Top Banner

of 46

Lampiran Percobaan II Titrasi Potensiometri Asam Amino

Mar 02, 2016

Download

Documents

Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript

PERCOBAAN II

Judul : Titrasi Potensiometri Asam AminoTujuan :Untuk mempelajari reaksi-reaksi asam amino dengan ion-ion hidrogenHari / Tanggal : Rabu / 21 Maret 2012Tempat : Laboratorium kimia FKIP Unlam Banjarmasin

I. DASAR TEORI A. Titrasi PotensiometriPotensiometri merupakan salah satu cara pemeriksaan fisikokimia yang menggunakan peralatan listrik untuk mengukur potensial elektroda indikator. Besarnya potensial elektroda indikator ini bergantung pada kepekatan ion-ion tertentu dalam larutan. Elektroda indikator untuk pengukuran potensiometri terdiri atas dua jenis, yaitu elektroda indikator logam dan elektroda indikator selaput. Elektroda indikator selaput disebut juga sebagai elektroda selektif-ion atau elektroda khas-ion.Titrasi adalah analisis dengan mengukur jumlah larutan yang diperlukan untuk bereaksi tepat sama dengan larutan lain. Titrasi ini digunakan pada reaksi netralisasi asam dengan basa pada titik ekivalen (sama tepat atau sesuai). (Irfan Anshory, 1987). Cara titrasi yaitu dengan menambahkan setetes demi setetes larutan basa kepada larutan asam. Setiap basa yang diteteskan bereaksi dengan asam dan penetesan dihentikan pada saat jumlah mol H+ setara dengan jumlah mol OH-. Pada saat itulah, larutan bersifat netral dan disebut titik ekivalen tadi. (Hiskia Ahmad, 1991). Kurva titrasi dapat menunjukkan hubungan antara pH larutan dengan volume titran. Kurva ini dapat dibuat secara teoritis dengan menghitung pH larutan asam pada :1. Titik awal sebelum penambahan2. Titik-titik setelah ditambahkan basa sehingga larutan mengandung garam yang terbentuk dan kelebihan asam3. Titik ekivalen, yaitu saat larutan mengandung garam tanpa ada kelebihan asam atau basa4. Daerah lewat ekivalen, yaitu larutan mengandung garam dan kelebihan basa.(Hiskia Achmad, 1991).

B. Sifat Asam dan Basa Asam AminoAsam amino ialah asam karboksilat yang mempunyai gugus amino. Asam amino yang terdapat sebagai komponen protein mempunyai gugus NH2 pada atom karbon dari posisis gugus COOH. Rumus umum untuk asam amino ialah

Asam amino mempunyai momen dipol yang besar. Asam amino biasa merupakan senyawa yang agak sederhana, dan sintesis campuran rasemik kemudian dapat dipisahkan untuk menghasilkan asam amino enantiomer murni.Asam-asam amino yang terdapat dalam protein adalah asam -aminokarboksilat. Asam amino yang tersederhana adalah asam aminoasetat yang disebut glisina, yang tidak memiliki rantai samping dan karena itu tidak mengandung satu karbon kiral. Asam amino tidak selalu bersifat seperti senyawa organik. Asam amino kurang bersifat asam dibandingkan sebagian besar asam karboksilat dan kurang basa dibandingkan sebagian besar amina sebab asam amino mempunyai gugus karboksilat yang bersifat asam dan satu gugus amino yang bersifat basa.Asam amino yang lazim terdapat dalam protein antara lain alanin, glisin, lisin, asam aspartat, arginin, asparagin, sistein, asam glutamat, glutamin, histidin, isoleusin, leusin, metionina, fenilalanin, prolin, serin, treonin, triptofan, tirosin dan valin. Berikut beberapa macam asam amino yang digunakan pada percobaan, yaitu :1. AlaninAlanin merupakan asam amino yang gugus R nya nonpolar, atau disebut juga asam amino hidrofobik. Alanin mempunyai gugus R alifatik CH3. rumus strukturnya adalah:

