Top Banner
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan jaman yang sangat pesat menyebabkan kemunculan berbagai macam industri, baik itu industri kecil, menengah, maupun skala besar. Kemunculan berbagai macam industri tersebut memiliki dampak baik dan buruk bagi kehidupan masyarakat sekaligus alam sekitar. Keberadaan berbagai macam industri bisa mendongkrak ekonomi masyarakat sehingga kesejahteraannya dapat meningkat, disisi lain dengan adanya industri, akan timbul banyak masalah lingkungan yang baru dikarenakan tidak semua industri menerapkan konsep yang ramah lingkungan. Berbagai krisis lingkungan yang melanda negara kita saat ini menunjukan adanya kesalahan dalam cara pembangunan ekonomi yang kita tempuh khususnya dalam bidang perindustrian. Hal itu memicu kita untuk mengembangkan strategi pembangunan ekonomi khususnya di bidang perindustrian yang bersifat sustainable dan berwawasan lingkungan. Berkaitan dengan hal itu, mengkaji dan memahami paradigma produksi bersih akan merupakan upaya yang sangat bermanfaat, mengingat paradigma
49

Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

Feb 07, 2016

Download

Documents

Dimas Rizky

Makalah Teknologi Bersih
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
Page 1: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Perkembangan jaman yang sangat pesat menyebabkan kemunculan berbagai

macam industri, baik itu industri kecil, menengah, maupun skala besar. Kemunculan

berbagai macam industri tersebut memiliki dampak baik dan buruk bagi kehidupan

masyarakat sekaligus alam sekitar. Keberadaan berbagai macam industri bisa

mendongkrak ekonomi masyarakat sehingga kesejahteraannya dapat meningkat,

disisi lain dengan adanya industri, akan timbul banyak masalah lingkungan yang baru

dikarenakan tidak semua industri menerapkan konsep yang ramah lingkungan.

Berbagai krisis lingkungan yang melanda negara kita saat ini menunjukan

adanya kesalahan dalam cara pembangunan ekonomi yang kita tempuh khususnya

dalam bidang perindustrian. Hal itu memicu kita untuk mengembangkan strategi

pembangunan ekonomi khususnya di bidang perindustrian yang bersifat sustainable

dan berwawasan lingkungan. Berkaitan dengan hal itu, mengkaji dan memahami

paradigma produksi bersih akan merupakan upaya yang sangat bermanfaat,

mengingat paradigma tersebut dikembangkan berdasarkan pengamatan terhadap

berbagai kesalahan praktek industri yang telah terjadi.

PT Wonokoyo Jaya Corporindo adalah salah satu perusahaan yang berbentuk

perseroan terbatas yang memproduksi produk olahan pangan yang berbahan dasar

daging ayam. Salah satu contohnya adalah sosis.Setiap proses produksi tidak dapat

dipungkiri pasti akan memberi efek samping berupa limbah hasil produksi baik

berupa cair, padat, maupun gas, tak terkecuali pada proses produksi sosis dan

nugget.Apabila tidak diberikan perlakuan khusus seperti pengolahan dan pengelolaan

serta pengontrolan sebelum dilepas ke lingkungan tentu saja akan memberikan

dampak yang tidak sehat serta tidak nyaman untuk lingkungan sekitarnya.

Dengan demikian penanganan air limbah perlu mendapat perhatian serius.

Selain dapat berbahaya bagi kesehatan manusia, air limbah juga dapat mengganggu

lingkungan, hewan, dan tatanan keindahan kota. Sehingga pemecahan masalah-

Page 2: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

masalah tersebut di atas harus segera dilakukan, yaitu dengan menerapkan produksi

bersih misalnya melalui tindakan recovery, reuse, recycle atau good house keeping.

1.2. Perumusan Masalah 

Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :

1. Bagaimana penerapan energi yang dilakukan di PT. Wonokoyo Jaya

Corporindo ?

2. Bagaimana proses dan kebutuhan produksi pada PT. Wonokoyo Jaya

Corporindo?

3. Bagaimana peluang produksi bersih yang diterapkan di PT. Wonokoyo Jaya

Corporindo?

4. Bagaimana penanganan limbah yang diterapkan di PT. Wonokoyo Jaya

Corporino?

1.3. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui penerapan energi yang dilakukan pada PT. Wonokoyo Jaya

Corporindo.

2. Mengetahui proses dan kebutuhan produksi pada PT. Wonokoyo Jaya

Corporindo.

3. Mengetahui peluang produksi bersih yang diterapkan di PT. Wonokoyo

Jaya Corporindo.

4. Mengetahui penanganan limbah yang diterapkan di PT. Wonokoyo Jaya

Corporindo.

1.4. Manfaat

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah memenuhi tugas mata kuliah

Teknologi Bersih sekaligus menerapkap konsep teknologi bersih dalam dunia industri

khususnya pada industri pengolahan makanan yaitu sosis di PT. Wonokoyo Jaya

Corporindo.

Page 3: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teknologi Proses Industri Sosis dan Limbahnya

Sosis merupakan produk emulsi yang membutuhkan pH tinggi, yang berperan untuk meningkatkan daya ikat air.Seperti halnya dengan nugget dan bakso, sosis merupakan sistem emulsi minyak dalam air. Masalah yang sering dihadapi dalam pembuatan sosis adalah pecahnya emulsi, yang antara lain disebabkan penggilingan yang berlebihan, temperature penggilingan dan pemasakan yang terlalu tinggi (Soeparno, 1998).

Limbah merupakan sisa atau hasil samping dari proses-proses produksi yang tidak digunakan dapat berbentuk padat, cair, gas, debu, getaran, dan kerusakan lain yang dapat menimbulkan pencemaran jika tidak dikelola dengan baik (Yani, 1999).

Limbah adalah hasil samping dari proses produksi yang tidak akan digunakan, dapat berbentuk benda padat, cair, gas, suara dan getaran yang dapat menimbulkan pencemaran apabila tidak dikelola dengan benar (Winarno, 1992).

2.1.1 Tinjauan Teknologi Proses

Menurut Nasution (2003), proses produksi dapat diartikan sebagai cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu produk dengan mengoptimalkan sumber daya produksi yang ada. Menurut Sondang dan Siagan (2003), proses produksi umumnya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :

a. Proses produksi terus-menerus (Continous Process)

Proses produksi berlangsung secara terus-menerus dan peralatan produksi yang digunakan disusun dan diatur rapi dengan memperhatikan urutan-urutan atau routing dalam menghasilkan produk tersebut, juga arus barang, serta arus bahan dalam proses yang telah distandarisasi.

b.Proses produksi terputus-putus (Batch Process)

Kegiatan proses produksi dilakukan secara tidak standar atau putus-putus, tetapi didasarkan pada produk yang dikerjakan, sehingga peralatan produksi yang digunakan disusun dan diatur dapat bersifat fleksibel untuk dapat dipergunakan dalam menghasilkan berbagai produk dengan berbagai ukuran.

Page 4: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

c.Proses produksi yang bersifat proyek

Kegiatan proses produksi dilakukan pada tempat tertentu dan waktu yang berbeda-beda, sehingga peralatan produksi yang digunakan ditempatkan pada lokasi dimana proyek tersebut dilaksanakan pada saat yang direncanakan.

