Top Banner
PENGARUH MEDIA ANIMASI TERHADAP PENGUASAAN KONSEP SISTEM SIRKULASI PADA SISWA KELAS XI IPA SMA N 1 INDRALAYA Skripsi Oleh BUDI MARYANTO Nomor Induk Mahasiswa : 06053132010 Program Studi pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
62

MAKALAH HASIL PENELITIAN - masbudhi.files.wordpress.com  · Web viewDari hasil angket dapat diketahui bahwa 57,69% siswa sangat berminat terhadap animasi yang telah diberikan, 42,31%

Mar 13, 2019

Download

Documents

vanmien
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript

MAKALAH HASIL PENELITIAN

PENGARUH MEDIA ANIMASI TERHADAP PENGUASAAN KONSEP SISTEM SIRKULASI PADA SISWA KELAS XI IPA SMA N 1 INDRALAYA

Skripsi Oleh

BUDI MARYANTO

Nomor Induk Mahasiswa : 06053132010

Program Studi pendidikan Biologi

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA

2011

PENGARUH MEDIA ANIMASI TERHADAP PENGUASAAN KONSEP SISTEM SIRKULASI PADA SISWA KELAS XI IPA SMA N 1 INDRALAYA

Skripsi Oleh

BUDI MARYANTO

Nomor Induk Mahasiswa : 06053132010

Program Studi pendidikan Biologi

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Disetujui

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Riyanto, S.Pd., M.Si.

Meilinda, S.Pd., M.Pd.

NIP. 197007251999031002

NIP. 197905182005012003

Disahkan

Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Dr. Hartono

NIP

Telah diujikan dan lulus pada :

Hari

:

Tanggal :

Tim Penguji :

1. Ketua : .............................

________________

2. Sekretaris : .............................

________________

3. Anggota : ............................

________________

4. Anggota : ............................

________________

5. Anggota : ............................

________________

Indralaya, ...... 2011

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Pendidikan Biologi,

Drs. Kodri Madang, M. Si.

NIP :

Segala puji bagi Alloh SWT, atas semua limpahan Karunia dan Rahmat-Nya. Saya persembahkan karyaku ini kepada :

Kedua orang tuaku tercinta, yang senantiasa mencurahkan kasih sayangnya dan selalu mendoakan yang terbaik untukku.

Saudara-saudaraku tersayang : mas Eko, mas Nur, yuk Rus, dan Ragil yang selalu mendukung, membantuku, dan mendoakan untuk keberhasilanku.

Teman-teman dan adik-adik seperjuanganku yang selalu bersama dalam suka maupun duka.

Almamaterku.

Moto

Janganlah anda menuntut ilmu karena riya dan jangan pula anda meninggalkannya karena malu.

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam di atas batu yang hitam dimalam yang amat kelam, dia wujud tapi sukar dilihat.

Bagian terbaik dari hidup kita adalah perbuatan-perbuatan baik dan kasih kita yang tidak diketahui orang lain.

ucapan trima kasih

Alkhamdulillah, puji syukur penulis haturkan kehadirat Alloh SWT atas limpahan karunia dan nikmat-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana (S1) pada Program Studi Pendidikan Biologu, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sriwijaya.

Dengan selesainya penulisan skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada bapah Dr. Riyanto, S.Pd., M.Si. dan ibu Meilinda, S.Pd., M.Pd. yang telah bersedia meluangkan waktunya dan dengan sabar memberikan bimbingan selama penulisan skripsi ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dekan FKIP, Bapak Drs. Tatang Suhery, M.A., Ph. D, Ketua Jurusan Pendidikian MIPA Bapak Dr. Hartono............, Ketua Program Studi Pendidikan Biologi Bapak Drs. Kodri Madang, M.Si., Kepala SMA N 1 Indralaya Bapak Rusman Hifni, S.Pd. serta ibu Lasmawati, S.Pd. yang telah memberikan bantuan dan kemudahan dalam penyelesaian skripsi ini.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Drs. Adeng Slamet, M.Si. dan Ibu Dra. Siti Huzaifah, M.Pd. sebagai pembimbing akademik, dosen-dosen yang ada di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unsri atas bimbingan, pendidikan dan pengajarannya kepada penulis, serta seluruh staf Tata Usaha di Jurusan Pendidikan MIPA yang telah banyak memberikan kemudahan dalam penyelesaian skripsi ini. Tidak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuaku, saudara kandungku, teman-temanku (............................) dan seluruh anak Bio05, adik-adik Bio06-10, Siswa SMA N 1 Indralaya serta teman seperjuanganku (...............................) terimakasih atas kebersamaannya baik suka maupun duka.

Akhir kata penulis mohon maaf bila ada kesalahan dan kekurangan dalam skripsi ini dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Indralaya, Juli 2011

Penulis,

.............

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : .................................................................................................................. .

Tabel 2 : .................................................................................................................. .

Tabel 3 : .................................................................................................................. .

Tabel 4 : .................................................................................................................. .

Tabel 5 : .................................................................................................................. .

Tabel 6 : .................................................................................................................. .

Tabel 7 : .................................................................................................................. .

Tabel 8 : .................................................................................................................. .

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : .................................................................................................................. .

Gambar 2 : .................................................................................................................. .

Gambar 3 : .................................................................................................................. .

DAFTAR LAMPIRAN

PENGARUH MEDIA ANIMASI TERHADAP PENGUASAAN KONSEP SISTEM SIRKULASI PADA SISWA KELAS XI IPA SMA N 1 INDRALAYA

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian tentang Pengaruh Media Animasi terhadap Penguasaan Konsep Sistem Sirkulasi pada Siswa Kelas XI IPA SMA N 1 Indralaya pada bulan Nopember-Desember 2010. Pengambilan data dilakukan di SMA N 1 Indralaya dengan satu kelas eksperimen dan satu kelas pembanding. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode quasi eksperimen (eksperimen semu). Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh nilai rata-rata pretest dan postes kelas eksperimen adalah 37,54 dan 83,83 dan kelas pembanding 34,85 dan 72,42 serta peningkatan rata-rata hasil belajar kelas eksperimen adalah 46,29 dan kelas pembanding 37,57. Dari hasil uji normalitas Gain dadapat tingkat penguasaan konsep siswa kelas eksperimen lebih tinggi (0,74) dibandingkan kelas pembanding (0,58). Tingkat signifikasi perbedaan penguasaan konsep antar kelompok penelitian adalah 0,005, ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media animasi secara signifikan dapat meningkatkan penguasaan konsep sistem sirkulasi siswa dibanding pembelajaran dengan media gambar.

Kata Kunci : Media animasi, penguasaan konsep.

