Top Banner
PENGGAMBARAN PEREMPUAN ARAB SAUDI OLEH MEDIA DARING (Analisis Wacana Kritis Fairclough pada Media Al-Jazirah Online dan Al- Madina) Tesis Disusun Oleh: Rifa’atul Mahmudah NIM : 16201010016 TESIS Diajukan kepada Program Studi Magister Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Magister Humaniora YOGYAKARTA 2019
56

PENGGAMBARAN PEREMPUAN ARAB SAUDI OLEH ...digilib.uin-suka.ac.id/36964/1/16201010016_BAB-I_V...PENGGAMBARAN PEREMPUAN ARAB SAUDI OLEH MEDIA DARING (Analisis Wacana Kritis Fairclough

Mar 08, 2021

Download

Documents

dariahiddleston
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
  • PENGGAMBARAN PEREMPUAN ARAB SAUDI OLEH MEDIA DARING

    (Analisis Wacana Kritis Fairclough pada Media Al-Jazirah Online dan Al-

    Madina)

    Tesis

    Disusun Oleh:

    Rifa’atul Mahmudah

    NIM : 16201010016

    TESIS

    Diajukan kepada Program Studi Magister Bahasa dan Sastra Arab

    Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga

    Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Magister Humaniora

    YOGYAKARTA

    2019

  • iii

  • iv

  • vi

    MOTO

    لكّل مقام مقال و لكّل مقال مقام

    The more that you read, the more things that you’ll know

    The more that you learn, the more place that you’ll go

    (Dr Seuss)

  • vii

    ABSTRAK

    KSA (Kingdom of Saudi Arabia) adalah salah satu negara Arab dengan sistem

    kerajaannya yang otoriter. Bahkan, banyak kebijakan yang timpang antara laki-

    laki dan perempuan. Perempuan Saudi banyak tidak mendapatkan hak-hak mereka

    layaknya perempuan-perempuan di beberapa negara lain. Tesis ini mengangkat

    wacana transformasi perkembangan perempuan Arab seiring dengan proses

    realisasi visi 2030 kerajaan pada berbagai ranah, yaitu ekonomi, politik, budaya,

    sosial, dan pendidikan, pada berita yang terdapat di media daring Al-Jazirah

    Online. Untuk mengetahui hal tersebut digunakan pisau teori analisis wacana

    kritis Norman Fairclough, dengan tiga kerangka kerjanya, yaitu analisis tekstual,

    praktik wacana, dan praktik sosiokultural. Rumusan masalah pada penelitian ini

    adalah (1) bagaimana media menggambarkan perempuan Arab dalam pilihan kata

    yang digunakan? (2) bagaimana proses praktik wacana perempuan Arab dalam

    media? (3) Praktik sosiokultural seperti apa yang ada di dalam media yang terkait

    dengan perempuan Arab?

    Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data

    dianalisis menggunakan teknik analisis wacana kritis menurut Fairclough, yakni

    (a) analisis teks bahasa, (b) analisis praksis wacana, (3) analisis praksis

    sosiokultural, yang terdiri dari analisis konteks situasi, sosial, dan institusi.

    Hasil penelitian yang diperoleh melalui analisis dengan menggunakan

    kerangka tiga dimensi Fairclough diantaranya: (1) berdasarkan analisis deskriptif,

    perempuan digambarkan dengan citra yang positif. (2) Berdasarkan analisis

    praktik wacana, memperlihatkan bahwa wartawan menggunakan berbagai aktor

    sosial yang kebanyakan dari pihak pemerintah untuk menunjukkan keseriusan

    dalam upaya pemberdayaan dan peningkatan taraf hidup perempuan Arab sebagai

    misi merealisasikan visi 2030. (3) Berdasarkan praktik sosiokultural menunjukan

    bahwa transformasi di kerajaan terhadap beberapa kebijakan perempuan di

    berbagai sektor, dilatarbelakangi oleh kepentingan ekonomi (economic interest),

    kerajaan mencoba keluar dari bergantung pada minyak ke ekonomi pasca-minyak

    (post-oil), dengan mendiversifikasi ekonomi kerajaan.

    Kata Kunci: Perempuan, Arab, Media, Daring, Analisis Wacana Kritis

  • viii

    التجريد من العديد ، الواقع في. السلطوي الملكي النظام ذات العربية الدول السعودية العربية المملكة

    على يحصلن ال السعوديات النساء من العديد. والنساء الرجال بين غير متزاون السياسات المرأة تطور تغيير عن الخطاب البحث هذا يبحث. األخرى البلدان بعض في النساء مثل حقوقهن

    وهي ، المجاالت مختلف في 0202 السعودية المملكة رؤية تحقيق جانب إلى العربية على اإلعالم وسائل في الموجودة األخبار على والتعليم، واالجتماعية والثقافة والسياسة االقتصاد لنورمان النقدي الخطاب تحليل نظرية تستخدم الباحثة ، لذلك. الين أون لجزيرةا في اإلنترنت. والثقافية االجتماعية والممارسة الخطاب، وممارسة النصي، التحليل وهي إطارات، ثالثةب فيركلو،

    الكلمات اختيار في العربية المرأة اإلعالم وسائل تصف كيف( 1) هي وأما أسئلة البحث ما( 0) اإلعالم؟ وسائل في العربية المرأة حول الخطاب ممارسة عملية هي ما (0) المستخدمة؟

    العربية؟ بالمرأة المتعلقة اإلعالم وسائل في الموجودة والثقافية االجتماعية سياق هي تحليل باستخدام البيانات وأما تحليل. النوعي الوصفي يستخدم هذا البحث المنهج

    الخطاب، وممارسة النصي، التحليل وهي إطارات، ثالثةب فيركلو، لنورمان النقدي الخطاب .والمؤسسي االجتماعي السياق تتكون من والثقافية، والتي االجتماعية والممارسة. إيجابية بصورة النساء تصوير يتم الوصفي، التحليل إلى مضافا ( 1) أن البحث على تدل نتائج

    من متنوعة مجموعة يستخدم الصحافي أن يُظهر للخطاب، العملي التحليل إلى مضافا ( 0) لتمكين المبذولة الجهود في الجدية إلظهار الحكومة من معظمها االجتماعية الفاعلة الجهات الممارسات على بناء ( 0. )0202 رؤية لتحقيق العربية المرأة معيشة مستوى وتحسين

    مختلف في المرأة سياسات بعض على المملكة في التحول هذا يظهر والثقافية، االجتماعية بعد ما اقتصاد في النفط على االعتماد من والخروج االقتصادية، المصالح من بدافع المجال،

    .الملكي االقتصاد تنويع خالل من النفط، .النقدي الخطاب تحليل، االنترنت اإلعالم، عبر الكلمة الرئيسية: المرأة، العربية، وسائل

  • ix

    PEDOMAN TRANSLITERASI

    Pedoman trasliterasi dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia yang

    digunakan dalam tesis ini mengikuti Pedoman Transliterasi Arab-Latin hasil

    keputusan bersama Mentri Agama dan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan yang

    diterbitkan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama

    Republik Indonesia pada tahun 2003, yaitu sebagai berikut:

    1. Konsonan Tunggal

    Fonem konsonan Bahasa Arab yang dalam sistem tulisan Arab

    dilambangkan dengan huruf, sedangkan dalam transliterasi ini sebagian

    dilambangkan dengan tanda dan sebagian lagi dilambangkan dengan huruf serta

    tanda sekaligus. Daftar huruf Arab dan transliterasinya dengan huruf Latin adalah

    sebagai berikut:

    Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama

    alif tidak dilambangkan tidak dilambangkan ا ba b be ب ta t Te ت

    s\a s ث \ es (dengan titik di atas)

    jim j Je ج

    h{a h} ha (dengan titik di حbawah)

    kha kh ka dan ha خ

  • x

    dal d de د

    z|al z\| zet (dengan titik di ذatas)

    Ra r er ر zai z zet ز sin s es س Syin sy es dan ye ش

    s ص }ad s } es (dengan titik di bawah)

    d}ad d} de (dengan titik di ضbawah)

    t ط }a t } te (dengan titik di bawah)

    z}a z} zet (dengan titik di ظbawah)

    ain ...‘... koma terbalik di‘ عatas

    gain g ge غ fa f ef ف qaf q ki ق kaf k ka ك Lam l el ل mim m em م

  • xi

    nun n en ن wau w we و ha h ha ه hamzah ...’... apostrof ء ya y ye ي

    2. Vokal

    Vokal bahasa Arab seperti vokal bahasa Indonesia terdiri dari vokal

    tunggal atau monoftong atau vokal rangkap atau diftong.

    a. Vokal Tunggal

    Tanda Nama Huruf Latin Nama

    ..َ... fath }ah a A

    ...ِ... kasrah i I

    ..ُ... dammah u U

    b. Vokal Rangkap

    Tanda dan

    Huruf

    Nama Gabungan

    Huruf

    Nama

    fath ....ي }ah dan ya ai

    a

    dan i

    fath ....و }ah dan wau au

    a

    dan u

  • xii

    3. Maddah

    Maddah atau vokal panjang yang lambangya berupa harakat dan huruf,

    transliterasinya berupa huruf dan tanda sebagai berikut:

    Harakat

    dan Huruf

    Nama Huruf dan

    Tanda

    Nama

    ا....َ...

    ي....ِ..

    fath }ah

    dan alif atau ya

    a>

    a

    dan garis

    di atas

    ....ِ..ي

    kasrah

    dan ya

    i >

    i

    dan garis

    di atas

    ....ُ..و

    dammah

    dan wau

    u>

    u

    dan garis

    di atas

    4. Ta Marbutah

    Trasliterasi untuk Ta Marbutah ada dua:

    a. Ta Marbutah hidup atau yang mendapatkan harakat fathah, kasrah atau

    dammah trasliterasinya adalah /t/.

    b. Ta Marbutah mati atau mendapat harakat sukun transliterasinya adalah /h/.

    c. Kalau pada suatu kata yang akhir katanya Ta Marbutah diikuti oleh kata

    yang menggunakan kata sandang /al/ serta bacaan kedua kata itu terpisah

    maka Ta Marbutah itu ditrasliterasikan dengan /h/.

    5. Syaddah (Tasydid)

  • xiii

    Syaddah atau Tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan

    dengan sebuah tanda yaitu tanda Syaddah atau Tasydid. Dalam transliterasi ini

    tanda Ssyaddah tersebut dilambangkan dengan huruf, yaitu huruf yang sama

    dengan huruf yang diberi tanda Syaddah itu.

    6. Kata Sandang

    Kata sandang dalam bahasa Arab dilambankan dengan huruf yaitu . ال

    Namun dalam transliterasinya kata sandang itu dibedakan antara kata sandang

    yang diikuti oleh huruf Syamsiyyah dengan kata sandang yang diikuti oleh huruf

    Qamariyyah.

    Kata sandang yang diikuti oleh huruf Syamsiyyah ditrasliterasikan sesuai

    dengan bunyinya yaitu huruf /l/ diganti dengan huruf yang sama dengan huruf

    yang langsung mengikuti kata sandang itu. Sedangkan kata sandang yang diikuti

    oleh huruf Qamariyyah ditrasliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di

    depan dan sesuai dengan bunyinya. Baik didikuti dengan huruf Syamsiyyah atau

    Qomariyah, kata sandang ditulis dari kata yang mengikuti dan dihubungkan

    dengan kata sambung.

  • xiv

    KATA PENGANTAR

    Syukur, alhamdulilah, berkat karunia Allah akhirnya naskah ini dapat

    selesai meskipun terdapat sejumlah catatan di sana sini serta pemakluman atas

    kelayakannya dalam memenuhi tugas akhir sebagai prasyarat memeroleh gelar

    Master Humaniora. Kendati demikian, dengan kekurangan-kekurangan tersebut,

    insya Allah tesis di tangan pembaca ini tetap layak untuk dibaca serta

    ditindaklanjuti dalam penelitian berikutnya.

