Top Banner
BAB I PENDAHULUAN I. 1 Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan kebudayaan. Kebudayaan yang timbul dan berkembang dalam setiap suku memiliki keunikan dan kekhasan yang berbeda-beda sehingga setiap daerah memiliki minimal satu kebudayaan yang dapat dibanggakan, salah satunya adalah kebudayaan Jawa. Kebudayaan Jawa dalam hal ini Jawa Tengah mempunyai ragam kebudayaan, salah satunya adalah wayang. Wayang merupakan salah satu hasil kebudayaan dan warisan yang memiliki nilai tinggi. Seperti kita ketahui bahwa wayang mempunyai arti harfiah bayangan yang dalam perkembangannya pengertian dapat berarti pertunjukan panggung atau teater. Sebagai salah satu bentuk dan hasil kebudayaan yang bernilai tinggi maka wayang banyak menyimpan nilai-nilai seperti nilai religius, nilai ilmu pengetahuan atau filsafat dan nilai seni. Bagi masyarakat Jawa pagelaran wayang yang hanya dipentaskan pada hari-hari tertentu seperti hari perayaan keagamaan dan acara-acara slametan (upacara yang ditandai dengan sajian bermacam-macam makanan yang ditentukan menurut kebudayaan Jawa), dan untuk
45

Makalah wayang

Jul 03, 2015

Download

Documents

skartasemita
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
Page 1: Makalah wayang

BAB I

PENDAHULUAN

I. 1 Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan kebudayaan.

Kebudayaan yang timbul dan berkembang dalam setiap suku memiliki

keunikan dan kekhasan yang berbeda-beda sehingga setiap daerah memiliki

minimal satu kebudayaan yang dapat dibanggakan, salah satunya adalah

kebudayaan Jawa. Kebudayaan Jawa dalam hal ini Jawa Tengah mempunyai

ragam kebudayaan, salah satunya adalah wayang. Wayang merupakan salah

satu hasil kebudayaan dan warisan yang memiliki nilai tinggi. Seperti kita

ketahui bahwa wayang mempunyai arti harfiah bayangan yang dalam

perkembangannya pengertian dapat berarti pertunjukan panggung atau teater.

Sebagai salah satu bentuk dan hasil kebudayaan yang bernilai tinggi maka

wayang banyak menyimpan nilai-nilai seperti nilai religius, nilai ilmu

pengetahuan atau filsafat dan nilai seni. Bagi masyarakat Jawa pagelaran

wayang yang hanya dipentaskan pada hari-hari tertentu seperti hari perayaan

keagamaan dan acara-acara slametan (upacara yang ditandai dengan sajian

bermacam-macam makanan yang ditentukan menurut kebudayaan Jawa), dan

untuk merayakan peristiwa penting, misalnya kelahiran, sunatan, perkawinan

itu, tidak hanya sebagai hiburan akan tetapi pada perkembangannya, cerita-

cerita atau lakon yang dipentaskan disesuaikan dengan kondisi dan keadaan

yang sedang dialami oleh masyarakat.

Di dalam wayang juga terkandung simbol-simbol tertentu. Bahkan sering

kali pementasan wayang ini menyindir bahkan mengkritik para tokoh

masyarakat, politikus, dan pemimpin negara yang perilakunya dianggap

‘menyimpang' dari harapan masyarakatnya.

Para ahli dari berbagai disiplin ilmu tiada rasa jera untuk senantiasa

membicarakan wayang dari masa ke masa, baik dalam kesempatan diskusi,

seminar, kongres, terbitan buku, majalah, koran dan sebagainya. Ini dilakukan

Page 2: Makalah wayang

karena pengetahuan wayang yang demikian luas menarik untuk dibicarakan dan

memberikan kontribusi terhadap kehidupan masyarakat, baik di Indonesia

maupun mancanegara. Nilai-nilai kehidupan yang tergambar dalam wayang

terbukti dapat dipergunakan sebagai renungan dan referensi hidup berbangsa

dan bernegara.

I. 2 Perumusan Masalah

1. Bagaimana kedudukan wayang dalam masyarakat Indonesia?

2. Bagaimana simbolisme cerita wayang dalam kehidupan manusia?

3. Apa saja nilai yang terkandung dalam pertunjukan seni wayang?

I. 3 Tujuan Penulisan

Tulisan tentang “Wayang sebagai Salah Satu Aspek Budaya Bangsa”

merupakan sebuah hal yang sangat berguna bagi generasi muda. Mereka akan

lebih menyadari bahwa kemajuan teknologi tidaka akan menghalangi

keberadaan wayang di Indonesia, sehingga kebudayaan ini tidak ditinggalkan

oleh generasi muda.

I. 4 Manfaat

Penulis berharap agar tulisan ini bisa bermanfaat untuk setiap pembaca

dengan mengenalkan pengetahuan baru atau menambah pengetahuan bagi

seseorang yang sudah mengenal wayan terlebih dahulu. Setiap pembaca

sekiranya menyadari bahwa Indonesia memiliki kebudayaan yang bisa

dibanggakan. Para pembaca sekiranya juga ikut melestarikan kebudayaan

wayang ini agar tidak diakui oleh bangsa lain sebagai kebudaannya.

Page 3: Makalah wayang

BAB II

ISI

II.1 KEDUDUKAN WAYANG DALAM MASYARAKAT

II.1.1 Wayang sebagai Budaya Nasional

Masyarakat jawa mempunyai jenis kesenian tradisional yang bisa

hidup dan berkembang hingga kini dan mampu menyentuh hati sanubari dan

menggetarkan jiwa, yaitu seni pewayangan. Secara lahiriah, kesenian

wayang merupakan hiburan yang mengasyikkan baik ditinjau dari segi wujud

maupun seni pakelirannya. Namun demikian dibalik apa yang tersurat ini

terkandung nilai adiluhung sebagai santapan rohani secara tersirat.

Sebagai salah satu bentuk kebudayaan, maka wayang menduduki

tempat yang terhormat dan menjadi suatu bentuk kebudayaan nasional.

Selain identik dengan budaya Jawa, wayang kulit kini juga sudah menjadi

budaya nasional dan merupakan ciri khas Bangsa Indonesia. Tidak hanya

tampil dalam pagelaran, wayang kulit kini juga banyak digunakan sebagai

pajangan dan produk kerajinan tangan lainnya. Memang wayang kulit selama

ini identik dengan tokoh-tokoh pewayangan, seperti Gatot Kaca, Semar

beserta anak-anaknya atau Arjuna. Wayang kulit selalu dikonotasikan

barang-barang budaya yang selalu digunakan dalam pagelaran semalam

suntuk dengan lakonnya masing-masing.

II.1.2 Wayang dan Kehidupan

Wayang dalam pengertian “bayang-bayang” memberikan gambaran

bahwa di dalamnya terkandung lukisan tentang berbagai aspek kehidupan

manusia dalam hubungannya dengan manusia lain, alam, dan Tuhan; meski

dalam pengertian harfiah wayang merupakan bayangan yang dihasilkan oleh

“boneka-boneka wayang” dalam seni pertunjukan.

Page 4: Makalah wayang

Wayang dalam pengertian “hyang”, “dewa”, “roh”, atau “sukma”

memberikan gambaran bahwa wayang merupakan perkembangan dari

upacara pemujaan roh nenek moyang bangsa Indonesia pada masa lampau.

Benang merah dari tradisi ini tampak pada upacara ruwatan, yakni wayang

sebagai sarana pembebasan malapetaka bagi seseorang/ kelompok orang

yang terkena sukerta/ noda gaib.

Wayang bagi orang jawa merupakan sibolisme pandangan-pandangan

hidup orang jawa mengenai hal-hal kehidupan. Dalam wayang seolah-olah

orang jawa tidak hanya berhadapan dengan teori-teori umum tentang

manusia, melainkan model-model hidup dan kelakuan manusia digambarkan

secara konkrit. Pada hakekatnya seni pewayangan mengandung konsepsi

yang dapat dipakai sebagai pedoman sikap dan perbuatan dari kelompok

sosial tetentu.

