Top Banner
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK PADA ANAK USIA 1-5 TAHUN DI WILAYAH KECAMATAN DUREN SAWIT JAKARTA TIMUR TAHUN 2014-2015 Annisa Siskha Septiana, Nuning Maria Kiptiyah Peminatan Epidemiologi [email protected] ABSTRAK Campak merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan dan menjadi perhatian masyarakat global. Indikator Kaus campak di Indonesia adaah 5/100.000 kasus. Penyakit ini menyebar dengan cepat dan umumnya menyerang anak usia dibawah 5 tahun dan dapat menimbulkan kematian. Kota Administrasi Jakarta Timur merupakan salah satu daerah dengan cakupan imunisasi >90% dan mencapai UCI 100%, namun berdasarkan laporan surveilans suku dinas kesehatan Jakarta Timur melaporkan 686 kasus campak diagnosis klinis selama tahun 2014 dan kasus tertinggi terjadi di wilayah Kecamatan Duren Sawit sebanyak 130 kasus campak diagnosis klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan dengan kejadian campak pada anak usia 1-5 tahun di Wilayah Kecamatan Duren Sawit tahun 2014-2015. Penelitian ini dilakukan dengan desain kasus kontrol dengan 154 sampel dengan besar kelompok kasus 51 orang dan kelompok kontrol 104 orang. Lokasi penelitian ini di wilayah Kecamatan Duren Sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa factor yang berhubungan dengan kejadian campak pada anak usia 1-5 tahun adalah status imunisasi anak ( P<0,01; OR= 21,5,;95% CI 5,98-77,24), pemberian vitamin A (P<0,01, OR=4,4; 95% CI: 2,04-9,69), dan riwayat ASI Ekslusif (P<0,01, OR: 2,3; 95% CI :1,004-5,26,). Penelitian ini menyimpulkan bahwa anak yang tidak diberikan imunisasi campak, vitamin A sesuai standar, dan pemberian ASI Ekslusif lebih berisiko terkena campak dibandingkan anak yang diberikan imunisasi, vitamin A sesuai standar, dan ASI Ekslusif. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan untuk dilakukan pelatihan juru imunisasi serta monitoring dan evalusi pengetahuan juru imunisasi dan manajemen cold chain di fasilitas kesehatan primer swasta dan negeri. Selain itu upaya promosi pencegahan penyakit perlu dilakukan untuk menurunkan angka kejadian campak. Kata Kunci: Faktor risiko campak, Imunisasi, Vitamin A Factors associated with the incidence of measles in children aged 1-5 years in the District of Duren Sawit on 2014-2015 ABSTRACT Measles is a disease that poses a health problem and concern of the global community . Socks indicator of measles in Indonesia adaah 5 / 100,000 cases . The disease spreads rapidly and usually affects children under the age of 5 years and can cause death . Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016
14

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

Oct 30, 2021

Download

Documents

dariahiddleston
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
Page 1: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK PADA ANAK USIA 1-5 TAHUN DI WILAYAH KECAMATAN

DUREN SAWIT JAKARTA TIMUR TAHUN 2014-2015

Annisa Siskha Septiana, Nuning Maria Kiptiyah

Peminatan Epidemiologi

[email protected]

ABSTRAK

Campak merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan dan menjadi perhatian masyarakat global. Indikator Kaus campak di Indonesia adaah 5/100.000 kasus. Penyakit ini menyebar dengan cepat dan umumnya menyerang anak usia dibawah 5 tahun dan dapat menimbulkan kematian.

Kota Administrasi Jakarta Timur merupakan salah satu daerah dengan cakupan imunisasi >90% dan mencapai UCI 100%, namun berdasarkan laporan surveilans suku dinas kesehatan Jakarta Timur melaporkan 686 kasus campak diagnosis klinis selama tahun 2014 dan kasus tertinggi terjadi di wilayah Kecamatan Duren Sawit sebanyak 130 kasus campak diagnosis klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan dengan kejadian campak pada anak usia 1-5 tahun di Wilayah Kecamatan Duren Sawit tahun 2014-2015.

Penelitian ini dilakukan dengan desain kasus kontrol dengan 154 sampel dengan besar kelompok kasus 51 orang dan kelompok kontrol 104 orang. Lokasi penelitian ini di wilayah Kecamatan Duren Sawit.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa factor yang berhubungan dengan kejadian campak pada anak usia 1-5 tahun adalah status imunisasi anak ( P<0,01; OR= 21,5,;95% CI 5,98-77,24), pemberian vitamin A (P<0,01, OR=4,4; 95% CI: 2,04-9,69), dan riwayat ASI Ekslusif (P<0,01, OR: 2,3; 95% CI :1,004-5,26,).

Penelitian ini menyimpulkan bahwa anak yang tidak diberikan imunisasi campak, vitamin A sesuai standar, dan pemberian ASI Ekslusif lebih berisiko terkena campak dibandingkan anak yang diberikan imunisasi, vitamin A sesuai standar, dan ASI Ekslusif.

Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan untuk dilakukan pelatihan juru imunisasi serta monitoring dan evalusi pengetahuan juru imunisasi dan manajemen cold chain di fasilitas kesehatan primer swasta dan negeri. Selain itu upaya promosi pencegahan penyakit perlu dilakukan untuk menurunkan angka kejadian campak.

