Top Banner

of 24

Lapora tetap bioetanol

Oct 12, 2015

Download

Documents

Renni Afriyani

kimia
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript

LAPORAN TETAPTEKNOLOGI BIOMASSAPEMBUATAN BIOETANOL DARI TETES TEBU

DISUSUN OLEH : AGUSTIAWAN0610 4041 1381 ANJAR EKO SAPUTRO 0610 4041 1382 NURUL KHOLIDAH 0610 4041 1393 RAMANTA0610 4041 1395 RENI AFRIYANI 0610 4041 1396 ROFFINA0610 4041 1398 SINGGIH EKO PRABOWO0610 4041 1400

KELAS 6 EGA/ Reguler (Pagi)DOSEN PEMBIMBING : Ir. Erlinawati, M.T

JURUSAN TEKNIK KIMA PROGRAM STUDI DIV TEKNIK ENERGI

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA2013PEMBUATAN BIOETANOL DARI TETES TEBU

I. TUJUAN PERCOBAANSetelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa mampu:1. Membuat bioetanol dan mengerti prinsip pembuatan bioetanol2. Menganalisa produk bioetanol dari tetes tebu3. Memanfaatkan biomassa menjadi bioetanol

II. ALAT DAN BAHAN1. Alat yang digunakan Erlenmeyer Gelas kimia Gelas ukur Termometer Corong gelas Labu leher dua Unit distilasi Kertas pH Refraktometer Selang2. Bahan yang digunakan Tetes tebu Fermipan Aquadest Pupuk NPK (Urea)

III. DASAR TEORI3.1 Tetes TebuMolase adalah hasil samping yang berasal dari pembuatan gula tebu (saccharum officinarum L). Tetes tebu berupa cairan kental dan diperoleh dari tahap pemisahan kristal gula. Molase tidak dapat lagi dibentuk menjadi sukrosa namun masih mengandung gula dengan kadar tinggi 50 60%, asam amino dan mineral. Tingginya kandungan gula dalam molase sangat potensial dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol. (Anonim, 2011)Molase masih mengandung kadar gula yang cukup untuk dapat menghasilkan etanol dengan proses fermentasi, biasanya pH molase berkisar antara 5,5 6,5. Molase yang masih mengandung kadar gula 10 18% telah memberikan hasil yang memuaskan dalam pembuatan etanol.Tebu (Saccharum officinarum L) kedudukannya dalam ilmu taksonomi tumbuhan adalah:KlasifikasiKingdom: PlanteaSubkingdom: TracheobiontaSuperdivisi: SpermatophytaDivisi: MagnoliophytaKelas: LiliopsidaSubkelas: CommelinidaeOrdo: PoalesFamili: PoaceaeGenus: SascharumSpesies: Saccharym officinarumSifat fisika dan kimia dari tetes tebuBentuk: Kental, cokelat kehitamanpH: 5,3Titik beku: - 18oCTitik didih: 107 oCSpecific gravity: 1.4Kelarutan dalam air: Sangat larutViskositas: 4,323 cpPanas spesifik: 0,5 kkal/kg oCDensitas: 1,47 gr/mL3.2 BioetanolEtanol merupakan senyawa hidrokarbon dengan gugus Hydroxyl (-OH) dengan 2 atom karbon (C) dengan rumus kimia C2H5OH. Etanol lebih dikenal dengan Etil Alkohol berupa bahan kimia yang diproduksi dari bahan baku tanaman yang mengandung karbohidrat seperti ubi kayu, ubi jalar, sargum, beras, ganyong dan sagu yang kemudian populer dengan nama bioetanol.Bahan baku lainnya adalah tanaman atau buah yang mengandung gula seperti tebu, nira, mangga, nanas, pepaya, anggur, lengkeng dan lainnya. Bahan berserat (selulosa) seperti sampah organik dan jerami padi pun saat ini telah menjadi salah satu alternatif penghasil bioetanol. Namun, dari semua jenis tanaman tersebut tetes tebu merupakan bahan baku yang paling banyak menghasilkan etanol jika diolah.Bioetanol yang mempunyai grade 90-95% biasanya digunakan pada industri, sedangkan bioetanol yang mempunyai grade 95 99% atau disebut alkohol teknis digunakan sebagai campuran untuk miras dan bahan dasar industri farmasi.Sedangkan grade etanol yang dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar kendaraan bermotor harus betul-betul kering dan anhydrous supaya tidak menimbulkan korosi, sehingga etanol harus mempunyai grade tinggi antara 99,6 99,8% (Fuel Grade Ethanol = FGE). Perbedaan besarnya grade akan berpengaruh terhadap konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air.

