Top Banner
2020. Vol. 6, No. 2, 119-131 119 MEDIAPSI 2020. Vol.6, No. 2, 119˗131 Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap Toleransi Beragama Murid SMA Indra Nugraha (1) , Sri Maslihah (2) , Ifa Hanifah Misbach (3) ((1),(2),(3) Jurusan Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia The goal of this research was to test the idea that critical thinking skills are related to religious tolerance, which has been understudied within existing psychological studies. To verify this idea, we conducted a correlational survey among a sample of 400 high school students in Bandung who were recruited based on multistage cluster sampling. The results showed as hypothesized that critical thinking skills were significantly and positively correlated with religious tolerance. High critical thinking skills were hence associated with high religious tolerance and vice versa, low critical thinking skills were associated with low religious tolerance. We also additionally examined the extent to which critical thinking skills and religious tolerance varied depending on participants’ gender, ethnicity, and religion. We close by explaining the theoretical and practical implications of those empirical findings, as well as some shortcomings in this research and recommendations for further studies to overcome the shortcomings. Keywords: critical thinking skill, high school students, religious tolerance Penelitian ini bertujuan untuk menguji ide bahwa keterampilan berpikir kritis berhubungan dengan toleransi beragama, yang masih jarang diinvestigasi pada studi-studi psikologi sebelumnya. Untuk memverifikasi ide ini, kami melakukan survei korelasional dengan melibatkan 400 murid SMA di Kota Bandung sebagai partisipan, yang diperoleh atas dasar multistage cluster sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sesuai hipotesis yang diajukan, keterampilan berpikir kritis berkorelasi signifikan ke arah positif dengan toleransi beragama. Dengan demikian, tingginya keterampilan berpikir kritis berhubungan dengan tingginya toleransi beragama dan sebaliknya, rendahnya keterampilan berpikir kritis berhubungan dengan rendahnya toleransi beragama. Analisis tambahan dalam penelitian ini juga menguji peran variabel demografis jenis kelamin, suku bangsa, dan agama dalam menjelaskan keterampilan berpikir kritis dan toleransi beragama. Di bagian akhir tulisan ini, kami menjelaskan implikasi teoritis dan praktis temuan temuan empiris tersebut, sekaligus sejumlah kekurangan penelitian dan rekomendasi studi lanjutan untuk memperbaiki kekurangan tersebut. Kata kunci: keterampilan berpikir kritis, murid SMA, toleransi beragama Pendahuluan Indonesia adalah sebuah bangsa plural yang masyarakat di dalamnya memiliki latar- belakang agama, suku, budaya, dan adat istiadat yang berbeda-beda. Kemajemukan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, di satu sisi, MEDIAPSI, 2020, Vol. 6(2), 119-131, DOI: https://doi.org/10.21776/ub.mps.2020.006.02.6 Received: 10-07-2020. Revised: 19-10-2020. Accepted: 128-11-2020. Published online: 07-12-2020 Handling Editor: Halimatus Sakdiah, UIN Antasari, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia *Corresponding author: Indra Nugraha, Jurusan Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia. E-mail: [email protected] This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License. How to cite this article in accordance with the American Psychological Association (APA) 6 th guidelines: Nugraha, I., Maslihah, S., & Misbach, I. H. (2020). Keterampilan berpikir kritis dan perannya terhadap toleransi beragama murid SMA. MEDIAPSI, 6(2), 119-131. https://doi.org/10.21776/ub.mps.2020.006.02.6
13

Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

Oct 16, 2021

Download

Documents

dariahiddleston
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
Page 1: Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

2020. Vol. 6, No. 2, 119-131

119

MEDIAPSI

2020. Vol.6, No. 2, 119˗131

Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap Toleransi Beragama Murid

SMA

Indra Nugraha(1)

, Sri Maslihah(2)

, Ifa Hanifah Misbach(3)

((1),(2),(3)Jurusan Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia

The goal of this research was to test the idea that critical thinking skills are related to religious

tolerance, which has been understudied within existing psychological studies. To verify this

idea, we conducted a correlational survey among a sample of 400 high school students in

Bandung who were recruited based on multistage cluster sampling. The results showed as

hypothesized that critical thinking skills were significantly and positively correlated with

religious tolerance. High critical thinking skills were hence associated with high religious

tolerance and vice versa, low critical thinking skills were associated with low religious

tolerance. We also additionally examined the extent to which critical thinking skills and

religious tolerance varied depending on participants’ gender, ethnicity, and religion. We close

by explaining the theoretical and practical implications of those empirical findings, as well as

some shortcomings in this research and recommendations for further studies to overcome the

shortcomings.

Keywords: critical thinking skill, high school students, religious tolerance

Penelitian ini bertujuan untuk menguji ide bahwa keterampilan berpikir kritis berhubungan

dengan toleransi beragama, yang masih jarang diinvestigasi pada studi-studi psikologi

sebelumnya. Untuk memverifikasi ide ini, kami melakukan survei korelasional dengan

melibatkan 400 murid SMA di Kota Bandung sebagai partisipan, yang diperoleh atas dasar

multistage cluster sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sesuai hipotesis yang

diajukan, keterampilan berpikir kritis berkorelasi signifikan ke arah positif dengan toleransi

beragama. Dengan demikian, tingginya keterampilan berpikir kritis berhubungan dengan

tingginya toleransi beragama dan sebaliknya, rendahnya keterampilan berpikir kritis

berhubungan dengan rendahnya toleransi beragama. Analisis tambahan dalam penelitian ini

juga menguji peran variabel demografis jenis kelamin, suku bangsa, dan agama dalam

menjelaskan keterampilan berpikir kritis dan toleransi beragama. Di bagian akhir tulisan ini,

kami menjelaskan implikasi teoritis dan praktis temuan temuan empiris tersebut, sekaligus

sejumlah kekurangan penelitian dan rekomendasi studi lanjutan untuk memperbaiki kekurangan

tersebut.

Kata kunci: keterampilan berpikir kritis, murid SMA, toleransi beragama

.

Pendahuluan

Indonesia adalah sebuah bangsa plural yang

masyarakat di dalamnya memiliki latar-

belakang agama, suku, budaya, dan adat istiadat

yang berbeda-beda. Kemajemukan yang

dimiliki oleh bangsa Indonesia, di satu sisi,

MEDIAPSI, 2020, Vol. 6(2), 119-131, DOI: https://doi.org/10.21776/ub.mps.2020.006.02.6

Received: 10-07-2020. Revised: 19-10-2020. Accepted: 128-11-2020. Published online: 07-12-2020

Handling Editor: Halimatus Sakdiah, UIN Antasari, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia

*Corresponding author: Indra Nugraha, Jurusan Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia.

E-mail: [email protected]

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

How to cite this article in accordance with the American Psychological Association (APA) 6th guidelines:

Nugraha, I., Maslihah, S., & Misbach, I. H. (2020). Keterampilan berpikir kritis dan perannya terhadap toleransi beragama

murid SMA. MEDIAPSI, 6(2), 119-131. https://doi.org/10.21776/ub.mps.2020.006.02.6

Page 2: Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

BERPIKIR KRITIS DAN TOLERANSI BERAGAMA

MEDIAPSI │ 2020. Vol. 6, No. 2, 119˗131 120

merupakan suatu keuntungan dan modal

kekayaan budaya (Nisvilyah & Lely, 2013).

