Top Banner
1 LAPORAN KASUS SPINAL ANESTESI PADA OPERASI SECTIO CESAREA Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian Anestesiologi Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa Diajukan Kepada : Pembimbing : dr. A. Setyo Heru, Sp.An Disusun Oleh : Astrid Avidita A H2A010007 Gananda Laksa H2A010021 Nusroh Ulfa A H2A010036 Prinanda Hendri W H2A010041 Kepaniteraan Klinik Departemen Anestesiologi
33

Lapsus Anes SC

Sep 05, 2015

Download

Documents

Astrid Avidita

anestesilgiiii
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript

1

LAPORAN KASUS

SPINAL ANESTESI PADA OPERASI SECTIO CESAREA

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik

di Bagian AnestesiologiRumah Sakit Umum Daerah AmbarawaDiajukan Kepada :

Pembimbing : dr. A. Setyo Heru, Sp.AnDisusun Oleh :Astrid Avidita A

H2A010007Gananda Laksa

H2A010021Nusroh Ulfa A

H2A010036Prinanda Hendri W

H2A010041

Kepaniteraan Klinik Departemen AnestesiologiFakultas Kedokteran UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN

ANESTESIOLOGIPresentasi kasus dengan judul :SPINAL ANESTESI PADA OPERASI SECTIO CESAREA

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian Anestesiologi Rumah Sakit Umum Daerah AmbarawaDisusun Oleh:

Astrid Avidita A

H2A010007

Gananda Laksa

H2A010021Nusroh Ulfa A

H2A010036Prinanda Hendri W

H2A010041

Telah disetujui oleh Pembimbing:

Nama pembimbing Tanda Tangan

Tanggal

dr. A. Setyo Heru, Sp.An .............................

.............................Mengesahkan:

Koordinator Kepaniteraan Ilmu Anestesiologidr. A. Setyo Heru, Sp.AnBAB ILAPORAN KASUSA. Identitas Penderita

No. Register: 0082068Nama: Ny. AUmur: 21 tahun

Jenis Kelamin: Perempuan

Alamat : Bantal, 2/2 bantal bancar kab. semarangDiagnosis pre operatif : serotinus G1P0A0 41 minggu janin tunggal hidup intrauterine in partu kala 1 fase laten dengan KPD 16 jam.

Diagnosis post-operatif : Post Sectio Caesaria atas indikasi insufisiensi plasenta pada primigravida hamil serotinusMacam Operasi: Sectio Cesarea Macam Anestesi: Regional anestesi

Tanggal masuk: 22 Juni 2015B. Pemeriksaan Pra Anestesi

1. Anamnesa

a. Keluhan utama

: kenceng-kencengb. Riwayat Penyakit Sekarang:

Seorang G1P0A0 usia 21 tahun, umur kehamilan 41 minggu dengan keluhan keluar cairan ketuban sejak 16 jam yang lalu, mengalir terus-menerus, warna jernih, kenceng-kenceng 1x dalam 10 menit, lama 20 detik. Lendir (-), darah (-), gerakan janin masih dirasakan. c. Riwayat Penyakit Dahulu

A (Allergy): (-)

M (Medication): (-)

P (Past illness): DM(-), HT (-), asma(-), penyakit jantung (-), riwayat operasi (-)

L (Last meal): sudah mulai puasa 8 jam yang laluE (Exposure): pemeriksaan fisik

2. Pemeriksaan Fisik :

Keadaan Umum: Compos mentis dan gizi kesan cukup

Tensi

: 120 / 80 mmHg

Nadi

: 80 x / menit

Suhu Axiler

: 35,9 ( C

Respirasi

: 18 x / menit

Berat badan

: 60 kgKepala

: mesosefal Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Hidung

: nafas cuping hidung (-), sekret (-)

Mulut

: sianosis (-), gigi goyah/palsu (-), buka mulut >3cm

Telinga

: sekret (-), pendengaran baik

Leher : glandula thyroid tidak membesar, pembesaran limponodi (-), JVP tidak meningkat, TMD > 6cm, gerak bebas