Alanin merupakan asam amino diprotik yang dapat melepaskan proton dari gugus amino dan karboksilatnya. Bagian dari alanin yang bersifat nonpolar adalah gugus R-nya saja, struktur secara keseluruhan menunjukkan bahwa alanin larut dalam air. Di dalam air alanin membentuk zwiter ion. Alanin merupakan ion dipolar, yang dapat bersifat sebagai suatu asam (donor proton) atau sebagai basa (akseptor proton).2. Glisin Glisina (Gly) atau asam aminoetanoat adalah asam amino alami paling sederhana. Rumus kimianya C2H5NO2. Asam amino ini bagi manusia bukan merupakan asam amino esensial karena tubuh manusia dapat mencukupi kebutuhannya. Glisina merupakan satu-satunya asam amino yang tidak memiliki isomer optik karena gugus residu yang terikat pada atom karbon alpha adalah atom hidrogen sehingga terjadi simetri. Jadi, tidak ada L-glisin atau D-glisin.Glisina merupakan asam amino yang mudah menyesuaikan diri dengan berbagai situasi karena strukturnya sederhana. Glisina adalah satu-satunya asam amino internal pada heliks kolagen, suatu protein struktural. Pada sejumlah protein penting tertentu, misalnya sitokrom c, mioglobin, dan hemoglobin, glisina selalu berada pada posisi yang sama sepanjang evolusi (terkonservasi). Penggantian glisina dengan asam amino lain akan merusak struktur dan membuat protein tidak berfungsi dengan normal. Tubuh manusia memproduksi glisina dalam jumlah mencukupi. Glisina berperan dalam sistem saraf sebagai inhibitor neurotransmiter pada sistem saraf pusat (CNS).Pada umumnya asam amino larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organik non polar seperti eter, aseton dan kloroform. Sifat asam amino ini berbeda dengan asam karboksilat maupun dengan sifat amina. Asam karboksilat alifatik maupun aromatik yang terdiri atas beberapa atom karbon umumnya kurang larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik. Demikian pula amina pada umumnya tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik.Karena protein tersusun oleh asam-asam amino, maka protein mempunyai sifat mirip dengan asam-asam amino. Protein merupakan suatu koloid elektrolit yang bersifat amfoter. Dengan sifat ini protein dapat bersifat asam maupun basa. Sifat amfoter ini, tergantung jumlah gugus NH2 dari amina dan COOH dari asam. Dalam bentuk netral senyawa ini berbentuk dua kutub ion (zwizter ion). Pada keadaan dua kutub ion ini, disebut titik isoelektrik.

Rumus ion dipolar asam amino

Pada keadaan titik isoelektrik ini jumlah muatan positif dan negatif sama. Dengan menambahkan asam (menurunkan pH di bawah titik isoelektrik) membuat sifat protein bertindak sebagai basa, sedangkan pada penambahan basa, protein menjadi asam. Titik isoelektrik ini berguna untuk memisahkan asam-asam amino penyusun protein karena setiap asam amino mempunyai titik isoelektrik (pI) yang berlainan. Sebagai contoh pada pH di atas isoelektrik protein berada dalam bentuk ion negatif mampu bereaksi dengan suatu kation sedang pada pH di bawah titik isoelektrik (berbentuk muatan positif) protein mampu mengikat ion.Apabila asam amino larut dalam air, gugus karboksilat akan melepaskan ion H+, sedangkan gugus amina akan menerima ion H+, sebagaimana dituliskan dibawah ini.

-COOH -COO- + H+-NH2 + H+ - NH3+

Oleh adanya kedua gugus tersebut asam amino dalam larutan dapat membentuk ion yang bermuatan positif dan juga bermuatan negatif (zwitter ion) atau ion amfoter. Keadaan ion ini sangat tergantung pada pH larutan. Apabila larutan asam amino dalam air ditambah dengan basa, maka asam amino akan terdapat dalam bentuk anion karena konsentrasi ion OH- yang tinggi mampu mengikat ion-ion H+ yang terdapat pada gugus NH3+. Sebaliknya apabila ditambahkan asam ke dalam larutan asam amino, maka konsentrasi ion H+ yang tinggi mampu berikatan dengan ion COO-, sehingga terbentuk gugus COOH. Dengan demikian asam amino terdapat dalam bentuk kation.Dalam basa :

Suatu anion

Dalam asam :

Suatu kation

Karena terjadinya muatan ion, suatu asam amino mempunyai banyak sifat garam. pKa asam amino bukan berasal dari gugus CO2H, melainkan dari gugus NH3+ dan pKb bukan dari gugus amino yang bersifat basa, melainkan dari gugus CO2- yang bersifat basa sangat lemah.Larutan berair dari asam amino netral bersifat agak masam karena keasaman gugus NH3+ lebih kuat daripada kebasaan gugus COO-. Akibat perbedaan dalam keasaman dan kebasaan ini adalah bahwa suatu larutan berair alanin mengandung lebih banyak anion asam amino daripada kation. Dapat dikatakan bahwa alanin mengemban muatan negatif netto dalam larutan berair.