2.1.2 Tinjauan limbah cair industri sosis

.Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah (Anonymous, 2009a).

Limbah adalah hasil samping dari proses produksi yang tidak akan digunakan, dapat berbentuk benda padat, cair, gas, suara dan getaran yang dapat menimbulkan pencemaran apabila tidak dikelola dengan benar (Winarno, 1992).

Menurut Mahida (1992), limbah merupakan suatu bahan yang terbuang atau yang dibuang dari hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang tidak atau belum mempunyai nilai ekonomis, bahkan dapat mempunyai nilai negatif karena penanganan untuk membuang atau membersihkan membutuhkan biaya yang cukup besar, disamping itu juga dapat mencemari lingkungan

2.1.2.1. Sumber dan karakteristik limbah

Sumber limbah dibagi atas :

1.Limbah Rumah Tangga

Sumber utama limbah rumah tangga dari masyarakat adalah berasal dari perumahan dan daerah perdagangan. Adapun sumber lain yang tidak kalah penting adalah daerah perkantoran serta daerah fasilitas rekreasi (Sugiharto,1987).

Page 5: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

2.Limbah Industri

Limbah memerlukan pengolahan bila ternyata mengandung senyawa pencemaran yang berakibat menciptakan kerusakan terhadap lingkungan atau paling tidak potensial menciptakan pencemaran. Suatu perkiraan harus dibuat terlebih dahulu dengan jalan mengidentifikasi: sumber pencemaran, kegunaan jenis bahan, sistem pengolahan, banyaknya buangan dan jenisnya, kegunaan bahan beracun dan berbahaya yang terdapat dalam pabrik (Gintings, 1990).

Limbah pada dasarnya berarti suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia, maupun proses-proses alam dan tidak atau belum mempunyai nilai ekonomi, bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi yang negatif. Limbah dikatakan mempunyai nilai ekonomi yang negatif karena penanganan untuk membuang atau membersihkannya memerlukan biaya yang cukup besar, disamping itu juga dapat mencemari lingkungan (Murthado dan Said, 1987).

3.Limbah Rembesan dan Tambahan

Limbah ini berasal dari air hujan yang turun, kemudian air hujan ini akan merembes ke tanah dan kemungkinan akan masuk kedalam saluran limbah yang ada didalam tanah (Sugiharto, 1987).Dengan ditingkatkannya pembangunan disektor industri maka akan menimbulkan efek samping yang berupa limbah. Limbah yang dimaksud terbagi atas tiga macam, yaitu:

a) Limbah Padat (solid wastes)

Limbah padat merupakan hasil buangan industri berupa padatan lumpur, bubur, yang berasal dari sisa proses pengolahan. Menurut Degremont (1984), secara garis besar limbah padat diklasifikasikan sebagai berikut:

Limbah padat yang mudah terbakar

Limbah padat yang sukar terbakar

Limbah padat yang mudah membusuk

Limbah berupa debu dan lumpur

Limbah yang dapat didaur ulang

Limbah radio aktif

Page 6: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

Limbah yang menimbulkan penyakit

Bongkaran bangunan

b) Limbah Cair (liquid wastes)

Limbah cair adalah hasil buangan industri yang berbentuk limbah organik terlarut, bahan anorganik terlarut, limbah organik tersuspensi, bahan anorganik tersuspensi. Limbah cair bersumber dari pabrik yang biasanya banyak menggunakan air pada proses produksinya, disamping itu ada pula bahan baku yang mengandung air harus dibuang. Air terikut dalam proses pengolahan kemudian dibuang misalnya ketika dipergunakan untuk pencuci suatu bahan untuk diproses lanjut (Degremont, 1984).

c) Limbah gas (gaseous wastes)

Limbah gas adalah hadirnya kontaminan di ruang terbuka dengan konsentrasi dari durasi sedemikian sehingga mengakibatkan gangguan, pada umumnya gas tersebut mengandung parameter yang potensial mencemari lingkungan seperti CO dan hidrokarbon ringan (Pramono, 1999).

2.1.2.2. Baku mutu limbah cair industri Sosis

Limbah cair baku mutu industri sosis adalah limbah yang berasal dari buangan proses produksi pada perusahaan sosis dan merupakan buangan dari aliran produksi bahan baku yang mengakibatkan perubahan komposisi air yang digunakan sebagai proses kegiatan sehari-hari. Air limbah ini umumnya dibuang melalui saluran / got menuju sungai ataupun laut. Terkadang dalam perjalannya menuju laut, air limbah industri sosis ini dapat mencemari sumber air bersih yang dipergunakan oleh manusia. Selain dapat berbahaya bagi kesehatan manusia, air limbah juga dapat mengganggu lingkungan, hewan, ataupun bagi keindahan (Sugiharto, 1987).

Alam memiliki kemampuan dalam menetralisir pencemaran yang terjadi apabila jumlahnya kecil, akan tetapi apabila dalam jumlah yang cukup besar akan menimbulkan dampak negatif terhadap alam karena dapat mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan sehingga limbah tersebut dikatakan telah mencemari lingkungan. Hal ini dapat dicegah dengan mengolah limbah yang dihasilkan industri sebelum dibuang ke badan air. Limbah yang dibuang ke sungai harus memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan, karena sungai merupakan salah satu sumber air bersih bagi masyarakat, sehingga diharapkan tidak tercemar dan bisa digunakan untuk keperluan lainnya (Afmar, 1999).

Page 7: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

2.2. Tinjauan Produksi Bersih dan Penerapannya di Industri Sosis

Produksi bersih (cleaner production) merupakan elemen strategis dalam teknologi produksi saat ini dan dimasa mendatang. Penerapan produksi bersih menekankan pada pengurangan (reduction) atau penghilangan pencemar lingkungan pada sumbernya. Produksi bersih dilakukan pada setiap tahapan proses. Produksi bersih dapat menghasilkan keuntungan berupa pengurangan produksi hasil samping (nonproduct output) atau limbah, optimasi penggunaan sumberdaya dan peningkatan efisiensi produksi (Suprihatin et al, 2004).

Secara umum produksi bersih dapat dilakukan dengan dua metode atau teknik. Teknik pertama adalah pengurangan limbah pada sumbernya (source reduction) dan teknik yang kedua adalah daur ulang (recycle). Source reduction dapat dilakukan melalui pengubahan produk, perubahan material input, pengubahan teknologi atau tata cara operasi yang baik (Indriyati, 2000).

Daur ulang limbah adalah teknik pengelolaan limbah hasil proses industri dengan memanfaatkan kembali limbah. Cara yang dapat digunakan adalah limbah dikembalikan lagi ke proses semula sebagai bahan baku pengganti untuk proses industri lain, recovery bagian yang bermanfaat dari limbah atau diolah menjadi produk samping (Indriyati, 2000).

