Top Banner
ANALISIS HUJAN JULI 2015 DAN PRAKIRAAN HUJAN SEPTEMBER, OKTOBER DAN NOVEMBER 2015 DI BANGKA BELITUNG
28

BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Apr 15, 2016

Download

Documents

Nur Setiawan

BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
Page 1: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

ANALISIS HUJAN JULI 2015 DAN

PRAKIRAAN HUJAN SEPTEMBER, OKTOBER DAN NOVEMBER 2015 DI BANGKA BELITUNG

Page 2: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 i

KATA PENGANTAR

Analisis Hujan Bulan Juli 2015 dan Prakiraan Hujan Bulan September, Oktober dan

November disusun berdasarkan hasil analisis data hujan yang diterima dari stasiun dan pos

pengamatan curah hujan yang ada di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung serta unsur

cuaca lainnya dengan memperhatikan kondisi fisis dan dinamika atmosfer yang sedang

berlangsung yang cenderung dapat mempengaruhi iklim di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Disamping itu dalam buletin ini juga disampaikan beberapa informasi meteorologi

lainnya, antara lain tentang banyaknya hari hujan, monitoring hari tanpa hujan berturut – turut,

dan kejadian ekstrim yang terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Mengingat ketepatan hasil Analisis dan Prakiraan curah hujan ini sangat tergantung

dari data yang masuk, maka diharapkan Stasiun Kerjasama maupun Pos-Pos Hujan dapat

menyampaikan data hasil pengamatan secara tepat waktu ke Stasiun Meteorologi Klas I

Pangkalpinang.

Mudah-mudahan dengan diterbitkannya hasil Analisis dan Prakiraan Hujan di Kepulauan

Bangka Belitung ini dapat lebih bermanfaat bagi para pembuat keputusan maupun masyarakat

pada umumnya.

Kami ucapkan terima kasih kepada instansi, stasiun kerja sama dan semua pihak yang

telah membantu penyusunan terbitan ini.

Pangkalpinang, 08 Agustus 2015

KEPALA STASIUN

METEOROLOGI KLAS I PANGKALPINANG

MOHAMMAD NURHUDA, S.T. NIP. 19660119 199102 1 001

Page 3: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR PENGERTIAN

I. PENDAHULUAN

II. ANALISIS HUJAN BULAN JULI 2015 DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

III. PRAKIRAAN HUJAN BULAN SEPTEMBER, OKTOBER DAN NOVEMBER 2015 DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

IV. INFORMASI JUMLAH HARI HUJAN JULI 2015 DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

V. EVALUASI TINGKAT BAHAYA KEBAKARAN

VI. PETA MONITORING HARI TANPA HUJAN BERTURUT-TURUT (UPDATE 10 AGUSTUS 2015)

VII. PENGAMATAN ARAH DAN KECEPATAN ANGIN DI PANGKALPINANG BULAN JULI 2015

LAMPIRAN 1. TABEL ANALISIS CURAH HUJAN DAN SIFAT HUJAN DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BULAN JULI 2015

2. PETA DISTRIBUSI CURAH HUJAN BULAN JULI 2015 DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

PETA ANALISIS SIFAT HUJAN BULAN JULI 2015 DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

3. PETA PRAKIRAAN CURAH HUJAN BULAN SEPTEMBER 2015 DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

PETA PRAKIRAAN SIFAT HUJAN BULAN SEPTEMBER 2015 DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

4. PETA PRAKIRAAN CURAH HUJAN BULAN OKTOBER 2015 DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

PETA PRAKIRAAN SIFAT HUJAN BULAN OKTOBER 2015 DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

5. PETA PRAKIRAAN CURAH HUJAN BULAN NOVEMBER 2015 DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

PETA PRAKIRAAN SIFAT HUJAN BULAN NOVEMBER 2015 DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

6. ARTIKEL CUACA DAN IKLIM

Page 4: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 1

PENGERTIAN

Cuaca adalah kondisi atmosfer yang terjadi suatu saat disuatu tempat dalam waktu

yang relatif singkat, Iklim mengandung pengertian kebiasaan cuaca atau ciri kecuacaan yang

terjadi di suatu tempat atau suatu daerah, sedangkan Musim adalah selang waktu dengan

cuaca yang paling sering terjadi atau mencolok. Hujan adalah butir-butir air atau kristal es

yang keluar dari awan yang sampai ke permukaan bumi.