Namun di sisi lain, kemajemukan berpotensi

memunculkan konflik sosial yang dapat

merusak kesatuan bangsa, terutama bila

kemajemukan tersebut tidak disikapi dan

dikelola secara baik (Hisyam, 2006).

Variasi agama merupakan salah satu

pemicu konflik sosial yang sangat mungkin

timbul di masyarakat yang majemuk

(Hermawati, Paskarina, & Runiawati, 2017).

Untuk mengelola perbedaan agama di

Indonesia, diperlukan adanya rasa saling

hormat serta saling toleransi antar umat

beragama (Nisa’ & Tualeka, 2017). Dengan

demikian, hal penting bagi individu atau

kelompok dalam suatu lingkungan memiliki

rasa toleransi yang tinggi agar menghindari atau

mencegah konflik-konflik yang akan muncul

karena kemajemukan.

Istilah toleransi merujuk pada usaha

menjaga hubungan baik dengan orang lain,

yang terejawantah dalam bentuk kesadaran

penuh untuk menerima segala perbedaan

(Patnani, 2020). Sementara itu, toleransi

beragama mempunyai arti perilaku saling

hormat, menerima, dan menghargai nilai-nilai,

prinsip, atau keyakinan yang dianut individu

atau kelompok lain (Wolhuter dkk., 2014).

Seseorang harus diberikan kebebasan untuk

meyakini dan memeluk agama yang dipilih dan

diyakininya (Cassanova, 2008). Nisa’ dan

Tualeka (2016) menjelaskan bahwa toleransi

sangat penting karena keberadaan toleransi

dapat menciptakan kerukunan hidup antar umat

beragama. Munculnya kesadaran antar umat

beragama yang diwujudkan dalam toleransi bisa

menekan atau meminimalisir bentrokan.

Toleransi beragama yang dilakukan dengan

penuh kesadaran akan melahirkan pandangan

bahwa agama sendiri benar dan juga agama lain

sebagaimana diyakini oleh pemeluknya (Bakar,

2016).

Perilaku toleransi beragama di Indonesia

masih terbilang rendah. Berdasarkan survei

yang dilakukan oleh Social Progress Index dari

periode 2014 - 2017, skor toleransi beragama di

Indonesia berada pada titik terendah (Herlina,

2018). Menurut temuan Komnas HAM (Satrio,

2017), dari tahun ke tahun, jumlah kasus

intoleransi di Indonesia terus meningkat. Pada

tahun 2014, kasus intoleransi tercatat

sebannyak 74. Di tahun 2015, kasus intoleransi

meningkat sebanyak 87, dan di tahun 2016

kasus tersebut terus meningkat menjadi 100.

Kasus-kasus tersebut misalnya adalah

pelarangan terhadap kegiatan keagamaan

tertentu, vandalism terhadap rumah ibadah,

perlakuan tidak adil terhadap penganut agama

tertentu, intimidasi, dan pemaksaan keyakinan

(Satrio, 2017).

Fenomena intoleransi terhadap kelompok

agama atau etnik masih kerap terjadi di

beberapa daerah. Beberapa kasus intoleransi

dan kekerasan beragama terjadi sepanjang

tahun 2018. Menurut Rochmanudin (2018),

kasus-kasus tersebut di antaranya adalah

perusakan pura di Lumajang oleh orang tidak

dikenal, penyerangan terhadap ulama di

Lamongan, perusakan masjid di Tuban,

ancaman bom di kelenteng Kwan Tee Koen

Karawang, serangan di gereja Santa Lidwina

Sleman, persekusi terhadap biksu di Tangerang,

penganiayaan terhadap tokoh agama, dan lain-

lain.

Ironisnya, murid yang duduk di bangku

sekolah menengah atas (SMA) rentan terhadap

intoleransi beragama. Potensi keterlibatan anak-

anak muda yang duduk di bangku SMA dalam

kasus-kasus intoleran di Indonesia masih cukup

tinggi (Cholilurrohman, 2016). Penelitian yang

dilakukan oleh The Wahid Institute kepada 500

murid sekolah menengah negeri di Jabodetabek

dengan menggunakan metode kuesioner

menunjukkan bahwa responden penelitian

memiliki kecenderungan yang kuat untuk

mendukung atau melakukan tindakan intoleran

(Dja’far, 2015).

Selain itu, penelitian yang dilakukan

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (―Survei

PPIM: Potret keberagamaan guru Indonesia‖,

Page 3: Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

NUGRAHA, MASLIHAH, & MISBACH

MEDIAPSI │ 2020. Vol. 6, No. 2, 119˗131 121

2018) mengungkapkan bahwa pelajar di

Indonesia saat ini telah terjangkit virus

intoleran. Penelitian tersebut dilakukan pada

rentang waktu antara 1 September sampai 7

Oktober 2017 dan dilakukan di 34 provinsi di

Indonesia dengan responden terdiri dari 1522

murid serta 337 mahamurid. Hasilnya

menunjukan bahwa murid dan mahamurid

cenderung memiliki pandangan keagamaan

yang radikal dengan persentase 58.5 persen dan

pandangan keagamaan yang intoleran dengan

prosentase 51.1 persen. Sementara itu, dari sisi

aksi, murid dan mahamurid memiliki perilaku

keagamaan yang cenderung moderat. Dukunagn

terhadap aksi radikal hanya sebesar 7.0 persen,

tetapi dukungan terhadap aksi intoleran

sebanyak 34.1 persen.

Terbentuknya toleransi merupakan

sebuah proses dan tahapan seseorang menerima

informasi dari lingkungan sosialnya (Widhayat

& Jatiningsih, 2018). Ketika seseorang berada

dalam lingkungan sosial tertentu, mereka akan

mempelajari dan mengamati secara sistematis

perilaku orang lain, sebuah proses pengamatan

yang disebut sebagai observational learning

(Greer, Dudek-Singer, & Gautreaux, 2006).

Setelah mengamati perilaku orang lain, individu

akan berasimilasi dan meniru perilaku tersebut

(Fryling, Johnston, & Hayes, 2011). Dalam

proses ini terjadi hubungan timbal balik yang

saling berkesinambungan antara kognisi,

perilaku, dan lingkungan (Widhayat &

Jatiningsih, 2018). Dalam lingkungan sosial,

individu juga akan menerima berbagai macam

informasi. Informasi ini selanjutnya diproses

secara kognitif, yang memuat proses

mengingat, menyaring, dan memilah informasi

mana yang sesuai untuk diri individu tersebut

(Greer dkk., 2006).

Keterampilan berpikir kritis diperlukan

untuk memfasilitasi individu mampu bersikap

kritis, selektif, dan evaluatif dalam menyaring

dan menggunakan informasi. Kemampuan

dalam mengevaluasi dan selanjutnya

memutuskan untuk menggunakan informasi

yang benar memerlukan keterampilan berpikir

kritis (Potter, 2010). Berpikir kritis diartikan

sebagai upaya seseorang untuk memeriksa

kebenaran dari suatu informasi dengan

menggunakan ketersediaan bukti, logika, dan

kesadaran terhadap bias yang didalamnya

memuat aspek elementary clarification, basic

support, inference, advanced clarification,

strategies, dan tactics (Ennis & Weir, 1985;

Halpern, 1998; Larsson, 2017).