Reaksi Alanin dalam Air

Jadi sedikit HCl atau asam lain ditambahkan ke dalam larutan alanin, kesetimbangan asam-basa bergeser sedemikian rupa sehingga muatan netto pada ion alanin menjadi nol. Pada pH dimana suatu asam tidak mengembang muatan ion netto didefinisikan sebagai titik isolistrik dari asam amino tersebut. Titik isolistrik alanin adalah 6,02, sedangkan glisin adalah 5,97. Semua asam amino adalah amfoter yaitu mempunyai paling sedikit satu gugusan karboksil dan satu gugusan asam amino. Gugusan-gugusan yang mudah mengion pada asam-asam amino yang dapat dijumpai selain gugusan karboksil dan gugusan asam amino adalah gugusan p-hidroksifenil, sulfidril, guanin, dan imidazol. Dalam eksperimen ini akan dipelajari reaksi-reaksi asam amino dengan ion-ion hidrogen.Adanya berbagai gugus fungsional (NH2, NH, OH, CO) dan bentuk ion ganda (switzer ion) yang terdapat dalam struktur protein dapat menyebabkan terjadinya reaksi pengendapan protein. Gugus fungsional tersebut mampu mengikat molekul air melalui pembentukan ikatan hidrogen. Reaksi pengendapan dapat terjadi karena penambahan bahan-bahan kimia seperti garam-garam dan pelarut organik yang dapat merubah sifat kelarutan protein dalam air.

II. ALAT DAN BAHANAlat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :1. Gelas ukur 50 mL 4 buah2. Pipet tetes2 buah3. Batang pengaduk 1 buah4. pH meter 1 buah5. Botol pencuci1 buah

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :1. Serbuk asam amino : alanin dan glisin2. NaOH 2 N3. H2SO4 2 N4. Aquades

III. PROSEDUR KERJASebelumnya praktikan harus memahami cara-cara bekerja dengan pH meter yang akan dipakai. Sesudah ini, melarutkan 400 mg asam amino netral (monoamino dan monokarboksilat) seperti glisin dalam 40 mL aquades. Dengan menggunakan pH meter, buret dan pengaduk magnetik (apabila ada) maka menitrasi larutan asam amino tersebut dengan H2SO4 2 N. Mencatat tiap-tiap penambahan dan juga perubahan pH yang terjadi. Meneruskan titrasi sampai tercapai pH 1,2. Kemudian melarutkan 400 mg asam amino yang sama ke dalam 40 mL aquades. Sekarang menitrasi larutan ini dengan NaOH 2 N dan mencatat seperti percobaan di atas sampai tercapai pH 12,0. Mengulangi lagi eksperimen di atas dengan alanin.Pada percobaan ini perlu melakukan titrasi pelarut (aquades) sebagai blanko dan ini melakukan seperti pada percobaan-percobaan di atas. Dengan demikian dapat melakukan koreksi-koreksi sehingga dapat diketahui berapa banyak H2SO4 dan NaOH yang sebenarnya dipakai oleh asam amino yang diselidiki.

IV. HASIL PENGAMATANSuasana AsamA. Titrasi Akuades (blanko) dengan H2SO4 2 NNoH2SO4 2 N (tetes)pH

123456789Awal (akuades)1238141926277,22,11,91,71,61,51,41,31,2

B. Titrasi Alanin dengan H2SO4 2 NNoH2SO4 2 N (tetes)pH

12345678910111213141516171819202122232425Awal (alanin)123567810121416202327303236394348546273905,93,63,43,33,23,13,02,92,82,72,62,52,42,32,22,12,01,91,81,71,61,51,41,31,2