Skripsi Mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNSRI

Tahun 2011

Nama: Budi Maryanto

NIM : 06053132010

Dosen Pembimbing : 1. Dr. Riyanto, S.Pd., M.Si.

2. Meilinda, S. Pd., M. Pd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan teknologi modern tentang komputer merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pembaharuan dalam dunia pendidikan. Pada bidang pendidikan, pemerintah dan masyarakat umum telah memberikan perhatian yang mendalam tentang kemajuan teknologi modern ini. Teknologi dapat membantu mencapai sasaran dan tujuan pendidikan sehingga proses belajar mengajar akan lebih berkesan dan bermakna (Asra, 2009). Teknologi informasi turut berkembang sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Perkembangan teknologi informasi meliputi perkembangan infrastruktur teknologi informasi, seperti hardware, software, teknologi penyimpanan data (storage), dan teknologi komunikasi (Laudon, 2006 dalam Noviari, 2009).

Kemajuan media komputer memberikan beberapa kelebihan untuk kegiatan produksi audio visual. Pada tahun-tahun belakangan komputer mendapat perhatian besar karena kemampuannya yang dapat digunakan dalam bidang kegiatan pembelajaran. Ditambah dengan teknologi jaringan dan internet, komputer seakan menjadi primadona dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan komputer merupakan salah satu bagian dari teknologi informasi yang saat ini digunakan oleh para praktisi pendidikian dalam upaya menyajikan materi pelajaran. Komputer sebagai penyedia informasi dirasakan perlu untuk digunakan karena dapat menyajikan informasi dengan baik (Sihombing, 2010). Media pembelajaran memberikan penekanan pada posisi media sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar untuk mengkondisikan seseorang untuk belajar. Dengan kata lain, pada saat kegiatan belajar berlangsung bahan belajar (learning matterial) yang diterima siswa diperoleh melalui media (Asra, 2009)

Media pengajaran yang sedang berkembang untuk saat ini yaitu multimedia. Penggunaan multimedia merupakan kombinasi dari grafik, teks, suara, video, dan animasi. Objek yang tidak dapat dilihat langsung, dapat digantikan dengan penggunaan multimedia yang berupa penayangan teks, grafik, suara, video, dan animasi. Multimedia mengandung unsur komputer. Multimedia memberikan kesempatan untuk belajar tidak hanya dari satu sumber belajar seperti guru, tetapi memberikan kesempatan kepada subjek mengembangkan kognitif dengan lebih baik, kreatif dan inovatif. Hal ini salah satunya karena informasi disajikan dalam dua atau lebih bentuk seperti dalam bentuk gambar dan kata-kata (Saguni, 2006). Media pembelajaran dapat digunakan untuk meningkatkan pengalaman belajar ke arah yang lebih konkret. Multimedia sebagai gabungan berbagai jenis media mampu menciptakan suasana belajar yang begitu menarik dan menyenangkan sehingga akan memberikan motivasi belajar yang lebih tinggi dalam diri seswa. Multimedia memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar tidak hanya dari guru, tetapi memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan kognitif dengan lebih baik, kreatif dan inofatif. Hal ini salah satunya karena informasi disajikan dalam dua atau lebih bentuk seperti gambar dan kata-kata (Puspita, 2008).

Media animasi yang merupakan kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio sehingga berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Kehadiran media animasi dalam pembelajaran Biologi sangat mendukung proses penyampaian berbagai informasi dari guru ke siswa. Proses-proses biologi yang kompleks dapat dengan mudah dijelaskan kepada siswa, seperti proses fotosintesis, respirasi aerob, dan berbagai proses dalam sistem organ manusia. Pada proses belajar mengajar, siswa sering dihadapkan pada materi yang abstrak dan diluar pengalaman sehari-hari sehingga matri pelajaran sulit diterima dan dipahami oleh siswa. Keistimewaan yang dimiliki oleh animasi intinya untuk memvisualisasikan konsep abstrak yang sulit dipraktekkan dikelas (Sihombing, 2010).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Radita (2010) didapatkan bahwa perencanaan penggunaan media pembelajaran dalam silabus dan RPP belum sesuai dengan realisasinya. Media pembelajaran yang sering digunakan terdiri dari 2-3 jenis media antara lain media visual yaitu charta, media benda yaitu model, dan media cetak yaitu LKS. Hanya beberapa guru yang mencantumkan penggunaan media komputer dalam RPP dan silabus. Kendala dalam merealisasikan penggunaan media komputer adalah kurangnya kreativitas guru. Padahal menurut penelitian ODay (2006) menunjukkan penggunaan media animasi dalam pembelajaran biologi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa..

SMA Negeri 1 Indralaya adalah salah satu SMA yang terdapat di Ogan Ilir. SMA ini memiliki ruang multimedia yang didalamnya terdapat komputer dan LCD yang bisa menunjang proses pembelajaran. Berdasarkan pengamatan peneliti, ruang multimedia ini hanya digunakan oleh guru mata pelajaran komputer, sedangkan guru mata pelajaran lain jarang sekali menggunakan ruang multimedia ini.

Berdasarkan uraian diatas, maka dipandang perlu untuk melakukan penelitian tentang penggunaan media animasi dalam pembelajaran biologi di kelas XI SMA Negeri I Indralaya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul penelitian Pengaruh Media Animasi terhadap Penguasaan Konsep Sistem Sirkulasi pada Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri I Indralaya.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh media animasi terhadap penguasaan konsep sistem sirkulasi siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Indralaya.

1.3. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini dibatasi pada penggunaan animasi dengan menggunakan software Microsoft Power Point pada proses penyampaian pembelajaran terhadap penguasaan konsep sistem sirkulasi pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Indralaya.

1.4. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh media animasi terhadap penguasaan konsep sistem sirkulasi pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Indralaya.

1.5. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi tentang pengaruh media animasi terhadap penguasaan konsep sistem sirkulasi siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Indralaya. Bagi guru, dapat memberikan masukan cara atau metode yang cocok dalam menyajikan materi agar mampu merangsang siswa untuk belajar. Serta dapat mengetahui sukses tidaknya penerapan pengajaran dengan menggunakan multimedia khususnya animasi terhadap penguasaan konsep siswa dalam mempelajari biologi. Bagi sekolah, agar lebih memperhatikan pengadaan media pendidikan bagi menunjang lancarnya pelaksanaan proses belajar mengajar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Media Pengajaran

2.1.1. Pengertian Media Pengajaran

Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium atau medius yang secara harfiahnya berarti tengah, perantara atau pengantar. Media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Menurut Gerlach, media apabila dipahami secara garis besar adalah, manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan sikap. Menurut AECT (Association of Education & Communication Technology) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi (Arsyad, 2003).