Berpikir kritis sangat diperlukan dalam

proses mencerna dan memilah suatu informasi

yang diperoleh (Sulaiman & Syakarofath,

2018). Terlebih di zaman sekarang ini,

informasi bisa diakses dari banyak sumber,

seperti media sosial atau internet (Qodir,

2018). Berbagai informasi dapat diakses

dengan mudah melalui internet, dan tidak ada

jaminan bahwa informasi yang kita lihat atau

baca tersebut adalah benar adanya.

Menjamurnya sumber informasi dan

kemudahan untuk mengaksesnya di internet

membuat sumber informasi yang diperoleh bisa

menjadi kurang lengkap dan tidak kredibel

(Digdoyo, 2018).

Kemajuan teknologi dalam pertukaran

arus informasi juga kerap kali disalahgunakan

oleh oknum tertentu untuk melakukan

penyebaran berita bohong, ujaran kebencian,

dan hoax. Informasi-informasi yang tidak valid

tersebut bisa menjadi propaganda seseorang

untuk memperkeruh suasana, mengadu domba,

dan merusak tatanan kerukunan antar umat

beragama, yang mengancam toleransi. Selain

itu, ditengah kondisi sosial yang semakin

kompleks, berita hoax dapat dengan mudah

dibuat dan disebarkan ke seluruh lapisan

masyarakat tanpa memandang strata sosialnya

sehingga siapa saja dengan mudah terjebak dan

terpedaya oleh hoax (Baihaki, 2020). Hal

tersebut terjadi karena pesatnya arus informasi

dapat mendorong derasnya pertukaran

informasi yang belum terverifikasi

kebenarannya. Tidak terverifikasinya

pertukaran informasi berdampak terhadap

munculnya berbagai persoalan (Sulaiman &

Syakarofath, 2018). Ketidakmampuan

Page 4: Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

BERPIKIR KRITIS DAN TOLERANSI BERAGAMA

MEDIAPSI │ 2020. Vol. 6, No. 2, 119˗131 122

masyarakat untuk mengkritisi kebenaran

informasi yang diperoleh berdampak terhadap

problematika sosial yang terjadi, salah satunya

intoleransi keagamaan (Orlando, 2015).

Untuk mencegah perilaku intolerasi

keagamaan tersebut, perlu adanya kemampuan

seseorang dalam menafsirkan, menyimpulkan,

menganalisis, mengevaluasi, serta mencari

informasi yang valid dan relevan terkait

informasi-informasi yang masih simpang siur

atau berita hoax (Mathson & Lorenzen, 2008).

Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan

bagian dari aspek-aspek keterampilan berpikir

kritis (Ennis & Weir, 1985).

Oleh sebab itu, keterampilan berpikir

kritis harus dilatih dan dikembangkan kepada

murid. Urgensi berpikir kritis ini berlandaskan

pada argumentasi bahwa orang yang memiliki

pemikiran kritis dapat lebih toleran dalam

menghargai perbedaan ras, etnik, dan agama

(Davies, 2015). Dengan mengajarkan atau

mengembangkan keterampilan berpikir kritis di

sekolah, pendidik dapat mengajarkan dan

meningkatkan toleransi kepada peserta didik.

Toleransi tentunya snagat diperlukan di setiap

masyarakat yang memiliki keragaman budaya,

suku, dan agama (Ernst & Monroe, 2004).

Sebagai generasi penerus bangsa, murid perlu

memiliki toleransi yang tinggi. Mereka harus

dapat mengaplikasikan bentuk toleransi

beragama dalam kehidupan bermasyarakat,

seperti tidak membedakan ketika menolong,

menjenguk teman yang berbeda keyakinan

ketika sakit, bergotong royong, dan tidak

mengejek ibadah satu dengan yang lain

(Rahmawati dkk., 2016).

Penelitian mengenai keterkaitan

keterampilan berpikir kritis dengan toleransi

beragama belum pernah peneliti temukan

sebelumnya, baik di Indonesia atau di luar

negeri. Dengan demikian, penelitian ini

diharapkan bisa menjadi topik baru dan gerbang

pembuka bagi penelitian selanjutnya. Selain itu,

pesatnya arus pertukaran informasi yang

semakin mudah dan sulit terbendung di tengah

masyarakat yang multikultural membuat kedua

isu tersebut, yaitu berpikir kritis dan toleransi,

menjadi menarik untuk dibahas di zaman

sekarang. Mengacu pada latar belakang ini,

peneliti tertarik melakukan penelitian dengan

tujuan menguji peran berpikir kritis terhadap

toleransi beragama pada murid SMA di Kota

Bandung. Hipotesis yang diajukan dalam

penelitian ini adalah bahwa keterampilan

berpikir kritis berkorelasi ke arah positif dengan

toleransi beragama, dimana semakin tinggi

keterampilan berpikir kritis maka semakin

tinggi juga toleransi beragama. Sebaliknya,

semakin rendah keterampilan berpikir kritis

maka semakin rendah juga toleransi beragama.

Metode

Partisipan dan desain penelitian

Partisipan atau subjek dalam penelitian

ini adalah 400 murid dari beberapa sekolah

SMA di Kota Bandung. Sebagaimana bisa

dilihat pada Tabel 1, mayoritas responden

berusia 17 tahun, beretnis Sunda, dan

beragama Islam.

Tabel 1. Data Demografis Partisipan

Karakteristik Frekuensi Persentase

Jenis Kelamin

Laki-laki 166 41.5%

Perempuan 234 58.5%

Usia

15 Tahun 24 6%

16 Tahun 130 32.5%

17 Tahun 180 45%

18 Tahun 61 15.3%

19 Tahun 5 1.3%

Suku Bangsa

Sunda 250 62.5%

Jawa 32 8%

Batak 27 6.8%

Tionghoa 35 8.8%

Melayu 6 1.5%

lainnya 50 12.5%

Agama

Islam 290 72.5%

Kristen 76 19%

Katolik 32 8%

Hindu 1 0.3%

Budha 1 0.3%

Teknik sampling yang digunakan untuk

merekrut partisipan adalah multistages cluster

Page 5: Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

NUGRAHA, MASLIHAH, & MISBACH

MEDIAPSI │ 2020. Vol. 6, No. 2, 119˗131 123

random sampling, yaitu teknik yang digunakan

untuk mengambil sampel dari pembagian

populasi menjadi kelompok, kemudian dipilih

secara acak sebagai wakil dari populasi.

Multistages cluster random sampling

merupakan salah bentuk dari probability

sampling, sebagai teknik pengambilan sampel

yang menjamin semua anggota populasi

memiliki probabilitas yang sama untuk bisa

terseleksi sebagai anggota sampel (Creswell,

2015).

Pendekatan yang digunakan dalam

penelitian ini adalah kuantitatif korelasional

dengan mengukur keterampilan berpikir kritis

sebagai variabel independen (X) dan toleransi

beragama sebagai variabel dependen (Y).

