Top Banner
Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana Amien Tohari Ahmad Nashih Luthfi A. Pendahuluan Tulisan ini adalah laporan dari kunjungan dua orang tim lapangan dalam program pembuatan dokumen sejarah kampung yang lokasinya di Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Pembuatan sejarah kampung di Kaimana tersebut diinisiasi oleh lembaga nirlaba di Yogyakarta, Centre For Lead Indonesia atau CFL, dalam rangkaian program berdurasi panjang untuk peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintahan kampung di Papua (Kaimana, Kerom, dan Pegunungan Bintang). Kunjungan tim dilakasanakan pada akhir September 2011, mulai 24 September hingga 1 Oktober 2011. Kunjungan tersebut bertujuan melakukan penggalian data tentang sejarah kampung di Kaimana untuk menggambarkan sejarah asal-usul dan kewenangan asli kampung. Hal-hal penting yang dikaji dalam kaitan itu adalah sejarah asal-usul kampung, kelembagaan lokal kampung, relasi dan tata kelola pemerintahan kampung, eksistensi tradisi dan nilai-nilai lokal, pemerintahan kampung, dan kewenangan kampung. Kunjungan yang sangat singkat menyulitkan tim menggali secara maksimal data-data yang dibutuhkan. Waktu efektif di lapangan kurang lebih hanya dua hari dari keseluruhan waktu yang disediakan. Satu hari pertama digunakan untuk mengadakan ‘semacam’ FGD dengan beberapa warga kampung setempat yang hampir semuanya ternyata adalah PNS Pemkab Kaimana. Hari kedua di lapangan dilakukan wawancara dengan beberapa orang yaitu Keluarga raja Namatota diwakli Ridwan Lakutani, Dewan Adat Kaimana, dan Raymond seorang pegawai pada Dinas Kebudayaan Kaimana. 1
32

Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

Feb 22, 2023

Download

Documents

Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
Page 1: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

Amien TohariAhmad Nashih Luthfi

A. PendahuluanTulisan ini adalah laporan dari kunjungan dua orang timlapangan dalam program pembuatan dokumen sejarah kampungyang lokasinya di Kabupaten Kaimana, Papua Barat.Pembuatan sejarah kampung di Kaimana tersebut diinisiasioleh lembaga nirlaba di Yogyakarta, Centre For LeadIndonesia atau CFL, dalam rangkaian program berdurasipanjang untuk peningkatan kapasitas kelembagaanpemerintahan kampung di Papua (Kaimana, Kerom, danPegunungan Bintang). Kunjungan tim dilakasanakan pada akhir September 2011,mulai 24 September hingga 1 Oktober 2011. Kunjungantersebut bertujuan melakukan penggalian data tentangsejarah kampung di Kaimana untuk menggambarkan sejarahasal-usul dan kewenangan asli kampung. Hal-hal penting yangdikaji dalam kaitan itu adalah sejarah asal-usul kampung,kelembagaan lokal kampung, relasi dan tata kelolapemerintahan kampung, eksistensi tradisi dan nilai-nilailokal, pemerintahan kampung, dan kewenangan kampung. Kunjungan yang sangat singkat menyulitkan tim menggalisecara maksimal data-data yang dibutuhkan. Waktu efektif dilapangan kurang lebih hanya dua hari dari keseluruhan waktuyang disediakan. Satu hari pertama digunakan untukmengadakan ‘semacam’ FGD dengan beberapa warga kampungsetempat yang hampir semuanya ternyata adalah PNS PemkabKaimana. Hari kedua di lapangan dilakukan wawancara denganbeberapa orang yaitu Keluarga raja Namatota diwakli RidwanLakutani, Dewan Adat Kaimana, dan Raymond seorang pegawaipada Dinas Kebudayaan Kaimana.

1

Page 2: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

Laporan ini hanya akan menyajikan data dan cerita yangdidapat selama di lapangan. Karena itu beberapa rancanganpanduan turun lapangan yang berisi beberapa aspek kampungyang hendak dikaji—yang dirancang sebelum turun lapangan—tidak semuanya dapat dijelaskan secara lebih detail danmendalam. Dalam laporan ini, keterbatasan data yang didapattersebut akan dilengkapi dengan studi literatur kajianmengenai masyarakat Kaimana. B. Letak Geografis KaimanaKabupaten Kaimana dimekarkan secara kolektif melalui UndangUndang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten-kabupaten di Papua yaitu Kabupaten Sarmi, Kabupaten Kerom,Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja  Ampat, KabupatenPengunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, KabupatenTolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, KabupatenBoven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, KabupatenTeluk Bintuni, dan Kabupaten Wondama. Kabupaten-kabupatentersebut  kemudian diresmikan bersamaan dengan pelantikanpejabat bupati pada tanggal 11 April 2003. Dengan demikiansecara administratif status, kedudukan, dan fungsipemerintahannya berubah dari dulunya berstatus distrik(kecamatan) di bawah kabupaten Fak-fak (selama Orde Baru)menjadi kabupaten Kaimana.Luas kabupaten Kaimana adalah 18.500 km, dengan jumlahpenduduk sekitar 43.210 pada tahun 2010. Posisinya terletakdi bagian selatan kepala burung dan pesisir selatanPropinsi Papua dengan batas-batas wilayah sebagai berikut;sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Mimika, sebelahbarat berbatasan dengan Kabupaten Fak-fak, sebelah utaraberbatasan dengan Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten TelukWondama dan Kabupaten Nabire, serta sebelah selatanberbatasan dengan Kabupaten Maluku Tenggara.

Gambar 1Peta Kabupaten Kaimana

2

Page 3: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

Sumber: www.kaimana.go.id C. Sejarah Migrasi dan Komposisi Demografis

Sebagai sebuah kawasan, Kaimana sebetulnya tidak mudahdijangkau oleh dunia luar. Lanskap geografisnya sebagaiceruk yang dikelilingi pegunungan membuat Kaimana sampaisaat ini hanya bisa dijangkau melalui laut dan udara.Posisi geografis semacam ini menyebabkan Kaimana relatiftertutup dan boleh dikatakan baru membuka diri terhadapdunia luar setelah Indonesia secara agresif mengirimkan“sukarelawan” ke Kaimana (dan tempat-tempat lain di Papua)mulai awal tahun 1960an sampai awal tahun 1970an. (RiwantoTirtosudarmo, 2010: 2). Meskipun demikian bukan berartiKaimana pra-Indonesia merupakan sebuah terra incognita. Sebelum datangnya Orang Eropa, menurut Andaya (dikutip dariRiwanto Tirtosudarmo, 2010: 6) migrasi intensif antarakepulauan Papua adalah dengan kepulauan Maluku. Hubunganantara Papua dan Maluku telah berlangsung sejak lama,antara 10 ribu sampai 15 ribu tahun. Adanya hubungan inibisa dibuktikan dari penggunaan bahasa-bahasa di Halmaheradan Morotai yang mirip dengan bahasa-bahasa yang di pakaidi Papua (Trans New Guinea Phylum). Begitu jugasebaliknya, mobilitas penduduk antara Maluku dan Papua juga

3

Page 4: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

terlihat dari dipakainya bahasa-bahasa “non-Austronesian”di pulau-pulau seperti Timor, Alor dan Pantar. Perdaganganantar pulau, mulai didominasi oleh “pedagang komoditas-komoditas khusus” – untuk rempah-rempah, “kayu aroma wangi”yang yang diduga sudah dimulai pada 2000 tahun yang lalu,hingga sekitar tahun 250.

Perdagangan itu menggantikan perdagangan “bulu-bulu indahsebagai barang mewah di Asia” (Upton, 2009: 82). Moore(2003: 11) juga mengatakan bahwa migrasi penduduk pada masapra-kolonial sangat erat kaitannya dengan perdagangan,seperti dikatakannya, sebelum diaspora hadir bersama dengankolonialisme, teritori lokal dibentuk dan ditransformasikan selama beberapapuluh abad. Penduduk Melanesia melakukan migrasi local darilembah ke lembah, atau dari pulau ke pulau. Pedagang dariluar Papua membentuk pemukiman di berbagai tempat untukmenjalankan perdagangannya. Dengan sifat berkelilingnyapara pedagang dan kebutuhan mereka untuk mengintegrasikandiri kedalam penduduk lokal selama mereka berdagang, didugapula bahwa mereka saling melakukan hubungan perkawinandengan berbagai kelompok (Upton, 2009: 83).

Kehadiran agama Islam sebelum datangnya Orang Eropa danagama Kristen, menjadi bukti yang paling nyata dari telahberlangsungnya proses pertemuan antar budaya antarapenduduk setempat, yaitu mereka yang lebih dahulu tinggaldi Kaimana dengan para pendatang yang datang kemudian,diantaranya membawa ajaran agama Islam. Kisah yangberkembang sampai hari ini tentang Raja Namatota dan RajaKomisi yang telah memeluk agama Islam di Kaimana adalahsebuah bukti sejarah yang paling otentik akan terjadinya“percampuran” berbagai identitas kultural di Kaimana.