Kata Kunci: Faktor risiko campak, Imunisasi, Vitamin A

Factors associated with the incidence of measles in children aged 1-5 years in the District of Duren Sawit on 2014-2015

ABSTRACT

Measles is a disease that poses a health problem and concern of the global community . Socks indicator of measles in Indonesia adaah 5 / 100,000 cases . The disease spreads rapidly and usually affects children under the age of 5 years and can cause death .

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016

Page 2: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

East Jakarta Administration City is one of the areas with immunization coverage > 90 % and reached UCI 100 % , but based surveillance report tribal health department of East Jakarta reported 686 cases of measles clinical diagnosis for 2014 and the highest case in the District of Duren Sawit as many as 130 cases measles clinical diagnosis . This study aims to determine the factors associated with the incidence of measles in children aged 1-5 years in the Regional District of Duren Sawit years 2014-2015 .

This research was conducted by case control design with a large group of 154 samples with 51 cases and the control group of 104 people . The location of this research in the District of Duren Sawit .

The study concluded that children who had been not immunized against measles, vitamin A according to the standard that is 2 times a year, and exclusive breastfeeding can be risk factor to exposed measels be compared with children who had been immunized against measles, vitamin A according to the standard that is 2 times a year, and exclusive breastfeeding . Based on the research results, it is advisable to improve immunizatition training and monitoring along with knowladge evaluation immunization worker and cold chain management at primary health facilities both public and private. In addition to promotion to reduce the number of measles it happened.

.

Keywords: Risk factors for measles, immunization, Vitamin A

Pendahuluan

Penyebaran kasus campak paling banyak terjadi di negara berkembang, termasuk di

Indonesia. Angka kejadian campak tahun 2014 di Indonesia mencapai 12.943 kasus (5,13%)

dari seluruh jumlah penduduk Indonesia.

Penyakit ini tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian di kalangan anak-anak

secara global, meski berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasinya. Sekitar 145.700

orang meninggal akibat penyakit campak hingga tahun 2013 dan sebagian besar menyerang

anak di bawah usia 5 tahun. Selama tahun 2000-2013 vaksin campak efektif mencegah 15,6

juta kematian akibat komplikasi campak (WHO, 2014).

Penyebaran kasus campak paling banyak terjadi di negara berkembang, termasuk di

Indonesia. Angka kejadian campak tahun 2014 di Indonesia mencapai 12.943 kasus (5,13%)

dari seluruh jumlah penduduk Indonesia. Kasus campak tertinggi terjadi di Provinsi Daerah

Istimewa Aceh dengan Insidance Rate 36,96/100.000 penduduk, provinsi Daerah istimewa

Yogyakarta dan Kalimantan Barat dengan masing-masing 34/100.000 penduduk dan

20,34/100.000 penduduk. Campak pada umumnya menyebar di daerah dengan penduduk

padat. Salah satu kota dengan penduduk padat adalah DKI Jakarta (Kemenkes, 2014).

Provinsi DKI Jakarta termasuk 5 wilayah di Indonesia dengan kasus campak tertinggi.

Kasus campak di wilayah ini, cenderung meningkat jika dibandingkan pada tahun 2013 yaitu

sebesar 12,88/100.000 penduduk, sedangkan pada tahun 2014 kasus campak mencapai

13,61/100.000 penduduk. Salah satu wilayah DKI Jakarta dengan kenaikan angka insidens

rate tertinggi selama tahun 2014-2015 adalah Kota Administrasi Jakarta Timur dengan

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016

Page 3: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

masing-masing insidens rate pertahun sebesar 21,1/100.000 penduduk, 13,9/100.000

penduduk, dan 19,7/100.000 penduduk), (Dinkes Jakarta,2015).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan

kejadian kasus campak pada anak usia 1-5 tahun di Kecamatan Duren Sawit tahun 2014-2015.

Tinjauan Teoritis

Salah satu faktor yang berkaitan dengan infeksi campak adalah host atau penjamu.

Campak adalah penyakit yang menyerang kekebalan tubuh penjamu. Tubuh manusia

memiliki sistem pertahanan untuk mencegah masuknya agen penyebab infeksi. Mekanisme

ini terdiri dari 2 kelompok, yaitu pertahanan non spesifik dan pertahanan spesifik. Pertahanan

non spesifik terdiri dari kulit, membrane mukosa sel fagosit, komplemen, lisozim, interferon,

dan lainnya. Peran pertahanan non spesifik sebagai lapisan pertahanan pertama ketika

mengalami kontak dengan agen infeksi. Sistem pertahanan spesifik bersifat bawaan yaitu

alamiah ada dan tidak dipengaruhi jika terjadi kontak pada infeksi sebelumnya. Sedangkan

sistem pertahanan spesifik meliputi antbodi yang terdiri dari sel B dan sistem imunitas yang

dihasilkan oleh sel T. Sistem pertahanan spesifik bersifat didapat, yaitu hasil reaksi agen

infeksi karena terjadi paparan sebelumnya (Ari Natalia Probandari, 2013).