Konsepsi-konsepsi tersebut tersusun menjadi nilai nilai budaya yang

tersirat dan tergambar dalam alur cerita-ceritanya, baik dalam sikap

pandangan terhadap hakekat hidup, asal dan tujuan hidup, hubungan manusia

dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungannya serta hubungan

manusia jawa dengan manusia lain.

Pertunjukkan wayang terutama wayang kulit sering dikaitkan dengan

upacara adat: perkawinan, selamatan kelahiran bayi, pindahan rumah,

sunatan, dll, dan biasanya disajikan dalam cerita-cerita yang memaknai

hajatan dimaksud, misalnya dalam hajatan perkawinan cerita yang diambil

"Parto Krama" (perkawinan Arjuna), hajatan kelahiran ditampilkan cerita

Abimanyu lahir, pembersihan desa mengambil cerita "Murwa

Kala/Ruwatan".

II.1.3 Wayang sebagai Sarana Pendidikan

Peranan seni dalam pewayangan merupakan unsur dominan. Akan

tetapi bila dikaji secara mendalam dapat ditelusuri nilai-nilai edukatif yang

sangat penting dalam kehidupan manusia.

Unsur-unsur pendidikan tampil dalam bentuk pasemon atau

perlambang. Oleh karena itu sampai dimana seseorang dapat melihat nilai-

Page 5: Makalah wayang

nilai tersebut tergantung dari kemampuan menghayati dan mencerna bentuk-

bentuk simbol atau lambang dalam pewayangan. Dalam lakon-lakon tertentu

misalnya baik yang diambil dari Serat Ramayana maupun Mahabarata

sebenarnya dapat diambil pelajaran yang mengandung pendidikan.

Bagaimana peranan Kesenian Wayang sebagai sarana penunjang Pendidikan

Kepribadian Bangsa, rasanya perlu mendapat tinjauan secara khusus.

Berdasarkan sejarahnya, kesenian wayang jelas lahir di bumi Indonesia. Sifat

lokal genius yang dimiliki bangsa Indonesia, maka secara sempurna terjadi

pembauran kebudayaan asing, sehingga tidak terasa sifat asingnya.

Berbicara kesenian wayang dalam hubungannya dengan Pendidikan

Kepribadian Bangsa tidak dapat lepas dari pada tinjauan kesenian wayang itu

sendiri dengan falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Pancasila

sebagai falsafah negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia, merupakan

ciri khusus yang dapat membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain.

Pancasila adalah norma yang mengatur tingkah laku dan perikehidupan

bangsa. Menurut TAP MPR - Rl No. II/ MPR/1993 tentang Garis-Garis

Besar Haluan Negara ; disitu ditandaskan bahwa untuk mewujudkan tujuan

nasional sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar

1945. perlu menetapkan Ketetapan yang mengatur Garis- Garis Besar Haluan

Negara yang didasarkan atas aspirasi dan Kepribadian Bangsa demi

penghayatan dan pengamalan kehidupan kenegaraan yang demokratis -

konstitusional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Pengertian Kepribadian Bangsa adalah suatu ciri khusus yang konsisten dari

bangsa Indonesia yang dapat memberikan identitas khusus, sehingga secara

jelas dapat dibedakan dengan bangsa lain.

II.1.4 Hubungan Politik dengan Wayang

Bagaimana hubungan antara ideologi-politik dan wayang? Wayang

oleh kekuasaan dipandang sebagai salah satu hasil budaya, sekaligus sebagai

media yang memiliki kekuatan untuk menyampaikan hal-hal yang terkait

dengan kepentingan ideologi-politik. Wayang dipandang sebagai mitos,

yakni cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada

Page 6: Makalah wayang

sekelompok orang. Mitos memberikan arah kepada kelakuan manusia dan

merupakan semacam pedoman untuk kebijaksanaan manusia. Lewat mitos

manusia dapat turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian

sekitarnya dan dapat menanggapi daya-daya kekuatan alam.

Dalam konsep Jawa tentang organisasi negara, raja atau ratu lah yang

menjadi eksponen mikrokosmos dari Negara. Religi masyarakat Jawa

memandang bahwa alam semesta merupakan satu kesatuan yang serasi dan

harmonis, tidak lepas satu dengan yang lain dan selalu berhubungan. Alam

semesta terdiri dari dua eksponen, yakni mikrokosmos dan makrokosmos,

yang dalam kehidupannya terjadi kelabilan. Kelabilan yang terjadi di dalam

makrokosmos sebagai akibat yang ditimbulkan oleh makrokosmos, atau

sebaliknya. Keteraturan di dalam makrokosmos dan mikrokosmos adalah

terkoordinasi dan apabila masing-masing berusaha keras ke arah kesatuan

dan keseimbangan, maka hidup akan tentram dan harmonis. Mulder

mengatakan bahwa usaha keteraturan dapat dilakukan dengan baik bila

semua orang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Orang-orang

harus mengetahui tempat dan tugas masing-masing, harus menghormati

kedudukan yang lebih tinggi, harus berikap baik dan bertanggungjawab

kepada mereka yang berkedudukan lebih rendah.

Wayang dari masa ke masa dipergunakan oleh penguasa maupun

partai politik sebagai media untuk mengarahkan masyarakat agar mengikuti

nilai-nilai yang diamanatkan dalam suatu pergelaran wayang. Di dalam

wayang juga sarat akan “sign” (tanda) dalam hal ini simbol. Simbol-simbol

ini dimanfaatkan oleh penguasa dan partai politik untuk mempengaruhi dan

mengarahkan masyarakat agar mengikuti “pedoman” yang telah dirancang/

dikonsep di dalam sebuah pertunjukan wayang. Sebagai contoh, yakni:

Ketika presiden Soeharto berkuasa, nilai-nilai Pancasila disebarluaskan

dalam berbagai media pendidikan, baik formal, informal, dan non formal.

Wayang dan macapat juga merupakan media seni tradisi yang memiliki

fungsi untuk menyebarluaskan nilai-nilai Pancasila itu. Bagaimana presiden

Soeharto memasyarakatkan nilai-nilai Pancasila melalui wayang? Lahirnya

lakon wayang yang berjudul Semar mBabar Jatidiri (Jawa)/ Sang Hyang

Page 7: Makalah wayang

Wiragajati (Sunda) merupakan wujud dari sebuah kepentingan ideologi-

politik yang tertuang di dalam wayang.

Pada tanggal 21 Januari 1995, para dalang, seperti: dalang wayang

kulit purwa/ Jawa, wayang golek/ Sunda, wayang parwa/ Bali, dan wayang

Betawi menghadap presiden Soeharto di Istana Negara. Dalam pertemuan itu

presiden Soeharto memberikan sambutan dan petunjuk kepada para dalang.

Wayang dan seni pedalangan dipandang dapat dimanfaatkan sebagai sarana

untuk memasyarakatkan nilai-nilai Pancasila, agar nilai-nilai ini benar-benar

dapat dihayati dan diamalkan dalam kehidupan nyata oleh seluruh

masyarakat Indonesia.

Ketika itu pula presiden Soeharto memberi pekerjaan rumah kepada

para dalang, beserta pengurus PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia)

dan SENAWANGI (Sekretariat Nasional Perwayangan Indonesia) untuk

menggubah sebuah lakon wayang yang dapat menguraikan tentang jatidiri

bangsa yang berintikan pada nilai pengendalian diri. Presiden Soeharto

ketika itu juga memberikan petunjuk agar para dalang dapat mengetengahkan

lakon wayang yang peran utamanya adalah Semar. Semar merupakan simbol

rakyat/ kawula yang memiliki kekuatan dan kearifan; ia seorang panakawan/

abdi Negara Amarta yang selalu berorientasi pada keutamaan, kebenaran,

dan keadilan.