Thorax

: retraksi (-),

Cor : I : Ictus cordis tidak tampak

P : Ictus cordis tidak kuat angkat

P : Batas jantung kesan tidak melebar

A: BJ I II intensitas N, reguler, bising (-)

Pulmo : I : Pengembangan dada kanan = kiri

P: Fremitus raba kanan = kiri

P: Sonor-sonor

A: Suara dasar vesikuler +/+, Suara tambahan -/-

Abdomen : I : perut tampak membuncit membujur, tidak mengkilat,

venetasi (-), striae gravidarum, bundle ring (-)

A

: Bising usus (+) Normal, DJJ (+) 140x

P

: tympani (+)

P

: supel, NT (-) , Hepar dan Lien tidak terabaEkstremitas : akral dingin (-), oedem(-), turgor kembali cepat3. Pemeriksaan laboratorium :

Laboratorium Darah :

22/06/2015Satuan

Hb9,8 Lg/dl

Hct30 L%

Eritrosit4,19X 106/ uL

Leukosit10,8X 103/ uL

Trombosit208X 103/ uL

GDO

CT4:00Detik

BT1:00Detik

HbsAg-

GDS75Mg/dL

Ur18,3Mg/dl

Cr0,53Mg/dl

Protein urin(-)

4. Kesimpulan :

Seorang G1P0A0 usia 21 tahun, umur kehamilan 41 minggu dengan keluhan keluar cairan ketuban sejak 16 jam yang lalu, mengalir terus-menerus, warna jernih, kenceng-kenceng 1x dalam 10 menit, lama 20 detik. Lendir (-), darah (-), gerakan janin masih dirasakan. Dari pemeriksaan fisik didapatkan : Vital Sign : tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80x/menit, respirasi rate 18x/menit, suhu axiller 35,9 oC, BB 80 kg. Abdomen : perut membuncit membujur, sesuai dengan usia kehamilan 41 minggu.

Pada pemeriksaan laboratorium darah didapatkan Hb 9,8 g/dl, Hct 30% AL 10,9.103 /l, GDS 75 mg/dl, ureum 18,3 mg/dl, creatinin 0,53 mg/dl.

Akan dilakukan Sectio Cesarea dengan anestesi.

Kelainan sistemik : (-), Kegawatan bedah : (-), Status fisik : ASA I.C. Diagnosis kerja

serotinus G1P0A0 41 minggu janin tunggal hidup intrauterine in partu kala 1 fase laten dengan KPD 16 jamD. Rencana Anestesi1. Persiapan Operasi

a. Persetujuan operasi tertulis (+)

b. Suhu tubuh pasien dibawah 38 C

c. Oksigenasi 3 L / menit

d. Puasa > 6 jam

e. Infus RL 20 tpm

2. Jenis Anestesi

: Regional anestesi

3. Teknik anestesi : Anestesi spinal

4. Premedikasi : Ondancentron 4 mg, Ranitidin 50 mg5. Obat anestesi regional: Bupivakain 15 mg6. Maintenance

: O2 2 L/menit 7. Monitoring : tanda vital selama operasi tiap 15 menit, kedalaman

anestesi, cairan, perdarahan

8. Perawatan pasca anestesi di ruang pemulihan

E. Tata Laksana Anestesi

1. Di ruang persiapan

Periksa persetujuan operasi dan identitas penderita.

Pemeriksaan tanda-tanda vital :

T : 120/80 mmHg

N : 80 X/menit

R : 20 X/menit

t : 35,9(C

Cek obat dan alat anestesi.

Infus RL 20 tts/menit

2. Di Ruang Operasi

Jam 11.00 pasien masuk kamar operasi, manset dan monitor dipasang.