Pelayanan kesehatan yang diberikan untuk mengendalikan kasus campak saat ini sudah

cukup baik. Upaya dilakukan untuk pencegahan kasus campak adalah dengan pemberian

imunisasi dasar pada anak usia dibawah 5 tahun. Pelayanan imunisasi dasar dilakukan

pertama kali di Indonesia pada tahun 1982 dan masuk dalam pengembangan program

imunisasi. Pemberian imunisasi dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh melalui

vaksinasi (imunisasi aktif), dan pemberian antibody (imunisasi pasif) (Noer Endah Pracoyo,

2013).

Kekurangan vitamin A meningkatkan risiko angka kejadian penyakit infeksi seperti

campak, infeksi saluran nafas, diare, dll (Kardiati, 2014). Pemberian Vitamin A memiliki

manfaat lain pada anak yang menerima imunisasi campak yaitu menghasilkan proteksi

perubahan oksigen yang disebabkan oleh respons host terhadap infeksi dan inflamasi. Dengan

demikian, anak yang mendapat imunisasi campak akan lebih kebal dibandingkan anak yang

tidak mendapat imunisasi.  Pengadaan program pemberian Vitamin A pada penderita campak

dilakukan dalam upaya penurunan angka morbiditas dan mortalitas terutama pada anak usia

1-5 tahun. Selain itu pemberian vitamin A dapat mencegahnya peningkatan derajat severity

penderita campak baik anak-anak maupun dewasa Manfaat pemberian vitamin A terhadap

morbiditas dari campak yaitu meningkatkan antibodi dan proliferasi limfosit (Munasir, 2000).

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016

Page 4: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

Pemberian ASI eksklusif mengurangi risiko kematian bayi yang disebabkan berbagai

penyakit infeksi umum menimpa anak-anak seperti campak, diare dan radang paru, serta

mempercepat pemulihan kondisi bayi sakit dan membantu menjarangkan kelahiran pada ibu

pasca melahirkan. Pemberian cairan dan makanan selain ASI pada anak usia 0-6 bulan dapat

meningkatkan risiko masuknya bakteri patogen. Bayi usia dini sangat rentan terhadap bakteri

penyebab diare, terutama di lingkungan yang kurang higienis dan sanitasi buruk. Di Negara-

negara kurang berkembang, dua di antara lima orang tidak memiliki sarana air bersih

(LINKAGES, 2002).

Metodologi Penelitian

Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain penelitian kasus kontrol,

yang mempelajari hubungan outcome dengan cara membandingkan faktor risiko dari masing-

masing kelompok. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2015 di Kecamatan Duren

Sawit, Jakarta Timur berdasarkan kejadian campak di Jakarta Timur pada tahun 2014-2015.

Populasi penelitian adalah anak usia 1-5 tahun yang tinggal di Kecamatan Duren Sawit

Jakarta Timur. kelompok kasus adalah anak usia 1-5 tahun yang menderita campak tercatat

dalam data rekapitulasi Form C1 pada tahun 2014-2015 di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta

Timur dan telah didiagnosa oleh petugas kesehatan setempat. Kelompok kontrol adalah Anak

yang belum pernah menderita campak pada rentang waktu yang sama dengan kelompk kasus.

Berdasarkan perhitungan dengan rumus Schelesselmen dapat disimpulkan bahwa besar

sampel kasus yang diambil dalam penelitian ini sebesar 46 orang, namun besar sampel

ditambahkan 10 % dari sampel minimal menjadi 51 orang untuk mengurangi bias penelitian.

Sedangkan pada kelompok kontrol dengan menggunakan perhitungan perbandingan minimal

1:2, besar sampel kelompok kontrol menjadi 102 orang.

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Peneliti

menggunakan data sekunder form C1 yang terdapat di Puskesmas Kecamatan Duren Sawit

Jakarta Timur, Kartu Menuju Sehat (KMS) yang dimiliki responden, dan kuisioner yang telah

disediakan peneliti.

Variabel yang diteliti antara lain variabel dependen (kejadian campak), dan variabel

independen (usia anak, status imunisasi, riwayat ASI Ekslusif, vitamin A dan status Gizi)

Analisis yang digunakan adalah analisis univariat yaitu analisa deskriptif yang bertujuan

untuk melihat gambaran distribusi frekuensi pada setiap variabel dan bivariate yaitu menguji

hipotesis dengan tujuan melihat hubungan variabel dependen dengan variabel independen

terhadap nilai frekuensi yang diamati melalui Uji Chi Square untuk melihat hasil

kemaknaannya.

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016

Page 5: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

Hasil Penelitian

a. Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Demografi Tabel 5.3.1

Distribusi Karakteristik Kasus dan Kontrol kejadian Campak pada anak usia 1-5 Tahun

di Kecamatan Duren Sawit Tahun 2014-2015

Variabel Kategori Kasus Kontrol

n % n %

Umur

0. 12-23 Bulan 13 25,5 24 23,3

1. 24-59 bulan 38 74,5 79 76,7

Total 51 100 103 100

Jenis Kelamin

1. Laki-laki 35 68,6 50 48,5

2. Perempuan 16 31,4 53 51,5

Total 51 100 103 100

Status

Imunisasi

0. Tidak di

Imunisasi

20 39,2 3 2,9

1. Diimunisasi 31 60,8 100 97,1

Total 51 100 103 100

Vitamin A

0. Tidak Sesuai

Standar

22 43,1 15 14,6

1. Sesuai Standar 29 56,9 88 85,4

Total 51 100 103 100

ASI Ekslusif

0. Tidak diberikan 42 82,4 69 67

1. Diberikan 9 17,6 34 33

Total 51 100 103 100

Status Gizi

1. Gizi Kurang 6 11,8 14 13,6

2. Gizi Baik 45 88,2 89 86,4

Total 51 100 103 100

Berdasarkan hasil penelitain didapatkan bahwa pada variabel umur, kelompok kasus

dan kontrol pada kedua kelompok umur yaitu 12-23 bulan dan 24-59 bulan memiliki proporsi