Setelah para dalang beserta pengurus PEPADI dan SENAWANGI

mendapat pekerjaan rumah presiden Soeharto, kemudian mereka kembali ke

penginapannya di TMII. Ketua PEPADI Pusat juga sebagai General Manajer

TMII dan Kepala Rumah Tangga Kepresidenan memberikan fasilitas

pertemuan para dalang se-Indonesia tahun 1995 itu. PEPADI dan

SENAWANGI kemudian rapat untuk membicarakan pekerjaan rumah

presiden Soeharto. Ketika itu diputuskan untuk membentuk tim-8 (Solichin,

Ekocipto, Rusman Hadikusumo, H. Anom Soeroto, H. Panut Darmoko,

Sugito Purbotjarito, Timbul Hadi Prayitno, dan B. Subono). Tim-8 ini

bertugas menggubah lakon wayang yang menampilkan tokoh Semar. Tim

tersebut mengujicobakan beberapa judul lakon, antara lain Semar mBangun

Jiwa (Semar membangun jiwa) dan Semar mBabar Jatidiri (Semar

Page 8: Makalah wayang

menguraikan jatidiri) dan roses pemanggungan lakon ini dilkukan secara

bertahap. Pertama kali ditampilkan oleh KI H. Anom Soeroto dalam rangka

Dies Natalis UI ke-45 menyusul kemudian Ki Timbul Hadi Prayitno

mementaskan lakon ini di Museum Purna Bhakti Pertiwi TMII yang

disaksikan sendiri oleh presiden Soeharto. PEPADI Pusat memandang bahwa

lakon “Semar mBabar Jatidiri” merupakan rintisan yang akan terus

dikembangkan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu untuk lebih meluaskan

jangkauan khalayak, lakon dalam gaya Surakarta tersebut akan

dikembangkan terus dalam bentuk gaya lainya, yakni gaya Yogyakarta,

Banyumas, Jawa-Timuran, Bali, dan lain-lain. Lakon tersebut secara resmi

disyahkan pada tanggal 17 Agustus 1995 oleh Ketua Umum PEPADI Pusat.

Lakon tersebut telah dibukukan dengan judul “Semar mBabar Jatidiri”.

Dalam penerbitan ini tidak hanya lakon wayang tersebut (gaya Surakarta),

tetapi juga lakon wayang Golek Sunda yang diberi judul “Sang Hyang

Wiragajati”. Buku lakon ke-2 ini digubah oleh H. Ruswandi Zarkasih, H.

Tjetjep Supriadi, Barnas Somantri, Atik Sopandi, Erwin K. Padmawinata,

dan Tutun Hatta Saputra.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan bahwa peran yang

paling besar dalam menggubah lakon “Semar mBabar Jatidiri” yakni

PEPADI, yang sebenarnya erat hubungannya dengan kekuasaan, meskipun

organisasi ini secara struktur resmi kenegaraan tidak ada, dalam hal ini

PEPADI dilingkupi oleh kekuasaan. PEPADI memiliki kekuasaan untuk

menata dan membina para dalang. Ideologi-politik telah terimplementasikan

ke dalam bentuk lakon wayang, Semar mBabar Jatidiri. Ideologi Pancasila

beserta P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dalam wayang

dapat terlihat dengan jelas namun ada pula yang tersamar (dalam bentuk sign

system).

Di dalam lakon Semar mBabar Jatidiri disebutkan bahwa kerajaan

Yawastina memiliki dasar Negara/ kerajaan, yakni: pancaprasedya (lima

kehendak) lima dasar yang merupakan inti sari budaya yang sungguh-

sungguh menjadi segala sumber hukum negara utama (pancaprasedya lire

gegebengan limang prakara sari pathining budaya kang nyata dadya angger

Page 9: Makalah wayang

ugering praja utama). Ini menunjukkan bahwa Ideologi Pancasila telah

masuk ke dalam wayang melalui narasi (janturan) kerajaan Yawastina/

Astina yang mendambakan negara yang bersifat panjang (terkenal), punjung

(berwibawa), pasir (mempunyai samodra yang luas), wukir (berbukit dan

bergunung-gunung), loh (subur tanahnya), jinawi (barang-barang murah),

gemah (ramai), ripah (perdagangan lancar), karta (tentram), raharja (tidak

punya musuh). Gambaran negara/ kerajaan Yawastina dalam lakon wayang

merupakan ideologi yang diharapkan berpengaruh pada pemikiran manusia

dalam kehidupan nyata, sehingga nantinya akan tercipta suatu keadaan

negara/ kerajaan sesuai dengan yang digambarkan di dalam lakon tersebut.

Sebenarnya dalam lakon Semar mBabar Jatidiri inti permasalahan

terdapat pada tokoh Semar. Ia meinggalkan kerajaan Yawastina/ Astina,

karena seisi negara/ kerajaan dalam keadaan kacau dan para penyelenggara

negara telah melupakannya; oleh karena itu para petinggi negara Yawastina

mencari Semar. Para petinggi Negara Yawastina berhasil menemui Semar,

yang kemudian diberi wejangan tentang Pancasila dan P4 (Pedoman

Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Dalam konteks ini, rupanya

pemerintah ingin mempertegas tentang pentingnya Pancasila sebagai filsafat

hidup bangsa, meskipun di dalam wayang sesungguhnya secara implisit dan

eksplisit mengungkapkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan,

kerakyatan, dan keadilan sosial. Pasca 1995 terjadi krisis politik, ekonomi,

hukum, dan budaya yang mempengaruhi masyarakat harus melakukan

reformasi. Presiden Soeharto rupanya ingin menguji sejauh mana kesetiaan

masyarakat Indonesia melalui wayang. Pola pemikiran masyarakat Indonesia

dibentuk dan diarahkan kepada suatu rumusan bahwa krisis/ kekacauan

hampir di segala bidang ini sebagai kesalahan bersama, seperti terlukis dalam

ungkapan: tiji tibeh/ mati siji mati kabeh (mati satu mati semua); jika ada

salah satu yang mati dalam suatu tragedi maka harus mati semuanya.

Pada masa berikutnya dipentaskan sebuah lakon wayang yang berjudul

Rama Tambak, dimaksudkan agar pemerintah dapat membuat tanggul untuk

menyeberang lautan dan selamat dari ancaman bahaya/ kekacauan.

Page 10: Makalah wayang

Ada beberapa interpretasi mengenai lakon yang berorientasi pada

tokoh Semar tersebut, yakni: tokoh Semar ada kaitannya dengan pak Harto

sebagai pemegang Supersemar (dari presiden Soekarno) pada tahun 1966.

“Supersemar” itu sendiri dpat dimaknai Semar yang bersifat super atau

“Surat Perintah Sebelas Maret”. Ini dapat dirumuskan bahwa “Semar yang

super” tersebut tiada lain adalah “pemegang Supersemar” itu sendiri. Di

dalam wayang, Semar bertugas mengantar ksatria utama dengan aman dari

segala bahaya sampai ke tujuannya. Jika ksatria berada dalam kesulitan,

Semar memberi nasehat; jika ia terlalu agresif dan emosi , ia direm oleh

Semar dan ditarik kembali dari langkah-langkah yang kurang dipikirkan. Jika

ksatria itu sedih Semar menjadikannya senang dengan lelucon-lelucon. Jika

ksatria dalam kesendirian dan kesepian maka Semar menemainya.

Pada masa sebelumnya, ketika Presiden Soekarno berkuasa, ia sering

menanggap Ki Gito Sewaka, seorang dalang kenamaan di era 60-an, untuk

mempergelarkan wayang di istana negara. Tokoh Gathutkaca lah yang

menjadi idola sang Presiden. Watak ksatria, keberanian, kegagahan,

kelincahan, kesaktian, dan kepandaian Gathutkaca menjadi acuan spirit

Presiden Soekarno pada saat itu. Pada masa yang sama berkembang “wayang

suluh” yang digubah oleh departemen penerangan; wayang ini berfungsi

sebagai media penyuluhan atau penerangan pemerintah.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan bahwa wacana

kekuasaan “orde baru” dalam pertunjukan wayang, pada masa berikutnya

bergeser menjadi wacana “reformasi” dalam segala unsur dan bentuknya.