    Tesis ini berjudul “Representasi Perempuan Arab dalam Media Daring

    (Analisis Wacana Kritis Fairclough pada Media Al-Jazirah Online(”. Kiranya,

    penulis perlu mengucapkan terimakasih kepada individu-individu yang telah

    berkontribusi dalam penyelesaiannya, di antaranya:

    1. Prof. Drs. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., Rektor UIN Sunan Kalijaga.

    2. Dr. H. Akhmad Patah, M.Ag., Dekan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya.

    3. Dr. Tatik Maryatut Tasnimah, M.Ag, selaku ketua prodi Bahasa dan

    Sastra Arab beserta para staf.

    4. Prof. Dr. H. Sugeng Sugiyono, M.A., selaku pembimbing yang telah

    banyak mencurahkan waktu dan perhatian penulisan tesis ini.

    5. Dr. Ridwan, S.Ag, M.Hum. dan Dr. Hisyam Zaini, M.A., selaku

    penguji sidang tesis.

    6. Kedua orangtua tercinta, M. Baidah dan Khurotin serta adik M. Autur

    Rohman atas segala doa dan dukungan.

  • xv

    7. Teman-teman sekelas dan angkatan kedua program magister BSA

    (Alma, Asqi, Drei, Faulina, Imron, Lulu, dan Nia) atas dukungan dan

    semangat dan lain-lainnya.

    Atas semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyelesaian naskah ini

    yang tidak dapat disebutkan satu persatu semoga Allah berkenan memberi balasan

    yang berlipat ganda, jazakumullahh khairal jaza’.

    Terakhir, penulis mohon maaf atas keterbatasan dan kekurangan dalam

    penulisan tesis ini. Untuk itu, sudi kiranya pembaca sekalian memberikan kritik

    dan saran dalam penyempurnaan karya ini.

    Yogyakarta, 30 Juli 2019

    Rifa’atul Mahmudah, S.S

    NIM. 16201010016

  • xvi

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i

    PERNYATAAN KEASLIAN .......................................................................... ii

    PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI ............................................................. iii

    NOTA DINAS PEMBIMBING ....................................................................... iv

    PENGESAHAN ............................................................................................... v

    MOTO .............................................................................................................. vi

    ABSTRAK ....................................................................................................... vii

    PEDOMAN TRANSLITERASI ...................................................................... ix

    KATA PENGANTAR ..................................................................................... xiv

    DAFTAR ISI .................................................................................................... xvi

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang .......................................................................................... 1

    B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 7

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................................. 8

    D. Tinjauan Pustaka ....................................................................................... 9

    E. Landasan Teori .......................................................................................... 14

  • xvii

    1. Wacana dan Analisis Wacana Kritis .................................................... 14

    2. Kerangka Tiga-Dimensi AWK Fairclough .......................................... 17

    a. Analisis Tekstual ........................................................................... 19

    b. Analisis Praktik Wacana ............................................................... 22

    c. Analisis Praktik Sosiokultural ....................................................... 23

    F. Metode Penelitian ..................................................................................... 25

    G. Sistematika Penulisan ............................................................................... 28

    BAB II ANALISIS TEKSTUAL WACANA PEREMPUAN ARAB PADA

    MEDIA DARING AL-JAZIRAH ONLINE

    A. Gambaran Umum Visi 2030 ..................................................................... 29

    B. Analisis Tekstual Berita pada Portal Berita Al-Jazirah Online

    dan Al-Madina .......................................................................................... 32

    1. Teks 1, Berita Berjudul al-tarkhi >ṣu li ṡala >ṡi murosysyida >tin siya >hiya>tin fi >

    tabu >k (Pemberian Lisensi untuk Tiga Pemandu Wisata Perempuan di

    Tabuk) .................................................................................................. 32

    2. Teks 2, Berita Berjudul safi >r al-mamlakati lada > al-urduni yuakkidu anna

    al-mar'ata al-sa’udiyyata aṣbahat syari >kan fa >’ilan wa mu’aṡṡiran (Duta

    Besar Saudi untuk Jordan Menegaskan bahwa Perempuan Saudi Telah

    Menjadi Mitra yang Aktif dan Berpengaruh) ....................................... 36

    3. Teks 3, Berita Berjudul jam’iyyat al-funu >ni al-tasyki >liyyati tuqi >mu

    ma’raḍan ihtifa'an bi yaum al-mar'ati (Asosiasi Seni Rupa Mengadakan

    Pameran untuk Merayakan Hari Perempuan) ...................................... 40

  • xviii

    4. Teks 4, Berita Berjudul nafaẑatha > syarikatu taṭwi >rin lil maba >ni >.. wiza>ratu

    al-ta’li >mi taftatiḥu aula > ḥaḍana>t al-aṭfa>li li mansu >ba>tiha>

    (Diimplementasikan oleh Sebuah Perusahaan Pengembangan untuk

    Bangunan, Kementerian Pendidikan Membuka Taman Pendidikan Anak

    Pertama untuk Para Anggotanya) ......................................................... 46

    5. Teks 5, Berita Berjudul Bana>ṭ al-waṭani... ḥuḍurun mumayyizun fi>

    khidmat al-hujjaji bi “al-masya>’iri” (Puteri-puteri Tanah Air, Kehadiran

    Istimewa dalam Pelayanan Jamaah Haji di “masya>’iri”) ..................... 51

    6. Teks 6, Berita Berjudul miata>ni sayyidah yusyarikna fi > ma’raḍ al-ri >ḥi

    bijaddah (Dua Ratus Perempuan Berkontribusi dalam Pameran Karpet di

    Jeddah) ................................................................................................. 56

    7. Teks 5, Berita Berjudul al-mar'ah al-sa’diyyah taqtaḥimu maja>li tasygil al-

    ra>fi’a>t al-‘imlaqah (Perempuan Arab Saudi Mengoperasikan Derek

    Raksasa) ............................................................................................... 60

    BAB III ANALISIS PRAKTIK WACANA PEREMPUAN ARAB SAUDI

    A. Wacana Perkembangan Ekonomi Perempuan Arab Saudi ....................... 65

    1. Terbukanya Peluang Kerja di Ruang Publik bagi Perempuan Saudi ... 65

    2. Citra Positif Peran “Aktif” Perempuan ................................................ 67

    3. Pameran Karpet sebagai Penggerak Mobilitas Ekonomi ..................... 69

    B. Berita Wacana Keikutsertaan Perempuan Arab Saudi di Ranah Politik ... 71

    1. Perhatian Kerajaan Terhadap Perempuan Arab Saudi ......................... 72

    2. Peran Perempuan Arab Saudi sebagai Pengambil Keputusan ............. 73

  • xix

    C. Wacana Keterlibatan Perempuan Arab Saudi di Bidang Seni

    dan Budaya ................................................................................................ 74

    1. Pemberdayaan Perempuan Melalui Visi 2030 ..................................... 74

    2. Peran Ganda Perempuan ...................................................................... 76

    D. Teks 4, Wacana Pendidikan bagi Anak-anak dan Stabilitas Psikologis

    Perempuan Arab Saudi ............................................................................. 77

    1. Pendidikan Anak-anak Pegawai Perempuan ........................................ 77

    2. Stabilitas Psikologis Perempuan Pekerja ............................................. 79

    E. Wacana Terbukanya Ruang-ruang Sosial Perempuan Arab Saudi ........... 79

    1. Kontribusi Perempuan Arab Saudi di Musim Haji .............................. 81

    2. Peluang Kerja di Musim Haji ............................................................... 82

    3. Pengoperasian Derek Raksasa oleh Perempuan Arab Saudi ................ 83

    BAB IV ANALISIS PRAKTIK SOSIOKULTURAL WACANA

    PEREMPUAN ARAB PADA MEDIA DARING AL-JAZIRAH ONLINE

    A. Analisis Konteks Situasi, Sosial dan Institusional .................................... 86

    1. Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Arab........................................... 86

    a. Visi 2030 dan Terbukanya Peluang Kerja bagi Perempuan .......... 86

    b. Sistem Ideologi Kerajaan .............................................................. 92

    c. Konteks Institusional pada Berita al-tarkhi >ṣu li ṡala >ṡi murosysyida >tin

    siya >hiya>tin fi > tabu >k (Pemberian Izin untuk Tiga Pemandu Wisata

    Perempuan di Tabuk) .................................................................... 95

    2. Konteks Sosial Wacana Politik Perempuan Arab Saudi ...................... 97

    a. Babak Baru Perempuan Arab di Ranah Politik ............................. 97

  • xx

    b. Longgarnya Sistem Monarki Konservatif ..................................... 99

    c. Konteks Institusional pada Berita safi >r al-mamlakati lada>

    al-urduni yuakkidu anna al-mar'ata al-sa’udiyyata aṣbahat syari >kan

    fa>’ilan wa mu’aṡṡiran (Duta Besar Saudi untuk Jordan Menegaskan

    bahwa Perempuan Saudi Telah Menjadi Mitra yang Aktif dan

    Berpengaruh) ................................................................................. 102

    3. Ruang Sosial-Budaya Perempuan Arab Saudi di Hari Perempuan

    Internasional ......................................................................................... 104

    a. Pameran Seni Rupa Sebagai Bentuk Transformasi Sosial ............ 105

    b. Tujuan visi 2030 “promoting culture and entertainment” ............ 107

    c. Konteks Institusional pada Berita jam’iyyat al-funu >ni al-tasyki >liyyati

    tuqi >mu ma’raḍan ihtifa'an bi yaum al-mar'ati (Asosiasi Seni Rupa

    Mengadakan Pameran untuk Merayakan Hari Perempuan) .......... 109

    4. Peningkatan Akses Pendidikan Anak Pegawai Perempuan ................. 111

    a. Pendidikan Anak Sebagai Upaya Pemberdayaan Sosial Perempuan

    Arab Saudi ..................................................................................... 111

    b. Konteks Institusional pada Berita nafaẑatha > syarikatu taṭwi >rin lil

    maba >ni >.. wiza >ratu al-ta’li >mi taftatihu aula> haḍana >t al-aṭfa>li li

    mansu >ba>tiha > (Diimplementasikan oleh Sebuah Perusahaan

    Pengembangan untuk Bangunan, Kementerian Pendidikan Membuka

    Taman Pendidikan Anak Pertama untuk Para Anggotanya) ......... 115

    5. Ruang-ruang Sosial Permpuan Arab Saudi .......................................... 116

    a. Partisipasi Perempuan Arab Saudi di Musim Haji ........................ 116

  • xxi

    b. Konteks Institusional pada Berita Bana>ṭ al-waṭani... ḥuḍurun

    mumayyizun fi > khidmat al-hujjaji bi “al-masya>’iri” (Puteri-puteri

    Tanah Air, Kehadiran Istimewa dalam Pelayanan Jamaah Haji di

    “masya>’ir”( .................................................................................... 118

    c. Kemampuan Teknologi Perempuan Arab Saudi ........................... 118

    d. Konteks Institusional Berita al-mar'ah al-sa’diyyah taqtaḥimu maja>li

    tasygil al-ra>fi’a>t al-‘imlaqah (Perempuan Arab Saudi Mengoperasikan

    Derek Raksasa) .............................................................................. 120

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan ............................................................................................... 122