Jam 11.15 mulai dilakukan anestesi spinal dengan prosedur sebagai berikut:

a. Pasien diminta duduk dengan punggung fleksi maksimal.

b. Dilakukan tindakan antiseptis pada daerah kulit punggung bawah pasien dengan menggunakan larutan Iodin dan alkoholc. Menggunakan sarung tangan steril, pungsi lumbal dilakukan dengan menyuntikkan jarum spinal no. 23 pada bidang median dengan arah 10-30 derajat terhadap bidang horizontal ke arah kranial pada ruang antar vertebra lumbal 4-5.

d. Setelah jarum sampai di ruang subarachnoid yang ditandai dengan menetesnya cairan LCS, stilet dicabut dan disuntikkan bunascan (bupivacain) 15 mg.

e. Lokasi penyuntikan ditutup dengan plester

f. Pasien dikembalikan pada posisi telentang. Oksigen 3 liter/menit.

- Jam 11.15 Infus wida HES 500 cc, pemberian ranitidin 15 mg dan ondancetron 4 mg, efedrin 15 mg 2 cc Jam 11.20 operasi dimulai, tanda vital dimonitor.

Jam 11.25 pemberian oxytoxin 2 mg I.V dan metergin IV Jam 11. 45 Infus wida HES diganti Ringer asetat 500 cc + ketorolac 30 mg drip Jam 12.00 operasi selesai, pasien dipindahkan ke ruang pemulihan.

JamTensiNadiSpO2Keterangan

11.1585/4010098%Induksi bupivakain 15 mg dan Oksigen 3 L/menit, terpasang infuse HES di lengan kiri, juga diberikan efedrin 15 mg I.V

11.3095/608599%pemberian oxytoxin I.V dan metergin IV

11.4598/769299%Infus HAES diganti ringer asetat 500 cc. + ketorolac 30 mg I.V drip

12.00119/7084100%Operasi selesai

E. Monitoring Durante Operasi Jam 12.00 pasien di ruang pemulihan, posisi head up, diberi oksigen 3 lt/menit, tanda vital di monitor

Jam 12.10 pasien bisa menggerakkan kaki.

Jam 12.15 pasien dapat mengangkat kaki

Jam 12.20 pasien pindah bangsal.

G. Terapi cairan

a. Defisit cairan karena puasa 6 jam

(2cc/kgBB/jam) 2 x 80 x 6 = 960 cc

b. Kebutuhan cairan selama operasi sedang selama 1 jam (4 cc/kgBB/jam) 4 x 80 x 1 = 320 cc

c. Perdarahan yang terjadi : darah suction 400 cc +6 kassa (6x5cc=30cc)= 430 ccEBV = 60 cc x 80 kg = 4800 cc

Diganti dengan cairan kristaloid 3x 430 cc = 1290 cc

d. Kebutuhan cairan total = 960 + 320+ 1290 = 2570 cc

e. Cairan yang sudah diberikan

1. Pra operasi : 500 cc

2. Saat operasi : 1000 cc

Total cairan yang diberikan 1500 cc, jadi masih kurang 1070 cc sehingga pemberian cairan masih diperlukan saat pasien berada di bangsal.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. BEDAH SESARBedah sesar adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram. Dalam praktek obstetri modern, pada dasarnya tidak terdapat kontraindikasi untuk dilakukan bedah sesar. Namun, bedah sesar jarang diperlukan apabila janin sudah mati atau terlalu prematur untuk bisa hidup. Pengecualian untuk pemerataan tersebut mencakup panggul sempit pada tingkatan tertentu di mana persalinan pervaginam pada beberapa keadaan tidak mungkin dilakukan, sebagian besar kasus plasenta previa, dan sebagian besar kasus letak lintang kasep. 1,4,5.Tabel 2.1 Keputusan untuk melakukan tindakan sectio caesaria 6Sectio Caesaria berulang Terjadwal

Gagal pervaginam

Distosia

Presentasi yang abnormal Transverse

Presentasi bokong

Multiple gestasion

Fetal Distress

Riwayat penyakit ibu yang jelek Preeklamsi

Penyakit jantung

Penyakit paru

Perdarahan Plasenta previa

Placental abruption

Berdasarkan lokasi sayatan, section cesarea dibedakan menjadi:

1. Jenis klasik yaitu dengan melakukan sayatan vertikal sehingga memungkinkan ruangan yang lebih besar untuk jalan keluar bayi. Akan tetapi jenis ini sudah sangat jarang dilakukan saat ini karena sangat berisiko terhadap terjadinya komplikasi.

