Top Banner

Click here to load reader

Fahd melacak kesalehan-transformatif

Aug 11, 2015

ReportDownload

Spiritual

  1. 1. Melacak Kesalehan Transformatifdalam Ihktiar TransfigurasiAhmad WahibFahd PahdepieL ikrha f al-dn, qad tabayyana al-rusyd min al-ghayy.(QS. Al-Baqarah: 251)Potret Pluralisme IndonesiaPenyerangan massa Front Pembela Islam (FPI) atasAliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama danBerkeyakinan (AKKBB) di silangan Monas pada 1 Juni2008 adalah sebuah pekerjaan rumah besar bagi persoalankebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia. Pe-nyeranganitu adalah bukti bahwa pluralisme belum sepe-nuhnyabisa dimaknai semua pihak. Keluarnya Surat Keputus-anBersama (SKB) tiga menteri mengenai penghentianseluruh aktivitas Ahmadiyah pada 9 Juni 2008 menjadibukti bahwa pluralisme masih tak memiliki cukup ruang53
  2. 2. 54Pembaharuan tanpa Apologia?untuk dirayakan. Yang lebih ironis, pluralisme difatwakanharam oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).Fatwa haram, juga berbagai gerakan antipluralismelain yang dimotori oleh sejumlah kelompok Islamfundamentalis, sejatinya hanya merupakan ketakutan.Mereka mengira bahwa pluralisme lebih dekat padarelativisme dan sinkretisme. Relativisme mengacu padakepercayaan bahwa semua hal bisa saja benar atau bisasaja salah. Konsekuensi dari paham ini adalah muncul-nyadoktrin bahwa kebenaran semua agama sama, danoleh kelompok antipluralis dimaknai sebagai sikapmenyamakan Islam dengan agama yang lain. Sedang-kansinkretisme adalah penciptaan agama baru denganmemilah-milah dan mengambil unsur-unsur tertentudari agama-agama itu untuk dijadikan sebagai satubagian integral (Alwi Shihab, 1999: 41-42).Pluralisme bukanlah sinkretisme ataupun relativisme.Pluralisme adalah kesadaran untuk menerima kebenarandari (agama) yang lain tanpa menafikan atau menisbi-kankebenaran (agama) sendiri. Hingga, dalam kesa-daransemacam itu tak ada lagi klaim kebenaran (claimof truth) yang bersifat tunggal-terpusat sehingga me-mungkinkanterwujudnya sikap toleransi satu agamaterhadap (adanya) kebenaran dalam agama yang lain.Hal tersebut setidaknya terlihat dari makna kata plu-ralismeitu sendiri. Kata pluralisme berasal dari kata dasar
  3. 3. plural atau dalam bahasa Indonesia berarti kemajemuk-an.Menurut kamus Oxford Advanced Learners Dictionary(1989), secara terminologis pluralisme adalah: (a) Exis-tancein one society of a number of groups that belong todifferent races or have different political or religious beliefs(keberadaan sejumlah kelompok orang dalam satu masya-rakatyang berasal dari ras, pilihan politik, dan kepercaya-anagama yang berbeda-beda), dan (b) principle that thesedifferent groups can live together peacefully in one society(prinsip bahwa kelompok-kelompok yang berbeda ini bisahidup bersama secara damai dalam satu masyarakat).Ketidakmampuan mengafirmasi nilai positif pluralismeatau pemahaman dan pemaknaan terhadapnya yangprematur membuat persoalan kebebasan beragama danberkeyakinan di Indonesia selalu menemui jalan buntu.Akhirnya, klaim kebenaran yang menolak dialog menjadilazim di kalangan organisasi Islam tertentu, terutama yangbercorak fundamentalis. Maka, tak heran jika perbedaandalam cara beragama maupun berkeyakinan kerap menjadisumber konflik horisontal di tengah masyarakat kita.Inilah yang menyebabkan kesenjangan terlihat me-ngangaantara kenyataan keberagaman dengan kesadarankeberagama(a)n. Indonesia adalah negeri yang majemuk,tapi gagal merayakan kesalinghormatan atas kemaje-mukanitu. Masalah utama dari kegagalan pemaknaanatas pluralisme ini, sejatinya berangkat dari ke-aku-an55Melacak Kesalehan Transformatif