C. Titrasi Glisin dengan H2SO4 2 NNoH2SO4 2 N (tetes)pH

1234567891011121314151617181920212223242526Awal (glisin)1234567911121315182023273034384248556373835,63,83,63,43,33,23,13,02,92,82,72,62,52,42,32,22,12,01,91,81,71,61,51,41,31,2

Suasana BasaD. Titrasi Akuades (blanko) dengan NaOH 2 NNoNaOH 2 N (tetes)pH

12Awal (akuades)17,012,3

E. Titrasi Alanin dengan NaOH 2 NNoNaOH 2 NpH

12345678910111213141516171819202122232425262728Awal (alanin)12345678101214151622272931343741424344454648507,29,19,49,69,79,89,910,010,110,210,310,410,510,610,710,810,911,011,111,211,311,411,511,611,711,811,912,0

F. Titrasi Glisin dengan NaOH 2 NNoNaOH 2 N (tetes)pH

1234567891011121314151617181920212223242526Awal (glisin)1234567911131517192124283032353840424446477,59,09,39,79,89,910,010,110,210,310,410,510,610,710,810,911,011,111,211,311,411,511,611,711,912,0

V. ANALISIS DATAPada percobaan ini dilakukan titrasi potensiometri pada sampel asam amino alanin, dan glisin, serta dilakukan pula titrasi pada akuades (blanko) sebagai pembanding. Dalam proses titrasi ini, sampel akan dititrasi dengan dua pereaksi yaitu asam dengan menggunakan H2SO4 2 N dan basa dengan menggunakan NaOH 2 N.a. Titrasi AlaninPada percobaan ini, menitrasi alanin dengan H2SO4 2 N dan NaOH 2N. Larutan alanin membentuk ion amfoter atau zwitter ion atau ion dipolar, dengan strukturnya :

Gambar 4. Struktur Zwitter Ion AlaninTerbentuknya zwitter ion pada alanin karena alanin memiliki gugus karboksilat (-COOH) dan gugus amina (-NH2), yang apabila dalam larutan dapat membentuk ion karboksilat (-COO-) dan ion amonium (-NH3+) dengan cara melepaskan proton dari masing-masing gugus. Karenanya alanin bersifat amfoter, yakni dapat bereaksi dengan asam ataupun dengan basa. Keadaan alanin dalam bentuk ion ini yaitu dalam bentuk larutan alanin sebelum dititrasi dengan H2SO4 2 pH nya adalah 5,9 dan sebelum dititrasi dengan NaOH 2 N pH nya adalah 7,2 .Oleh karena itu, ketika larutan alanin dititrasi dengan asam sulfat maka dapat membentuk suatu kation, sedangkan ketika larutan alanin dititrasi dengan NaOH maka dapat menghasilkan suatu anion, dengan persamaan reaksi seperti berikut ini :Alanin dalam asam :

Alanin dalam basa :

Larutan alanin yang ditambahi dengan H2SO4 akan mengakibatkan konsentrasi ion H+ yang tinggi sehingga mampu berikatan dengan ion COO-, dan terbentuk gugus COOH dan dengan demikian alanin terdapat dalam bentuk kationnya. Dalam hal ini alanin berperan sebagai basa Bronsted Lowry yaitu ion yang mampu menerima proton (H+). Sedangkan alanin yang ditambahkan dengan basa, NaOH, maka akan terdapat dalam bentuk anionnya karena ion OH- yang tinggi mampu mengikat ion-ion H+ yang terdapat pada gugus NH3+, membentuk gugus - NH2 dan H2O. Dalam hal ini alanin berperan sebagai asam Bronsted Lowry yaitu ion yang mampu memberikan proton (H+).Namun, asam amino alanin yang tergolong asam amino netral tidak bersifat betul-betul netral melainkan bersifat agak asam karena keasaman gugus NH3+ lebih kuat daripada kebasaan gugus COO-. Akibat perbedaan dalam keasaman dan kebasaan ini adalah bahwa larutan berair alanin mengandung lebih banyak anion asam amino daripada kation. Dikatakan bahwa alanin mengemban muatan negatif netto dalam larutan berair. Berikut ini gambar alanin mengemban muatan negatif netto pada pH 7 :