    B. Saran ......................................................................................................... 124

    DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 126

    LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................ 133

    CURRICULUM VITAE ................................................................................ 148

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Bahasa sebagai alat komunikasi membantu pemahaman pesan dalam komunikasi

    antar manusia, dengan bahasa pula manusia bisa menjalin kehidupan sosial dengan

    sesamanya.1 Bahasa menjadi sarana krusial ketika difungsikan sebagai transmisi pesan

    manusia dalam bermasyarakat.2 Hal ini senada dengan pengertian bahasa yang telah diusung

    oleh Ibnu Jinni dalam al-Khashais-nya: اللغة أصوات يعبر بها كل قوم عن أغراضهم (bahasa adalah

    bunyi-bunyi yang diungkapkan oleh suatu bangsa untuk tujuan-tujuan mereka).3

    Peran bahasa sebagai transmisi pesan menjadikan bahasa sebagai sarana yang

    signifikan, tidak terkecuali di ranah media massa baik daring (online) maupun cetak. Tugas

    pokok sebuah media adalah mengkonstruksi realitas menjadi teks berita. Dalam proses

    konstruksi tersebut, bahasa menjadi instrumen utama. Bahasa dimanfaatkan oleh berita untuk

    menyampaikan maksud atau informasinya ke publik. Bahkan, selain sebagai transmisi pesan,

    bahasa dalam hal ini juga sebagai transfer ideologi pemilik media. 4

    Oleh karena itu, berita yang ada di media tidak bisa dimaknai dengan apa adanya,

    melainkan harus dimaknai secara kritis.5 Perspektif kritis memandang bahasa sebagai

    1 A. Chaedar Alwasilah, Linguistik Suatu Pengantar (Bandung: Angkasa, 2011), hlm. 92-93. 2 Kealan, Filsafat Bahasa: Realitas Bahasa, Logika Bahasa, Hermeneutika dan Postmodernisme

    (Yogyakarta: Pradigma, 2002), hlm. 289. 3 Muhammad Muhammad Dawud & Uril Bahru al-Din, al-Arabiyah wa ‘Ilm al-Lughah al-Hadi>ts

    (Malang: Lisan Arabi, 2018), hlm. 27. 4 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Teks Media (Yogyakarta: LkiS, 2009), hlm. 6. 5 Alif Hasanah & Hari Bakti Mardikantoro, “Konstruksi Realitas Seratus Hari Pertama Pemerintahan

    Jokowi-Jusuf Kalla di Media Online: Analisis Wacana Kritis Model Norman Fairclough”, SELOKA, Vol. 6, No.

    3 (2017), hlm. 234.

  • 2

    representasi yang berperan membentuk subjek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun

    strategi-strategi di dalamnya.6

    Penggunaan bahasa dalam suatu media yang berbeda, maka akan merefleksikan

    fenomena sosial maupun budaya yang berbeda pula, karena pada dasarnya tidak ada bahasa

    yang vakum konteks, bahasa tidak diartikan sebagai sebuah simbol ujaran. Bahasa perlu

    diartikan lebih dalam, bahasa memiliki “agenda tersembunyi” )hidden agenda) sehingga

    perlu dilihat kritis dan mempertanyakan penggunaan bentuk lingual tertentu.7

    Di dalam masyarakat modern, media memainkan peran penting untuk perkembangan

    politik masyarakatnya. Media tidak dianggap sebagai “alat komunikasi” yang netral dan

    kosong. Fakta peristiwa umumnya disajikan lewat bahasa berita dan bahasa berita bukanlah

    sesuatu yang bebas nilai. Karena itu, bahasa media terkadang menjadi bias terhadap beberapa

    pihak.8

    Hal yang sama juga diungkapkan oleh Berger dan Luckman yang mengatakan bahwa

    “bahasa adalah mekanisme utama dalam proses konstruksi sosial.”9 Bahasa tidak bersifat

    netral, tetapi bias dan memihak ideologi dan kekuasaan tertentu sehingga berakibat bahwa

    realitas yang dikonstruksi oleh bahasa tidak dipandang sebagai realitas yang sebenarnya

    melainkan realitas yang dikonstruksi (the constructed reality).10 Pendekatan untuk

    mengungkap apa di balik bahasa di atas adalah pendekatan kritis, melalui pendekatan ini akan

    diketahui pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana memberikan pencerahan”, sedikit

    melengkapi apa yang ada pada pendekatan deskriptif yaitu menjawab “apa” dan

    “bagaimana.”11

    6 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Teks Media (Yogyakarta: LkiS, 2009), hlm. 6. 7 Anang Santoso, Studi Bahasa Kritis: Menguak Bahasa Membongkar Kuasa (Bandung: Mandar Maju,

    2012), hlm. 16. 8 Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan

    Analisis Framing (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 32-35. 9 Anang Santoso, Studi Bahasa Kritis, hlm. 105. 10 Elya Munfarida, “Analisis Wacana Kritis dalam Perspektif Norman Fairclough,” KOMUNIKA, Vol.

    8, No. 1 (Januari-Juni 2014), hlm. 3. 11 Anang Santoso, Studi Bahasa Kritis, hlm. 101.

  • 3

    Dengan demikian, linguistik kritis bertujuan mengungkap relasi kuasa tersembunyi

    (hidden power) serta proses-proses idiologis yang muncul dalam teks lisan maupun tulis.12

    Oleh karena itu, tercapainya kemelekan media yang kritis adalah sumber penting bagi

    individu maupun masyarakat dalam belajar bertahan dalam lingkungan budaya media.

    Budaya bermedia telah menjadikan banyak orang untuk membangun naluri tentang kelas,

    etnis dan ras, kebangsaan, dan tentang “kita” dan “mereka.” Budaya media telah membentuk

    sebuah pengetahuan umum. Selain itu, pertunjukan budaya media ini juga mempertontonkan

    siapa yang berkuasa dan sebaliknya.13

    DeFluer menegaskan bahwa dalam media massa, keberadaan bahasa bukan hanya

    sebagai alat untuk menggambarkan realitas, melainkan juga menentukan makna citra

    terhadap suatu realitas yang akan muncul di benak khalayak. Oleh sebab persoalan citra

    tersebut, maka penggunaan bahasa berpengaruh terhadap konstruksi realitas, terutama dalam

    hal konstruksi citra.14

    Citra yang dikonstruk oleh media tidak terlepas dengan ideologi (metanarasi) sebuah

    media. Fairclough menyatakan bahwa ideologi sangat lekat dengan kekuasaan (power),

    terutama pada masyarakat modern yang praktik kekuasaan semakin meningkat dengan

    dicapai melalui ideologi, dan secara khusus bahasa menjadi transmisinya. Oleh sebab itu,

    ideologi juga sangat lekat dengan bahasa dikarenakan penggunaan bahasa adalah bentuk

    perilaku sosial paling umum (the commonest form of social behaviour).15 Fairclough juga

    menekankan bahwa ideologi itu konkret. Modalitas kekuasaan adalah dengan ideologi,

    12 Anang Santoso, Studi Bahasa Kritis, hlm. 101. 13 Douglas Kelner, Media Culture: Culture Studies, Identity and Politics between the Modern and

    Postmodern, terj. Galih Bondan Rambatan (Yogyakarta: Jalasutra, 2010), hlm. 1-2. 14 Aris Badara, Analisis Wacana: Teori, Metode, dan penerapannya pada Wacana Media (Jakarta:

    Kencana, 2012), hlm. 9. 15 Norman Fairclough, Language and Power (London: Longman, 1989), hlm. 2.

  • 4

    modalitas yang membentuk hubungan-hubungan kekuasaan yang menghasilkan persetujuan

    melalui sebuah kekuatan.16

    Ideologi konkret tersebut juga dibawa oleh setiap media massa, yang

    mengimplikasikan adanya konstruksi sosial. Fariclough menyatakan bahwa ideologi tertanam

    pada setiap wacana, yang diciptakan dan berperan untuk mempertahankan atau mengubah

    relasi kuasa di masyarakat. Sebagai dampak dari adanya relasi kuasa tersebut, maka

    sebenarnya kontruksi ideologi yang dibawa oleh media menuju pada terciptanya hegemoni

    dan stereotip-stereotip di masyarakat.17

    Pemberitaan media –khususnya yang berkaitan dengan peristiwa yang melibatkan

    pihak dominan– selalu disertai penggambaran timpang terhadap pihak yang tidak dominan.

    Karena itu, tidak aneh apabila gambaran perempuan, kaum buruh, dan pihak tidak dominan

    lain digambarkan dengan konotasi yang negatif.18

    Ketimpangan tersebut tampak pada kondisi perempuan-perempuan di Arab Saudi.

    Posisi perempuan Arab SAudi seringkali digambarkan secara sepihak. Perempuan di Arab

    Saudi sering dianggap kurang memiliki hak-hak sipil dan memiliki keterbatasan untuk aktif

    di ruang publik. Selama dua puluh tahun terakhir, akses perempuan Arab Saudi terhadap

    pendidikan telah meningkat tajam, berbeda dengan negara-negara Arab lainnya yang lebih

    progresif. Kendati demikian, semakin banyak perempuan Saudi lulus dari perguruan tinggi,

    mereka belum mendapatkan pekerjaan yang aman atau melakukan kegiatan yang

    menghasilkan pendapatan.19

    16 Norman Fairclough, “Critical Discourse Analysis”, dalam J. Haryatmoko, “Kondisi Ideologis dan

    Derajat Keteramalan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough”, DISKURSUS, Volume 14, Nomor 2,

    (Oktober 2015), Hlm. 158. 17 Farieda Ilhami Zulaikha, Tesis: “Wacana Perempuan pada Koran Feminis dan Non Feminis di

    Amerika )Analisis Wacana Kritis(” (Yogyakarta: UGM, 2017), hlm. 1-2. 18 Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan

    Analisis Framing (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 36. 19 Joas Wagemakers, Mariwan Kanie, & Annemarie van Geel, Saudi Arabia Between Conservatism,

    Accommodation and Reform )Netherlands: Netherlands Institute of International Relations ‘Clingendael’, 2012(,

    hlm. 9.

  • 5

    Sehubungan dengan hal tersebut, pada April 2016, Putra Mahkota Mohammad bin

    Salman meluncurkan visi 2030. Putra Mahkota mencatat, “visi kami adalah kuat, Arab Saudi

    yang berkembang dan stabil memberikan peluang bagi semua. Visi kami adalah menjadi

    negara toleran dengan Islam sebagai konstitusi dan moderasi sebagai metodenya.” Visi 2030

    menguraikan 24 tujuan khusus untuk dicapai kerajaan dalam bidang ekonomi, perkembangan

    politik dan sosial. Visi 2030 lebih lanjut mengartikulasikan 18 komitmen untuk mencapai

    tujuan ini - dengan inisiatif khusus dalam energi terbarukan, manufaktur, pendidikan, tata

    kelola elektronik, hiburan dan budaya.20

    Di sisi lain, ada sebuah tantangan tersendiri bagi pemerintah, ketika sebagian

    perempuan-perempuan Saudi mengamini apa yang mereka yakini sebagai kodrat perempuan,

    seperti halnya perempuan berada di ruang domestik, sedangkan laki-laki memiliki tanggung

    jawab untuk bekerja di ranah publik karena ideologi yang telah melekat.21 Terlepas dari hal

    itu, perempuan Saudi adalah aset besar yang dimiliki oleh negara, 50% lulusan universitas

    adalah perempuan. Oleh karenanya, pemerintah akan berinvestasi dengan mengembangkan

    bakat sehingga memungkinkan mereka dapat memperkuat masa depan mereka dan

    berkontribusi terhadap pengembangan masyarakat dan ekonomi negara.22

    Dengan demikian, visi 2030 kerajaan memiliki dampak yang signifikan terhadap

    kesejahteraan perempuan Arab Saudi. Namun, untuk mengetahui beberapa hal tersebut

    termasuk wacana sekarang terhadap perempuan Arab, maka dalam penelitian ini akan dikaji

    bagaimana media mengkonstruk wacana tentang perempuan. Memahami representasi

    20 Report, Saudi Arabia and Political, Economic & Social Development (Saudi Araia: Ministry of

    Foreign Affairs, 2017), hlm. 5.