Media pengajaran merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik (Danim, 1994). Dapat pula diartikan bahwa media pembelajaran adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Gagne dalam Sardiman (2002) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar, sementara Brigss berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Menurut Hamidjojo dalam Arsyad (2003) menyatakan bahwa media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan sampai kepada penerima yang dituju.

Media pendidikan oleh Arsyad (2003) dapat diartikan sebagai berikut: a). Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware yaitu sebagai suatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan panca indera. b). Media pendidikan memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai sofware (perangkat lunak) yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa.

2.1.2. Jenis dan Fungsi Media Pembelajaran

Menurut Bahri (1995), media tidak hanya terdiri dari dua jenis. Klasifikasi dari macam-macam media pengajaran bisa dilihat dari jenisnya, daya liputnya, dari bahannya dan dari caranya. 1). Dilihat dari jenisnya, media terbagi menjadi: a). Media auditif atau Audio, adalah media yang mengandalkan suara saja. Contohnya radio. b). Media Visual, adalah media yang mengandalkan indra penglihatan. Contohnya film bisu, gambar, lukisan, simbol dan slide. c). Media Audiovisual, adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis ini mempunyai kemampuan yang lebih baik dari dua sebelumnya. 2). Dilihat dari daya liputnya, media terbagi menjadi: a). Media dengan daya liput luas dan serentak, penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkaujumlah anak didik yang banyak dalam waktu yang sama seperti radio dan televisi serta internet. b). Media dengan daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat, media ini dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti film sound slides film rangkai, yang harus menggunakan empat tertutupdan gelap. 3). Dilihat dari bahan pembuatannya, media terbagi kedalam: a). Media Sederhana, adalah media yang bahan dasarnya mudah diperoleh, harganya murah, cara pembuatannya mudah dan penggunaannya mudah. b). Media Kompleks, adalah media dengan bahan dan alat pembuatan yang sulit diperoleh dan mahal harganya. Penggunaan jenis ini memerlukan keterampilan memadai.

Sudjana dalam Bahri,(1995) merumuskan fungsi media pengajaran dalam pendidikan menjadi 6 kategori, yaitu: a). Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif. b). Penggunaan media pengajaran adalah bagian yang integral dari totalitas mengajar. Jadi media merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan guru. c). Media pengajaran dalam pengajaran, penggunaannya integral dengan tujuan dari isi pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan media pengajaran harus melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran. d). Penggunaan media dalam pengajaran bukan alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses proses mengajar supaya lebih menarik perhatian siswa. e). Penggunaan media dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa menangkap pengertian yang diberikan guru. f). Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.

Fungsi media menurut Levie & Lentz (dalam Arsyad, 2003) yaitu terdapat 4 fungsi sebagai berikut: 1). Fungsi Atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. 2). Fungsi Afektif, dapat dilihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (membaca) teks bergambar. 3). Fungsi Kognitif, terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. 4). Fungsi Kompensatoris, terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

2.1.3. Animasi Komputer

Komputer menjadi suatu teknologi penting dalam masyarakat, karena banyak digunakan dalam kegiatan bisnis, di sekolah dan di rumah. Banyak materi pelajaran yang dapat disampaikan melalui komputer jika siswa memiliki kemampuan menggunakan komputer. Materi tersebut terkait dengan tujuan pendidikan. Oleh karena itu harus dijadikan ukuran dalam kurikulum di sekolah menengah. Pengajaran dasar-dasar pemprograman dan pemecahan masalah dengan komputer adalah perluasan daripada computer literacy. Hal ini berkenaan dengan pengajaran bahasa komputer dan melaksanakannya pada beberapa hal untuk mata pelajaran (Hamalik, 2001). Menurut Hamalik (2001), kompu ter adalah suatu medium interaktif. Siswa memiliki kesempatan untuk berinteraksi dalam bentuk mempengaruhi atau mengubah urutan yang disajikan dalam program komputer sehingga dapat berfungsi sesuai yang diinginkan. Komputer merupakan mesin yang dapat memecahkan berbagai masalah bagi manusia dengan memberikan instruksi-instruksi kepada mesin itu. Dari definisi di atas maka komputer baru dapat bekerja atau memberikan informasi setelah ada program.

Pada dasarnya bahasa yang dapat dimengerti oleh komputer adalah sinyal-sinyal elektromagnetis yang mendasar pada konsep hidup dan mati. Bahasa komputer secara umum dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu bahasa mesin, bahasa rakitan dan bahasa tingkat tinggi. Bahasa mesin adalah bahasa dasar dari komputer dan bersifat unik. Bahasa rakitan bersifat neumonic yaitu berupa simbol-simbol dan kode-kode tetapi lebih tinggi dari bahasa mesin yang banyak digunakan para pembuat bahasa komputer. Bahasa tingkat tinggi adalah bahasabahasa yang digunakan oleh programer aplikasi yang mencoba memecahkan berbagai masalah (Adjie, 2005).

2.1.4. Media animasi dalam biologi

Media pembelajaran animasi yang merupakan kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio sehingga berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Media animasi pembelajaran ini dapat dijadikan sebagai perangkat ajar yang siap kapan saja digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran. Kehadiran media animasi dalam pembelajaran Biologi sangat mendukung proses penyampaian berbagai informasi dari guru ke siswa. Proses-proses biologis yang kompleks dapat dengan mudahnya dijelaskan kepada siswa, seperti proses fotosintesis, respirasi aerob dan berbagai proses dalam sistem organ manusia. Pentingnya animasi sebagai media pembelajaran adalah memiliki kemampuan untuk memaparkan sesuatu yang rumit atau komplek serta sulit dijelaskan dengan hanya gambar atau kata-kata saja. Media animasi pembelajaran dapat digunakan untuk menjelaskan materi yang secara nyata tidak dapat terlihat oleh mata (India, 2010).

Media animasi yang digunakan dalam proses pembelajaran biologi ternyata dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Hasil penelitian Marzuki (2009) menjelaskan bahwa penggunaan animasi multimedia dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penguasaan materi pokok sistem peredaran darah. Penguasaan materi pokok sistem peredaran darah pada siswa dengan penggunaan animasi lebih tinggi dibanding tanpa menggunakan animasi multimedia. Puryaningsih (dalam India, 2010) dalam hasil penelitiannya juga menunjukkan penggunaan media animasi yang ditinjau dari motivasi berprestasi dan kemampuan awal dalam pembelajaran biologi umum memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa, serta menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan media animasi lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan tanpa menggunakan media animasi. Penggunaan media animasi, prestasi belajar mahasiswa lebih baik dari pada menggunakan modul. Penelitian membuktikan bahwa ada interaksi antara motivasi dengan kemampuan awal terhadap prestasi belajar biologi umum (India, 2010).