Prosedur dan pengukuran

Sejumlah tahapan ditempuh dalam

penelitian ini. Pertama adalah melakukan

persiapan penelitian, kedua adalah mengambil

data sesuai target, dan ketiga adalah

menganalisis data yang diperoleh. Dalam tahap

persiapan, peneliti menentukan rumusan

masalah penelitian, yang dilanjutkan dengan

mereview pustaka untuk mengggali dan

menemukan landasan teori dan temuan-temuan

empiris berkaitan dengan hubungan antara

variabel dalam penelitian ini. Selanjutnya

peneliti menentukan desain dan metode

penelitian yang tepat sesuai dengan topik

penelitian. Tahap berikutnya dilanjutkan

dengan membuat dan menyusun instrumen

penelitian, melakukan expert judgemnet, dan

melakukan uji coba (try out) kepada 360

responden murid SMA. Langkah ini bertujuan

memperoleh informasi mengenai sejauh mana

instumen dalam penelitian ini secara

psikometris valid dan reliabel.

Pada tahap pengambilan data, peneliti

menggunakan metode kuesioner yang

disebarkan secara online dengan link online

form melalui media sosial, dan secara offline

dengan mendatangi sekolah-sekolah, kemudian

menyebarkannya di dalam kelas secara paper-

and-pencil. Tahap ketiga, peneliti memberikan

kesimpulan dengan mengacu pada deskripsi dan

analisis data sesuai dengan teori yang diajukan.

Instrumen yang digunakan dalam

penelitian ini terdiri dari dua skala pengukuran.

Instrumen yang digunakan untuk mengukur

keterampilan berpikir kritis didasarkan pada

Critical Thinking Scale (CTS) yang

dikembangkan berdasarkan teori Ennis (1985).

Reliabilitas Cronbach apha untuk instrumen ini

adalah α = .85 (contoh aitem: ―Saya cenderung

mempertimbangkan dampak terlebih dahulu

sebelum menyebarkan suatu berita‖). Pengisian

kuesioner keterampilan berpikir kritis dilakukan

oleh respoden dengan memilih dan memberikan

tanda ceklis pada salah satu dari lima pilihan

skala, yang bervariasi dari 1 (Sangat Tidak

Mencerminkan Saya) sampai dengan 5 (Sangat

Mencerminkan Saya).

Instrumen yang digunakan untuk

mengukur toleransi agama didasarkan pada

Religious Tolerance Scale (RTS) yang

dikembangkan berdasarkan teori Broer,

Muynck, Potgieter, Wolhuter, & Van der Walt

(2014). Reliabilitas untuk instrumen ini adalah

α = .78 (contoh aitem: ―Tidak masalah bagi

saya mengucapkan selamat hari raya pada

teman yang agamanya berbeda dari saya‖).

Pengisian kuesioner toleransi agama dilakukan

oleh respoden dengan memilih dan memberikan

tanda ceklis pada salah satu dari lima pilihan

skala, yang bervariasi dari 1 (Sangat Tidak

Setuju) sampai dengan 5 (Sangat Setuju).

Hasil

Teknik analisis data yang digunakan

dalam penelitian ini adalah Pearson roduct

moment untuk mengetahui hubungan

keterampilan berpikir kritis (X) dengan

toleransi agama (Y). Sebelum melakukan uji

kolerasi, peneliti melakukan transformasi data

dari data ordinal menjadi interval menggunakan

Rash model melalui aplikasi Winstep (Boone,

2016). Setelah data interval didapatkan, peneliti

menggunakan aplikasi SPSS untuk menguji

hipotesis penelitian.

Page 6: Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

BERPIKIR KRITIS DAN TOLERANSI BERAGAMA

MEDIAPSI │ 2020. Vol. 6, No. 2, 119˗131 124

Tabel 2 di bawah ini menampilkan nilai

korelasi antara keterampilan berpikir kritis dan

toleransi beragama. Sebagaimana bisa dicermati

pada Tabel 1, mendukung Hipotesis yang

ditetapkan, keterampilan berpikir kritis

berkorelasi signifikan ke arah positif dengan

toleransi beragama. Artinya, semakin tinggi

keterampilan kritis maka semakin tinggi juga

toleransi beragama. Berlaku sebaliknya,

semakin rendah keterampilan berpikir kritis

maka semakin rendah juga toleransi beragama.

Tabel 2. Korelasi antara Berpikir Kritis dan Toleransi

Beragama (N = 400)

Variabel (1) (2)

(1) Keterampilan berpikir kritis .39**

(2) Toleransi beragama

Keterangan: **p < .01.

Tabel 2. Perbedaan Keterampilan Berpikir Kritis dan Toleransi

Beragama Berdasarkan Jenis Kelamin, Suku, dan Agama

Demografi Berpikir kritis

Toleransi

beragama

M p M p

Jenis Kelamin

Laki-laki 119 .070

96 .866

Perempuan 118 94

Suku Bangsa

Sunda 117

.012

95

< .001

Jawa 122 93

Batak 117 97

Tionghoa 122 95

Melayu 137 93

lainnya 117

Agama 99

Islam 118

.941

99

< .001

Kristen 118 99

Katolik 119 102

Hindu 111 97

Budha 127 94

Keterangan: M = skor rata-rata, p = signifkansi.

Analisis tambahan dalam penelitian ini

menguji pengaruh variabel demografis jenis

kelamin, suku, dan agama terhadap

keterampilan berpikir kritis dan toleransi

beragama. Hasil analisis tambahan ini bisa

dicermati dalam Tabel 2 di atas.

Sebagaimana bisa dilihat pada Tabel 2,

variabel demografi suku bangsa berpengaruh

secara signifikan terhadap keterampilan

berpikir kritis maupun toleransi beragama. Jenis

kelamin tidak berpengaruh secara signifikan

terhadap kedua variabel. Terakhir, variabel

demografi agama berpengaruh signifikan

terhadap toleransi beragama, tetapi tidak

berpengaruh signifikan terhadap keterampilan

berpikir kritis.

Diskusi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

hubungan antara keterampilan berpikir kritis

dengan toleransi beragama pada murid SMA di

Kota Bandung. Hasil analisis uji hipotesis

menunjukan bahwa keterampilan berpikir kritis

memiliki hubungan yang signifikan dengan

toleransi beragama. Temuan ini sesuai dengan

teori yang dikemukakan oleh Davies (2015),

yang melaporkan bahwa murid dengan

keterampilan berpikir kritis yang tinggi

bersikap lebih toleran terhadap perbedaan yang

dimiliki individu lain, baik perbedaan atas dasar

etnik, ras, maupun agama.

Hasil dalam penelitian ini menegaskan

pentingnya mengembangkan keterampilan

berpikir kritis di kalangan anak SMA,

mengingat perannya dalam meningkatkan

toleransi beragama. Salah satu hal yang

berkontribusi dalam mengembangkan

keterampilan berpikir kritis tersebut

dimungkinkan adalah penerapan kurikulum

2013 di Kota Bandung. Salah satu aspek yang

dikembangkan dalam kurikulum tersebut adalah

meningkatkan keterampilan berpikir kritis yang

dimiliki murid (Hayati, 2018). Kurikulum

tersebut juga mengharuskan guru untuk

meningkatkan keterampilan berpikir kritis

murid melalui pembelajaran yang

memfasilitasi murid secara langsung untuk

berlatih keterampilan berpikir kritis

(Kurniawati, Zubaidah, & Mahanal, 2016).