Konsep produksi bersih sendiri dapat dideskripsikan sebagai strategi pengolahan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu. Produksi bersih harus diimplementasikan secara berkelanjutan pada proses produksi dan daur hidup produk guna menurunkan resiko terhadap manusia dan lingkungan. Permasalahan lingkungan saat ini yang dominan salah satunya adalah limbah cair berasal dari industri. Limbah cair yang tidak dikelola akan menimbulkan dampak yang luar biasa pada perairan, khususnya sumber daya air. Dengan adanya produksi bersih serta penerapannya pada industri tekstil dapat membantu untuk mengurangi masalah limbah cair yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap manusia (Nasution, 2001).

2.2.1. Pengertian produksi bersih

Produksi bersih adalah penerapan strategi lingkungan yang berkelanjutan, terpadu dan bersifat pencegahan terhadap proses, produk dan pelayanan. Produksi

Page 8: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

bersih ditujukan untuk meningkatkan efisiensi. Produksi bersih mengubah posisi lingkungan dari cost center menjadi profit center (Indriyati, 2000).

2.2.2. Prinsip-prinsip pokok produksi bersih

Mengurangi atau meminimumkan penggunaan bahan baku, air dan energi sertamenghindari penggunaan bahan baku beracun dan berbahaya. Pengolahan bahan baku yang baik dan perbaikan good house keeping agar tidak menambah beban pencemaran. Jika diterapkan dapat menekan biaya pengolahan limbah yang berarti mengurangi biaya produksi.

Perubahan dalam pola produksi dan konsumsi baik terhadap proses ataupun produk yang dihasilkan. Analisis daur hidup produk (product life cycle analysis) harus dipahami dengan baik.

.Upaya produksi bersih tidak dapat berhasil dilaksanakan tanpa adanya perubahan dalam pola pikir, sikap dan tingkah laku dari semua pihak.

2.2.3. Good Housekeeping 

Praktek operasi yang baik (good house keeping) adalah salah satu pilihan pengurangan pada sumber, mencakup tindakan prosedural, administratif atau institusional yang dapat digunakan diperusahaan untuk mengurangiterbentuknya limbah. Penerapan operasiini melibatkan unsur-unsur: Pengawasan terhadap prosedur prosedur operasi, Loss prevention, Praktek manajemen, Segregasi limbah, Perbaikan penanganan material, dan Penjadwalan produk

Peningkatan good housekeeping umumnya dapat menurunkan jumlahlimbah antara 20 sampai 30% dengan biaya yang rendah.

2.2.4. Penerapan produksi bersih pada industri Sosis

Konsep produksi bersih sendiri dapat dideskripsikan sebagai strategi pengolahan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu. Produksi bersih harusdiimplementasikan secara berkelanjutan pada proses produksi dan daur hidup produkguna menurunkan resiko terhadap manusia dan lingkungan (Nasution, 2001).

Page 9: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan penelitian

Rancangan penelitian yang dilakukan adalah unttuk mengetahui aspek

keteknikan dalam perusahaan yang bergerak dibidang makanan teutama sosis dan

nugget, dengan spesifikasi energi, produk bersih, penanganan limbah serta mengenai

kebutuhan produksi sosis dan nugget.

3.2. Ruang lingkup penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini meliputi data yang diolah berdasarkan

studi literatur dan kepustakaan pada perusahaan mulai dari proses awal produksi,

proses tengah, proses akhir sampai teknologi pengolahan limbah pada perusahaan.

3.3. Lokasi penelitian

Penelitian ditujukan pada perusahaan Sosis yakni di PT Wonokoyo yang

berada di Surabaya , Jawa Timur dengan berbagai sumber informasi yang ada.

3.4. Jenis dan sumber data 

Jenis dan sumber data yang didapatkan adalah data sekunder yang berasal dari

studi literature dan kepustakaan dengan perbandingan data – data yang ada terkait

perusahaan.

3.5. Instrumen penelitian 

Berdasarkan teknik pengumpulan data, instrumen penelitian didapatkan dari

dokumentasi. Dokumentasi yang didapatkan dari studi literature dan kepustakaan

pada perusahaan bersangkutan.

Page 10: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

3.6. Teknik pengumpulan data

Pengumpulan data yang dilakukan yaitu melalui Studi Literatur

Dengan buku literatur dan sumber data lain di perpustakaan maupun jurnal yang ada

dan berkaitan dengan materi penerapan teknologi bersih serta cara pengelolaannya.

3.7. Analisa Data

Data yang diperoleh dari studi literatur dalam kepustakaan yang ada di analisa

dengan membandingkan antara literatur yang ada dengan beberapa literatur lain yang

ada saat ini sehingga mampu dianalisis dengan baik sebagai referensi sumber

pengetahuan.

3.8. Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan dengam studi literatur yakni dimulai pada tanggal 30

September 2014 – 15 Oktober 2014 melalui berbagai sumber yang ada .

Page 11: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Data umum perusahaan

PT Wonokoyo Jaya Corporindo mempunyai luas area 37.028 m2, dengan luas

bangunan untuk ruang produksi sebesar 968 m2, dan luas kantor sebesar 800 m2.

Lokasi perusahhan dibagi menjadi 2 yaitu,

Kantor pemasaran : jalan Bintoro nomor 51, desa Wonokoyo, kecamatan Beji,

kabupaten Pasuruan, Propinsi Jawa timur

Kantor,Pabrik,dan pemotongan ayam : jalan taman bungkul no 1-7 Surabaya

60241

Batas-batas wilayah PT Wonokoyo Jaya Corporindo Unit Further and Sausage

Processing Plant yaitu:

Sebelah Utara : PT Sea Master

Sebelah Selatan : PT Marinecipta Agung

Sebelah Timur : Sawah dan Pemukiman Penduduk

Sebelah Barat : Jalan Raya Bintoro

Faktor- faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi pabrik antara lain:

a. Lokasi pasar

Pabrik PT Wonokoyo Jaya Corporindo Unit Further and Sausage

Processing Plan terletak di Beji, Pasuruan. Dimana jaraknya tidak begitu jauh

dari Surabaya yang merupakan ibukota propinsi Jawa Timur, serta sebagai

pusat bisnis di Jawa Timur yang dijadikan sebagai kota pasar utama. Selain itu

dengan adanya pelabuhan mempermudah pendistribusian produk hingga Bali

dan Kalimantan.

b. Lokasi bahan baku

Berdasarkan kedekatannya dengan bahan baku, PT Wonokoyo Jaya

Corporindo Unit Further and Sausage Processing Plan sangat dekat dengan

sumber bahan baku karena bahan baku bersumber dari rumah pemotongan

Page 12: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

ayam yang letaknya satu lokasi dengan pabrik. Hal ini dikarenakan PT

Wonokoyo selain sebagai unit pengolahan hasil ternak juga memproduksi

bahan baku produksinya sendiri berupa ayam potong.

c. Tenaga kerja

Penentuan lokasi perusahaan dipengaruhi oleh kemudahan dalam

memperoleh tenaga kerja. Dalam hal ini sekitar 60% pekerja PT Wonokoyo

Jaya Corporindo Unit Further and Sausage Processing Plan berasal dari

daerah Pasuruan dan 40% pekerja berasal dari daerah di Jawa Timur selain

Pasuruan.

d. Transportasi

Lokasi perusahaan yang dekat dengan jalan raya dan jalan propinsi

memudahkan pengiriman bahan baku dan hasil produksi.