Bahkan dalam konteks otonomi khusus saat ini, identitaskeislaman masyarakat Kaimana menguat kembali. Posisinyayang subordinat selama ini dihadapan identitas kepapuaanyang identik dengan Kristen dan Katolik, berupayadipulihkan dengan berbagai strategi. Strategi Muslim Papuauntuk mendapatkan pengakuan identitas budayanya dilakukandengan cara merumuskan dirinya secara fleksibel yaitu

4

Page 5: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

memadukan ke-Islam-an dan ke-Papua-an, sertamengkontestasikan identitas budayanya dengan Muslimpendatang dan Kristen Papua dalam arena politik identitas.Dalam berbagai ranah, identitas itu bukan hanya bermaknapenanada obyektif namun juga kekuasaan simbolik. Dalamarena politik, pembedaan identitas semacam ini mengemuka,meski dalam ranah keseharian identitas ini hanya bermaknapenanda obyektif.1

Komposisi demografis Kaimana sangat erat kaitannya dengansejarah migrasi yang telah terbentuk lama. Orang-orang dariKesultanan Tidore telah melakukan kontak dengan Papua,terutama dengan penduduk yang bermukim di Kepala Burung,termasuk Kaimana. Kontak dengan Kesultana Tidore ini turutmenjelaskan pula keberadaan penguasa-penguasa lokal diKaimana, keberadaan kerajaan Namatota dan kerajaan Komisiserta struktur kekuasaan (adanya Mayor, Kapitan, Jejau, danSangaji) di level kampung.

Kontak dengan Kesultana Tidore ini membuat orang-orangPapua di kawasan ini mendapatkan besi yang merupakan bahanuntuk membuat senjata. Teknologi ini menjadikan parapemimpin di pesisir sebagaimana Kaimana kekuatan untukmendominasi kehidupannya di daratan. Kontak ini sekaligusmembanti Tidore memapankan hubungan dengan berbagaikelompok di wilayah ini untuk menuju ke timur. Terdapathubungan yang sangat erat yang membangun jaringanperdagangan antara Papua New Guinea, kepulauan Raja Ampat,Seram Timur and Halmahera (Upton, 2009: 84). Disimpulkanpula bahwa hubungan kekuasaan dan perdagangan telahberlangsung sejak lama antara sultan-sultan di Malukudengan “wilayah-wilayah kekuasaannya” yang membentangsepanjang pantai barat Papua dimana Kaimana termasuk didalmanya. Dari studi-studi itu Timmer (2002) juga beranimenyimpulkan bahwa sepanjang pantai barat Papua terdapatfenomena perjalanan perniagaan, penculikan, penjarahan yangdilakukan oleh orang-orang dari Indonesia bagian timur,Seram, Ternate, dan Tidore di awal abad 17, dan menyusul

1 Selebihnya, lihat Cahyo pamungkas, Papua Islam dan Otonomi Khusus,Kontestasi Identitas di Kalangan Orang Papua, Tesis S2 Sosiologi, UniversitasIndonesia, 2008.

5

Page 6: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

pendatang Makasar, Bugis, Arab, dan Cina (RiwantoTirtosudarmo, 2010: 7).

Keragaman etnis itu sampai sekarang masih dijumpai dancukup dominan di wilayah kota Kaimana. Penduduk Jawa mulaimenetap di Kaimana seiring dengan menguatnya pemerintahanOrde Baru dengan serangkaian program transmigrasi,terkoneksinya ekonomi Kaimana-Jawa, serta transmigrasispontan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa sendiri.Migrasi ini semakin deras pasca Orde Baru disusul dengandiberlakukannya Otonomi Khusus dan pemerakan di wilayahKaimana. Pedagang-pedagang kaki lima diisi oleh orang Jawa,sementara toko-toko dimiliki oleh orang Cina yang ada dijalan utama kota Kaimana. Tidak terdapat angka yang jelaskomposisi etnis di Kaimana ini.

Tabel .1.

Jumlah Rumah Tangga dan Penduduk di Kabupaten KaimanaMenurut Jenis Kelamin dan Distrik Tahun 2009

No Distrik RumahTangga

Penduduk (jiwa)

Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Buruway 672 1.747 1.747 1.7472 Teluk

Arguni 760 1.668 1.611 3.2793 Kaimana 6.428 14.724 12.898 27.6224 Teluk Etna 825 1.568 1.352 2.9205 Kambrau 440 1.138 943 2.0816 Arguni

Bawah 488 1.124 1.102 2.2267 Yamor 324 1.082 721 1.803

Jumlah 9.936 23.052 20.158 43.210

Sumber: Kaimana Dalam Angka 2010

D. Kosmologi Masyarakat Kaimana

Orang Mairasi misalnya—suku terbesar jumlahnya di Kaimana—memiliki pengetahuan tentang alam semesta yang menurut

6

Page 7: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

mereka alam ini di bagi atas beberapa bagian. Setiap bagiandiatur oleh roh atau penguasanya. Penguasa pada alam iniadalah oleh dewa tertinggi yang disebut Enggavoto. Bagi sukuMairasi alam dibagi menjadi 2 bagian, yaitu (a) wereiawarmanar (alam nyata) dan (b) wereia mesiar (alam gaib).

Warmanar adalah manusia nyata yang dilihat sehari-hari, danjuga manusia kerdil (itit matu) yang hidup di puncak-puncakgunung. Sedangkan mesiar yaitu mahluk-mahluk gaib yangmenguasai bagian-bagian alam, seperti mahluk halus/roh(o’wei). Makhluk ini menguasai daratan dan lautan; menguasaialam atas dan alam bawah; menguasai air asin dan air tawar.Roh-roh penguasa ini hanya dapat menguasai bagiannyamasing-masing. Selain pembagian alam yang dikemukakan diatas, mereka juga mempunyai pengetahuan/ kepercayaan bahwadi alam ini ada tempat keramat utama, yaitu langit danbumi.

Langit dianggap sebagai ayah dan bumi adalah ibu. Langitbernama toi atau toni dan bumi bernama suere. Keduanya adalahmanusia yaitu  manusia pertama yang diciptakan Enggavoto(penguasa jagad raya). Pengikut Enggavoto disebut we’na’a danlangit adalah pijakan kakinya (naoro nanasi). Sedangkanpenguasa jagad raya disamakan dengan matahari yangmemberikan hukum adat bagi mereka, tetapi penguasa jagadraya ini bukanlah matahari itu sendiri.

E. Suku-suku, Klan, Kampung, dan Pola PemukimanKabupaten Kaimana secara umum didiami sembilan sukuberdasarkan asal bahasa (Silzer dan Heikkinen,1984) yaitu :(1), Suku Baham meliputi kampung Sanggrung dan Weri; (2)Suku Irarutu meliputi kampung Fruata, Naramas, Wagura,Afuafu, Gusimawa, Boywer, dan Nagura; (3) Suku Kamberaumeliputi kampung Inan,Wania, Ubia Seramuku, kukasa,Tanggaromi, Coa, dan kampung Kooy; (4) Suku Mairasimeliputi kampung Barari, Morano, Maimai, Lobo dan kampungsisir ; ( 5) Suku Buruai meliputi kampung Guriasa, Hia, dankampung Yarona; (6) Suku Koiwai meliputi kaimana kota,Namatota, dan kampung Adi Jaya; (7) Suku Semimi meliputikampung kayu merah dan berbatasan dengan Suku Kamoro dan

7

Page 8: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

kampung Nanesa; dan (8) Suku karas meliputi pulau Karas;dan ( 9 ) Suku Uruangniri yang meliputi pulau –pulau kecildi belakang pulau karas yaitu kampung Tumbawaga2.

Gambar 2Peta Tematik Suku dan Wilayahnya

Sumber: Peta Tematik Kabupaten Kaimana, 2010

Terkait dengan pola pemukiman masyarakat Kaimana yangbersuku-suku ini, umumnya satuan–satuan permukimanmengikuti pola ketersediaan bahan hidup yang ada di alam.

2 Sembilan suku ini pernah dijadikan pertimbangan dalam pembuatanlambang Kabupaten Kaimana pada saat menjalani proses pemekaran namuntidak jadi dimasukkan ke dalam lambang kabupaten kaimana karenadelapan suku asli Kaimana masih menjadi perdebatan di Dewan Adat danbelum selesai. Karena itu pencantuman 8 suku tersebut ditangguhkan,dan diusulkan tanda bintang untuk menadai suku-suku pendatang—hinggamenjadi sembilan suku. Delapan suku yang sudah diakui suku asliadalah: Irarutu, Mairasi, Kambrauw, Madewana, Koiwai, Kuri, Pasai, danMyere.