yang hampir sama. Pada variabel jenis kelamin, proporsi anak laki lebih banyak pada

kelompok kasus (68,6%) dibandingkan kelompok kontrol (48,5%). Sedangkan proporsi anak

perempuan cenderung lebih banyak pada kelompok kontrol dibandingkan kasus.

Pada variabel status imunisasi, proporsi anak yang tidak dberikan imunisasi pada

kelompok kasus cenderung lebih tinggi (29,3%) dibandingkan kelompok kontrol (2,9%),

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016

Page 6: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

sedangkan proporsi anak yang diberikan imunisasi pada kelompok kontrol lebih tinggi

dibandingkan kelompok kasus.

Pada variabel vitamin A, proporsi anak yang mendapat vitamin A yang tidak sesuai

standar pada kelompok kasus lebih tinggi hampir 3 kali dibandingkan kelompok kontrol,

sedangkan proporsi anak yang diberikan vitamin A sesuai standar lebih banyak 50% pada

kelompok kontrol dibandingkan kasus.

Pada variabel pemberian ASI Ekslusif, proporsi anak yang tidak mendapatkan ASI

Ekslusif pada kelompok kasus lebih tinggi 20% dibandingkan kelompok kontrol, sedangkan

proporsi anak yang mendapakan ASI Ekslusif pada kelompok kontrol lebih tinggi 1 kali

dibandingkan kelompok kasus.

Pada variabel gizi anak, anak yang mengalami gizi kurang dan gizi baik pada

kelompok kasus dan kontrol memiliki proporsi yang hampir sama.

b. Hubungan Kasus Campak dan Beberapa Faktor Tabel 5.3.2

Hubungan Faktor Risiko Campak Pada Anak Usia 1-5 Tahun

di Kecamatan Duren Sawit Tahun 2014-2015

Variabel Kategori Kasus Kontrol

OR 95% CI P Value n % n %

Umur 0. 12-23 Bulan 13 25,5 24 23,3 1,126 0,51-2,57 0,765

1. 24-59 bulan 38 74,5 79 76,7

Status

Imunisasi

0. Tidak di

Imunisasi

20 39,2 3 2,9 21,5 5,98-

77,24

0,00

1. Diimunisasi 31 60,8 100 97,1

Vitamin A 0. Tidak Sesuai

Standar

22 43,1 15 14,6 4,45 2,04-9,69 0,00

1. Sesuai Standar 29 56,9 88 85,4

ASI Ekslusif 0. Tidak diberikan 42 82,4 69 67 2,3 1,004-

5,26

0,045

1. Diberikan 9 17,6 34 33

Status Gizi 1. Gizi Kurang 6 11,8 14 13,6 0,84 0,3-2,35 0,751

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa anak usia 12-23 berisiko 1,13 kali

terkena campak dibandingkan dengan anak yang berusia 24-59 bulan. Namun secara stastistik

tidak bermakna, 95% CI melewati angka satu. Dengan demikian anak usia 12-23 bulan tidak

dianggap potensial sebagai faktor risiko (p>0,05).

Pada variabel status imunisasi campak, didapatkan OR 21,5 (95% CI: 5,98-77,24),

yang berarti bahwa anak yang tidak mendapat imunisasi campak pada usia 9 bulan berisiko

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016

Page 7: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

21 kali untuk terkena campak. Secara stastistik, status imunisasi dengan kejadian campak

berhubungan secara signifikan (nilai P<0,01). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

anak yang tidak mendapatkan imunisasi campak berpotensi sebagai faktor risiko.

Status pemberian vitamin A pada penelitian ini menunjukkan OR: 4,45 (95% CI: 2,04-

9,69), artinya anak yang tidak mendapat vitamin A sesuai standar yakni 2 kali dalam setahun

berisiko 4 kali untuk terkena campak. Secara statistik, pemberian vitamin A berhubungan

signifikan (nilai P<0,01). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa anak yang tidak

mendapat vitamin A yang tidak sesuai standar berpotensi sebagai faktor risiko.

Riwayat ASI Ekslusif pada penelitian ini menunjukkan OR 2,3 (95% CI: 1,004-5,26),

artinya anak yang tidak mendapat ASI Ekslusif berisiko 2 kali untuk terkena campak. Secara

statistik, riwayat ASI Ekslusif berhubungan signifikan dengan kejadian campak (nilai

P<0,01). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa anak yang tidak mendapat ASI Ekslusif

berpotensi menjadi faktor risiko.

