Top Banner

Click here to load reader

Pbl1 Blok Muskulo Gout

Oct 23, 2015

ReportDownload

Documents

karinadian

skenario 1 blok muskuloskeletal

MUSKULOSKELETAL

BENJOLAN DI SIKU LENGAN ATAS

Wrap up

Kelompok: A-1

Ketua: Fathur Rahman Mutiara Hikmah 1102010097Sekretaris: Dicha Oseanni Andriswari 1102010076Anggota:1. 1102010015 : Almira Rosalie2. 1102010058: Cipta Pedra Sandi3. 1102010108: Galuh Risky Ayuningtyas4. 1102010127: Ikra Alfata Arza5. 1102010133: Ismail Gunawan6. 1102010140: Karina Dian Permatasari7. 1102010141: Karina Surakusuma

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS YARSIJAKARTA2010/2011

BENJOLAN DI SIKU LENGAN ATAS

Seorang laki-laki 45 tahun, datang ke RS Yarsi dengan keluhan terdapat benjolan di siku kanan sejak 2 bulan ini. Benjolan dirasakan nyeri dan berdenyut serta mengganggu range of movement (ROM). Riwayat pernah bengkak kemerahan pada metatarsophalangeal I dialami 5 bulan yang lalu dan berkurang setelah meminum obat analgesik. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tofus pada sekitar olecranon bentuk bulat dengan diameter 8cm. Hasil pemeriksaan laboratorium didapati hiperurisemia. Dokter memberikan nonsteroid antiinflamasi drug (NSAID) dan urikosurik pada pasien tersebut dan menyarankan pemeriksaan radiologi.

SASARAN BELAJAR (LI & LO)

LO. 1. Mampu memahami dan menjelaskan range of movementLI. 1.1. Definisi range of movementLI. 1.2. Tujuan range of movementLI. 1.3. Jenis range of movementLI. 1.4. Jenis gerakanLI. 1.5. Indikasi range of movementLI. 1.6. Kontra indikasi range of movementLO. 2. Mampu memahami dan menjelaskan tentang anatomi persendianLI. 2.1. Mampu memahami dan menjelaskan anatomi persendian secara makroLI. 2.2. Mampu memahami dan menjelaskan anatomi persendian secara mikroLO. 3. Mampu memahami dan menjelaskan tentang hiperurisemiaLI. 3.1. Definisi hiperurisemiaLI. 3.2. Etiologi hiperurisemiaLI. 3.3. Fisiologi dari metabolisme dan sekresi asam uratLI. 3.4. Pemeriksaan penunjang untuk menentukan penyebab hiperurisemiaLI. 3.5. Penatalaksanaan hiperurisemiaLO. 4. Mampu memahami dan menjelaskan tentang artritis goutLI. 3.1. Definisi artritis goutLI. 3.2. Etiologi artritis goutLI. 3.3. Faktor-faktor penyebab artritis goutLI. 3.4. Patofisiologi artritis goutLI. 3.5. Manifestasi klinik artritis goutLI. 3.6. Diagnosis artritis goutLI. 3.7. Penatalaksanaan artritis goutLI. 3.8. Pencegahan artritis gout

PENJELASAN LO & LI

LO. 1. Mampu memahami dan menjelaskan range of movementLI. 1.1. Definisi range of movementAdalah latihan gerakan sendi yang memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien menggerakan masing-masing persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif ataupun pasif.LI. 1.2. Tujuan range of movement1. Meningkatkan atau mempertahankan fleksibilitas dan kekuatan otot.2. Mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan.3. Mencegah kontraktur dan kekakuan pada sendi.LI. 1.3. Jenis range of movement1. ROM pasif Perawat melakukan gerakan persendian klien sesuai dengan rentang gerak yang normal.2. ROM aktif Perawat memberikan motivasi dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal.LI. 1.4. Jenis gerakanFleksiGerakan mendekati tulang yang membentuk sendi