3.3 Proses Distilasi BioetanolProduksi etanol/bioetanol (alkohol) dengan bahan baku yang mengandung pati atau karbohodrat, dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air.Tabel 1. Konversi Bahan Baku Tanaman yang Mengandung Pati atau Karbohidrat dan Tetes Tebu Menjadi BioetanolBahan BakuKandungan gula dalam bahan baku (kg)Jumlah hasil konversi bioetanol (liter)Perbandingan bahan baku dan bioetanol

JenisKonsumsi

Ubi kayu1000250 300166,66,5 : 1

Ubi jalar1000150 2001258 : 1

Jagung1000600 7002005 : 1

Sagu1000120 1609012 : 1

Tetes tebu10005002504 : 1

Glukosa dapat dibuat dari pati-patian, proses pembuatannya dapat dibedakan berdasarkan zat pembantu yang digunakan, yaitu hidrolisa asam dan hidrolisa enzim. Dalam proses konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) larut air dilakukan dengan penambahan air dan enzym, kemudian dilakukan proses peraguan atau fermentasi gula menjadi etanol dengan menambahkan yeast atau ragi. Reaksi yang terjadi pada proses produksi etanol/bioetanol secara sederhana ditunjukkan pada reaksi 1 dan 2. H2O(C6H10O5)nN C6H12O6.................... (1) Pati Enzyme GlukosaMenurut Gay Lussac, proses fermentasi alkohol ditunjukkan reaksi berikut:(C6H12O6)n2 C2H5OH + 2 CO2........ (2) Glukosa Yeast (ragi) EtanolSecara singkat, teknologi proses produksi etanol/bioetanol dapat dibagi menjadi tiga (3) yaitu persiapan bahan baku, likuifaksi dab sakarifikasi, distilasi dan dehidrasi.a. Persiapan Bahan BakuBahan baku untuk produksi bioetanol bisa didapatkan dari berbagai tanaman, baik yang secara langsung menghasilkan gula sederhana semisal tebu (sugarcane), gandum manis (sweet sarghum) atau yang menghasilkan tepung seperti jagung (corn), singkong (cassava) dan gandum (grain sorghum) di samping bahan lainnya.b. Liquifaksi dan SakarifikasiKandungan karbohidrat berupa tepung atau pati pada bahan baku singkong dikonversi menjadi gula kompleks menggunakan enzyme Alfa Amylase melalui proses pemanasan (pemaukan) pada suhu 90oC (hidrolisis). Pada kondisi ini tepung akan mengalami gelatinasi (mengental seperti jelly). Pada kondisi optimum Enzyme Alfa Amylase bekerja memecahkan struktur tepung secara kimia menjadi gula kompleks (dextrin). Proses liquifaksi selesai ditandai dengan parameter di mana bubur yang diproses berubah menjadi lebih cair seperti sup. Sedangkan proses sakarifikasi (pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana) melibatkan tahapan berikut: Pendinginan bubur sampai mencapai suhu optimum enzyme glukosa