Top Banner
MAKALAH BIOSISTEMATIK HEWAN FILUM ARTHROPODA Ditulis Oleh: Nama : Nursista Wulandari NIM : 1127020050 Jurusan : Biologi Semester/Kelas : III/B
56

Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Feb 23, 2023

Download

Documents

Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
Page 1: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

MAKALAH BIOSISTEMATIK HEWAN

FILUM ARTHROPODA

Ditulis Oleh:

Nama : Nursista Wulandari

NIM : 1127020050

Jurusan : Biologi

Semester/Kelas : III/B

Page 2: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2011

Page 3: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

KATA PENGANTAR

م ب��سم ال�له ال�رح�من ال�ر ح�ي�Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah

SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat

menyusun makalah Filum Arthropoda ini. Shalawat serta

salam semoga tercurah limpahkan kepada junjunan kita,

Nabi Muhammad SAW, serta keluarganya, para sahabatnya,

dan para pengikutnya yang senantiasa ta’at hingga akhir

zaman.

Makalah ini kami susun guna sebagai tugas mata

kuliah Biosistematik Hewan. Dalam makalah ini

dipaparkan materi tentang pengertian, karakteristik,

sistematika, serta contoh spesies-spesies dari filun

Arthropoda. Dengan demikian, diharapkan kami mampu

mengetahui, memahami, dan menyimpulkan materi-materi

tersebut.

Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih

banyak kekurangan atau kekeliruan, oleh karna itu kami

menerima kritik dan saran yang membangun guna perbaikan

dalam penyusunan makalah di waktu yang akan datang.

ن ال�حمد ل�له رب� ال�علمي�

i

Page 4: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Bandung, 9 Desember

2013

Penulis,

DAFTAR ISI

KATA

PENGANTAR..............................................

.......................... i

DAFTAR

ISI....................................................

................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

ii

Page 5: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

1.1 Latar

Belakang............................................

.................................. 1

1.2 Rumusan

Masalah................................................

......................... 1

1.3

Tujuan.................................................

.......................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian........................................

.............................................. 3

2.2 Karakteristik

Umum................................................

...................... 3

2.3 Filogeni dan

Sistematika.........................................

....................... 4

2.4 Contoh Spesies-Spesies dan

Klasifikasinya..................................

16

BAB III PENUTUP

1

2

iii

Page 6: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

3

3.1

Kesimpulan.............................................

....................................... 29

3.2

Saran..................................................

............................................ 29

DAFTAR PUSTAKA

iv

Page 7: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hewan merupakan makhluk hidup yang mampu

beradaptasi di berbagai lingkungan. Mereka dapat hidup

di laut, air tawar, kutub, dan padang pasir (gurun).

Berdasarkan kerangka tulang belakangnya hewan di

kelompokkan menjadi dua kelompok utama, yaitu

invertebrata (hewan yang tidak bertulang belakang) dan

vertebrata (bertulang belakang). Berdasarkan persamaan

dan perbedaannya, kelompok hewan invertebrata di

kelompokkan ke dalam beberapa filum. Hewan-hewan

tersebut di kelompokkan ke dalam 9 filum, yaitu:

Porifera, Coelenterata, Platyhelminthes,

Nemathelminthes, Annelida, Mollusca, Arthropoda,

Echinodermata, Chordata.

Diperkirakan bahwa populasi arthropoda di dunia,

yang meliputi krustasea, laba-laba, dan serangga,

berjumlah sekitar 108 individu. Hampir 1 juta spesies

Arthropoda telah dideskripsikan, dan sebagian besar

adalah serangga. Pada kenyataannya, dua dari setiap

tiga organisme yang dikenal adalah hewan arthropoda,

dan anggota filum tersebut ada hampir pada semua

habitat yang ada d biosfer. Berdasarkan kriteria

1

Page 8: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

keanekaragaman, penyebaran, dan jumlah spesies, filum

Arthropoda harus dianggap sebagai yang paling berhasil

di antara semua filum.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa dan bagaimana pengertian Arthropda?

2. Apa saja dan bagaimana karakteristik umum

Arthropoda?

3. Apa dan bagaimana filogeni dan sistematika

Arthropoda?

4. Apa sajakah contoh-contoh spesies Arthropoda dan

bagaimana klasifikasinya?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian Arthropda.

2. Untuk mengetahui karakteristik umum Arthropoda.

3. Untuk mengetahui filogeni dan sistematika

Arthropoda.

4. Untuk mengetahui contoh-contoh spesies Arthropoda

dan klasifikasinya.

2

Page 9: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

3

Page 10: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Arthropoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu arthro

yang berarti ruas dan podos yang berarti kaki. Jadi,

Arthropoda berarti hewan yang kakinya beruas-ruas.

Organisme yang tergolong filum arthropoda memiliki kaki

yang berbuku-buku. Hewan ini memiliki jumlah spesies

yang saat ini telah diketahui sekitar 900.000 spesies.

Hewan yang tergolong arthropoda hidup di darat sampai

ketinggian 6.000 m, sedangkan yang hidup di air dapat

ditemukan sampai kedalaman 10.000 meter. Contoh anggota

filum ini antara lain kepiting, udang, serangga, laba-

laba, kalajengking, kelabang, dan kaki seribu, serta

spesies-spesies lain yang dikenal hanya berdasarkan

fosil. Habitat hewan anggota filum arthopoda di air dan

di darat.

2.2 Karakteristik Umum

Hewan Arthropoda memiliki bentuk tubuh simetri

bilateral, triploblastik selomata, dan tubuhnya

bersegmen. Tubuh ditutupi lapisan kutikula yang

merupakan rangka luar (eksosketelon). Ketebalan

kutikula sangan bervariasi, tergantung dari spesies

hewannya. Kutikula dihasilkan oleh epidermis yang

terdiri atas protein dan lapisan kitin. Pada waktu

serangga mengadakan pertumbuhan, kutikula akan

mengalami pengelupasan.

4

Page 11: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Ciri-ciri umum yang dimiliki anggota filum

arthropoda yaitu tubuh simetri bilateral, triploblastik

selomata, terdiri atas segmen-segmen yang saling

berhubungan dibagian luar, dan memiliki tiga lapisan

germinal (germlayers) sehingga merupakan hewan

tripoblastik. Tubuh ditutupi lapisan kutikula yang

merupakan rangka luar (eksosketelon). Ketebalan

kutikula sangan bervariasi, tergantung dari spesies

hewannya. Kutikula dihasilkan oleh epidermis yang

terdiri atas protein dan lapisan kitin. Pada waktu

serangga mengadakan pertumbuhan, kutikula akan

mengalami pengelupasan. Tubuh memiliki kerangka luar

dan dibedakan atas kepala, dada, serta perut yang

terpisah atau bergabung menjadi satu. Setiap segmen

tubuh memiliki sepasang alat gerak atau tidak ada.

Arthropoda berespirasi dengan menggunakan paru-

paru buku, trakea atau dengan insang. Pada spesies

terestrial bernafas menggunakan trakhea atau pada

arachnida menggunakan paru-paru buku atau menggunakan

keduanya. Ekskeresi dengan menggunakn tubulus malpighi

atau kelenjar koksal. Saluran pencernaan sudah lengkap,

terdiri atas mulut, usus dan anus. Sistem peredaran

darah berupa sistem peredaran darah terbuka, beredar

melalui jantung→organ dan jaringan→hemocoel (sinus)→ke

jantung lagi. Sarafnya merupakan sistem saraf tangga

tali.

5

Page 12: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Atrhropoda mempunyai kelamin terpisah, fertilisasi

terjadi secara internal, dan bersifat ovivar.

Perkembangan individu baru terjadi sevara langsung atau

melalui stadium larva. Pembagian tubuh pada arthropoda

kemungkinan seperti annelida yang memiliki dinding

tubuh yang berotot dan tubuh tidak terbagi menjadi

daerah tertentu, pada crustaceae, Insecta, Chilopoda,

dan Diplopoda tubuh dibedakn menjadi tiga daerah yang

jelas yaitu kepala dada dan abdomen atau kepala dan

dada yang bergabung menjadi sefalotoraks. Tubuh

dibungkus oleh zat kitin, yang berfungsi sebagai

kereangka luar atau eksoskeleton.