1. Sifat Hujan :

Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan, dengan nilai

rata-rata atau normal dari bulan tersebut di suatu tempat, sehingga jika sifat hujan

Atas Normal bukan berarti jumlah curah hujan yang melimpah ataupun sebaliknya jika

sifat hujan Bawah Normal bukan berarti tidak ada hujan.

Sifat hujan dibagi menjadi tiga kriteria yaitu :

a. Atas Normal ( AN ) jika nilai perbandingan jumlah curah hujan selama 1 bulan

terhadap rata ratanya > 115 %.

b. Normal ( N ) jika nilai perbandingan jumlah curah hujan selama 1 bulan terhadap

rata ratanya antara 85 – 115 %.

c. Bawah Normal ( BN ) jika nilai perbandingan jumlah curah hujan selama 1 bulan

terhadap rata ratanya < 85 %.

2. Normal curah hujan :

a. Rata-rata curah hujan bulanan : nilai rata rata curah hujan masing masing bulan

dengan periode minimal 10 tahun.

b. Normal curah hujan bulanan : nilai rata rata curah hujan masing masing bulan

selama 30 tahun.

3. Musim hujan

Suatu zona musim dikatakan masuk musim hujan jika dalam 10 hari atau satu dasarian

jumlah curah hujannya mencapai lebih dari 50 mm dan diikuti oleh dasarian berikutnya

atau dengan kata lain, dalam satu bulan jumlah curah hujannya sudah mencapai 150

mm.

Page 5: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 2

4. Dasarian

a. Dasarian adalah masa selama 10 ( sepuluh ) hari

b. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 ( tiga ) dasarian yaitu :

Dasarian I: masa dari tanggal 1 sampai dengan 10

Dasarian II: masa dari tanggal 11 sampai dengan 20

Dasarian III: masa dari tanggal 21 sampai dengan akhir bulan

Contoh:

Awal musim hujan berkisar antara April I – April III

Artinya = Tanggal 01 April sampai dengan 30 April

5. Kriteria Intensitas Curah Hujan

a. Hujan sangat ringan intensitasnya < 5 mm dalam 24 jam

b. Hujan ringan intensitasnya 5 – 20 mm dalam 24 jam

c. Hujan sedang intensitasnya 20 – 50 mm dalam 24 jam

d. Hujan lebat intensitasnya 50 – 100 mm dalam 24 jam

e. Hujan sangat lebat intensitasnya > 100 mm dalam 24 jam

6. Anomali

Adalah penyimpangan suatu nilai terhadap nilai rata-ratanya.

7. Penyempurnaan Istilah Informasi Iklim

Sesuai dengan Surat Edaran Kepala BMKG no. UM.205./A.11/KB/BMKG-2010. Tentang

Penyempurnaan Penggunaan Istilah Dalam Informasi Iklim / Hujan.

a. Istilah Evaluasi pada Tabel atau Bab dan Sub Bab disempurnakan menjadi Analisis.

b. Istilah Prakiraan Curah hujan pada Tabel atau Bab dan Sub Bab adalah tetap

Prakiraan.

c. Istilah Evaluasi pada Peta Evaluasi Curah Hujan disempurnakan menjadi Peta

Distribusi Curah Hujan.

d. Istilah Evaluasi pada Peta Evaluasi sifat hujan disempurnakan menjadi Peta Analisis

Sifat Hujan.

Page 6: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 3

1. Suhu muka laut perairan Indonesia

Suhu muka laut di perairan pantai Barat Sumatera relatif lebih hangat dibandingkan

dengan klimatologisnya mengakibatkan masih terdapat suplai uap air di perairan

Indonesia, sementara untuk bagian tengah dan timur cenderung dingin sampai

dengan November 2015. Sedangkan mulai Desember sampai dengan Februari 2016

umumnya perairan Indonesia cenderung hangat.