amilase bekerja Pengaturan pH optimum enzim Penambahan Enzyme Glukosa Amilase secara tepat dan mempertahankan pH serta suhu pada 60 oC hingga proses sakarifikasi (dilakukan dengan melakukan petesan kadar gula sederhana yang dihasilkan).c. FermentasiPada tahap ini, tepung telah berubah menjadi gula sederhana (glukosa dan sebagian fruktosa) dengan kadar gula berkisar antara 5 hingga 12 %. Tahapan selanjutnya adalah mencampurkan ragi (yeast) pada cairan bahan baku tersebut dan mendiamkannya dalam wadah tertutup (fermentor) pada kisaran suhu optimum 27 s/d 32 oC selama kurun waktu 5 hingga 7 hari (fermentasi secara anaerob). Keseluruhan proses membutuhkan ketelitian agar proses fermentasi bahan baku tidak terkontaminasi oleh mikroba lainnya. Dengan kata lain, sejak proses persiapan bahan baku, liquifaksi dan sakarifikasi hingga fermentasi harus pada kondisi bebas kontaminan. Selama proses fermentasi akan menghasilkan cairan etanol/alkohol dan CO2.Hasil dari fermentasi berupa cairan mengandung alkohol/etanol berkadar rendah antara 7 hingga 10% (biasa disebut cairan beer). Pada kadar etanol max.10% ragi menjadi tidak aktif lagi karena kelebihan alkohol akan berakibat racun bagi ragi itu sendiri dan mematikan aktifitasnya.d. DistilasiDistilasi atau penyulingan dilakukan untuk memisahkan alkohol dalam cairan beer hasil fermentasi. Dalam proses distilasi, pada suhu 78 oC (setara dengan titik didih alkohol) etanol akan menguap lebih dulu ketimbang air yang bertitik didih 100 oC. Kegiatan penyulingan etanol merupakan bagian terpenting dari keseluruhan proses produksi bioetanol.Penyulingan etanol dapat dilakukan dengan 2 cara:1. Penyulingan dengan teknik dan distilator tradisional (konvensional). Dengan cara ini kadar etanol yang dihasilkan hanya berkisar antara 20 s/d 30%2. Penyulingan dengan teknik dan distilator modern kolom bertingkat (reflux). Dengan cara ini kadar etanol yang dihasilkan mampu mencapai 60 90% melalui 2 tahapan penyulingan.e. DehidrasiHasil penyulingan berupa etanol berkadar 95% belum dapat larut dalam bahan bakar bensin. Untuk substitusi BBM diperlukan etanol berkadar 99,6 99,8% atau disebut etanol kering. Untuk pemurnian etanol 95% diperlukan proses dehidrasi (distilasi absorben) menggunakan beberapa cara, antara lain:1. Cara kimia dengan menggunakan batu gamping2. Cara fisika dengan proses penyerapan menggunakan zeolit sintesis.Hasil dehidrasi berupa etanol berkadar 99,6 99,8% sehingga dapat dikategorikan sebagai Fuel Grade Ethanol (FGE).