2.3 Filogeni dan Sistematika

Berikut ini subfilum, kelas, sub kelas, ordo, dan

contoh spesies dari filum Arthropoda:

2.3.1 Subfilum

Sejak tahun 1990 banyak ahli zoology membagi

kelompok Arthopoda menjadi subfilum Onychophora,

subfilum Trilobita, subfilum Chelicerata, subfilum

Uniramia, dan subfilum Crustacea. Pemisahan ini

terutama berdasarkan perbedaan dalam hal struktur dan

susunan kaki serta apendik yang lain, sebagaimana

perbedaan embriologi dan anatomi dalamnya. Bahkan

berdasarkan evolusinya, Crustacea dan Uniramia berasal

dari kelompok nenek moyang bentuk cacing yang berbeda.

6

Page 13: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Filum Arthopoda dibagi menjadi empat subfilum

yaitu Trilobita, Chelicerata, Onychophora, dan

Mandibulata. Semua anggota Trilobita sudah punah tetapi

kemungkinan masih ada yang dapat dijumpai pada

Arthopoda primitif.

Subfilum yang pertama yaitu Trilobita merupakan

arthopoda laut yang primitif dan sangat melimpah pada

masa Paleozoic, terdiri dari 4000 spesies. Tubuh

berukuran 10-675 mm, terbagi atas dua alur memanjang

menjadi tiga cuping. Tubuh dilindungi oleh cangkang

bersegmen yang keras. Kepala jelas terdiri atas empat

segmen tubuh, memiliki sepasang antenula, empat pasang

apendik biramus dan sepasang mata majemuk. Contoh

anggota subfilum ini adalah Triarthus eatoni. Subfilum yang

kedua yaitu Chelicerata, tubuhnya dibedakan atas dua

bagian yaitu sefalotorak (prosoma) dan abdomen

(opisthosoma) (kecuali Acarina). Memiliki 6 pasang

apendik. Tidak memiliki antena atau manibula. Bagian-

bagian mulut dan saluran pencernaan utamanya untuk

fungsi penusuk, beberapa diantaranya memiliki kelenjar

racun, respirasi menggunakan paru-paru buku, trakea

atau insang.

Subfilum yang ketiga adalah Onychophora, bentuk

tubuhnya seperti cacing dengan 14-43 pasang kaki

(lobopodia) rongga tubuhnya berupa homocoel. Memiliki

kelenjar lumpur yang hasil sekresinya akan dikeluarkan

7

Page 14: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

melalui papilla oral untuk menangkap mangsa atau

predator. Saluran pencernaannya lengkap. Enzim-enzim

dilepaskan ke dalam mangsa selanjtnya zat-zat nutrisi

dihisap. Sistem saraf memiliki ganglion, kepala dan dua

tali saraf longitudinal yang membentuk tali tangga.

Jantung berbentuk tubular terletak di sebelah dorsal

system sirkulasi terbuka. Subfilum keempat adalah

Mandibilata, karakter spesial yang dimiliki anggota

subfilum ini adalah mandibula dan antenna.

2.3.2 Kelas, Sub Kelas, dan Ordo

Arthropoda dapat dibagi menjadi 6 kelas, yaitu

Crustacea, Onychophora, Arachnida, Chilopoda,

Diplopoda, dan Insecta. Tetapi kadang-kadang kelas

Chilopoda dan Diplopoda dimasukkan ke dalam satu kelas

yaitu Myriapoda. Diuraikan sebagai berikut:

A. Crustacea

Sementara Arachnoidea dan serangga berhasil

hidup di darat, sebagian besar krustasea tetap berada

di lingkungan laut dan air tawar, dimana mereka

sekarang diwakili oleh sekitar 40.000 spesies.

Kepiting, udang galah, crayfish (udang karang), dan

udang adalah hewan krustasea yang paling terkenal.

Crustacea merupakan kelas dari Arthropoda yang

hidupnya terutama menempati perairan baik air tawar

maupun laut. Bernapas dengan menggunakan insang.

8

Page 15: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Tubuhnya terbagi menjadi kepala (cephalo), dada

(thorax), dan perut (abdomen) atau kadang-kadang

kepala dan dada bersatu membentuk cephalotorax. Kepala

biasanya terdiri dari dari empat segmen yang bersatu,

pada bagian kepala itu terdapat dua pasang antena,

satu pasang mandibula (rahang pertama) dan dua pasang

maksila (rahang kedua). Bagian dada mempunyai embelah

dengan jumlah yang berbeda-beda yang diantaranya ada

yang berfungsi sebagai alat gerak. Segmen bagian

perut umumnya sempit dan lebih mudah digerakkan

dibandingkan dengan kepala dan dada. Bagian perutpun

mempunyai embelan yang didalam ukurannya mengalami

pengurangan.

Crustacea bernapas dengan insang dan ada juga

yang yang menggunakan permukaan tubuhnya. Alat

ekskresi berupa sepasang badan yang disebut greenland

(kelenjar hijau), terletak pada bagian ventral dari

cefalotoraks di depan esofagus. Bereproduksi secara

kawin, jenis kelamun terpisah. Sistem saraf berupa

tangga tali. Alat pencernaan dilengkapi dengan mulut,

esofagus, lambung, usus dan anus. Sistem peredaran

darah terbuka.

1. Sub Kelas Branchiopoda

Hewan dari subkelas Branciopoda ini merupakan

hewan yang sangat kecil, ukuran tubuhnya hanya

beberapa mili meter saja walaupun ada yang

9

Page 16: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

mencapai 2,5 cm tetapi tidaklah begitu banyak.

Hidup di air tawar, tubuhnya semi transparan,

sehingga kadang-kadang organ-organ dalamnya dapat

terlihat dari luar, berwarna pucat ada yang

berenag menggunakan bagian punggungnya. Embelan

di bagian dada menyerupai bulu halus dan digunakan

sebagai alat pernapasan, terdapat karapak.

Diantaranya ada yang sengaja dikultur untuk

makanan ikan terutama ikan mas. Contoh spesies:

Eubranchipus vernalis, Daphnia sp.

2. Sub Kelas Ostracoda

Hidup di air tawar dan laut, dapat berenang

dengan bebas, bergerak dengan menggunakan antena

kedua atau kedua pasang antenanya. Karapak terdiri

dari 2 belahan. Embelan tidak menyerupai bulu

halus. Ukuran tubuhnya 1 mm sampai beberapa mm

saja.

Contoh pada jenis Eucypris virens yang hidup di

air tawar karapak ditutupi oleh bulu-bulu yang

pendek, memiliki sebuah mata. Panjang tubuhnya 2

mm, berenang dengan menggunakan pasangan pertama

kakinya. Merupakan hewan partenogenesis di mana

telur-telurnya dapat berkembang tanpa dibuahi.

3. Sub Kelas Copepoda

Hewan-hewan dari subkelas ini hidup di air

tawar atau laut, dapat berenang bebas atau sebagai

10

Page 17: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

parasit pada ikan. Tidak mempunyai karapak,

umumnya mempunyai 6 pasang embelan dada.

Contohnya ialah Cicplos viridis, hidup di kolam-

kolam air tawar. Panjang tubuh 1,5-5 mm. Umumnya

berwarna kehijau-hijauan, mata berwarna merah.

Pada bagian ekor sering terdapat suatu kantung

yang penuh berisi telur. Merupakan plankton hewan

yang kadang-kadang sangat berlimpah. Tubuhnya

dapat dibedakan atas kepala, dada, dan perut.

4. Sub Kelas Cirripedia

Umumnya hidup melekat pada benda-benda di

perairan seperti batu, kayu, karang, dasar-dasar

perahu/kapal, tiang-tiang di laut, dan sebagainya.

Karapak menutupi tubuhnya. Umumnya hermaprodit,

begian tubuh umumnya ditutupi oleh suatu rangka

atau cangkok dari kapur, sehingga mula-mula hewan

ini diduga sebagai Mollusca. Diantaranya ada yang

hidup sebagai parasit. Contoh spesies: Lepas

fascicularis.

5. Sub Kelas Malacostraca

Subkelas ini merupakan hewan-hewan yang

paling banyak dari kelas Crustacea kira-kira ¾nya

termasuk ke dalam Malacostraca. Umumnya bertubuh

besar, terdiri atas segmen-segmen sebagai berikut:

4 segmen di bagian kepala. 8 segmen di bagian

dada, dan 6 segmen di bagian perut. Beberapa jenis

11

Page 18: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

yang termasuk ke dalam Malacostraca ini ialah

udang, kepiting, ketam, dan sebagainya. Contoh

spesiesnya: Cambarus bartoni.

B. Onychopora

Kelas ini tidak begitu dikenal sehingga tidak

terlalu dibahas secara panjang lebar. Hewan ini

memiliki kutikula yang tipis, tidak bersegmen,

dinding tubuh berotot, terdapat sepasang rahang dan

sebaris lubang nephridium, panjang tubuh ± 5 cm.

