Top Banner
Pelaksanaan Pemungutan Pajak Parkir dalam Rangka Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kota Bekasi Nama : Dinda Lasdwihati Alamat : Jl. Candi Brahma Blok. B No. 408, Perumahan Duren Jaya Bekasi E-mail : d_mutzzss@yahoo.com Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma ABSTRAKSI ( xii + 84 ) Pesatnya perkembangan Informasi, Komunikasi, dan Transportasi merupakan tanda- tanda semaki9n mengg;obalnya dunia. Pemerintah Indonesia yang memahami hal tersebut telah mengambil keputusan untuk memberikan otonomi daerah, dimana pemerintah daerah dapat mengatur daerahnya masing-masing. Peran Pemerintah daerah jaga sangat diperlukan guna mengetahui dana yang diperlukan , karena pemerintah daerahlah yang mengetahui kondisi daerahnya, guna untuk meningkatkan semua sector pembangunan. Pemerintah Daerah diberikan kebebasan dalam merancang dan melaksanakan anggaran perencanaan dan Belanja Daerah dan juga untuk menggali sumber-sumber keuangan daerah berdasarkan Undang-Undang No.34 Tahun 2000. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan meningkatakan pendapatan asli daerah yang bersumber dari pajak daerah, hasil perusahaan milik daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan. Dan penerimaan asli daerah salah satunya berasal dari pajak parkir. Pajak parkir merupakan salah satu factor yang mendukung Pendapatan Asli Daerah. Dapat dilihat dari pendapatan pajak parkir yang diterima selalu meningkat setiap tahunnya. Dan akan berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah tersebut. Dafar Pustaka (2001 – 2006) Kata Kunci : Pajak Parkir dalam rangka Peningkatan PAD
19

Pelaksanaan Pemungutan Pajak Parkir dalam Rangka Peningkatan ...

Jan 13, 2017

Download

Documents

hakiet
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
  • Pelaksanaan Pemungutan Pajak Parkir dalam Rangka Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Kota Bekasi

    Nama : Dinda Lasdwihati

    Alamat : Jl. Candi Brahma Blok. B No. 408, Perumahan Duren Jaya Bekasi

    E-mail : d_mutzzss@yahoo.com

    Fakultas Ekonomi

    Universitas Gunadarma

    ABSTRAKSI

    ( xii + 84 )

    Pesatnya perkembangan Informasi, Komunikasi, dan Transportasi merupakan tanda-tanda semaki9n mengg;obalnya dunia. Pemerintah Indonesia yang memahami hal tersebut telah mengambil keputusan untuk memberikan otonomi daerah, dimana pemerintah daerah dapat mengatur daerahnya masing-masing. Peran Pemerintah daerah jaga sangat diperlukan guna mengetahui dana yang diperlukan , karena pemerintah daerahlah yang mengetahui kondisi daerahnya, guna untuk meningkatkan semua sector pembangunan.

    Pemerintah Daerah diberikan kebebasan dalam merancang dan melaksanakan anggaran perencanaan dan Belanja Daerah dan juga untuk menggali sumber-sumber keuangan daerah berdasarkan Undang-Undang No.34 Tahun 2000. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan meningkatakan pendapatan asli daerah yang bersumber dari pajak daerah, hasil perusahaan milik daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan. Dan penerimaan asli daerah salah satunya berasal dari pajak parkir.

    Pajak parkir merupakan salah satu factor yang mendukung Pendapatan Asli Daerah. Dapat dilihat dari pendapatan pajak parkir yang diterima selalu meningkat setiap tahunnya. Dan akan berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah tersebut.