8

Page 9: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

Permukiman cenderung lebih banyak berada di daerah-daerahseperti aliran sungai, dataran rendah yang subur, dan diwilayah pegunungan. Pola ini berpangaruh pada persebarandan penguasaan wilayah oleh beberapa suku tertentu (akandijelaskan pada bagian selanjutnya). Sedangkan unit-unitpermukiman masyarakat sangat beragam. Tidak jarang dijumpaipemukiman yang penghuninya terbagi ke dalam satuan  klen-klen. Dijumpai pula pola permukiman acak, artinya satu klenmisalnya Warfete atau Bari dapat membuat rumah di beberapatempat lintas klen asalkan ada tempat atau ruang yangmemadai untuk pembuatan rumah. Di beberapa kampung salahsatunya seperti Kampung Gusimawa, klen Werfete lebih dekathubungan kekerabatannya dengan klen Sasefa yang tinggal dikampung Kokoraeba. Pemukimannya  mengikuti pola klen seniordan diikuti satuan–satuan klen yunior.  Meskipun dalamsatuan klen senior–yunior ini masih dapat kita jumpai klen–klen yang berbeda, namun hal ini terjadi karena adanyahubungan perkawinan. Sebagian satuan-satuan permukimanmasyarakat Kaimana tidak menggunakan batas-batasadministrasi modern secara ketat, misalnya batasan untukmenyebut rukun tetangga dan atau rukun wilayah, tetapimereka lebih cenderung mengikuti batas–batas alam misalnyapohon, onggokan tanah, bebatuan serta batasan lain dalamsistem pengetahuan mereka.Untuk lebih jelasnya, bagaimana persebaran klen tersebutterjadi dapat dilihat pada Tabel.2. berikut ini.

Tabel.2. Kampung dan Komposisi KlanNo Kampung Komposisi Klen1 Pigo Pigo, Warfete, Waita2 Eregara Waita, Murmana, Munware3 Tentura Yamina, Riensawa, Warfete, Pigo, Bari4 Kasira Jafata5 Wainaga Nega6 Bayeda Nega, Sesefa, Warfete, Bari, Dainboa,

Murmana, Musumbau

7 Yusima Refideso, Ufnia, Warfete, Bari8 Afu-Afu Syakema, Wayara9 Kokorab Werfete, Bari, Sasefa, Refideso10 Moyana Bari, Refideso, Sasefa

9

Page 10: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

11 Borogerba Wania, Refideso, Syahema12 Weswas Esuru, Warfete, Murmana13 Tifar Murmana, Waita, Efara, Pigo14 Wetuf Efara, Waita, Murman15 Warwarsi Werfete, Bogra, Sirfefa, Ufnia17 Wagit Sirfefa, Agasar, Fimbae, Rir18 Susunu Puarada, Rirum, Fimbae, Werfete19 Nerminte Ufnia20 Arurb Ufnia21 Sawatwer Egu, Nafuni, Wermana, Werswir, Sumum22 Mfu Sunum, Puarada, Werin, Wengiri23 Waru Werfete, Waruma, Puarada24 Brarwija Tabuka, Tumeka, Siwari, Nega, Bari,

Raya, Sigati, Baefa, Napaerma,Musmafa, Rejera, Refideso

25 Waromi Puarada, Wania, Furu, Werfete26 Ukiar Puarada, Wamim, Wamia, Sabuku, Rumeka27 Slenum Furu, Puarada, Nega28 Serarmi Furu, Sabuku, Wergiri29 Jafir Mangu, Wermeta, Ranggota,Wejeri,

Watora30 Meneliwa Rue, Wania, Tifirnam31 Negir Reasa, Syefiad32 Wermnu Fandi,  Ranggafu, Kambesu, Sarara33 Egarwara Furima, Surune34 Mgir Sirini, Surune, Nyai, Riaweni, Jawi,

Bretne, Tafre35 Gariegu Tifrwam, Rue, Tanggarofa36 Mandiwa Ruwe, Tifrwam, Farisa, Rute, Werfete. 

Dalam menentukan dan memilih pemukiman setidaknyamelibatkan tiga pertimbangan penting; pertama faktorkeamanan. Faktor keamanan yang dimaksud adalah bahwa  zamandulu masih terjadi peperangan antar suku. Masing-masingsuku mencari tempat-tempat aman untuk menyelamatkan diridari pelbagai gangguan musuh, misalnya perang suku antaraorang Irarutu dan Wamesa, Irarutu dan Mairasi pada tahun1830-an.  Arah permukiman masyarakat cenderung mengambilposisi yang dirasa mudah melacak gerak musuh dan mudah pulamenyerang mereka. Beberapa contoh perkampungan yangdimaksud di sini antara lain adalah Mraberbor dan Awafu .

10

Page 11: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

Keamanan juga menyangkut keamanan dari ancaman binatang-binatang buas terutama buaya (sieri) dan  ular (sawat)3. Kedua, faktor kemudahan memperoleh sumber daya alamterutama sumber air bersih. Sumber air bersih (wer sbrot)merupakan kebutuhan pokok. Faktor ini kadangkala menjadipertimbangan utama dalam memilih dan menetapkan lokasi danarah permukiman masyarakat. Ketiga, posisi arah angin (nofmetie). Posisi arah anginadalah terutama seluruh permukiman yang berhadapan langsungdengan lautan. Rumah-rumah dalam kawasan demikian biasanyamengambil posisi menyamping dengan arah gerak lurus angin.Jika rumah langsung  berhadapan  dengan  arah gerak lurusangin, maka orang cenderung  memilih membangun rumah dibawah sejumlah pepohonan. Pohon-pohon  tersebut berfungsimenahan lajunya kecepatan angin sehingga angin tidaklangsung masuk ke dalam rumah.

F. Posisi dan Peran Rumah Adat (Para-para); Kasus Suku Irarutu

Balai adat atau para-para adat dalam bahasa Irarutu dikenaldengan istilah ‘sirus’ sedangkan rumah sebagai tempat tinggaldi sebut ‘fide’. Kalau duduk di balai/rumah adat atau para-para adat di sebut ‘mtur fide sirus’, dan kalau duduk di balaiatau rumah adat atau para-para adat untuk membicarakansuatu masalah disebut ‘mtur fide sirus tena nfier snan uf / tirafu’.Berbicara mengenai arti atau makna balai / rumah adat ataupara-para atau Sirus dalam bahasa Irarutu berarti: (a)merencanakan sesuatu (infier fira uf / firafu); (b) membahasmasalah yang terjadi (infier fisgagr snan uf); (b)menyelenggarakan upacara adat seperti upacara anak sulung

3 Ketika diminta menceritakan sejarah asal-usul masing-masingkampung pada forum FDG, peserta mengatakan bahwa tidak bisamenceritakan sejarah itu di sembarang tempat dan diceritakan oleh dankepada sembarang orang. Tidak semua orang berhak menceritakanya, yangberhak adalah orang-orang tua dari suku masing-masing dan diceritakandalam suasana dan tempat yang khusus (duduk di bale-bale berlastikar). Hal ini kemungkinan berkaitan dengan masa di mana suku-sukutersebut masih sering terlibat perang sehingga menceritakan asal-usulsama dengan membuka titik lemah di hadapan musuh dan beresikomenimbulkan perang suku, diibaratkan dengan “mengeluarkan isi perut”.

11

Page 12: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

(mofumta); (d) mementaskan tarian adat (fris); (e)menceritakan silsilah (srsor). Dalam membicarakan atau membahas suatu masalah di rumahadat diawali dengan menggelar tikar (nfadr nifn) dan biasanyayang membuka tikar di sirus dilakukan oleh mama-mama yangsudah tua dan memang sudah ditugaskan untuk melakukan halitu. Posisi duduk membentuk huruf U disesuaikan denganlebar Sirus dan ‘Nabrid Nadad’ duduk di depan tua-tua adatlain dengan kaki bersila. Persoalan yang dibicarakandisampaikan kepada tua-tua adat yang hadir oleh ‘NabridNadad’ dan memberi kesempatan kepada mereka untukmengajukan pertanyaan dan komentar. Setelah itu hasilkeputusan  merupakan kesepakatan yang harus dilaksanakan.Dalam mengurus suatu masalah adat diberikan wewenang kepadatua adat yang mempunyai pengalaman menangani masalahseperti ; (a) bawa lari istri orang (Nar mafu wabfm nafror);(b) bawa lari anak orang (Nar matu mosot na fror); (c)mengambil barang orang tanpa ijin (mbnafi); (d) melanggarbatas dusun (fisuigfi). Ketika misalnya seorang membawa lari istri orang (nar matuwabfin nafror) maka dikenakan sanksi atau denda/bayar (nfar).Dahulu jenis sanksi yang diberikan untuk jenis pelanggarandi atas adalah kedua pelaku dirajam menggunakan rotan atausetiap penduduk kampung dewasa memukul satu orang pelakusekali pukul. Karena perbuatan ini dianggap perzinahan,kaki dari kedua pelaku dikuburkan sebatas lutut, kemudiandirajam/dipukul oleh masyarakat. Sedangkan sekarang inidenda (nfar) atau bentuk sanksi yang berlaku pada orangIrarutu adalah sebagai berikut ; (1) uang (sen); (2) piring(bigni); (3) gelang (karbugsi); (4) anting / Giwang (noffa);(5) meriam Portugis (efetufut). Kedua belah pihak yang bermasalah (nar matu wabfin nafror)diundang hadir di sirus untuk mengemukakan atau menjelaskanakar masalah atau persoalan agar didengar tua-tua adat yanghadir. Kalau fakta menunjukan memang ada pelanggaran, makadiberi kesempatan kepada kedua belah pihak mengemukakanpendapatnya. Tetapi kalau pelanggaran tersebut tidak cukupbukti yang menguatkan maka ada tim penguji/pencari faktayakni tetua-tetua adat yang ditugaskan untuk membuktikan