2.1.5. Nilai dan Manfaat Media Pengajaran

Sudjana dalam Bahri (1995) mengumukakan nilai-nilai praktis media pengajaran adalah: a). Dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berpikir, b). Dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar. c). Dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap. d). Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan. e). Membantu tumbuhnya pemikiran dan kemampuan berbahasa. f). Memberikan pengalaman yang tak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna. g). Bahan pengajaran lebih jelas dan dipahami maknanya oleh siswa, sehingga memungkinkan tujuan pengajaran menjadi lebih baik. h). Metode mengajar akan lebih bervariasi. i). Siswa lebih banyak melakukan aktivitas belajar seperti mendengarkan uraian guru, mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.

Menurut Sudjana dan Rivai (2009) ada beberapa manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa yaitu: a.). Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. b). Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pengajaran. c). Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga. d). Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan memerankan.

Menurut Seels & Richey (Arsyad, 2003) berdasarkan perkembangan teknologi, media pengajaran dikelompokkan dalam empat kelompok yaitu: a). Media hasil teknologi cetak seperti buku. b). Media teknologi audio-visual. Teknologi audio-visual adalah cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual misalnya VCD. c). Media hasil teknologi yang berdasarkan computer. Teknologi berbasis komputer merupakan cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis mikroprosesor. d). Media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer. Teknologi hasil gabungan adalah cara untuk menghasilkan dan menyampaikan materi yang menggabungkan pemakaian beberapa bentuk media yang dikendalikan komputer.

2.2. Hakikat Belajar

Dalam proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang penting. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi karena siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Menurut Slameto (1995) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi positif dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan (Winkel, 1996). Belajar merupakan suatu proses yang kompleks yang terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya. Interaksi yang terjadi selama proses belajar dipengaruhi oleh lingkungannya, yang antara lain terdiri atas murid, guru, sumber belajar dan fasilitas (proyektor overhead, radio, komputer, dan perpustakaan) (Arsyad, 2003).

2.3. Aktivitas Belajar

Mengajar adalah membimbing siswa melakukan kegiatan belajar. Aktivitas siswa sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar sebab siswa sebagai subjek didik adalah yang merencanakan dan ia sendiri yang melaksanakan belajar. Jadi, aktivitas belajar merupakan prinsip yang sangat penting di dalam interaksi belajar. Menurut Sardiman (1994) aktivitas perlu ada dalam belajar, sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat untuk mengubah tingkah laku. Tidak ada belajar karena tidak ada aktivitas. Aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar tidak hanya mengenai aktivitas fisik tetapi juga berkaitan dengan aktivitas mental siswa.

Sardiman (1994) membagi belajar menjadi aktivitas fisik dan mental. Dalam aktivitas fisik peserta didik giat aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain atau bekerja. Ia tidak hanya duduk, mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Dalam aktivitas mental daya jiwa siswa bekerja sebanyak-banyaknya atau berfungsi dalam pembelajaran. Pada kegiatan pembelajaran kedua aktivitas harus berkaitan.

Menurut Usman (1995) aktivitas belajar dapat digolongkan dalam beberapa hal sebagai berikut. a). Aktivitas visual (visual activities) seperti membaca, menulis, melakukan eksperimen, dan demonstrasi. b). Aktivitas lisan (oral activities) seperti bercerita, membaca sajak, tanya jawab, diskusi dan menyanyi. c). Aktivitas mendengarkan (listening activities) seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah dan pengarahan. d). Aktivitas menulis (writing activities) seperti mengarang, merangkum materi dan membuat makalah.

2.4. Penguasaan Konsep

Penguasaan adalah kemampuan yang mengharapkan pebelajar mampu menguasai arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini pebelajar tidak hanya hafal secara verbalistis, tetapi memahami konsep dari masalah atau fakta yang ditanyakan (Purwanto, 2006). Penguasaan merupakan aspek yang mengacu pada kemampuan memahami makna materi yang dipelajari. Pada umumnya unsur penguasaan ini menyangkut kemampuan menangkap makna suatu konsep, yang ditandai dengan kemampuan mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi. Untuk mencapai tujuan dalam tingkatan penguasaan ini dituntut keaktifan belajar murid yang lebih banyak (Ibrahim, 2010).

Konsep adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang memiliki ciri-ciri yang sama. Belajar konsep merupakan salah satu cara belajar dengan pemahaman dan dikenal dengan concept formation. Orang dapat belajar konsep melalui benda-benda, gambar-gambar, dan penjelasan verbal (Winkel, 1995). Siswa telah mengetahui suatu konsep apabila: a). Dapat menyebutkan nama contoh-contoh konsep; b). Dapat menyebutkan ciri-ciri konsep tersebut; c). Dapat memilih, membedakan antara contoh-contoh maupun yang bukan contoh; d). Mampu memecahkan masalah yang berkenaan dengan konsep tersebut (Hamalik, 2004).

2.5. Sistem Sirkulasi

Sistem sirkulasi adalah materi ajar untuk SMA kelss XI IPA yang tersusun dalam standar kompetensi (SK) 3 yaitu menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada salingtemas. Sistem sirkulasi masuk kedalam KD 3.2. yaitu, Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem peredaran darah. Sistem sirkulasi memiliki beberapa materi pokok yaitu, struktur dan fungsi darah, struktur alat peredaran darah, proses peredaran darah manusia, kelainan/penyakit pada sistem peredaran darah, teknologi ilmu yang berkaitan dengan sistem peredaran darah, dan peredaran darah hewan. Materi-materi dalam sistem sirkulasi ini terdiri dari beberapa sifat yaitu, faktual, konseptual, prinsipal, dan prosedural. Dalam materi ini banyak konsep yang bersifat abstrak. Oleh karena itu, peneliti mengambil materi sistem sirkulasi untuk diajarkan dengan bantuan media animasi.

2.6. Hipotesis Penelitian

Ho : Tidak terdapat pengaruh media animasi terhadap penguasaan konsep sistem sirkulasi pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Indralaya.

Ha :Terdapat pengaruh media animasi terhadap penguasaan konsep sistem sirkulasi pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Indralaya.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan di SMA Negeri 1 Indralaya pada bulan Nopember Desember 2010.

3.2. Variabel Penelitian

Variabel penelitian terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebasnya adalah media animasi, dan variabel terikatnya adalah penguasaan konsep.

3.3. Definisi Operasional Variabel

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel terikat dan variabel bebas. Variabel bebasnya adalah media. Media yang digunakan adalah animasi yang merupakan suatu media pembelajaran yang menggunakan berbagai kombinasi antara teks, grafik, gambar, dan suara yang memudahkan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan penguasaan konsep sistem sirkulasi siswa. Penguasaan konsep siswa dinilai dalam bentuk skor atau angka yang dicapai siswa setelah diberikan tes pada konsep tertentu, yang disusun untuk penelitian ini.

