Top Banner

of 12

pob blok 16

Oct 09, 2015

Download

Documents

pecopecochan

a
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript

LAPORAN PRAKTIKUM BLOK 16

Fathur Rohman H

08 / 268887 / KH / 5969

LAPORAN PRAKTIKUMBLOK 16

RUMINANSIA 2

OLEH NAMA

: FATHUR ROHMAN HNIM

: 08 / 268887 / KH / 5969KELOMPOK: 05FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2011AbstrakTanggal 12 Maret 2011 dilakukan pemeriksaan pada pedet FH berumur 6 - 7 bulan, dengan berat badan kurang lebih 100 kg, milik Unit Pemeliharaan Pembesaran Pedet Koperasi Warga Mulya di Cemoroharjo, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Pemeriksaan dilakukan oleh mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui keadaan serta kondisi pedet FH yang mengalami penyakit cacingan. Pemeriksaan ini dilakukan dengan pemeriksaan umum dan pengambilan sample darah. Pengambilan feses telah dilakukan dan teridentifikasi terdapat telur cacing Stronylus sp. Gejala yang timbul adalah nafsu makan menurun, kondisi rambut kusam, berdiri dan rontok. Pengobatan yang telah di lakukan adalan memberikan Dipenhidramil HCL 1 cc secara intramusculer (IM), Vitamin B complek 3 cc secara IM, dan Obat cacing Oxpendazol-45-mg-secara-peroral.Peneguhan diagnosa dilakukan dengan pemeriksaan darah dan didapatkan hasil kadar hematokrit 22 %, kadar hemoglobin 8,0 g/dl, kadar eritrosit 6,9 juta/mm3, kadar sel darah putih 6,300/mm3, kadar neutrofil 32 %, limfosit 60 %, monosit 5 %, eosinofil 3 %, protein total 5,0 g %, fibrinogen 500 mg %.Kata kunci : pedet, Strongylus sp, Dipenhidramil HCL, Vit B complek, OxpendazolPemeriksaan ini di lakukan pada hari Sabtu 12 Maret 2011, bertempat di Unit Pembesaran Pedet Koperasi Warga Mulya, Pakem, Sleman, Yogyakarta.

Gambar. Pedet FH yang diperiksa

Gambar. Feses pedet FH

Gambar. Mengukur suhu Gambar. Menghitung pulsus

Gambar.Menghitung tonus rumen Gambar. Mengambil darah lewat vena coccygeaHasil pemeriksaan adalah sebagai berikut :Macam hewan: pedetNama hewan

: -Signalemen

:

Breed

: FH

Age

: 6 7 bulan

Sex : betina

Spesific pattern : warna putih-hitam ( hitam loreng putih )Anamnesa

: kandang bersih, becek, comboran bekatulStatus Praesens:

1. Keadaan umum: postur normal, cuping hidung basah, kaki menapak2. Frekuensi nafas: 30 x/menitPulsus

: 76 x/menit

Panas badan

: 38,60 C3. Kulit dan rambut: tidak kusam, sedikit kotor4. Selaput lendir: konjungtiva kemerahan5. Kelenjar limfe: normal, tidak ada pembengkakan

6. Pernafasan

: normal, frekuensi teratur, vesikuler7. Peredaran darah: detak jantung lub dub, teratur8. Pencernaan

: tonus 8 x/5 menit, feses normal, tidak padat, tidak encer9. Kelamin dan perkencingan: normal, bersih, tidak bengkak, urinasi normal10. Anggota gerak dan saraf: reflek mata normal, pedal normal, reflek pelpebra normal11. Berat badan

: 100 kg12. Pemeriksaan laboratoriumPemeriksaan darah

Hematokrit

: 22 %

Hemoglobin

: 8,0 g %

Eritrosit

: 6,9 juta/mm3

WBC

: 6,300 sel/mm3

Neutrofil segmented: 32 %

Limfosit

: 60 %

Monosit

: 5 %

Eosinofil

: 3 %

Protein total

: 5,0 g %

Fibrinogen

: 500 mg %13. Diagnosis

: StrongiliasisTata laksana:

1. Dipenhidramin HCL (Veterdryl) 1 cc secara intramuskuler

Dosis: hewan besar 1 ml/20 kg BB

hewan kecil 0,1 ml/ kg BB

2. Vitamin B complek 3 cc secara intramuskuler

Kandungan :

Sodium fosfat

5 mg

B6, Pyridoxin hidroklorid5 mg

B 12, Cyamocobalamin

20 mg

D-ponthenol

12,5 mg

Nikotinamid

50 mg

Biotin

100 mg

Choline klorid

10 mg

Dosis :sapi, kuda 10-15 mlPedet, cempe 5-10 ml

Kambing 5-8 ml

Babi 2 10 ml3. Obat cacing Verm-O (Oxpendazol) 900 mg/bolus, dipakai 50% (45 mg) secara peroral Gambar. Dipenhidramil HCL Gambar. Vitamin B - Complek

Gambar. Obat cacing Oxpendazol-PembahasanEtiologiDari hasil pemeriksaan yang telah kami lakukan, dapat diketahui bahwa pedet terdiagnosa Strongiliasis yang disebabkan oleh infeksi cacing dengan klasifikasi sebagai berikut;

Kingdom : AnimaliaPhylum : NematodaClass : SecernenteaOrdo : RhabditidaFamily : StrongyloididaeGenus : StrongyloidesSpecies : S. papillosusMorfologi Bentuk tubuhnya bulat (silindris) memanjang dari anterior ke posterior, tidak bersegmen dan meruncing pada kedua ujungnya.