Contohnya adalah Peripatus.

C. Arachnoidea

Arachnoidea (dalam bahasa Yunani, arachno=laba-

laba) disebut juga kelompok laba-laba, meskipun

anggotanya bukan laba-laba saja. Kalajengking adalah

salah satu contoh kelas Arachnoidea yang jumlahnya

sekitar 32 spesies. Ukuran tubuh Arachnoidea

bervariasi, ada yang panjangnya lebih kecil dari 0,5

mm sampai 9 cm. Arachnoidea merupakan hewan

terestrial (darat) yang hidup secara bebas maupun

parasit. Arachnoidea yang hidup bebas bersifat

karnivora. Arachnoidea dibedakan menjadi tiga ordo,

yaitu Scorpionida, Arachnida, dan Acarina.

Sub Kelas Ordo Contoh Spesies

12

Page 19: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

1. Megastomata

(Giantastraca)

a. Xiphosura Limulus polyphemus

(sudah punah)b. Euripterida

2. Arachnida

a. Scorpionida Diplocentrus whitei

b. Pedipalpi Tarautula whitei

c. Araneida Salticus scenicus

d. Palpigradi Keonia wheeleri

e. Pseudoscorp

ionida

Chelifer caucroides

f. Solpugida Eremobates oallipes

g. Phalangida Liobunum vittatan

h. Acarina Sarcoptes scabi

3. Pycnogonida

(Pantopoda)

Nimphom striomii

4. Tardigrada Macrobiotes hufelandi

5. Pentastomid

a

(Linguatulida)

Linguatula serrata

1. Ordo Scorpionida memiliki alat penyengat beracun

pada segmen abdomen terakhir. Contoh hewan ini

adalah kalajengking (Uroctonus mordax) dan

ketunggeng (Buthus after).

2. Ordo Arachnida, abdomen tidak bersegmen dan

memiliki kelenjar beracun pada kaliseranya (alat

sengat). Contoh hewan ini adalah laba-laba

serigala (Pardosa amenata), laba-laba kemlandingan

(Nephila maculata).

13

Page 20: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

3. Ordo Acarina memiliki tubuh yang sangat kecil,

bulat atau oval, pipih, dorsoventral, caput,torax,

dan abdomen bersatu, tanpa segmen. Contohnya

adalah caplak atau tungau (Acarina sp.).

D. Myriapoda

Myriapoda (dalam bahasa Yunani, myria=banyak,

podos=kaki) merupakan hewan berkaki banyak. Pembagian

tubuh Myriapoda ini terdiri atas kepala (chepalo) dan

perut (abdomen) tanpa dada (thoraks). Dibagian kepala

terdapat satu pasang antena sebagai alat peraba dan

sepasang mata tunggal (ocellus). Penambahan jumlah

segmen terjadi pada setiap pergantian kulit. Alat

gerak pada kelompok hewan Chilopoda adalah satu

pasang kaki di setiap segmen perut kaki, sedangkan

pada Diplopoda terdapat dua pasang kaki pada tiap

segmen perut, kecuali segmen terakhirnya. System

pernapasannya berupa satu pasang trakea berspirakel

yang terletak di kanan kiri setiap ruas, kecuali pada

Diplopoda terdapat dua pasang di tiap ruasnya. Sistem

pencernaan, saluran pencernaanya lengkap dan

mempunyai kelenjar ludah. Chilopoda bersifat karnivor

dengan gigi beracun pada segmen I, sedangkan

Diplopoda bersifat herbivor, pemakan sampah atau

daun-daunan. System reproduksi secara seksual, yaitu

dengan pertemuan ovum dan sperma (fertilasi

14

Page 21: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

internal). Myriapoda ada yang vivipar dan ada yang

ovipar.

1. Sub Kelas Chiliopoda

Chiliopoda disebut juga centipede, tubuhnya

pipih dan bersegmen-segmen. Jumlah segmen tersebut

tidak sama tergantung pada jenis spesiesnya

spesiesnya yaitu berkisar antara 15-17 segmen.

Tiap segmen tersebut mempunyai sepasang kaki

kecuali 2 segmen terakhir dan sebuah segmen di

belakang kepala. Pada segmen yang di belakang

kepala tersebut terdapat sepasang cakar beracun

yang disebut maxilliped, digunakan untuk membunuh

mangsanya. Antena panjang terdiri dari 12 segmen

atau lebih. Contoh: Lithobius forficatus

(kelabang/lipan).

2. Sub Kelas Diplopoda

Diplopoda disebut juga Millipede. Tubuhnya

bulat panjang dan terdiri dari 25-100 segmen atau

lebih tergantung jenis spesiesiesnya. Setiap

segmen tampaknya mempunyai dua pasang embelan.

Sesungguhnya segmen tersebut tersusun rapat

sehingga terlihat seperti satu segmen. Jadi

sebenarnya adalah setiap segmen hanyalah mempunyai

sepasang embelan. Contoh: Julus virgatus (keluing/kaki

seribu).

15

Page 22: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

E. Insecta

Serangga adalah salah satu anggota kerajaan

binatang yang mempunyai jumlah anggota yang terbesar.

Hampir lebih dari 72 % anggota binatang termasuk

kedalam golongan serangga. Serangga telah hidup di

bumi kira-kira 350 juta tahun, dibandingkan dengan

manusia yang kurang dari dua juta tahun. Selama kurun

ini mereka telah mengalami perubahan evolusi dalam

beberapa hal dan menyesuaikan kehidupan pada hamper

setiap tipe habitat. Serangga dapat berperan sebagai

pemakan tumbuhan (serangga jenis ini yang terbanyak

anggotanya). Sebagai parasitoid (hidup secara parasit

pada serangga lain), sebagai predator (pemangsa),

sebagai pemakan bangkai, sebagai penyerbuk (misalnya

tawon dan lebah) dan sebagai penular (vektor) bibit

penyakit tertentu.

Serangga dapat dijumpai di semua daerah di atas

permukaan bumi. Di darat, laut, dan udara dapat

dijumpai serangga. Mereka hidup sebagai pemakan

tumbuhan, serangga atau binatang lain, bahkan

menghisap darah manusia dan mamalia. Serangga hidup

sebagai suatu keluarga besar di dalam sebuah

kehidupan sosial yang rumit, seperti yang dilakukan

oleh lebah, semut dan rayap yang hidup di dalam

sebuah koloni.

16

Page 23: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Manfaat serangga antara lain sebagai penyerbuk

(pollinator) andal untuk semua jenis tanaman. Di

bidang pertanian serangga berperan membantu

meningkatkan produksi buah-buahan dan biji-bijian.

Serangga juga berperan sebagai organism perombak

(dekomposer) yang mendegradasi kayu yang tumbang,

ranting, daun yang jatuh, hewan yang mati dan sisa

kotoran hewan.

Serangga disebut pula Insecta, adalah kelompok

utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai

enam (tiga pasang), karena itulah mereka disebut pula

Hexapoda (dari bahasa Yunani yang berarti berkaki

enam. Kajian mengenai kehidupan serangga disebut

entomologi. Serangga termasuk dalam kelas insekta

(subfilum Uniramia) yang dibagi lagi menjadi 29 ordo,

antara lain Diptera (misalnya lalat), Coleoptera

(misalnya kumbang), Hymenoptera (misalnya semut,

lebah, dan tabuhan), dan Lepidoptera (misalnya kupu-

kupu dan ngengat). Kelompok Apterigota terdiri dari 4

ordo karena semua serangga dewasanya tidak memiliki

sayap, dan 25 ordo lainnya termasuk dalam kelompok

Pterigota karena memiliki sayap. Serangga merupakan

hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang sangat

tinggi. Ukuran serangga relatif kecil dan pertama

kali sukses berkolonisasi di bumi.

17

Page 24: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Insecta sering disebut serangga atau heksapoda.

Heksapoda berasal dari kata heksa berarti 6 (enam)

dan kata podos berarti kaki. Heksapoda berarti hewan

berkaki enam. Diperkirakan jumlah insecta lebih dari

900.000 jenis yang terbagi dalam 25 ordo. Hal ini

menunjukkan bahwa banyak sekali variasi dalam kelas

insecta baik bentuk maupun sifat dan kebiasaannya.

Tubuh Insecta dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu

kaput, toraks, dan abdomen. Kaput memiliki organ yang

berkembang baik, yaitu adanya sepasang antena, mata

majemuk (mata faset), dan mata tunggal (oseli).

Insecta memiliki organ perasa disebut palpus. Insecta

yang memiliki syap pada segmen kedua dan ketiga.