Penambahan asam pada larutan ini, akan memperbesar jumlah H3O+ sehingga sebagai akibatnya adalah bergesernya kesetimbangan ke arah kiri. Pada pH tertentu, alanin tidak mengemban muatan ion netto yang didefinisikan sebagai titik isolistrik. Dari literatur, titik isolistrik alanin adalah pada pH 6, dapat dilihat pada gambar berikut :

Jadi, larutan alanin memiliki tiga bentuk ion dengan persamaan keseimbangannya adalah sebagai berikut :

Dapat dilihat bahwa dalam suasana asam (pH rendah) ion dipol alanin mengikat ion H+ membentuk kation alanin sehingga ion amfoter alanin bersifat basa sedangkan dalam suasana basa (pH tinggi) mengikat OH- menghasilkan anion dan ion dipol alanin bersifat asam.Titik isoelektrik dapat juga ditetapkan dengan titrasi. Berdasarkan perhitungan data-data yang diperoleh dari percobaan didapatkan nilai titik isoelektrik untuk titrasi alanin dengan asam sulfat adalah 7,219.Jadi, hasil perhitungan harga titik isolistrik pada percobaan dibandingkan dengan di literatur tidak terlalu jauh berbeda (6,00), hanya selisih 1,219. Dengan memplotkan volume NaOH ataupun H2SO4 yang dititrasikan pada larutan alanin dengan nilai pH yang terbentuk maka dapat diperoleh suatu grafik yang disebut kurva titrasi. Adapun gambar grafik tersebut adalah sebagai berikut.

Gambar 5. Kurva Titrasi Alanin dengan H2SO4 2 N

Gambar 6. Kurva titrasi Alanin dengan NaOH 2 NDari kedua grafik di atas terlihat bahwa penambahan sedikit asam ataupun sedikit basa memberikan perubahan pH larutan alanin yang lebih kecil jika dibandingkan dengan akuades. Penambahan satu tetes H2SO4 hanya menyebabkan pH turun sebesar 2,375 sedangkan pada akuades penurunannya sebesar 3,981. Dan pada penambahan satu tetes NaOH pada larutan alanin menyebabkan kenaikan pH sebesar 2,47 sedangkan pada akuades kenaikannya sebesar 4,709. Ini berarti bahwa larutan alanin memiliki sedikit sifat buffer. Sifat ini disebabkan karena kemempuan alanin untuk membentuk suatu zwitterion sehingga saat dititrasi dengan asam maka alanin akan berperan sebagai basa dan ketika dititrasi denga asam maka alanin akan berperan sebagai asam, sehingga akan sedikit menetralkan larutan. Adapun grafik titrasi akuades menggunakan asam sulfat maupun natrium hidroksida dapat dilihat pada grafik berikut.

Gambar 7. Kurva titrasi Akuades dengan H2SO4 2 N

Gambar 9. Kurva titrasi Akuades dengan NaOH 2 N5.1 Titrasi GlisinPada percobaan ini, prosedur utamanya adalah menitrasi glisin dengan asam sulfat dan NaOH. Pertama-tama, 0,4 g glisin dilarutkan dalam 40 mL akuades, sehingga glisin akan melarut dalam air dengan membentuk ion amfoter atau zwitter ion atau ion dipolar, dengan strukturnya :

Gambar 10. Struktur Zwitter Ion GlisinKarena glisin memiliki gugus karboksilat (-COOH) dan gugus amina (-NH2) sehingga dapat membentuk zwitter ion, yang apabila dalam larutan dapat membentuk ion karboksilat (-COO-) dan ion amonium (-NH3+) dalam sebuah molekul glisin dengan melepaskan proton dari masing-masing gugus. Karenanya glisin bersifat amfoter, yakni dapat bereaksi dengan asam ataupun dengan basa. Keadaan glisin dalam bentuk ion ini yaitu dalam bentuk larutan glisin sebelum dititrasi pada saat pH 6,81.Ketika larutan glisin dititrasi dengan asam sulfat maka dapat membentuk suatu kation, sedangkan ketika larutan glisin dititrasi dengan NaOH maka dapat menghasilkan suatu anion, dengan persamaan reaksi seperti berikut ini :Glisin dalam asam :

Glisin dalam basa :