Status gizi pada penelitian ini menunjukkan OR sebesar 0,84 artinya anak dengan gizi

kurang berpotensi menjadi faktor risiko terkena campak 0,84 kali dibandingkan dengan anak

gizi baik. Namun secara statistik tidak ada hubungan secara bermakna antara status gizi

dengan risiko campak (P: 0,751; 95% CI 0,305-2,354). Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa gizi anak bukan menjadi faktor risiko campak

Pembahasan

a. Hubungan Umur dengan Kejadian Campak

Pada penelitian ini, tidak ditemukan hubungan siginifikan bermakna antara umur

anak dengan kejadian campak (nilai P<0,01; 95% CI: 0,51-2,57). Hal ini dikarenakan yang

mempengaruhi terhadap kejadian campak adalah usia ketika anak mendapatkan imunisasi.

Menurut penelitian Mariati (2012) Balita yang tidak mendapat imunisasi campak tepat waktu

mempunyai risiko terkena penyakit campak 3 kali lebih besar dibandingkan anak yang

mendapat imunisasi campak tepat waktu di Kabupaten Banyumas.

Namun penelitian ini tidak relavan dengan penelitian Casaeri (2002) yang

menyebutkan bahwa adanya hubungan signifikan antara umur dengan kejadian campak (nilai

P<0,01; 95%CI:1,1-4,9) dan berisiko 2,3 kali anak berumur rentan untuk terkena campak

dibandingkan anak yang tidak berumur rentan. Hal ini dimungkinkan adanya penurunan

antibody anak setelah umur dua tahun. Hal lain yang memengaruhi insedensi menurut umur

adalah kepadatan penduduk, pola interaksi dan pola asuh anak (Casaeri, 2002).

Menurut kelompok umur, kasus campak pada kelompok umur 1-4 tahun dan

kelompok umur 5-9 tahun merupakan yang terbesar yaitu masing-masing sebesar 27,5% dan

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016

Page 8: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

26,9%, dihitung rata-rata umur tunggal, kasus campak pada bayi <1 tahun, merupakan yang

tertinggi, yaitu sebanyak 1.120 kasus (9,7%) (Kemenkes RI, 2013).

b. Hubungan Status Imunisasi dengan Kejadian Campak

Pada pendahuluan, telah diketahui bahwa penyebab kejadian campak di Negara

berkembang adalah pemberian imunisasi campak yang telah dimasukkan pada program

imunisasi dasar. hasil penelitian ini secara stastistik menunjukkan adanya hubungan bermakna

antara status imunisasi terhadap kejadian campak (nilai P<0,01, 95% CI: 5,98-77,24).

Pemberian imunisasi dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh pasif (Pracahyo, 2013).

Berdasarkan hasil analisis bivariat, anak yang tidak mendapat imunisasi campak akan

meningkatkan risiko terkena campak hingga 21,5 kali (OR: 21,5). Hasil penelitian Budi

(2012) yang telah dilakukan di Banjarmasin menujukkan hal yang sama bahwa anak yang

tidak mendapat imunisasi campak berisiko 5 kali terkena campak. Penelitian Giarsawan

(2014) menunjukkan bahwa status imunisasi pada anak berisiko 16 kali mempengaruhi

terjadinya kasus campak dengan hasil uji statistik yang dilakukan bahwa adanya hubungan

bermakna antara status imunisasi dengan kejadian campak (nilai P<0,01, 95% CI: 1,938-

147,767).

Selain itu, penelitian Budi (2012) memperkuat dengan adanya efikasi vaksin yang

diperoleh sebesar 78% sehingga kekebalan populasi yang belum mendapat vaksinasi tidak

melindungi populasi yang rentan.

Sistem imunisasi dapat mencegah antigen menginfeksi tubuh. Sistem imunitas bersifat

alami dan artificial. Imunitas alami bersifat spesifik dan nonspesifi, saat antigen menginfeksi

tubuh , imunitas nonspesifik yang terdiri dari sel komplemen dan makrofag akan bertarung

dengan cara memakan zat antigen tersebut (Atikah, 2010 dalam Rahmayanti, 2015 ).

Status imunisasi berkaitan dengan cakupan imunisasi suatu wilayah, sedangkan

cakupan imunisasi di wilayah Duren Sawit mencapai target cakupan imunisasi nasional.

Untuk meningkatkan angka cakupan imunisasi, tahun 2011 pemerintah membuat strategi

program crash campak pada balita atau kelompok usia rentan dan Catch Up Campaign pada

anak usia sekolah (kelas 1-6 SD) di daerah risiko tinggi yang dilanjutkan BIAS untuk anak

kelas 1 SD pada tahun berikutnya. Selain itu, pemerintah bekerjasama dengan pihak tertentu

untuk melakukan kampanye Imunisasi Campak dan Polio (P2PL. 2011).