    Dafar Pustaka (2001 2006)

    Kata Kunci : Pajak Parkir dalam rangka Peningkatan PAD

  • Pendahuluan

    Latar Belakang

    Pesatnya perkembangan informasi, komunikasi, dan transportasi dalam kehidupan

    manusia di segala bidang khususnya bidang ekonomi dan perdagangan merupakan tanda-tanda

    bahwa semakin mengglobalnya dunia. Pemerintah Indonesia yang memahami hal tersebut telah

    mengambil keputusan untuk memberikan otonomi daerah yaitu dimana pemerintah daerah dapat

    mengatur daerahnya masing-masing. Keputusan yang diambil oleh pemerintah Indonesia supaya

    pemerintah daerah dapat lebih memajukan daerahnya, pemerintah pusat memberikan subsidi

    untuk pembangunan pemerintah daerah. Subsidi ini diberikan berdasarkan Anggaran Pendapatan

    dan Belanja Daerah yang sumber utamanya didapatkan dari pajak. Pajak bermanfaat sekali bagi

    pambangunan nasional dan pembangunan daerah. Hasil pungutan pajak tidak saja berfungsi

    sebagai sumber dana dari pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran Negara

    melainkan juga sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam

    bidang sosial dan ekonomi.

    Dalam rangka meningkatkan semua sector pembangunan yang telah dilaksanakan agar

    dapat berjalan sesuai dengan rencana serta dalam menaikan taraf hidup masyarakat dan untuk

    mendukung program pemerintah agar terlaksana secara berkesinambungan, pemerintah

    membutuhkan dana yang cukup besar. Peran pemerintah daerah juga sangat diperlukan guna

    mengetahui dana yang diperlukan untuk meningkatkan pembangunan daerahnya karena

    pemerintah daerahlah yang lebih mengetahui kondisi daerahnya.

    Upaya meningkatkan kontribusi dana antara pembangunan daerah yang satu dengan

    pembangunan daerah yang lainnya dilakukan sesuai dengan kondisi daerah yang bersangkutan.

  • Pemerintah daerah diberi kebebasan dalam merancang dan melaksanakan Anggaran Perencanaan

    dan Belanja Daerah, pemerintah daerah juga diberi kebebasan untuk menggali sumber-sumber

    keuangan daerah beredasarkan Undang-Undang No. 34 Tahun 2000, tentang pajak daerah dan

    kontibusi daerah sebagai penyesuaian dan penyempurnaan, Undang-Undang No. 18 tahun 1997,

    tentang pajak daerah dan kontribusi daerah berhubungan dengan berlaku Undang-Undang No. 22

    tahun 1999 tentang Pemerintah daerah.

    Pemerintah dearah harus menggunakan dana yang dimiliki seefisien mungkin haruslah

    bermanfaat bagi masyarakat luas khususnya bagi semua lapisan masyarakat yang adil dan

    makmur. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan meningkatkan pendapatan asli daerah

    yang bersumber dari pajak daerah, hasil perusahaan milik daerah, dan hasil pengelolaan

    kekayaan milik daerah yang dipisahkan. Pendapatan asli daerah yang sah sesuai dengan pasal 3

    Undang-Undang No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat

    dengan pemerintah daerah.

    Pajak dibebankan kepada masyarakat oleh pemerintah, hal ini merupakan kebijakan dari

    pemerintah sehingga perlu dijaga agar kebijakan tersebut dapat memberikan beban yang adil

    sejalan dengan system perpajakan Indonesia. Pemerintah pusat dalam pemungutan pajak daerah

    hanya berperan untuk menjaga dan mengawasi. Hal ini berdasarkan undang-undang otonomi

    daerah dan pajak daerah yang berasal dari Negara yang berdasarkan undang-undang

    perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

    Penerimaan daerah salah satunya adalah dari pajak parkir. Pajak parkir diharapkan dapat

    dapat memiliki peranan yang berarti dalam pembiayaan pembangunan daerah. Sebagaimana

    diketahui bahwa parkir adalah jenis usaha penjualan jasa pelayanan yang mempunyai keterkaitan

  • sangat erat dan saling menunjang dengan dunia perdagangan yang menghasilkan penerimaan

    daerah. Parkir pada saat ini sangatlah diperlukan kerena untuk menjaga keamanan kendaraan.

    Bukan hanya untuk menjaga keamanan saja tetapi juga untuk keteraturan dan kenyamanan suatu

    tempat.