    (dalam https://www.saudiembassy.net/reports/white-paper-saudi-arabia-and-political-economic-social-

    development, diakses pada 13 Maret 2019) 21 Anis Rosida, Wacana Modernisasi dalam Tantangan Peradaban, Peran Perempuan sebagai

    Tonggak Sejarah Arab Saudi, PALITA: Journal of Social-Religion Research, Vol.3, No. 1, (April 2018), hlm.

    82. 22 Vision 2030, hlm. 37.

    https://www.saudiembassy.net/reports/white-paper-saudi-arabia-and-political-economic-social-developmenthttps://www.saudiembassy.net/reports/white-paper-saudi-arabia-and-political-economic-social-development

  • 6

    perempuan Arab Saudi yang merupakan bagian dari keterwakilan realitas, setidaknya

    dilandasi pemahaman bahwa dunia itu bukan sesuatu yang apa adanya (given).23

    Mengkaji bagaimana kondisi perempuan Arab Saudi sekarang ini menjadi menarik,

    terutama kajian media daring sebagai media populer yang banyak digunakan khalayak.

    Dengan demikian akan diketahui prospek perkembangan perempuan-perempuan di Arab

    Saudi sekarang ini. Transformasi yang dialami oleh perempuan Arab Saudi seiring dengan

    diluncurkannya visi 2030 tercermin dari berbagai bidang, yaitu ekonomi, politik, budaya,

    sosial, dan pendidikan yang ada di berita-berita media lokal daring Arab Saudi dengan basis

    media pro-goverment, yaitu http://www.al-jazirah.com dan www.al-Madina.com.

    B. Rumusan Masalah

    Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka fokus penelitian ini terletak

    pada konstruk media merepresentasikan perempuan Arab, dengan kajian kritis Fairclough

    yang melihat keterhubungan antara teks, praktik diskursus (wacana), dan praktik

    sosiokultural, yang di antaranya akan dipaparkan melalui beberapa pertanyaan sebagai

    berikut:

    1. Bagaimana diksi yang digunakan media dalam menggambarkan perempuan Arab Saudi?

    2. Bagaimana strategi intertekstualitas dalam praktik wacana perempuan Arab Saudi dalam

    media?

    3. Bagaimana konteks sosiokultural yang ada pada wacana perempuan Arab Saudi di dalam

    media daring?

    23 Anang Santoso, Bahasa Perempuan: Sebuah Potret Ideologi Perjuangan (Jakarta: Bumi Aksara,

    2009), hlm. 21.

    http://www.al-jazirah.com/

  • 7

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1. Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan karya ini untuk

    mengungkapkan:

    a. Sarana tekstual yang dipilih oleh media dalam mengkonstruk wacana perempuan Arab.

    b. Strategi intertekstualitas dalam praktik wacana perempuan Arab Saudi oleh media.

    c. Konteks sosiokultural yang meliputi wacana perempuan Arab Saudi dalam media.

    2. Kegunaan Penelitian

    Kegunaan dalam penilitian tentang representasi perempuan dalam media Arab ini

    memiliki dua orientasi kegunaan, yaitu:

    a. Secara teoritis, adanya penelitian ini akan memperkaya khazanah keilmuwan, dalam hal

    keterkaitan antara struktur teks, wacana, dan aspek sosial yang termanifestasi melalui

    bahasa. Sehingga tidak hanya aspek deskriptif struktural saja, melainkan aspek sosial

    juga menjadi pembahasan.

    b. Kegunaan praktis, ketika melihat suatu wacana dari hasil realitas sosial dengan

    pendekatan kritis memungkinkan seseorang untuk lebih berhati-hati, terutama ketika

    membaca sebuah media.

    D. Tinjauan Pustaka

    Penelitian tentang perempuan Arab Saudi dengan menggunakan pisau analisa AWK

    Fairclough belum banyak ditemukan, khususnya pada media Al-Jazirah Online dan Al-

    Madinah. Di antara penelitian terdahulu terkait dengan perempuan Arab baik berupa artikel

    jurnal, tesis, dan disertasi akan dipaparkan sebagai berikut:

  • 8

    Artikel jurnal tentang pendidikan perempuan Saudi yang berada di bawah laki-laki

    dengan dipengaruhi pemahaman keagamaan masyarakat Saudi. Artikel tersebut berjudul

    Review of Women and Society in Saudi Arabia, ditulis oleh Yahya Al Alhareth, Yasra Al

    Alhareth, dan Ibtisam Al Dighrir yang dimuat di American Journal of Educational Research,

    Vol. 3, No. 2, tahun 2015. Dengan menggunakan teori feminis fokus tulisan ini menekankan

    pada aspek pendidikan perempuan Saudi yang selalu di bawah laki-laki. Masyarakat Saudi

    adalah campuran unik antara agama dan budaya, yang menimbulkan kesulitan bagi

    pemerintah terutama bagi perempuan untuk mendapatkan akses pendidikan. Pemahaman

    Islam versi mereka digunakan untuk menghakimi pendidikan perempuan, bahwa perempuan

    dididik untuk menjadi ibu yang baik di dalam rumah. Padahal sebenarnya, ajaran Islam

    sangat menghormati wanita. Pendidikan seharusnya diberikan kepada semua Muslim. Oleh

    karena itu, status perempuan dalam masyarakat seperti itu perlu ditingkatkan dengan

    memperlakukan mereka dengan lebih hormat dan memastikan hak-hak mereka sebagai

    manusia dihormati karena cara-cara seperti itu akan meningkatkan kesempatan mereka untuk

    menyelesaikan pendidikan mereka.

    Martin Hvidt (2018) dalam artikel jurnalnya yang berjudul The new role of Women in

    the New Saudi Arabian Economy, yang dimuat dalam Center for Mellemᴓststudier Syddansk

    Universitet. Artikel ini menjelaskan tentang peran perempuan dalam pembangunan Arab

    Saudi yang baru terutama dalam sektor ekonomi, yang merupakan tujuan utama dari visi

    2030. Jumlah perempuan bekerja hanya 10%, sedangkan laki-laki 40%, menurut standar

    internasional, angka-angka ini sangat rendah. Dalam upaya meningkatkan jumlah total orang

    Saudi yang bekerja, Visi 2030 melakukan upaya khusus untuk meningkatkan persentase

    perempuan dalam angkatan kerja. Oleh karena itu, Mohammad bin Salman telah meminta

    berbagai entitas di sektor publik untuk membuka pekerjaan yang ditargetkan pada

    perempuan. Di antara beberapa peluang kerja yang telah dibuka di antaranya dilakukan oleh

  • 9

    Direktorat Jenderal Paspor membuka 140 pekerjaan, Departemen Kehakiman yang berencana

    untuk merekrut 300 perempuan sebagai peneliti sosial, asisten administrasi, peneliti

    yurisprudensi Islam dan peneliti hukum, Selain itu, pekerjaan perempuan dalam militer telah

    dibuka.

    Artikel jurnal yang berjudul ’Deviant’ Women in English Arab Media: comparing in

    Iraq, Saudi Arabia and Qatar (Wanita yang ‘Menyimpang’ dalam Media Arab Inggris:

    Perbandingan di Irak, Arab Saudi dan Qatar) oleh Ahmad Lida dan Priscyll Anctil Avoine,

    dalam Reflexión Política, vol. 18, no. 36, juli-Desember, 2016, Universidad Autónoma de

    Bucaramanga, Bucaramanga, Colombia. Artikel ini menjelaskan tentang gambaran

    perempuan Arab/muslim dalam media Arab, sebuah kajian mengenanai gender terutama

    setelah kejadian 9/11. Adapun yang dimaksud’Deviant’ Women adalah perempuan yang tidak

    mengikuti setereotip gender dalam masyarakat mereka. Data diambil dari tiga media daring

    (online) Arab yang berbahasa Inggris, yaitu: Arab News (berpusat di Saudi Arabia) sebuah

    media independen, AJE (berpusat di Qatar), dan Iraqi News (berpusat di Bahrain dan Iraq).

    Hasil yang diperoleh adalah bahwa ketiga media lebih tertutup perihal memberitakan

    perempuan Arab di negaranya, di antara ketiga media, AJE adalah media paling progresif,

    sedangkan Arab News, karena dibatasi oleh kontrol sosial kerajaan terhadap perempuan,

    maka pemberitan mengenai isu-isu perempuan tidak terlalu banyak. Sebagai penutup, berita

    Irak menyajikan visi yang cukup embrionik tentang perempuan “yang menyimpang” )dan

    perempuan pada umumnya), karena kolom opini yang kurang berkembang dan rendahnya

    kehadiran jurnalis perempuan.

    Berikutnya, artikel tentang karya dari tiga penulis teluk perempuan yang saling

    merepresentasikan daerah mereka, yaitu Laila > al-‘Uthma>n (Kuwait), Raja >’ A

  • 10

    tersebut dalam menggambarkan negara mereka dengan cara yang berbeda, penulis Kuwait

    konservatif dan tanah suci Saudi Arabia dengan strategi humor, parodi, dan alegori (kiasan),

    sedangkan Husayn (Iraq) membumbui teksnya dalam suasana kesedihan yang meresap yang

    mencerminkan penderitaan tanah yang lama dilanda perang. Para penulis ini juga berhasil

    menjembatani kesenjangan antara ranah privat dan publik, serta menawarkan narasi di mana

    pribadi juga memiliki tempat baik dalam politik, budaya, dan sejarah.

    Abdul Aziz (2008) menggunakan AWK Norman Fairclough dalam tesisnya yang

    berjudul “Representasi Aktor dan Peristiwa Sosial dalam Krisis Politik Suriah oleh Al-

    Jazeera Arabic dengan Al-Jazeera English )Tinjauan Analisis Wacana Kritis”, Universitas

    Gajah Mada. Penelitian ini tentang representasi aktor dan peristiwa sosial dalam wacana

    krisis politik Suriah pasca revolusi Arab Spring, yang ada di dalam dua media yaitu Al-

    Jazeera Arabic (AJA) dengan Al-Jazeera English (AJE), serta membandingkan keduanya.

    Hasilnya, AJA cenderung menggunakan bahasa deskriptif dalam merepresentasikan aktor

    sosial dan peristiwa sosial. AJA cenderung merepresentasikan aktor secara sepihak,

    sementara AJE cenderung melibatkan berbagai pihak yang terlibat dalam konflik Suriah.

    Wacananya dibingkai oleh AJA ke dalam frame kejahatan perang al-Assad dan sekutu (satu

    pihak), sedangkan AJE membingkainya ke dalam frame perang sipil Suriah yang melibatkan

    berbagai pihak dan faktor. Pada tataran struktur sosial, AJA memiliki strategi representasi

    yang partisan, ideologis dan berpihak, dan berpihak kepada kebijakan luar negeri Qatar. AJE

    memiliki strategi representasi yang non-partisan, non-ideologis, dan tidak memihak.

    Dari beberapa penelitian di atas dapat diklasifikasikan menjadi dua aspek, yaitu

    perempuan Saudi dan teori analisis wacana Fairclough. Aspek pertama terdapat pada artikel

    jurnal pertama kedua, ketiga, dan keempat. Artikel jurnal pertama menjelaskan tentang

    perempuan Saudi dan kedudukan pendidikan yang masih di bawah laki-laki. Artikel kedua

    menjelaskan tentang progresivitas perekonomian dengan memberikan perempuan Saudi

  • 11

    pekerjaan. Artikel ketiga menjelaskan tentang penggambaran perempuan Arab oleh media

    Arab yang masih tertutup. Artikel keempat menjelaskan tentang para penulis perempuan

    Arab yang terdiri dari Kuwait, Arab Saudi, dan Irak, melalui tulisan-tulisan mereka berhasil

    menjembatani kesenjangan antara ranah privat dan publik.