Jika cakupan imunisasi sudah cukup baik dan kejadian campak masih ada, ada hal lain

yang memperngaruhi kejadian campak, salah satunya efektivitas vaksin. Efektivitas vaksin

dipengaruhi oleh pemberian vaksin dengan teknik pemberian dan dosis yang kurang dan

manajemen penyimpanan vaksin (management cold chain). Oleh karena itu perlu dilakukan

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016

Page 9: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

pelatihan juru imunisasi dan evaluasi teknik pemberian vaksinasi dan penyimpanan vaksin

pada pelayanan kesehatan primer pemerintah dan swasta.

c. Hubungan Pemberian Vitamin A dengan Kejadian Campak

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan signifikan pemberian

vitamin A dengan kejadian campak (nilai P<0,01, 95% CI: 2,04-9,69). Penyakit campak dapat

mengurangi konsenstrasi serum vitamin A. Anak yang tidak mendapat vitamin A sesuai

standar akan berisiko 4,45 kali terkena campak dibandingkan anak yang diberikan vitamin A

sesuai standar (OR: 4,45). Hal ini dikarenakan karena adanya deferensiasi Limfosit B yang

berperan sebagai kekebalan tubuh humoral (Azrimaidaliza, 2007). Pemberian vitamin A di

Negara berkembang dianjurkan sebanyak dua kali dalam satu tahun yakni pada bulan Februari

dan Agustus.

Penelitian Ma’roef (2009) menyebutkan bahwa adanya risiko terkena campak pada

balita yang tidak diberikan vitamin A sesuai standar sebesar 8,3 kali. Penelitian lainnya yang

relavan dengan penelitian ini adakag penelitian eksperimental Villamor et al (2005) di Afrika

Selatan menyatakan bahwa adanya hubungan pemberian Vitamin A dengan kejadian campak

( P: 0,01), dikarenakan adanya titer IgG terhadap virus campak lebih tinggi pada anak yang

mendapat vitamin A dibandingkan anak yang mendapat placebo selama 42 hari dilakukan

observasi.

Sedangkan penelitian Budi (2012) menyebutkan bahwa dari tidak terdapat hubungan

bermakna dan bersifat protektif, sebesar 1,33 kali untuk anak menderita campak (95% CI

0,78-2,26). Selain itu, penelitian Mujiati (2014) menjelaskan bahwa secara stastistik tidak ada

hubungan antara statsus pemberian vitamin A dengan kejadian campak (nilai P<0,01, OR 1,4,

95% CI: 0,625-3,301)

Kekurangan vitamin A meningkatkan risiko penyakit infeksi (Kardati, 2014). Selain

itu vitamin A akan merespon menghasilkan proteksi perubahan oksigen karena adanya

inflamasi dan infeksi. Pemberian vitamin A pada anak yang menderita campak akan

mencegah peningkatan keparahan penderita karena adanya peningkatan antibody dan

poliferasi limfosit. Anak dengan infeksi campak akut dan menerima suplementasi vitamin A

dosis tinggi (60 mg RE) secara signifikan tinggi IgG dan merespon virus campak dan

tingginya sirkulasi limposit selama follow-up, dibandingkan dengan anak yang menerima

placebo (Munasir, 2000).

d. Hubungan ASI Ekslusif dengan Kejadian Campak

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan signifikan antara riwayat

pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian campak (nilai P<0,01; 95% CI: 1,004-5,26). ASI

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016

Page 10: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

Ekslusif mempengaruhi kejadian campak karena ASI Ekslusif merupakan sumber zat

imunitas yang diperlukan bayi. Anak yang tidak mendapat ASI Eklsusif berisiko 2,3 terkena

campak dibandingkan anak yang mendapatkan ASI Ekslusif (OR: 2,3). Penelitian ini relavan

dengan penelitian yanti (2015) bahwa ASI Ekslusif yang merupakan variabel penggangu

terhadap kejadian campak mempunyai hubungan siginifikan dengan kejadian campak (

P:0,007). Penelitian lain yang relavan adlaah penelitian Rachmayanti (2014) bahwa

ditemukan hubungan bermakna antara ASI Ekslusif dengan kejadian campak (nilai P<0,01).

Penelitian lain menyebutkan bahwa pemberian ASI Ekslusif dapat menurunkan risiko terkena

penyakit infeksi (Duitjs L, 2010).

Imunoglobin sIgA dari ASI merupakan elemen imun ASI yang paling berperan di

dalam garis pertahanan terdepan di saluran cerna pada bayi yang menyusu, karena memiliki

efek protektif yang paling kuat. Telah dibuktikan pula bahwa sIgA ASI bersifat efektif dalam

sistem pertahanan mukosa baik terhadap bakteri, virus antara lain rotavirus dan respiratory

syncitial virus (RSV). S-IgA dapat menetralisir agen infeksi dan pada waktu yang sama

membatasi kerusakan jaringan akibat proses inflamasi (Schandler, 2000 ; Labbok dkk, 2004).

Elemen antiinfeksi lainnya pada ASI adalah berbagai jenis protein, di antaranya adalah

laktoferin, lisosim, laktaderin, anti protease, dan komplemen. Laktoferin disebut juga iron

glycoprotein, dapat megikat zat besi sehingga ketersediaan zat besi untuk pertumbuhan

bakteri menjadi berkurang. Dalam bentuk lactoferricin yang merupakan hasil enzymatic

cleavage dari laktoferin, dapat meningkatkan permeabilitas membran sel sehingga dapat

mengikat bagian lipid dari lipopolisakharida yang dimilki bakteri. Efek serupa juga

ditunjukkan terhadap virus, jamur dan protozoa. Efek antiviral dari laktoferin adalah pada

infeksi fase awal yaitu sebagai reseptor virus sehingga perlekatan virus pada sel inang

terhalang (Orsi, 2004).  