Bentuk pembelajaran ini dilakukan dengan

membiasakan murid SMA untuk bertanya dan

berpendapat, bersikap dan berperilaku

Page 7: Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

NUGRAHA, MASLIHAH, & MISBACH

MEDIAPSI │ 2020. Vol. 6, No. 2, 119˗131 125

kooperatif, serta berfokus pada pemecahan

masalah (Hashemi, 2011; Istianah, 2013;

Lassig, 2009). Pengembangan keterampilan

berpikir kritis memerlukan peran pihak sekolah

untuk mampu membangun dan

mengembangkan keterampilan berpikir kritis

yang dimiliki murid SMA. Dalam hal ini, guru

harus bisa membuat metode pembelajaran yang

dapat membuat siswa aktif dan menstimulus

keterampilan berpikir kritis mereka.

Implikasinya, penerapan kurikulum 2013 akan

semakin tepat dalam mengembangkan

keterampilan berpikir ini. Selain itu, tingkat

keterampilan berpikir kritis juga berkaitan

dengan hasil demografis dalam penelitian ini.

Analisis tambahan dalam penelitian ini

menemukan bahwa keterampilan berpikir kritis

berbeda secara signfiikan dilihat dari segi suku

bangsa. Temuan ini sejalan dengan penelitian

yang dilakukan oleh Bustami (2016) yang

melaporkan bahwa perbedaan nilai-nilai

karakter pada setiap suku bangsa

mempengaruhi perbedaan keterampilan berpikir

kritis pada setiap individu. Implikasinya, tenaga

pendidik (guru) perlu untuk menanamkan nilai-

nilai karakter pada setiap suku bangsa melalui

berbagai strategi pembelajaran inovatif dan

kooperatif. Salah satu strategi pembelajaran

yang dapat diterapkan adalah tipe Jigsaw,

Reading, Questioning, Answering (JiRQA)

(Maasawet, 2010).

Variabel jenis kelamin tidak berpengaruh

terhadap tingkat keterampilan berpikir kritis

murid SMA di Kota Bandung. Hasil ini sesuai

dengan penelitian-penelitian sebelumnya

(Afsahi, 2017; Bagheri & Ghanizadeh, 2016;

Heong dkk., 2011; Pambudiono, Zubaidah, &

Mahanal, 2013; Reese, Lee, Cohen, & Puckett,

2001) yang menunjukkan bahwa tingkat

berpikir kritis laki-laki tidak berbeda secara

signifikan dibandingkan dengan tingkat berpikir

kritis perempuan.

Kemampuan berpikir kritis yang sama

pada laki-laki maupun perempuan dapat

disebabkan oleh pengalaman belajar yang sama,

dalam artian mereka sama-sama mendapatkan

materi yang sesuai dengan kurikulum 2013.

Selama proses pembelajaran, semua murid baik

laki-laki maupun perempuan dikondisikan

untuk saling bekerja sama mengembangkan

kemampuan berpikirnya (Pambudiono dkk.,

2013). Dengan demikian, semua murid

memiliki peluang yang sama dalam

pengembangan kemampuan berpikir kritis dan

peningkatan hasil belajarnya.

Keterampilan berpikir kritis merupakan

keterampilan hidup yang penting pada saat ini

dan perlu dikembangkan pada murid SMA

(Kurniawati dkk., 2016). Penelitian terdahulu

menyebutkan bahwa keterampilan berpikir

kritis memudahkan murid untuk membedakan

antara fakta dan opini, mengidentifikasi

informasi yang relevan, memecahkan masalah,

mampu menyimpulkan informasi yang telah

dianalisis, membedakan ide atau gagasan secara

jelas, beragumen dengan baik, mampu

mengkonstruksi penjelasan, mampu

berhipotesis dan memahami hal-hal kompleks

menjadi lebih jelas (Newmann & Wehlage,

1990; Woolfolk, 2008; Widodo & Kadarwati,

2013). Hal-hal tersebut menjadikan murid SMA

menjadi individu yang educated people bukan

ordiniary people dalam memandang perbedaan

agama (Casram, 2016).

Lebih lanjut, Casram (2016) menjelaskan

bahwa educated people berkecenderungan lebih

rasional dan bukannya intuitif serta simbolik

dalam meresapi ajaran agama. Mereka

menunjukkan toleransi lebih besar dalam

menyikapi dan berperilaku terhadap agama lain

dan pemeluknya. Secara kontras, ordiniary

people lebih mengandalkan symbol-simbol dan

intuisi, dan bukannya rasio atau nalar dalam

memahami ajaran agama. Ordinary people lebih

emosional dalam memahami perbeddaan agama

dan, sebagai dampak ikutannya, menunjukkan

toleransi rendah terhadap agama dan pemeluk

agama lain (Casram, 2016). Argumentasi ini

bermakna bahwa individu yang memiliki

keterampilan berpikir kritis lebih terbuka dan

toleran terhadap pandangan atau agama yang

berbeda.

Page 8: Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

BERPIKIR KRITIS DAN TOLERANSI BERAGAMA

MEDIAPSI │ 2020. Vol. 6, No. 2, 119˗131 126

Tingginya keterampilan berpikir kritis

yang dimiliki murid SMA di Kota Bandung

membuat nilai toleransi agama mereka juga

menjadi tinggi. Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa toleransi agama murid

SMA di Kota Bandung berada dalam kategori

tinggi. Mendukung teori yang dikemukakan

oleh ilmuwan sebelumnya (Âsiek, 2019),

keterampilan berpikir kritis pada murid bisa

berkontribusi pada pengembangan toleransi. Ini

terjadi karena berpikir kritis membutuhkan

keahlian dalam mendengarkan orang lain,

memiliki sikap terbuka dalam dialog dan

diskusi, mengembangkan empati, mengevaluasi

peristiwa dan fakta dari berbagai sudut

pandang. Sikap-sikap demikian rupa ini bisa

menumbuhkan kesadaran akan perbedaan yang

dimiliki individu lain.

Penelitian ini juga mengungkap adanya

perbedaan tingkat toleransi beragama

berdasarkan varibel demografi agama. Hasil ini

sejalan dengan penelitian Kasmo, Usman, Taha,

Salleh, dan Alias (2015) yang menunjukkan

adanya perbedaan respon tingkat toleransi

berdasarkan agama responden. Casram (2016)

menjelaskan bahwa perbedaan tersebut

mungkin bersumber dari eksklusivisme, sebuah

pandangan yang menganggap bahwa ajaran

yang paling benar hanya lah ajaran agama sendiri,

sedangkan agama lain adalah keliru.

Eksklusivisme tidak selamanya salah. Hal ini

bisa terjadi jika eksklusivisme tersebut tidak

diikuti dengan sikap merendahkan agama lain

(Merino, 2010). Kombinasi ini mencerminkan

pandangan bahwa meskipun agama sendiri

diyakini benar, keberadaan agama lain harus

tetap dihargai (Bakar, 2016).