Permukaan tubuhnya dilapisi oleh kutikula yang dihasilkan langsung oleh hipodermis yang berada dibawahnya.

Organ organ internalnya berbentuk filamen dan tergantung dalam rongga tubuh cacing yang berisi cairan.

Sistem pencernaannya berupa tabung lurus panjang dengan sebuah mulut yang dikelilingi oleh 6 bibir dan anus dibagian posterior.

Sistem syaraf terdiri dari cincin syaraf yang mengelilingi istmus esofagus dan tersusun dari sejumlah ganglia dan syaraf.

Sistem reproduksi betina terdiri dari ovarium, oviduct, dan uterus yang berakhir pada vagina pendek dan berujung di vulva yang terletak di daerah 1/3 bagian anterior tubuh.

Sistem reproduksi jantan terdiri dari sebuah testis dan vas deferens yang berakhir di duktus ejakulator di kloaka. Pada cacing jantan terdapat spikula yang homolog dengan penis dan bursa kopulatriks yang berfungsi untuk memegang betina ketika perkawinan (Azmi, 2011).

(Azmi, 2011).Cacing Strongylus sp Cacing betina panjangnya 2,0-2,5 mm, dan yang jantan sekitar 0,7 mm. Mulutnya dilapisi oleh kapsul yang bentuknya hampir bulat. Suatu cincin yang tersusun dari tonjolan tonjolan seperti pagar dikenal sebagai korona radiata mengelilingi mulut. Cacing ini tidak mempunyai gigi ataupun lempeng lempeng pemotong, cacing jantan mempunyai suatu pelebaran di ujung posteriornya dan cacing betina-mempunyai-ujung-ekor-yang-lancip. Cacing dewasa betina yang hidup bebas panjangnya 1 mm, esophagus pendek dengan 2 bulbus,=uterus-berisi-telur-dengan-ekor-runcing. -Cacing dewasa jantan yang hidup bebas panjangnya 1 mm, esophagus pendek dengan 2 bulbus, ekor melingkar dengan spikulum (Levine, 1994).

Gambar. Telur S. papillosus (Anonim(a), 2011)Daur Hidup(Adrian, 2011)Cacing betina menancapkan bagian depan tubuhnya (anterior end) di dalam mukosa usus halus dan sampai kedalam sub mukosa. Cacing dewasa tersebut juga kadang dijumpai dala sistem saluran nafas, kantong empedu dan dalam pankreas. Cacing betina memproduksi telur yang telah berembrio dan dikeluarkan dalam submukosa atau lumen usus. Telur berukuran 50-58 um x 30-34 um. Telur tersebut menetas didalam submukosa atau waktu masuk kedalam lumen usus, dan cacing muda berada dalam lumen usus kemudian dikeluarkan melalui feses. Cacing muda bentuk filaria akan menginfeksi hospes melalui pori kulit atau tertelan masuk slauran pencernaan. Cacing muda yang masuk melalui kulit akan terbawa aliran darah menuju paru dan masuk kedalam alveoli, bergerak ke trachea yang kemudian menjadi dewasa dan bertelur didalam usus halus. Sedangkan yang masuk melalui mulut, akan langsung menjadi dewasa didalam usus halus (Eberhardt. 2007).

Cacing dewasa juga dapat hidup diluar hospes (free living adults), yaitu didalam tanah dan bertelur yang kemudian menetas dan menjadi cacing muda yang infektif dan dapat menginfeksi hospes. Tetapi bila tidak menginfeksi, cacing juga dapat tumbuh menjadi dewasa dan dapat memproduksi telur. Sehingga disini ada dua bentuk daur hidup yaitu: 1. Daur hidup heterogenik dan 2. Daur hidup homogenik.

Bilaman cacing muda berkesempatan moulting dua kali pada saat turun kebawah saluran cerna, cacing tersebut dapat melakukan penetrasi dalam mukosa bagian bawah malalui darah dan terus menjadi dewasa lagi dalam usus. Proses tersebut disebut: Autoinfeksi. Dalam kondisi tersebut pasien dapat menderita infeksi cacing ini sampai 36 tahun (Anonim(b), 2011).Patogenesis