  4. 4. 56Pembaharuan tanpa Apologia?atau egoisme setiap kelompok agama atau keyakinan yangberujung pada klaim atas kebenaran. Sehingga, aku-individuselalu berusaha tampil mendominasi danberusaha menaklukkan yang lain. Dalam hubungan dimana eksistensi (ke-)aku(-an) begitu kentara, yang lainatau yang selain aku menjadi harus bergabung denganaku dan harus sesuai dengan jalannya kehendak akutadi. Maka, di sini, identitas menjadi sesuatu yang pentinguntuk membedakan antara aku dan selain aku. Dalamkonteks inilah, perbedaan identitas menjadi soal yangselalu menghambat perayaan pluralisme di negeri ini.Di tengah debat panjang mengenai kebebasan ber-agamadan berkeyakinan, rasanya kita mesti belajar padaAhmad Wahib (1942-1973). Di mata Wahib, perbedaanadalah sebuah keniscayaan yang harus dirayakan, bukandisesali atau dibenci. Bagi Wahib, perbedaan semestinyadisikapi dengan cara melebur aku-individu ke dalamrealitas yang multivarian: menyelaminya, memaknainyasatu per satu. Dengan begitu, kita bisa melihat warnayang beraneka ronademikian Wahib menyebutnyadan merayakan perbedaan sebagai rahmat Tuhan.Belajar pada Ikhtiar Transfigurasi WahibAku bukan Hatta, bukan Soekarno, bukan Sjahrir, bukan Natsir,bukan Marx dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan aku bukanWahib. Aku adalah me-Wahib. Aku mencari, dan terus-menerus
  5. 5. mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Akuadalah meng-aku, yang terus-menerus berproses menjadi aku(Ahmad Wahib, 1981: 55).Ahmad Wahib menjadi tamparan bagi kita yang masihberkutat dengan persoalan-persoalan identitas, hinggakesulitan memaknai pluralisme. Bila kita masih bertanya-tanyatentang siapa aku, demi memperjelas identitas danmenciptakan batasan-batasan antara aku dengan yanglain, Wahib sudah sampai pada kesimpulan terjauh: akubukanlah aku. Bagi Wahib, identitas aku-individu harusdilebur ke dalam sebuah ikhtiar transfigurasi, menjadi meng-aku.Terus-menerus berusaha menjadi aku.Wahib memandang aku sebagai sesuatu yang tidakpernah final, ia selalu berada pada posisi membelum,atau akan menjadi. Maka, aku yang final sebagai se-buahidentitas tidak pernah ada. Yang ada adalah meng-aku. Tidak ada Wahib, sebab aku bagi Wahib sendiribukanlah Wahib, tetapi me-Wahib. Inilah yang disebutsebagai ikhtiar transfigurasi.Sepintas, pemikiran ini seperti tak memiliki relevansimendasar dengan persoalan keberagama(a)n yang saatini sedang kita hadapi. Tetapi, bila dicermati, aku-indi-viduyang dianggap final sebagai sebuah identitas yangmemaksanya memiliki pembeda dengan identitas akuyang lain itulah yang menjadi inti paling dasar persoalanpenyikapan keberagaman keberagamaan kitasaya lebihsenang menyebutnya sebagai masalah keberagama(a)n.57Melacak Kesalehan Transformatif