EkstensiGerakan yang berlawanan dengan arah fleksi

AbduksiGerakan yang menjauhi bidang sagital

AduksiGerakan yang berlawanan arah dengan abduksi

RotasiGerakan berputar yang terjadi pada sendi putar

SirkumduksiGerakan dimana ujung distal saat tulang membentuk satu lingkaran, sedangkan ujung proksimalnya tetap, terjadi pada sendi peluru dengan arah gerakan tiga poros

PronasiGerakan memutar lengan bawah untuk mengembalikan telapak tangan

SupinasiGerakan yang berlawanan arah dengan pronasi

ProtaksiGerakan yang mendorong mandibula ke luar

RetraksiGerakan yang menarik mandibula ke dalam

LI. 1.5. Indikasi range of movement1. Stroke atau penurunan tingkat kesadaran.2. Kelemahan otot.3. Fase rehabilitasi fisik.4. Klien dengan tirah baring lama.LI. 1.6. Kontra indikasi range of movement1. Trombus atau emboli pada pembuluh darah.2. Kelainan sendi atau tulang.3. Klien fase imobilisasi karena kasus penyakit (jantung)

LO. 2. Mampu memahami dan menjelaskan tentang anatomi persendianLI. 2.1. Mampu memahami dan menjelaskan anatomi persendian secara makroSendi atau articulatio adalah hubungan satu tulang dengan satu tulang atau lebih tulang lainnya. Kadang-kadang sendi juga merupakan hubungan antara tulang dengan ligamenta.Secara fungsional sendi dapat dibagi atas luas geraknya yaitu:1. Synarthrosis (tidak bergerak sama sekali)Jenis synarthrosis ini dibedakan tergantung dari jenis bahan yang mengisi antara pertemuan kedua tulang, antara lain:1.1. SuturaDi antara tulang terdaapat jaringan fibrosa yang tipis sekali seperti sutura parietooccipitalis, sutura sagitalis, sutura lamboidea, dan sutura coronoidea.1.2. SyndesmosisDi antara tulang terdapat jaringan fibrosa (ligamentum/ membrana) seperti syndesmosis radio-ulnaris dan syndesmosis tibio-ulnaris.1.3. SynchondrosisDi antara tulang terdapat tulang rawan seperti symphisis pubis dan symphysis manubriosternalis.1.4. SchindelysisSatu tulang yang masuk ke dalam celah tulang seperti pada reostrum sphenoidale masuk ke dalam os. vomer.1.5. GamphosisTulang seperti tanduk masuk ke dalam lubang tulang, seperti gigi dalam geraham.2. Ampiarthrosis (bergerak sedikit)Contoh: Art. Sacroiliaca3. Diarthrosis/ Synovial (bergerak bebas atau luas)Merupakan sendi yang terdapat rongga di antara kedua tulang. Dapat dibagi berdasarkan:3.1. Jumlah tulang yang bersendi:3.1.1. Art. simplex: terdiri dari satu sendi3.1.2. Art. complex: terdiri dari lebih satu sendi3.2. Bentuk permukaan sendi:3.2.1. Arthroidea (gliding kepala sendi dan lekuk sendi rata.3.2.2. Ginglymus (hing) antara permukaan konvek dan konkaf.3.2.3. Pivot (trochoidea) permukaan sendi vertikal.3.2.4. Ellipsoidea (condyloidea) permukaan sendi berbentuk elip.3.2.5. Spheroidea (a ball and socket) kepala sendi berbentuk bola masuk ke dalam lekuk sendi yang dalam.3.2.6. Sellaris (saddle) kepala sendi dan lekuk sendi seperti orang duduk di atas pelana kuda.