Selain agama, suku bangsa juga

berpengaruh signifikan terhadap toleransi

beragama. Hasil ini selaras dengan penelitian

Damisma dkk. (2018) yang melaporkan bahwa

suku bangsa memengaruhi tingkat toleransi

agama yang dimiliki individu. Latar belakang

individu dapat memberi pengaruh pada

penilaian individu terhadap sesuatu yang

berbeda dari dirinya (Wang & Froese,

2020). Suku bangsa merupakan hal yang

diwariskan dari keluarga asal dan erat kaitannya

dengan lingkungan terdekat, dalam hal ini

adalah keluarga. Dalam lingkungan keluarga,

orang tua memainkan peran yang sangat

penting dalam membantu perkembangan

toleransi pada anak. Pola asuh dan pengetahuan

tentang agama yang didapat dari orang tua juga

bisa mempengaruhi tingkat toleransi agama

seseorang (Suleeman, 2018). Anak-anak yang

dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang

harmonis, penuh cinta, dan rasa saling hormat

akan menjadikan mereka memiliki sikap

toleransi kepada orang lain (Redse, 2007).

Anak-anak akan mengobservasi sikap dan

perilaku orang tua mereka ketika bereaksi

terhadap individu di luar kelompoknya. Jika

orangtua menunjukkan sikap toleran maka

anak-anak mereka cenderung menjadi toleran,

begitupun sebaliknya (Sumadi, Yetti, Yufiarti,

& Wuryani, 2019).

Sementara itu, jenis kelamin ditemukan

tidak berperan signifikan dalam mempengaruhi

tingkat toleransi beragama. Temuan ini berbeda

dengan hasil penelitian yang telah dilakukan

oleh Maimanah (2013), yang melaporkan

bahwa perempuan memiliki tingkat toleransi

yang lebih tinggi daripada laki-laki. Perempuan

memiliki sifat dasar atau basic instink yang

terbentuk dari pengalamannya. Pengalaman-

pengalaman tersebut membentuk kemampuan

wanita dalam memikirkan ―Aku-Lain‖ atau

memposisikan diri di posisi orang lain, yang

membuat mereka tidak egosentris, tidak suka

mendominasi, penuh kasih sayang, menyukai

perdamaian, dan bersikap toleran (Maimanah,

2013).

Penelitian ini mengandung sejumlah

kekurangan, yang bisa disempurnakan dalam

studi-studi lanjutan. Kelemahan pertama

berkaitan dengan nilai korelasi antara

keterampilan berpikir kritis dan toleransi

beragama yang berkategori cukup, yaitu sebesar

.39. Nilai kuadrat koefisien korelasi ini adalah

.15. Artinya, prosentase kemampuan

keterampilan berpikit kritis dalam menjelaskan

Page 9: Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

NUGRAHA, MASLIHAH, & MISBACH

MEDIAPSI │ 2020. Vol. 6, No. 2, 119˗131 127

variansi toleransi beragama adalah sebesar

15%. Implikasinya, selain keterampilan berpikir

kritis, toleransi agama dapat dipengaruhi oleh

faktor-faktor lain. Studi lanjutan dengan

demikian bisa melibatkan atau mengukur

faktor-faktor tersebut, misalnya

fundamentalisme, identitas sosial, lingkungan

keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan

masyarakat (Bukhori, 2010; Muhid & Fadeli,

2018).

Kelemahan kedua berkaitan dengan

kurang meratanya jumlah demografi suku

bangsa. Hal ini berdampak pada sulitnya

peneliti dalam mendeskripsikan secara lebih

mendalam dan lebih bervariasi keterampilan

berpikir kritis maupun toleransi beragama atas

dasar kategorisasi suku bangsa. Untuk

menutupi kekurangan ini, studi lanjutan bisa

menerapkan mixed method dengan

mengkombinasikan metode kuantitatif dan

kualitatif. Hal ini memungkinkan peneliti untuk

menemukan temuan baru dan mendapatkan

informasi yang lebih mendalam dibandingkan

dengan metode kuantitatif semata.

Daftar Pustaka

Afsahi, S. E. dan A. (2017). The relationship

between mother tongue, age, gender and

critical thinking level. Journal of Applied

Linguistics and Language Research, 4(1),

116–124. Diakses dari

http://jallr.com/~jallrir/index.php/JALLR/a

rticle/view/479/pdf479

Âsik. EV. H. (2019). Critical thinking

disposition levels of the religious culture

and ethics teacher candidates (The sample

of Manisa Celal Bayar University, Faculty

of Theology Last Year Students). Journal

of International Social Research, 12(62),

942–967.

https://doi.org/10.17719/jisr.2019.3109

Bagheri, F., & Ghanizadeh, A. (2016). Critical

thinking and gender differences in

academic self-regulation in higher

education. Journal of Applied Linguistics

and Language Research, 3(3), 133–145.

Diakses dari

http://www.jallr.com/index.php/JALLR/art

icle/view/304

Baihaki, E. S. (2020). Islam dalam merespons

era digital: Tantangan menjaga

komunikasi umat beragama di Indonesia.

Jurnal Kajian Sosial Keagamaan, 3(2),

185–208.

https://doi.org/10.20414/sangkep.v2i2.p-

ISSN

Bakar, A. (2016). Argumen Al-Quran tentang

eksklusivisme, inklusivisme dan

pluralisme. Toleransi, 8(1), 43–60.

https://doi.org/10.24014/trs.v8i1.2470

Boone, W. J. (2016). Rasch analysis for

instrument development: Why, when, and

how?. CBE—Life Sciences

Education, 15(4), rm4.

https://doi.org/10.1187/cbe.16-04-0148

Broer, N. A., Muynck, B., Potgieter, F. J.,

Wolhuter, C. C., & Van der Walt, J. L.

(2014). Measuring religious tolerance

among fnal year education students.

International Journal of Religious

Freedom, 7(1/2), 77–96. Diakses dari

https://www.researchgate.net/publication/3

33540202_Measuring_religious_tolerance

_among_final_year_education_students_T

he_birth_of_a_questionnaire

Bukhori, B. (2010). Prasangka terhadap

pemeluk agama lain dalam perspektif teori

belajar sosial dari Albert Bandura. Jurnal

Psikologi, 3(1), 29-36.

Bustami, Y. (2016). Potensi nilai-nilai karakter

mahasiswa multietnis dalam

mempengaruhi keterampilan berpikir kritis

pada pembelajaran biologi. Jurnal Biologi

dan Pembelajarannya, 3(1), 3–7.

https://doi.org/10.29407/jbp.v3i1.441

Casram, C. (2016). Membangun sikap toleransi

beragama dalam masyarakat plural.

Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama Dan

Sosial Budaya, 1(2),187–198.

https://doi.org/10.15575/jw.v1i2.588

Page 10: Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

BERPIKIR KRITIS DAN TOLERANSI BERAGAMA

MEDIAPSI │ 2020. Vol. 6, No. 2, 119˗131 128

Cassanova, J. (2008). Public religions in the

modern world. Chicago: Chicago

University Press.