Patogenesis infestasi cacing adalah proses perubahan patologis yang terjadi akibat interaksi antara cacing dan inangnya. Jenis dan perluasan dari kontak parasit dan jaringan inang ditentukan oleh mekanisme biologis yang tak terpisahkan antara parasit dan proses fisiologik-induk-semang-yang-merespon-masuknya-cacing.Larva strongylus sp mulai menimbulkan kerusakan pada saat menyusup dalam dinding usus kecil dan usus besar. Selanjutnya larva keempat dan kelima menimbulkan kerusakan pada sistem arteri dan mulai katup aorta sampai arteri mesenterica cranialis dan cabang-cabangnya. Peradangan terjadi pada lapisan media dan menimbulkan thrombus (darah beku). Larva biasanya terbungkus dalam thrombus, bila thrombus ini lepas biasanya berakibat fatal terutama bila thrombus ini terjadi pada daerah pangkal sistem arteri yang bisa mengakibatkan penyumbatan arteri coronaria (Bowman, 2003).Gejala klinisInfeksi ringan tidak menimbulkan gejala, infeksi sedang menyebabkan mual, muntah, diare dan konstipasi.Pada strongiloidiasis ada kemungkinan terjadi autoinfeksi dan hiperinfeksi.Pada hiperinfeksi cacing ditemukan di seluruh traktus digestivus, larvanya ditemukan di berbagai alat dalam (paru, hati, kandung empedu). Dapat menimbulkan kematian (Subronto, 2011)Perubahan patologi

Pengaruh patologi dari cacing ini dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu: fase invasi; pulmonaris dan intestinal.

Penetrasi melalui kulit dengan larva invasif dapat mengakibatkan perdarahan kecil dan pembengkakan sehingga menimbulkan rasa gatal pada lokasi masuknya cacing. Luka tersebut dapat menyebabkan infeksi sekundar oleh bakteri patogen yang dapat menyebabkan inflamasi.

Selama migrasi dari cacing muda menuju paru dapat menyebabkan kerusakan jaringan paru sehingga menimbulkan reaksi sel paru dan dapat sedikit memperlambat migrasi cacing tersebut. Hal ini dapat menyebabkan cacing dapat bertahan di paru dan bahkan dapat beradaptasi dan kemudian berproduksi seperti di dalam intestinum, karena cacing dapat menyesuaikan diri pada kondisi dalam paru. Hal demikian dapat menimbulkan rasa panas didaerah dada dan terjadi batuk kering (tanpa dahak) juga menyebabkan broncho-pneumonia. Gejala tersebut dapat dikelirukan dengan gejala penyakit TBC.

Setelah tertelan, cacing betina muda masuk kedalam kripta mukosa intestinum dan cepat menjadi dewasa dan menembus jaringan sampai sub-mukosa atau sampai kedalam muskularis mukosa. Cacing bermigrasi kemukosa dan mengeluarkan telur tiap hari, pada saat ini akan timbul rasa sakit dan panas pada perut. Kerusakan jaringan oleh cacing dewasa dan larva menimbulkan pengelupasan mukosa dan pada kondisi kronis dapat diganti oleh jaringan ikat kadang menimbulkan nekrotik jaringan yang diikuti oleh ilserasi dari intestinum.Diagnosis

Dengan cara fecal smear secara langsung biasanya segera dapat terdeteksi pada kasus infeksi yang berat. Pada kasus terjadinya diare, telur dapat dilihat dalam feses dan bentuknya mirip dengan telur cacing kait (hook worm) tetapi lebih bulat.

Pencegahan

Sanitasi pembuangan tinja (lebih meningkatkan sanitasi)

Pengobatan

Albendazol 400 mg, 1 atau 2 kali sehari selama 3 hari. Merupakan obat pilihan.

Mebendazol 100 mg 3 kali sehari selama 2 atau 4 minggu.

Perhatian kepada pembersihan daerah sekitar anus, dan menghindari konstipasi.Kesimpulan

Cacingan dapat dicegah dengan cara lebih meningkatkan sanitasi. Apabila sapi sudah menderita cacingan dapat diberikan obat simptomatis (albendazol, mebendazol), obat supportif (dipenhydramin HCL, vitamin B-complex) Pada kejadian cacingan, nafsu makan menurun, kondisi rambut kusam, berdiri dan rontok DAFTAR PUSTAKA

Adrian. 2011. Strongyloides papillosus.

http://www.eb.tuebingen.mpg.de/departments/4-evolutionary-biology/adrian-

streit/LifeCycle.jpg/image_large&imgrfurl

(diakses 16 Maret 2011)

Anonim(a). 2011. Telur cacing Strongyloides papillosus.

http://www.rvc.ac.uk/review/parasitology/images/largeJPGs/S-papillosus-egg-_-p-50.jpg&imgrefurl (diakses 16 Maret 2011)

Anonim(b). 2011. Parasitologi.

www.geocities.ws/kuliah_farm/parasitologi/nematoda.doc(diakses 16 Maret

2011)Azmi, Zul. 2011. Morfologi Cacing Nematoda.

http://theveterinarian23azmi.blogspot.com/2010/11/nematoda-cacing-gelanggilik.html (diakses 16 Maret 2011)

Bowman, D. et al. 2003. Parasitologi for Veterinary. Saunders : PhiladelphiaEberhardt. 2007. Journal of The free-living generation of the nematode Strongyloides

papillosus undergoes sexual reproduction. Max Planck Institute for Developmental Biology, Department IV, Spemannstrasse 37, D-72076 : Germany. Vol. 37(8-9):989-1000Levine, N.D. 1994. Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.Subronto. 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Yogyakarta: GMU Press

PAGE

11