Bagian abdomen Insecta tidak memiliki anggota tubuh.

Pada abdomennya terdapat spirakel, yaitu lubang

pernapasan yang menuju tabung trakea. Trakea

merupakan alat pernapasan pada Insecta. Pada abdomen

juga terdapat tubula malpighi, yaitu alat ekskresi

yang melekat pada posterior saluran pencernaan.

Sistem sirkulasinya terbuka. Organ kelaminnya

dioseus.

Berikut penggolongan serangga adalah sebagai

berikut:

1. Sub Kelas Apterygota (tidak bersayap, primitif,

tidak bermetamorfosa, pada abdomen terdapat

appendage sebelah ventral)

18

Page 25: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Ordo Thysanura (Tysanos=pita penunjuk halaman

buku). Ordo ini biasanya dapt demukan pada buku atau

tumpukan kertas yang telah lama dibiarkan. Ujung

abdomen mempunyai embelan, abdomen itu sendiri

terdiri dari 11 segmen, tipe alat mulut untuk

mengunyah. Hewan ini dapat merusak buku atau baju-

baju yang dikanji karena dapapt meghasilkan enzim

selulosa yang dapat mencernakan selulosa menjadi

glukosa. Contoh: Lepisma saccharina (kutu buku).

2. Sub Kelas Pterygota

a) Ordo Orthoptera. Berasal dari kata orthos

yang artinya”lurus” dan pteron artinya “sayap”. Golongan

serangga ini sebagian anggotanya dikenal sebagai

pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya

yang bertindak sebagai predator. Sewaktu istirahat

sayap bagian belakangnya dilipat secara lurus dibawah

sayap depan. Sayap depan mempunyai ukuran lebih

sempit daripada ukuran sayap belakang. Alat mulut

nimfa dan imagonya menggigit-mengunyah yang ditandai

adanya labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla

dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya,

dan labium dengan palpus labialisnya. Tipe

metamorfosis ordo ini adalah paurometabola yaitu

terdiri dari 3 stadia (telur-nimfa-imago). Beberapa

contoh serangga jenis ordo orthoptera: belalang kayu

(Valanga nigricornis Burn.), belalang pedang (Sexava spp.),

19

Page 26: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

jangkrik (Gryllus mitratus Burn dan Gryllus bimaculatus De

G.), anjing tanah (Gryllotalpa africana Pal.).

Ordo Orthoptera mempunyai metamorfosa yang

bertingkat, tipe alat mulut untuk menggigit dan

mengunyah. Ukuran tubuhnya relatif besar, umumnya

dengan sayap depan yang bersifat liat dan disebut

juga tegmina, sayap belakan tipis berupa selaput,

pada waktu istirahat dilipat lurus di atas badan

ditutupi oleh syap depan (tegmina). Kaki belakang

umumnya panjang juga kuat yang dipakai untuk

meloncat.

b) Ordo Hemiptera. Hemi artinya setengah dan

pteron artinya “sayap”. Beberapa jenis serangga dari

ordo ini pemakan tumbuhan dan adapula sebagai

predator yang mengisap tubuh serangga lain dan

golongan serangga ini mempunyai ukuran tubuh yang

besar serta sayap depannya mengalami modifikasi,

yaitu setengah didaerah pangkal menebal, sebagiannya

mirip selaput, dan syap belakang seperti selaput

tipis. Paurometabola merupakan tipe perkembangan

hidup dari ordo ini yang terdiri dari 3 stadia yaitu

telur > nimfa > imago. Tipe mulut menusuk-mengisap

yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi

dengan stylet yang berfungsi sebagai alat pengisap.

Nimfa dan imago merupakan stadium yang bisa merusak

tanaman: Beberapa contoh serangga anggota ordo

20

Page 27: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Hemiptera ini adalah kepik buah jeruk (Rynchocoris

poseidon Kirk), hama pengisap daun teh, kina, dan

buah kakao (Helopeltis antonii), walang sangit (Leptocorixa

acuta Thumb), kepik buah lada (Dasynus viridula).

c) Ordo Homoptera. Homo artinya “sama” dan

pteron artinya “sayap” serangga golongan ini mempunyai

sayap depan bertekstur homogen. Sebagian dari

serangga ini mempunyai dua bentuk, yaitu serangga

bersayap dan tidak bersayap. Misalnya kutu daun (Aphis

sp.) sejak menetas sampai dewasa tidak bersayap.

Namun bila populasinya tinggi sebagian serangga tadi

membentuk sayap untuk memudahkan untuk berpindah

habitat. Tipe perkembangan hidup serangga ini adalah

paurometabola (telur-nimfa-imago). Jenis serangga

ini, antara lain: wereng coklat (Nilaparvta lugens),

wereng hijau (Nephotettix apicalis), kutu loncat

(Heteropsylla), kutu daun (Myzus persicae).

d) Ordo Lepidoptera. Berasal dari kata lepidos

“sisik” dan pteron artinya “sayap”. Tipe alat mulut

dari ordo. lepidoptera menggigit-mengunyah tetapi

pada imagonya bertipe mulut menghisap.

Perkembangbiakannya bertipe “holometebola” (telur-

larva-pupa-imago). Larva sangat berpotensi sebagai

hama tanaman, sedangkan imagonya (kupu-kupu dan

ngengat) hanya mengisap madu dari tanaman jenis

bunga-bungaan. Sepasang sayapnya mirip membran yang

21

Page 28: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

dipenuhi sisik yang merupakan modifikasi dari rambut.

Yang termasuk jenis serangga dari ordo ini, antara

lain: ulat daun kubis (Plutella xyllostella), kupu-kupu

pastur (Papilio memnon L), ulat penggulung daun

melintang pada teh (Catoptilia theivora Wls), penggerek

padi putih (Tryporyza innotata Walker).

e) Ordo Coleoptera. Coleos artinya “seludang”

pteron “sayap”. Tipe serangga ini memiliki sayap depan

yang mengeras dan tebal seperti seludang berfungsi

untuk menutup sayap belakang dan bagian tubuh. Sayap

bagian belakang mempunyai struktur yang tipis.

Perkembangbiakan ordo ini bertipe “holometabola” atau

metamorfosis sempurna yang perkembangannya melalui

stadia : telur – larva – kepompong (pupa) – dewasa

(imago). Tipe alat mulut nyaris sama pada larva dan

imago (menggigit-mengunyah) jenisnya bentuk tubuh

yang beragam dan ukuran tubuhnya lebih besar dari

jenis serangga lain. Anggota-anggotanya sebagian

sebagai pengganggu tanaman, namun ada juga yang

bertindak sebagai pemangsa serangga jenis yang

berbeda. Serangga yang yang merusak tanaman, antara

lain: kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros L.), kumbang

daun kangkung, semangka, dan terung (Epilachna sp.),

kumbang daun keledai (Phaedonia inclusa Stal.),

penggerek batang cengkih (Nothopeus fasciatipennis Wat.).

22

Page 29: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Ordo Coleoptera (coleos=seludang/sarung)

meliputi bermacam-macam kumbang dan kepik,

metamorfosa sempurna. Tipe alat mulut untuk

mengunyah. Merupakan hewan bersayap 2 pasang atau

tidak bersayap, pada hewan yang bersayap, sayap

bagian depan yang biasanya terletak di bagian luar

keras mengandung zat tanduk disebut juga elitra,

sedangkan sayap bagian belakang seperti membran yang

dilipatkan ke bawah elytra. Ordo ini merupakan ordo

terbesar pada kelasnya.

f) Ordo Diptera. Di artinya “dua” dan pteron artinya

“sayap” merupakan bangsa lalat, nyamuk meliputi

serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator

dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu

pasang sayap di depan, sedangkan sayap belakang telah

berubah menjadi halter yang multifungsi sebagai alat

keseimbangan, untuk mengetahui arah angin, dan alat

pendengaran. Metamorfosisnya holometabola (telur-

larva-kepompong-imago). Larva tidak punya tungkai,

dan meyukai tempat yang lembab dan tipe mulutnya

menggigit-mengunyah, sedangkan imago bertipe mulut

menusuk-mengisap atau menjilat-mengisap. Jenis

serangga golongan ini, antara lain: lalat buah

(Bactrocera sp.), lalat bibit kedelai (Agromyza phaseoli

Tryon), lalat bibit padi (Hydrellia philippina), hama

ganjur (Orseolia oryzae Wood Mason).

23

Page 30: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

g) Isoptera (Isos=sama, pteron=sayap). Ordo ini

mempunyai 2 sayap yang berbentuk dan ukurannya sama

atau tidak bersayap. Alat mulut untuk mengunyah.