    Pusat-pusat perbelanjaan yang berkembang saat ini haruslah menjamin keamanan dan

    kenyamanan bagi konsumen parkir adalah salah satu yang menjamin keamanan dan kenyamanan

    konsumen. Konsumen yang datang ke pusat perbelanjaan dengan menggunakan kendaraan

    pribadi pastilah memerlukan tempat untuk menitipkan kendaraan mereka. Parkir menjadi salah

    satu sarana yang menunjang pusat perbelanjaan tersebut, maka pemerintah daerah menetapkan

    pajak parkir.

    Berdasarkan uraian tersebut diatas penulis akan membahas kontribusi yang telah

    diberikan oleh tindak penagihan pajak optimalisasi penerimaan pajak, serta hambatan yang

    mungkin timbul dalam praktik penagihan pajak tersebut. Atas dasar uraian tersebut diatas maka

    penulis akan member judul pada penulisan ini adalah Pelaksanaan Pemungutan Pajak

    Parkiran dalam Rangka Penerimaan Daerah di Wilayah Kota Bekasi.

    Tujuan Penulisan

    Berdasarkan latar belakang dan perumusan diatas, maka tujuan dari penulisan ini adalah :

    a. Untuk mengetahui system pemungutan pajak parkir di wilayah kota Bekasi.

    b. Untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pajak parkir.

    c. Untuk mengetahui upaya-upaya apa saja yang dilakukan oleh pemerintah kota Bekasi dalam

    rangka meningkatkan penerimaan daerah dari pajak parkir.

  • Landasan Teori

    Pengertian pajak menurut andriani :

    Pajak adalah iuran kepada Negara yang dipaksakan yang terhutang oleh yang wajib

    membayarnya menurut peraturan-paraturan yang tidak dapat mendapatkan prestasi kembali yang

    langsung dapat ditunjuk dan yang digunakannya adalah untuk biayai pengeluaran umum yang

    berhubungan dengan tugas Negara dan untuk menyelenggarakan pemerintah (2005:10-11)

    Adapun pengetian pajak yang dikemukakan oleh SI.Djajadiningrat yang dikutip dalam

    munawir adalah :

    Pajak sebagai kewajiban menyerahkan sebagian daripada kekayaan kepada Negara

    disebabkan sesuatu keadaan, kejadian dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu,

    tetapi bukan sebagai hukuman menurut peratuaran yang ditetapkan oleh pemerintah serta dapat

    dipaksakan, tanpa ada jasa timbal balik dari Negara secara langsung, untuk memelihara

    kepentingan umum (2001:5)

    Pengelompokan Pajak

    Pajak dapat dikelompokan menjadi 3 kelompok, yaitu : ( Waluyo dan Wirawan, 2003 )

    1. Menurut golongannya :

    a. Pajak langsung.

    b. Pajak tidak langsung.

    2. Menurut sifatnya :

    a. Pajak subjektif

    b. Pajak Objektif

  • 3. Menurut lembaga pemungutannya :

    a. Pajak pusat.

    b. Pajak daerah

    Sistem Pemungutan Pajak

    Pada system pemungutan pajak dapat dibagi dalam tiga system, yaitu : ( Mansur dan

    Wardoyo, 2004 )

    a. Official Assesment System

    b. Self Assesment System

    c. With Holding System

    Fungsi Pajak

    Sebagaimana telah diketahui cirri-ciri yang melekat pada pengertian pajak terdapat

    adanya fungsi yaitu ( Waluyo dan Wirawan, 2003:-67 )

    a. Fungsi Penerimaan ( Budgetair )

    b. Fungsi Mengatur ( Reguleren )

    Pengertian Pajak Parkiran

    Pengertian pajak parkiran menurut Undang-undang No. 34 Tahun 2000 sebagai

    pengganti dari Undang-undang No. 18 tahun 1997, tentang pajak daerah dan retribusi daerah,

    adalah sebagai berikut :

    Pajak parkiran adalah pajak yang dikenakan atas penyelenggaraan tempat parkiran diluar

    badan jalan oleh orang pribadi atau badan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha

  • maupun yang disedikan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan

    bermotor yang memungut bayaran. Pengenaan pajak parkiran tidak mutlak ada pada seluruh

    daerah kabupaten atau kota yang ada di Indonesia.