Reaksi Asam-Basa GlisinLarutan glisin yang dititrasi dengan H2SO4 akan mengakibatkan meningkatnya konsentrasi ion H+ sehingga dapat berikatan dengan ion COO- membentuk gugus COOH sehingga glisin terdapat dalam bentuk kationnya. Dalam hal ini glisin berperan sebagai basa Bronsted Lowry yaitu ion yang mampu menerima proton (H+). Sedangkan glisin yang ditambahkan dengan NaOH, akibatnya glisin akan terdapat dalam bentuk anionnya karena konsentrasi ion OH- yang tinggi mampu mengikat ion-ion H+ yang terdapat pada gugus NH3+, membentuk gugus NH2 dan H2O. Dalam hal ini glisin berperan sebagai asam Bronsted Lowry yaitu ion yang mampu memberikan proton (H+).Jadi, larutan glisin mengalami keseimbangan adalah sebagai berikut :

Dapat dilihat bahwa dalam suasana asam (pH rendah) ion dipol glisin mengikat ion H+ membentuk kation sehingga ion amfoter glisin bersifat basa sedangkan dalam suasana basa (pH tinggi) mengikat OH- menghasilkan anion dan ion dipol glisin bersifat asam.Titik isolistrik dapat ditetapkan dengan titrasi. Titrasi kation dari glisin, N3H+CH2CO2H dengan basa, ketika basa ditambahkan, ion yang terprotonkan sempurna diubah menjadi ion dipolar yang netral, H3N+-CH2CO2-. Bila separuh bentuk kation telah dinetralkan, pH akan sama dengan pK1 untuk reaksi ituN3H+CH2CO2H N3H+CH2CO2- + H+

Bila = , K1 = [H+] dan karena itu pK1 = pHKetika lebih banyak basa ditambahkan, semua bentuk kation diubah menjadi ion dipolar yang netral. pH pada saat terjadinya hal ini adalah titik isolistrik. Dengan penambahan basa yang lebih banyak lagi, ion dipolar diubah menjadi anion. Pada titik tengah, pH akan sama dengan pK2.N3H+CH2CO2- H+ + N2HCH2CO2-

Bila = , K2 = [H+] dan karena itu pK2 = pHTitik dapat dihitung sebagai rata-rata pK1 dan pK2 :

Sedangkan harga titik isolistrik hasil percobaan adalah 7,2795.Jadi, hasil perhitungan harga titik isolistrik dibandingkan dengan di literatur tidak terlalu jauh berbeda (6,06), hanya selisih 1,2195. Dengan memplotkan volume NaOH ataupun H2SO4 yang dititrasikan pada larutan glisin dengan nilai pH yang terbentuk maka dapat diperoleh suatu grafik yang disebut kurva titrasi. Adapun gambar grafik tersebut adalah sebagai berikut.

Gambar 11. Kurva titrasi Glisin dengan H2SO4 2 N

Gambar 12. Kurva titrasi Akuades dengan NaOH 2 NDari kedua grafik di atas terlihat bahwa penambahan sedikit asam ataupun sedikit basa memberikan perubahan pH larutan glisin yang lebih kecil jika dibandingkan dengan akuades. Penambahan satu tetes H2SO4 hanya menyebabkan pH larutan glisin turun sebesar 1,983 sedangkan pada akuades penurunannya sebesar 3,981. Dan pada penambahan satu tetes NaOH pada larutan alanin menyebabkan kenaikan nilai pH sebesar 0,317 sedangkan pada akuades penurunannya sebesar 4,709. Ini berarti bahwa larutan glisin memiliki sedikit sifat buffer. Sifat ini disebabkan karena kemempuan glisin untuk membentuk suatu zwitterion sehingga saat dititrasi dengan asam maka glisin akan berperan sebagai basa dan ketika dititrasi denga asam maka glisin akan berperan sebagai asam, sehingga akan sedikit menetralkan larutan.Jika dibandingkan dengan alanin, sifat buffer glisin lebih kuat karena perubahan pH yang dihasilkan dengan penambahan NaOH maupun H2SO4 lebih kecil. Penambahan H2SO4 pada larutan alanin menyebabkan penurunan pH sebesar 2,735 sedangkan pada glisin hanya 1,983. Penambahan NaOH pada larutan alanin menyebabkan kenaikan pH sebesar 2,47 sedangkan pada glisin hanya 0,317.

VI. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Chairil, dkk. 1996. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Jakarta : Depdikbud.

