Top Banner

Click here to load reader

Pbb Pel Ratu

Aug 05, 2015

ReportDownload

Documents

Laporan Praktikum m.k Pengetahuan Bahan Baku Industri Hasil Perairan

Hari/tanggal: Kamis/26 April 2012 Asisten : Ika Astiana

LAPORAN FIELDTRIP PENGETAHUAN BAHAN BAKU HASIL PERAIRAN DI PELABUHAN RATU SUKABUMI, JAWA BARAT

Disusun oleh : Kelompok 1 Ayu Setiti S Bianca Benning Sonya Ayu Utari Risvan Hutabarat Zeta Fadilla Indra Mahardika Tri H Laurensius Sitanggang Mahisha S A Darsasa H A Isna Kurniati A C34100007 C34100017 C34100025 C34100036 C34100039 C34100046 C34100066 C34100074 C34090075 C34100085

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laut Indonesia memiliki potensi sumberdaya yang besar terutama potensi perikanan laut dari segi jumlah ataupun keragaman jenis. Luas laut Indonesia kurang lebih 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Laut Indonesia yang luas menyediakan sumberdaya ikan laut dengan potensi lestari sebesar 6,4 juta ton per tahun yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Jumlah tangkapan yang diperbolehkan di Indonesia sebesar 80% dari potensi lestari sumberdaya ikan laut yaitu sebesar 5,12 juta ton (Nurjanah et al. 2011). Pemanfaatan potensi sumberdaya ikan laut yang besar salah satunya dilakukan melalui kegiatan perikanan tangkap. Perikanan tangkap di Indonesia sekarang ini masih menjadi penyumbang utama produksi perikanan di Indonesia walaupun menunjukkan kuantitas hasil produksi yang berfluktuasi sejak tahun 2000 hingga tahun 2010. Tahun 2000 perikanan tangkap menghasilkan produksi sebesar 3.807.191 ton dan pada tahun 2010 produksi perikanan tangkap telah mencapai angka 5.039.446 ton (KKP 2011). Potensi sumberdaya ikan laut di Indonesia yang besar terutama karena luasnya variasi spesies perikanan yang hidup di perairan Indonesia. Hasil perikanan digolongkan dalam dua golongan besar yaitu hewan seperti ikan-ikanan dan Mollusca, dan juga tumbuhan seperti rumput laut dan lamun. Selain itu, hasil perikanan di Indonesia memiliki beberapa karakteristik lain, yaitu suplainya tidak konsisten, mudah rusak, dan komponennya tidak stabil. Luasnya variasi spesies ikan di perairan Indonesia menyebabkan tingginya juga keberagaman karakteristik komoditas hasil perikanan. Pengananan dan pemanfaatan yang berbeda untuk komoditas hasil perikanan yang berbeda timbul karena karakteristik yang berbeda pula pada masing-masing komoditas hasil perikanan (Nurjanah et al. 2011). 1.2 Tujuan Tujuan dilakukannya praktikum lapang ini adalah untuk mengenali karakteristik berbagai jenis ikan melalui deskripsi informasi biologis dan ekologis

terkait dengan potensi perikanan Indonesia dan mengetahui pemanfaatan yang dapat dilakukan dari hasil perikanan Indonesia sebagai bahan baku industri.

2 METODOLOGI 2.1 Waktu dan Tempat Praktikum lapang mata kuliah Pengetahuan dan Karakteristik Bahan Baku Hasil Perairan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 15 April 2012 yang bertempat di Pelelangan Ikan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. 2.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat tulis dan kamera. Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah ikan tuna (Thunnus albacores), ikan layur (Trichiurus sp) , ikan kantong semar (Mene maculata), ikan kerapu karet (Epinephelus ongus), dan ikan sebelah (Psettodes erumei). 2.3 Prosedur Kerja Praktikum lapang mata kuliah Pengetahuan Bahan Baku Industri Hasil Perairan kali ini menggunakan metode observasi langsung dan wawancara. Biota yang akan diindentifikasi ditentukan berdasarkan kesepakatan kelompok dan jenis ikan yang wajib. Wawancara dilakukan terhadap penjual ikan yang berdasarkan biota yang akan diidentifikasi berupa daerah penangkapan biota, alat tangkap, pendistribusian, dan nilai ekonomisnya. Biota selanjutnya difoto dengan menggunakan kamera. Prosedur kerja praktikum lapang dapat diamati pada diagram alir berikut:

Gambar 1 Diagram alir prosedur kerja praktikum lapang

3 HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacores ) 3.1.1 Deskripsi dan Klasifikasi Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacores) Ikan tuna (Thunnus sp) merupakan salah satu jenis ikan pelagis yang secara umum memiliki bentuk tubuh seperti cerutu memilki 2 sirip punggung, sirip depan biasanya pendek dan terpisah dari sirip belakang. Memiliki sirip tambahan (finlet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur. Sirip ekor bercagak agak ke dalam dengan jari-jari penyokong menutup seluruh ujung hyperal, tubuhnya tertutup oleh sisik berwarna biru dan agak gelap pada bagian atas tubuhnya. Sebagian memiliki sirip tambahan yang berwarna kuning cerah dengan pinggiran berwarna gelap. Menurut DKP (2005), pergerakan migrasi kelompok ikan tuna di wilayah perairan Indonesia mencakup wilyarah perairan pantai, teritorial, dan zona ekonomi ekslusif (ZEE) indonesia. Migrasi ikan tuna di perairan Indonesia merupakan bagian dari jalur migrasi tuna dunia karena wilayah Indonesia terletak pada lintasan perbatasan perairan antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Migrasi kelompok tuna yang melintasi wilayah perairan pantai dan teritorial terjadi akibat perairan tersebut berhubungan langsung dengan pengaruh perairan kedua samudera tersebut sehingga beberapa wilayah perairan pantai dan teritorial memiliki sumberdaya perikanan tuna yang besar. Menurut Saanin (1984), ikan tuna sirip kuning diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Chordata : Pisces : Percomorphi : Scombridae : Thunnus : Thunnus albacores