    Aspek kedua terdapat pada disertasi dan tesis yang terletak setelah artikel jurnal di

    atas. Penggunaan teori analisis wacana kritis Fairclough oleh tesis tersebut digunakan untuk

    membandingkan suatu wacana pada media yang berbeda Tesis mengambil dua poin yaitu

    aktor dan peristiwa sosial dalam krisis politik suriah oleh Al-Jazeera Arabic dengan Al-

    Jazeera English. Dari beberapa penelitian tersebut, maka posisi penelitian ini terletak pada

    bagaimana media lokal Saudi menggambarkan perempuan Saudi itu sendiri, yang

    termanifestasi dalam beberapa bidang, yaitu ekonomi, politik, budaya, sosial. Selain itu,

    penggunaan teori analisis wacana Fairclough menjadikan sebuah analisa lebih komprehensif,

    karena menjalinrelasikan antara analisis deskriptif yang bersifat struktural (mikro) dan

    analisis sosial yang bersifat makro.

    E. Landasan Teori

    1. Wacana dan Analisis Wacana Kritis

    Wacana (discourse) telah diperkenalkan oleh Zelling Harris pada tahun 1952. Pada

    awalnya, Zelling menganalisis bagaimana kalimat-kalimat dalam suatu teks dihubungkan

    oleh semacam tata bahasa yang diperluas. Akar kemunculan istilah wacana sebenarnya telah

    diperngaruhi oleh pemikiran Halliday. Pandangan Halliday tentang bahasa bahwa bahasa

    sebagai semiotika sosial. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk-bentuk bahasa mengkodekan

    representasi dunia yang dikonstruksikan secara sosial.24

    24 Yoce Aliah, Analisis Wacana Kritis dalam Multiperspektif (Bandung: Refika Aditama, 2014), hlm.

    19-20.

  • 12

    Pandangan Halliday ini kemudian banyak mengilhami para ahli bahasa dalam

    mengkaji wacana. Menurut Fairclough, wacana dipahami sebagai sebuah tindakan dan bentuk

    interaksi. Wacana tidak berada dalam ruang tertutup, dalam arti tidak ada wacana yang

    vakum sosial. Pengertian tersebut mengimplikasikan dua hal, pertama, wacana memiliki

    tujuan untuk berbagai hal seperti membujuk, mempengaruhi, menyanggah, dan

    mempersuasif. Kedua, wacana diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang di

    luar kendali.25

    Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis (selanjutnya akan disingkat AWK)

    yang memusatkan perhatian pada penemuan kekuatan yang dominan dalam memarginalkan

    dan meminggirkan kelompok yang tidak dominan.

    AWK bertujuan untuk mengritik dan mentransformasi hubungan sosial yang timpang,

    yakni ketimpangan yang disebabkan oleh dominasi kelompok yang kuat terhadap kelompok

    yang lemah atau menghilangkan keyakinan dan gagasan palsu tentang masyarakat dan

    mengritik sistem kekuasaan yang tidak seimbang dan struktur yang mendominasi dan

    menindas orang.26

    Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perubahan sosial

    (sosiocultural change approach) oleh Fairclough, yaitu suatu model yang mengintegrasikan

    secara bersama-sama analisis wacana didasarkan pada linguistik dan pemikiran sosial dan

    politik, dan secara umum diintegrasikan pada perubahan sosial.27 Fairclough berupaya

    mengkombinasikan teori sosial (wacana) dengan linguistik yang kemudian melahirkan teori

    linguistik kritis. Kombinasi ini pada gilirannya sangat bermanfaat untuk melihat bagaimana

    25 Yoce Aliah, Analisis Wacana Kritis dalam Multiperspektif (Bandung: Refika Aditama, 2014), hlm.

    20-21. 26 Yoce Aliah, Analisis Wacana Kritis dalam Multiperspektif (Bandung: Refika Aditama, 2014), hlm.

    145. 27 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Teks Media, hlm, 285-286.

  • 13

    relasi kuasa di balik teks dan bagaimana kekuasaan idiologis diartikulasikan secara

    tekstual.28

    AWK mengkonsepsikan bahasa sebagai suatu bentuk praktik sosial dan berusaha

    membuat masyarakat sadar akan pengaruh timbal-balik antara bahasa dan struktur sosial

    yang biasanya tidak mereka sadari.29 Dari hubungan yang kompleks antara bahasa dan fakta

    sosial, bisa diketahui efek ideologis yang seringkali tidak jelas dan tersembunyi dalam

    penggunaan bahasa maupun pengaruh relasi kekuasaan.30 Objek AWK menurut Fairclough

    adalah semua teks yang merupakan sumber data, bisa berupa dokumen, kertas diskusi, film,

    televisi, pidato, kartun, foto, koran, risalah politik, pamflet, artefacts budaya seperti gambar,

    bangunan, dan musik.31

    Bagi Fairclough, studi bahasa kritis (pendekatan kritis) telah berperan dalam

    mengembangkan kesadaran khusus mereka yang didominasi dengan cara-cara linguistik, hal

    ini dikarenakan ilmu-ilmu sosial tidaklah netral, ilmu ini memiliki hubungan khusus dengan

    kelompok atau kekuatan dominan atau yang didominasi. Selain itu, pendekatan ini juga

    menunjukkan bagaimana masyarakat dan wacana saling membentuk (wacana dibentuk oleh

    masyarakat dan masyarakat dibentuk oleh wacana).32

    Fowler menekanankan sesuatu yang amat fundamental dalam pandangan Fairclough

    adalah adanya fungsi relasi antara konstruksi tekstual dengan kondisi-kondisi sosial,

    institusional, dan ideologis dalam proses-proses produksi serta resepsinya. Struktur-struktur

    linguistik digunakan untuk mensistematisasikan dan mentransformasikan realitas. Oleh

    28 Elya Munfarida, Analisis Wacana Kritis dalam Perspektif Norman Fairclough, hlm, 3. 29 Stefan Titscher, dkk, Metode Analisis Teks & Wacana, Terj. Gazali, dkk (Yogyakarta: Pustaka

    Pelajar, 2009), hlm., 239. 30 Stefan Titscher, dkk, Metode Analisis Teks & Wacana, hlm., 241. 31 Norman Fairclough, “Critical Discourse Analysis” )1995( dalam J. Haryatmoko, “Kondisi Ideologis

    dan Derajat Keteramalan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough”, DISKURSUS, Volume 14, Nomor 2,

    (Oktober 2015), hlm. 166. 32 Norman Fairclough, Critical Language Awarness, Terj. Hartoyo (Semarang: IKIP Semarang Press,

    1995), hlm., 11.

  • 14

    karena itu, dimensi kesejarahan, struktur sosial, dan ideologi adalah sumber utama

    pengetahuan dan hipotesis dalam kerangka kerja kritisisme linguistik.33

    Fairclough memanfaatkan teori-teori dari Anthonio Gramsci dan Louis Althuser,

    Fairclough berusaha membuktikan adanya potensi transformasi sosial dalam diskursus.

    Selain itu, Fairclough mengkombinasikan teori sosial (wacana) dengan linguistik yang

    kemudian melahirkan linguistik kritis. Jalinan relasi ini pada gilirannya sangat berperan

    untuk melihat bagaimana relasi kuasa di balik teks dan bagaimana kekuasaan ideologis

    diartikulasikan secara tekstual. Signifikansi inilah yang menjadikan elaborasi terhadap kajian

    media terkait dengan teori analisis wacana kritis Norman Fairclough menjadi penting.34

    2. Kerangka Tiga-Dimensi Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough

    Wacana menurut Fairclough memiliki tiga dimensi: merupakan teks bahasa lisan atau

    tulis; suatu interaksi antar orang (deskripsi dari teks), yang melibatkan proses produksi dan

    interpretasi teks (interpretasi dari proses interaksi); dan bagian dari tindak sosial (penjelasan

    bagaimana proses interaksi berhubungan dengan tindak sosial).35 Analisis Fairclough telah

    melampaui "apa" dari deskripsi teks ke arah "bagaimana" dan "mengapa" dari interpretasi

    dan penjelasan (eksplanasi) teks.36 Model tiga dimensi Fairclough (teks, praktik kewacanaan,

    dan praktik sosial) dibedakan sebagai tiga tataran yang bisa dipisahkan secara analitis.37

    Secara umum, tujuan dari tiga dimensi itu adalah sebagai kerangka analisis dalam

    analisis wacana. Selain itu, penggunanan tiga dimensi tersebut juga disandarkan pada asumsi

    bahwa teks tidak pernah bisa dipahami atau dianalisis secara terpisah, dalam arti hanya bisa

    33 Umar Fauzan, “Analisis Wacana Kritis dari Model Fairclough hingga Mills”, Jurnal PENDIDIK,

    Vol. 6, No. 1 (2014), hlm. 2. 34 Elya Munfarida, Analisis Wacana Kritis dalam Perspektif Norman Fairclough, hlm, 3. 35 Norman Fairclough, Critical Language Awarness, hlm., 11-12. 36 Forough Rahimi & Mohammad Javad Riasati, Critical Discourse Analysis: Scrutinizing

    Ideologically-Driven Discourse. International Journal of Humanities and Social Science Vol. 1 No. 16

    (November 2011) hlm. 109. 37 Marianne W. Jorgensen & Louise J. Phillips, Analisis Wacana: Teori dan Metode (Yogyakarta:

    Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 149.

  • 15

    dipahami dalam kaitannya dengan jaring-jaring teks lain dan hubungannya dengan konteks

    sosial.38 Ketiga dimensi tersebut bisa dilihat pada gambar di bawah ini:39

    a. Analisis Tekstual

    Tahap pertama dalam kerangka analisis tiga dimensi AWK Fairclough adalah analisis

    tekstual, tahapan ini disebut juga sebagai tahapan deskriptif teks. Analisis tekstual

    memperhatikan pada pemilihan kata dan klausa. Hal yang akan diungkap adalah apa yang

    ada ‘yang terkatakan’ di dalam teks )what is ‘in’ text).40 Menurut Fairclough, ada empat hal

    38 Marianne W. Jorgensen & Louise J. Phillips, Analisis Wacana: Teori dan Metode, hlm. 130. 39 Norman Fairclough, Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language (New York:

    Rouledge, 2010), hlm. 133. 40 Abdul Aziz, Tesis: “Representasi Aktor dan Peristiwa Sosial dalam Krisis Politik di Suriah oleh Al-

    Jazeera Arabic dan Al-Jazeera English (Tinjauan Analisis Wacana Kritis)”, (Yogyakarta: Universitas Gadjah

    Mada, 2017), hlm. 14.

    Descri

    ption (text

    analysis)

    Text

    Sociocultural practice

    Process of

    production

    Interp

    retation

    (Processing

    analvsis) Expla

    nation (social

    analysis)

    Process of

    interpretation Disco

    urse

    practice/interac

    tion (Situational;

    institutional; societal)

  • 16

    yang dapat dianalisis yaitu kosakata (vocabulary), tata bahasa (grammar), kohesi, dan

    struktur teks. Kosakata berhubungan dengan kata per kata itu sendiri, tata bahasa

    berhubungan dengan kombinasi-kombinasi di dalam klausa dan kalimat, kohesi berhubungan

    dengan bagaimana klausa dan kalimat dihubungkan dengan yang lain secara bersamaan, dan

    struktur teks berhubungan dengan kekayaan penyusun teks.41 Dalam penelitian ini hanya

    diambil tiga bagian saja; kosakata (vocabulary), tata bahasa (grammar), dan kohesi.