Sistem kerja yang diterapkan oleh PT. Wonokoyo Jaya Corporindo unit

Further and Sausage adalah sistem 6 hari kerja yaitu hari senin sampai dengan hari

jumat dengan jam kerja 8 jam dan hari sabtu 5 jam dan libur pada hari minggu dan

hari libur nasional. Tenaga kerja yang ada pada PT. Wonokoyo Jaya Corporindo unit

Further and Sausage dibedakan menjadi dua kelompok yaitu:

a. Tenaga kerja tidak langsung (staf), yaitu tenaga kerja yang bekerja di kantor

untuk urusan administrasi dan urusan lain. Tabel 3 berikut adalah jadwal jam

kerja tenaga staf PT. Wonokoyo Jaya Corporindo unit Further and Sausage.

Tabel 1. Pembagian Jadwal Jam Kerja Tenaga Staf

Hari Jam kerja (WIB) Jam istirahat (WIB)

Senin – Kamis

Jum`at

Sabtu

07.00 – 15.00

07.00 – 15.00

08.00 – 12.00

12.00 – 13.00

11.30 – 13.00

Sumber: PT. Wonokoyo Jaya Corporindo unit Further and

Sausage (2010)

Page 13: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

b. Tenaga kerja langsung (buruh), yaitu tenaga kerja yang bekerja di lapangan

(bekerja di bagian proses produksi). Jam kerja tenaga kerja produksi tidak sama

dengan jam kerja tenaga staf atau disesuaikan dengan lamanya proses produksi

yang berlangsung, dimana sesuai criteria jam kerja yang harus dipenuhi adalah 45

jam selama minggu dengan system on-off. Dan tidak ada system lembur jika

target produksi tidak tercapai.Tabel 4 berikut adalah jadwal jam kerja tenaga staf

PT. Wonokoyo Jaya Corporindo unit Further and Sausage.

Tabel 2. Pembagian Jadwal Jam Kerja Tenaga produksi

Hari Jam kerja (WIB) Jam istirahat (WIB)

Shift 1

Shift 2

Shift 3

06.00 – 14.00

14.00 – 23.00

23.00 – 06.00

1 jam

1 jam

1 jam

Sumber: PT. Wonokoyo Jaya Corporindo unit Further and Sausage (2010)

Tenaga Listrik

Sumber tenaga listrik di PT Wonokoyo Jaya Corporindo berasal dari

Perusahaan Listrik Negara (PLN). Kebutuhan listrik yang dari PLN adalah sebesar

83840 kWH . Tenaga listrik ini sangat penting untuk menggerakkan hampir semua

mesin, untuk penerangan serta sistem sinyal. Jika PLN mengalami proses gangguan

maka mesin-mesin produksi tidak boleh berhenti sehingga produksi tidak berjalan

dengan lancar. Hai ini sangat tidak baik untuk proses produksi.

Suplai listrik dari PLN tidak langsung digunakan melainkan dialirkan

terlebih dahulu menuju MVDPR (Main Voltage Distribution Panel Room) dilengkapi

dengan trafo yang berfungsi untuk menurunkan tegangan listrik sekaligus

menstabilkan tegangan sebelum masuk ke LVMDPR (Low Voltage Main Distribution

Panel Room).

Page 14: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

4.2. Proses produksi dan limbah 

Proses pengolahan sosis ayam di PT Wonokoyo jaya Corporindo Unit Further

and Sausage Processing Plant dilakukan dengan metode menggunakan Smoke

House(pengasapan).Limbah yang dihasilkan oleh PT. Wonokoyo terdiri dari 3 jenis

yaitu limbah cair, padat dan limbah gas.

4.2.1. Proses produksi 

Proses pengolahan sosis ayam di PT Wonokoyo jaya Corporindo Unit Further

and Sausage Processing Plant dilakukan dengan metode menggunakan Smoke

House(pengasapan). Adapun proses produksi nya sebagai berikut :

1. Penggilingan

Bahan baku yang masuk ke ruang produksi masih dalam keadaan tertutup yang

diangkut menggunakan trolly. Bahan baku daging dan emulsi disortir telebih dahulu

oleh QC. Sortasi dilakukan pada semua jenis produk yang akan diproses ulang untuk

memastikan tidak adanya kontaminasi fisik dan kelayakannya secara sensori. Produk

yang akan diproses ulang yang tidak sesuai dipisahkan dan dimusnahkan.

Semua Bahan baku, termasuk produk yang akan diproses ulang, yang telah

disortir kemudian dimasukkan ke dalam mesin penggiling (meat mincer) untuk

daging tanpa tulang (boneless) dan MDM (Mechanical Deboning Machine) untuk

pemisahan daging dan tulang yang tersisa pada karkas ayam yang

menghasilkanCCM(Chicken Carcass Meat)dengan menggunakan loader sesuai

dengan tahapan yang ditentukan dalam spesifikasi.Namun sebelum digunakan, mesin

penggiling ini harus diperiksa terlebih dahulu oleh Petugas Engineering.

Page 15: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

2. Pencampuran

Raw material, premix (bumbu-bumbu pelengkap flavor dan cita rasa), bahan

penunjang seperti minyak nabati, pati kentang, isolat protein kedelai, dan serpihan es

dicampur secara merata dalam bowl cutter. Pada proses pencampuran ini, suhu

adonan tidak boleh lebih tinggi dari 100C. Pencampuran dilakukan selama ±15 menit.

Proses emulsifikasi pada pengolahan sosis ayam bertujuan untuk menyatukan partikel

yang bersifat hidrofobik (lemak) dan partikel yang bersifat hidrofilik (protein dan air)

sehingga terbentuk suatu sistem emulsi yang stabil. Emulsi oil terbuat dari campuran

protein, es, dan minyak goreng. Suhu adonan dijaga supaya tetap rendah untuk

mencapai stabilitas emulsi, yaitu berkisar antara 10 – 12oC, lamanya proses

emulsifikasi sekitar 45 menit. Apabila suhu setelah pencampuran belum mencapai

standar, maka proses pencampuran dilakukan hingga mencapai suhu standar.

Setelah mencapai suhu standar, hasil pencampuran dikeluarkan dari Mesin

Pencampur, dan ditempatkan di dalam troli atau wadah dari stainless steel, kemudian

disimpan dalam gudang dingin jika tidak digunakan langsung untuk produksi.

Penyimpanan dilakukan dalam wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi.

3. Pengisian Selongsong Sosis (Stuffing)

Stuffing merupakan proses pengisian adonan sosis ke dalam selongsong alat

yang digunakan adalah SSP pump dan stuffer. Casing yang digunakan adalah casing

sintetik yaitu selulosa.Produk yang akan dimasak dimasukkan ke dalam mesin stuffer

untuk dilakukan proses pengisian ke dalam casing sesuai spesifikasi produk yang

akan diproduksi.Jika ditemukan terdapat kontaminasi benda asing, maka produk yang

Page 16: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

ada dalam mesin stufferakan dikeluarkan dan dipisahkan terlebih dahulu untuk

dihilangkan kontaminannya. Selama pemeriksaan, produk disimpan dalam wadah

tertutup dan ditempatkan dalam Chill Room. Produk yang sudah disortir dan

dipastikan keamanannya akan diproses ulang.