Pada masa ini kreativitas di bidang pedalangan dan perwayangan dilakukan

di semua unsur-unsur yang terdapat di dalamnya dengan berorientasi pada

wacana reformasi itu.

Pada era reformasi wayang menjadi media untuk berkampanye,

melegitimasi, serta menyampaikan pesan-pesan partai politik tertentu,

misalnya: dalam rangka ulang tahun “Partai Amanat Nasional” (PAN), Ki

Joko Hadiwijoyo (Joko Edan) dari Semarang menampilkan lakon wayang

yang berorientasi pada keagungan matahari. “Partai Amanat Nasional”

bersimbolkan matahari. Melalui penampilan tema lakon wahyu (anugerah

Page 11: Makalah wayang

Illahi) tersebut diharapan dapat memberikan pengaruh kepada partai dan

khalayak luas, sehingga Indonesia dengan kepemimpinan PAN dapat menuju

masyarakat yang tentram, damai, sejahtera berkat matahari yang memberikan

penerangan seluruh masyarakat Indonesia.

II.1.5 Fungsi Wayang

1. Fungsi religius.

Pada awalnya wayang diciptakan oleh manusia adalah sebagai alat

pemenuhan kebutuhan religiusnya. Manusia zaman dahulu, mementaskan

wayang (yang bentuknya tidak seperti kita kenal sekarang) untuk memuja

dan mempertemukan mereka dengan roh-roh nenek moyang. Kepercayaan

yang seperti demikian disebut Animisme. Lalu untuk zaman sekarang,

wayang masih dikaitkan dengan nilai-nilai religius. Masih sering kali

sebelum pementasan wayang ada sesajen tertentu yang harus dibuat.

Contoh yang lebih nyata lagi dengan adanya upacara ruwatan dengan

tujuan membuang sial yang mengharuskan adanya pertunjukan wayang.

2. Fungsi Pendidikan.

Wayang digunakan juga oleh masyarakat sebagai media pendidikan.

Dengan wayang transformasi nilai-nilai luhur budaya dapat berlangsung

secara efektif. Banyak nilai-nilai kebaikan yang bisa diambil dari cerita

atau lakon yang ada dalam wayang. Transformasi ini bersumber dari

dalang yang biasanya adalah orang penting di masyarakat, kepada

masyarakat baik itu kalangan atas atau bawah. Pada masa Sunan Kalijaga

pun wayang dijadikan media pendidikan dan wakwah. Melaluinya, ajaran-

ajaran Islam disisipkan agar lebih mudah dimengerti oleh masyarakat Jawa

waktu itu.

3. Fungsi penerangan dan kritik sosial.

Dalam pertunjukan wayang, masyarakat bisa diinformasikan tentang

peristiwa apa yang penting untuk diketahui oleh para dalang. Misalnya

dengan mementaskan lakon-lakon tertentu yang sesuai dengan keadaan

masyarakat pada waktu itu. Lalu juga bisa dijadikan sarana kritik sosial.

Masyarakat bisa mengkiritik kebijakan pemimpin mereka tanpa resiko

Page 12: Makalah wayang

kemarahan pemimpin melalui wayang. Dengan lakon-lakon tertentu pula

atau fragmen wayang “goro-goro” dalang bisa bebas mengkritik kebijakan

pemimpin.

4. Fungsi Hiburan.

Wayang di sini murni merupakan hiburan bagi masyarakat. Tidak

ditujukan untuk maksud-maksud religi tertentu. Tapi hanya untuk

menghibur masyarakat yang gemar akan seni pertunjukan ini. Seperti pada

acara khitanan, resepsi pernikahan, acara besar desa, yang dipentaskan

untuk menghibur khalayak ramai.

II.2 SIMBOLISME DALAM WAYANG

II.2.1 Wayang dalam Fiksi Indonesia

Wayang adalah salah satu mitos lama yang memegang peranan

penting dalam masyarakat Jawa. Wayang dalam kebudayaan Jawa dianggap

sebagai simbolisasi mencapai kesempurnaan hidup. Dalam serat Centini

dijelaskan bahwa wayang berfungsi sebagai cerminan manusia di dunia yang

menggambarkan proses hidup dalam kurun waktu terbatas dari puturan

hukum sebab akibat, yang dalam konsep Jawa disebut cakra manggilingan.

Dalam sastra Indonesia mutahir, wayang menjadi sumber inspirasi dan

eksplorasi estetis yang tidak jarang membuat wayang “bergeser” dari mitos

lamanya.

Beberapa pengarang Indonesia modern memanfaatkan wayang untuk

warna estetika karya-karya mereka. J.B Mangun Wijaya memanfaatkan alur,

aspek pertunjukan wayang dan tokoh-tokoh pewayangan dalam novelnya

Durga Umayi dan Burung-burung Manyar. Putu Wijaya mengolah episode

Barata Yudha (Mahabarata) dalam novel Perang. Umar Kayam

memanfaatkan tokoh-tokoh Citraksi-Citraksi untuk cerpennya. Goenawan

Muhhamad terinspirasi lakon Parikesit dalam sebuah puisi panjangnya, dan

Seno Gumira Ajidarma dengan novel Kitab Omong Kosong menggugat

mitos dalam lakon wayang Ramayana.

Page 13: Makalah wayang

Dalam novel Kitab Omong Kosong, Seno Gumira mencoba

mengukuhkan mitos wayang Ramayana namun sekaligus pula mencoba

membongkar, memberontak dan mendekontruksi mitos dan nilai-nilai

tentang lakon Ramayana yang sudah mengakar di masyarakat. Upaya

pembongkaran ini pertama sekali terletak pada penyusunan alur cerita. Kalau

kitab Ramayana asli dibagi dalam urut-urutan tujuh kanda, yakni Bala

Kanda, Ayodya Kanda, Aranya Kanda, Kiskenda Kanda, Sundara Kanda,

Yudha Kanda dan Utara Kanda, dalam novel Kitab Omong Kosong, Seno

justru memulai dari ide cerita Utara Kanda yang justru merupakan bagian

akhir Ramayana yang tidak populer di Jawa.

Pada bagian awal novel langsung tampak myth of freedom, dimana

tokoh Rama yang dalam masyarakat Jawa dimitoskan sebagai simbol satriya

utama yang selalu mengemban kebenaran, penegak keadilan dan terjaga dari

segala perbuatan buruk, justru digambarkan sebagai tokoh raja yang kejam

yang menaklukan beratus-ratus negara. Tokoh Rama yang dalam konsep

Jawa dimitoskan sebagai titisan (awatara) Dewa Wisnu pemelihara dunia

malahan dimunculkan sebagai raja haus kekuasaan dan melaksanakan

upacara aswameda parwa (persembahan kuda), yakni melepaskan kuda yang

telah diberi mantera dan setiap jengkal tanah yang dilalui kuda tersebut harus

takluk atau ditaklukan.

Kalau dalam pewayangan Jawa. perang Rama dan Rahwana

merupakan lambang perlawanan antara yang benar dan yang jahat, maka

dalam novel Kitab Omong Kosong menjadi kabur mana yang mewakili

kebenaran dan yang mewakili kejahatan. Fokus utamanya bukan peperangan

antara Rama dan Rahwana tetapi peperangan antara Rama dengan dirinya

sendiri. Persoalan siapa yang benar dan siapa yang salah menjadi kabur atau

tidak didikotomi secara jelas dan ekstrim seperti dalam cerita-cerita wayang

di masyarakat. Kalau dalam cerita pewayangan, kebaikan itu “diputihkan”

dan kejahatan “dihitamkan”, sebagaimana putih tak pernah bisa bercampur

dengan hitam, kebaikan senantiasa terpisah dari kejahatan dan kebaikan

selalu menang melawan yang jahat. Justru dalam novel Kitab Omong

Kosong dinyatakan bahwa dalam hidup putih dan hitam dapat bercampur,

Page 14: Makalah wayang

adakalanya yang jahat dapat demikian berkuasan dan yang baik bisa sangat

menderita, demikian pula sebaliknya.