PIVOT/ TROCHOIDEA SELLARIS/ SADDLE

SPHEROIDEAGINGLYMUS/ HINGE

ELLIPSOIDEA/ CONDYLOIDEAARTHROIDEA/ GLIDING

3.3. Jumlah sumbu gerak:3.3.1. Bersumbu satuContoh: art. interphalanx, art. talocruralis, art. radioulnaris proximalis.3.3.2. Bersumbu duaContoh: art. radiocarpalis.3.3.3. Bersumbu tigaContoh: art. glenohumerale, art. coxae

LI. 2.2. Mampu memahami dan menjelaskan anatomi persendian secara mikroSendi dibagi 3 berdasarkan strukturnya, yaitu:a. Fibrosa (sinathrosis)Terdiri atas jaringan ikat padat fibrosa, penyatuan yang kuat disebut sutura, yang berada di kranial. Jika jaringan fibrosa terdapat lebih banyak daripada sutura maka disebut sindemosis, contohnya; sendi radioulnar. Dan yang terakhir adalah gomfosis, sendi yang terbatas pada gigi dalam maxilla dan mandibular.

b. Kartilaginosa (sinathrosis)Tidak terdapat suplai darah, pembuluh limfatik, dan persyarafan. Terdiri dari air, kolagen tipe 2, proteoglikan, dan kondrosit.

c. Synovial (diathrosis)Membentuk batas ruang sendi, secara tegas menempel di kapsul, terdapat jaringan ikat longgar yang memungkinkan terjadi pertukaran darah dan cairan sinofial. Terdapat membrane sinofial yang menghasilkan pelumas sendi.

LO. 3. Mampu memahami dan menjelaskan tentang hiperurisemiaLI. 3.1. Definisi hiperurisemiaHiperurisemia adalah istilah kedokteran yang mangacu pada kondisi kadar asam urat dalam darah melebihi normal yaitu lebih dari 7,0 mg/dl. Hiperurisemia dapat terjadi akibat meningkatnya produksi ataupun menurunnya pembuangan asam urat, atau kombinasi dari keduanya. Kondisi menetapnya hiperurisemia menjadi predisposisi(faktor pendukung) seseorang mengalami radang sendi akibat asam urat (gouty arthritis), batu ginjal akibat asam urat ataupun gangguan ginjal.LI. 3.2. Etiologi hiperurisemia Peningkatan metabolisme asam urat (overproduction) Penurunan pengeluaran asam urat urin (underexcretion) Gabungan keduanyaDapat dibagi lagi menjadi:1. Hiperurisemia dan gout primer: hiperurisemia dan gout tanpa disebabkan penyakit atau penyebab lain.2. Hiperurisemia dan gout sekunder: hiperurisemia dan gout yang disebabkan karena penyakit atau penyebab lain.3. Hiperurisemia dan gout idiopatik: hiperurisemia yang tidak jelas penyebab primer, kelainan genetik, tidak ada kelainan fisiologi atau anatomi yang jelas.

LI. 3.3 Fisiologi dari metabolisme dan sekresi asam uratPurin termasuk komponen non-esensial bagitubuh, artinya purin dapat diproduksi oleh tubuh sendiri. Apabila kita mengkonsumsi makanan yang mengandung purin, maka purin tersebut akan langsung dikatabolisme oleh usus.(1) Urat (bentuk ion dari asam urat), hanya dihasilkan oleh jaringan tubuh yang mengandung xantin oxidase, yaitu terutama dihati dan usus. Produksi urat bervariasi tergantung konsumsi makananmengandung purin, kecepatan pembentukan, biosintesis dan penghancuran purin di tubuh. Normalnya, 2/3 -3/4 urat di ekskresi oleh ginjal melalui urin. Sisanya melalui saluran cerna.(2) Berarti semakin banyak makanan yang mengandung tinggi purin di konsumsi maka makin tinggi kadarasam urat yang diserap.

Biosintesis PurinSintesis purin melibatkan dua jalur, yaitu jalurde novodan jalur penghematan (salvage pathway). Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat melalui prekursor nonpurin. Substrat awalnya adalah ribosa-5-fosfat, yang diubah melalui serangkaian zat antara menjadi nukleotida purin (asam inosinat, asam guanilat, asam adenilat). Jalur ini dikendalikan oleh serangkaian mekanisme yang kompleks, dan terdapat beberapa enzim yang mempercepat reaksi yaitu: 5-fosforibosilpirofosfat (PRPP) sintetase dan amidofosforibosiltransferase (amido-PRT). Terdapat suatu mekanisme inhibi