2. Sayatan mendatar di bagian atas dari kandung kemih (segmen bawah rahim) sangat umum dilakukan pada masa sekarang ini. Metode ini meminimalkan risiko terjadinya pendarahan dan cepat penyembuhannya.

3. Histerektomi caesar yaitu bedah caesar diikuti dengan pengangkatan rahim. Hal ini dilakukan dalam kasus-kasus dimana pendarahan yang sulit tertangani atau ketika plasenta tidak dapat dipisahkan dari rahim.

4. Bentuk lain dari bedah caesar seperti bedah sesar ekstraperitoneal atau bedah sesar Porro.B. PERSIAPAN ANESTESI REGIONAL

Persiapan anestesi regional sama dengan persiapan GA karena untuk mengantisipasi terjadinya toksik sistemik reaction yg bisa berakibat fatal, perlu persiapan resusitasi. Misalnya: obat anestesi spinal/epidural masuk ke pembuluh darah dan menimbulkan kolaps kardiovaskular sampai cardiac arrest. Juga untuk mengantisipasi terjadinya kegagalan, sehingga operasi bisa dilanjutkan dengan anestesi umum.8,9.

Daerah disekitar tempat tusukan diteliti apakah akan menimbulkan kesulitan, misalnya ada kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tidak teraba tonjolan prosesus spinosus. Selain itu harus pula dilakukan :1. Informed consent

2. Pemeriksaan fisik 3. Pemeriksaan laboratorium anjuranC. PREMEDIKASIPremedikasi adalah pemberian obat sebelum anestesi. Dengan kemajuan teknik anestesi sekarang ini, tujuan utama pemberian premedikasi tidak hanya untuk mempermudah induksi dan mengurangi jumlah obat-obatan yang digunakan, akan tetapi sebagai persiapan anestesi terutama untuk menenangkan pasien, menimbulkan rasa nyaman bagi pasien, menghilangkan rasa khawatir atau cemas. Premedikasi dengan pemberian obat sedatif menyebabkan penurunan aktivitas mental. Banyak ahli anestesiologi berpendapat bahwa kantuk membebaskan rasa takut dan ketegangan emosi. Dengan demikian hemodinamik pasien akan stabil. 1,7Premedikasi diberikan berdasar atas keadaan psikis dan fisiologis pasien yang ditetapkan setelah dilakukan kunjungan prabedah. Dengan demikian maka pemilihan obat premedikasi yang akan digunakan harus selalu dengan mempertimbangkan umur pasien, berat badan, status fisik, derajat kecemasan, riwayat pemakaian obat anestesi sebelumnya, riwayat hospitalisasi sebelumnya, riwayat penggunaan obat tertentu yang berpengaruh terhadap jalannya anestesi, perkiraan lamanya operasi, macam operasi, dan rencana anestesi yang akan digunakan. 1,7Sesuai dengan tujuannya, maka obat-obat yang dapat digunakan sebagai obat premedikasi dapat digolongkan seperti di bawah ini:

1. Narkotik analgetik, misal morfin, pethidin.

2. Transquillizer yaitu dari golongan Benzodiazepin, misal diazepam dan midazolam

3. Barbiturat, misal pentobarbital, penobarbital, sekobarbital.

4. Antikolinergik, misal atropin dan hiosin.

5. Antihistamin, misal prometazine.

6. Antasida, misal gelusil

7. H2 reseptor antagonis, misal cimetidine

Karena khasiat obat premedikasi yang berlainan tersebut, dalam pemakaian sehari-hari dipakai kombinasi beberapa obat untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, misalnya kombinasi narkotik, benzodiazepin, dan antikolinergik. Sebaiknya obat-obat premedikasi dilakukan 30 menit sampai 60 menit sebelum induksi.1,7. D. ANESTESI SPINAL

Anestesi spinal (intratekal, intradural, subdural, subarakhnoid) ialah anestesi regional dengan tindakan penyuntikan obat anestesi lokal ke dalam ruang subarakhnoid. Larutan anestesi lokal yang disuntikan pada ruang subarachnoid akan memblok konduksi impuls syaraf. Terdapat tiga bagian syarat yaitu motor, sensori dan autonom. Pada umumnya, serabut otonom dan nyeri yang pertama kali diblok dan serabut motor yang terakhir. hal ini akan memiliki timbal balik yang penting. Contohnya, vasodilatasi dan penurunan tekanan darah yang mendadak mungkin akan terjadi ketika serabut otonom diblok dan pasien merasakan sentuhan dan masih merasakan sakit ketika tindakan pembedahan dimulai.1,8,9.