    Sedangkan menurut peraturan daerah kota Bekasi No. 16 tahun 2001, pajak atas

    penyelenggaraan parkir swasta adalah pajak atas penyelenggaraan parkir dengan memungut

    bayaran yang sepenuhnya diadakan dan dikuasai oleh pihak swasta.

    Dasar Tarif dan Perhitungan Pengenaan Pajak Parkiran

    a. Dasar Pengenaan Pajak Parkiran

    Dasar Pengenaan Pajak parkiran adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar

    untuk pemakaian tempat parkir. Dasar pengenaan pajak didasarkan pada klasifikasi yempat

    parkiran, daya tmpung, dan frekuensi kendaraan bermotor.

    b.Tarif Pajak Parkiran

    Tarif pajak parkiran ditetapkan paling tinggi 20% dan ditetapkan dengan peraturan

    daerah kabupaten atau kota yang bersangkutan. Dengan demikian kota Bekasi metapkan

    tarif pajak parkiran sebesar 15%.

    c. Perhitungan pengenaan Pajak Parkiran

    Besarnya pokok pajak dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan dasar

    pengenaan pajak. Cara perhitungan ini digunakan untuk setiap jenis pajak daerah yang

    juga merupakan dasar perhitungan untuk semua jenis pajak pusat.

    Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak

  • Metodologi Penelitian

    Objek Penelitian

    Masyarakat sekarang banyak yang memiliki kendaraan bermesin, mereka bepergian

    menggunakan menggunakan kendaraan untuk lebih memudahkan mereka. Apabila mereka ingin

    bepergian ketempat umum mereka pasti akan menitipkan kendaraan mereka ditempat yang telah

    disediakan oleh pemilik tempat umum tersebut. Penyediaan tempat penitipan kemdaraan tersebut

    membuat masyarakat lebih leluasa dan nyaman. Tempat penitipan tersebut biasanya menarik

    atau memungut biaya. Biaya pemungutan tersebut digunakan oleh pemiliknya untuk lebih

    memajukan tempatnya.

    Melihat potensi tersebut pemerintah daerah membuat peraturan daerah tentang pajak dan

    retribusi daerah. Pemegang usaha harus meminta izin untuk mendirikan suatu tempat untuk

    sarana umum. Biaya pemungutan biaya tersebut dapat sepenuhnya dimanfaatkanoleh pemilik

    usaha.

    Tahun 2001 keluarlah peraturan daerah tentang pajak daerah No.16 tentang pajak parkir.

    Seluruh pemilik usaha yang mempunyai usaha tempat penitipan kendaraan dikenakan pajak

    sebesar 15%, mereka harus menghitung, membayar, menyetorkan sendiri. Hal inilah yang

    mendasari sejarah pajak parkir.

    Objek Pajak Parkir

    Objek pajak parkiran adalah Penyelenggaraan tempat parkiran diluar badan jalan, baik

    yang disediakan sebagai suatu usaha termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor

    dan garasi kendaraan bermotor yang memungut bayaran. Seperti :

  • a. Pelataran dan atau taman-taman parkir.

    b. Gedung-gedung dan atau bangunan dan pusat perbelanjaan yang menyediakan fasilitas

    parkir.

    c. Penyediaan suatu tempat parkir yang disediakan oleh perorangan dan atau badan hukum

    umtuk fasilitas hukum mereka.

    Menurut Peraturan Daerah kota Bekasi No. 16 Tahun 2001 Objek pajak parkir adalah

    Setiap pelayanan parkir yang disediakan dengan memungut bayaran sacara langsung atau tidak

    langsung.

    Sumber Data

    Pengumpulan yang dilakukan oleh penulis dalam menyusun skripsi ini adalah bersumbar

    dari :

    1.2.1.1 Data Dinas Pendapatan Daerah

    Yaitu peneliti melalui dokomen dokumen resmi dari pihak dinas pendapatan

    daerah yang terdiri dari data yang mengenai laporan dinas pendapatan daerah

    Kota Bekasi khususnya bidang pajak parkir.