Produk yang keluar dari mesin stufferdiperiksa oleh QC.Pemeriksaan ini

meliputi bentuk dan ada tidaknya kontaminasi dengan benda asing. Produk yang

bentuknya tidak sesuai dengan standar akan dipisah untuk diisi ulang. Jika ditemukan

kontaminasi benda asing, maka produk yang ada dalam mesin stufferakan dikeluarkan

dan dipidahkan terlebih dahulu untuk dihilangkan kontaminannya. Selama

pemeriksaan, produk disimpan dalam wadah tertutup dan ditempatkan di chill room.

Produk yang sudah disortir dipastikan keamanannya akan dproses ulang. Produk yang

keluar dari mesin stuffer ditata dalam wadah yang terbuat dari stainless steel.Mesin

stuffer dioperasikan secara semi otomatis.

4. Penggantungan

Setelah keluar dari mesin stuffer,sosis ditata dalam wadah yang terbuat dari

stainless stealkemudian digantung pada trolly-trolly yang telah disiapkan guna

mempermudah dalam proses selanjutnya. QC dan pekerja memeriksa secara visual

hasil penataan produk di trollystainless steal. Penataan produk harus merata dalam

arti tidak boleh ada produk yang saling tumpang tindih, karena akan mempengaruhi

proses pematangan pada waktu dilakukan pemasakan di dalam rumah asap.

5. Pengeringan, Pengasapan, Pemasakan dan Exhausting

Sosis ayam yang dihasilkan di perusahaan ini ada dilakukan dengan proses

pengasapan (smoking).Rumah asap diperiksa terlebih dahulu oleh petugas

Page 17: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

Engineering sebelum digunakan. Rumah asap deprogram sesuai dengan spesifikasi

yang telah ditentukan. Suhu pusat produk diperiksa setiap jam sekali menggunakan

thermometer yang ada di rumah asap yang sudah dikalibrasi dengan thermometer

standar dari perusahaan yang sudah dikalibrasi. Kegiatan kalibrasi ini dilakukan pada

waktu rumah asap pertama kali akan digunakan. Bahan bakar yang digunakan untuk

menghasilkan asap dari jenis kayu beras.

Petugas QC melakukan pemeriksaan organoleptik produk minimal satu jam

sekali. Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian terhadap mutu sensori produk, maka

produk tersebut akan dipisahkan dan akan diproses ulang untuk produk lain.Rumah

asap diopresikan secara otomatis.

Proses pemasakan sosis di dalam alat Smoked House terdapat empat tahap

proses yang penting yaitu:

a. Pengeringan

Proses ini bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terkandung di dalam

adonan. Suhu digunakan adalah 600C pada proses ini.

b. Pengasapan

Proses pengasapan ini selain bertujuan untuk mengurangi kembali kadar air

produk, juga untuk proses pemasakan. Selain itu, pada tahap ini juga akan

terbentuk warna dan flavor yang diharapkan. Proses pengasapan dilakukan pada

suhu 65oC dan RH 40%.

c. Pemasakan

Proses pemasakan yang dilakukan memiliki tujuan untuk mematangkan produk

Selain itu, proses ini dapat meningkatkan kekompakan struktur adonan dan

Page 18: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

berperan dalam memberikan warna, rasa, dan aroma. Proses pemasakan akan

dihentikan bila suhu pusat produk telah mencapai 80-83°C.

d. Exhausting/ Evacuation

Proses exhausting merupakan proses pengeluaran udara panas. Secara otomatis

suhu dalam Smoke House menurun hingga mencapai 78°Cdan setelah membuka

pintu Smoke House, suhu dalam Smoke House akan semakin menurun.

6. Penyemprotan Air (Showering)

Proses penyemprotan air dilakukan dua kali yaitu sebelum sosis masuk ke

dalam mesin Smoke House. Hal ini bertujuan agar kotoran yang menempel pada sosis

dapat hilang dan diperoleh humidity yang seragamsebelum produk masuk ke dalam

mesin Smoke House.Showering yang kedua dilakukan setelah sosis keluar dari mesin

Smoke House. Showering ini merupakan tahap penurunan suhu setelah dari proses

pemasakan hingga mencapai suhu 38 – 40 0C. Penurunan suhu produk setelah keluar

dari mesin Smoke Housedilakukan karena untuk mencegah heat shock terhadap

produk yang menyebabkan casing produk mengkerut.Selain itu juga untuk

menghilangkan lemak yang tersisa pada permukaan casingdan membersihkan sisa

kotoran yang masih menempel pada sosis.Penyemprotan ini dilakukan selama 5

menit.

7. Pendinginan

Sosis yang telah dishowering dimasukkan di cooling room dengan suhu -5-

10C selama 15 - 20 menit agar suhu produk mencapai kisaran 4 - 7 oC. Petugas QC

melakukan pemeriksaan suhu pusat produk setiap 15 menit.Hal ini disebabkan karena

Page 19: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

pada kisaran suhu tersebut, kecepatan pertumbuhan mikroorganisme akan menurun.

Selain itu juga berkaitan dengan kenampakan produk agar tidak mengkerut. Untaian

sosis yang baru saja keluar dari cooling room dilakukan pemotongan menjadi satu

piece sosis. Setelah proses pendinginan, maka dilakukan proses pemotongan sosis

(cutting). Pemotongan dilakukan tepat pada lilitan casing sosis yang satu dengan

yang lainnya. Panjang sosis yang ideal setelah proses pematangan adalah 108 – 112

mm dengan massa 25 – 26 gr. Toleransi panjang dan berat sosis adalah 5% dari batas

atas dan batas bawah beratnya. Jika terdapat sosis yang melebihi batas toleransi

tersebut maka akan dilakukukan proses ulang (rework).

8. Pengemasan Plastik

Plastik waktu diterima, diperiksa terlebih dahulu mengenai kebersihan dan

keutuhannya sebelum digunakan.Disamping itu plastik juga diperiksa mengenai bau

yang tidak enak, mutu dari label/spesifikasi serta mengenai kecukupan dan daya

tahannya dalam melindungi produk dari kontaminasi.Plastik yang akan digunakan

disimpan dalam gudang atau disediakan sementara di ruang pengolahan untuk

pengemasan yang bersifat segera.

Plastik yang disediakan sementara di ruang pengolahan di tempatkan pada

wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi pada kemasan.Produk sosis memiliki

expire date selama 6 bulan setelah tanggal produksi. Kemasan primer adalah kemasan

yang kontak langsung dengan produk, bersifat food grade, bersih, utuh, label dan

cetakan sesuai standar. Sedangkan kemasan sekunder adalah kemasan yang tidak

kontak langsung dengan produk. Pada saat pencantuman kode produksi tersebut,

Page 20: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

plastik diperiksa satu persatu oleh Petugas Produksi.Jika terdapat kelebihan plastik

yang sudah distempel atau plastik yang salah dalam pemberian kode produksi dan

best before, maka plastik tersebut dipisahkan dan stempel tersebut dihapus

menggukanan alcohol 70% dan distempel dengan kode yang sesuai sebelum

digunakan kembali.