Mengingat pentingnya pemberian ASI Ekslusif pada bayi tidak selaras dengan

kenyataan di lapangan. Hal ini dapat dilihat dari cakupan pemberian ASI Ekslusif masih

tergolog rendah, terutama pada Jakarta Timur hanya mencapai 13 % pada tahun 2013

(Sudinkes,2013). Dengan demikian, bayi tidak mendapat imunitas alamiah yang terkandung

dalam ASI.

e. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Campak

Penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi tidak memiliki hubungan signifikan

dengan kejadian campak pada anak usia 1-5 tahun (nilai P<0,01; 95% CI: 0,305-2,354; OR

0,84). Hal ini dikarenakan jumlah sample pada kelompok kontrol yang kurang besar sehingga

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016

Page 11: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

kurang menggambarkan jumlah gizi kurang pada kelompok kontrol dan mengakibatkan tidak

adanya hubungan status gizi dengan kejadian campak.

Penelitian Casaeri (2003) menyebutkan bahwa kejadian campak pada anak dengan

gizi kurang berisiko 2,3 kali dibandingkan dengan anak gizi baik. Penelitian lain

menyebutkan bahwa anak dengan gizi kurang berisiko 1,37 kali terkena campak dibandingkan

dengan anak gizi baik (Budi, 2012). Hal ini dikarenakan Gizi merupakan faktor penentu yang

penting dari respon imun tubuh dan kekurangan gizi merupakan penyebab kurangnya

kekebalan tubuh (immunodeficiency). Selain itu zat gizi mempengaruhi sistem imun melalui

mekanisme pengaturan ekspresi dan produksi sitokin. Karena pola produksi sitokin

merupakan hal penting dalam merespon infeksi, ketidakseimbangan gizi yang serius pada

akhirnya akan mempengaruhi perkembangan respon imun dimasa yang akan datang.

Kesimpulan

Proporsi kasus campak paling banyak terjadi pada anak usia 12-23 bulan pada

kelompok kasus dibandingkan kelompok kontrol. Sedangkan status imunisasi, pemberian

vitamin A, dan riwayat ASI Ekslusif terbukti berhubungan dengan kejadian campak.

Sedangkan umur dan Status gizi terbukti tidak berhubungan dengan kejadian campak.

Saran

Mengadakan pelatihan untuk petugas imunisasi baik berupa keterampilan imunisasi

dan managemen cold chain di fasilitas kesehatan primer, hal ini diperlukan karena adanya

rotasi, mutasi, promosi petugas imunisasi oleh Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.

Penguatan kerjasama lintas sektoral yakni pada bidang kesejahteraan masyarakat dan

lingkungan social masyarakat untuk mengubah paradigma masyarakat mengenai imunisasi

dan ASI Ekslusif. Meningkatkan sosialisasi upaya pencegahan penyakit yang dapat dicegah

dengan imunisasi (PD3I) kepada masyarakat.Meningkatkan jejaring surveilans dimasyarakat

melalui kader kesehatan untuk penjaringan kasus dan sosialisasi pencegahan PD3I. Partisipasi

aktif masyarakat dalam kegiatan posyandu dan upaya kesehatan masyarakat lainnya, serta

memperbaiki paradigma yang berkembang mengenai imunisasi dan ASI Ekslusif bagi anak

melalui ceramah tokoh masyarakat. Serta perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat

faktor risiko lain yang terkait dengan kejadian campak seperti efektifitas pemberian imunisasi

terutama mengenai management cold chain di fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta,

pengetahuan petugas imunisasi, dan keterampilan petugas dalam memberikan vaksinasi.

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016

Page 12: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2009.___. Majalalah Kedokteran Andalas No.1 Vol.33 Edisi: Januari-Juni 2009 Azrimaidaliza, 2007. Vitamin A, imunitas dan Kaitannya dengan Penyakit Infeksi. Journal

Kesehatan Masyarakat, 2(I). Budi, Dwi Agus Setia. 2012. Faktor yang Berpengaruh pada Kejadian Luar Biasa Campak

Anak (1-5 tahun) Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2011. Tesis ed. Depok: Universitas Indonesia

Casaeri. 2003. Faktor-faktor Risiko Kejadian Penyakit Campak di Kabupaten Kendal Tahun

2002. Tesis ed. Semarang: Universitas Diponegoro Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.2015.Surveilans DKI Jakarta. Diakses pada tanggal 10

Oktober 2015 pada: surveilans-dinkesdki.net Duitjs, L Jaddoe VW, Hoffman A, Moll HA. 2010. Prolonged and Exclusive Breastfeeding

Reduces The Risk of Infectious Disease in Infancy. Pediatrics 2010. 126:e18-e25. Departemen Kesehatan. 2004, Pedoman Penyelenggaran Imunisasi, Jakarta. Giarsawan, Nyoman, dll. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kejadian Campak di

Wilayah Puskesmas Tejakula I Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng Tahun 2012. Kementerian Kesehatan, 2014. Profil Kesehatan 2014. Jakarta: Kementerian Kesehatan. LINKAGES.2002. Pemberian ASI Eksklusif atau ASI: Satu-satunya Sumber Cairan Yang

Dibutuhkan Bayi Usia Dini. WashingtonDC:LINKAGES Ma’roef, Salma. 2009. Situasi Campak pada Balita (12-59 Bulan) di Propinsi Sumatera

Barat, DKI Jaya, Jawa Barat dan Banten Pada Tahun 2007(Analisa Lanjut RISKESDAS 2007). Majalah Kedokteran Andalas No.1 Vol. 33. Januari-Juni 2009.