IV. PROSEDUR PERCOBAAN4.1 Persiapan Sampela. Menyiapkan sampel tetes tebu atau molase. - Kadar gula yang diinginkan pada tetes tebu/molase < 14 %Melarutkan 28 Kg (22,5 L) molase dengan 72 liter air, memasukkan ke dalam fermentor. (Total larutan 94,5 liter)ataugula pasir sebanyak 1 kg dilarutkan dalam 7,1 liter air.

b. Penambahan Urea dan NPKUrea dan NPK berfungsi sebagai nutrisi ragi.- Urea sebanyak 0,5 % dari kadar gula dalam larutan fermentasi (70 gr Urea untuk 94,5 liter larutan)- NPK sebanyak 0,1 % dari kadar gula dalam larutan fermentasi (14 gr Urea untuk 94,5 liter larutan)

a. Penambahan RagiBahan aktif ragi roti adalah Saccharomyces Cereviseae yang dapat memfermentasi gula menjadi etanol.- Ragi roti 0,2 % dari kadar gula (28 gr ragi roti diberi air hangat-hangat kuku secukupnya lalu diaduk perlahan hingga tampak berbusa)

4.2 Proses FermentasiProses pembuatan bioetanol menggunakan bahan baku tetes tebu berbeda dengan pembuatan bioetanol menggunakan ubi kayu maupun sekam padi yang memerlukan perisapan bahan baku dan proses liquifaksi dan sakarifikasi melainkan lengsung masuk ke proses fermentasi. Proses fermentasi dilakukan dengan melalui tahapan-tahapan yaitu :a. Memasukkan sampel tetes tebu/molase, urea, NPK, dan ragi ke dalam fermentor kemudian menutup rapat. Fermentor dihubungkan dengan penampung yang diisi NaOH untuk menangkap gas CO2b. Pada proses fermentasi akan timbul gelembung-gelembung udara, ini adalah gas CO2 yang dihasilkan selama proses fermentasi.c. Selama proses fermentasi mengusahakan suhu tidak melebihi 36oC dan pH = 4,5 -5 selama 66 jam = 2,5 harid. Tanda fermentasi selesai adalah tidak terlihat lagi adanya gelembung-gelembung udara. Kadar etanol dalam cairan fermentasi 7-10 %

4.3 Proses DistilasiHasil dari proses fermentasi berupa cairan bioetanol berkadar 7-10% tersebut didistilasiuntuk mendapatkan bioetanol berkadar diatas 90%. Proses distilasi tersebut dilakukan melalui tahap-tahap yaitu:a. Menyaring cairan dari bioetanol yang telah difermentasib. Mencatat volume cairan bioetanol tersebutc. Menyiapkan seperangkat unit distilasid. Masukkan cairan hasil fermentasi kedalam distilator. Suhu dipertahankan 79C - 81C. Pada suhu ini etanol sudah menguap, tetapi air tidak menguap.e. Mengamati dan mencatat suhu tetesan pertama distilatf. Pada distilasi ini didapat etanol dengan kadar < 95 %. Bila kadar < 95 % maka distilasi perlu diulangi lagi ( reflux ) hingga kadar etanol = 95 %g. Bila kadar etanol = 95 %, lakukan proses dehidrasi atau penghilangan H2O. Dengan penambahan kapur tohor atau zeolit sintesis dan didiamkan selama 1 hari.h. Kemudian distilasi lagi hingga kadar etanol = 99,5 %i. Setelah distilasi selesai, mencatat volume distilat (bioetanol)

4.4 Analisa BioetanolSetelah dilakukan proses distilasi dan didapatkan bioetanol yang berkadar sekitar 90% selanjutnya bioetanol tersebut harus dianalisa. Analisa tersebut berupa pngukuran pH dan pengukuran indeks bias.a. Pengukuran pH1. Mempersiapkan bioetanol dan kertas pH2. Mencelupkan kertas pH kedalam cairan bioetanol3. Mencocokkan warna pH yang didapat dengan parameter pH4. Mencatat harga pH

b. Pengukuran Indeks Bias1. Mempersiapkan bioetanol dan alat refraktometer2. Meneteskan sampel (bioetanol) ke alat refraktometer3. Melakukan pengukuran dan mencatat nilai indeks biasnya

V. DATA PENGAMATAN5.1 Data Berat SampelSampelBerat (kg)

Berat galon kosongBerat galon + SampelBerat galon + Sampel setelah pemanasanBerat sampel setelah distilasiBerat distilat

Tetes Tebu0.52.6172.586.80.297

Air Gula0.51.6581.645.20.306

5.2 Data Volume SampelSampelVolume (Liter)

Volume sampel sebelum fermentasiVolume sampel setelah fermentasiVolume sampel yang di distilasiVolume distilat

Tetes Tebu21.9850.30.0095

Air Gula10.9950.30.007

5.3 FermentasiBahanSifat Fisik

WarnaBauBeratHarga

SebelumSesudahSebelumSesudahSebelumSesudah

Tetes TebuKuning keruhKuning keruhBerbauMenyengatCairanCairanRp 17.000

GulaPutihPutihTidakMenyengatPadatanCairanRp 13.000

UreaPutihPutihBerbauTidakPadatanPadatan Terlarut

NPKBiruBiruTidakTidakPadatanPadatan Terlarut

Ragi RotiKuningKuningBerbauBerbauPadatanPadatan TerlarutRp 2.000

5.4 DistilasiSampelSifat Fisik

WarnaBauBentuk

SebelumSesudahSebelumSesudahSebelumSesudah

Tetes TebuKuningBeningMenyengatBerrbauCairanCairan

Air GulaPutihBeningMenyengatBerbauCairanCairan

5.5 Analisa BioetanolSampelAnalisa

pHIndeks BiasDensity (gr/mL)Suhu (C)