Gambar 1 ikan tuna (Thunnus albacores) Sumber : Koleksi pribadi Yellowfin atau ikan tuna sirip kuning termasuk jenis ikan berukuran besar, mempunyai dua sirip dorsal dan sirip anal yang panjang. Sirip dada (pectoral fin) melampui awal sirip punggung (dorsal) kedua, tetapi tidak melampui pangkalnya. Ikan tuna jenis ini bersifat pelagic, oceanic, berada di atas dan di bawah termoklin. Termoklin adalah suatu lapisan di perairan di mana dapat terjadi perubahan suhu secara drastis terhadap kedalaman. Ikan jenis yellowfin biasanya membentuk scholling (gerombolan) di bawah permukaan air pada kedalaman kurang dari 100 meter. Ukuran panjang dari yellowfin dapat mencapai lebih dari 200 cm dengan rata-rata 150 cm. Komposisi Kimia Ikan tuna adalah jenis ikan dengan kandungan protein yang tinggi dan lemak yang rendah. Ikan tuna mengandung protein antara 22,6 - 26,2 g/100 g daging. Lemak antara 0,2 - 2,7 g/100 g daging. Di samping itu ikan tuna mengandung mineral kalsium, fosfor, besi dan sodium, vitamin A (retinol), dan vitamin B (thiamin, riboflavin dan niasin). Pemanfaatan Ikan tuna biasanya dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pengkalengan ikan. Ikan tuna juga merupakan komoditas utama Indonesia dalam bidang ekspor. Negara tujuan dalam bidang ekspor adalah Jepang dan Taiwan. Harga ikan tuna, terutama ikan tuna sirip kuning adalah 25.000 rupiah per kilogram. Berdasarkan wawancara bersama nelayan, pada saat musim hujan hasil tangkapan ikan tuna tinggi. Penanganan ikan tuna di kapal menggunakan teknik pengesan dengan es curai.

3.2 Ikan Sebelah (Psettodes erumei) 3.2.1 Deskripsi dan Klasifikasi Ikan Sebelah (Psettodes erumei) Ikan sebelah (Psettodes erumei) merupakan ikan yang tergolong ke dalam kelompok ikan yang memiliki tubuh non bilateral simetris. Ikan ini bernilai ekonomis penting karena kandungan nutrisinya yang cukup tinggi dan rasanya yang enak. Ikan sebelah selain tinggi nutrisi juga sangat potensial sebagai inang antara dan inang akhir berbagai parasit karena merupakan ikan karnivora. Ikan Sebelah merupakan ikan konsumsi yang mudah ditemukan di pasar ikan dan tempat pendaratan ikan. Menurut Saanin (1984), ikan sebelah (Psettodes erumei) dapat di klasifikasikan sebagai : Kingdom Filum Subfilum Kelas Subordo Famili Genus Spesies : Animalia : Chordata : Vertebrata : Actinopterygii : Psettodoidei : Psettodidae : Psettodes : Psettodes erumei Gambar 3 Ikan sebelah (Psettodes erumei)

Sumber : Koleksi pribadi Ikan sebelah memiliki tubuh picak dengan kedua mata berada di satu sisi. Bagian tubuh ikan picak yang menghadap ke bawah hanya memiliki sedikit pigmen sehingga terlihat berwarna putih tidak seperti tubuhnya yang menghadap ke atas yang berwarna cokelat. Panjang ikan ini rata-rata 30 cm dan dapat mencapat 45 cm. Bentuk asimetris pada ikan sebelah merupakan hasil evolusi tengkorak flatfish secara bertahap. Bentuk tubuh picak dan dengan cokelat ini dapat digunakan untuk menyamarkan tubuhnya dengan lingkungan sekitarnya

sehingga mangsanya dapat dikelabui dan dapat dengan mudah ditangkap (Rachmanti 2008). Ikan sebelah memangsa dengan cara menelan. Makanan utama ikan sebelah adalah hewan-hewan bentik umumnya yang berkulit keras dan tak bertulang punggung. Juvenil ikan ini memakan krustasea kecil. Ikan sebelah dewasa dapat memakan ikan yang sama atau bahkan lebih panjang dari tubuhnya. Mangsa ikan sebelah dari jenis ikan antara lain Apogon sp. dan Leiognathus sp. Sebagai makanan utama lainnya adalah cumi-cumi tetapi pemangsaan cumi-cumi ini tidak sering terjadi (Das and Mashira 1990). Ikan Sebelah bereproduksi secara seksual dioecious. Bertelur di daerah lepas pantai atau di muara sungai. Dalam sekali reproduksi betina mampu melepaskan hingga dua juta telur. Telur-telur tersebut akan menjadi larva berukuran 1,5 3 mm. Pada saat ia masih larva hingga menjadi ikan sebelah yang dewasa, tubuhnya makin berbentuk pipih, sedangkan salah satu matanya bergerak kearah salah satu sisi tubuhnya. Setelah itu warna bagian tubuh bawah berubah menjadi putih (Devadoss et al 1977). Pemanfaatan Ikan sebelah kebanyakan dijual dalam keadaan segar atau dibekukan tetapi ada juga yang kemudian di olah menjadi ikan asap dan tepung ikan (Frimodt 1995). Kandungan nutrisi ikan ini cukup tinggi dan rasanya juga enak, daging ikan sebelah memang tidak terlalu tebal tetapi rasanya sangat gurih. Ikan ini juga dipercaya dap