Perut dan dada bersegmen-segmen contoh yang banyak

ditemukan ialah rayap (Reticulitermis sp.).

h) Neuroptera (Neuron=syaraf). Neuroptera

mempunyai metamorfosa (perubahan bentuk) yang

sempurna, tipe alat mulut untuk mengunyah, terdapat

empat buah sayap yang sama se[e]]perti membran

(selapu) dan biasanya sayap tersebut dengan venasi

(urat sayap) yang jelas. Larvanya merupakan hewan

karnivora, beberapa diantaranya dengan mulut untuk

menghisap. Insang trakea biasanya ada pada larva-

larva yang hidup di air. Contoh: Myrmeleon frontalis

(undur-undur).

i) Ordo Odonata. Merupakan bangsa capung,

memiliki anggota yang besar dan mudah dikenal. Sayap

dua pasang dan bersifat membranus. Metamorfosisnya

bersifat Hemimetabola, pada stadium larva dijumpai

adanya alat tambahan berupa insang dan hidup di dalam

air. Anggota-anggotanya dikenal sebagai pemangsa pada

beberapa serangga lain jenis. Contoh: Ischnura cercula.

2.4 Contoh Spesies-Spesies dan Klasifikasinya

Berikut ini deskripsi dan klasifikasi contoh-

contoh spesies dari filum Arthropoda, sebagai berikut:

24

Page 31: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

2.4.1 Kelas Crustacea

A.Udang Windu (Penaeus monodon)

Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian,

yaitu bagian kepala dan bagian badan. Bagian kepala

menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yang

terdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas di bagian kepala

dan 8 ruas di bagian dada. Bagian badan dan abdomen

terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap ruas (segmen)

mempunyai sepasang anggota badan (kaki renang) yang

beruas-ruas pula. Pada ujung ruas keenam terdapat

ekor kipas  4 lembar dan satu telson yang berbentuk

runcing. Bagian kepala dilindungi oleh cangkang

kepala atau Carapace. Bagian depan meruncing dan

melengkung membentuk huruf S yang disebut cucuk

kepala atau rostrum. Pada bagian atas rostrum

terdapat 7 gerigi dan bagian bawahnya 3 gerigi untuk

P. monodon.

Udang memiliki sepasang mata majemuk (mata

facet) bertangkai dan dapat digerakkan, mulutnya

terletak pada bagian bawah kepala dengan rahang

(mandibula) yang kuat. Terdapat sepasang sungut besar

atau antenna dan dua pasang sungut kecil atau

antennula. Udang juga memiliki sepasang sirip kepala

(scophocerit) dan sepasang alat pembantu rahang

(maxilliped). Untuk alat gerak udang memiliki lima

pasang kaki jalan (pereopoda), kaki jalan pertama,

25

Page 32: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

kedua dan ketiga bercapit yang dinamakan cheladan

pada bagian dalam  terdapat hepatopankreas, jantung

dan insang.

Bagian badan tertutup oleh 6 ruas, yang satu

sama lainnya dihubungkan oleh selaput tipis. Ada lima

pasang kaki renang (pleopoda) yang melekat pada ruas

pertama sampai dengan ruas kelima, sedangkan pada

ruas keenam, kaki renang mengalami perubahan bentuk

menjadi ekor kipas (uropoda). Di antara ekor kipas

terdapat ekor yang meruncing pada bagian ujungnya

yang disebut telson. Organ dalam yang bisa diamati

adalah usus (intestine) yang bermuara pada anus yang

terletak pada ujung ruas keenam.

Udang hidup disemua jenis habitat perairan

dengan 89% diantaranya hidup diperairan laut, 10%

diperairan air tawar dan 1% di perairan teresterial.

Udang laut merupakan tipe yang tidak mampu atau

mempunyai kemampuan terbatas dan mentolerir perubahan

salinitas. Kelompok ini biasanya hidup terbatas pada

daerah terjauh pada estuari yang umumnya mempunyai

salinitas 30% atau lebih. Kelompok yang mempunyai

kemampuan untuk mentolerir variasi penurunan

salinitas sampai dibawah 30%. Hidup di daerah

terestrial dan menembus hulu estuari dengan tingkat

kejauhan bervariasi sesuai dengan kemampuan spesies

untuk mentolerir penurunan tingkat salinitas.

26

Page 33: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Adapun klasifikasi dari udang windu  adalah

sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Class : Crustacea

Subclass: Malacostraca

Order : Decapoda

Suborder: Dendrobranchiata

Family : Penaeidae

Genus : Penaeus

Species : Penaeus monodon

B.Kepiting (Callinectes sapidus)

Kepiting adalah binatang anggota krustasea

berkaki sepuluh dari upabangsa (infraordo) Brachyura,

yang dikenal mempunyai "ekor" yang sangat pendek

(bahasa Yunani: brachy=pendek, ura=ekor), atau yang

perutnya (abdomen) sama sekali tersembunyi di bawah

dada (thorax). Tubuh kepiting dilindungi oleh kerangka

luar yang sangat keras, tersusun dari kitin, dan

dipersenjatai dengan sepasang capit. Ketam adalah

nama lain bagi kepiting.

Kepiting terdapat di semua samudra dunia. Ada

pula kepiting air tawar dan darat, khususnya di

wilayah-wilayah tropis. Rajungan adalah kepiting yang

hidup di perairan laut dan jarang naik ke pantai,

27

Page 34: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

sedangkan yuyu adalah ketam penghuni perairan tawar

(sungai dan danau).

Kepiting beraneka ragam ukurannya, dari ketam

kacang, yang lebarnya hanya beberapa milimeter,

hingga kepiting laba-laba Jepang, dengan rentangan

kaki hingga 4 m.

Kepiting sejati mempunyai lima pasang kaki;

sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi

sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di

hampir semua jenis kepiting, kecuali beberapa saja

(misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di bawah

cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh

maxilliped yang rata, dan bagian depan dari carapace

tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang. Insang

kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih

(phyllobranchiate), mirip dengan insang udang, namun

dengan struktur yang berbeda.

Adapun klasifikasi dari kepiting adalah sebagai

berikut:

Kerajaan: Animalia

Filum : Arthropoda

Class : Crustacea

Subclass: Malacostraca

Ordo : Decapoda

Upaordo : Pleocyemata

Infraordo : Brachyura

28

Page 35: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Genus : Callinectes

Spesies : Callinectes sapidus

2.4.2Kelas Onychopara

A. Peripatus juanensis

Organisme ini terlihat seperti siput dengan

kaki, milik filum Onychophora, sekelompok kecil hewan

dengan banyak kesamaan antara cacing yang benar

(Annelida) dan invertebrata dengan tubuh

tersegmentasi (Artropoda). Onychophora adalah filum

yang sangat kuno/primitif, dan tampaknya tidak

menderita perubahan sejak era mori. Hanya 90 spesies

hidup yang dikenal di seluruh dunia. Sebagian besar

anggota kelompok ini lebih suka lingkungan lembab,

seperti hutan hujan tropis.

Invertebrata ini bertubuh lembut (~15-70 mm)

kulit beludru dan dipasangkan kaki yang tidak

bersegmen. Meskipun penampilan nguler dan memiliki

tubuh tersegmentasi, peripatus memiliki kaki yang

bergerak dalam cara yang sama dengan mata siput dan

dapat diperpanjang oleh variasi tekanan darah intern.

Bernapas dengan pembukaan sistem di sepanjang sisi

tubuh yang dikenal sebagai trakea, dan berbagi sistem

pernapasan mirip dengan serangga.

Hewan ini tanggal kembali 400 juta tahun dan

mungkin hilang kontak antara Arthropoda (Serangga dan

29

Page 36: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Crustacea) dan Annelida (cacing tersegmentasi lembut

bertubuh, termasuk cacing tanah). Makhluk ini pemalu,

mampu bersembunyi di celah-celah ketat yang luar

biasa, hewan ini jarang terlihat di habitat alami

mereka, tetapi dapat ditemukan dalam serasah daun,

terowongan tanah dan dedaunan, di bawah batu, dan

batang jatuh.

Persyaratan utama mereka adalah tempat yang

gelap dan lembab, di mana mereka bisa menghabiskan

hari-hari aktif dan berburu di malam hari. Memangsa

mereka adalah invertebrata kecil, isopoda, rayap dan

moluska kecil. Mereka menembak cairan perekat dari

wadah yang terletak dekat mulut mereka. Ketika

mengering perekat, setelah beberapa detik, mangsa

terjebak ke tanah dan tidak bisa melarikan diri.

