Top Banner

of 93

Kondisi Eksisting Sistem Drainase Kota Padang

Oct 09, 2015

ReportDownload

Documents

Drainase

Laporan AkhirReview Perencanaan Master Teknis Drainase Kota Padang

KONDISI EKSISTING SISTEM DRAINASE KOTA PADANG

4.1. Identifikasi Permasalahan dan Pendekatan Masalah4.1.1. Pola Aliran Drainase Kota PadangPola aliran drainase Kota Padang sebagian besar merupakan pola alamiah yang terbentuk dari saluran alam yang terdapat pada lahan lahan kosong dan perumahan. Jaringan drainase yang ada pada umumnya merupakan drainase pasangan batu dan drainase alam yang pembuangan akhirnya terkumpul pada sungai. Pola Aliran drainase Kota Padang dapat dilihat pada lampiran.4.1.2. Identifikasi Permasalahan 4.1.3. Genangan Drainase Kota PadangDalam perencanaan ini konsultan membatasi antara pengertian banjir dan genangan lokal. Dalam hal ini pengertian banjir adalah apabila ketinggian genangan air yang terjadi pada suatu kawasan melebihi 50 cm (masuk ke rumah penduduk), luasan besar, surutnya lama dan tingkat kerusakan/kerugian masyarakat yang besar, terganggunya aktifitas ekonomi masyarakat. Faktor penyebab terjadinya banjir pada umumnya antara lain adalah kapasitas badan air penerima kurang, tidak adanya saluran saluran drainase primer, sekunder, tersier dan lain lain.Genangan lokal adalah genangan air yang terjadi pada suatu kawasan akibat hujan jam jaman, ketinggian genangan rendah, tidak merusak perumahan penduduk, air tidak sampai masuk rumah, dan surutnya cepat. Faktor penyebab terjadinya genangan lokal pada umumnya antara lain adalah tersumbatnya saluran drianase oleh sampah dan sedimen, kapasitas saluran primer kurang, tidak adanya drain hole pada jalan dan lain lain.Kota Padang merupakan salah satu kota besar yang terletak di tepi pantai, dengan kawasan pemukiman padat dan kegiatan perekonomian yang terkonsentrasi di sepanjang pantai.

Banjir dan genangan lokal merupakan permasalahan yang selalu timbul di beberapa kawasan Kota Padang. Banjir dan genangan lokal yang terjadi di Kota Padang pada umumnya menggenangi daerah-daerah padat pemukiman, pusat-pusat kegiatan perekonomian dan juga pemukiman kurang padat yang terletak pada lahan pertanian irigasi sebagai berikut:

a. Daerah Padat PemukimanPegambiran, Pegambiran Arai Pinang, Rawang Mato Air, Pampangan, Gurun Lawas Pampangan, Lubuk Begalung, Seberang Padang, Palinggam, Air Camar, Aur Duri, Alang Lawas, Jati/Sawahan, Terandam, Karet, Purus, Padang Baru, Alai, Ulak Karang, Lapai, Siteba, Dadok Tunggul Hitam, Air Tawar Cendrawasih, Air Tawar Labor, Air Tawar Perumnas, Wisma Warta, Tabing Asrama Haji, Tabing Panjalinan, Bungo Pasang, Balimbing dan Koto Barub. Daerah Kurang Padat

Kawasan Kurao, Air Pacah, Lubuk Minturun, Bungus Teluk Kabung, Balai Baru, Taruko, Kampung Jambak, Lubuk Buaya, Anak Air, Kayu Kalek, dan Pasar Baru.Sebagian kawasan telah mempunyai sistem drainase yang baik yaitu daerah tangkapan yang dilayani oleh Drain Jati, Anak Jati, Bandar Olo, Rawang dan Bandar Purus. Meskipun demikian di daerah ini perlu dievaluasi lagi karena masih sering terjadi genangan lokal bila hujan turun. Genangan genangan yang terjadi di Kota Padang saat ini berdasarkan survei dan identifikasi lapangan dapat dilihat pada Gambar L.1 Peta Genangan Di Kota Padang (lampiran). Lokasi, lama genangan, luas genangan, dan tinggi genangan pada areal drainase eksisting Kota Padang dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan untuk genangan serta terjadinya banjir pada kawasan perencanaan baru dapat dilihat pada Tabel 4.2.Tabel 4.1 Genangan Pada Saluran Eksisting

