Top Banner

Click here to load reader

Daftar Isi

Oct 30, 2014

ReportDownload

Documents

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .......i Daftar Isi 1 BAB I BAB II BAB III 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 : Pendahuluan .......2 : Anatomi dan Fisiologi 3 : Sinusitis .10 Etiologi ........10 Patogenesis ..11 Manifestasi Klinis ......12 Pemeriksaan Fisik ......13 Pemeriksaan Penunjang ..18 Penatalaksanaan .19 Prognosis ........20 : Terapi Pembedahan pada Sinusitis ....21 : Kesimpulan ......37

BAB IV BAB V

Daftar Pustaka ........38

1

BAB I PENDAHULUAN

Sinusitis adalah peradangan mukosa sinus paranasal. Definisi lain menyebutkan, sinusitis adalah inflamasi dan pembengkakan membrana mukosa sinus disertai nyeri lokal. Sesuai anatomi sinus yang terkena dapat dibagi menjadi sinusitis maxilla, sinusitis ethmoid, sinusitis frontal, dan sinusitis sphenoid. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis sedangkan bila mengenai semua sinus disebut paranasal sinusitis. (1,2) Etiologi rinosinusitis kronis bersifat multifaktorial meliputi factor penjamu (host) baik sistemik maupun lokal dan factor lingkungan.(3,4,5) Namun pada rinosinusitis kronis yang persisten meskipun telah diberikan terapi yang adekuat biasanya berhubungan dengan adanya obstruksi mekanik, riwayat alergi dan asma, inflamasi dari superantigen bakteri dan jamur serta adanya polutan seperti rokok.(3,6,7) Diagnosis rinosinusitis kronis didapatkan melalui anamnesis, pemeriksaan THT dengan rinoskopi anterior dan posterior, nasoendoskopi kaku atau fleksibel, pemeriksaan radiologi (Rntgen ataupun tomografi komputer sinus paranasal) dan pemeriksaan mikrobiologi.(8,9) Tatalaksana dan pengenalan dini terhadap sinusitis ini menjadi penting karena hal diatas. Terapi antibiotic diberikan pada awalnya dan jika telah terjadi hipertrofi, mukosa polipoid dan atau terbentuknya polip atau kista maka dibutuhkan tindakan operasi (Mangunkusumo&Soetjipto, 2007).

2

BAB II ANATOMI dan FISIOLOGI

ANATOMI DAN FISIOLOGI RONGGA HIDUNG DAN SINUS PARANASAL

Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit dideskripsi karena bentuknya bervariasi pada tiap individu. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung.(2) Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sphenoid dan sinus frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat anak lahir, sedangkan sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun. Pneumatisasi sinus sphenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian posterosuperior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun.(2) Tulang-tulang pembentuk dinding lateral hidung dijelaskan dalam gambar (2).

3

Gambar 1. Tulang-tulang pembentuk dinding lateral hidung (1. Nasal; 2. Frontal; 3. Etmoid; 4. Sfenoid; 5. Maksila; 6. Prosesus palatina horizontal; 7. Konka superior (etmoid); 8. Konka media (etmoid); 9. Konka inferior; 10. Foramene sfenopalatina; 11. Lempeng pterigoid media; 13. Hamulus pterigoid media)

Gambar 2. Anatomi Sinus

Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila bervolume 6-8 mL, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal, yaitu 15 mL saat dewasa.(2) Sinus maksila berbentuk segitiga. Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan infra temporal maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung, dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid.(2) Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah: (2) 1. Dasar dari sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu premolar (P1 dan P2), molar (M1 dan M2) kadang-kadang juga gigi taring (C) dan gigi molar M3,4

bahkan akar-akar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi gigi geligi mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis. 2. Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita. 3. Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drenase kurang baik. Lagipula drenase juga harus melalui infundibulum yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drenase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.

Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke empat fetus, berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah lahir, sinus frontal mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20 tahun. Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar daripada yang lainnya dan dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang dewasa hanya mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih 5% sinus frontalnya tidak berkembang.(2) Ukuran sinus frontal adalah 2,8 cm tingginya, lebarnya 2,4 cm dan dalamnya 2 cm. Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Tidak adanya gambaran septum-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto rontgen menunjukan adanya infeksi sinus. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal. Resesus frontal adalah bagian dari sinus etmoid anterior.(2)

Sinus etmoid merupakan sinus yang paling bervariasi dan akhir-akhir ini dianggap paling penting, karena dapat merupakan fokus infeksi bagi sinus-sinus lainnya. Itu dikarenakan sinus frontal dan sinus maksila mula-mula mengalirkan isinya melalui sinus etmoidalis sebelum mencapai hidung. Sehingga jka sinus etmoid tidak mengeluarkan isinya dengan lancar, sinus-sinus lain juga akan ikut tersumbat. Pada orang dewasa bentuk sinus etmoid seperti piramida dengan dasarnya di bagian posterior. Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2,4 cm dan lebarnya 0,5 cm di bagian anterior dan 1,5 cm di bagian posterior.(2) Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon, yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak di antara konka media5

dan dinding medial orbita. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi antara 4-17 sel (rata-rata 9 sel). Berdasarkan letaknya sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Sel-sel etmoid anterior biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya di bawah perlekatan konka media, sedangkan sinus etmoid superior biasanya lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya dan terletak di postero-superior dari perlekatan konka media.(2) Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resesus frontal yang berhubungan dengan sinus frontal. Sel etmoid terbesar disebut bula etmoid. Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang disebut infundibulum tempat bermuaranya ostium sinus maksila. Pembengkakan dan peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila.(2) Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribosa, dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. Di bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus sfenoid.(2)

6

Gambar 3. Dinding lateral diperlihatkan tanpa konka. Muara sinus paranasal, demikian pula duktus lakrimalis dapat terlihat membuka pada meatus yang bersesuaian.

Sinus sfenoid terletak dibagian belakang hidung, jauh di dalam tengkorak, terletak di lokasi di mana mata dan otak bertemu. Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Setiap sinus sfenoid berukuran seperti sebuah anggur besar. Ukurannya adalah 2 cm tingginya, dalamnya 2,3 cm dan lebarnya 1,7 cm. Volumenya bervariasi dari 5 sampai 7,5 mL. Saat sinus berkembang, pembuluh darah dan nervus di bagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada dinding sinus sfenoid. Arteri karotis berjalan melalui dinding luar sinus sfenoid. Batasbatasnya adalah, sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofise, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan arteri karotis interna, dan sebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior di daerah pons.(2) Pada sepertiga tengah dinding lateral lateral hidung terdapat daerah yang rumit dan sempit disebut kompleks ostio-meatal yang merupakan muara-muara saluran dari sinus maksila, sinus frontal, dan sinus etmoid anterior. Kompleks ostio-meatal terdiri dari infundibulum etmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus, resesus frontalis, bula etmoid dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila.(2)

Sistem Mukosiliar Seperti pada mukosa hidung, didalam sinus juga terdapat mukosa bersilia dan palut lender di atasnya. Didalam sinus silia bergerak secara teratur untuk mengalirkan lender menuju ostium alamiahnya mengikuti jalur-jalur yang sudah tertentu polanya.(2) Pada dinding lateral hidung terdapat 2 aliran transpor mukosiliar dari sinus. Lendir yang berasal dari kelompok sinus anterior yang bergabung di infud