Pembongkaran mitos juga tampak dengan munculnya tokoh-tokoh

utama yang tidak pernah disebut-sebut dalam cerita Ramayana yang justru

tokoh-tokoh ini berasal dari kalangan marginal atau rakyat kecil (kawula

alit). Tokoh-tokoh baru tersebut ---Satya dan Maneka--- merupakan sepasang

muda-mudi, yang satu seorang pemuda desa lugu yang desa dan sanak

saudaranya musnakh akibat upacara persembahan kuda Rama. Maneka

malahan berasal dari kalangan pelacur yang sejak kecil lahir di rumah bordil

dan mencoba lari dari nasibnya yang malang. Kedua tokoh baru ini lebih

mendominasi cerita dan tampil sebagai hero melebihi tokoh-tokoh pakem

seperti Laksamana, Wibisina, Sugriwa, dan Rama.

Munculnya tokoh Satya dan Maneka dalam novel ini merupakan

upaya penghancuran mitos pewayangan Jawa yang mengagung-agungkan

kebudayaan ksatria. Selama ini wayang dianggap sebagi symbol konsep

manusia ideal Jawa yang menekankan tentang hidup ksatria (satriya

pinandhita). Di pusat kebudayaan ksatria ini selalu dicitrakan cita-cita yang

indah serta ‘halus” dan tampillah para ksatria yang gagah berani tanpa cela

yang harus diteladani kawula alit (rakyat jelata). Dengan munculnya tokoh

Satya dan Maneka yang berasal dari rakyat jelata yang malahan berhasil

meneukan Kitab Omong Kosong sehingga dapat menyelamatkan kebudayaan

dunia, maka runtuhlah mitos kebudayaan satriya. Para satriya tak lebih mulia

dari rakyat jelata. Rama, Laksamana, Wibisana, Sugriwa, Anoman, tak lebih

sakti, lebih luhur dan lebih baik dibanding dengan Satya anak petani dan

Maneka yang seorang pelacur.

Novel ini juga menjungkirbalikkan mitos kekuasaan dan konsep

kepemimpinan Jawa. Dalam pewayangan Jawa semenjak kebudayaan Hindu

masuk dan berkembang di Indonesia konsep kekuasaan selalu bertumpu pada

raja (ksatriya). Menurut konsep Jawa yang disimbolkan melalui wayang, raja

adalah “warenaning Allah”, proyeksi Tuhan, karena itu kekuasaanya bersifat

mulak. Konsep ini dalam bahasa pedhalangan dikatakan sebagai “gung

binathara bau dhenda anyakrawati, wenang wisesa ing sanagari, ber budi

Page 15: Makalah wayang

bawa leksana” (sebesar kekuasan dewa, pemelihara hokum dan penguasa

dunia, memegang kekuasaan tertinggi seluruh negara, meluap budi luhur

mulia dan sifat adil terhadap sesama).

Konsep kepemimpinan ini dibongkar habis-habisan dalam novel

Kitab Omong Kosong. Dalam novel ini wajah cerita Ramayana menjadi

sangat berbeda karena rakyat jelata seperti Satya dan Maneka justru menajdi

semacam personifikasi rakyat yang tidak lagi tergantung dan bergantung

pada raja bahkan mempunyai kekuatan yang jauh lebih dahsyat dibanding

kekuatan para satriya.

Upaya dimunculkannya mitos baru yakni kekuatan rakya jelata

semakin kuat ketika di akhir cerita pengarang memunculkan tokoh Togog.

Togog dalam wayang Jawa adalah seorang abdi yang terbuang dan tersia-sia.

Kebalikan dari tokoh Semar yang merupakan punakawan (abdi) para kaum

satriya yang sering dianggap titisan Dewa Ismaya sehingga mendapat posisi

yang khusus dalam konsep Jawa, tokoh Togog justru nyaris tidak pernah

diperbincangkan dan bahkan tidak pernah mendapatkan peranan besar.

Togog merupakan bagian dari “kultur tertawa” yang membangun dunianya

sendiri melawan dunia dari mereka yang “resmi berkuasa”. Lawan dari

kultur tertawa adalah “kultur ketegangan”, kultur yang penuh formalitas,

basa-basi, kepura-puraan serta kemunafikan. Dan dalam novel ini justru

Togoglah penulis “Kitab Omong Kosong” yang dicari-cari dan diperebutkan

kaum satriya.

Pengambilan estetika wayang dan sekaligus pendekontruksiannya

dalam sastra Indonesia mutahir seperti contoh di atas, merupakan bukti

bahwa satrawan mutahir Indonesia (etnis Jawa) adalah manusia perbatasan

yang sedang bertranformasi diri dengan mencoba mengikutsertakan budaya

etnis-tradisi Jawa menuju ke dalam negara-bangsa Indonesia yang notabene

merupakan ‘kampung halaman‘ dan budaya yang relatif baru. Hal ini

merupakan sebuah proses panjang yang berat karena pada satu sisi menuntut

mereka menata kembali keberadaan, kedudukan dan fungsi budaya dan sastra

Jawa sebagai akar mereka, dan di sisi lain mereka “terpaksa” melakukan

perantauan budaya ke kosmologi dan mitologi baru bernama Indonesia.

Page 16: Makalah wayang

II.2.2 Makna Simbolik Dalang dan Wayang

Peranan Dalang dan Wayang kulit dalam pergelaran wayang menurut

Zoetmulder bahwa dalam Serat Centhini jilid IX teks yang berupa tembang

Megatruh disebutkan simboliknya sebagai berikut:

Janma tama karya lajem ing pandulu Sasmitaning Hyang sejati Dalang lan

wayang dinunung Panganggone Hyang Mawarni Karyo Upameng pandulon

Kelir gumelar wayang pinanngung Asnapun makluk ing widi Gedebog

bantala wegung Balencong pandoming urip Gamelan gending ing lakon.

Dalang dan wayang diberikan tempat yang sejati, yaitu sebagaimana

cara menggambarkan bagaimana Tuhan bertindak . Orang Bijak membuat

perumpamakan sebagai berikut.:

Kelir itu jagat yang kelihatan, wayang-wayang yang ditancapkan di kiri dan

kanan menggambarkan golongan makluk-makluk Tuhan. Batang pisang

adalah Bumi. Blencong adalah lampu kehidupan. Gamelan ialah keserasian

antara per peristiwa. (1991:290-291).

Pada uraian di atas jelas digambarkan bahwa perangkat pergelaran

wayang kulit merupakan simbolik yang sangat jelas, namun dalang sebagai

simbol Tuhan mestinya kurang tepat. Meski dalam sajian pergelaran, wayang

menjadi hidup atau mati karena kehendak sang Dalang. Karena Tuhan tidak

dapat personifikasikan dengan bentuk apapun serta hanya dapat diketahui

melaui sifat-sifatnya.

Adhikara memaknai lain, dalang simbolik dari jiwa, wayang sebagai

raga dan Tuhan sebagai orang yang menanggapnya. Tuhan memang tidak

terlihat, ia digambarkan sebagai orang yang nanggap wayang karena waktu

pergelaran tidak dapat dilihat penonton. Boneka wayang hidup karena jiwa

yang beujud Ki Dalang. Jika pergelaran telah selesai wayang ditinggalkan

dalang (raga ditinggalkan), wayang dimasukkan kotak (peti) sebab sudah

mati sedangkan dalang masih hidup.

Page 17: Makalah wayang

II.2.3 Simbol Pewarnaan pada Wayang

Warna-warna pada wajah (muka) boneka wayang yang disimping

(diatur berjajar) seperti merah, hitam, kuning dan putih juga mempunyai

makna simbolik. Keempat warna itu bagi orang jawa melambangkan nafsu

amarah, aluamah, sufiah dan mutmainah. Warna-warna itu tidak

mengandung satu makna saja tetapi mempunyai makna ganda. Warna merah

pada muka Rahwana berbeda artinya dengan warna merah pada Baladewa.