SebelumSesudahSebelumSesudahSebelumSesudah

Tetes Tebu341.3331.3580.80.7185

Larutan Gula231.3351.3541.20.7486

VI. PERHITUNGAN6.1 Menghitung fermentor tetes tebuCO2 = gr

V= 2000 mL FERMENTOR V= ml m = 2117 gr m= gr

Urea = 1.48 gr NPK = 0.29 gr Ragi = 0.59 gr Blok diagram Sebelum Fermentasi

Diketahui indeks bias hasil fermentasi 1.333 dengan volume 1980 mL dan massa 2080 gr

Dari grafik di atas dapat dihitung % alcohol dan % airAlkohol hasil fermentasi = 9.5% x 2080 gr = 197.6 grAir hasil fermentasi = 90.5% x 2080 gr = 1882.4 grMassa CO2 = 2119.36 gr (197.6 + 1882.4) gr = 2119 gr 2080 gr = 39.36 gr

Tabel Neraca MassaKomponenInput (gr)Output (gr)

Tetes Tebu2117-

Ragi0.59-

NPK0.29-

Urea1.48-

CO2-39.36

Alkohol-197.6

Air-1882.4

Total2119.362119.36

CO2 = 39.36 gr V= 2000 mL FERMENTOR V= 1980 mL m = 2117 gr m = 2080 gralkohol = 197.6 gr air = 1882.4 grindeks bias = 1.333Urea = 1.48 gr NPK = 0.29 gr Ragi = 0.59 gr Blok Diagram Setelah Fermentasi

6.2 Meghitung Distilator Tetes Tebu Top ProdukV = mLm = gr = gr/mL

DISTILATOR

V = 300 mLm = 297 gr = 0.99 gr/mLindeks bias = 1.333

BottomV = mLm = gr = gr/mL Blok Diagram Sebelum Distilasi

Dari grafik di atas dapat ditentukan % alcohol dan % air bagian A Alkohol = 9.5% x 297 gr = 28.215 gr Air= 90.5% x 297 gr = 268.78 gr

Pada bagian B diketahui volume distilat 9.5 ml dengan massa 6.8 gr dan indeks bias 1.358, jadi dari grafik etanol dapat ditentukan % alcohol dan % air bagian B Alkohol= 86.4% x 6.8 gr = 5.8752 gr Air= 13.6% x 6.8 gr = 0.9248 gr

Top ProdukV = 9.5 mLm = 6.8 gr = 0.71 gr/mLindeks bias = 1.358alcohol = 86.4% air = 13.6%

DISTILATOR

V = 300 mLm = 297 gr = 0.99 gr/mLindeks bias = 1.333alcohol = 9.5% air = 90.5%

BottomV = mLm = gr = gr/mLm = gr = gr/mL Blok Diagram Setelah Distilasi

Pada bagian C diketahui volume sisa (bottom) yaitu (300-9.5) mL = 290.5 mL dengan massa 290.195 gr. Jadi dapat dihitung % alcohol dan % air dengan menggunakan neraca seperti dibawah ini : Neraca alcohol= % alcohol x a = % alcohol x b + % alcohol x c 9.5% x 297 = 86.4% x 6.8 + %alkohol x 287.595 28.215 = 5.87552 + 287.595 % alcohol % alcohol = 7.76 x 287.595 gr = 22.31 grNeraca Air = % air x a = % air x b + % air x c 90.5% x 297 = 13.6% x 6.8 + % air x 287.595 268.78 = 0.9248 + 287.595 % aia % air = 92.24 x 287.595 gr = 265.27 gr

Tabel Neraca Massa Distilator Tetes TebuKomponenInput (gr)Output (gr)

Top produkBottom

Alkohol28.2156.8-

Air268.78-290.2

Subtotal2976.8290.2

Total297297

V = 9.5 mLm = 6.8 gr = 0.71 gr/mLindeks bias = 1.358alcohol = 86.4% = 5.8752 grair = 13.6% = 0.9 gr