3.4. Populasi dan Sampel Penelitian

3.4.1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri I Indralaya tahun ajaran 2010/2011.

3.4.2. Sampel Penelitian

Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah dua kelas dari kelas XI IPA SMA Negeri I Indralaya tahun ajaran 2010/2011 yaitu satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas lagi sebagai kelas kontrol yang kemudian dilakukan rotasi pada pertemuan selanjutnya.

3.5. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan metode eksperimen semu (quasi eksperiment) dengan desain penelitian sebagai berikut:

Tabel 1. Desain penelitian kelas eksperimen dan kelas pembanding

KELOMPOK

PRETEST

VARIABEL TERIKAT

POSTEST

Eksperimen

Y1

X

Y2

Pembanding

Y1

-

Y2

Keterangan:

Y1: Tes awal atau pretest

X: Pemberian perlakuan

Y2: Tes akhir atau posttest

3.6. Prosedur Kerja

3.6.1. Persiapan

1. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk kelas eksperimen dan pembanding

2. Menentukan kelas eksperimen dan kelas pembanding sebagai sampel penelitian.

3.6.2. Pelaksanaan

Tabel 2. Kegiatan Pembelajaran Kelas Eksperimen dan Kelas Pembanding

Kelas Eksperimen

Kelas Pembanding

1. Pendahuluan (15 menit)

1. Pendahuluan (15 menit)

a. Guru memberikan tes awal (10 menit)

a. Guru memberikan tes awal (10 menit)

b. Guru memerikan apersepsi (3 menit)

b. Guru memberikan apersepsi (3 menit)

c. Guru menyampaikan indkator (2 menit)

c. Guru Menyampaikan indikator (2 menit)

2. Kegiatan inti (60 menit)

2. Kegiatan Inti (60 menit)

a. Melaksanakan pembelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab dengan menggunakan alat bantu laptop dan LCD yang menampilkan slide dan animasi (45 menit)

a. Melaksanakan pembelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab dengan menggunakan alat bantu laptop dan LCD yang menampilkan slide dan gambar (45 menit)

b. Guru mereview sedikit materi yang telah diajarkan (10 menit)

b. Guru mereview sedikit materi yang telah diajarkan (10 menit)

c. Guru membimbing siswa membuat kesimpulan (5 menit)

c. Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan (5 menit)

3. Penutup (15 menit)

3. Penutup (15 menit)

a. Memberikan tes akhir (10 menit)

a. Memberikan tes akhir (10 menit)

b. Memberitahukan materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya (5 menit).

b. Memberitahukan materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya (5 menit).

3.6.3. Penyelesaian Penelitian

a. Melakukan analisis data dan pembahasan

b. Merumuskan kesimpulan dari hasil analisis

3.7. Teknik Pengumpulan Data

3.7.1. Tes

Tes sebagai instrumen pengumpul data adalah serangkaian pertanyaan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu dan kelompok (Riduwan, 2003).

3.7.2. Kuesioner (Angket)

Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang bersedia memberikan respon (responden) sesuai permintaan pengguna (Riduwan, 2003). Angket digunakan pada penelitian ini untuk mengukur minat siswa terhadap animasi yang telah disampaikan oleh peneliti. Validitas isi angket diuji dengan bertanya kepada ahli (dosen). Pelaksanaan pengambilan data (pengisian angket) dilakukan setelah penggunaan media pembelajaran. Skala pengukuruan angket dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Angket ini terdiri dari pertanyaan positif seperti terlihat pada Tabel 2:

Tabel 2. Skor pernyataan Tanggapan

Pernyataan

SS

S

TS

STS

Skor

4

3

2

1

(Sudjana, 1999)

3.8. Teknik Analisa Data

3.8.1. Analisa data tes

Sebelum digunakan dalam penelitian, soal yang akan digunakan sebagai alat uji dianalisis terlebih dahulu. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui validitas dan realibilitas soal tersebut dengan menggunakan sofware AnatesV4.

3.8.1.1. Uji Validitas

Validitas mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur (instrumen) dalam mengukur suatu data.

Untuk mengetahui validitas suatu instrumen dilakukan dengan teknik korelasi product momen (r), dengan sofware AnatesV4.

Keputusan uji:

Bila rhitung > rteori, maka instrumen dinyatakan valid (diterima)

Bila rhitung < rteori, maka instrumen dinyatakan tidak valid (ditolak)

3.8.1.2. Reliabilitas

Reliabelitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan alat pengukuran yang sama.

Pengujian reliabelitas soal menggunakan sofware AnatesV.

Sedangkan untuk membuktikan perbedaan antara kelas eksperimen dan kelas pembanding digunakan perhitungan statistik yaitu uji mann-whitney (mann-whitney test). Untuk mengetahui, apakah hipotesis ditolak atau diterima, maka dilakukan uji hipotesis. Uji hipotesis menggunakan uji mann-whitney. Sebelum dilakukan uji mann-whitney, terlebih dahulu dilakukan uji narmalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal dan uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui homogen atau tidaknya kecenderungan sebaran data untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

1.8.1.3. Uji normalitas

Pada penelitian ini, uji Normalitas dilakukan dengan menggunakan program pengolah data SPSS (Statistical Product and Service Solution) melalui uji Normalitas one sample Kolomogorof-Sminov (K-S). Kriteria pengujiannya adalah jika nilai sig. (signifikasi) atau nilai probabilitas 0,05 maka dikatakan data terdistribudi normal.

1.8.1.4. Uji Homogenitas

Uji homogenitas ditujukan untuk menguji kesamaan beberapa bagian sampel, sehingga generalisasi terhadap populasi dapat dilakukan. Pada penelitian ini, uji Homogenitas dilakukan dengan menggunakan program pengolah data SPSS melalui uji Levene (Levene Test). Kriteria pengujiannya adalah jika nilai sig. (signifikasi) atau nilai probabilitas 0,05 maka dikatakan data berasal dari populasi-populasi yang mempunya varian yang sama.

1.8.1.5. Uji Hipotesis

Uji Hipotesis dilakukan dengan menggunakan program pengolah data SPSS melalui uji mann-whitney (mann-whitney test). Kriteria pengujiannya adalah jika nilai sig. (signifikasi) atau nilai probabilitas >0,05 maka berarti tidak ada pengaruh media animasi terhadap penguasaan konsep biologi, sedangkan jika nila sig. (signifikasi) atau nilai probabilitas 0,7

Tinggi

0,3 0,7

Sedang

< 0,3

Rendah

1.8.2. Analisis Data Angket

Uji hasil angket dapat dianalisis dengan menggunakan skala likert yaitu menganalisis jawaban pada angket yang telah diisi, menghitung skor jawaban, mencari letak dari jumlah skor yang diperoleh dengan melihat pada rentang, kemudian menarik kesimpulan dengan menjumlahkan persentase pada pernyataan.