Cholilurrohman, M. (2016). Perbedaan

toleransi antarumat beragama pada

remaja di sma negeri, sma yayasan agama

dan sma asrama (pondok pesantren) di

Kabupaten Pati (Skipsi, Jurusan Psikologi,

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas

Negeri Semarang, Semarang, Indonesia).

Diakses dari

http://lib.unnes.ac.id/28673/1/1511412049.

pdf

Creswell W. J. (2013). Research design

pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan

mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Damisma, B. P., Pitoewas, B., & Nurmalisa, Y.

(2018). Pengaruh pola komunikasi antar

suku terhadap pembentukan sikap

toleransi peserta didik. Jurnal Kultur

Demokrasi, 7(3), 1-15. Diakses dari

http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/JK

D/article/view/16430/11803

Davies, M. (2015). A model of critical thinking

in higher education. In M. B. Paulsen

(ed.), Higher education: Handbook of

theory and research (pp. 41-92). New

York, Dordrecht, London: Springer,

https://doi.org/10.1007/978-3-319-

12835-1_2

Digdoyo, E. (2018). Kajian isu toleransi

beragama, budaya, dan tanggung jawab

sosial media. Jurnal Pancasila Dan

Kewarganegaraan, 3(1), 42–59.

https://doi.org/10.24269/jpk.v3.n1.2018.pp

42-59

Dja’far M. A. (2015). Intoleransi kaum pelajar.

Wahidinstitute.org. Diakses dari

http://www.wahidinstitute.org/wi-

id/indeks-opini/280-intoleransi-kaum-

pelajar.html

Ennis, R.H. and Weir, E. (1985). The Ennis-

Weir critical thinking essay test. Pacific

Grove, CA: Midwest Publications.

Ernst, J., & Monroe, M. (2004). The effects of

environment-based education on students’

critical thinking skills and disposition

toward critical thinking. Environmental

Education Research, 10(4), 507–522.

https://doi.org/10.1080/135046204200029

1038

Fryling, M. J., Johnston, C., & Hayes, L. J.

(2011). Understanding observational

learning: An interbehavioral approach. The

Analysis of Verbal Behavior, 27(1), 191-

203. https://doi.org/10.1007/BF03393102

Greer, R. D., Dudek-Singer, J., & Gautreaux,

G. (2006). Observational learning.

International Journal of Psychology,

41(6), 486–499.

https://doi.org/10.1080/002075905004924

35

Halpern, D. F. (1998). Teaching critical

thinking for transfer across domains.

American Psychologist, 53(4), 449–455.

https://doi.org/10.1037//0003-

066x.53.4.449

Hashemi, S. A. (2011). The use of critical

thinking in social science textbooks of

high school: A field study of fars province

in Iran. International Journal of

Instruction, 4(1), 63–78. Diakses dari

https://eric.ed.gov/?id=ED522910

Hayati, C. (2018). Penerapan kemampuan

berpikir kritis dalam pembelajaran menulis

teks anekdot berorientasi sense of humor

melalui media karikatur pada siswa Smk

Kelas X. Wistara: Jurnal Pendidikan

Bahasa dan Sastra, 1(2), 199-209. Diakses

dari

https://www.journal.unpas.ac.id/index.php/

wistara/article/view/2310

Heong, Y. M., Othman, W. B., Yunos, J. B. M.,

Kiong, T. T., Hassan, R. Bin, & Mohamad,

M. M. B. (2011). The level of marzano

higher order thinking skillsamong

technical education students. International

Journal of Social Science and Humanity,

1(2), 121–125.

https://doi.org/10.7763/ijssh.2011.v1.20

Herlina, L. (2018). Disintegrasi sosial dalam

konten media sosial facebook. TEMALI :

Page 11: Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

NUGRAHA, MASLIHAH, & MISBACH

MEDIAPSI │ 2020. Vol. 6, No. 2, 119˗131 129

Jurnal Pembangunan Sosial, 1(2), 232–

258. https://doi.org/10.15575/jt.v1i2.3046

Hermawati, R., Paskarina, C., & Runiawati, N.

(2017). Toleransi antar umat beragama di

Kota Bandung. Indonesian Journal of

Anthropology, 1(2), 105-124.

https://doi.org/10.24198/umbara.v1i2.1034

1

Hisyam, M. (2006). Budaya kewarganegaraan

komunitas Islam di daerah rentan konflik.

Jakarta: LIPI Press.

Istianah, E. (2013). Meningkatkan kemampuan

berpikir kritis dan kreatif matematik

dengan pendekatan model eliciting

activities (meas) pada siswa sma. Infinity

Journal, 2(1), 43.

https://doi.org/10.22460/infinity.v2i1.23

Kasmo, M. A., Usman, A. H., Taha, M., Salleh,

A. R., & Alias, J. (2015). Religious

tolerance in Malaysia: A comparative

study between the different religious

groups. Review of European Studies, 7(3),

184–191.

https://doi.org/10.5539/res.v7n3p184

Kurniawati, Z. L., Zubaidah, S., & Mahanal, S.

(2016). Model pembelajaran remap cs

(Reading concept map cooperative script )

untuk pemberdayaan keterampilan berpikir

kreatif. Proceeding Biology Education

Conference, 13(1), 399–403. Diakses dari

https://jurnal.uns.ac.id/prosbi/article/view/

5760

Larsson, K. (2017). Understanding and teaching

critical thinking—A new approach.

International Journal of Educational

Research, 84, 32–42.

https://doi.org/10.1016/j.ijer.2017.05.004

Lassig, C. J. (2009). Promoting creativity in

education: From policy to practice – An

Australian perspective. Proceedings the

7th ACM Conference on Creativity and

Cognition: Everyday Creativity, 229-238.

The Association for Computing

Machinary, University of California:

Berkeley, USA.

https://doi.org/10.1145/1640233.1640269

Maasawet, E. T. (2010). Pengaruh strategi

pembelajaran kooperatif snowballing pada

sekolah multietnis terhadap kemampuan

berpikir kritis sains biologi siswa smp

Samarinda. BIOEDUKASI (Jurnal

Pendidikan Biologi), 1(1), 1-11.

https://doi.org/10.24127/bioedukasi.v1i1.1

81

Maimanah, M. (2013). Wanita dan toleransi

beragama (Analisis

psikologis). Mu'adalah; Jurnal Studi

Gender dan Anak, 1(1), 51-58.

https://dx.doi.org/10.18592/jsga.v1i1.666

Mathson, S. M., & Lorenzen, M. G. (2008). We

won't be fooled again: Teaching critical

thinking via evaluation of hoax and

historical revisionist websites in a library

credit course. College & Undergraduate

Libraries, 15(1-2), 211-230.

https://doi.org/10.1080/106913108021772

26

Merino, S. M. (2010). Religious diversity in a

―Christian nation‖: The effects of

theological exclusivity and interreligious

contact on the acceptance of religious

diversity. Journal for the Scientific Study

of Religion, 49(2), 231–246.

https://doi.org/10.1111/j.1468-

5906.2010.01506.x

Muhid, A., & Fadeli, M. I. (2018). Korelasi

antara prasangka sosial dan toleransi

beragama pada mahasiswa aktivis

organisasi kemahasiswaan di perguruan

tinggi umum. Al Qodiri: Jurnal

Pendidikan, Sosial dan Keagamaan, 15(2),

124-136.

https://doi.org/10.1234/al%20qodiri.v15i2.