Produk dimasukkan ke dalam kemasan plastik dengan jumlah sesuai dengan

spesifikasi dari konsumen. Dalam satu pieces sosis disusun seperti pyramid, dengan

jumlah 9-8-7-6 dan total 1 pieces terdapat 30 sosis. Adapun beberapa spesifikasi berat

finish gooddi antaranya 250 gram,500 gram, 750 gram, dan 1000 gram. Untuk

kemasan 750 gram berisi 30 pieces.Petugas QC memeriksa secara organoleptik yang

berlangsung terus menerus mengenai mutu, warna, bentuk, kerusakan fisik dan

kemungkinan terdapatnya benda – benda asing.Petugas QC juga mengambil sampel

produk secara acak setiap batch untuk dianalisa di laboratorium guna mengetahui

kandungan bakteri yang ada di dalamnya. Kriteria bakteri tersebut seperti Angka

lempeng total maksimal 105 Koloni/g. Bakteri bentuk coli maksimal 10 APM/g

Eccherichia coli < 3APM/g, Enterococci 102 koloni/g, Clostridium perifringens ‐

Negatif, Salmonella ‐ Negatif, Staphilococcus aureusmaksimal

102Koloni/g.Pengujian sampel ini juga untuk menentukan umur simpan dari sosis

tersebut.

9. Perekatan Vakum

Menggunakan vaccumsealingmachine yaitu dilakukan pengeluaran udara

dari dalam kemasan guna mengurangi resiko kerusakan produk terutama kerusakan

Page 21: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

produk secara mikrobiologi. Pada proses ini, proses penyedotan udara berlangsung

selama 12 detik dengan tekanan - 0,1 mPa, dilanjutkan proses sealing selama 1,2

detik kemudian cooling selama 3,5 detik. Pendinginan dilakukan agar plastik

kemasan tidak rusak saat pengangkatan pembatas sealing pada mesin. Produk yang

tidak lolos pemeriksaan akan dilakukan pengemasan ulang dan perekatan ulang.

10. Pedeteksian Logam (MetalDetector)

Produk sosis yang telah dikemas selanjutnya dilewatkan pada conveyor dan

dideteksiada tidaknya logam oleh metaldetector.Tetapi sebelum digunakan, Alat

pendeteksi logam (MetalDetector) diperiksa terlebih dahulu oleh petugas

Engineering.Logam yang dideteksi adalah besi (Fe) dan SUS. Standard kandungan

logam yangadalah Fe 1,5 mm dan Stainless steel (SUS) 2 mm. Produk yang tidak

lulus metaldetector ditahan oleh QC dan dilakukan pemeriksaan selanjutnya. Petugas

QC juga terus memeriksa keefektifan kerja dari metaldetector dan dilakukan

penerapan setiap jam dengan standar logam sesuai spesifikasi

11. Penyimpanan Beku

Sosis yang sudah berada dalam kemasan disusun dalam rak kemudian

dimasukkan dalam ABF (Air Blast Frezzer). Penyimpanan beku ini dilakukan untuk

membekukan produk dan menjaga kualitas produk sosis. Produk berada dalam ABF

selama 4 jam dengan suhu penyimpanan -40°C.

12. Pengemasan Karton Box (Sealer Box)

Memasukkan finished good kedalam karton, pada tahap ini beberapa kemasan

sekunder dijadikan satu di dalam kemasan tersier yang terbuat dari karton box dengan

Page 22: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

kekuatan tertentu.Karton box diperiksa terlebih dahulu kesesuaiannya dengan

spesifikasi produk, pemberian stempel dan label oleh QC.Dalam 1 karton berisi 12

bag sosis merah 750 gr. Penumpukan karton yang diizinkan saat pengemasan dan

pemindahan adalah 8 tumpukan.Netto per karton yang diizinkan adalah 9,1 – 9,46 kg

dan bruto9,60 – 9,96 kg. Produk yang sudah dipak tidak boleh dibiarkan lebih dari 1

jam di ruang pengemasan dan harus ditransfer kecold storage dan dijaga

kebersihannya.

13. Penyimpanan Beku

Finished good yang telah dipackdalam karton box dengan segera langsung

disimpan didalam cold storagedengan suhu ±(-20oC) untuk menjaga suhu pusat

produk tetap -18oC guna meminimalkan reaksi kerusakan pada produk.

14. Pre Loading dan Loading

Jika dilakukan loading, produk akan dikeluarkan dari cold stroge

kemudiandilakukan proses pendistribusian (loading) finished good untuk segera

dikirim kepada konsumen / distributor. Suhu anteroom dari cold storage

dipertahankan pada maximum 50C. Pendistribusian finished good dengan

menggunakan mobil pengangkut berbentuk mobil container dengan suhu

mobilcontainer±(-100C) untuk menjaga suhu produk tetap rendah. Sebelum dilakukan

pemuatan, QC harus memeriksa kondisi produk, pengemasan, suhu, kebersihan

container, juga operasi pemuatan secara keseluruhan Untuk menghindari kondensasi/

pengembunan pada kemasan, produk harus dimuat dalam container paling lama 1

jam setelah dikeluarkan dari cold storage.

Page 23: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

Tidak

RPA dan Supplyer seasoning

Penerimaan bahan baku dan penunjang

Penggilingan

Pengemulsian

Pengisian Selongsong Sosis

Penggantungan

Pengeringan, Pengasapan, Pemasakan

Penyemprotan Air

Pendinginan

Pengemasan Plastik

Vacuum Sealing dan Pendeteksian Logam

Pengemasan Karton Box (Sealer Box)

Penyimpanan Dingin

Pre Loading

Loading

Ya

Ya

Ya

Tidak

Tidak

Diagram alir proses produksi sosis dengan proses Smoke Housedapat dilihat

pada diagram alir di bawah ini :

Gambar 1. Diagram Alir Proses Produksi Sausage(Smoke House)

Page 24: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

Penerimaan Bahan Baku dan Bahan Penunjang

Pencucian dan Penggilingan daging

Penggantungan

Pengeringan, Pemasakan, Pengasapan

Pengemulsian

Pengisian Selongsong Sosis

Penyemprotan Air

Pendinginan

Pengemasan Plastik

Perekatan Vakum

Pendeteksian Logam

Pengemasan karton Box

Penyimpanan dingin

Pre Loading

Loading

Limbah pencucian daging

Limbah platik sisa potongan plastik

Limbah gas hasil pengasapan

Limbah pencucian produk

Limbah plastik tak terpakai

Limbah karton tak terpakai

4.2.2. Tinjauan limbah 

Limbah PT. Wonokoyo terdiri dari 3 jenis, yaitu : limbah cair, padat dan

limbah gas yang secara menyeluruh dapat dilihat pada bagan berikut ini:

Gambar 2. Diagram Alir Proses Produksi sosis dan limbah yang dihasilkan

Page 25: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

a. Limbah Padat

Limbah padat terdiri dari bahan kertas, karton, dan plastik yang reject

sepanjang proses produksi. Limbah padat kertas, karton dan plastik yang

direject (potongan tidak sempurna, berat tidak sesuai) dikirim ke tempat

pemesanan barang. Sedangkan limbah padat yang tidak dapat ditoleransi lagi,

dibuang ke tempat pembuangan sampah.Mengenai volume dari limbah padat ini

tidak tentu atau sangat fluktuatif karena tergantung dari kualitas plastik

kemasan yang di pesan.