    Baik analisis kosakata (vocabulary) maupun tata bahasa (grammar) memiliki empat

    nilai-nilai yang sama, yaitu experiential, relational, expressive, dan connective.42 Pertama,

    nilai eksperiental yang menunjuk pada jejak ideologis yang digunakan oleh produser teks

    dalam merepresentasikan dunia natural atau sosial. Nilai eksperiental penting untuk

    mengungakap ideologi yang ada dalam teks. Kedua, nilai relasional yang merupakan jejak

    tentang relasi sosial yang ditampilkan dalam teks. Nilai ini memfokuskan pada bagaimana

    pilihan penggunaan kata dalam teks berperan dan berkontribusi pada penciptaan relasi sosial

    di antara para partisipan. Ketiga, nilai ekspresif yang bermakna jejak tentang evaluasi

    produser teks tentang realitas yang terkait. Nilai ekspresif ini biasanya berhubungan dengan

    subjek dan identitas sosial. Nilai konektif yang menghubungkan bagian-bagian dalam teks.

    Selain menghubungkan bagian-bagian internal teks, nilai konektif juga terkait dengan

    hubungan teks dengan konteks situasional teks tersebut. Dalam lingkup tata bahasa, koneksi

    internal teks bisa dilihat dari penggunaan konektor (kata penghubung), referensi (kalimat

    yang dirujuk oleh kalimat setelahnya), dan kohesi di antara kalimat satu dengan kalimat yang

    lain.43

    41 Norman Fairclough, Discourse and Social Change (Cambridge: Polity Press, 1992), hlm. 75. 42 Norman Fairclough, Language and Power (New York: Reuledge, 2001), Hlm. 92-93. 43 Elya Munfarida, Analisis Wacana Kritis dalam Perspektif Norman Fairclough, hlm, 9-10.

  • 17

    a. Kosakata (vocabulary)

    Perbendaharaan kata meliputi makna kata. Satu kata bisa mempunyai banyak makna

    dan makna berbeda tergantung dari konteksnya.44 Analisis ini memfokuskan pada pilihan

    kata yang digunakan (wording) dan signifikansi politik dan ideologis.45 Pada bagian ini,

    penulis hanya mengambil dua yang akan dikemukakan untuk menganalisis kosakata yang

    digunakan, yaitu wording dan overwording. Wording adalah pengungkapan kembali kata

    yang merujuk pada realitas tertentu.46 Sedangkan overwording adalah penyebutan referent

    tertentu dengan berbagai leksis yang berlainan namun memiliki unsur sinonim atau semi

    sinonim sehingga mencerminkan penekanan kepada aspek realitas tertentu.47

    Fairclough menyatakan bahwa overwording (atau disebut juga dengan

    overlexicalization)48 seringkali melibatkan kata-kata yang bersinonim. Overwording

    menunjukkan beberapa aspek realitas, yang mengindikasikan adanya perjuangan ideologis

    tertentu. Misalkan pada sebuah contoh terdapat kata-kata yang memiliki hubungan makna

    dengan growth dan development diantaranya, increase, boost, develop, cultivate, build,

    widen, enrich.49

    Overwording merupakan fitur tekstual yang termasuk ke dalam nilai eksperiental,

    sehingga dengan mengetahui overwording akan diketahui ideologi tertentu yang merupakan

    representasi dari realitas.

    44 J. Haryatmoko, “Kondisi Ideologis dan Derajat Keteramalan Analisis Wacana Kritis Norman

    Fairclough”, DISKURSUS, Volume 14, Nomor 2, (Oktober 2015), Hlm. 181. 45 Norman Fairclough, Discourse and Social Change, hlm. 77. 46 Abdul Aziz, Tesis: “Representasi Aktor dan Peristiwa Sosial dalam Krisis Politik di Suriah oleh Al-

    Jazeera Arabic dan Al-Jazeera English (Tinjauan Analisis Wacana Kritis)”, hlm. 16. 47 Ibid, hlm. 51. 48 Norman Fairclough, Language and Power, hlm. 116. 49 Ibid, hlm. 96.

  • 18

    b. Tata Bahasa

    Tingkatan tata bahasa oleh Fairclouch dipusatkan pada transitivitas, voice (aktif dan

    pasif), nominalisasi, dan tema.50 Penelitian ini hanya membatasi aspek tata bahasa pada aspek

    voice (aktif dan pasif) atau bentuk partisipan, yaitu melihat bagaimana aktor-aktor

    ditampilkan sebagai pelaku (subjek) atau objek dalam pemberitaan. Sebagai subjek

    ditampilkan dalam bentuk kalimat aktif, seorang aktor ditampilkan melakukan suatu tindakan

    yang menyebabkan sesuatu pada objek. Sebagai objek menunjuk pada sesuatu yang

    disebabkan oleh orang lain. Strategi yang digunakan dengan menggunakan kalimat pasif.

    Kalimat pasif hanya menampilkan objek, sedangkan pelaku tidak tidak ditampilkan.51

    b. Analisis Praktik Wacana (Discourse Practice)

    Tahap ini oleh Fairclough dinamakan dengan tahap interpretasi. Tahap ini berkaitan

    dengan proses produksi teks dan interpretasi teks.52 Analisis ini termanifestasi dalam bentuk-

    bentuk linguistik, yang kemudian oleh Fairclough ditegaskan lagi bahwa yang dimaksud

    adalah teks, baik tertulis maupun lisan.53

    Teks dibentuk lewat suatu praktik diskursus, yang akan menentukan bagaimana teks

    tersebut diproduksi.54 Analisis praktik wacana mencakup unsur produksi teks artikel yang

    tidak dapat terlepas dari unsur teks dan wacana lain (intertekstualitas dan interdiskursivitas),

    yang dipengaruhi oleh gagasan intertekstual Julia Kristeva. Dengan kata lain, teks tidak hadir

    dengan sendirinya, teks sebenarnya dikonstruksi oleh teks lain yang sudah ada sebelumnya,

    baik berupa teks fisik maupun berupa pengetahuan yang sudah ada.55 Bahkan, jika ada suatu

    teks dari sebuah peristiwa baru, teks tersebut disusun oleh media melalui interdiskursivitas

    50 Norman Fairclough, Discourse and Social Change, hlm. 179. 51 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, hlm. 293. 52 Norman Fairclough, Language and power, hlm. 118. 53 Norman Fairclough, Discourse and Social Change, hlm. 71. 54 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, hlm. 316. 55 Bernardinus Realinus Suryo Baskoro, Disetasi: “Berita Korupsi di Media Indonesia dan Perancis:

    Analisis Wacana Kritis” (Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2015), hlm. 38.

  • 19

    atau intertekstualitas dari “teks” lain atau peristiwa itu sendiri, pengetahuan media atas

    peristiwa itu, hasil studi pustakanya, dan lain sebagainya.56

    Wodak dan Weiss menyatakan bahwa teks dan wacana itu tidak terisolasi dalam

    ruang. Teks satu selalu berhubungan dengan teks sebelumnya atau bahkan teks yang akan

    datang. Hal ini dapat dicirikan sebagai "intertekstualitas".57 Intertekstualitas adalah

    kehadiran unsur-unsur dari teks lain, bisa berupa kutipan, acuan, dan isi.58 Wacana

    berperilaku dengan cara yang sama: Wacana juga tumpang tindih dan saling berhubungan.

    Hal ini dikenal sebagai "interdiscursivity".59

    Bagi Fairclough proses produksi teks dalam media disebut rantai peristiwa

    komunikatif, dalam arti bahwa teks sebelumnya ada (wawancara, pidato politik, dokumen-

    dokumen, dan lain sebagainya) di dalam teks setelahnya dan membentuk banyak lapisan yang

    direkontekstualisasikan. Fairclough mengatakan, “The production of media texts can thus be

    seen as a series of transformations across what I earlier called a chain of communicative

    events which links source events in the public domain to the private domain consumption of

    media texts.”60

    c. Analisis Praktik Sosiokultural (Sociocultural Practice)

    Analisis praktik sosiokultural oleh Fairclough disebut dengan eksplanasi. Praktik

    sosiokultural bisa dilihat pada tingkat situasi langsung (the immediate situation),

    lembaga/institusi/organisasi yang lebih luas, dan pada tingkat masyarakat. Misalnya,

    seseorang dapat membaca interaksi antara pasangan suami istri dalam hal hubungan khusus

    56 Ibid, hlm. 113. 57 Umar Fauzan, “Analisis Wacana Kritis Model Fairclough”, hlm. 4.

    58 Haryatmoko, Critical Discourse Analysis (Analisis Wacana Kritis): Landasan Teori, Metodologi,

    dan Penerapan (Jakarta: Rajawali Pers, 2017), hlm. 11. 59 Umar Fauzan, “Analisis Wacana Kritis Model Fairclough”, hlm. 4. 60 Norman Fairclough, Media Discourse (London: Edward Arnold, 1995), Hlm. 48-49.

  • 20

    mereka (mikro/lebih dekat), hubungan antar mitra dalam keluarga sebagai institusi, atau

    gender hubungan dalam masyarakat yang lebih besar (makro).61

    a. Situasi

    Teks dihasilkan tidak dalam ruang hampa, melainkan teks dihasilkan dalam suatu

    kondisi dan atau susasana yang khas. Jika wacana dipahami sebagai suatu tindakan, maka

    tindakan itu adalah upaya untuk merespon situasi atau konteks sosial tertentu.62

    b. Institusional

    Level ini melihat bagaimana pengaruh institusi terhadap produksi teks. Institusi yang

    berhubungan dengan media bisa berupa ekonomi media maupun politik. Pengaruh ekonomi

    terhadap media sangat penting, seperti halnya pengiklan akan sangat menentukan

    keberlangsungan media. Selain ekonomi media, pengaruh institusi lain adalah politik.

    Institusi politik bisa mempengaruhi kebijakan yang dilakukan media, seperti halnya di

    negara dengan pemerintah mempunyai wewewang untuk melakukan kontrol dan

    pengendalian, maka wacana yang muncul di media menjadi lain. Negara yang otoriter, yang

    ditandai dengan represi dan pembredelan, akan berpengaruh dengan kebijakan di ruang

    redaksi (news room). Politik yang menjadikan media sebagai sarananya, di samping media

    partisan yang secara sengaja dibuat untuk tujuan politik, juga kontrol terhadap pikiran

    masyarakat.63

    c. Sosial

    Perbedaan level sosial dengan situasi terletak pada cakupannya, sebagaimana telah

    dijelaskan oleh Fairclough di atas. Aspek situasional lebih mengarah pada waktu atau

    suasana yang mikro (konteks peristiwa saat peristiwa dibuat), sedangkan aspek sosial lebih

    luas, lebih melihat pada aspek makro seperti sistem politik, ekonomi, atau budaya

    masyarakat secara keseluruhan. Sistem-sistem tersebut pada akhirnya akan menentukan 61 Norman Fairclough, Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language, hlm. 132. 62 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, hlm. 322. 63 Ibid, hlm. 322-325.

  • 21

    siapa yang berkuasa, nilai-nilai apa yang dominan di masyarakat, dan bagaimana sistem dan

    nilai tersebut mempengaruhi dan menentukan media. Masyarakat yang berideologi patriarkal

    yang melihat perempuan kelas dua di bawah laki-laki, nilai-nilai tersebut akan

    mempengaruhi isi pemberitaan. Demikian juga dengan teks yang diberitakan oleh seseorang

    dari sistem politik otoriter tentu saja berbeda dengan teks yang dihasilkan dalam politik

    liberal.64

    F. Metode Penelitian

    1. Pendekatan

    Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dalam pelaksanaannya.