Demikian juga setiap daerah mempunyai penafsiran sendiri-sendiri sesuai

dengan persepsinya.

Susunan wayang simpingan di dalamnya terdapat unsur kanan-kiri,

baik-buruk, halus-kasar. Pewarnaan muka wayang merupakan satu kesatuan.

Simpingan kanan dan kiri sebagai lambang baik buruk tidaklah tepat karena

di simpingan kanan juga terdapat beberapa wayang yang berkarakter jelek

sedangkan di simpingan kiri juga ada beberapa tokoh wayang yang

berkarakter baik.

Demikian juga mengenai makna simpingan kanan dan simpingan kiri

tidak bisa dikatakan sebagai kejahatan (kiri) dan kebaikan (kanan).

Simpingan kanan dan kiri merupakan makna symbol kesatuan yang tidak

dapat dipisahkan, keduannya saling mengisi dan melengkapi. Tidak dapat

ditarik suatu garis yang tegas antara baik dan buruk atau jahat, karena

keduannya untuk mencari kompromi atau keseimbangan dari dua kutub yang

saling berlawanan.

II.3 NILAI DALAM WAYANG

II.3.1 Ajaran Moral dalam Wayang

Ceritera dalam pertunjukan wayang kulit sejatinya menampilkan

ajaran moral, dimana manusia hidup diharapkan dapat mengetahui mana

yang baik dan mana yang buruk. Tamsil etika nilai-nilai dalam wayang

biasanya disampaikan secara tegas misalnya jangan membunuh, jangan

Page 18: Makalah wayang

berdusta, jangan berkhianat, tidak boleh marah, tidak boleh munafik dan lain

sebagainnya.

Hal lain yang ditampilkan dalam pergelaran wayang adalah soal

dilema atau pilihan. Manusia hidup ternyata selalu dihadapkan dengan

pilihan. Tetapi apapun pilihannya manusia toh harus memilih, meski pilihan

atau keputusan yang diambilnya tidak pernah sempurna. Hal ini menunjukan

bahwa manusia secara spikologis dan filosofis selalu dihadapkan dengan

problemanya yang tak pernah terpecahkan dengan sempurna. Kemudian

manusia harus mampu berdiri di salah satu pihak, mau yang baik atau yang

buruk misalnya; Jamadagni harus memilih membunuh istrinya atau

membiarkan istrinya berdosa Rama Parasu harus memilih membunuh Ibunya

atau menentang perintah Ayahnya Harjunasasrabau harus memilih

meninggalkan tahtahnya atau mencari Nirwana Wibisana harus memilih ikut

angkara atau ikut kebenaran. Sri Rama Harus memilih, mengorbankan

rakyatnya atau mengorbankan cintanya.

Sesudah manusia berani menetapkan pilihannya maka barulah

keputusan dan tindakan manusia itu berarti dan bermakna bagi

kehidupannya. Tanpa pendirian yang tegas mengenai pilihan dasarnya maka

sebenarnya manusia tidak menjalani kemanusiaaanya atau eksistensinya. Jadi

dengan demikian setiap tindakan manusia akan selalu didukung oleh suatu

sikap etis. Ia tidak akan dapat lari dan melepas tangung jawab dari tindakan-

tindakannya. Inilah salah satu ajaran wayang tentang bagaimana manusia

harus bersikap.

II.3.2 Asas Pancasila dalam Wayang

Rumusan Pancasila secara resmi ditetapkan dengan syah sebagai

falsafah Negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia sejak berlakunya

Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea 4

tercanang rumusan Pancasila yang berbunyi: Ketuhanan Yang Maha Esa,

Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia. dan Kerakyatan

yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/

Page 19: Makalah wayang

perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh

rakyat Indonesia. Jiwa Pancasila seperti yang termaktub dalam Pembukaan

Undang-Undang Dasar 1945 tersebut, bukanlah masalah yang baru dalam

dunia pewayangan.

Asas Ketuhanan Yang Maha Esa

Dalam dunia pewayangan dikenal tokoh yang biasa disebut "Hyang

Suksma Kawekas" Tokoh ini tidak pernah diwujudkan dalam bentuk

wayang, tetapi diakui sebagai Dewa yang Tertinggi. Tokoh Dewa - Dewa

yang diwujud kan dalam bentuk wayang, misalnya: Batara Guru, Batara

Narada, Batara Wisnu, Batara Brahma, Batara Kamajaya dan lain sebagainya

dalam pewayangan digambarkan seperti manusia biasa. Mereka juga

dilukiskan memiliki watak serta tabiat yang banyak persamaannya dengan

manusia lumrah. Dalam ceritera-ceritera mereka sering pula berbuat salah,

bahkan tidak jarang terpaksa minta bantuan manusia dalam menghadapi hal-

hal tertentu. Kekawin Arjunawiwaha misalnya, merupakan contoh yang

jelas. Pada saat raksasa Nirwatakawaca mengamuk di Suralaya karena

maksudnya meminang Dewi Supraba ditolak para Dewa. Para Dewa tidak

mampu menghadapinya. Untuk mengamankan Suralaya para Dewa minta

bantuan bagawan Mintaraga atau bagawan Ciptaning yaitu nama Arjuna saat

menjadi pertapa. Sebagai imbalan jasa karena bagawan Ciptaning berhasil

membunuh Raksasa Nirwatakawaca diberi hadiah Dewi Supraba dan Pusaka

Pasopati. Disini terlihat bahwa kebenaran yang bersifat mutlak hanya

dimiliki Dewa Tertinggi yaitu Hyang Suksma Kawekas. Ajaran ini tidak jauh

berbeda dengan ajaran yang terkandung di dalam sila Ketuhanan Yang Maha

Esa

Asas Kemanusiaan

Jiwa yang terkandung dalam sila Kemanusiaan, pada hakekatnya

suatu ajaran untuk mengagung-agungkan norma-norma kebenaran.

Bahwasanya kebenaran adalah di atas segala- galanya. Kendatipun

kebenaran mutlak hanya berada di tangan Tuhan Yang Maha Esa, namun

untuk menjaga keseimbangan kehidupan antara manusia perlu dipupuk

kesadaran tenggang rasa yang besar.

Page 20: Makalah wayang

Kebenaran yang sejati mempunyai sifat universal, artinya berlaku

kapan saja, dimana saja dan oleh siapapun juga. Tokoh dalam dunia

pewayangan yang memiliki sifat dan watak mengabdi kebenaran banyak

jumlahnya. Sebagai contoh dapat dipetik dari Serat Ramayana. Di dalam

Serat Ramayana dikenal putera Alengka bernama Raden Wibisono yang

mempunyai watak mencerminkan ajaran kemanusiaan. Kisah inti dalam

Serat Ramayana berkisar pada kemelut yang terjadi di antara Prabu

Dasamuka yang merampas isteri Rama. Tindakan Prabu Dasamuka ini dinilai

berada diluar batas kemanusiaan. Raden Wibisono sadar akan hal tersebut,

Prabu Dasamuka dianggap melanggar norma perikemanusiaan. Oleh karena

itu Raden Wibisono ikut aktif membantu Raden Rama untuk memerangi

saudaranya sendiri. Demi kemanusiaan Raden Wibisono rela mengorbankan

saudara sendiri yang dianggap berada dipihak yang salah.

Asas Persatuan

Dalam dunia pewayangan tokoh yang memilih jiwa kebangsaan

tinggi terlukis pada diri tokoh Kumbakarna digambarkan dalam bentuk

raksasa, namun memiliki jiwa ksatria. Sebagai adik Raja Dasamuka,

Kumbakarna memiliki sifat yang berbeda. Kumbakarna menentang tindakan

Prabu Dasamuka yang merampas Dewi Sinta isteri Rama.