12

Page 13: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

kebenaran masalah tersebut. Setelah ada bukti kedua pihakdiberi kesempatan mengemukakan komentar, protes, atausanggahan. Setelah itu Nabrid Nabad menyimak danmenyimpulkan hasil-hasil yang diperoleh dan menjadikeputusan yang bersifat mengikat. Keluarga yang bermasalahdiharuskan membayar denda (nfar) berupa harta adat kepadakeluarga Tua Adat ‘Nabrid Nabad’ sebagai yang dituakan.

G. Tanah Adat, Persebaran Suku, dan Penguasaan WilayahPada kunjungan lapangan, tim tidak mendapatkan data yangmemadai untuk menjelaskan bagaimana konsep tanah adat yanghidup dan berkembang di semua suku yang ada di Kaimana.Karena itu pada laporan ini hanya menyebutkan pamaknaantanah adat dalam konsepsi orang Irarutu sebagaimana akandiuraikan di bawah.Tanah dalam konsepsi orang Irarutu di Kaimana disebut Mif’r.Mif’r diartikan sebagai ‘tinggal” yang mengandung beberapapengertian dasar yakni; (1) sesuatu yang membuat menjadi manusia,(2) bumi/alam yang “kau” tinggali. Menurut orang Irarutupembicaraan tentang Mif’r harus terkait dengan Nuberg yangdalam konsepsi mereka berhubungan dengan asal-muasalpenciptaan atau terjadinya Mif’r yang kini menjadi tempattinggal orang Irarutu. Kisah penciptaan tersebut,menyebabkan mereka menginterpretasikan seperti “ada tanganyang mengangkut mereka kemudian meletakan/menaruh di tempatmasing-masing” yang kini diklaim sebagai “tanah atau hakulayat adat” setiap suku bangsa di Kaimana. Orang Irarutu memaknai mif’r memiliki hubungan secaravertikal atau kepada “pencipta”, tetapi juga hubunganhorizontal antara manusia dengan manusia, manusia denganalam sekitarnya dan manusia dengan aktivitas hidup sehari-hari, terutama kegiatan ekonomi baik di laut maupun darat.Dengan cakupan makna yang luas ini maka kedelapan sukubangsa yang kini tersebar di Kaimana didasarkan padaperbedaan “bahasa”, yakni; Suku Mairasi, Madawana, Kuri,Irarutu, Kamrau, Koiwai, Kuripasai dan Napiti. Kesemua sukuini menganggap bahwa mereka semua berasal dari satu“keturunan”, sehingga jika berbicara tentang mif’r

13

Page 14: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

dianalogikan seperti “fungsi alat reproduksi dan organtubuh manusia”. Dengan pemaknaan atas tanah yang secara simbolikmelambangkan segenap proses kehidupan manusia ini, makabagi mereka “sangat dilarang melakukan jual-beli tanah”.Namun jika terjadi maka bisa dikatakan “kita buang diri”atau dalam bahasa Irarutu adalah “Mif’r Rani Matii”.Proses penyelesaian masalah tanah diserahkan kepada tetuaadat yang mempunyai keahlian atau yang diyakini mempunyaihak tanah/tuan tanah (matu wewumtati). Sebab kadang tua adatbesar (Nabrid Nabad) bukan berasal dari kampung tersebut.Dan Nabrid Nabad (tua adat) tugasnya antara lain mengurusmasalah ritual/upacara-upacara adat. Terkait dengan persebaran suku dan penguasaan wilayah, diKaimana terdapat setidaknya tiga pola yaitu; (1) di wilayahperairan (laut dan pulau); (2) dataran rendah, rawa, danperbukitan; (3) wilayah pedalaman dan dataran tinggi. Wilayah perairan dan pulau. Persebaran suku bangsa di wilayahini adalah orang Koiwai. Karena itu suku ini bermukim danmenguasai wilayah pulau dan sekitar pesisir pantai, sepertiNamatota, Adi Jaya dan Kayu Merah. Dalam bahasa Irarutuataupun Mairasi untuk menyebut kelompok suku bangsa iniadalah Matu Nu. Pemaknaan Matu Nu biasanya dikonotasikansebagai orang pulau, sehingga dalam interaksi sosial merekadengan suku-suku bangsa lain mereka umumnya disebut Matu Nu(orang pulau dan pesisir).Dataran rendah, rawa, perbukitan. Suku yang banyak mendiamiwilayah ini adalah orang Irarutu, Kamrau, Madawana, Napitidan Kuri. Wilayah penguasaan mereka umumnya berada dibatasan pesisir pantai, dataran rendah, rawa danperbukitan. Dalam bahasa Irarutu kelompok suku ini disebutMatu Weere. Matu Weere dikonotasikan sebagai orang-orang yangtinggal di kawasan tersebut, sehingga dalam interkasisosial dengan suku-suku lain biasanya mereka disebut MatuWeere.Pedalaman-dataran tinggi. Suku yang banyak hidup di wilayah iniadalah orang Mairasi, Fruata dan Magera. Dalam bahasaIrarutu kelompok suku ini disebut Matu Urum. Matu Urum

14

Page 15: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

dartikan sebagai orang-orang yang tinggal di kawasanpegunungan ataupun pedalaman.

H. Pola Penguasaan Tanah Adat dan Proses Terbentuknya KlaimDewan Adat yang terbentuk pasca otonomi dan berkongreskedua pada tahun 2009 merasa penting mengidentifikasibatas-batas wilayah adat antara delapan suku. Di antaramasalah adat yang ada, batas wilayah adat dilihat sebagaimasalah utama di Kaimana. Sejak lama masalah ini disadaritetapi hingga sekarang belum ada program baik dari DAPKaimana maupun pemerintah kabupaten untuk menyelesaikanmasalah ini.

Masalah batas wilayah adat ini muncul ke permukaan ketikaada pembangunan atau kegiatan ekonomi skala besar diwilayah itu. Contohnya lahan di sekitar kota Kaimana,selain Suku Koiway, suku-suku lain juga mengklaim wilayahitu dan menuntut ganti rugi. Yang terakhir, adalah masalahlahan di Distrik Yamor yang digunakan untuk komplekpemerintah distrik. Ujung dari konflik itu adalah soaldistribusi uang ganti rugi. Untuk menentukannya secaraadil, pemerintah harus mengetahui marga/suku mana saja yangmemiliki hak atas lahan tersebut. Proses terbentuknya klaimpenguasaan atas tanah oleh berbagai suku tersaji dalamcerita di bawah.

Pola penguasaan tanah di Kaimana ada pada tingkatklen/marga, dengan klaim penguasaan tanah adat. Terdapat 4tipologi penguasaan tanah adat, yakni yang terbentukmelalui proses migrasi/mobilitas nenek moyang; melaluiproses perkawinan; melalui penggarap pertama; dan melaluikekuasaan raja. Laporan ini hanya bisa menyajikan klaimpenguasaan melalui bentuk pertama, yakni mobilitas nenekmoyang.4

Proses ini ditandai oleh adanya perpindahan tempat ataumobilitas dari moyang pertama dari satu tempat ke tempat

4 Didasarkan pada Dewan Adat Kaimana, 2010, Tata Ruang Wilayah AdatKaimana

15

Page 16: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

lain, baik di dalam wilayah territorial suku maupun diluar. Dalam interpretasi masyarakat wilayah-wilayah yangdilalui moyang mereka tersebut dianggap sebagai hak tanahadat baik pada tingkat suku, keret dan marga/fam. Biasanyauntuk memperkuat klaim terhadap kawasan tersebut, ditandaidengan bukti-bukti artifisial pada lokasi-lokasi, misalnyakuburan moyang, tanda di pohon, batu dll. Berdasarkan hasilidentifikasi pada kawasan Kota Kaimana dan sekitarnya olehDewan Adat Kaimana 2009 ditemui beberapa versi ceriteratentang model pengakuan penguasaan tanah pada beberapaklen/marga di beberapa lokasi.