Kemudian itu mangsa pendekatan beludru cacing dengan

itu rahang bawah dan menusuk lubang di mangsa dan

mengeluarkan pencernaan jus. Akhirnya, itu berlaku

itu mulut ke luka dan mengisap keluar makanan dari

korban. Glueis ticky ini juga digunakan sebagai

pertahanan terhadap predator mereka sendiri.

Distribusi terbatas untuk hutan hujan wilayah

Amerika Selatan, Afrika, Australia, The Caribbean,

Malaysia dan Oseania. Jarang ditemukan karena

kebiasaan rahasia, organisme ini dapat ditemukan

secara kebetulan ketika mikrohabitat bisa terkena.

30

Page 37: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Keluarga ini, Onychophora, diwakili di hutan

Tabonuco oleh spesies peripatus yang kadang-kadang

ditemukan mencari makan di lumut dan ganggang batuan

tertutup di lantai hutan imobilisasi mangsa dilakukan

dengan mengarahkan dan semprot perekat pada korban,

mangsa besar seperti jangkrik dan kecoak dapat

ditangkap oleh strategi ini.

Adapun klasifikasi dari Peripatus juanensis adalah

sebagai berikut:

Kerajaan: Animalia

Filum : Arthropoda

Kelas : Onychophora

Subkelas: Undeonychophora

Ordo : Euonychopora

Famili : Peripetidae

Genus : Peripatus

Spesies : Peripatus juanensis

2.4.3Kelas Arachnoidea

A.Laba-Laba (Nephila maculata)

Berikut adalah ciri-ciri dari salah satu hewan

Arachnoidea yang sering kita jumpai, yaitu laba-laba.

Tubuhnya terdiri dari dua bagian, yaitu sefalotoraks

(kepala-dada) pada bagian anterior dan abdomen pada

bagian posterior. Sefalotoraks adalah penyatuan tubuh

bagian sefal atau kaput (kepala) dan bagian toraks

31

Page 38: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

(dada). Pada sefalotoraks terdapat sepasang kalisera

(alat sengat), sepasang pedipalpus (capit), dan enam

pasang kaki untuk berjalan. Kalisera dan pedipalpus

merupakan alat tambahan pada mulut. Pada bagian

abdomen (opistosoma) laba-laba terdiri dari mesosoma

dan metasoma. Pada bagian posterior abdomen terdapat

spineret yang merupakan organ berbentuk kerucut dan

dapat berputar bebas.

Didalam spineret terdapat banyak spigot yang

merupakan lubang pengeluaran kelenjar benang halus

atau kelenjar benang abdomen. Kelenjar benang halus

mensekresikan cairan yang mengandung protein elastik.

Protein elastik tersebut akan mengeras di udara

membentuk benang halus yang digunakan untuk menjebak

mangsa. Laba-laba bernapas dengan paru-paru buku atau

trakea. Paru-paru buku adalah organ respirasi

berlapis banyak seperti buku dan terletak pada bagian

abdomen. Ekskresi laba-laba dilakukan dengan tubula

(tunggal=tubulus) Malpighi. Tubula Malpighi merupakan

tabung kecil panjang dan buntu dan organ ini terletak

di dalam hemosol yang bermuara ke dalam usus. Selain

Tubula Malpighi, ekskresi lainnya dilakukan dengan

kelenjar koksal. Kelenjar koksal merupakan kelenjar

ekskretori buntu yang bermuara pada daerah koksa

(segmen pada kaki insecta).

32

Page 39: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Adapun klasifikasi dari laba-laba adalah sebagai

berikut:

Kerajaan : Animalia

Filum : Arthropoda

Kelas : Arachnoidea

Subkelas : Arachnida

Ordo : Araneae

Family : Nephilidae

Genus : Nephila

Spesies : Nephila maculata

B.Kalajengking (Hemiscorpius lepturus)

Kalajengking adalah sekelompok hewan beruas

dengan delapan kaki (oktopoda) yang termasuk dalam

ordo Scorpiones dalam kelas Arachnida. Kalajengking

masih berkerabat dengan ketonggeng, laba-laba,

tungau, dan caplak. Ada sekitar 2000 jenis

kalajengking. Mereka banyak ditemukan selatan dari

49° U, kecuali Selandia Baru dan Antarktika.

Hemiscorpius lepturus (kalajengking) kebanyakan hidup

di daerah tropis dan panas, yaitu di bawah batu-batu

atau lubang dalam tanah. Segmen pada ekor mrmpunyai

alat penyengat. Ciri morfologinya yaitu tubuh terdiri

dari cepalotoraks dan abdomen (bersegmen-segmen),

preabdomen, dan post abdomen. Cepalotoraks tertutup

karapas. Memiliki umbai-umbai berbentuk cakar yang

33

Page 40: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

berfungsi untuk menangkap mangsa (celicera) dan cakar

berbentuk penjepit (pedipalpus). Mempunyai 4 pasang

kaki tanpa antena terletak pada cepalotoraks, 2-12

mata oceli. Abdomen bersegmen 12, yang 7 segmen

disebut mesosoma besar, dan 5 segmen terminal disebut

metasoma. Pemanjangan pada ujung abdomen berbentuk

ekor sebagai alat sengat (telson) mengandung kelenjar

toksin. Alat napas berupa 4 pasang paru-paru buku,

terletak sebelah ventral segmen III dan XV. Bersifat

vivipar dan merupakan binatang karnivora.

Semua spesies kalajengking memiliki bisa. Pada

umumnya, bisa kalajengking termasuk sebagai

neurotoksin (racun saraf). Suatu pengecualian adalah

Hemiscorpius lepturus yang memiliki bisa sitotoksik

(racun sel). Neurotoksin terdiri dari protein kecil

dan juga natrium dan kalium, yang berguna untuk

mengganggu transmisi saraf sang korban. Kalajengking

menggunakan bisanya untuk membunuh atau melumpuhkan

mangsa mereka agar mudah dimakan. Bisa kalajengking

lebih berfungsi terhadap artropoda lainnya dan

kebanyakan kalajengking tidak berbahaya bagi manusia;

sengatan menghasilkan efek lokal (seperti rasa sakit,

pembengkakan). Namun beberapa spesies kalajengking,

terutama dalam keluarga Buthidae dapat berbahaya bagi

manusia.

34

Page 41: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Adapun klasifikasi dari kalajengking adalah

sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum          : Arthropoda

Sub filum   : Chelicerata

Kelas          : Arachnoidea

Sub kelas    : Arachnida

Ordo : Scorpionida

Genus : Hemiscorpius

Spesies : Hemiscorpius lepturus

2.4.4Kelas Myriapoda

A.Lipan/Kelabang (Scolopendra sp.)

Lipan atau kelabang (bahasa Inggris: centipede)

adalah hewan arthropoda yang tergolong dari kelas

Chilopoda dan upafilum Myriapoda. Lipan adalah hewan

metamerik yang memiliki sepasang kaki di setiap ruas

tubuhnya. Hewan ini termasuk hewan yang berbisa, dan

termasuk hewan nokturnal.

Lipan mudah ditemukan di daerah yang diarsir

seperti bagian bawah daun-daun mati, batu, gua,

hutan, dan bahkan bagian dalam rumah. Mereka biasanya

ditemukan di daerah iklim seperti padang pasir,

pegunungan, dan hutan. Mereka adalah arthropoda

soliter dan malam. Pada siang hari mereka pergi untuk

mencari perlindungan di lahan basah dan gelap. Jika

35

Page 42: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

cuaca terlalu basah atau terlalu kering, mereka

mencari tempat lain untuk datang berlindung di dalam

rumah. Spesies yang hidup di zona beriklim panas

biasanya lebih kecil (hingga 10 cm) dari mereka

menghuni daerah khatulistiwa yang lembab, yang dapat

melebihi 30 cm.

Lipan dianggap sebagai hewan berbisa meskipun

bisa lipan kurang mematikan manusia, tetapi lipan

biasa dikonsumsi di Thailand dan di beberapa bagian

Afrika. Bahkan pengobatan Cina memotong atau

menggunakan bagian dari lipan sebagai obat untuk

penggunaan oral, meskipun efektivitas pengobatan ini

belum terbukti secara ilmiah.

Adapun klasifikasi dari kelabang adalah sebagai

berikut:

Kingdom : Animalia

Filum          : Arthropoda

Kelas          : Myriapoda

Sub kelas    : Chilopoda

Ordo : Scolopendromorpha

Famili : Scolopendridae

Genus : Scolopendra

Spesies : Scolopendra sp.