Fessenden dan Fessenden. 1994. Kimia Organik Jilid 2 Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga.

Lehninger. 1982. Dasar-dasar Biokimia Jilid I (terjemahan). Jakarta : Erlangga.

Matsjeh, Sabirin, dkk. 1996. Kimia Organik II. Jakarta : Depdikbud.

Poedjiadi, Anna dan F. M. Titin Supriyanti. 2006. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI-Press.

Syahmani dan Sudarsih. 2011. Petunjuk Praktikum Biokimia. Banjarmasin : FKIP UNLAM.

LAMPIRAN IPERHITUNGAN DAN GRAFIK TITRASI

1. Titrasi alanin dengan H2SO4 2 N. pH awal larutan 5,9. Volum koreksi (volume H2SO4 yang diperlukan oleh alanin berdasarkan teori)V titrasi asam amino = 90 tetesV blanko = 27 tetes

Volume milli ekivalen asam sulfat :

Tabel 1. Titrasi Alanin dengan H2SO4 2 NH2SO4 2 N (tetes)pH Larutan AlaninVolume koreksi H2SO4 (tetes)Volume mili ekivalen H2SO4

05.900

13.60,35

23.40,7

33.31,05

53.23,51,75

63.14,22,1

73.04,92,45

82.95,62,8

102.87,03,5

122.78,44,2

142.69,84,9

162.511,25,6

202.414,07,0

232.315,17,55

272.218,99,45

302.121,010,5

322.022,411,2

361.925,212,6

391.827,313,65

431.730,115,05

481.633,616,8

541.537,818,9

621.444,422,2

731.351,125,55

901.263,031,5

2. Titrasi 0,4 g glisin + 40 mL akuades dengan H2SO4 2 N. pH awal larutan 5,6. Volum koreksi (volume H2SO4 yang diperlukan oleh glisin berdasarkan teori)V titrasi asam amino = 83 tetesV blanko = 27 tetes

Volume milli ekivalen asam

Tabel 2. Titrasi Glisin dengan H2SO4 2 NVolume H2SO4 (tetes)pHLarutan GlisinVolumeKoreksi H2SO4 (tetes)VolumeMiliekivalen H2SO4

05.600

13.80.670.335

23.61.340.67

33.42.011.005

43.32.681.33

53.23.351.675

63.14.022.01

73.04.692.345

92.96.033.015

112.87.373.685

122.78.044.02

132.68.714.355

152.510.055.025

182.412.066.03

202.313.46.7

232.215.417.705

272.118.099.045

302.020.110.05

341.922.7811.39

381.825.4612.73

421.728.1414.07

481.632.1616.08

551.536.8518.425

631.442.2121.105

731.348.9124.455

831.255.6127.805

3. Titrasi larutan alanin + dengan NaOH 2 N. pH awal larutan 7.2Volum koreksi (volume NaOH yang diperlukan oleh glisin berdasarkan teori)V titrasi asam amino = 50 tetesV blanko = 1 tetes

44.1

47.04

Volume milli ekivalen basa (natrium hidroksida) :

Tabel 3. Titrasi Alanin dengan NaOH 2 NVolume NaOH (tetes)pHLarutan AlaninVolumeKoreksi NaOH(tetes)VolumeMiliekivalen NaOH

07,200

19,10,980,98

29,41,961,96

39,62,942,94

49,73,923,92

59,84,94,9

69,95,885,88

7106,866,86

810,17,847,84

1010,29,89,8

1210,311,7611,76

1410,413,7213,72

1510,514,714,7

1610,615,6815,68

2210,721,5621,56

2710,826,4626,46

2910,928,4228,42

311130,3830,38

3411,133,3233,32

3711,236,2636,26

4111,340,1840,18

4211,441,1641,16

4311,542,1442,14

4411,643,1243,12

4511,744,144,1

4611,845,0845,08

4811,947,0447,04

50124949

4. Titrasi larutan glisin + dengan NaOH 2 N. pH awal larutan 7.5Volum koreksi (volume NaOH yang diperlukan oleh glisin berdasarkan teori)V titrasi asam amino = 47 tetesV blanko = 1 tetes

41,106

45,021

Volume milli ekivalen basa (natrium hidroksida) :

Volume NaOH (tetes)pHLarutan GlisinVolumeKoreksi NaOH (tetes)VolumeMiliekivalen NaOH