DISTILATOR

V = 300 mLm = 297 gr = 0.99 gr/mLindeks bias = 1.333alcohol = 9.5% = 28.2 grair = 90.5% = 268.78 gr

V = 290.5 mLm = 287.595 gr = 0.99 gr/mLindeks bias = 1.333alcohol = 7.76% = 22.31 grair = 92.24% = 265.24 gr Blok Diagram Proses Distilasi

6.3 Menghitung fermentor larutan gulaCO2 = gr

V= 1000 mL FERMENTOR V= ml m = 1158 gr m= gr

Urea = 0.74 gr NPK = 0.148 gr Ragi = 0.296 gr Blok diagram Sebelum Fermentasi

Diketahui indeks bias hasil fermentasi 1.335 dengan volume 995 mL dan massa 1140 gr

Dari grafik di atas dapat dihitung % alcohol dan % air Alkohol hasil fermentasi = 19.2% x 1140 gr = 218.88 gr Air hasil fermentasi= 80.8% x 1140 gr = 921.12 gr Massa CO2 = 1159.184 gr (921.12 + 218.88) gr = 1159.184gr 1140 gr = 19.184 gr

Tabel Neraca MassaKomponenInput (gr)Output (gr)

Larutan Gula1158-

Ragi0.296-

NPK0.148-

Urea0.74-

CO2-19.184

Alkohol-218.88

Air-921.12

Total1159.1841159.184

CO2 = 19.184 gr V= 1000 mL FERMENTOR V= 995 mL m = 1158 gr m = 1140 gralkohol = 218.88 gr air = 921.12 grindeks bias = 1.335Urea = 0.74 gr NPK = 0.148 gr Ragi = 0.296 gr Blok Diagram Setelah Fermentasi

6.4 Meghitung Distilator Larutan Gula Top ProdukV = mLm = gr = gr/mL

DISTILATOR

V = 300 mLm = 306 gr = 1.02 gr/mLindeks bias = 1.335

BottomV = mLm = gr = gr/mL Blok Diagram Sebelum Distilasi

Dari grafik di atas dapat ditentukan % alcohol dan % air bagian A Alcohol = 19.2% x 306 gr = 58.75 gr Air= 80.8% x 306 gr = 247.25 gr

Pada bagian B diketahui volume distilat 7 ml dengan massa 5.2 gr dan indeks bias 1.354, jadi dari grafik etanol dapat ditentukan % alcohol dan % air bagian B Alkohol= 76.8% x 5.2 gr = 3.99 gr Air= 23.2% x 5.2 gr = 120.64 grTop ProdukV = 7 mLm = 5.2 gr = 0.74 gr/mLindeks bias = 1.354alcohol = 76.8% air = 23.2%

DISTILATOR

V = 300 mLm = 306 gr = 1.02 gr/mLindeks bias = 1.335alcohol = 19.2% air = 80.8%

BottomV = mLm = gr = gr/mLm = gr = gr/mL Blok Diagram Setelah Distilasi

Pada bagian C diketahui volume sisa (bottom) yaitu (300-7) mL = 293 mL dengan massa 298.86 gr. Jadi dapat dihitung % alcohol dan % air dengan menggunakan neraca seperti dibawah ini : Neraca alcohol= % alcohol x a = % alcohol x b + % alcohol x c 19.2% x 306 = 76.78% x 5.2 + %alkohol x 298.86 58.75 = 3.99 + 298.86 % alcohol % alcohol = 18.32 x 298.86 gr = 54.75 grNeraca Air = % air x a = % air x b + % air x c 80.8% x 306 = 23.2% x 5.2 + % air x 298.86 247.248 = 1.2064 + 298.86 % air % air = 81.68 x 298.86 gr = 244.10 gr

Tabel Neraca Massa Distilator Larutan GulaKomponenInput (gr)Output (gr)

Top produkBottom

Alkohol58.755.2-

Air247.25-300.8

Subtotal3065.2300.8

Total306306

Top ProdukV = 7 mLm = 5.2 gr = 0.74 gr/mLindeks bias = 1.354alcohol = 76.8% air = 23.2% DISTILATORV = 300 mLm = 306 gr = 1.02 gr/mLindeks bias = 1.335alcohol = 19.2% air = 80.8%