2. ENSO

Pembentukan El-Nino dikaitkan dengan pola sirkulasi samudera pasifik yang dikenal

sebagai osilasi selatan sehingga disebut juga El Nino-Southern Oscillation (ENSO),

merupakan fenomena yang ditimbulkan oleh interaksi laut-atmosfer yang terjadi di

Samudra Pasifik tropis.

El Nino berarti fenomena lautan dan Southern Oscillation berarti fenomena atmosfer.

Dampak pengaruhnya El Nino di Indonesia, sangat tergantung dengan kondisi perairan

wilayah Indonesia, sehingga tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh

fenomena El Nino.

I PENDAHULUAN

Page 7: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 4

Fenomena El Nino dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan secara drastis, bila

kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin. Namun bila kondisi suhu perairan

Indonesia cukup hangat tidak berpengaruh terhadap kurangnya curah hujan secara

signifikan di Indonesia.

Fenomena ENSO (El Nino Southern Oscillation) diprediksi berada pada kondisi El

Nino Kuat sampai dengan Desember. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasokan

uap air dari wilayah Indonesia bagian timur ke Samudra Pasifik cukup signifikan.

3. Dipole Mode

India Ocean Dipole Mode (IODM) atau yang lebih dikenal Dipole Mode didefinisikan

sebagai interaksi laut dan atmosfer di Samudera Hindia di sekitar khatulistiwa yang

ditandai dengan gejala akan memanasnya suhu permukaan laut (SPL) dari di sepanjang

Ekuator Samudera Hindia, khususnya sebelah selatan India yang diiringi dengan

menurunnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia di wilayah pantai barat

Sumatera (Saji dan Yamagata, 2001).

Jika nilai IODM positif, pada umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di

Indonesia bagian barat, sedangkan nilai IODM negatif, dapat menyebabkan adanya

penambahan curah hujan di Indonesia bagian barat.

Page 8: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 5

Indeks Dipole Mode (IODM) berada pada kondisi positif pada beberapa bulan ke depan

sehingga mengindikaskan terjadinya pengurangan pasokan uap air dari Samudra

Hindia ke wilayah Indonesia bagian Barat menyebabkan terjadinya pengurangan curah

hujan yang cukup signifikan di Indonesia bagian barat.

Page 9: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 6

ANALISIS HUJAN BULAN JULI DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

A. ANALISIS CURAH HUJAN BULAN JULI 2015

Berdasarkan data curah hujan bulan Juli 2015 yang diterima dari Stasiun/Pos hujan di

Kepulauan Bangka Belitung maka analisis curah hujan bulan Juni 2015 adalah sebagai

berikut :

CURAH HUJAN (mm) KABUPATEN / DAERAH

0 – 20

Sebagian kecil Kab. Bangka Barat, Sebagian besar Kab. Bangka Induk bagian utara dan timur, Sebagian kecil Kab. Bangka Tengah bagian utara dan bagian timur, Sebagian besar Kab. Bangka Selatan bagian barat, Sebagian besar Kab. Belitung, Sebagian besar Kab.

Belitung Timur

21 – 50

Sebagian besar Kab. Bangka Barat bagian barat dan timur, Sebagian besar Kab. Bangka Induk, Sebagian

besar Kab. Bangka Tengah, Sebagian besar Kab. Bangka Selatan, Sebagian kecil Kab. Belitung bagian

utara, Sebagian kecil Kab. Belitung Timur bagian utara

51 – 100

Sebagian besar Kab. Bangka Barat bagian utara dan tengah, Sebagian kecil Kab. Bangka Induk bagian

selatan, Sebagian besar Kab. Bangka Tengah bagian barat dan timur, Sebagian kecil Kab. Belitung bagian

utara

101 – 150

151 – 200

201 – 300

301 – 400 -

401 – 500 -

> 500 -

Peta Analisis Curah Hujan Bulan Juli 2015 dapat dilihat pada Lampiran 2.