07,500

19

29,3

39,7

49,8

59.9

610,0

710,1

910,2

1110,3

1310,4

1510,5

1710,6

1910,7

2110,8

2410,9

2811,0

3011,1

3211,2

3511,3

3811,4

4011,5

4211,6

4411,7

4611,9

4712,0

LAMPIRAN IIPERTANYAAN DAN JAWABAN

Pertanyaan 1. Buatlah kurva titrasi asam amino yang diselidiki (pH Vs mL H2SO4 2 N dan NaOH 2 N) yang telah dikoreksi.2. Buatlah kurva titrasi asam amino yang diselidiki (pH Vs miliekivalen asam dan alkali)3. Hitung titik-titik isoionik dari pada asam amino yang diselidiki lewat harga-harga pKa yang diperoleh dan bandingkanlah ini dengan titik isoionik yang diperoleh lewat harta pKa literatur.

Jawaban1. Kurva titrasi alanin dengan V H2SO4 2 N yang telah dikoreksi :

Grafik 15. Titrasi Alanin dengan Volume Koreksi H2SO4 2 N

Grafik 16. Titrasi Alanin dengan Volume Koreksi NaOH 2 N

Grafik 17. Titrasi Glisin dengan Volume Koreksi H2SO4 2 N

Grafik 18. Titrasi Glisin dengan Volume Koreksi NaOH 2 N

2. Kurva titrasi alanin dengan V mili ekivalen H2SO4 2 N :

Grafik 19. Titrasi Alanin dengan Volume MIliekivalen H2SO4 2 N

Grafik 20. Titrasi Alanin dengan Volume Miliekivalen NaOH 2 N

Grafik 21. Titrasi Glisin dengan Volume Miliekivalen H2SO4 2 N

Grafik 22. Titrasi Glisin dengan Volume Miliekivalen NaOH 2 N

3. Titik isoionik alaninUntuk titrasi alanin dengan asam sulfat :Mr alanin = 89 g/molm alanin = 0,4 gM H2SO4 = 2 N = 4 M

V H2SO4 pada saat titik ekivalen adalah pada saat mol H2SO4 sama dengan mol alanin,mol H2SO4 = mol alanin(M x V) H2SO4 = mol alanin

1,125 mL = 23 tetespH pada saat V = 23 tetes adalah 2,12[alanin] = [H2SO4], maka pH = pK1, jadi pK1 = 2,12Untuk titrasi alanin dengan NaOH:Mr alanin = 89 g/molm alanin = 0,4 gM NaOH = 2 N = 2 M

V NaOH pada saat titik ekivalen adalah pada saat mol NaOH sama dengan mol alanin,mol NaOH = mol alanin(M x V)NaOH = mol alanin

2,25 mL = 45 tetespH pada saat V = 45 tetes adalah 12,239[alanin] = [NaOH], maka pH = pK2, jadi pK2 = 12,239

Jadi, titik isolistrik alanin :

Jadi, hasil perhitungan harga titik isolistrik dibandingkan dengan di literatur ternyata jauh berbeda yaitu 7,1795 dengan selisih 1,1595

Titik isoionik glisinUntuk titrasi glisin dengan H2SO4:Mr glisin =75 g/molm glisin = 0,4 gM H2SO4 = 2 M = 4 M

V H2SO4 pada saat titik ekivalen, mol H2SO4 = mol glisin(M x V) H2SO4 = mol glisin

1,3325 mL = 26,65 tetes = 27 tetespH pada saat V = 27 tetes adalah 2,50[glisin] = [NaOH], maka pH = pK1, jadi pK1 = 2,50

Untuk titrasi glisin dengan NaOH:Mr glisin =75 g/molm glisin = 0,4 gM NaOH = 2 M = 2 M

V NaOH pada saat titik ekivalen, mol NaOH = mol glisin(M x V)NaOH = mol glisin

2,665 mL =53,3 tetes = 53 tetespH pada saat V = 53 tetes adalah 12,036[glisin] = [NaOH], maka pH = pK2, jadi pK2 = 12,036

Jadi, titik isolistrik glisin :

Jadi, hasil perhitungan harga titik isolistrik dibandingkan dengan literatur ternyata jauh berbeda yaitu 7,268 dengan selisih 1,208.