V = 293 mLm = 298.86gr = 1.02 gr/mLindeks bias = 1.335alcohol = 18.32% air = 81.68% Blok Diagram Proses Distilasi

6.5 Neraca Ekonomi BioetanolBerdasarkan literature diketahui harga 1 liter etanol 96% = Rp 27.500 sedangkan bioetanol yang berasal dari tetes tebu Rp 432.800/liter dan bioetanol dari air gula Rp 94.268/liter. Jadi hasilnya : Bioetanol tetes tebu = 0.0095 liter x Rp 432.800/liter = Rp 4111.6 Bioetanol air gula = 0.007 liter x Rp 94.268/liter = Rp 659.876

7 ANALISA PERCOBAANDari percobaan yang telah dilakukan dapat dianalisa bahwa percobaan kali ini ialah pembuatan bioetanol dari tetes tebu dan juga gula. Tetets tebu merupakan biomassa dan diukur kadar etanolnya. Dalam pembuatannya, tetes tebu difermentasi dengan bantuan ragi roti dengan cara fermentasi anaerob. Dimana fermentasi ini tidak dapat oksigen pada fermentor sehingga jamur dan ragi roti dapat berkembang dengan baik. Setelah itu, perlu adanya penambahan urea dan NPK yang bertujuan sebagai makanan atau nutrisi bagi ragi untuk berkembang. Ragi roti ini dipakai untuk memfermentasi gula menjadi etanol yang terlebih dahulu diperlakukan dengan melarutkannya dalam air hangat lalu diaduk dan dimasukkan ke fermentor yang selanjutnya dilakukan pengadukan lagi. Kemudian dilakukan fermentasi selama 7-14 hari dalam keadaan anerob yang temperaturnya dijaga pada suhu 27-32C jangan sampai melebihi 36C karena akan merusak ragi roti.Setelah 7-14 hari, hasil dari fermentasi harus dimurnikan terlebih dahulu dengan cara dilakukan penyaringan lalu distilasi. Namun, sebelumnya dilakukan pengamatan kadar pH dan indeks biasnya untuk dilihat sifat fisik dan kimianya dari hasil yang telah difermentasi yaitu bioetanol. Dari pengamatan didapatkan pH tetes tebu lebih tinggi dari pH larutan gula. Hal ini disebabkan fermentasi pada tetes tebu lebih baik dari larutan gula. Selain itu, pada indeks biasnya untuk mengukur kemurnian suatu larutan, dimana larutan gula lebih tinggi indeks biasnya dibandingkan dengan larutan tetes tebu. Hal ini menandakan bahwa larutan gula lebih murni dari larutan tetes tebu.Setelah menganalisa indeks bias dan kadar pHnya lalu dilakukan destilasi dengan volume destilat larutan tetes tebu ialah 2,080 kg sedangkan larutan gula ialah sebebsar 1,140 kg. dimana pada tetesan pertama tetes tebu pada temperature 85C dan larutan gula pada temperature 86C. Seetelah itu, dilakukan analisa Ph dan indeks biasnya. Untuk melihat keekonomisan dari produk yang dibuat maka dilakukan pengamatan neraca ekonomi dimana didapatkan hasil destilat yang tidak ekonomis karena hasil yang didapatkan hanya sedikit dengan kadar etanol yang rendah sehingga kurang baik untuk digunakan.

8 KESIMPULANDari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut:1. Proses dan biaya produksi bioetanol tergolong kurang ekonomis2. Bioetanol yang dihasilkan memiliki kadar 86,4% (tetes tebu)3. Bioetanol yang dihasilkan memiliki kadar 76,8% (gula)

DAFTAR PUSTAKA

Jobsheet, 2013. Petunjuk Praktikum Teknologi Biomassa. Palembang: Polsri

GAMBAR PENGAMATAN

Proses fermentasi tetes tebu dan air gula

Proses Distilasi tetes tebu dan air gula Uji nilai pH Analisa Indeks Bias