3191

Newmann, F. M., & Wehlage, G. G. (1993).

Five standards of authentic

instruction. Educational Leadership, 50, 8-

8. Diakses dari

https://eric.ed.gov/?id=EJ461121

Nisa’, A. K., & Tualeka, M. W. N. (2017).

Kajian kritis tentang toleransi beragama

dalam Islam. Al-Hikmah, 2(2), 1-12.

Page 12: Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

BERPIKIR KRITIS DAN TOLERANSI BERAGAMA

MEDIAPSI │ 2020. Vol. 6, No. 2, 119˗131 130

Diakses dari http://journal.um-

surabaya.ac.id/index.php/Ah/article/view/1

104

Nisvilyah, & Lely. (2013). Toleransi antarumat

beragama dalam memperkokoh persatuan

dan kesatuan bangsa (Studi kasus umat

Islam dan Kristen Dusun Segaran

Kecamatan Dlanggu Kabupaten

Mojokerto). Kajian Moral Dan

Kewarganegaraan, 2(1), 382–396.

Diakses dari

https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.

php/jurnal-pendidikan-

kewarganegaraa/article/view/2657

Orlando V.H. (2015). Konstruksi sosial atas

sikap dan cara hidup bertoleransi antar

umat beragama. Jurnal Mahasiswa

Sosiologi, 2(4), 1-21. Diakses dari

http://jmsos.studentjournal.ub.ac.id/index.

php/jmsos/article/view/93/112

Pambudiono, A., Zubaidah, S., & Mahanal, S.

(2013). Perbedaan kemampuan berpikir

dan hasil belajar biologi siswa kelas X

SMA Negeri 7 Malang berdasarkan jender

dengan penerapan strategi jigsaw. Jurnal

Pendidikan Hayati, 1(1). 1–10. Diakses

dari

https://www.researchgate.net/publication/3

22467313_PERBEDAAN_KEMAMPUA

N_BERPIKIR_DAN_HASIL_BELAJAR_

BIOLOGI_SISWA_KELAS_X_SMA_NE

GERI_7_MALANG_BERDASARKAN_J

ENDER_DENGAN_PENERAPAN_STR

ATEGI_JIGSAW

Patnani, M. (2020). Pengajaran nilai toleransi

usia 4-6 tahun. Jurnal Psikologi Ulayat,

1(1), 131–138.

https://doi.org/10.24854/jpu28

Potter, M. Lane. (2010). From search to

research: Developing critical thinking

through web research skills© 2010.

Washington: Microsoft Corporation.

Qodir, Z. (2018). Kaum muda, intoleransi, dan

radikalisme agama. Jurnal Studi Pemuda,

5(1), 429.

https://doi.org/10.22146/studipemudaugm.

37127

Rahmawati, I., Hidayat, A., & Rahayu, S.

(2016). Analisis keterampilan berpikir

kritis siswa SMP Pada materi gaya dan

penerapannya. Pros. Semnas Pend. IPA

Pascasarjana UM, 1, 1112–1119. Diakses

dari http://pasca.um.ac.id/wp-

content/uploads/2017/02/Ika-Rahmawati-

1112-1119.pdf

Redse, A. (2007). Freedom of religion,

religious tolerance, and the future of

Christian mission in the light of Samuel P.

Huntington's thesis on the clash of

civilizations and the remaking of the world

order. Norwegian Journal of

Missiology, 61(4), 259-278. Diakses dari

https://journals.mf.no/ntm/article/view/417

2

Reese, H. W., Lee, L. J., Cohen, S. H., &

Puckett, J. M. (2001). Effects intellectual

variables, ages, and gender on divergent

thinking in adulthood. International

Journal of Behavioral Development, 25(6),

491–500.

https://doi.org/10.1080/016502500420004

83

Rochmanudin. (2018, Februari19). Kasus

intoleransi dan kekerasan beragama

sepanjang 2018. Idntimes.com Diambil

dari

https://www.idntimes.com/news/indone

sia/rochmanudin-wijaya/linimasa-kasus-

intoleransi-dan-kekerasan-beragama-

sepanjang-2

Satrio, F. A. (2017, Januari 11). Komnas HAM:

Kasus intoleransi terus meningkat.

TimesIndonesia.co.id. Diakses dari

https://www.timesindonesia.co.id/read/ne

ws/140290/komnas-ham-kasus-

intoleransi-terus-meningkat

Sulaiman, A., & Syakarofath, N. A. (2018).

Berpikir kritis: Mendorong introduksi dan

reformulasi konsep dalam psikologi Islam.

Buletin Psikologi, 26(2), 86-96..

https://doi.org/10.22146/buletinpsikologi.3

8660

Page 13: Keterampilan Berpikir Kritis dan Perannya terhadap ...

NUGRAHA, MASLIHAH, & MISBACH

MEDIAPSI │ 2020. Vol. 6, No. 2, 119˗131 131

Suleeman, E. (2018). Religious tolerance values

among students of Christian senior high

schools. KnE Social Sciences, 215-229.

https://doi.org/10.18502/kss.v3i10.2913

Sumadi, T., Yetti, E., Yufiarti, Y., & Wuryani,

W. (2019). Transformation of tolerance

values (in religion) in early childhood

education. Jurnal Pendidikan Usia

Dini, 13(2), 386-400.

https://doi.org/10.21009/JPUD.132.13

Survei PPIM: Potret keberagamaan guru

Indonesia. (2018, Oktober 18).

ConveyIndonesia.com. Diakses dari

https://conveyindonesia.com/survei-ppim-

potret-keberagamaan-guru-di-indonesia/

Wang, X., & Froese, P. (2020). Attitudes

toward religion and believers in China:

How education increases tolerance of

individual religious differences and

intolerance of religious influence in

politics. Religion & Education, 47(1), 98-

117.

https://doi.org/10.1080/15507394.2019.16

26211

Widhayat, W., & Jatiningsih, O. (2018). (2018).

Sikap toleransi antarumat beragama pada

siswa Sma Muhammadiyah 4 Porong.

Kajian Moral dan Kewarganegaraan,

6(2), 596–610. Diakses dari

https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.

php/jurnal-pendidikan-

kewarganegaraa/article/view/24925/22832

Widodo, T & Kadarwati, S. (2013). High order

thinking berbasis pemecahan masalah

untuk meningkatkan hasil belajar

berorientasi pembentukan karakter murid.

Cakrawala Pendidikan. 32(1), 161-171.

https://doi.org/10.21831/cp.v5i1.1269

Wolhuter, C. C., Van der Walt, J. L., Potgieter,

F. J., De Muynck, B., & Broer, N. A.

(2014). Measuring religious tolerance

among final year education students-the

birth of a questionnaire. International

Journal for Religious Freedom, 7(1-2), 77-

96. Diakses dari

https://repository.nwu.ac.za/bitstream/hand

le/10394/20717/Screen-

enduser_IJRF_Vol7-

1BroerMeasuringreligious.pdf?sequence=

1

Woolfolk, A. 2008. Educational psychology

active earning edition (10th

ed.). London,

UK: Pearson Education, Inc.