Wilayah Tanjung Simora dan Sekitarnya. Dalam versi klaimpenguasaan oleh beberapa suku dan klen, kawasan ini beradadi sebelah barat Kota Kaimana dan kini menjadi perhatianPemerintah Daerah Kabupaten untuk Pengembangan KotaKaimana. Upaya penataan tanah di wilayah tersebut kinimenjadi fokus perhatian masyarakat melalui Dewan Adat agartidak mengganggu berbagai proses pelaksanaan pembangunansecara jangka panjang.

Ada beberapa suku bangsa dan klen yang bisa dideskripsikanterkait dengan klaim penguasaan kawasan Tanjung Simora dansekitarnya yakni Klen Fenetruma (Suku Bangsa Irarutu).Kelompok klen ini mengakui bahwa hak mereka “ditentukan”oleh Kelompok Klen Kurita, sehingga hak tanah mereka jikadiberikan oleh Klen Kurita, hal ini dilatari karena adanyaceritera tentang perkawinan Moyang Fene Teruma dengan KoroBevin. Dengan demikian batas-batas alam tanah adat KlenFenetruma juga bersama-sama mengkuti batas-batas dari KlenKurita.

Alasan pengakuan dan versi ceritera kelompok klen tersebutbahwa konon, pada waktu atau masa manusia dikatakansebagai manusia “suci” (Tuwir), moyang mereka melakukanperjalanan dari wilayah Bintuni (Kampung Wagora) ke wilayahTeluk Arguni (Bofuwer). Alasan moyang pertama merekabernama Fene Teruma (babi-sperma babi) bergerak menuju keArguni karena ia mendengar bahwa di lokasi ini ada sejenisburung raksasa (Egman) yang selalu mengganggu dan membunuh

16

Page 17: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

penduduk di daerah itu. Setelah moyang Fene Teruma ini tibadi Bofuwer di sana ia bertemu dengan Klen Werfete danberhasil membunuh Egman.

Setelah tugas ini selesai, moyang ini melanjutkanperjalanan lain ke wilayah Tanjung Simora karena iamendapat berita bahwa di situ ada Gurita Raksasa (Kurith)sebagai penguasa laut yang selalu mengganggu dan membunuhpenduduk yang melintasi laut atau wilayah tersebut. Setelahtiba wilayah Tanjung Simora, moyang Fene Teruma inimendengar orang-orang bersorak-sorak karena sedangmengikuti suatu pertandingan sayembara “Bola Raga”. Dalamsayembara tersebut diikuti oleh sejumlah laki-laki mudadari beberapa suku di sekitar Kaimana untuk mendapatkanatau kawin dengan Putri Kurita yang bernama Koro Bevin.Setelah moyang Fene Teruma tiba di lapangan tempatpenyelenggaraan sayembara dan menonton jalannyapertandingan, ternyata setiap peserta tidak berhasilmenendang bola masuk melalui jendela di mana ada putri KoroBevin duduk, akhirnya semuanya gagal.

Pada saat itu, moyang Fene Teruma ingin mengkuti sayembaratersebut, namun ia malu tampil di depan orang banyak karenakulitnya atau sekujur tubuhnya penuh borok, sehingga iahanya berdiri dan menonton dari kejauhan. Namun demikian,ketika ia mengangkat kaki kanan untuk mengusir “lalat” yangmengerumuni lukanya, tiba-tiba bola raga yang ditendangoleh peserta sayembara mengenai kakinya dan terpantul lalumasuk jendela rumah panggung Putri Koro Bevin sehinggamengena bagian dada putri.

Mulai dari saat itu, secara langsung para peserta sayembaramerasa malu dan meninggalkan lokasi pertandingan. Merekamalu karena telah berhari-hari mengikuti sayembara tersebutnamun tidak pernah berhasil. Setelah moyang Fene Terumaberhasil dalam sayembara tersebut, lalu berusaha untukmenghindar dan meninggalkan tempat tersebut, karena iamerasa malu untuk bertemu putri dalam keadaan kulitnyaluka-luka/borok. Namun demikian, putri marah danmelarangnya karena itu moyang Fene Teruma harus

17

Page 18: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

bertanggungjawab atas perbuatannya. Tetapi moyang FeneTeruma mengatakan bahwa “saya tidak bisa kawin dengan putrikarena kulit saya dipenuhi oleh borok/luka”. Setelah iakatakan demikian, lalu meninggalkan putri dan pergi mandidi Kali Boiwala (Kali Air Babi) dekat Tanggromi. Setelahmandi, tiba-tiba luka borok di sekujur tubuhnya langsungbersih dan moyang Fene Teruma kembali menjadi gagah/tampan.Lalu ia kembali ke tempat putri dan mengatakan bahwa iabersedia untuk kawin. Namun demikian putri katakan bahwa“kamu harus berperang dan mengalahkan dulu bapa dan mamasaya yang ada di laut berupa Gurita Raksasa”.

Sebelum dilakukan pertarungan moyang Fene Teruma membanguntempat untuk menempa besi dan berhasil membuat tombak danparang. Ketika tiba saatnya moyang Fene Teruma pergi kepinggir Pulau Simora sambil memanggil Gurita Raksasa yangmerupakan ayah dan ibu putri. Setelah Gurita raksasatersebut muncul, maka moyang Fene Teruma menyiasati danmengumpan mereka ke tempat dimana ia menempa besi yangtelah disiapkan. Setibanya di sana, langsung moyang FeneTeruma mengatakan “bahwa kalian harus buka mulut, untuksaya beri makan dulu sebelum kita berkelahi”. Ketika GuritaRaksasa tersebut membuka mulut, lalu moyang Fene Terumamemasukan besi yang telah dipanaskan dan akhirnya guritatersebut mati.

Dengan keberhasilan moyang Fene Teruma di atas, lalu iakawin dengan putri dan bersama-sama tinggal di TanjungSimora. Setelah beberapa lama tinggal di sana, merekamendapatkan seorang anak bernama Simorag (Anak KarenaRaga), lalu moyang Fene Teruma mengatakan kepada istrinyabahwa ”saya mau pergi karena tugas saya sangat banyak untukdiselesaikan”. Sebelum berangkat lalu moyang Fene Terumamemberikan pesan khusus kepada istrinya yang pada saat itudalam keadaan hamil bahwa “setelah anak ini lahir beri namaSimorag dan jangan tinggal di situ terus karena nantinyabahaya atau gangguan dari musuh-musuh lain”. Lalu moyangFene Teruma berangkat ke arah Timur atau sekitar wilayahTanjung Bisari hingga ke wilayah Namatota. Setelah Simorag

18

Page 19: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

dan ibunya tinggal di Tanjung Simora beberapa waktu,kemudian mereka pindah ke Daerah Buruway. Cerita di ataslah yang mendasari klaim penguasaan tanahKlen Fenetruma yang secara bersama-sama juga Klen Kuritaterhadap wilayah Tanjung Simora.

I. Kampung: Asal-usul, Nilai-nilai, dan PerubahanData-data yang diperoleh baik melalui FGD maupun wawancara tidak cukup bisa menjelaskan kapan dan bagaimana sebuah kampung muncul di Kaimana, dan siapa saja yang terlibat dalam pembentukanya. Ini disebabkan peserta tidak berani menceritakanya karena hal itu bukan wewenangnya, menceritakanya berarti melanggar adat. Hingga saat tim di lapangan juga tidak didapati misalnya peta sebuah kampung tertentu yang menggambarkan batas-batas kampung, komposisi suku dan marga, dan sejarah bagaimana kampung terbentuk sehingga dapat dijadikan sebagai suatu cerminan bagi pembentukan kampung-kampung lainya. Karena itu, tim juga kesulitan mendapatkan gambaran mengenai kewenangan asli sebuah kampung di masa lalu.Kaimana, bagaimanapun, adalah wilayah pesisir yang dengandemikian cenderung banyak terjadi migrasi. Memahamibagaimana kampung terbentuk karenanya setidaknya perlumelihat aspek migrasi, politik pemerintahan, dan ceritalisan yang masih hidup dibenak orang-orang tua kampung. Nilai-nilai, praktik sosial dan budaya yang ada sejakdahulu adalah sasi, ketimbalbalikan, toleransi agama danadat, seni tarian, barter, mas kawin (meriam portugis), danhukuman adat. Sasi adalah suatu sistem penutupan akses kekawasan hutan, padang rumput, terumbu karang, dan daerahpenangkapan ikan (termasuk sungai dan muaranya) untuksementara waktu dan untuk wilayah tertentu saja. Sasi jugaberarti larangan yang bersifat sementara untuk memanentanaman, menebang pohon, mengumpulkan hasil-hasil lanyadari hutan, laut, tetapi juga berarti larangan menghina,berdebat, bertengkar, dan bertindak asusila terhadap

