendi lutut dalam keadaan fleksi 90 derajat , maka kemungkinan rotasio sangat

luas. Rotasi medial dilakukan m. sartorius, m. gracilis dan m. semitendinosus. Rotasi

lateral dilakukan oleh m. biceps femoris.

Pada posisi fleksi, dalam batas tertentu tibia secara pasif dapat di gerakkan ke

depan dan belakang terhadap femur , hal ini dimungkinkan karena ligamentum utama

, terutama ligamentum cruciatum sedang dalam keadaan kendur.

Jadi disini tampak bahwa stabilitas sendi lutut tergantung pada kekuatan tonus otot

yang bekerja terhadap sendi dan juga oleh kekuatan kigamentum. Dari faktor-faktor

ini , tonus otot berperan sangat penting, dan menjadi tugas ahli fisioterapi untuk

mengembalikan kekuatan otot ini , terutama m. quadriceps femoris, setelah terjadi

cedera pada sendi lutut.

16

Page 17: Referat Dislokasi Patella

DISLOKASI PATELLA

DEFINISI

Subluksasi adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan adanya deviasi

hubungan normal antara tulang rawan yang satu dengan tulang rawan lainnya yang

masih menyentuh berbagai bagian pasangannya. Jika kedua bagian ini sudah tidak

menyinggung satu dengan lainnya maka disebut sebagai dislokasi (Price & Wilson,

2006). Dislokasi patela akut merupakan gangguan pada persendian atau adanya

pergeseran yang dapat menimbulkan gangguan fungsional (Palmu, S et al., 2008).

(anatomi sendi lutut)

EPIDEMIOLOGI

Insidensi dislokasi patela lebih sering terjadi pada wanita usia 10-17 tahun

dan meningkat terkait aktivitas fisik seperti pada wanita atlet, dan lebih jarang terjadi

pada usia diatas 30 tahun. Dislokasi lateral umumnya lebih sering terjadi, sedangkan

dislokasi medial merupakan bentuk yang lebih jarang terjadi, sebagai akibat oleh

trauma langsung. Redislokasi terjadi lebih sering pada pasien yang lebih muda kurang

17

Page 18: Referat Dislokasi Patella

dari 20 tahun (Cornell, B., 2006). Disamping itu, dislokasi patella akut, sekitar 69%

terjadi pada individu dalam setahunnya (Andrish, J., 2008).

Puncak insidensi dislokasi patella akut terjadi pada usia sekitar 15 tahun.

Dilaporkan insidensi pada populasi Helsinki adalah 43 per 100.000 pada mereka

dengan usia dibawah 16 tahun (Palmu, S et al., 2008). Dislokasi patella termasuk

dalam kasus emergensi dalam bidang ortopedi (Shetty et al., 2009).

Satu dari 1000 anak mengalami dislokasi patela akut setiap tahunnya. Hal

tersebut disebabkan oleh rotasi eksternal secara tidak langsung dan tekanan valgus

pada saat lutut dalam keadaan fleksi dengan posisi kaki terfiksasi di atas tanah.

Sebagian besar keadaan ini terjadi selama masa remaja dengan insidensi puncak pada

usia 15 tahun. Pada anak-anak, dislokasi patela merupakan penyebab tersering

hemarthrosis traumatic akut (Benson, M et al., 2010).

ETIOLOGI

Faktor resiko sekaligus etiologi dari dislokasi patella akut, diantaranya

dysplasia patelofemoral, jenis kelamin wanita lebih tinggi, atlet dan adanya riwayat

keluarga (Palmu, S et al., 2008). Trauma akut dan kronik, anatomi abnormal dari

persendian, dan hamarthrosis dapat berimplikasi untuk berkembang menjadi penyakit

sendi degenerative (Andrish, J., 2008).

Dislokasi vertical pada patela umumnya jarang dan dapat terjadi sebagai

akibat trauma tumpul (Shetty et al., 2009). Dapat pula terjadi dislokasi superior dari

patela, namun kasusnya jarang. Mekanisme cedera dapat terjadi sebagai akibat

langsung hantaman/benturan pada patela, hiperekstensi persendian lutut, ataupun

kombinasi keduanya (Wong, N et al., 2004).

18

Page 19: Referat Dislokasi Patella

(Wong, N et al., 2004)

PATOGENESIS

Sewaktu lutut berfleksi dan otot kuadriseps mengendur, patela dapat terdesak

ke lateral akibat benturan langsung. Patela, dapat untuk sementara naik ke tepi

kondilus lateral femur dan kemudian meluncur kembali ke posisinya atau bergeser ke

sisi luar, dimana patela terletak dengan permukaan anteriornya menghadap ke lateral

(Apley & Solomon, 1995).

Instabilitas patella dapat berkorelasi dengan satu atau lebih faktor resiko

dilihat dari segi anatomi yang berbeda dari normalnya seperti ketegangan struktur

pada bagian lateral, patela alta, dysplasia patela atau femoral, peninggian anterversion

femoral, peningkatan torsio tibialis eksterna, posisi lateral dari tuberositas tibial,

19

Page 20: Referat Dislokasi Patella

abnormalitas pronasi kaki, dan insersi vertical dari vastus medialis oblik, kesemuanya

dapat menimbulkan kelainan pada patela (Cornell, B., 2006).