    1.2.1.2 Kepustakaan

    Penelitian ini dilakukan untuk memahami dan mendalami bebagai teori dari

    disiplin ilmu yang berkaitan dengan judul skripsi, yaitu dengan cara membaca

    buku perpustakaan, Koran-koran dan bahan materi kuliah yang berhubungan

    dengan materi penulisan ini.

    Jenis Data

  • Dalam penelitian ini diusahakan untuk mendapatkan data atau informasi selengkap

    mungkin yang diperlukan sebagai materi pembahasan oleh karenanya data yang digunakan

    adalah data sekunder, yaitu data yang berupa rencana realisasi penerimaan pajak daerah pajak

    parkir tahun 2004-2008, yang kemudian data tersebut penulis sajikan sesuai apa adanya yang

    sebenarnya.

    Metode Pengumpulan Data

    Metode pengumpulan data yang akan penulis gunakan adalah metode deskriptif yaitu

    metode yang menggambarkan proses atau peristiwa yang sedang berlangsung untuk melihat

    keterkaitan antara variable-variabel yang terlihat didalamnya dengan menggunakan pendekatan

    metode kualitatif dan partisipatif yang menggunakan fenomena-fenomena yang terjadi serta hal-

    hal yang melatarbelakangi sedangkan teknik penulisan yang penulis gunakan adalah :

    1. Penelitian Lapangan

    Suatu metode penulis mengadakan pengamatan secara langsung (observasi partisipatif)

    pada unit-unit orang yang ada dilingkungan dinas pendapatan daerah.

    Hasil dan Pembahasan

    Tabel IV.2

    Rencana dan Realisasi Pajak Parkir di Kota Bekasi

    Tahun Anggaran 1999-2008

    No Tahun Anggaran

    Rencana Realisasi Persentase

  • T

    able

    diatas menunjukan bahwa penerimaan pajak parkir mengalami peningkatan setiap tahunnya.

    Pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2001 belum ada penerimaan dari pajak parkir, karena

    peraturan daerah tentang pajak parkir itu sendiri baru dikeluarkan pada tahun 2001, oleh karena

    itu rencana penerimaan pajak parkir untuk tahun 2001 belum di buat. Dan pada tahun 2002

    rencana penerimaan pajak parkir adalah sebesar Rp. 825.000.000 dengan realisasi yang cukup

    besar yaitu sebesar Rp. 919.381.254 atau sebesar 111,44%, pada tahun 2003, rebcana

    penerimaan dari segi pajak parkir adalah sebesar Rp. 1.040.000.000 dengan realisasi sebesar Rp.

    1.098.219.928, atau sebesar 105,50%, dan Pada tahun 2004 rencana penerimaan yang

    dianggarkan oleh Pemerintah Daerah adalah 1.269.840.000 dan yang terjadi pada realisasinya

    adalah sebesar 1.283.389.450, yaitu naik sebesar 101.07 %. Pada tahun 2005 rencana penerimaan

    1.

    2.

    3.

    4.

    5.

    6.

    7.

    8.

    9.

    10.

    1999

    2000

    2001

    2002

    2003

    2004

    2005

    2006

    2007

    2008

    -

    -

    -

    825.000.000

    1.040.000.000

    1.269.840.000

    1.463.657.900

    1.537.757.900

    2.062.493.000

    2.371.492.700

    -

    -

    -

    919.381.254

    1.098.219.928

    1.283.389.450

    1.471.245.225

    1.728.484.945

    2.201.930.546

    2.622.286.292

    -

    -

    -

    111,44

    105,60

    101,07

    100,52

    112,4

    106,76

    110,57

  • yang dianggarkan adalah sebesar 1.463.657.900, naik nsebesar 100,52 % , yaitu sebesar

    1.471.245.225. Pada tahun 2006 rencana penerimaan pajak parkir yang dianggarkan oleh

    Pemerintah Daerah kota Bekasi adalah 1.537.757.900, realisasi yang terjadi di lapangan adalah

    penerimaan pajak parkir mengalami peningkatan sebesar 112,4%, yaitu 1.728.484.945. Pada

    tahun 2007 rencana penerimaan pajak parkir yang dianggarkan oleh Pemerintah Daerah kota