  6. 6. 58Pembaharuan tanpa Apologia?Ketika aku dianggap final dan selesai, maka yangtercipta hanyalah aku-individu dalam identitas yangterbatasi. Dalam kondisi ini, aku menjadi perlumemiliki oposisi yang menjadi selain-aku. Maka relasiyang terbentuk adalah relasi antara aku dan selain-akudalam pola yang cenderung dominatif. Bila sepertiini, maka pergesekan hingga konflik, menjadi sesuatuyang mungkin terjadi bahkan niscaya.Itulah yang membuat mengapa persoalan kebebasanberagama dan berkeyakinan di Indonesia kerap mandekdan takterselesaikan. Atau dalam konteks yang lebih nyatapenghormatan pada keberagaman ajaran agama dankeyakinan (pluralisme) melulu menjadi hal yang dianggaptabu, bahkan (di)haram(kan). Wahib menolak aku seba-gaiaku-individu yang bersifat final itu. Sebaliknya, Wahibmenginginkan aku yang selalu membelum atau akuyang terus menerus mencari, menuju, dan menjadi aku.Ikhtiar transfigurasi ini menjadi modal penting bagiWahib untuk memahami dirinya sebagai sesuatu yangseharusnya menjadi entitas mutlak (absolute entity). Sebab,dengan cara itulah, ia berharap mudah-mudahan menjadiMuslim, menjadi seorang yang memberi rahmat bagi se-mesta.Wahib menulis dalam bagian lain catatan hariannya:Aku bukan nasionalis, bukan Katolik, bukan sosialis. Aku bukanBudha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis.Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan
  7. 7. inilah yang disebut Muslim. Aku ingin bahwa orang memandangdan menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpamenghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasukserta dari aliran apa saya berangkat (Wahib, 1981: 46).Catatan di atas seperti menunjukkan betapa meleburaku-individu itu sangat penting bagi Wahib. Ia tampakbegitu cemas ketika membayangkan orang akan meni-lainyasebagai seseorang yang berangkat dari identitastertentu. Sebab Wahib ingin yang liyan memandangdirinya sebagai suatu yang mutlak (absolute entity).Inilah agaknya makna terdalam dari kesadaran plu-ralismedi mata Wahib. Memahami dan memaknai kedalam, baru setelah itu kita dapat memahami dan memak-naiapa yang ada di luar, juga sebaliknya. Tanpa itu, kita takakan menemukan apa yang luhur dalam agama yang lainsebab kita tak memahami dan memaknai apa yang luhurdalam agama kita sendiri. Demikian ujar sebuah pepatahArab: Barang siapa yang tak mengenal yang luhur dalamagamanya, maka tak akan mengenal yang luhur dalamagama yang lain.Sayangnya, kemauan dan kemampuan untuk mem-bacake dalam secara objektif dan menyeluruh tak dimilikibanyak orang di negeri ini. Sehingga, penghormatan danpenerimaan terhadap agama atau ajaran lain sulit untukdicapai. Sebagian orang muslim selalu menganggap Islamsebagai agama terbaik dengan memosisikan agama lain59Melacak Kesalehan Transformatif
  8. 8. 60Pembaharuan tanpa Apologia?di bawahnya. Ayat inna ad-dina indallahi al-Islam, hanyaIslam agama yang benar di sisi Allah, selalu dijadikanlegitimasi untuk menuduh agama lain sebagai salah, sesat,atau stereotip lainnya. Klaim kebenaran selalu didasarkanatas sikap apriori yang cenderung eksklusif dan anti-dialog(Aba du Wahid, 2004: 112). Untuk itu, Wahib menulis:Bila menilai sesuatu kita sudah bertolak dari suatu asumsi bahwaajaran Islam itu baik dan faham-faham lain di bawahnya, lebihrendah. Ajaran Islam kita tempatkan pada tempat yang palingbaik. Dan apa yang tidak cocok dengannya kita taruh dalam nilaidi bawahnya. Karena Islam itu paling baik dan kita ingin menem-patkandiri pada yang paling baik, maka kita selalu meng-identikkanpendapat yang kita anggap benar sebagai pendapatIslam (Wahib, 1981: 21-22).Wahib menginginkan kesadaran inilah yang tumbuhdalam dirinya, juga mudah-mudahan dalam diri masyarakatIndonesia. Dengan kesadaran bahwa aku-individu harus
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.