    Pendekatan deskriptif menurut Sudaryanto yaitu penelitian yang hanya dilakukan semata-

    mata hanya berdasarkan fakta-fakta yang ada atau fenomena yang secara empiris hidup pada

    penuturnya sehingga yang dihasilkan atau yang dicatat berupa perian bahasa yang biasa

    dikatakan sifatnya seperti potret atau paparan seperti apa adanya.65 Deskriptif diartikan

    sebagai memberikan deskripsi (pemerian) dan analisis bahasa. Bahasa diterangkan bagaimana

    kerja dan penggunaannya oleh para penuturnya pada kurun waktu tertentu, bisa disebut juga

    sebagai deskriptif sinkronik.66

    Selain itu, penelitian ini juga menggunakan pendekatan kritis, Foss dan Littlejhon

    dalam Setiawan menyebutkan bahwa aspek yang esensial dalam pandangan kritis yaitu upaya

    pemahaman atas kondisi sosial yang tertindas (under represented groups) dan bertindak

    (advokasi) mengatasi kekuatan yang menindas, dalam rangka memperjuangkan emansipasi

    wanita dan partisipasi masyarakat secara luas.67

    64 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, hlm. 325-326. 65 Muhammad, Metode Penelitian Bahasa (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hlm. 192. 66 A. Chaedar Alwasilah, Linguistik Suatu Pengantar, hlm. 100. 67 Yulianto Budi Setiawan, Analisis Wacana Kritis Pemberitaan Kekerasan Berbasis Gender di Surat

    Kabar Harian Merdeka, Jurnal Ilmiah Komunikasi, MAKNA Vol. 2 no. 1, (Pebruari 2011), hlm. 16.

  • 22

    Pendekatan kualitatif dipakai dalam arti mengembangkan pengertian tentang individu

    dan kejadian dengan memerhatikan konteks yang relevan yang bertujuan memahami

    fenomena sosial secara holistik dan menggali pemahaman lebih dalam dan lebih banyak,

    biasanya data dianalisis secara induktif yaitu peneliti mengamati, menganalisis, dan membuat

    kesimpulan.68

    2. Sumber Data

    Data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu: data

    primer dan sekunder. Data primer adalah data utama yang digunakan sebagai bahan utama

    analisis yaitu berita tentang perempuan Arab dalam http://www.al-jazirahonline.com dan

    www.al-madina.com yang dirilis pada tahun 2019, dengan menggunakan referensi lain baik

    berupa buku, jurnal, internet yang memiliki keterkaitan dengan konteks perempuan Arab

    Saudi. Data sekunder sebagai data penunjang dalam penulisan terdiri dari referensi yang

    memiliki keterkaitan dengan penelitian seperti jurnal, tesis, dan referensi-referensi lain.

    3. Teknik Pengumpulan Data

    Pengumpulan atau penjaringan data menggunakan metode simak dengan teknik catat

    (taking note method). Menyimak tidak hanya dilakukan dengan mendengar melainkan

    membaca juga termasuk di dalamnya. Peneliti menyimak data kemudian mencatat, setelah

    pencatatan dilakukan peneliti melakukan klasifikasi atau pengelompokan,69 sehingga dalam

    hal ini peneliti memilih dan memilah data yang sesuai dengan kebutuhan penelitian.

    4. Metode Analisis Data

    Data dianalisis menggunakan teknik analisis wacana kritis menurut Fairclough, yakni

    (a) analisis teks bahasa, (b) analisis praksis wacana, (3) analisis praksis sosiokultural.

    Langkah analisis data meliputi (1) pembacaan secara kritis-kreatif terhadap seluruh data, (2)

    pereduksian data sesuai dengan domain masalah, (3) penyajian data yang terdiri atas

    68 Muhammad, Metode Penelitian Bahasa, hlm. 19-23. 69 Muhammad, Metode Penelitian Bahasa, hlm. 211.

    http://www.al-jazirahonline.com/http://www.al-madina.com/

  • 23

    identifikasi dan klasifikasi data berdasakan domain masalah, (4) interpretasi relasi teks

    dengan konteks situasi, (5) eksplanasi relasi teks dengan konteks institusi, masyarakat, dan

    budaya, dan (6) penyimpulan.70

    70 Anang Santoso, Studi Bahasa Kritis: Menguak Bahasa Membongkar Kuasa, hlm, 171-172.

  • 24

    G. Sistematika Penulisan

    Sistematika pembahasan ini memuat alur penulisan penelitian yang terdiri dari lima

    bab pembahasan dan di tiap bab terdiri dari beberapa sub bab yang memiliki kesinambungan,

    yaitu:

    Bab I, pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan

    kegunaan penelitian, kajian pustaka berisikan penilitian-penelitian terdahulu yang relevan dan

    memiliki keterkaitan dengan penelitian ini serta memposisikannya dengan penelitian

    sebelumnya, kerangka teoritis yang digunakan, metode penelitian, dan diakhiri dengan

    sistematika pembahasan.

    Bab II, memuat tentang analisis tekstual yang digunakan dalam media Arab untuk

    menggambarkan perempuan.

    Bab III, memaparkan tentang proses praktik wacana perempuan Arab dalam media

    daring.

    Bab IV, praktik sosiokultural yang terdiri dari institusi, konteks situasi, dan sosial

    yang terdapat di dalam media daring.

    Bab V, penutup terdiri dari kesimpulan pembahasan dan saran-saran.

  • 124

    BAB V

    PENUTUP

    A. Kesimpulan

    Analisis penggambaran wacana perempuan Arab Saudi dengan

    menggunakan kerangka tiga dimensi Norman Fairclough (tekstual, praktik

    diskursus, dan praktik sosiokultural), pada media daring Al-jazirah Online dan Al-

    Madina, menghasilkan beberapa temuan yang berkaitan dengan perempuan Arab

    Saudi dan transformasinya seiring dengan adanya visi Saudi 2030.

    Pada tataran tekstual, perempuan digambarkan dengan citra positif, seperti

    pemandu wisata, seorang seniman dan lain sebagainya. Hal ini ditengarai dari

    kata-kata yang digunakan. Perempuan ‘المرأة’ di-overwording menjadi مرشدات

    (pemandu), رئيسة ملتقى البرلمانيات األردنيات (Ketua Forum Parlemen Yordania), األم

    الموظفة، رائدة األعمال، سيدة المجتمع، واالبنة واألخت والزوجة موظفات ,(seniman) فنانات ,

    ,(sejumlah pemimpin pendidikan) القيادات التعليمية ,(Pegawai Kementrian) الوزارة

    بنات ,(pengusaha perempuan) المرأة العاملة ,(ibu-ibu pebisnis) األمهات العامالت

    قدوة pemerhati), dan) مهتمات , مثقفات ,سيدة من أميرات ,فريق الجوازات ,الوطن

    (pantun/teladan).

  • 125

    Pada aspek tata bahasa, dengan menyitir istilah di dalam bukunya

    Fairclough “voice” untuk menyebut bentuk kalimat aktif dan pasif. Semua berita

    menggunakan kalimat aktif yang menampilkan kedua belah pihak aktor dalam

    berita, dalam arti kedudukan kedua belah pihak ditampilkan dengan seimbang. Di

    sisi lain, penggunaan kalimat aktif pada mayoritas berita berarti memposisikan

    perempuan sebagai objek. Terdapat satu berita yang bias, pada berita berjudul al-

    tarkhi >ṣu li ṡala >ṡi murosysyida >tin siya >hiya>tin fi > tabu >k (Pemberian Lisensi untuk

    Tiga Pemandu Wisata Perempuan di Tabuk). Berita ini tidak memberikan ruang

    bagi perempuan Arab Saudi untuk memberikan pernyataan padahal konteks berita

    tentang mereka yang mendapatkan lisensi untuk menjadi pemandu wisata.

    Dimensi praktik diskursus memperlihatkan bahwa wartawan

    menggunakan berbagai aktor sosial yang kebanyakan dari pihak pemerintah untuk

    menunjukkan keseriusan dalam upaya pemberdayaan dan peningkatan taraf hidup

    perempuan Arab sebagai misi merealisasikan visi 2030. Upaya dari para aktor

    sosial tersebut tercakup dalam strategi yang digunakan dalam mengkonstruk

    berita dengan strategi intertekstual, yaitu memasukkan teks-teks, wacana, atau

    peristiwa lain yang berhubungan dengan transformasi perempuan Arab di

    berbagai sektor seperti ekonomi, politik, pendidikan, budaya, serta sosial, dan

    hubungannya dengan visi Saudi 2030.

    Analisis praktik sosiokultural menunjukan bahwa transformasi di kerajaan

    terhadap beberapa kebijakan perempuan di berbagai sektor (ekonomi pada berita

    pertama dan keenam, politik pada berita kedua, budaya pada berita ketiga, dan

    pendidikan pada berita keempat, sosial pada berita kelima dan ketujuh), dilatar

  • 126

    belakangi oleh kepentingan ekonomi (economic interest), kerajaan mencoba

    keluar dari bergantung pada minyak ke ekonomi pascaminyak (post-oil), dengan

    mendiversifikasi ekonomi ke berbagai ragam seperti membuka pariwisata, pusat

    hiburan, museum, dan bioskop. Pada prakteknya, kerajaan menghadapi tantangan

    yang cukup signifikan, mengingat sistem ideologi konservatif yang bertolak

    belakang dengan tujuan visi 2030 yang bersifat lebih moderat dan terbuka.

    Kendati demikian, perkembangan dan pemberdayaan perempuan Saudi tidak bisa

    dinafikan, banyak perkembangan yang nyata membawa angin segar bagi

    perempuan Saudi seiring dengan visi 2030 kerajaan.

    B. Saran

    Analisis wacana kritis Norman Fairclough memiliki tiga kerangka analisis,

    yaitu analisis tekstual, analisis diskursus, dan analisis praktik sosiokultural. Pada

    tataran tekstual inilah sebenarnya Fairclough memaparkan penjelasan yang sangat

    luas, sehingga penulis penulis merekomendasikan beberapa saran untuk penelitian

    selanjutnya agar lebih komprehensif. Pada tataran tekstual, ada empat hal yang

    dapat dianalisis yaitu kosa-kata (vocabulary), tata bahasa (grammar), kohesi, dan

    struktur teks.

    Pertama: pada tataran vocabulary, terdapat empat nilai sebagaimana

    terdapat dalam bukunya Fairclough Language and Power (2001, 92-93), yaitu

    experiential, relational, expressive, dan connective. Menggunakan empat nilai

    tersebut akan diketahui jejak ideologis, jejak tentang relasi sosial, dan identitas

    sosial.

  • 127

    Kedua: pada tataran tata bahasa (grammar) yang memiliki nilai empat

    yang sama dengan tataran vocabulary, dan aspek yang dibahas di dalamnya

    adalah transitifitas, tema, dan modalitas. Namun, Ada berbagai fitur gramatikal

    teks yang memiliki hubungan pada tiap nilai, seperti pada nilai relasi ada tiga fitur

    yang digunakan oleh Fairclough, yaitu model kalimat (deklaratif, imeratif, dan

    lain sebagainya), modalitas, dan pronouns.71 Kemudian transitifitas terbagi ke

    dalam enam proses, yaitu material, mental, behavioral, verba, relasional, dan

    eksistensial. Penulis merekomendasikan untuk mengurai keempat nilai-nilai

    tersebut serta mengembangkannya dengan teori Linguistik Sistemik

    Fungsionalnya (LSF) Halliday, mengingat Fairclough banyak mengambil teori

    tekstualnya dari teori LSF-nya Halliday.