    Bekasi adalah sebesar 2.062.493.000 dan realisasi yang didapatkan adalah sebesar

    2.201.930.546, berarti naik 106,76 dari anggaran. Pada tahun 2008, rencana penerimaan yang

    dianggarkan oleh Pemerintah daerah kota Bekasi adalah sebesar 2.371.492.700dan yang terjadi

    pada realisasi adalah sebesar 2.622.286.292, atau sebesar 110,57 %.

    Tabel IV.3 Rencana dan Realisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah

    Kota Bekasi Tahun Anggaran 1999-2008

    No Tahun Anggaran

    Rencana Realisasi Persentase

    1.

    2.

    3.

    4.

    5.

    6.

    7.

    8.

    9.

    10.

    1999

    2000

    2001

    2002

    2003

    17.160.565.213

    29.153.647.047

    51.771.761.053

    65.700.264.730

    85.769.194.575

    17.809.205.841

    31.095.360.600

    52.176.918.762

    72.160.070.959

    85.882.558.136

    103,78

    106,66

    100,78

    100,98

    100,13

  • 2004

    2005

    2006

    2007

    2008

    98.092.490.119

    121.778.641.042

    143.168.711.613

    166.283.245.632

    178.369.891.660

    97.912.047.349

    126.066.835.738

    145.730.557.611

    171.045.088.715

    189.492.858.525

    99,81

    103,52

    101,79

    102,86

    106,23

    Berdasarkan table diatas maka dapat dilihat bahwa penerimaan pendapatan daerah kota

    Bekasi selalu mengalami peningkatan. Tahun 1999 rencana penerimaan ditetapkan sebesar Rp.

    17.160.565.213 ternyata setelah dilakukan servei dilapangan pendapatan yang diperoleh adalah

    sebesar Rp. 17.809.205.841 atau meningkat sebesar 103,78%. Pada tahun 2000 rencana

    penerimaan adalah sebesar Rp. 29.153.647.047 dan realisasinya adalah sebesar Rp.

    31.095.360.600 atau sebesar 106,66%. Pada tahun 2001 rencana penerimaan pendapatan adalah

    sabesar Rp. 51.771.761.053 dan realisasinya adalah sebesar Rp. 52.176.918.762 sebesar

    100,78%, tahun 2002 realisasinya sebesar Rp. 72.160.070.959 dan rencananya adalah sebesar

    Rp. 65.700.264.730 yaitu sebesar 100,98, pada tahun 2003 rencana penerimaan pendapatan

    adalah sebesar Rp. 85.769.194.575 dan realisasinya adalah sebesar Rp. 85.882.558.136 dengan

    persentase yaitu sebesar 100,13%, pada tahun 2004 rencana penerimaan adalah sebesar

    Rp.98.092.490.119, tetapi pada laporan realisasinya penerimaan tahun 2004 mengalami

    penurunan. Tetapi pada tahun 2005, terjadi peningkatan yaitu dari rencana penerimaan sebesar

  • Rp. 121.778.641.042, realisasinya menjadi Rp.126.066.835.738. pada tahun 2006 pun terjadi

    peningkatan yaitu dari 143.168.711.613, realisasinya menjadi Rp. 145.730.557.661. pada tahun

    2007 rencana pendapatan daerah adalah sebesar Rp. 166.283.245.632, mengalami peningkatan

    yang cukup signifikan menjadi Rp. 171.045.088.715, begitupun pada tahun 2008, mengalami

    peningkatan yang baik yaitu dari rencana pendapatan sebesar Rp. 178.369.891.660, menjadi Rp.