19

Page 20: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

wanita5. Sasi masih berlangsung hingga sekarang, demikianpula toleransi kehidupan adat dan agama, seni tarian,barter (meskipun sudah tidak sepenuhnya), mas kawin meriamportugis juga masih ada dan dianggap sebagai mas kawin yangpaling tinggi harganya, hukuman adat dengan cambuk kayujuga masih ada terutama di kampung Lobo. Praktik pengobatantradisional sudah banyak disediakan oleh puskesmas danpolindes. Ibu yang melahirkan sekarang banyak ditanganioleh tenaga medis modern tidak lagi ditempatkan di rumahtertentu dan tidak sembarang orang boleh masuk seperti dimasa lalu. Nilai-nilai yang masing hidud di antaranya adalah semangatgotong-royong dalam melakukan pembangunan kampung, membukakebun, merayakan acara-pesta perkawinan, bahkan pendiriantempat ibadah. Ada kebiasaan bahwa pembangunan tempatibadah, masjid misalnya, peletakan batu pertamanyadilakukan oleh seorang pendeta, demikian juga sebaliknya.Dalam membangun sekolah, keperluan material/bahan-bahanberasal dari warga. Semua wali murid terlibat turun tangandalm menyiapkannya ermasuk kebutuhan makan selama prosespembangunan. Toleransi antar agama dalam bentuk silaturahmi semuapemeluk agama, dari kampung ke kampung pada perayaan hariraya. Istilah mereka, “dahulu orang Kaimana tidak mengenalistilah toleransi, namun sudah mempraktikkan nilai-nilaitersebut”. Ketika umat Islam berkunjung ke pemeluk agamaKristen/Katolik, si tuan rumah menyediakan secara khususperalatan masak dan makan, serta tikar untuk tamunyatersebut. Peralatan itu hanya diperuntukkan bagi tamumuslim, bahkan tidak digunakan oleh tuan rumah, dan akandisimpannya kembali tatkala tidak digunakan. Motivasi untuk pendidikan tinggi sekali, terutama merekayang berasal dari Teluk Arguni (atas). Penduduk mencariguru sekolah atau mengaji bahkan rela sampai ke Malukumenggunakan perahu. Orang dahulu menanam sendiri bahanmakanannya: sagu, keladi (ubi jalar), kasbi (singkong), dan

5 Craig C.Thorburn. “Sasi Lola (Trochus Niloticus) in the KeiIslands, Mollucas : An Endangered Coastal Resource ManagementTradition”, dalam Jurnal Pesisir & Lautan Vol. 1 No. 2, 1998, hal.57.

20

Page 21: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

pisang-pisangan sebagai sumber karbohidrat. Sekarang jaranglagi yang menanam sebab telah “dimanjakan dengan berasmurah”. Salah seorang peserta mengeluh, “saya pemakan sagu,sulit sekali menemukan sagu. Saya menanam sendiri sagu.Jika telah besar, anakannya saya pisah dan tanam di kebun.Saya perkirakan mencukupi sagu yang saya siapkan itu. Inisebab kita dimanja dengan beras murah dari Jawa, jadinyatergantung. Kita lupa darat, lupa asli. Tinggal terimaberas murah, tidak mau kerja”. Terkait dengan harga diri perempuan, tatkala seorang istrihamil dan telah mendekati usia persalinan, terlebih dahuludisiapkan pemondokan yang terpisah dari rumah keluarga.Sang istri diantarkan secara adat untuk ditempatkan dipemondokan tersbut, dipisah dari keluarga dan suaminya. Iaditemani oleh perempuan-perempuan tua berpengalaman yangakan membantunya dalam proses persalinan dan mengajari hal-perihal merawat, mengasuh dan mendidik anak.Jika seorang remaja perempuan hamil, maka akan ditanyasiapa yang telah menyebabkan ia hamil dan dituntut dua hal:mengganti rugi secara adat dan menikahinya. Dijelaskanbahwa cara ini adalah untuk menghormati harga diriperempuan. Adat dituntut untuk turut bertanggung jawabmenopang kesalahan-kesalahan yang dilakukan olehanggotanya, selain tekanan sebaliknya bahwa sang pelakujika berbuat salah sekaligus akan menyeret nama suku-adatnya. Seorang istri tidak boleh diganggu oleh laki-laki lain. Haldemikian jika terjadi bisa menimbulkan “baku bunuh”. Guruatau petugas dari kampung dulu seperti raja. Semuakeperluan disediakan warga atau orang tua murid. Merekatahunya hanya mengajar. Akan tetapi sekarang mencari sendirsebagaimana lazimnya orang lain. Orang tua dulu mencarikanjodoh untuk anak perempuannya. Pilihannya didasarkan padakecakapan sang calon dalam urusan penghidupan: sudah bisamembuka kebun sendiri, membuat kapal, dan sebagainya. Nonayang sudah ditunangkan itu tidak boleh diganggu oleh laki-laki lain. Mas kawin secara adat adalah anting-anting, gelang, piringbesar warisan zaman dahulu, gong, dan meriam bekas. Dalam

21

Page 22: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

kegiatan ekonomi, kegiatan barter masih ditemukan, yakniantara mereka yang menghasilkan ikan laut dengan merekayang menghasilkan makanan/sayuran dari kebun. Kerjasamaantar-kampung dalam bentuk seperti ini masih berjalan dibeberapa tempat. Aturan antar kampung dibuat secarabersama-sama, misalnya batas antar laut. Hal ini dilakukandi Distrik Kaimana.

J. Rantai Komoditas LokalAdapun jenis tanaman lokal masyarakat Kaimana yang bukanmerupakan komoditas utama dalam perdagangan adalah tanamanpangan seperti keladi, singkong, ubi jalar, sagu, pisang.Semenjak pemerintah memperkenalkan beras, banyak di antarawarga kampung sudah tidak lagi makan sagu karena berasmurah dan lebih mudah didapat. Padi ladang juga pernahmereka tanam tetapi sejak beras masuk dan lebih murahmereka tidak lagi menanam padi.

Menurut salah satu sumber, pada masa kolonial Belanda diKaimana diterapkan apa yang disebut dengan ‘bayar kepala’yaitu sejenis pajak yang dibebankan kepada setiap orangkampung oleh Belanda. Jika salah seorang tidak dapatmembayarnya, maka orang tersebut akan dipanggil dan dihukumdengan melakukan kerja paksa. Pada masa itu, pendudukkampung banyak kesulitan mendapatkan uang, yang merekamiliki adalah tanaman kelapa (kopra). Untuk menyiasatinya,banyak warga yang datang kepada orang Cina dan menyerahkankelapa kepadanya, setiap panen buah kelapa mereka harusmenjualnya kepada orang Cina, dan orang Cina inilah yangakan membayarkan pajak ‘bayar kepala’ tadi kepada Belandadengan cara memotong setiap hasil penjualan tersebut.Tampaknya sejarah ini terus berlangsung hingga menciptkanmonopoli dan ketergantungan6.

6 Kalau di Lobo dulu banyak ditanam kelapa, tapi banyak kelapa ituyang milik orang Cina. Dulu ada praktik “Blasteng”, di masa Belandaartinya “bayar kepala”. Kalau kepala tidak dibayar orang akandikenakan sel atau disuruh kerja paksa lalu dipulangkan lagi. Ituseperti kewajiban membayar pajak. Akibat dari ketidakmampuan orangtua-tua membayar Blasteng itu kemudian kebun kelapa mereka diserahkan

22

Page 23: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

Terkait dengan rantai komoditas ini, hasil diskusi pada FGDdi lapangan memperlihatkan adanya perubahan komoditas yangmereka tanam, lihat Tabel.3. Perubahan Komoditas diKaimana.

Tabel.3.Perubahan Komoditas di Kaimana7

Dulu SekarangKeladi, singkong, ubijalar, pisang, sagu

Pisang, sagu

Di Marewana ada sagu,jambu, pala, dancempedak sebagaipembatas wilayah adat

Sagu, pala

Pala negri, pala banda,kopi, kakao, cengkeh(sejak masa gubernurSultran, 1970-an)

Pala banda yang menjadi produkunggulan.

Pala merupakan komoditas unggulan yang penting. Pala adadua jenis yaitu pala negeri atau pala asli (berbentukbulat) dan pala Banda (berbentuk lonjong). Kopi coklat,cengkeh merupakan tanaman yang diintrodusir Belanda dantidak banyak mereka tanam. Hasil pala ini ada yangdikonsumsi sendiri, namun ada juga yang dijual ke pengumpul(orang Cina dan lain-lain), dari pengumpul ini biasanyadijual ke penadah ( di Fak-fak, kabupaten), dari sinibiasanya dikirim ke Surabaya. Di Surabaya harganya bisanaik menjadi 4 kali lipat. Penduduk setempat selama inihanya menjadi produsen karena adanya monopoli perdaganganoleh orang Cina yang menguasai kapal. Jika bukan pala milikorang Cina sendiri, maka kapal orang Cina tersebut tidakmau mengangkut. Berikut ini adalah rantai penjualankomoditas yang berhasil dibuat oleh peserta FGD.

kepada Cina, dan orang Cina inilah yang membayar Blastengnya. Kopranyadikerjakan orang setempat kemudian dijual ke Cina dan hasilpenjualanya dipotong untuk membayar blastengnya. Wawancara RidwanLakutani, 28 September 2011.