Sikap menentang sama dengan sikap Raden Wibisono, tetapi jalan yang

ditempuh berbeda. Raden Wibisono menentang dengan aktif memihak Raden

Rama, tetapi Kumbakarna tetap berfihak Alengka demi negaranya. Niatnya

bukan perang membela kakaknya, tetapi bagaimanapun juga Alengka adalah

negaranya yang wajib dibela walaupun harus mengorbankan jiwa raga.

Oleh karena itu nama Kumbakarna tercanang sebagai nasionalis yang sejati.

Benar atau salah Alengka adalah negaranya.

Asas Kerakyatan / Kedaulatan rakyat

Dalam dunia pewayangan dikenal tokoh punakawan yang bernama

Semar. Semar adalah punakawan dari para ksatria yang luhur budinya dan

baik pekertinya. Sebagai punakawan Semar adalah abdi, tetapi berjiwa

pamong, sehingga oleh para ksatria Semar dihormati.

Penampilan tokoh Semar dalam pewayangan sangat menonjol. Walaupun

Page 21: Makalah wayang

dalam kehidupan sehari-hari tidak lebih dari seorang abdi, tetapi pada saat-

saat tertentu Semar sering berperan sebagai seorang penasehat dan

penyelamat para ksatria disaat menghadapi bahaya baik akibat ulah sesama

manusia maupun akibat ulah para Dewa. Dalam pewayangan tokoh Semar

sering dianggap sebagai Dewa yang ngejawantah atau Dewa yang berujud

manusia. Menurut Serat Kanda dijelaskan bahwa Semar sebenarnya adalah

anak Syang Hyang Tunggal yang semula bernama Batara Ismaya saudara tua

dari Batara Guru.

Semar sebagai Dewa yang berujud manusia mengemban tugas khusus

menjaga ketenteraman dunia dalam penampilan sebagai rakyat biasa. Para

ksatria utama yang berbudi luhur mempunyai keyakinan bilamana menurut

segala nasehat Semar akan mendapatkan kebahagiaan. Semar dianggap

memiliki kedaulatan yang hadir ditengah-tengah para ksatria sebagai

penegak kebenaran dan keadilan. Dengan kata lain Semar adalah simbul

rakyat yang merupakan sumber kedaulatan bagi para ksatria atau yang

berkuasa.

Asas Keadilan Sosial

Unsur keadilan dalam dunia pewayangan dilambangkan dalam diri

tokoh Pandawa. Pandawa yang terdiri dari Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula

dan Sadewa secara bersama- sama memerintah Negara Amarta. Kelimanya

digambarkan bersama bahagia dan bersama-sama menderita Tiap-tiap tokoh

Pandawa mempunyai ciri watak yang berlainan antara satu dengan lainnya,

namun dalam segala tingkah lakunya selalu bersatu dalam menghadapi

segala tantangan. Puntadewa yang paling tua sangat terkenal sebagai raja

yang adil dan jujur ; bahkan diceriterakan berdarah putih. Puntadewa

dianggap titisan Dewa Dharma yang memiliki watak menonjol selalu

mementingkan kepentingan orang lain, rasa sosialnya sangat besar.

II.3.3 Penokohan Ramayana dalam Pembentukan Watak

Wayang adalah sebuah karya seni yang penuh simbol dan nilai-nilai

filosofi tentang kehidupan manusia. Ia banyak menampilkan aspek-aspek dan

Page 22: Makalah wayang

problem-problem kehidupan manusia baik sebagai individu maupun warga

masyarakat luas. Wayang mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang

universal dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat pada jamannya.

Karakter setiap tokoh pewayangan merupakan lambang dari berbagai

pewatakan yang ada dalam kehidupan manusia. Misal watak baik, buruk,

kesetiaan dan lain-lain.

Walaupun kita hidup pada era teknologi informasi namun sebenarnya

wayang masih berperan dalam menjelaskan fenomena-fenomena modern,

karena dalam ceritera wayang mengandung ajaran moral yang sifatnya

universal dan berlaku sepanjang jaman. Bahwasanya wayang juga

mengajarkan kita untuk mengekang hawa nafsu menahan dahaga , lapar dan

agar “tapabrata” yang diartikan bukan untuk lari dari dunia nyata lalu hidup

menyepi di pantai dan merendam diri di tempuran sungai. Tetapi

dimaksudkan agar manusia tidak rakus, tidak menempatkan yang bersifat

materiil di atas segala-galanya.

Disisi lain wayang juga mengajarkan hemdaknya manusia dalam

melangkah maju tanpa was-was sampai memasuki dirinya sendiri hingga

pedalaman yang sedalam-dalamnya sehingga tidak mungkin lebih dalam

lagi, sampai ke akar yang yang terakhir dan berjumpa dengan dirinya sendiri.

Seperti dalam lakon “Dewa Ruci”.

Wayang juga mengingatkan kepada kita bahwa sesuatu yang semula

dianggap akan dapat membahagiakan hidupnya itu ternyata kalau dikejar

dengan penuh nafsu sampai melampaui batas kemampuan justru akan

menyebabkan malapetaka bagi pengejarnya “seperti dalam lakon Cupu

manik Astagina”.

Wayang juga mendemontrasikan hukum karma (ngunduh wohing

penggawe, utang pati nyaur pati, utang lara nyaur lara) Siapa yang menanam

akan memetik buahnya. Menanam kebajikan akan memetik kebajikan

sedangkan menanam kejahatan akan memetik kejahatan. Seperti dalam

lakon-lakon “baratayudha” dan juga mengajarkan memilah-milah mana yang

buruk dan mana yang baik dan yang “salah akan seleh”. Suradiro

jayanikanang rat, swuh brastha tekaping ulah darmastuti atau surodiro

Page 23: Makalah wayang

jayaningrat lebur dening pangastuti. (Betapaun sura sakti dan besar

kekuasaanya, tetapi bila untuk tujuan yang tidak benar, tidak adil dan

angkara murka pasti akan sirna oleh budi luhur dan rahayu .

Ada banyak tokoh dalam seri Ramayana. Karena berbagai

keterbatasan tokoh yang dijadikan contoh terutama Dewi Shinta, Raden

Gunawan Wibisana, Raden Subali, Raden Sugriwa dan Patih Prahasta.

Dewi Shinta adalah putri Prabu Janaka dari kerajaan Mantili. Ia

menjadi istri Rama setelah melalui sayembara. Raden Gunawan Wibisana

adalah putra Dewi Sukesi dengan Resi Wisrawa. Ia terpaksa meninggalkan

negara Alengka dan berpihak pada Rama karena tidak setuju dengan

perbuatan kakaknya (Prabu Dasamuka raja Alengka) yang menculik Sinta.

Raden Subali dan Sugriwa adalah putra Resi Gotama dan Dewi Windradi.

Semula mereka berwajah tampan dengan nama Raden Guwarsa dan Raden

Guwarsi. Akibat perbuatannya sendiri (berebut sebuah cupu) mereka berubah

wujud menjadi kera dan namanya pun ikut diganti. Patih Prahasta adalah

putra Prabu Sumali dengan Dewi Danuwati. Prahasta adalah adik Dewi

Sukesi dan pada waktu Dasamuka mendi raja ia diangkat menjadi patihnya.

Kelima tokoh di atas memiliki karakter dan sifat-sifat tersendiri yang

bisa diambil hikmahnya dalam kehidupan kita. Banyak nilai-nilai yang dapat

diambil dan dipelajari.

a) Nilai kesetiaan

Nilai kesetiaan pada Dewi Shinta sangat jelas. Dia rela

menderita dengan ikut Rama hidup di hutan. Juga ketika dalam

cengkeraman Raja Dasamuka yang ingin memperistrinya, ia tak

bergeming sedikit pun walaupun diiming-imingi berbagai hal. Selain

kesetiaan hal ini juga menunjukkan kesucian hatinya. Nilai kesetiaan

juga diperlihatkan oleh Patih Prahasta yang rela mati (dalam perang

melawan Rama). Ia rela mati bukan membela Dasamuka yang angkara

murka, tetapi karena kesetiaan pada negaranya dan ketidakrelaannya

melihat prajurit Alengka banyak yang mati atau menderita karena

perang melawan pasukan Rama.

b) Nilai kepatuhan.