    189.492.858.525

    4.4 Ketentuan Tarif

    Berdasarkan Undang-undang No. 34 tahun 2000 tentang Pemerintah Daerah dan

    Peraturan Daerah No. 16 tahun 2001 tantang pajak parkir menyatakan bahwa tarif untuk pajak

    parkir ditetapkan sebesar 15% dari dari jumlah pembayaran . tarif parkir dikenakan atas

    banyaknya kendaraan yang dititipkan oleh pemiliknya di suatu objek parkir. Mengenai besarnya

    pajak yang terutang dapat dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak parkir yaitu 15% dengan

    satu kendaraan perjam. Tarif ini diberlakukan sama untuk setiap objek parkir. Contoh tarif pajak

    parkir di suatu pusat perbelanjaan sebesar Rp.2000,-, untuk setiap jam pertama akan ditambah

    Rp. 1000,- dijam berikutnya. Cara perhitungan pajak yang didapatkan oleh Dinas Pendapatan

    Daerah untuk satu mobil perjamnya adalah :

    Pendapatan = Tarif Pajak x tiap kendaraan perjam

    15% x 2000,-

    Pendapatan = Rp.300,-

    Contoh : dalam sehari kendaraan parkir di suatu pusat perbelanjaan sebanyak 50 mobil,

    150 motor dan 10 truk. Cara perhitungannya adalah :

  • Mobil = (50 x 2000,-) x 15%

    = Rp. 15.000,-

    Motor = ( 150 x 1000,-) x 15%

    = 22.500,-

    Truk = ( 10 x 3000,-) x 15%

    = Rp. 4.500,-

    Total keseluruhan = Rp. 15.000 + Rp. 22.500 + Rp. 4.500

    = Rp. 42.000 perhari

    Jadi pajak yang dibayarkan ke Dinas Pendapatan Daerah dalam sehari yang hanya

    dihitung dalam perjam pada jumlah kendaraannya adalah Rp. 42.000.

    Pajak parkir akan dihitung, dibayarkan, dan disetorkan langsung oleh wajib pajak kepada

    Dinas Pendapatan Daerah kota Bekasi.

    4.5 Rangkuman Hasil Penelitian

    Hasil penelitian yang telah diuraikan oleh penulis adalah DPPKAD didirikan menurut

    undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah, pemerintah diberikan otonomi

    yaitu pemerintah diberikan otonomi yaitu kekuasaan yang diberikan untuk mengatur dan

    mengurus kepentingan daerah itu sendiri. Undang-undang No.33 tahun 2004 tentang

    perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah , menjelaskan bahwa pemerintah

    daerah berhak mengatur keuangannya sendiri.

  • Tiap tahunnya pajak daerah terus meningkat, dilihat dari realisasi yang didapatkan jauh

    lebih besar dari rencana penerimaan pendapatan daerah. Pajak parkir merupakan salah satu pajak

    daerah. System pemungutan pajak parkir adalah self assessment. Ketentuan tariff parkir adalah

    15%. Apabila wajib pajak parkir telat membayar maka akan dikenakan sanksi berupa 2%

    perbulannya. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi pajak parkir adalah :

    1. Wajib pajak yang telat membayar.

    2. Wajib pajak yang telah membayar tetapi tidak menyetorkan.

    3. Wajib pajak yang seharusnya sudah dapat dinyatakan sebagai wajib pajak tetapi

    wajib pajak tersebut tidak melapor ke DPPKAD kota Bekasi.

    Adapun upaya-upaya untuk meningkatkan dan untuk mengatasi hambatan-hambatan

    tersebut adalah :

    a. Segi penerimaan, dengan melakukan penyuluhan tentang pajak daerah terutama

    pajak parkir. Pemeriksaan juga salah satu cara untuk meningkatkan penerimaan.

    b. Segi Kebijakan, Dalam segi kebijakan yang antara lain Undang-undang,

    pemerintah agar senantiasa melaksanakan pembagian wewenang dan pengaturan

    hubungan pemerintah pusat dan daerah.

    c. Melakukan Pendataan dan Pemeriksaan Wajib Pajak Parkir.

    KESIMPULAN DAN SARAN

    5.1 Kesimpulan

    Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai

    berikut :

  • 1. Bidang Pendapatan DPPKAD kota Bekasi sebagai organisasi yang efisien dan efektif

    dalam mengelola pendapatan daerah, terutama tentang perpajakan.