B.Kaki Seribu (Trigoniulus corallinus)

36

Page 43: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Kaki seribu atau millipede (kelas Diplopoda,

sebelumnya juga disebut Chilognatha) adalah artropoda

yang memiliki dua pasang kaki per segmen (kecuali

segmen pertama di belakang kepala, dan sedikit

setelahnya yang hanya memiliki satu kaki). Hewan kaki

seribu adalah salah satunya yang terkadang kita lihat

di lingkungan sekitar kita. Hewan ini banyak dijumpai

di daerah tropis dengan habitat di darat. Terutama di

tempat yang banyak mengandung sampah, misalnya di

kebun dan di bawah batu-batuan.

Umumnya kaki seribu memakan sisa tumbuhan yang

membusuk. Namun ada beberapa spesies yang tergolong

karnivora. Mereka menelan bahan makanan yang ditemui,

mengekstrak nutrisinya, lalu mengeluarkan kembali

sisa-sisa yang tidak bisa dicerna. Cara makan ini

tidak berlaku untuk beberapa spesies yang memiliki

tipe mulut penghisap.

Adapun klasifikasi dari kaki seribu adalah

sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum          : Arthropoda

Kelas          : Myriapoda

Sub kelas    : Diplopoda

Genus : Trigoniulus

Spesies : Trigoniulus corallinus

37

Page 44: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

2.4.5Kelas Insecta

A.Jangkrik (Gryllus assimilis)

Hewan ini hidup diberbagai habitat, baik

lingkungan basah ataupun lingkungan kering, terutama

yang dinaungi rumput. Selain itu Gryllus sp. (jangkrik)

dapat ditemukan di rumah-rumah, sisa tanaman yang

lembab. Beberapa jenis jangkrik pandai bersuara,

suara itu dihasilkan dari saling menyentuhkan

tegumina bersama-sama. Hewan ini aktif di malam hari

dan mampu bergerak dan melompat dengan cepat.

Hewan yang sudah dewasa umumnya berwarna hitam,

sedangkan nypha berwarna kuning pucat dengan garis -

garis coklat. Antena panjang dan kaku seperti rambut.

Hewan dewasa akan kehilangan sayap setelah menetap di

lingkungan sawah. Hampir semua hewan ni bertindak

sebagai predator. Telur penggerek batang padi,

penggulung daun.

Hewan yang termasuk dalam ordo Orthoptera,

termasuk di dalamnya Gryllus assimilis (jangkrik) adalah

bersifat hemimetabola, mulutnya tipe pengunyah,

memilki 2 pasang sayap, sayap depan lebih tebal dan

seperti kertas dari kulit, yang disebut tegumina.

Sayap belakang berupa membran dan dilipat seperti

kipas dan terletak di bawah sayap depan. Pada

beberapa spesies, sayap hanya berupa sisa saja atau

ada juga yang tidak bersayap.

38

Page 45: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Secara morfologi, jangkrik memiliki tubuh rata

dan antena panjang. Memiliki sepasang sayap dan 2

pasang kaki. Jangkrik adalah omnivora, dikenal dengan

suaranya yang hanya dihasilkan oleh jangkrik jantan.

Suara ini digunakan untuk menarik betina dan menolak

jantan lainnya. Suara cengkerik ini semakin keras

dengan naiknya suhu sekitarnya.

Klasifikasi Gryllus assimilis (jangkrik) adalah

sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum : Arthropoda

Kelas : Insecta

Ordo : Orthoptera

Family : Grylludae

Genus : Gryllus

Spesies : Gryllus assimilis

B.Belalang Kayu (Valanga nigricornis)

Pada belalang kayu (Valanga nigricornis), pada waktu

istirahat berperilaku khas yaitu sayap belakang

dilipat lurus dibawah sayap depan. Memiliki tipe

mulut nimfa dan imagonya mengigit, mengunyah, dan

menggerek. Contohnya pada helaian daun jagung

terdapat bekas gigitan, yang menyebabkan daun

berlubang yang terdapat pada tengah dan ujung daun.

Daur hidup belalang pada umumnya bertelur pada musim

39

Page 46: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

kemarau dan menetas pada musim hujan, memiliki caput,

toraks, abdomen, antena, mata majemuk,dan tungkai.

Belalang (Valanga nigricornis) yang tergolog dari

ordo orthoptera biasa disebut dengan belalang kayu.

Belalang kayu memiliki ciri-ciri antara lain memiliki

antena pendek, organ pendengaran terletak pada ruas

abdomen serta alat petelur yang pendek. Kebanyakan

warnanya kelabu atau kecoklatan dan beberapa

mempunyai warna cemerlang pada sayap belakang.

Serangga ini termasuk pemakan tumbuhan dan sering

kali merusak tanaman. Adapun alat mulutnya bertipe

penggigit pengunyah.

Tipe ordo ini memiliki 2 pasang sayap. Sayap depan

lebih kecil daripada sayap belakang dan memiliki vena-

vena yang menebal yang disebut dengan tegmina. Dua

pasang sayap serta tiga pasang kaki melekat pada bagian

thorakal. Pada segmen/ruas pertama abdomen terdapat

suatu membran alat pendengar yang disebut tympanium.

Spirakulum yang meruapkan alat pernafasan luar terdapat

pada tiap-tiap segmen abdomen/thorax. Anus dan alat

genetalia terdapat pada ujung abdomen. Belalang

memiliki alat tambahan yang berupa sepasang mata faset

(majemuk), dua buah antena, dan tiga buah mata

sederhana (oseli).

Tipe metamorfosis dari ordo ini adalah

paurometabola (metamorfosis sederhana). Perkembangan

40

Page 47: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

tubuh terjadi dengan melewati masa telur, nimfa, dan

imago. Bentuk nimfa dan dewasa hampir sama, hanya pada

bagian sayap, ukuran tubuh, dan kematangan alat kelamin

saja yang membedakan. Pada masa nimfa, sayap masih

berupa selaput tipis, sedangkan pada serangga dewasa

sudah memiliki tegmina. Ukuran ubuh antara nimfa dan

dewasa juga berbeda, nimfa lebih kecil sedangkan

belalang dewasa jauh lebih besar.

Belalang adalah tipe serangga pemakan daun. Alat

mulut dari belakang bertipe penggigit-pengunyah dengan

bagian-bagian seperti labrum, mandibel, labium, dan

maxilla. Akibat dari serangan hama ini adalah

berlubangnya daun yang dimulai dari tipe tanaman dengan

kerusakan yang lebar.

Klasifikasi Valanga nigricornis (belalang kayu) adalah

sebagai berikut:

Kingdom : Animalis

Filum : Arthropoda

Kelas : Insecta

Ordo : Orthoptera

Family : Acrididae

Genus : Valanga

Spesies : Valanga nigricornis

C.Belalang (Atractomorpha similis)

41

Page 48: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Belalang ini menunjukkan suatu struktur umum

dari kelas insekta walaupun dalam hewan ini terdapat

beberapa spesialiasasi. Rangka luar yang terdiri dari

kitin menutupi seluruh bagian tubuhnya. Pada bagian

kepala terdapat dua buah mata majemuk, tiga buah mata

tunggal (oselus), sepasang antena dan alat-alat mulut.

Alat-alat mulut terdiri dari bibir atas (labrum), dan

dua buah mandibula dengan sebuah hypofaring diantara

dua buah maksila dan bibir bawah (thorax) terbagi

menjadi: bagian depan disebut pothorax, bagian tengah

disebut mesothorax, dan bagian belakang disebut

metathorax. Masing-masing segmen tersebut mempunyai

sepasang kaki. Pada mesothorax dan metathorax masing-

masing terdapat sepasang sayap. Segmen kaki dari

bagian pangkal ke ujung tersusun sebagai berikut:

coxa, trochanter, frmur, tibia, dan tarsus (kadang-kadang satu

segmen). Pasangan sayap depan liat dan tebal menutupi

pasangan sayap belakang yang seperti membran.

Abdomen (perut) terdiri dari 11 segmen di bagian

depannya terdapat alat pendengar yang disebut membran

timpani, sedangkan di bagian belakang alat kelamin

bagian luar. Saluran pencernaan makanan terdiri dari

foregut, midgut, dan hindgut. Peredaran darah terbuka,

jantung terbagia atas sederetan ruang yang memanjang,

terletak pada sinus pericardium bagian dorsal

perutnya. Sistem pernapasan terdiri dari sistem

42

Page 49: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

cabang (jaringan) dari saluran/pembuluh-pembuluh

yang disebut trakea. Alat ekskresi berupasaluran

malphigi yang terbuka ke segian depan dari hindgut

(usus belakang). Sistem saraf terdiri dari ganglion

supra esofagus atau otak dua buah phageal connectives dan

ganglion dibawah esofagus yang kesemuanya terletak di

bagian kepala. Sistem reproduksi: alat reproduksi

jantan terdiri dari dua buah testes tempat dimana

spermatozoa berkembang, sedangkan alat reproduksi

betina terdiri dari dua buah ovarium yang terdiri

dari sejumlah tabung-tabung telur yang disebut

ovarioles.

