Top Banner

of 32

Print Untuk Revisi Etik Ta

Mar 09, 2016

Download

Documents

Yogie Ayodhya

gvcjtycvitvfi
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript

37

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangDalam ilmu kedokteran gigi, stomatitis tidak luput dari perhatian. Mungkin beberapa orang kurang paham dan menganggapnya sebagai hal yang sepele, namun pada kenyataannya stomatitis sangatlah mengganggu kita dalam aktifitas sehari-hari seperti berbicara dan menikmati waktu makan.Walaupun stomatitis memang bukan penyakit yang mematikan, namun jika penyakit ini terjadi di dalam mulut, maka akan sangat menyiksa penderitanya. Mulut terasa nyeri, tidak nyaman dan di dalamnya muncul luka-luka yang terbuka, sehingga sangat tidak nyaman jika luka tersebut disentuh oleh makanan atau benda asing yang masuk ke dalam mulut. Kondisi tersebut menyebabkan penderita sulit makan dan bicara. Apalagi, bila penyakit di rongga mulut ini menimbulkan komplikasi berupa selulitis (radang sel) mulut akibat infeksi bakteri sekunder sariawan, infeksi dental (abses gigi) dan kanker mulut Namun tidak banyak orang yang tahu tentang stomatitis itu sendiri (Cawson dan Odell, 2008).Masyarakat awam kebanyakan menganggap bahwa stomatitis diakibatkan karena kekurangan vitamin C. Maka dari itu, ketika penyakit tersebut menyerang, banyak yang langsung berusaha menyembuhkannya dengan mengkonsumsi vitamin C. Baik vitamin C dalam bentuk tablet, hisap, telan, effervescent (tablet yang dilarutkan), dan lain sebagainya dalam takar berlebih. Pemahaman semacam ini tidak selamanya benar, sebab stomatitis bisa terjadi akibat beberapa faktor, misalnya trauma.Menurut Cawson dan Odell, 2008, stomatitis adalah penyakit mukosa oral yang sangat sering dialami oleh masyarakat dan mengenai kurang lebih sekitar 10-25% dari populasi. Banyak dari kasus tersebut adalah kasus yang ringan dengan sedikit keluhan.Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan pada golongan sosioekonomi atas dan di antara para siswa remaja selama waktu-waktu ujian (Lewis dan Lamey, 2008).Masa remaja adalah peralihan yang membuat sebagian besar orang mengalami perubahan mental yang labil. Minimnya pengetahuan tentang kesehatan dan sikap cuek pada remaja membuat mereka sering mengabaikan hal-hal kecil yang dapat merusak kesehatan termasuk kesehatan gigi dan mulut sehingga dapat menimbulkan berbagai masalah dalam mulut (Cawson dan Odell, 2008).Pada masa pubertas terjadi perubahan hormon yang drastis yang membuat gejolak di dalam tubuh remaja. Perubahan hormon yang belum stabil ini membuat remaja gampang mengalami perubahan mental yang berdampak pada suasana hati dan perilaku remaja. Sekarang ini, gejala ketidakseimbangan hormon pada remaja menjadi sangat umum. Hal ini disebabkan beberapa alasan yang menyebabkan perubahan hormonal. Kondisi saat ini lebih banyak terkontaminasi dengan bahan kimia dibandingkan kondisi zaman dulu, bahkan hingga ratusan bahan kimia. Bahan kimia ini tidak hanya berasal dari lingkungan yang tercemar, tetapi juga sebagai pengawet, pewarna makanan, serta bumbu makanan dan minuman.Penyebab lain gejala ketidakseimbangan hormon pada siswa remaja adalah stres. Dengan tekanan yang ada di rumah, persaingan di sekolah, dan persaingan antar teman membuat para siswa remaja berada di bawah tekanan sehingga menyebabkan naik turunnya sekresi hormon dalam tubuh dan juga menempatkan tekanan tambahan pada kelenjar adrenal yang mengatur hormon dalam tubuh sehingga kelenjar ini menjadi terganggu yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon. Ketidakseimbangan ini menyebabkan beberapa masalah emosional serta fisik lainnya yang berkaitan dengan hormon pada remaja.Stres dan faktor hormonal merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya stomatitis (Lawler, Ahmed, Hume, 2008).SMA Negeri 1 Gianyar adalah salah satu sekolah yang tingkat kejadian Stomatitis tiap tahunnya cukup tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari tabel kesehatan di UKS SMA Negeri 1 Gianyar sebagai berikut:

Tabel 1.1.1 Tabel Data Keluhan Siswa SMA Negeri 1 Gianyar Tahun 2009-2013 TahunKeluhan

PusingMualSariawanLukaKeluhan lain

20096346544822

20104751483517

20115248493828

20126845493930

20136333414225

Dengan memperhatikan fakta tersebut, maka penulis ingin mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan dan sikap siswa tentang stomatitis di SMA Negeri 1 Gianyar periode 2013-2014.

1.2 Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang, rumusan masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah bagaimana gambaran tingkat pengetahuan dan sikap siswa tentang stomatitis di SMA Negeri 1 Gianyar periode 2013-2014?

1.3 Tujuan PenelitianTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap siswa tentang penyakit stomatitis SMA Negeri 1 Gianyar periode 2013-2014

1.4 Manfaat Hasil Penelitian1. Manfaat masyarakat dan institusi terkait:a. Meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya remaja untuk pencegahan dan penanganan penyakit stomatitis.b. Dapat digunakan sebagai informasi dalam memberikan pengetahuan kepada masyarakat.c. Sebagai bahan masukan untuk Dinas Kesehatan Kabupaten dalam upaya penyuluhan kesehatan dimasa yang akan datang.2. Manfaat bagi institusi lain yang memungkinkan hasil penelitin ini bisa diterapkan:Sebagai tambahan bahan data dasar untuk penelitian lebih lanjut, khususnya yang berkaitan dengan stomatitis.3. Manfaat bagi peneliti:a. Sebagai salah satu kewajiban dalam kelulusan di Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.b. Menambah pengalaman dalam bidang penelitian.c. Menambah referensi dan ilmu dalam bidang kesehatan masyarakat4. Bagi pengembangan ilmu:Sebagai tambahan informasi untuk penelitian lebih lanjut, khususnya pada penyakit stomatitis.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan2.1.1 Pengertian PengetahuanNotoatmodjo (2007) menyatakan bahwa pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia dan sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

2.1.2 Tingkat PengetahuanMenurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat, yaitu:a. Tahu (Know)Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk mengingat kembali (recall). Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.b. Memahami (Comprehension)Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. Apabila orang telah paham terhadap objek atau meteri maka harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.c. Aplikasi (Application)Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi dapat diartikan penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

d. Analisis (Analysis)Analisa adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.e. Sintesis (Synthesis)Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.f. Evaluasi (Evaluation)Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian dilakukan berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

Tingkat pengetahuan dapat dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu (Arikunto, 2006):a. Baik, bila nilai akumulasi 76%b. Cukup, bila nilai akumulasi 60-75%c. Kurang, bila nilai akumulasi