    2. System pemungutan pajak parkir menggunakan system self assessment, yaitu wajib pajak

    parkir menghitung, membayar dan menyetorkan langsung ke DPPKAD. Walaupun

    menggunakan system self assessment, masih ada saja wajib pajak yang tidak melaporkan

    kewajiban pembayaran pajaknya langsung ke Dinas Pendapatan, sehingga Dinas

    Pendapatan terjun langsung ke lapangan untuk memeriksa wajib pajak tersebut, seperti

    halnya system pemungutan official Assessement.

    3. Dalam hal pendataan, Pemeriksaan Penagihan pajak parkir yang dilakukan Dinas

    Pendapatan Daerah sudah sesuai dengan Undang-undang dan peraturan Daerah yang

    berlaku.

    4. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi pajak parkir adalah :

    1. Wajib pajak yang telat membayar.

    2. Wajib pajak yang telah membayar tetapi tidak menyetorkan.

    3. Wajib pajak yang seharusnya sudah dapat dinyatakan sebagai wajib pajak tetapi

    wajib pajak tersebut tidak melapor ke DPPKAD kota Bekasi.

    5. upaya-upaya untuk meningkatkan dan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut

    adalah :

    a. Segi penerimaan, dengan melakukan penyuluhan tentang pajak daerah terutama

    pajak parkir. Pemeriksaan juga salah satu cara untuk meningkatkan penerimaan.

    b. Segi Kebijakan, Dalam segi kebijakan yang antara lain Undang-undang,

    pemerintah agar senantiasa melaksanakan pembagian wewenang dan pengaturan

    hubungan pemerintah pusat dan daerah.

  • c. Melakukan Pendataan dan Pemeriksaan Wajib Pajak Parkir.

    5.2 Saran

    Beberapa saran yang dapat diberikan penulis sehubungan dengan pelaksanakan

    pemungutan pajak perkir di Dinas Pendapatan Daerah adalah sebagai berikut :

    1. Pendataan dan pemeriksaan yang dilakukan oleh DPPKAD harus lebih ditingkatkan, dan

    harus lebih teliti dalam melakukan pendataan dan pemeriksaan pajak parkir.

    2. Dinas Pendapatan Daerah harus mensosialisasikan Undang-undang dan Peraturan Daerah

    terutama Pajak Parkir supaya masyarakat mempunyai kesadaran akan kewajiban

    membayar pajak.

    3. System pemungutan self assessment yang digunakan untuk pajak parkir harus benar-

    benar dijalankan. Apabila ada wajib pajak parkir yang tidak melaporkan, maka harus

    diberi sanksi yang tegas sesuai dengan Undang-undang dan Peraturan Daerah yang

    berlaku.

    Dari saran-saran diatas diharapkan dapat dijalankan masukan pada kantor Dinas

    Pendapatan Daerah kota Bekasi dalam rangka meningkatkan penerimaan pajak daerah.

  • DAFTAR PUSTAKA

    Fitriandi, Primandita. Dkk, 2005, Kompilasi Undang-undang Terlengkap Tahun 2006. Jakarta :

    Salemba Empat.

    Keputusan Mahkamah Konstitusi, 2005, Undang-undang Nomor. 32 Tentang Otonomi Daerah

    dan Pilkada, Jakarta : Lima Bintang.

    Mardiasmo, 2003, Perpajakan, Yogyakarta : Andi Yogyakarta.

    Siahaan, P. Marihot, 2006, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Jakarta, PT. Raja Grafindo

    Persada.

    Solihin, Dadang, 2001, Kamus Otonomi Daerah, Jakarta : Lembaga Pemberdayaan Ekonomi

    Kerakyatan.

    Sugiono, 2001, Metodologi Penelitian Administrasi, Bandung : Alfabeta.

    Waluyo, dan Wirawan B. Liyas, 2003, Perpajakan Indonesia, Jakarta : Salemba Empat.

    Zain, Muhammad, 2005, Manajemen Perpajakan, Jakarta : Salemba Empat.