No.Areal DrainaseKeterangan

LuasTinggiLamaPenggunaan Lahan

(Ha)(cm)(jam)

1Air Pacah89305Pertanian dan Pemukiman

2Pasir putih10152.5Pemukiman

3Tabing61205Bandara

4Airport115205Pemukiman

5Baung Penjalinan64103Pemukiman

6Siteba35.5203Pemukiman

7Sawah Liat70255Pemukiman

9Lapai66304Pemukiman

10Ulak Karang39123Perkantoran, Perdagangan dan Pemukiman

11Lolong55154Pemukiman dan Perdagangan

12Purus17102Pemukiman dan Perkantoran

13Jati14153Pemukiman dan Perdagangan

14Alai11306Pertanian

15Ujung Gurun61203Pemukiman, Pemukiman dan Perkantoran

16Aur Duri29203Pemukiman

17Olo Nipah29152Perdagangan dan Pemukiman

18Kali Mati5.35103Pemukiman

19Rawang Barat18122.5Pemukiman

Tabel 4.2 Genangan dan Banjir Pada Saluran Rencana

No.Areal DrainaseLuasTinggiLamaKeterangan

(Ha)(cm)(jam)

1Maransi49.7403Genangan

2Anak Air141.61005Banjir

3Tunggul Hitam253.41005Banjir

4Kalumpang 50.21004Banjir

5Kayu Kalek---Tidak terjadi genangan

6Balai Baru---Tidak terjadi genangan

7Pasir Jambak3.6101Genangan

8Kalumbuk---Tidak terjadi genangan

9Batang Kabung---Genangan

10Sungai Sapih---Tidak terjadi genangan

12Bungo Pasang---Tidak terjadi genangan

13Binuang6.9101Genangan

14Muaro Penjalinan---Tidak terjadi genangan

15Sungai Bangek---Tidak terjadi genangan

16Lubuk Lintah11101Genangan

17Andalas17151.5Genangan

18Kampuang Jua44101.5Genangan

19Balimbing---Tidak terjadi genangan

20Aru9.5151Genangan

21Durian Tarung---Tidak terjadi genangan

22Sungai Lareh---Tidak terjadi genangan

23Pampangan12.8151Genangan

24Lubuk Minturun ---Tidak terjadi genangan

25Limau Manis---Tidak terjadi genangan

26Karang Putih---Tidak terjadi genangan

27Gadut---Tidak terjadi genangan

28Cengkeh---Tidak terjadi genangan

29Indarung---Tidak terjadi genangan

Identifikasi beberapa permasalahan penyebab banjir dan genangan lokal pada sistem jaringan drinase di Kota Padang ditinjau dari beberapa aspek sebagai berikut:A. Aspek Topografi Kawasan pemukiman di Kota Padang pada umumnya terletak pada daerah landai/dataran rendah yang memanjang dari arah Selatan sampai Utara pantai sepanjang 68.123 Km dengan ketinggian rata rata 0-10 m di atas permukaan laut. Kemiringan saluran pada daerah rendah tidak signifikan, sehingga pola aliran tidak dipengaruhi oleh topografi.B. Aspek Hidrolika dan HidrologiPada kawasan pemukiman yang berada pada daerah muara sungai dan pantai, sistem jaringan drianase dipengaruhi oleh pasang surut. Saluran drainase primer mempunyai outlet ke muara sungai. Pada saat terjadi curah hujan cukup tinggi, dan diikuti oleh pasang air laut maka daerah pemukiman terjadi banjir atau genangan lokal.