Page 24: Makalah wayang

Kepatuhan memiliki nilai tinggi (dihargai dan dihormati)

buat orang yang menjalankannya, karena menjadi tolok ukur tentang

kehormatan, harga diri dan kepahlawanan seseorang. Dewi Shinta patuh

ketika menerima nsehat ayahnya untuk mengadakan sayembara memilih

suami. Raden Guwarsa dan Raden Guwarsi (Subali dan Sugriwa)

mematuhi perintah ayahnya untuk bertapa memohon ampun pada Tuhan

sebagai penebus perbuatannya.

c) Nilai kepemilikan.

Memiliki sesuatu itu (misal rumah, gelar, istri/suami) ada

aturan atau undang-undangnya. Artinya siapapun yang memiliki sesuatu

keberadaannya dilindungi undang-undang. Rama yang telah memiliki

Shinta tidak dapat diganggu gugat. Shinta yang telah “dimiliki” Rama

(sebagai suami) pun berusaha menjaga nilai kepemilikan tersebut.

Prahasta yang merasa memiliki negara Alengka merelakan kematiannya

karena membela negaranya. Ia mati demi harga dirinya dan harga diri

negara, bukan membela Dasamuka yang angkara murka.

d) Nilai kearifan dan kebijaksanaan.

Arif berarti tahu membedakan dan memilih antara yang baik dan

yang buruk. Bijaksana adalah sifat dan sikap yang dapat menempatkan

suatu masalah pada proporsi yang benar menurut aturan yang berlaku.

Karena itu rasa moral yang tinggi seharusnya melandasi semua pikiran

dan tingkah laku pemimpin. Dasamuka adalah raja yang tidak arif dan

bijaksana sehingga membawa kehancuran bagi rakyat dan negaranya.

Wibisana adalah tokoh yang arif dan bijaksana serta luas

pengetahuannya. Wibisana selalu menghargai pendapat orang lain baik

penguasa maupun rakyat kecil, selalu dapat menimbang apa yang

seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan.

e) Nilai ksatria.

Page 25: Makalah wayang

Sifat satria adalah sifat yang selalu membela kebenaran, tidak

takut menghadapi kesulitan serta bersedia mengakui kekurangan atau

kesalahannya. Atas dasar hal tersebut Wibisana berani

mengesampingkan nilai “berbakti” pada kakaknya. Ia dengan berani

tidak henti-hentinya menasehati Dasamuka agar mengembalikan Shinta

pada Rama, walaupun akibatnya ia diusir oleh kakaknya. Wibisana rela

meninggalkan kemewahannya di Alengka sebagai konskuensi dari

tindakannya. Hal ini juga mencerminkan sikap keteguhan hatinya.

f) Nilai pengendalian diri.

Pengendalian diri adalah sikap batin manusia dalam

usaha mengontrol nafsu-nafsunya dan melepaaskan pamrihnya untuk

mendapatkan keselarasan hidup. Sugriwa dan Subali adalah gambaran

manusia yang kurang bisa mengendalikan diri. Sekalipun mengetahui

ibunya telah menjadi tugu, mereka belum sadar akan perbuatannya dan

tetap berebut sebuah cupu, penyebab malapetaka keluarga Resi Gotama.

g) Nilai ketekunan dan keuletan.

Ketekunan dan keuletan diartikan sebagai sikap tidak menyerah

pada berbagai rintangan atau hambatan yang dihadapi demi mencapai

cita-cita atau tujuan (terlepas dari baik atau buruk tujuan tersebut).

Subali dan Sugriwa dengan sekuat tenaga berusaha memiliki cupu, juga

dengan tekun dan ulet melaksanakan tapa yang berat sebagai penebus

perbuatannya.

h) Nilai etika.

Berdasarkan etika seseorang harus dapat membedakan hal yang

buruk dan baik, hal yang benar dan hal yang salah. Prahasta adalah

gambaran orang yang bisa membedakan mana yang baik dan buruk,

mana yang benar dan mana yang salah. Ia penasehat Prabu Dasamuka

sekalipun nasehatnya tidak pernah diperhatikan. Ia menghadapi “buah

simalakama” tetapi tetap harus memilih. Akhirnya ia memilih menjadi

senapati Alengka bukan karena membela Dasamuka tetapi membela

negaranya.

Page 26: Makalah wayang

Dari uraian di atas jelas terkandung nilai-nilai pendidikan, baik

pendidikan yang mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia

dengan manusia maupun manusia dengan lingkungan alam. Yang baik

adalah manusia bisa menjaga keharmonisan hubungan tersebut.

BAB III

PENUTUP

III.1 KESIMPULAN

1. Pertunjukan wayang kulit telah menjadi salah satu wahana terpenting

untuk menyampaikan berita dan ajaran yang bersifat kebudayaan kepada

masyarakat Jawa khususnya. Melalui cara ini mereka belajar membedakan

nilai-nilai positif dan negatif.

2. Nilai-nilai Pancasila tersebar luas melalui wayang, baik digambarkan

secara implisit maupun eksplisit.

3. Di dalam wayang terkandung simbol-simbol kehidupan yang dapat

dipergunakan sebagai media komunikasi dan media pendidikan.

4. Pagelaran wayang kulit syarat dengan nilai-nilai dan petuah hidup bagi

manusia. Wayang kulit merupakan refleksi budaya Jawa dalam pengertian

sebagai pencerminan dari kenyataan kehidupan, nilai dan tujuan

kehidupan, moralitas, harapan dan cita-cita kehidupan orang Jawa.

Sebagai suatu kebudayaan, dalam wayang terkandung ajaran-ajaran

bagaimana hidup itu harus dijalani. Melalui cerita wayang masyarakat

Jawa memperoleh gambaran kehidupan mengenai bagaimana hidup

sesungguhnya dan bagaimana hidup seharusnya.

5. Wayang sebagai kehidupan rohani masyarakat Jawa berisi nilai-nilai luhur

yang dapat membantu manusia dalam melangsungkan, mempertahankan

hidupnya, sehingga ia dapat mencapai kesempurnaan hidupnya, yakni

Page 27: Makalah wayang

dapat membentuk dirinya menjadi manusia dan dapat menciptakan suatu

kehidupan yang lebih baik.

III.2 SARAN

Penulis menyarankan semua elemen saling memberikan kontribusi

yang nyata dalam pelestarian seni wayang di Indonesia karena wayang

adalah seni tradisional Indonesia dan pertunjukan wayang telah diakui oleh

UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang

mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan

sangat berharga. Pemerintah juga harus membuat wayang go internasional

dengan cara membuat pertunjukan wayang di luar negeri dan menggunakan

bahasa asing. Dengan cara tersebut, niscaya nama negara Indonesia

semakin harum dalam dunia internasional.

III.3 UCAPAN TERIMA KASIH

1) Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberi kami inspirasi dan

kesehatan sehingga bisa menyelesaikan makalah ini.

2) Bapak Darmoko dan Bapak Prasetyo, selaku dosen pembimbing.

3) Teman-teman satu kelompok.

4) Teman-teman MPK Seni Wayang.

5) Semua pihak yang telah membantu dalam penyelaesaian makalah ini.

III.4 DAFTAR PUSTAKA

Darmoko, 1999, Wayang Bentuk Isi dan Nilainya. Depok: FSUI.

Page 28: Makalah wayang

http://ki-bambangasmara.com/detail_karawitan.php?xxx=41

(15 Oktober 2008)

http://ki-bambangasmara.com/detail_karawitan.php?xxx=42

(15 Oktober 2008)

http://ki-bambangasmara.com/detail_karawitan.php?xxx=43

(15 Oktober 2008)

Prasetyo Muharam, Dimas. “Fungsi Wayang.” Wayang, So What Gitu

Lho!. http://dimasprasetyo.multiply.com/ (15 Oktober 2008)