Untuk mencapai cairan serebrospinal, maka jarum suntik akan menembus kutis ( subkutis ( lig. Supraspinosum ( lig. Interspinosum ( lig. Flavum ( ruang epidural ( durameter ( ruang subarachnoid.

Medulla spinalis berada didalam kanalis spinalis dikelilingi oleh cairan serebrospinal, dibungkus oleh meningens (duramater, lemak dan pleksus venosus). Pada dewasa berakhir setinggi L1, pada anak L2 dan pada bayi L3.

Kelebihan pemakaian anestesi spinal, diantaranya biaya minimal, kepuasan pasien, tidak ada efek pada pernafasan, jalan nafas pasien terjaga, dapat dilakukan pada pasien diabetes mellitus, perdarahan minimal, aliran darah splancnic meningkat, terdapat tonus visceral, jarang terjadi gangguan koagulasi.11,12.

Sedangkan kekurangan pemakaian anestesi spinal akan menimbulkan hipotensi, hanya dapat digunakan pada operasi dengan durasi tidak lebih dari dua jam, bila tidak aseptik akan menimbulkan infeksi dalam ruang subarachnoid dan meningitis, serta kemungkinan terjadi postural headache.6,13.

Indikasi dilakukannya anestesi spinal adalah bedah ekstremitas bawah, bedah panggul, tindakan sekitar rektum-perineum, bedah obstetri ginekologi, bedah urologi, bedah abdomen bawah3.

Kontraindikasi dilakukannya anestesi spinal dibagi menjadi kontra indikasi absolut dan relatif:1. Kontra indikasi absolut:

a. Pasien menolak untuk dilakukan anestesi spinal

b. Terdapat infeksi pada tempat suntikan

c. Hipovolemia berat sampai syok

d. Menderita koagulopati dan sedang mendapat terapiantikoagulan

e. Tekanan intrakranial yang meningkat

f. Fasilitas untuk melakukan resusitasi minim

g. Kurang berpengalaman atau tanpa konsultan anestesi

2. Kontra indikasi relatif:

a. Menderita infeksi sistemik ( sepsis, bakteremi )

b. Terdapat infeksi disekitar tempat suntikan

c. Kelainan neurologis

d. Kelainan psikis

e. Bedah lama

f. Menderita penyakit jantung

g. Hipovolemia

h. Nyeri punggung kronis.

Peralatan anestesi spinal:

1. Peralatan monitor, untuk memonitor tekanan darah, nadi, oksimeter denyut dan EKG

2. Peralatan resusitasi /anestesia umum

3. Jarum spinal

Teknik analgesia spinal

Posisi duduk atau posisi tidur lateral decubitus dengan tusukan pada garis tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya dikerjakan diatas meja operasi tanpa dipindahkan lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien. Perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat.

1. Setelah dimonitor, tidurkan pasien dalam posisi dekubitus lateral atau duduk dan buat pasien membungkuk maksimal agar procesus spinosus mudah teraba.

2. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua Krista iliaka dengan tulang punggung ialah L4 atau L4-L5, tentukan tempat tusukan misalnya L2-L3, L3-L4 atau L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau atasnya berisiko trauma terhadap medulla spinalis.

3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine dan alcohol

4. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan misalnya lidokain 1% 2-3ml.