    71 Lebih lanjut baca Norman Fairclough, Language and Power (2001).

  • 128

    DAFTAR PUSTAKA

    Ahmad, Lida dan Priscyll Anctil Avoine. 2016. “Deviant” women in English

    Aarab Media: comparing representation in Iraq, Saudi Arabia and Qatar.

    Reflexión Política. Vol. 18. No. 36.

    Al Alhareth, Yahya & Ibtisam Al Dighrir. 2015. Review of Women and Society in

    Saudi Arabia, American Journal of Educational Research, Vol. 3, No. 2.

    Al Amri, Khalid Hadi. 2005. e-tesis: Arabic/English/Arabic Translation : Shifts of

    Cohesive Markers in The Translation of Argumentative Texts : A

    Contrastive Arabic-English Text Linguistic Study. Durham: Durham

    University.

    Al-Afgani, Sa’id al-Afgani. 1995. Al-Mujaz fi Qawa’id al-Lugah al-‘Arabiyyah

    Beirut: Dar al-Fikr.

    Alhussein, Eman. 2014. Triangle of Change: the Situation of Women in Saudi

    Arabia, The Norwegian Peacebuilding Resource Centre.

    Al-Otaibi, Najah & Ali Shihabi. 2018. Women Behind the Wheel, Activists Behind

    Bars: Paradoxes on the Path to Reform in Saudi Arabia, (Washington,

    DC: Arabia Foundation.

    Al-Gulayaini >, Musṭafa. 1994. Jami’ al-Durus. Beirut: Mansyurat al-Maktabah al-

    ‘Aṣriyyah.

    Alhazmi, dkk. 2015. Contextualization of Saudi International Students’

    Experience in Facing the Challenge of Moving to Mixed Gender

    Environments. American International Journal of Contemporary Research.

    5(2).

    Aliah, Yoce. 2014. Analisis Wacana Kritis dalam Multiperspektif. Bandung:

    Refika Aditama.

    Alsaleh, Shakir Ahmed. 2012. Gender inequality in Saudi Arabia: Myth and

    reality. International Proceedings of Economics Development & Research.

    39(1).

  • 129

    Alsuwaida, Nouf. 2016. Women’s Education In Saudi Arabia. Journal of

    International Education Research. Vol. 12, No. 4.

    Alwasilah, A. 2011. Chaedar. Linguistik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.

    Asrori, Imam. 2004. Sintaksis Bahasa Arab: Frasa – Klausa – Kalimat. Misykat:

    Malang.

    Aziz, Abdul. 2017. Tesis: “Representasi Aktor dan Peristiwa Sosial dalam Krisis

    Politik di Suriah oleh Al-Jazeera Arabic dan Al-Jazeera English (Tinjauan

    Analisis Wacana Kritis”. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

    Badara, Aris. 2012. Analisis Wacana: Teori, Metode, dan penerapannya pada

    Wacana Media. Jakarta: Kencana.

    Blanchard, Christopher M. Blanchard. 2019. Saudi Arabia, Congressional

    Research Service: Informing the Legislative debate since 1914.

    Cummins, Joshua I. 2015. Social Media, Public Opinion, and Security

    Cooperation in Saudi Arabia. The DISAM Annual.

    Dawud, Muhammad Muhammad & Uril Bahruddin. 2018. Al-‘Arabiyah wa Ilm

    al-Lughah al-Hadits. Malang: Lisan Arabi.

    Dewi, Eva. 2017. “Gender dalam Bahasa Arab”. dalam Deni Febrini (Ed.). Bunga

    Rampai Islam dan Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

    Eriyanto. 2009. Analisis Wacana: Pengantar Teks Media. Yogyakarta: LKiS.

    Esmail, Hanaa Abdelaty Hasan. 2018. Economic Growth of Saudi Arabia

    Between Present and Future According to 2030 Vision. Asian Social

    Science. Vol. 14, No. 12.

    Fairclough, Norman. 2010. Critical Discourse Analysis: The Critical Study of

    Language. New York: Routledge.

    ________. 1995. Critical Language Awarness, Terj. Hartoyo. Semarang: IKIP

    Semarang Press.

  • 130

    ________. 1989. Language and Power. New York: Longman.

    ________. 2001. Language and Power. New York: Reuledge.

    ________. 1995. Media Discourse. London: Edward Arnold.

    Fauzan, Umar. 2003. Analisis Wacana Kritis Model Fairclough. Jurnal Pendidik.

    Vol. 5. No. 2.

    ________. 2014. Analisis Wacana Kritis dari Model Fairclough hingga Mills.

    Jurnal Pendidik. Vol. 6. No. 1.

    Grigore, George & Laura Sitaru. 2016. Modalities in Arabic. Bucharest: Center

    for Arab Studies.

    Harahap, Nursapia. 2014. Penelitian Kepustakaan. IQRA’. Vol. 08. No. 01.

    Harimurti Kridalaksana. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka

    Utama.

    Haryatmoko. 2017. Critical Discourse Analysis (Analisis Wacana Kritis):

    Landasan Teori, Metodologi, dan Penerapan. Jakarta: Rajawali Pers.

    Haryatmoko, J. 2015. Kondisi Ideologis dan Derajat Keteramalan Analisis

    Wacana Kritis Norman Fairclough. Diskursus. Vol. 14. Nomor 2.

    Hijriyah, Umi. 2014. Bahasa dan Gender. Al-Bayan. Vol. 6, No. 2.

    Hilal, Abd al-Ghoffar Hamid. 1986. Ilm al-Lughah Baina al-Qodim wa al-

    Hadits. Mesir: Mathba’ah al-Jabalawi.

    Hvidt, Martin. 2018. The New Role of Women in The New Saudi Arabian

    Economy. Center for Mellemᴓststudier Syddansk Universitet.

    Ilyas, Asim Ismail. 2014. Cohesive Devices in the Short Suras of the Glorious

    Quran. Arab World English Journal. No. 3.

    Jahangir, Labbaba. 2017. Societal Change in Saudi Arabia: Changing the Norms.

    Institute of Strategic Studies.

  • 131

    Jorgensen, Marianne W. & Phillips, Louise J. 2007. Analisis Wacana: Teori dan

    Metode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

    Kealan. 2002. Filsafat Bahasa: Realitas Bahasa, Logika Bahasa, Hermeneutika

    dan Postmodernisme. Yogyakarta: Pradigma.

    Kelner, Douglas. 2010. Media Culture: Culture Studies, Identity and Politics

    between the Modern and Postmodern, terj. Galih Bondan Rambatan.

    Yogyakarta: Jalasutra.

    Muhammad. 2014. Metode Penelitian Bahasa. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

    Munfarida, Elya. 2014. Analisis Wacana Kritis dalam Perspektif Norman

    Fairclough. Komunika. Vol. 8. No. 1.

    Naseem, Sana & Kamini Dhruva. 2017. Issues and Challenges of Saudi Female

    Labor Force and the Role of Vision 2030: A Working Paper. International

    Journal of Economics and Financial Issues. Vol. 7, No. 4.

    Pangaribuan, Tagor. 2008. Paradigma Bahasa. Yogyakarta: Graha Ilmu.

    Philip K. Hitti. 2014. History of The Arabs; From the Earliest Times to the

    Present, terj. R. Cecep Lukman Yasin & Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: PT

    Serambi Ilmu Semesta.

    Rabaah1, Alqassem, dkk. 2016. Early Childhood Education in Saudi Arabia:

    Report. Journal of Education. Vol. 6. No. 5.

    Rachmadie, Cammelianne Typhano & Suryo Ediyono. 2017. Reformasi Sistem

    Kebudayaan di Arab Saudi Masa Pemerintahan Raja Abdullah (2005-2015).

    Millati, Journal of Islamic Studies and Humanities. Vol. 2. No. 1.

    Rahimi, Forough Mohammad & Javad Riasati. 2011. Critical Discourse Analysis:

    Scrutinizing Ideologically-Driven Discourse. International Journal of

    Humanities and Social Science. Vol. 1. No. 16.

    Rani, Abdul Rani, dkk. 2006. Analisis Wacana. Malang: Bayumedia Publishing.

  • 132

    Realinus, Bernardinus & Suryo Baskoro. 2015. Disertasi: “Berita Korupsi di

    Media Indonesia dan Perancis: Analisis Wacana Kritis”. Yogyakarta:

    Universitas Gadjah Mada.

    Rosida. 2018. Anis Wacana Modernisasi dalam Tantangan Peradaban, Peran

    Perempuan sebagai Tonggak Sejarah Arab Saudi. PALITA: Journal of

    Social-Religion Research. Vol.3. No. 1.

    Said, Amin. 2014. King Faisal: Raja Saudi Pelayan Umat Penentang

    Imperialisme. Pustaka Al-Kautsar: Jakarta.

    Santoso, Anang. 2009. Bahasa Perempuan: Sebuah Potret Ideologi Perjuangan.

    Jakarta: Bumi Aksara.

    ________. 2012. Studi Bahasa Kritis: Menguak Bahasa Membongkar Kuasa.

    Bandung: Mandar Maju.

    Setiawan, Yulianto Budi. 2011. Analisis Wacana Kritis Pemberitaan Kekerasan

    Berbasis Gender di Surat Kabar Harian Merdeka, Jurnal Ilmiah

    Komunikasi, MAKNA Vol. 2 no. 1. Pebruari.

    Sobur, Alex. 2012. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,

    Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya.

    Titscher, Stefan. Dkk. 2009. Metode Analisis Teks & Wacana, Terj. Gazali, dkk.

    Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

    Ubadah, Muhammad Ibrahim. 2011. ‘Mu’jam Mushtalahat al-Nahwi wa al-Sharfi

    wa al-‘Arudh wa al-Qafiyah. Dar al-Ma’arif: Kairo.

    Umar, Ahmad Mukhtar Muhammad Alnuhas Zahran, Muhammad Hammasah

    Abdullaṭi. 19994. al-Nahwu Al-Asa>si>. Kuwait: Zat al-Sa>lasil.

    Umar, Ahmad Mukhtar. 1996. Al-Lughah wa Ikhtila >f al-Jinsain. Kairo: Alam al-

    Kutub.

    Wafi, Mahmud Hibatul. 2018. Diskursus Arab Saudi: Kontestasi Kerajaan Saudi

    dan Wahabi. Islamic World and Politics. Vol. 2. No. 1.

  • 133

    Wagemakers, Joas. Kanie, Mariwan & van Geel, Annemarie 2012. Saudi Arabia

    Between Conservatism, Accommodation and Reform. Netherlands:

    Netherlands Institute of International Relations ‘Clingendael’.

    Yulianto Budi Setiawan. 2011. Analisis Wacana Kritis Pemberitaan Kekerasan

    Berbasis Gender di Surat Kabar Harian Merdeka. MAKNA: Jurnal Ilmiah

    Komunikasi. Vol. 2. No. 1.

    Zulaikha, Farieda Ilhami. 2017. Tesis: “Wacana Perempuan pada Koran Feminis

    dan Non Feminis di Amerika )Analisis Wacana Kritis(”. Yogyakarta:

    Universitas Gadjah Mada.

    Sumber Internet:

    Arab News. “Saudi Tourism Authority Seeks to Boost Number of Saudis in

    Tourism Sector” )http://www.arabnews.com/node/1479741/saudi-arabia,

    diakses pada pada 08 Mei 2019)

    Al ‘Araby, Al ‘Alam “Al-Tarkhis Li Awwali Tsalatsi Murasyidati Siyahati fi

    Tabuk”.)https://arabic.sputniknews.com/arab_world/201903111039660031-