Limbah padat yang lain adalah berupa tulang yang telah dipisahkan dari

dagingnya dan telah dihancurkan. Volume dari limbah tulang ini setiap harinya

mencapai ±70 kg. Limbah yang berupa tulang ini diserahkan kepada industri

pakan ternak yang akan dijadikan sebagai bahan baku pakan ternak.

b. Limbah Gas

Limbah gas terdiri dari emisi gas buang dari boiler langsung dibuang ke

udara luar tanpa pengolahan terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan gas buang

tersebut telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan untuk dapat

langsung dibuang ke udara luar.

c. Limbah Cair (waste water)

Limbah cair terdiri dari 2 jenis, yaitu:

a. Open drainage, seperti air buangan komersial (toilet, dapur dan lain-

lain). Limbah yang berasal dari open drainage dibuang langsung melalui

saluran pembuangan karena tidak dianggap berbahaya.

b. Closed drainage, seperti limbah sisa pembersihan di tempat

(Cleaning) dan limbah pencucian daging yang berupa lemak. Dari data yang

dikumpulkan dilapangan, diperoleh bahwa besarnya volume rata-rata limbah

cair dari pencucian daging dari ruang produksi ini adalah sebesar 7,2 m3.

Page 26: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

4.3. Produksi bersih 

Teknik pelaksanaan produksi bersih pada perusahaan ini adalah :

1. Pengurangan pada sumber

Pengurangan pada sumber merupakan pengurangan atau eliminasi limbah

pada sumbernya. Upaya melalui volume buangan yang diperkecil melalui:

Pemisahan

Pemisahan limbah dimaksudkan untuk memisahkan limbah yang bersifat

racun berbahaya dengan limbah yang tidak beracun.Teknologi ini dipakai

untuk mengurangi volume limbah dan menaikan jumlah limbah yang

dapat diolah kembali.

Mengkonsentrasikan

Mengkonsentrasikan limbah pada umumnya untuk menghilangkan

sejumlah komponen. Dilakukan dengan pengolahan fisk, misalnya

pengendapan atau penyaringan. Komponen yang terpisah dapat

digunakan kembali.

2. Daur Ulang

Daur ulang merupakan penggunaan kembali limbah dalam berbagai bentuk,

diantaranya :

Dikembalikan lagi ke proses semula

Dipisahkan untuk diambil kembali bagian yang bermanfaat

Diolah kembali sebagai produk samping.

4.3.1 Upaya produksi bersih yang sudah Dilakukan perusahaan 

Proses pengolahan limbah cair di PT. Wonokoyo Jaya Corporindo

menggunakan bak-bak pengolahan limbah, dimana proses ini terdiri dari satu buah

bak control dan tiga buah kolam pengolahan limbah.Salah satu pengelolaan

lingkungan adalah program minimalisasi limbah, yaitu usaha untuk mengurangi

volume, konsentrasi toksitas, dan tingkat bahaya yang akan keluar ke lingkungan

serta pencegahan langsung ke sumber pencemar.

Page 27: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

Dengan mengetahui sifat-sifat limbah dari industri pangan yang berbeda,

maka proses penanganan limbahnyapun harus disesuaikan dengan kebutuhan

pengendalian limbah yang dihasilkan tersebut. Penanganan limbah dapat dilakukan

secara fisik, kimia dan mikrobiologis ataupun kombinasi cara-cara tersebut. Limbah

padat dapat dieliminir dengan cara fisik seperti dengan penyaringan atau sedimentasi.

Untuk menetralkan asam dan basa serta menghilangkan bahan organik dapat

digunakan metode kimia atau metode fisikokimia seperti adsorbsi, pertukaran ion,

dan osmosis ataupun dengan proses mikrobiologis.

Pada prinsipnya penanganan limbah pengolahan limbah di PT. Wonokoyo

menggunakan Skiming Tank dan Grase Trap. Skiming Tank merupakan kolam yang

berfungsi sebagai penangkap sampah dan material lain yang terapung, sedangkan

Grase Trap digunakan untuk menangkap lemak. Prinsip kerja dari kedua unit ini

sama, yaitu dengan mengalirkan air limbah ke dalam bak bersekat, aliran inflow

dipermukaan, tetapi outflow untuk aliran keluar haruslah selalu terendam air,

sehingga material yang terapung tetap tinggal di dalam bak, dan secara periodik

material tersebut dibersihkan.

Berikut ini adalah beberapa tahapan pengolahan limbah di PT. Wonokoyo Jaya

Corporindo:

4.3.1.1 Pengolahan Pendahuluan (pre treatment)

Pada pengolahan pendahuluan, air limbah dari area produksi dialirkan

secara gravitasi ke bak penampungan limbah No 1 melalui saluran air dalam

ruang produksi.Sebelum masuk ke dalam bak penampung limbah No 1, air

limbah melalui bak control (bar screen) yang dipasang saringan dari kawat untuk

memisahkan antara limbah padat (sisa raw material, plastik, dll) dengan air

limbah. Partikel yang berukuran besar tersebut dapat dipisahkan dengan saringan

agar tidak mengganggu proses penanganan selanjutnya.

Proses penyaringan dilakukan pada Bar Screenberukuran 1 m x 0.5 mx

0.4 m yang dindingnya berlubang-lubang menyerupai saringan dan diletakkan

pada perlakuan paling awal pengolahan limbahnya, hal ini bertujuan untuk

meminimalkan benda-benda yang cukup besar masuk ke dalam kolam

Page 28: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

berikutnya. Hasil saringan ini ditampung di dalam tong plastik yang kemudian

dil akukan penimbunan untuk meminimalkan jumlahnya.

4.3.1.2 Pengolahan Pertama (primary treatment)

Pada pengolahanpertama, limbah yang mengandung bahan organik

dikurangi dengan bantuan mikroba yang berasal dari limbah itu sendiri. Pada

tahap ini, PT. Wonokoyo Jaya Corporindo menerapkan sistem aerobik di mana

proses pengolahan ini membutuhkan udara/oksigen untuk membantu

meningkatkan metabolisme mikroba.

Secara umum, aerasi merupakan proses yang bertujuan untuk

meningkatkan kontak antara udara dengan air. Pada praktiknya, proses aerasi

terutama bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi oksigen di dalam air limbah.

Peningkatan konsentrasi oksigen di dalam air ini akan memberikan berbagai

manfaat dalam pengolahan limbah. Manfaat yang paling penting dari proses

aerasi ini adalah dapat menurunkan kadar BOD secara siknifikan.