7 Tabel ini adalah hasil diskusi bersama peserta FGD. Pesertadiminta untuk mengingat apa yang dahulu pernah banyak ditanam olehorang-orang kampung di Kaimana. Sengaja tidak mencantumkan tahunkarena peserta kesulitan untuk mengingat tahun.

23

Page 24: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

Gambar 3

Rantai Komoditas Buah Pala

Sumber: Hasil FGD di Kabupaten Kaimana, 27 September 2011

Dari gambar di atas, pada tahap ke-4(terakhir), produsenbuah pala sudah tidak lagi mengetahui kapan, bagaimana, dandimana penjualan dilakukan oleh orang Cina. Ada monopoli disini. Sebab orang Cina menguasai kapal, maka hasil paladisetor dengan harga yang sudah ditentukannya. Mereka tidakakan menerima pala langsung dari kampung, atau jika orangkampung menginginkan menyetor langsung ke Surabaya tidakmemungkinkan. Alasannya, sebab mereka tidak menguasaikapal dan pembeli Surabaya akan menghargai sama denganharga Kaimana. Padahal ketika orang Cina menyetor keSurabaya, harga di Surabaya 4 kali lipat (4 x 150.000/kg)dari harga di Kaimana. Salah satu peserta FGD mengusulkan bahwa jika inginmemberdayakan ekonomi maka komoditas unggulan pala ini bisadijadikan pintu masuk. Yang dikeluhkan mereka adalah padamonopoli pemasaran yang ada di tangan mereka yangdisebutnya dengan “orang Cina”. Disusulkan agar pemerintahmemberdayakan warga lokal melalui dibentuknya koperasi yangberfungsi sebagai pengumpul hasil pala dengan hargatertentu (tinggi) dan atau mempermudah akses transportasi(kapal) untuk mengirimkan sendiri secara terkoordinasihasil pala mereka. Satu lagi yang harus mereka tembusadalah pasar di Surabaya. Salah satu peserta mengatakan,“Jika dorang diberi kesempatan, kita mampu melakukannya”.

24

Page 25: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

K. Kelembagaan Lokal KampungKelembaga lokal kampung yang perananya penting adalah tokohadat, tokoh agama (Bapak Imam/Pendeta), pengurus kampung,pemuda kampung, kelompok ibu-ibu, dan pemuda gereja. Tokohadat, tokoh agama, dan pengurus kampung merupakan tigapilar penting kelembagaan kampung, tidak bisa diurutkanmana yang lebih besar pengaruhnya dari yang lain. Merekamenyebut tiga kelembagaan tersebut dengan “satu tungku tigabatu”. Dalam pandangan masyarakat Kaimana, istilah inimemiliki dua arti; (1) satu Kaimana dengan 3 agama dominanyaitu Islam, Katolik, dan Kristen, (2) satu kampung adatiga lembaga dominan yaitu (tetua) adat, tokoh agama, danpengurus kampung.

Gambar.4 Filosofi Satu Tungku Tiga Batu

Sumber: Hasil FGD di Kabupaten Kaimana, 27 September 2011

Kewenangan dan peran ketiga aktor di atas tampak misalnyadalam kasus tawuran atau masalah pernikahan (dua kasus yangdicontohkan dalam diskusi ). Mereka yang melakukan tawuranbaik dari satu kampung atau lain kampung, akan dibawa dihadapan tokoh adat, diselesaikan secara adat, baru kemdianke tokoh agama. Pengurus kampung tinggal menyetujui apayang sudah diputuskan oleh tetua adat atau agama tersebut.Dalam pratiknya, kewenangan dan peran ketiga aktor tersebut

25

Page 26: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

tidak bisa dipisahkan satu sama lain, terlebih jika peranitu ada di satu orang yang sama atau satu sama lainmemiliki hubungan kekerabatan yang erat. Peran ketiganyahadir dan diakui oleh masyarakat, dan nampak di dalamurusan keseharian mereka. Meskipun relasi ketiga aktortersebut sulit dipisahkan satu sama lain, ada beberapaperan distingtif yang ada, misalkan tetua adat mengurusisoal pelanggaran adat, masalah tapal batas suku, sasi, danperkawinan. Namun menurut salah seorang tokoh agama, sekarang initokoh-tokoh adat tidak terlalu punya banyak pengaruh dimasyarakat seperti di masa lalu. Sekarang ini mereka hanyamemberikan peringatan bahwa adat tidak boleh hilang. Orangsekarang sudah banyak percaya dengan agama, jadi ketentuan-ketentuan adat yang tidak sesuai dengan agama akan hilangdan ditinggalkan masyarakat. Sedangkan ketentuan adat yangsesuai dengan hukum agama masih akan bertahan. Contohnyakawin pakai gulung rokok, sekarang praktik itu sudah tidakada. Dulu orang melahirkan duduk di bangku, tidak minumobat, ditaruh ditempat tertentu, sekarang sudah tidak adakarena sudah ada rumah sakit.8 Pernyataan ini menyiratkanbahwa pada dasarnya antara pemangku adat/tokoh-tokoh adatdengan pemimpin agama terjadi ketegangan-ketegangan nilai,namun seberapa jauh hal itu berbenturan tidak dapatdiketahui. Di masa lalu tata kelola kampung terutama diurus olehmayor, kapitan, jejau, sangaji, orang kaya, sadaska, dansuruhan. Istilah-istilah lokal ini dipakai untuk menyebutseorang kepala kampung. Ia mengurus segala sesuatu yangterkait dengan kampung, hampir semua urusan kampung adalahtanggungjawabnya. Gelar ini mula-mula diberikan oleh SultanTidore. Mereka bertanggungjawab kepada raja Namatota.Kepala kampung ini bisa dikatakan merangkap pula sebagaikepala adat dan tokoh agama. Pengangkatan danpemberhentianya tergantung pada keputusan raja Namatotayang Islam dan merupakan vassal dari kerajaan Tidore.Jabatan itu tidak bisa diturunkan kepada keturunanya.

8 Wawancara dengan Ridwan Lakutani pada 28 September 2011. 26

Page 27: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

Gelar itu adalah pangkat/jabatan seorang pemimpin yangmengurus satu wilayah kampung. Seorang Mayor selain secaraformal adalah kepala kampung, adalah ia yang memilikiotoritas dalam pengertian tradisional, yakni sekaligussebagai orang yang menguasai adat, tetua suku, cakapmemerintah, menguasai pengetahuan tentang magi dan obat-obatan, dan sebagainya. Ia memiliki kewenangan yang tidakterbagi secara distingtif dalam bentuk pembagian kerjasebagaimana dalam kelembagaan modern. Posisi mereka secaraorganis dipilih oleh penganutnya dan pihak kasultanan hanyaberfungsi mengesahkannya. Dengan begitu strukturkelembagaan/kepemimpinan lokal diintegrasikan ke dalamstruktur kelembagaan/kepemimpinan hirarkis dalam KasultananTidore. Faktor migrasi antar pulau di kawasan timur inimenjadi faktor penentu dalam sejarah dan perubahanmasyarakat Kaimana yang bahkan bisa dilihat hinggasekarang. Gelar-gelar di atas dinilai oleh masyarakat sebagai gelarkepala kampung. Istilah itu masih bertahan hingga erakemerdekaan tatkala digantikan dengan istilah “kepalakampung”. Pada tahun 1974, istilah itu kemudian berubahmenjadi “kepala desa” sebagaimana diatur dalam strukturpemerintaha Orde Baru yang merujuk pada pengalaman di Jawa.Hirarki di bawahnya disusul dengan adanya dusun, dan RT-RW.Penduduk mengeluhkan bahwa sekarang dikembalikan lagidengan istilah kampung, namun tuntutan adannya dusun danRT-RW tetap ada yang oleh mereka dirasakan tidak relevan.Ada persoalan luasan geografis, jumlah penduduk, persebaransuku dan komposisi kampung yang tidak dipahami dalamstruktur pemerintahan model formal (Jawa) tersebut. Merekamenjelaskan bahwa ada satu suku yang tersebar di beberapakampung atau kampung berkomposisi beberapa suku. Di dalamkampung tersebut terkadang hanya dihuni oleh 20 keluarga.Jika ini dipecah kembali menjadi dusun atau RT-RW, tentutidak relevan, baik secara komposisi penduduk maupun logisdalam konstruksi pengalaman (historis) dan empiris mereka.Struktur tersebut berada di luar ruang kognisi masyarakat. Salah satu contoh beberapa kampung yang digabung jadi satukarena penduduknya kurang dari 500 KK adalah; (1) Trikora,(2) Kaimana Kota, (3) Marsi (Teluk Etna), (4) Lobo, (5)