Seiring dengan perubahan tata guna lahan pada kawasan terbaharukan atau kawasan pemukiman maka dengan sendirinya akan terjadi perubahan koefisien limpasan yang mengakibatkan meningkatnya debit aliran. Dulunya sebuah saluran drianase (dimensi saluran drainase) kapasitasnya didesain dengan koefisien limpasan yang mempunyai tata guna lahan pertanian, sehingga perlu disesuaikan lagi pada kondisi tata guna lahan saat ini.

Berkurangnya kapasitas saluran akibat peningkatan debit aliran yag terjadi perlu dilakukan re desain terhadap dimensi saluran drainase yang ada.

Perubahan iklim (global warming) membawa dampak perubahan terhadap cuaca di Kota Padang. Curah hujan cukup tinggi sering terjadi dan spasial terhadap waktu.

Saat ini terdapat kurang lebih 21 daerah aliran sungai yang mengalir di wilayah Kota Padang dengan total panjang mencapai 87,90 Km ( 5 sungai besar dan 16 sungai kecil).

Umumnya sungai-sungai besar dan kecil yang ada di wilayah Kota Padang ketinggiannya tidak jauh berbeda tinggi permukaan laut. Kondisi ini yang mengakibatkan cukup banyak wilayah Kota Padang yang rawan terhadap banjir dan genangan lokal.C. Aspek Tata Guna Lahan Dan Rencana Tata RuangTata guna lahan Kota Padang mengalami perubahan seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk. Alih fungsi lahan pada umumnya terjadi pada kawasan pertanian/ sawah yang mempunyai irigasi teknis menjadi kawasan permukiman. Pengembangan pemukiman tidak sesuai dengan peruntukan lahan rencana tata ruang kota. Pada daerah tertentu seperti daerah Perumahan Bunga Mas Tunggul Hitam pada rencana tata ruang merupakan daerah konservasi air dan tidak layak dijadikan kawasan perumahan. Disamping itu pengembang pemukiman tidak membuatkan sistem drainase perumahan/ pemukiman yang baik.Hal hal yang terjadi terkait perubahan tata guna lahan Kota Padang sebagai berikut: Tata ruang Kota Padang tidak teratur akibat dari pertumbuhan pemukiman yang tidak merata Masih banyaknya lahan pertanian irigasi yang di bangun menjadi tempat pemukiman penduduk Saluran buang irigasi melintasi areal pemukiman. Pengembangan tata guna lahan di luar kawasan pusat kota yang tidak didukung perencanaan drainase yang terintegrasi dengan jaringan yang telah ada Kerawananan terhadap bencana (khususnya kerawanan terhadap gempa bumi dan gelombang tsunami) akan mempengaruhi pola tata guna lahan Kota Padang dimasa mendatang. Kondisi eksisting sistem drainase Kota Padang saat ini, berdasarkan Master Plan Drainase Kota Padang Tahun 1997/1998 adalah terdiri dari 19 areal drainase dengan luas 3.986 Ha. Kondisi areal drainase tersebut dijelaskan pada sub bab di bawah ini.Berdasarkan data penggunaan lahan Kota Padang tahun 2008, luas lahan permukiman di Kota Padang adalah 6.625,24 Ha. Jika dibandingkan dengan luasan Kota Padang yang telah memiliki master plan drainase seluas 3.986 Ha maka daerah permukiman di Kota Padang yang belum mempunyai master plan drainase seluas 2.639,24 Ha. Selanjutnya untuk pengembangan areal/ kawasan drainase baru dijelaskan pada Bab berikutnya.Identifikasi beberapa permasalahan penyebab banjir dan genangan lokal pada sistem jaringan drinase di Kota Padang secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Tingginya curah hujan di wilayah Kota Padang, dengan tinggi hujan rata-rata 5.000 mm/tahun.

2. Kapasitas saluran sebagian besar tidak mencukupi.

3. Pada beberapa tempat belum terdapat saluran primer dan sekunder.

4. Saluran tersier pada wilayah perluasan kota masih

Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.