Mariati. 2012. Hubungan Status Imunisasi dan Ketepatan waktu Imunisasi dengan Kejadian

Campak di Kabupaten Banyumas. Yogyakarta : UGM (Tesis)  Mujiati, E., 2015. Faktor Risiko Kejadian Campak Pada Anak Usia 1-14 Tahun Di

Kecamatan Metro, Lampung. Palembang, Universitas Sriwijaya. Munasir , Zakiudi. 2000, ‘Pengaruh Suplementasi Vitamin A Terhadap Campak’ Jurnal Sari

Pediatri, [on line], vol. 2, no. 2. . diakses pada: 20 Desember 2015 Dari: http://scholar.google.com/

Musinah, D., 2012. Penatalaksanaan Spesimen Kejadian Luar Biasa (KLB):

Campak/Rubella. Jakarta: Badan Peneleitian dan Pengembangan Kesehatan . Noer Endah Pracoyo, R. P. Y. R., 2013. Sero Survei Status Kekebalan Campak Berdasarkan

Data Riskesdas 2007. Buletin Balitbangkes:Jakarta.

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016

Page 13: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

Notoadmojo, S., Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. 2003. Jakarta: Rhineka Cipta. Orsi N. The antimicrobial activity of lactoferrin: current status and perspectives. Biometals

2004; 17: 189-196.  P, P., 2010. Hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi bayi di

posyandu wilayah Kerja Puskesmas Kepulauan Talaud. s.l.:s.n. P2PL, D., 2011. Pedoman Pelaksanaan Kampanye Imunisasi Campak dan Polio 2009-2011.

Jakarta: Kementrian Kesehatan. Probandari, Ari Natalia S. H. J. D. N. L., 2013. Keterampilan Imunisasi. 2 ed. Solo:

Universitas Sebelas Maret. Purbandari, Ari Natalie, dll. 2013. Keterampilan Imunisasi. Surakarta: Universitas Sebelas

Maret Purwadini, H. R., 2013. Gambaran Epidemiologi Kejadian Luar Biasa Campak di Kabupaten

Serang Tahun 2011-2012. Skripsi ed. Depok: Universitas Indonesia. Rahmayanti, Leny Mafulla. 2015. Hubungan Status Imunisasi Campak dan Perilaku

Pencegahan Penyakit Campak dengan Kejadian Campak pada Bayi dan Balita di Puskesmas Kabupaten Bantul Tahun 2013-2014. Yogyakarta: STIKES Aisiyah

 Schlesselman, James. 1982. Case Control Studies: Desain, Conduct, Analysis. Newyork:

Oxford Schandler RJ. Overview : the clinical prospective. J. Nutr, 2000 ; 130 : 417 S – 419 S. Selina SP Chen, M. M., 2014. Measles Medication. [Online]

Available at: http://emedicine.medscape.com/article/966220-medication#2 [Accessed Oktober 2015].

Suku Dinas Jakarta Timur. 2012. Profil Kesehatan Jakarta Timur tahun 2012. Suku Dinas

Jakarta Timur:Jakarta Suku Dinas Jakarta Timur. 2013. Profil Kesehatan Jakarta Timur tahun 2013. Jakarta: Suku

Dinas Jakarta Timur Sutaryana, 2002. Hubungan Kesehatan Lingkungan Fisik Rumah dan Karakteristik Balita

dengan Kejadian Campak pada Balita di Kabupaten Garut tahun 200-2001. Tesis ed. Depok: Universitas Indonesia.

Tommy, d., 2000. Campak. Surabaya: Universitas Airlangga. UNICEF, 2007. Vitamin A Suplementastion: A Decade Progress. New York: UNICEF. Villamor, Eduardo & Fawzi, Wafaie W. 2005, ‘Effects of Vitamin A Supplementation on Immune

Responses and Correlation with Clinical Outcomes’, Clinical Microbiology Review, [on line], vol 18, no 3, hal 446 – 464. diakses tanggal 1 Januari 2016 .Dari : http://scholar.google.com/ .

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016

Page 14: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CAMPAK …

Wahab S, dkk. 2002. Sistem Imun, Imunisasi dan Penyakit imun. Widya Medika: Jakarta WHO, 2013. Pocket Book: Hospital Care for Children. second ed. Geneva: WHO. WHO. 2014. Imunization and Vaccine Development. Diakses pada tanggal 2 Oktober 2012

http://www.afro.who.int/en/clusters-a-programmes/ard/immunization-and-vaccines-development/topics/mes.html

Yanti, Tri Budi. 2015. Hubungan Pemberian Vitamin A dan Umur saat Pemberian Imunisasi

Campak dengan Kejadian Campak pada Bayi dan Balita di Kabupaten Bantul Tahun 2013-2014. Naskah Publikasi ed. Jakarta: STIKES AISIYAH  

 

 

Faktor- faktor..., Annisa Siskha Septiana, FKM UI, 2016