Pergerakan patela dipengaruhi oleh interaksi yang kompleks antara otot,

ligament, morfologi tulang dan bagian ekstremitas bawah. Ligament retinakular

patelofemoral penting dalam menstabilkan patela dan khususnya MPFL (medial

pattelofemoral ligament) yang merupakan jaringan lunak, berperan dalam

mengendalikan translasi lateral patela selama memfleksikan lutut 20-300. Ligament

ini yang paling menegang pada saat ekstensi penuh. Amis dan Senavongse,

mendemonstrasikan bahwa pada saat fleksi 200 terjadi sedikit resistensi yang timbul

pada saat translasi lateral patela. Pada saat patela melintasi trochlea, kemiringan dari

sisi lateral trochlea menyebabkan resistensi terhadap translasi lateral patela. Dari hasil

studi pun menunjukkan adanya pengaruh dari muskulus dan VMO (vastus medialis

obliquus) khususnya dalam menstabilkan lutut. Bila interaksi tersebut terganggu

maka akan timbul kelainan pada patella termasuk terjadinya dislokasi (Andrish, J.,

2008).

MANIFESTASI KLINIS

Lutut biasanya mengalami kolaps dan pasien dapat jatuh. Bisa terdapat

deformitas yang nyata, pergeseran patella tidak mudah diketahui tetapi kondilus

medial femur yang terbuka terlalu menonjol dan dapat dikira pergeseran patela.

Patela dapat diraba pada sisi luar lutut. Gerakan aktif maupun pasif tak mungkin

dilakukan (Apley & Solomon, 1995).

Cedera pada patella dapat menimbulkan instabilitas dan sindrom nyeri

patelofemoral. Pasien merasakan nyeri hebat pada lutut yang mengalami pergeseran.

Dislokasi patella menimbulkan robekan dari jaringan retinakular medial. Pemeriksaan

dapat menunjukkan adanya pembengkakan, penurunan aktivitas gerak, dan kekakuan

medial patella (Greene, W., 2006).

20

Page 21: Referat Dislokasi Patella

(Shetty et al., 2009)

21

Page 22: Referat Dislokasi Patella

DAFTAR PUSTAKA

1. Frank, H , Netter , M.D., Interactive Atlas of Human Anatomy , Ciba Medical

Educations & Publications , 1995

2. H.H.Lindner, Clinical Anatomy , a LANGE medical book , Connecticut , 1989

3. J.S.P.Lumley , J.L.Craven , J.T.Aitken, Essential Anatomy , fourth edition,

Churchill Livingstone , New York ,1987

4. Seeley , Stephen , Tate, Anatomy and Physiologi, international edition, sixth

edition , Mc Graw Hill , New York , 2003

5. Snell Richard S Seeley , Stephen , Tate, Anatomy and Physiologi, international

edition, sixth edition , Mc Graw Hill , New York , 2003 Anatomi Klinik, Bagian 2

, Edisi ke 3 , EGC , 1997

6. Spalteholz Werner, Hand – Atlas of Human Anatomy, Seventh Edition in English

7. Andrish, J., 2008. The Management of Recurrent Patellar Dislocation. Available

from: http://www.med.nyu.edu/pmr/residency/resources/general%20MSK

%20and%20Pain/Clinics%20ortho_recurrent%20pat%20dislocation.pdf.

8. Apley, G & Solomon, G., 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley

edisi 7. Widya Medika.

9. Benson, M et al., 2010. Children’s Orthopedics and Fracture 3th edition. London:

Springer-Verlag.

10.Cornell, B., 2006. Patellar Dislocation – Conservative and Operative

Rehabilitation. Available from :

22

Page 23: Referat Dislokasi Patella

http://xnet.kp.org/socal_rehabspecialists/ptr_library/08KneeRegion/18Patella-

Dislocation.pdf.

11.Greene, W et al., 2006. Netter’s Orthopedics 1st edition. Saunder : Elvesier.

12.Palmu, S et al., 2008. Acute Patellar Dislocation in Children and Adolescents: A

Randomized Clinical Trial. Available from :

http://medicine.tums.ac.ir/fa/Users/ramin_espandar/journal%20club%202,87/

Acute%20Patellar%20Dislocation%20in%20Children%20and

%20Adolescents.pdf.

13.Price & Wilson., 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis dan Penyakit edisi 6 volume

2. Jakarta : EGC

14.Shetty et al., 2009. Vertical Dislocation of the Patella: Report of 2 Cases.

Available from : http://web.ebscohost.com/ehost/pdfviewer/pdfviewer?

sid=14a7d357-befe-45d5-a238-a4ef87998f15%40sessionmgr4&vid=1&hid=14.

15.Wong, N et al., 2004. The management of superior dislocation of the patella with

interlocking osteophytes-an update on a rare problem. Available from :

http://www.josonline.org/pdf/v12i2p253.pdf.

23