5. Cara tusukan adalah median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22G, 23G, atau 25G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk jarum kecil 27G atau 29G dianjurkan menggunakan penuntun jarum (introducer), yaitu jarum suntik biasa semprit 10cc. Jarum akan menembus kutis, subkutis, ligamentum supraspinosum, ligamentum interspinosum, ligamentum flavum, ruang epidural, duramater dan ruang subarachnoid. Setelah mandrin jarum spinal dicabutcairan serebrospinal akan menetes keluar. Selanjutnya disuntikkan larutan obat analgetik lokal kedalam ruang subarachnoid tersebut.

BAB IVPEMBAHASAN1. Permasalahan dari segi medik

Pada kasus hamil serotinus dengan ketuban pecah dini 16 jam dilakukan tindakan section caesaria karena bila persalinan dibiarkan berlangsung sendiri tanpa pengambilan tindakan yang tepat bisa menimbulkan bahaya terutama bagi janin yaitu meningkatkan infeksi intrapartum Pada tindakan-tindakan bedah sesar umumnya dipilih anestesi regional sub arachnoid block/spinal karena mempunyai banyak keuntungan seperti kesederhanaan teknik, onset yang cepat, resiko keracunan sistemik yang kecil, blok anestesi yang baik, pencegahan perubahan fisiologi dan penanggulangannya sudah diketahui dengan baik, analgesia dapat diandalkan, sterilitas dijamin, pengaruh terhadap bayi sangat minimal, dapat mengurangi kemungkinan terjadinya aspirasi, dan ibu dapat kontak langsung dengan bayinya segera setelah melahirkan. Tetapi anestesi spinal juga bukan tanpa risiko, risiko yang dapat terjadi seperti mual dan muntah bisa terjadi pada anestesi spinal. Bradikardi, disritmia atau bahkan cardiac arrest merupakan komplikasi yang bisa terjadi.2. Permasalah Dari Segi Bedah

kemungkinan perdarahan durante dan post operasi

Iatrogenik (resiko kerusakan organ akibat pembedahan).

Dalam mengantisipasi hal tersebut, maka perlu dipersiapkan jenis dan teknik anestesi yang aman juga perlu dipersiapkan darah untuk mengatasi perdarahan.

3. Permasalahan Dari Segi Anestesi

Pemberian Obat-obat anestesi:

1. Premedikasi : Ondancentron 4 mg, ranitidine 15 mg2. Anestesi spinal : Bupivakain 15 mg 3. Maintenance : Oksigen 3 liter/menit.

4. Lain-lain: Oxytocin, metergin, efedrin, dan ketorolacOndancentron adalah suatu antagonis 5-HT3, diberikan dengan tujuan mencegah mual dan muntah pasca operasi agar tidak terjadi aspirasi dan rasa tidak nyaman. Menurut penelitian obat ini tidak teratogenik, dapat digunakan pada kehamilan jika ada indikasi.Penggunaan bupivakain dengan dosis 12,5 mg dikarenakan potensi bupivakain sebagai analgetik lokal yang lebih kuat daripada lidokain, namun tingkat toksisitasnya lebih tinggi. ED50 dan ED95 bupivakain adalah sebesar 7,6 mg dan 11 mg.18 Efek samping yang paling penting dan sering terjadi terutama adalah hipotensi dan bradikardi. Beberapa peneliti menurunkan dosis bupivakain dan menambahkan opioid lipofilik intratekal untuk mengurangi hipotensi dan mempertahankan kualitas anestesia yang baik. Fentanil merupakan opioid lipofilik yang banyak digunakan dan mudah didapat. Hunt dkk. menyebutkan bahwa penambahan 6,25-50 mcg fentanil intratekal akan meningkatkan periode analgesia perioperatif pada anestesia spinal dengan bupivakain hiperbarik, tetapi tidak mempengaruhi onset hambatan sensorik dan motorik.15Pemberian oxytoxin dan metergin bertujuan untuk mencegah perdarahan lebih banyak dengan merangsang kontraksi pada uterus.