Proses aerasi sangat penting terutama pada pengolahan limbah yang

proses pengolahan biologinya memanfaatkan bakteri aerob. Bakteri aerob adalah

kelompok bakteri yang mutlak memerlukan oksigen bebas untuk proses

metabolismenya. Dengan tersedianya oksigen yang mencukupi selama proses

biologi, maka bakteri-bakteri tersebut dapat bekerja dengan optimal. Hal ini akan

bermanfaat dalam penurunan konsentrasi zat organik di dalam air limbah. Selain

diperlukan untuk proses metabolisme bakteri aerob, kehadiran oksigen juga

bermanfaat untuk proses oksidasi senyawa-senyawa kimia di dalam air limbah

serta untuk menghilangkan bau.

Proses aerasi yang dilakukan pada tahap ini adalah menggunakan metode

aerasi difusi. Pada aerasi secara difusi sejumlah udara dialirkan ke dalam air

limbah melalui diffuser. Udara yang masuk ke dalam air limbah nantinya akan

berbentuk gelembung-gelembung (bubbles).

Page 29: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

4.3.1.3Penanganan Kedua (secondary treatment).

Pada penanganan tertier, tahap ini berada pada kolam pengolah yang

kedua, dan ketiga, dimana air limbah limpahan dari kolam pertama dialirkan

melalui saringan untuk menghambat lemak yang terapung, sehingga material

yang diloloskan adalah air.

Kolam-kolam ini disebut penangkap lemak (grase trap), prinsip kerja dari

kolam ini adalah berdasarkan perbedaan massa jenis antara air dan lemak dimana

lemak memiliki massa jenis yang lebih kecil dari air sehingga lemak ini bisa

terapung diatas air. Air limbah dialirkan ke dalam bak/kolam yang bersekat,

aliran inflow berada di permukaan, tetapi outlet haruslah selalu terendam air,

sehingga material yang terapung tetap tinggal di dalam bak atau trap tersebut.

4.3.2 Hambatan dalam penerapan produksi 

Proses pengolahan limbah yang diterapkan diperusahaan ini sudah bagus,

namun ada beberapa bagian yang akan lebih baik dan efisien jika proses pengaliran

dari bak sebelumnya menuju bak berikutnya dialirkan seperti tampak pada Gambar

16 berikut ini:

Gambar 3. Proses Pengaliran Limbah yang Disarankan

Tujuan dari skema tersebut adalah untuk memperkecil lemak yang lolos ke

proses berikutnya sehingga dapat meningkatkan mutu air yang akan dibuang.

4.3.3 Peluang-peluang Produksi Bersih 

Peluang produksi bersih yang dapat di lakukan oleh perusahaan Wonokoyo

Jaya Corporindo ini adalah Limbah yang berupa tulang ini diserahkan kepada industri

pakan ternak yang akan dijadikan sebagai bahan baku pakan ternak.

Page 30: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.KESIMPULAN 

Melalui studi pustaka tentang pengolahan limbah dalam upaya untuk

mencapai konsep teknologi bersih pada perusahaan sosis PT Wonokoyo maka dapat

diketahui manfaat umum bagi perusahaan dan lingkungan. Keuntungan bagi

perusahaan yakni dengan adanya teknologi pengolahan limbah yang baik maka akan

tercipta kondisi lingkungan perusahaan yang baik dan higienis sehingga produk yang

dihasilkan memiliki mutu yang terjamin. Limbah yang tidak melebihi baku mutu dan

sudah terpilih melalui berbagai tahapan serta proses tertentu akan berdampak baik

bagi lingkungan sekitar tanpa adanya pencemaran sehingga mampu memberikan

kepercayaan kepada perusahaan PT Wonokoyo Sosis untuk terus mengembangkan

hasil produksi sosis tanpa mengganggu lingkungan sekitar.

5.2. SARAN 

Perusahaan harus mampu mempertahankan dan mengembangkan produksi

Sosis yang sudah berkembang saat ini dengan mutu yang baik mulai dari pemilihan

bahan baku, proses pengolahan produksi, sampai pada tahap akhir pengemasan dan

pembuangan akhir limbah perusahaan dengan baik.

Page 31: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2009a. Limbah. http://id.wikipedia.org/wiki/Limbah. Tanggal akses 30 Maret

2009

.2009b. Limbah Padat. http://id.wikipedia.org/wiki/Limbah. Tanggal akses 30

Maret 2009

.2009c. Pengolahan Limbah Cair. http://www.aimyaya.com. Tanggal akses 30

Maret 2009

.2009d. Prinsip Hirarki Pengelolaan Limbah. http://www.amazon.com. Tanggal

akses 30 Maret 2009

.2009e. Kualitas Limbah. http://www. chemistry.org/materi

kimia/kimia_industri/limbah industri/kulitas limbah. Tanggal akses 30 Maret 2009

Anonymousa. 2010. Boiler. www.tokoonline.com. Diakses tanggal 2 Maret 2011.

Anonymousb. 2010. Kompresor Udara. www.tokoonline.com. Diakses tanggal 2 Maret 2011.

Anonymousc. 2010. Flake Ice Machine. www.tokoonline.com. Diakses tanggal 2 Maret 2011.

Anonymousd. 2010. Boaster Pump. www.tokoonline.com. Diakses tanggal 2 Maret 2011.

Anonymousa. 2011, Mechanical deboning Machine. www.tokoonline.com Diakses tanggal

28 Februari 2011

Page 32: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

Anonymousb. 2011, Angel Mincer. www.tokoonline.com Diakses tanggal 28 Februari 2011

Anonymousc. 2011, Stuffer Machine. www.tokoonline.com Diakses tanggal 28 Februari 2011

Anonymousd. 2011, Vaccum Packaging Machine. www.tokoonline.com Diakses tanggal 28

Februari 2011

Anonymous. 2011. Pedoman Pengoperasian Industri. PT. Wonokoyo Jaya Corporindo.

Pasuruan

Austin, George T. 1996. Industri Proses Kimia. Erlangga: Jakarta

Degremont.1984. Effluent Treatment Plant Operating Manual. PT Kertas Leces (Persero):

Probolinggo

Fardiaz, S. 1992. Polusi air dan Udara. Pressindo: Yogyakarta

Gintings, P. 1990. Mencegah Dan Mengendalikan Pencemaran Industri. Sinar Harapan:

Jakarta

Mahida, U. N. 1992. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. CV Rajawali:

Jakarta

. 1986. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. CV.Rajawali: Jakarta

Murthado, D dan Said, E. G.1987. Penanganan dan Pemanfaatan Limbah Padat.

Mediyatama Sarana Perkasa: Jakarta.

Pramono. 1999. Sanitasi, Higiene dan Keselamatan Kerja dalam Pengolahan Makanan. PT

Kanisius: Yogyakarta

Page 33: Makalah Tekber Pt Sosis Wonokoyo

Sardjoko. 1991. Pengolahan Limbah Cair. UGM Press: Yogyakarta

Sugiharto. 1987. Dasar Dasar Pengolahan Air Limbah. Universitas Indonesia Press: Jakarta