1. Skor antara 0-50 berarti sangat tidak setuju

2. Skor antara 51-100 berarti tidak setuju

3. Skor antara 101-150 berarti setuju

4. Skor antara 151-200 berarti sangat setuju

Persentase dari skor yang diperoleh, dianalisis dengan rumus:

%

100

)

4

(

x

Tertinggi

Skor

responden

Jumlah

Skor

Jumlah

persentase

=

(Riduwan, 2003)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penguasaan Konsep

Data tes adalah hasil analisa data pretest dan posttest pada KD 3.2 (Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan penyakit yang terjadi pada sistem peredaran darah). Pada kelas eksperimen digunakan media animasi dan kelas pembanding digunakan media gambar. Setelah didapat nilai pretest dan posttest dari kedua kelas penelitian dapat dilakukan uji Normalitas Gain untuk mengetahui tingkat penguasaan konsep siswa terhadap sistem sirkulasi. Hasil analisis data dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 1.

Tabel 5. Hasil analisis nilai rata-rata pretes dan posttest kelas eksperimen dan kelas pembanding

No

Kelas

Rata-rata

Gain

Pretest

Posttest

1

Eksperimen

37,5387

83,8304

46,2917

2

Pembanding

34,8482

72,4182

37,5700

Diagram Hasil Analisis Data

37,5387

83,8304

46,2917

34,8482

72,4182

37,5700

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

PretestPosttestGain

Frekuensi

Kelas Eksperimen

Kelas Pembanding

Gambar 1. Rata-rata nilai pretes, posttes, gain kelas eksperimen dan kelas pembanding

Berdasarkan Tabel 5 dan Gambar 1 dapat diketahui rata-rata hasil analisis data pretest dan posttest kedua kelas penelitian. Nilai rata-rata pretest kedua kelas penelitian terdistribusi normal dan homogen. Artinya, kemampuan awal dari kedua kelas adalah sama. Pada nilai posttest terdapat perbedaan yang cukup besar yaitu pada kelas eksperimen lebih besar dibanding kelas pembanding, yaitu 11,4122. Hal ini karena kelas eksperimen dikenai perlakuan, yaitu penggunaan media animasi dalam poses pembelajarannya. Dari nilai pretest dan posttest ini, maka akan dilanjutkan uji Normalitas Gain untuk melihat tingkat penguasaan konsep siswa terhadap materi yang telah diberikan. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 6 dan Gambar 2.

Tabel 6. Hasil analisis data dengan uji Normalitas Gain kelas eksperimen dan kelas pembanding

No

Kelas

N Gain

Kategori

1

Eksperimen

0,7411

Tinggi

2

Pembanding

0,5767

Sedang

Diagram Hasil Analisis Data

0,7411

0,5767

0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

N Gain

Frekuensi

Kelas Eksperimen

Kelas Pembanding

Gambar 2. N Gain kelas eksperimen dan kelas pembanding

Setelah dilakukan uji Normalitas Gain, dapat diketahui bahwa kelas eksperimen yang dilakukan pembelajaran dengan media animasi, tingkat penguasaan konsep siswa >0,7, maka penguasaan konsep siswa kelas eksperiman termasuk dalam kategori tinggi. Sedangkan pada kelas pembanding yang dilakukan pembelajaran dengan media gambar, tingkat penguasaan konsep siswa berada pada rentang 0,3 0,7, maka penguasaan konsep siswa kelas pembanding termasuk dalam kategori sedang. Bisa dikatakan bahwa penguasaan konsep siswa yang diajar dengan menggunakan media animasi lebih tnggi dibanding penguasaan konsep siswa yang diajar dengan media gambar. Setelah penghitungan rerata nilai posttest, maka rerata tersebut diuji dengan menggunakan Mann-Whytney U test. Sebelum dilakukan uji Mann-Whytney U terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas. Setelah dilakukan uji normalitas dengan uji Kolmogorov-Smirnov dan uji homogenitas dengan uji Levene, didapatlah hasil pada Tabel 7 dibawah ini:

Tabel 7. Hasil Analisa data pretest dan posttest kelas eksperimen dan kelas pembanding

No

Kelas

Jumlah

Data (n)

Uji Normalitas

Uji Homogenitas

Pretest

Posttest

Pretest

Posttest

1

Eksperimen

24

0,2715

0,1940

0,5680

0,2143

2

Pembanding

28

0,2370

0,2065

Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai pretest dan posttest terdistribusi normal. Ini ditunjukkan oleh nilai signifikasi > . Nilai signifikasi rata-rata pretest kelas eksperimen dan kelas pembanding >0,05. Nilai signifikasi rata-rata posttest kelas eksperimen dan kelas pembanding >0,05. Jadi, semua data terdistribusi normal dan bisa dilanjutkan dengan uji homogenitas data. Setelah dilakukan uji homogenitas data terhadap dua kelompok penelitian, nilai homogenitas rata-rata pretest adalah > 0,05 dan homogenitas rata-rata posttest adalah > 0,05. Dengan demikian nilai pretest dan posttest terdistribusi normal dan homogen sehingga memenuhi syarat untuk dilakukan uji hipotesis.

Untuk melihat tingkat signifikasi perbedaan penguasaan konsep antar kelompok penelitian dilakukan Uji statistik non-parametrik dengan Mann-Whytney U. Setelah dilakukan uji Mann-Whytney diperoleh signifikasi 0,005. Hasil uji Mann-Whytney ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media animasi secara signifikan dapat meningkatkan penguasaan konsep sistem sirkulasi siswa dibanding pembelajaran dengan media gambar.

Lebih unggulnya penguasaan konsep siswa kelompok eksperimen disebabkan karena dalam proses pembelajaran menggunakan media animasi, proses-proses biologis yang kompleks dapat dengan mudah dijelaskan pada siswa. Animasi memiliki kemampuan untuk menyampaikan sesuatu yang rumit atau kompleks dan sulit dijelaskan dengan gambar atau kata-kata saja. Media animasi dapat digunakan untuk menjelaskan materi yang secara nyata tidak dapat dilihat oleh mata sehingga membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan konkret.