Pemberian vasopresor efedrin bertujuan menaikkan kontraksi miokard, curah jantung, tekanan darah sampai 50%. Ini dapat mengurangi insidensi hipotensi sampai 24%. Tetapi sering menimbulkan hipertensi postpartum karena efedrin bekerja sinergestik dengan obat oksitoksik.Pada kasus ini, yang dilakukan anestesi spinal terjadi penurunan tekanan darah. Tekanan darah yang turun setelah anestesi spinal biasanya sering terjadi. Jika tekanan darah sistolik turun di bawah 75 mmHg atau terdapat gejala-gejala penurunan tekanan darah, maka harus cepat diatasi untuk menghindari timbulnya syok yang menyebabkan gangguan perfusi transplasental, cedera ginjal, jantung dan otak. Cara yang digunakan untuk mengatasi keadaan ini di antaranya dengan memberikan oksigen, menaikkan kecepatan tetesan infuse, dan pemberian obat-obatan.Pada kasus ini terjadi defisit cairan sebanyak 2750 cc, ini diperoleh dari kebutuhan cairan total ( terdiri dari : defisit cairan karena puasa 6 jam, kebutuhan dasar selama operasi, kebutuhan operasi sedang dan kehilangan darah selama operasi). Sedangkan cairan yang masuk sebanyak 1500 cc. Untuk mengatasi defisit cairan ini maka diperlukan penambahan cairan saat pasien masuk bangsal. DAFTAR PUSTAKA1. Sarwono. Ilmu Kebidanan. Ed II. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. 19992. Atkison, R.S., et al. A synopsis of Anasthaesia, 10 th edition. PG Publishing Ltd. Singapore. 1998.

3. Morgan, GE et al. Obstetric Anestesia Dalam: Clinical Anesthesiology 3rd ed. New York: Mc Graw Hill, 2005: 819-484. Cunningham FG, MacDonald PC, Gant NF; Terjemahan: Suyono J,

Hartono A. Obstetri Williams. Edisi 21 vol 2. Jakarta : EGC; 2005 ; p. 206, 375-91, 511-34, 595

5. Norris MC. Handbook of Obstetri Anaesthesia. Philadelphia : Wolters

Kluwer Company; 2000; p. 247-916. Chestnut DH. Obstetric Anesthesia Principles and Practice. 3rd Ed. Mosby. Philadelphia. 2004.7. Leksana E. Belajar Ilmu Anestesia. Edisi I. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. 2004, hal:13-20.8. Boulton TB, Blogg CE, Hewer CL. Anaesthethic for Medical Students. Churchill Livingstone. London. 1989.

9. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FK UI. Jakarta. 2001. 10. Cuningham FG, et al. Obstetri Williams. 21nd ed. Jakarta: EGC. 200511. Winkjosastro H. Ilmu Kebidanan. Edisi III. Jakarta: YBP-SP. 2007 12. Wee MYK, Brown H, Reynolds F. The National Institute of Clinical Excellence (NICE) guidelinesfor caesarean sections: implications for the anaesthetist. International Journal of Obstetric Anesthesia 2005; 14: p. 147-58.

13. Mojica JL, Melendez HJ, Bautista LE. The Timing of Intravenous Crystaloid Administration and Incidence of Cardiovascular Side Eff ect During Spinal Anesthesia: The Results from a Randomized Controlled Trial. Anesth Analg 2002; 94: 432-7.

14. Morgan PJ. The Eff ect of Increasing Central Blood Volume to Decrease the Incidence of Hypotension Following Spinal Anesthesia for Cesarean Section. In Halpern SH, Douglas MJ. Evidence Based Obstetric Anesthesia. Massacuse+ s: Blackwell Publishing, Inc; 2005, 89-100.

15. Mcllroy DR, Karasch ED. Acute Intravascular Volume Expansion with Rapidly Administered Crystalloid or Colloid in the Setting of Moderate Hypovolemia. Anesth Analg 2003; 96: 1572-7. 16. Ginosar Y, Mirikatani E, Drover DR, Cohen SE, Riley ET. ED50 and ED95 of intrathecal hyperbaric bupivacaine coadministered with opioid in cesarean delivery. Anesthesiology 2004;100:676-82. 17. Hunt CO, et al. Perioperative analgesia with subarachnoid fentanyl-bupivacaine for cesarean section. Anesthesiology 1999;71:535-40.

Jarum tajam (Quincke-Babcock)

Jarum pinsil (whitecare)