27

Page 28: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

Morano, (6) Perumajaya, (7) Nanggrome, (8) Namatota, (9)Adi Jaya, (10) Pulau Adi, (11) Buruwai, (12) Wahoi(Kamrau). L. Tentang Kerajaan Namatota9

Sejak dulu di Kaimana ada dua raja yaitu raja Namatota danraja Komisi namun asal-usul keduanya sulit dilacak. BupatiKaimana terhitung masih kerabat raja Namatota. Om Hayu, OmHasan Ahmad (mantan Bupati) adalah keturunan ke-4, yangmenjadi raja sekarang ini adalah keturunan (generasi) ke-4.Dahulu Raja Namatota memiliki wilayah sangat besar dariKaras di Kabupaten Fakfak sampai di Kapia bagian Okunousa,dari pantai sampai ke gunung. Karena itu Raja Namatotameminta raja Komisi untuk membantunya mengurus wilayahtersebut. Raja komisi diminta untuk mengendalikan “hongi”.Hongi bukan kapal perang tetapi perang sipil yang terjadiantara orang Kaimana/Namatota dengan orang-orang dari luar,dari Baham dan Fak-fak. Bukti-bukti atas peristiwa ‘hongi’tersebut adalah rangka-rangka korban perang tersebutdisimpam di lubang-lubang batu.Raja namatota yang sekarang ini dari (marga) Ombair karenaberhasil mengalahkan marga Sanggai dengan obor api yangmasih menyala dalam air laut (dalam sebuah sayembara, siapayang obirnya masih menyala dialah yang menjadi raja). JadiOmabir ini bukan dari batu atau kayu tapi mereka turun dariawan berupa perempuan yang mereka sebut Boki. Perempuan initurun di tanjung Kumawai kemudian jalan sampai ke Namatotalalu ketemu dengan Sanggai. Raja Komisi dan Raja Namatota hubunganya bukan bawahanatasan melainkan sejajar. Kalau ada keperluan raja akanlangsung menghubungi kepala kampung dan mengumumkan kesemua penduduk misalnya membuat rumah adat, warga akandatang dengan membawa semua peralatan dan perlengkapan yangdibutuhkan. Untuk menghidupi kerajaan tidak pernah ada upaya tertentudaria kerajaan tetapi lebih banyak tergantung pada kebaikanwarga, misalnya seseorang memetik pala 10 biji, maka dia

9 Wawancara dengan Ridwan Lakutani, Kerabat Raja Namatota, pada 28September 2011.

28

Page 29: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

sisihkan 2-3 biji untuk kerajaan. Dulu kerajaan tidakterlalu banyak kebutuhan. Jika kerajaan membutuhkansesuatu, raja akan memberitahukan kepada kepala kampung,kemudian kepala kampung memberitahukan kepada wargakampung. Dalam waktu yang tidak lama, warga kampung akandatang dengan membawa apa yang dibhutuhkan raja tersebut.Semua orang membawa apa yang mereka miliki untuk memenuhikebutuhan raja. Tidak ada sangsi khusus bagi orang yangtidak membawanya, tetapi karena hal tersebut adalah adatmaka orang akan merasa malu sendiri jika tidak membawa apa-apa. Rakyat bisa bertemu dengan raja jika ada perkara-perkarapenting yang tidak bisa diselesaikan oleh kepala kampung.Sejak dulu tidak ada aturan (tertulis maupun tidak) yangmengatur (melarang-membolehkab) soal perkawinan antar suku.Tetapi jelas bahwa tidak ada orang biasa yang kawin dengankeluarga kerajaan. Namun sekarang sudah banyak burubahbanyak kerabat kerajaan yang menikah dengan orang biasa.Dulu orang menikah tidak perlu ke kantor agama cukup denganmembuat sesuatu (gulung rokok oleh tetua adat, laludibakar, laki-laki isap dan diberikan kepada perempuan)yang dibutuhkan dan orang sudah bisa menikah. Pada masa lalu kepala kampung tidak mendapatkan honorapapun dari kerajaan, semua dilakukan berdasarkanketundukan pada raja. Masyarakat kadang membawa apa yangdibutuhkan oleh kerajaan. Masyarakat kadang juga membawaemas dan barang berharga lainya diberikan kepada raja.Tidak ada waktu-waktu tertentu yang ditetapkan untukmembawa barang-barang itu ke kerajaan tetapi menunggukondisi-kondisi kerajaan. Kerajaan Namatota, hingga saat ini, sebenarnya masihmemiliki kedudukan khusus di mata warga meskipunkewibawaanya tidak seperti di masa lalu. Peran-peranpemerintahan yang dahulu dikendalikan oleh kerajaansekarang menjadi tanggungjawab pemerintah. Meskipunkerajaan ini hanya menjadi kekuatan budaya namun keluargakerajaan ini menjadi kelompok kuat di level lokal. Hal initerbukti dari beberapa bupati yang memiliki hubungan dekatdengan keluarga Namatota bahkan merupakan bagian dari

29

Page 30: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

keluarga kerajaan. Artinya, meskipun jumlahnya tidakdominan suku atau marga dari mana raja Namatota berasalmemiliki peran yang dominan dalam pemerintahan dan politiklokal kaimana. Ini berbeda dengan misalnya Mairasi yangmerupakan suku yang paling besar dari segi jumlah, tetapitidak cukup mampu memiliki posisi dominan dalampemerintahan dan politik lokal kaimana.

M. Penutup Menutup laporan ini ada beberapa rekomendasi yang ingindisampaikan. Terkait dengan unit analisis dalam penelitian,alangkah baiknya dilakukan di level kampung, sehingga isu-isu sebagaimana diuraikan di atas dapat tergali secaramendalam dan terfokus. Terlebih ada persoalan otoritas dansekuritas dalam membicarakan sejarah dan asal-usulkampung/suku yang hanya boleh dikemukakan oleh pemilikotoritas yang notabene tinggal di kampung-kampung. Haldemikian mensyaratkan ketersediaan waktu yang cukup longgarselama melakukan penggalian data.

Isu tentang “yang asli” (keaslian) yang hendak ditelaahdalam program ini adalah istilah yang problematis: di satusisi ia diperlukan untuk memberi pengakuan (recognition) ataslokalitas dan indigenous people; namun di sisi lain adapersoalan tentang klaim keaslian oleh berbagai aktor,dimana dan kapan keaslian itu ditunjuk. Hal inimengasumsikan bahwa ada sesuatu yang asli, tidak berubah,bukan hasil konstruksi yang dipengaruhi oleh berbagaiinteraksi, hasil negosiasi atas berbagai kekuatan, disepanjang waktu dan tempat. Kecenderungan ini akan menjebakpada, dalam istilah etnografis, “memprimitifkan”masyarakat, dan bahkan melokalisirnya seakan persoalanlokal-translokal-bahklan global bukanlah kekuatan yangsaling berinteraksi dan dianggap hal baru. Apa yang seringdianggap “asli” tidak lain adalah konstruksi di zamankemudian, atas sesautu di masa lalu hasil dari berbagaikekuatan dan interaksi di atas. Melalui telaah atas sejarahmigrasi sebagaimana uraian di atas didapati bahwakepemimpinan lokal (Mayor, Kapitan, Jejau, dan Sangaji)

30

Page 31: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

yang selama ini dinilai asli adalah hasil konstruksi,kontestasi, dan persinggungan antara masyarakat lokal diabad yang lampau dengan kekuasaan Tidore. KeberadaanKerajaan Namatota dan Kerajaan Komisi yang menjadi vassalKerajaan Tidore mengakibatkan struktur kekuasaan lokal yangsemula tersebar mengikuti satuan kesukuan menjaditersentralisir dan terintegrasi ke dalam struktur kekuasaanpusat (Namatota/Komisi-Todore).

Perlu pemahaman mendalam tentang berbagai interaksi yangterjadi dan membangun kesejarahan dan identitas masyarakatKaimana. Interaksi kesukuan dan antar etnis yang terbentukdalam proses migrasi lokal-kepulauan ini membentukidentitas masyarakat Kaimana saat ini. Etnisitas dankesukuan menjadi modal kekuatan Kaimana jika mampu dikelolasecara baik menuju masyarakat multikultur dan plural. NamunOtonomi Khusus yang diletakkan dalam isu ekonomi politikyang tidak terkelola dengan baik dan dalam amatan sementaraini hanya menjadi kepentingan elit belaka (elite capture)dapat mengakibatkan realitas keragaman itu sebagai ancamanyang mengeras dan bisa menjadi bom waktu bagi masa depanKaimana.

31

Page 32: Laporan Dokumen Sejarah Kampung di Kaimana

32