Hal ini sejalan dengan pendapat Sahin (2006), animasi memberikan kesempatan siswa untuk mengamati dunia nyata dan berinteraksi dengannya, memberikan pengalaman, dan membantu memecahkan masalah. Dengan animasi dapat meniru/replika opjek sebenarnya sehingga siswa tidak hanya dimotivasi oleh animasi, tetapi belajar dengan berinteraksi dengan raplika itu seolah siswa melihat opjek aslinya. Menurut Grabe dan Grabe (1996) dalam Sahin (2006), dengan animasi akan lebih sederhana shingga memungkinkan pelajar fokus pada informasi paenting dan membuat pelajar lebih mudah mengingatnya. Kennepohl (2001) dalam Sahin (2006) mengatakan animasi dapat menjelaskan pada situasi laboratorium dan menjadikan lebih unggul dalam waktu sehingga proporsi laboratorium dapat dikurangi, dan eksperimen yang berbahaya dapat dilakukan dengan animasi sehingga akan lebih efektif.

McClean at all (2005) mengatakan bahwa dengan animasi dapat membantu pemahaman konsep yang kompleks karena dapat membantu mengkonversi konsep yang abstrak ke objek visual tertentu yang dapat dimanipulasi. Grafis adalah visualisai untuk menambah informasi yang disajikan dalam teks sehingga menjadikan siswa fokus pada pelajaran. Menurut ODay (2006), animasi yang paling efektif adalah ketika animasi dipadukan dengan suara (audio) dan diikuti oleh narasi secara serempak untuk membatu proses pembalajaran. Animasi dan grafis dengan narasi lisan atau tulisan lebih efektif daripada tanpa narasi. Animasi menyediakan cara urutan menyampaikan peristiwa biologi yang komplek untuk lebih mudah dipahami. Hal yang membuat animasi lebih efektif adalah katika animasi memiliki atribut-atribut pedagogis yang lengkap misalnya animasi yang bernarasi lebih efektif dibanding animasi yang tidak bernarasi, animasi verbal lebih bermanfaat dibanding animasi bernarasi visual, kata-kata dan gambar dikombinasikan.

Animasi merupakan kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan bahwa gambar-gambar yang ditampilkan bergerak. Animasi sesuai untuk menciptakan realita dari sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh realita dalam citra visual. Dengan karakteristik yang demikian, animasi dapat menjadi media pembelajaran yang baik karena dapat memperlihatkan aspek-aspek yang dinamik sehingga lebih informatif, lebih jelas menampilkan materi subjek sehingga siswa mampu membuat interpretasi yang benar.Animasi tidak memerlukan pemakaian simbol tambahan (tanda panah, garis putus-putus, dan lain-lain) seperti yang sering digunakan pada ilustrasi statis. Dengan demikian, siswa yang belajar dengan memanfaatkan animasi tidak perlu melakukan proses dekoding untuk menginterpretasikan simbol agar dapat memahami materi. Selain itu tampilan keduanya yang memikat dapat menarik perhatian siswa karena pada dasarnya manusia lebih menyukai sesuatu yang dinamis daripada. Animasi dapat membantu sisa yang memiliki pengetahuan awal yang rendah untuk memahami materi yang disampaikan. Animasi menyediakan sejumlah peranan pengajaran yaitu menarik dan mengarahkan perhatian, menggambarkan domain pengetahuan mengenai perpindahan, dan menjelaskan fenomena pengetahuan komplek (Puspita ,2008)

Menurut pendapat Soendari (2010), dengan menggunakan media animasi komputer, siswa terbantu dalam memahami materi. Penyajian gambar yang menarik dan bergerak menjadi daya tarik tersendiri bagi anak untuk memperhatikan materi yang disajikan dalam animasi tersebut. Fasilitas yang dihadirkan oleh tampilan gambar animasi menambah kesan pada anak sehingga dapat mendorong minat dan motivasi anak yang cenderung memiliki hambatan dalam memfokuskan perhatian untuk pembelajaran -pembelajaran yang bersifat akademis seperti halnya mata pelajaran sains. Ketertarikan anak terhadap gambar animasi didukung oleh tampilan fasilitas animasi tersebut diataranya warna yang menarik, pemilihan background, dan pemilihan karakter. Selain gambar yang menarik, animasi juga menampilkan penjabaran kata-kata sederhana untuk memahami gambar. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Gambar 3.

a

b

c

d

Gambar 3. a. Animasi komponen darah; b. gambar komponen darah; c. animasi kelainan/penyakit pada sistem peredaran darah (sklerosis); d. gambar kelainan/penyakit pada sistem peredaran darah (sklerosis).

Hal ini didukung oleh data hasil angket/kuisioner yang telah diberikan pada siswa setelah proses pembelajaran dengan media animasi. Dari hasil angket dapat diketahui bahwa 57,69% siswa sangat berminat terhadap animasi yang telah diberikan, 42,31% menyatakan berminat, 0% menyatakan kurang berminat, 0% menyatakan tidak berminat terhadap animasi yang telah diberikan dalam proses pembelajaran. Dari data ini dapat dikatakan bahwa siswa tertarik terhadap animasi yang telah diberikan saat proses pembelajaran. Dengan ketertarikan ini, maka siswa akan termotivasi dan mudah menerima pelajaran yang diberikan serta menguasai konsep-konsep materi yang telah diberikan.

Berikut adalah tabel ketuntasan belajar siswa kelas eksperimen dan kelas pembanding.

Tabel 7. Ketuntasan Belajar Siswa

No

Variabel

Kelas Eksperimen

Kelas Pembanding

Pertemuan

Pertemuan

1

2

3

4

1

2

3

4

1

Kriteria Ketuntasan Minimal

65

65

65

65

65

65

65

65

2

Jumlah Siswa

28

24

28

28

24

28

24

28

3

Jumlah siswa tuntas belajar

26

20

26

28

19

18

13

24

4

% siswa tuntas belajar

92,8%

83,3%

92,8%

100%

79,2%

64,3%

54,2%

85,7%

5

Rata-rata % siswa tuntas belajar

92,23%

70,85%

Kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran biologi pada SMA N 1 Indralaya kelas XI adalah 65. Dari Tabel 7 dapat diketahui bahwa rata-rata ketuntasan belajar siswa setalah dilakukan pembelajaran pada kelas eksperimen adalah 92,23 %, jauh lebih tinggi dibanding dengan rata-rata ketuntasan belajar siswa kelas pembanding yaitu 70,85 %. Hal ini menunjukkan bahwa panggunaan media animasi dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada mata pelajaran biologi pokok bahasan sistem sirkulasi. Dengan menggunakan media animasi, penguasaan konsep siswa menjadi lebih merata. Hal ini didukung oleh data angket yang telah diberikan pada siswa setelah proses pembelajaran yang menunjukkan bahwa siswa tertarik terhadap animasi yang telah diberikan. Sehingga penguasaan konsep siswa tinggi dan persentase ketuntasan belajar siswa tinggi dan merata.