Adapun klasifikasi Atractomorpha similis adalah

sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Class : Insecta

Order : Orthoptera

Family : Acrididae

Genus : Atractomorpha

Species : Atractomorpha similis

D.Kumbang Lege (Exopholis hypoleuca)

Exopholis hypoleuca, kumbang (imago) panjangnya 2,5

cm, kepala dan toraks hitam kecoklatan, sayap coklat,

di Jawa Barat terkenal dengan lege. Uret ditemukan

43

Page 50: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

pada kedalaman 3-10 cm, pupa pada kedalaman 15-20 cm.

Uret merusak padi gogo, sereh, kacang tanah, dan

karet. Pada tanaman karet uret ditemukan sampai

kedalaman 60 cm. Imago betina bertelur 15-60 butir.

Exopholis mempunyai metamorfosa yang sempurna.

Siklus hidupnya terditi dari: Stadium telur, lamanya

14 hari. Kumbang dewasa akan keluar pada bulan

Oktober sampai November dan meletakkan telurnya dalam

tanah. Jumlah telur 50-60 butir tiap ekor kumbang.

Stadium larva terjadi 10-14 hari sejak telur

diletakkan di dalam tanah. Stadium larva terdiri atas

tiga instar. Instar I ± 45 hari, instar II 2½-3 bulan

dan instar III 3½-4 bulan. Satdium pupa lamanya 17-24

hari. Stasium imago lamanya 2-3 bulan, diantaranya ±

15 hari berada di dalam tanah.

Klasifikasi kumbang lege (Exopholis hypoleuca)

adalah sebagai berikut:

Kerajaan : Animalia

Filum : Arthropoda

Kelas : Insecta

Ordo : Coleoptera

Famili : Scarabidae

Genus : Exopholis

Spesies : Exopholis hypoleuca

2.2.5 Manfaat dan Kerugian Serangga

44

Page 51: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Serangga dapat pula dimanfaatkan bagi kepentingan

manusia. Salah satu pemanfaatan serangga adalah sebagai

sumber makanan. Di berbagai wilayah di dunia, seperti

di Afrika, Australia, Amerika Latin, dan Asia, serangga

telah lama dikonsumsi sebagai makanan tradisional. Pada

masa kini, beberapa jenis serangga telah menjadi menu

makanan istimewa bagi kalangan terpandang di Thailand,

Jepang, dan Meksiko. Diperkirakan terdapat sekitar 500

jenis serangga yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan.

Jenis serangga yang banyak dikonsumsi antara lain

belalang, laron, jangkrik, lebah, semut, rayap dan

beberapa serangga air dan berbagai jenis ulat.

Penghasil madu, yaitu lebah madu (Apis indica). Selain

itu, beperan dalam bahan industri kain sutera, yaitu

pupa kupu-kupu sutera (Bombyx mori).

Sementara yang merugikan manusia anatara lain:

1. Vektor perantara penyakit bagi manusia. Misalnya

nyamuk malaria, nyamuk demam berdarah, lalat tsetse

sebagai vektor penyakit tidur, dan lalat rumah

sebagai vektor penyakit tifus.

2. Menimbulkan gangguan pada manusia.Misalnya caplak

penyebabkudis, kutu kepala, dan kutu busuk.

3. Hama tanaman pangan dan industri.Contohnya wereng

cokatdan kumbang tanduk

4. Perusak makanan. Contohnya kutu gabah.

45

Page 52: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

5. Perusak produk berbahan baku alam.Contohnya rayap

dan kutu buku.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Arthropoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu arthro

yang berarti ruas dan podos yang berarti kaki. Jadi,

Arthropoda berarti hewan yang kakinya beruas-ruas.

Organisme yang tergolong filum arthropoda memiliki kaki

yang berbuku-buku.

Ciri-ciri umum yang dimiliki anggota filum

arthropoda yaitu tubuh simetri bilateral, triploblastik

46

Page 53: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

selomata, terdiri atas segmen-segmen yang saling

berhubungan dibagian luar, dan memiliki tiga lapisan

germinal (germlayers) sehingga merupakan hewan

tripoblastik. Tubuh ditutupi lapisan kutikula yang

merupakan rangka luar (eksosketelon).

Filum Arthopoda dibagi menjadi empat subfilum

yaitu Trilobita, Chelicerata, Onychophora, dan

Mandibulata. Arthropoda dapat dibagi menjadi 6 kelas,

yaitu Crustacea, Onychophora, Arachnida, Chilopoda,

Diplopoda, dan Insecta. Tetapi kadang-kadang kelas

Chilopoda dan Diplopoda dimasukkan ke dalam satu kelas

yaitu Myriapoda.

3.2 Saran

Agar mahasiswa dapat lebih memahami tentang

pendeskripsian, pengidentifikasian dan

pengklasifikasian, baiknya mahasiswa dapat melakukan

kegiatan-kegiatan yang mencangkup atau yang berhubungan

dengan mata kuliah Biosistematik Hewan (khususnya

hewan-hewan Arthropoda) di luar jam kuliah, mencoba

melakukan penelusuran-penelusuran sendiri atau bersama

siapa saja, mengamati setiap yang ada di lingkungan

tempat tinggal maupun di tempat yang dikunjungi.

47

Page 54: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Mudianto. 2001. Keanekearagaman ekosistem. Bandung:

Cahaya Ilmu.

Barnes, Robert D. 1977. Invertebrates Zoology Third Edition.

USA: Nueva Editorial Interamericana, S.A. de C.V.

Brotowidjojo. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.

Campbell, Neil A., Jane B. Reece & Lawrence G.

Mitchell. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta:

Erlangga.

Diana. 2008. Phylum Arthropoda.

(http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/

12/phylum-arthropoda/). [14 November 2013: 15.32

WIB].

Dixon, C. J., F. R. Schram & S. T. Ahyong. 2004. A New

Hypothesis of Decapod Phylogeny. Crustaceana. 76 (8):

935–975.

Hala, Yusminah. 2007. Dasar Biologi Umum II. Makassar:

Alauddin Press.

Hart, M. W. and R. K. Grosberg. 2009. Caterpillars Did Not

Evolve from Onychophorans by Hybridogenesis. USA: Proc.

Nat. Acad. Sci.

Karmana, Oman. 2007. Biologi. Bandung: Grafindo.

Kastawi, Yusuf. 2005. Zoologi Vertebrata. Malang: UM Press.

Laila, Siti. 2007. Biologi Sains dalam Kehidupan. Surabaya:

Yudhistira.

Page 55: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Putra, N. S. 1994. Serangga di Sekitar Kita. Yogyakarta:

Kasinus.

Radiopoetro. 1996. Zoologi. Jakarta: Erlangga.

Reny, Rahmawati. 2012. Hama dan Penyakit Tanaman.

Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Rusyana, Adun. 2011. Zoology Invertebrata. Bandung:

Alfabeta.

Setyamidjaja, Djoehana. 1984. Bertanam Kelapa.

Yogyakarta: Kanisius.

Shelley, Rowland M. Centipedes and Millipedes with Emphasis on

North America Fauna.

(http://www.emporia.edu/ksn/v45n3-march1999/). [28

Oktober 2013: 13.34 WIB].

Sudarmono. 2002. Pengenalan Serangga, Hama, Penyakit, dan Gulma

Padi. Yogyakarta: Kanisius.

Suwignyo, S. 2005. Avetebrata Air Jilid I1. Jakarta: Penebar

Swadaya.

Taylor, H. H. & E. W. Taylor. 1992. Gills and Lungs: The

Exchange of Gases and Ions. Microscopic Anatomy of

Invertebrates. 10: 203–293.

Tjahjadi, Nur. 1989. Hama dan Penyakit Tanaman.

Yogyakarta: Kanisius.

Triharso. 2004. Dasar-Dasar Perlindungn Tanaman.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Page 56: Makalah Arthropoda Nursista Wulandari 1127020050

Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi.

Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan

Nasional.

Yeti, Theresia. 2011. Heterometrus spinifes (Kalajengking).

(http://kacandewe.

blogspot.com/2011/08/heterometrus-spinifes-

kalajengking.htm). [17 Desember 2013: 10.46 WIB].