Penguasaan konsep siswa diukur dari tes evaluasi hasil belajar. Soal yang ada dianalisis jenjang kognitifnya berdasarkan taksonomi Bloom revisi. Pembuatan soal tidak lepas dari tingkat tujuan pembelajaran yang telah didesain sebelumnya. Setelah dilakukan uji validitas soal, maka didapatkan formulasi perbandingan soal untuk setiap jenjang yaitu soal yang menguji tingkat pengetahuan siswa 31,1% (C1), soal yang menguji tingkat pemahaman siswa 37,8% (C2), soal yang menguji kemampuan dalam penerapan pengetahuan 6,7% (C3), soal yang menguji tingkat kemapuan analisis siswa 15,6% (C4), soal yang menguji tingkat kemapuan evaluasi siswa 4,4% (C5), soal yang menguji tingkat kemapuan membuat atau kreasi siswa 4,4% (C6). Analisis terhadap setiap indikator jenjang kognitif juga dilakukan untuk melihat sebaran penguasaan konsep siswa pada setiap jenjang kemampuan berpikir. Informasi mengenai hal tersebut disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Rata-rata persentase Setiap Jenjang Kognitif Dapat Dijawab Oleh Siswa

No

Jenjang Koqnitif

Jumlah Soal

Persentase Siswa Menjawab Benar

Eksperimen

Pembanding

1

C1

14

84,56%

85,72%

2

C2

17

83,19%

63,94%

3

C3

3

87,70%

71,63%

4

C4

7

75,86%

55,73%

5

C5

2

91,65%

80,35%

6

C6

2

92,85%

62,50%

Pada Tabel 8 terlihat penguasaan konsep siswa di kelas eksperimen unggul di semua jenjang kognitif kecuali pada jenjang C1. Pada jenjang C1 kelas pembanding 1,16% lebih unggul dibanding kelas eksperimen. Kealas eksperimen jenjang C2 19,25%, C3 16,07%, C4 20,13%, C5 11,3%, C6 30,35% lebih unggul dari kelas pembanding. Dari setiap jenjang kognitif rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kelas pembanding. Ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan media animasi dalam proses pembelajaran, siswa akan mudah menguasai konsep-konsep yang ada dalam materi, sehingga soal dengan berbagai jenjang yang diberikan bisa dijawab oleh sebagian besar siswa.

bab V

Kesimpulan dan Saran

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, hasil belajar siswa untuk mengukur penguasaan konsep dengan menggunakan media animasi mengalami peningkatan yang ditunjukkan dengan data gain sebesar 0,74 yang dikategorikan tinggi, dengan signifikasi perbedaan penguasaan konsep antar kelompok penelitian adalah 0,005 yang menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media animasi secara signifikan dapat meningkatkan penguasaan konsep sistem sirkulasi siswa dibanding pembelajaran dengan media gambar.

5.2. Saran

Setelah melakukan penelitian, hal yang disarankan oleh peneliti adalah agar sebelum proses pembelajaran dilakukan, media yang akan digunakan diipersiapkan lebih dulu sehingga waktu yang digunakan bisa maksimal. Dari hasil penelitin ini disarankan agar ada penelitian berikutnya tentang media animasi pada materi yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Asra, Darmawan, Reina. 2009. Komputer dan Media Pendidikan si sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

India, 2010. Penggunaan Animasi dalam Pelajaran Biologi. http://biosman11.blogspot.com/2010/03/penggunaan-animasi-dalam-pembelajaran.html. Diakses tanggal 23 Mei 2010.

McClean, P, Jhonson C, Rogers R, Daniels L, Reber J, Slator B M, Terpstra J, White A. (2005). Molecular and Cellular Biology Animations: Development and Impact on Student Learning. Departemat of Plant, Departeement of Biological Sciences, School Education, Departemat of Statistics, Departemat of Computer Science: North Dakota State University.

Noviari, N. 2009. Pengaruh Kemajuan Teknologi Informasi terhadap Perkrmbangan Akuntansi. Skripsi. Bali. Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. http://eujurnal.unud.ac.id/abstrak/naniek%20noviari(1).pdf. Diakses tanggal 30 Mei 2010.

ODay, D H. 2006. Animated Cell Biology: A Quick and Easy Method for Making Effective, High-Quality Teaching Animations. Department of Biology, University of Toronto at Mississauga, Mississauga, Ontario, Canada L5L 1C6.

Puspita, G. N. 2008. Penggunaan Multimedia Interaktif dalam Pembalajaran Biologi. http://www.scribd.com/doc/35945204/Penggunaan-Multimedia-Interaktif-Reproduksi-Hewan-untuk-Meningkatkan-Keterampilan-Generik-dan-Berpikir-Kritis-Siswa-SMP

Putantri, Nutirta. 2007. Komputer Sebagai Alat Bantu Pembelajaran. http://nuritaputranti.wordpress.com/2007/08/23/komputer-sebagai-alat-bantu-pembelajaran/#comment-3333. Diakses tanggal 23 Mei 2010.

Radita, A. 2010. Kajian Implementasi penggunaan Media Pembelajaran dalam Pembelajaran Biologi di SMA Kelas XI di Kabupaten Ogan Ilir. Skripsi. Indralaya: FKIP Universitas Sriwijaya.

Riduwan. 2003. Metodologi Penelitian Untuk Pemula. Jakarta: Alphabeta.

Saguni, F. 2006. Prinsip-prinsip Kognitif Pembelajaran Multimedia: Peran Modality dan Contiguity Terhadap Peningkatan Hasil Belajar. Palu: Fakultas Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri. http://journal.unair.ac.id/filerPDF/01%20-%20Prinsip-Prinsip%20Kognitif%20Pembelajaran%20Multimedia=Peran%20Modality%20dan%20Contiguity%20Terhadap%20Peningkatan%20Hasil%20Belajar.pdf Diakses tanggal 26 April 2011.

Sahin, Sami (2006). Computer Simulation In Education: Implications for Distance Education. Gazi University: Turkey

Soendari. 2010. Pengaruh Media Animasi Komputer terhadap Hasil Belajar Sains Anak Tunagrahita Ringan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Sudjana, N. 1999. Metode Statistika. Bandung: Tarsito

Wiryokusumo, I. 2002. Inovasi Pendidikan Sebagai Usaha Menciptakan Manusia Belajar. Makalah Seminar Pendidikan HMJ TEP Universitas Negeri Malang.

Daftar nilai tiap pertemuan

Angket

Silabus

Rpp

Soal

Kunci

Deskripsi data / perhitungan

Surat usul judul

Sk pembimbing

Surat izin diknas

Surat keterangan telah melakukan penelitian dari sekolah

Surat keterangan bebas peminjaman alat

PAGE

38

_1360131546.unknown

_1360131547.unknown