II ANALISIS HUJAN BULAN JULI 2015

Page 10: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 7

B. ANALISIS SIFAT HUJAN BULAN JULI 2015

Berdasarkan data curah hujan bulan Juli 2015 yang diterima dari Stasiun/Pos hujan di

Kepulauan Bangka Belitung maka analisis sifat hujan bulan Juli 2015 adalah sebagai

berikut:

SIFAT HUJAN KABUPATEN / DAERAH

BAWAH NORMAL Seluruh Pulau Bangka dan Seluruh Pulau Belitung

NORMAL

ATAS NORMAL -

Peta Analisis Sifat Hujan Bulan Juli 2015 dapat dilihat pada Lampiran 2.

C. ANALISIS CURAH HUJAN EKSTRIM HARIAN JULI 2015

Analisis curah hujan ekstrim harian Juni 2015 di wilayah Pulau Bangka Belitung adalah

sebagai berikut:

KRITERIA KABUPATEN / DAERAH

CURAH HUJAN LEBAT (51 – 100 mm/Hari)

Jebus, Rukam

Page 11: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 8

III PRAKIRAAN HUJAN SEPTEMBER, OKTOBER DAN NOVEMBER 2015

1. PRAKIRAAN HUJAN DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

A. PRAKIRAAN HUJAN BULAN SEPTEMBER 2015

Prakiraan Curah Hujan September 2015

CURAH HUJAN (mm) KABUPATEN / DAERAH

0 – 20 -

21 – 50 Seluruh Pulau Bangka kecuali seluruh Kab. Bangka Barat

dan Kab. Bangka Induk bagian barat

51 – 100 Seluruh Kab. Bangka barat dan Kab. Bangka Induk

bagian barat

101 – 150

151 – 200 -

201 – 300 -

301 – 400 -

401 – 500 -

> 500 -

Prakiraan Sifat Hujan September 2015

SIFAT HUJAN KABUPATEN / DAERAH

BAWAH NORMAL Seluruh Pulau Bangka dan Belitung

NORMAL -

ATAS NORMAL -

Peta Prakiraan Curah Hujan dan Sifat Hujan Bulan September 2015 dapat dilihat pada Lampiran 3.

Page 12: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 9

B. PRAKIRAAN HUJAN BULAN OKTOBER 2015

Prakiraan Curah Hujan Oktober 2015

CURAH HUJAN (mm) KABUPATEN / DAERAH

0 – 20 -

21 – 50 -

51 – 100

Sebagian kecil Kab. Bangka Barat bagian timur, Sebagian besar Kab. Bangka Induk, Sebagian kecil Kab.

Bangka Tengah bagian utara, Sebagian besar Kab. Bangka Tengah bagian timur, Sebagian besar Kab.

Bangka Selatan Bagian Timur, Seluruh Pulau Belitung-

101 – 150

Sebagian besar Kab. Bangka Barat, Sebagian kecil Kab. Bangka Induk bagian selatan, Sebagian besar Kab.

Bangka Tengah, Sebagian besar Kab. Bangka Selatan bagian barat

151 – 200

201 – 300 -

301 – 400 -

401 – 500 -

> 500 -

Prakiraan Sifat Hujan Oktober 2015

SIFAT HUJAN KABUPATEN / DAERAH

BAWAH NORMAL Seluruh wilayah Pulau Bangka dan Belitung

NORMAL -

ATAS NORMAL -

Peta Prakiraan Curah Hujan dan Sifat Bulan Oktober 2015 dapat dilihat pada Lampiran 4.

Page 13: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 10

C. PRAKIRAAN HUJAN BULAN NOVEMBER 2015

Prakiraan Curah Hujan November 2015

CURAH HUJAN (mm) KABUPATEN / DAERAH

0 – 20 -

21 – 50 -

51 – 100 -

101 – 150 Seluruh wilayah Pulau Bangka dan Belitung kecuali

Sebagian kecil Kab. Bangka Selatan bagian utara dan Sebagian kecil Kab. Bangka Tengah bagian selatan

151 – 200 Sebagian kecil Kab. Bangka Selatan bagian utara dan

Sebagian kecil Kab. Bangka Tengah bagian selatan

201 – 300 -

301 – 400 -

402 – 500 -

> 500 -

Prakiraan Sifat Hujan November2015

SIFAT HUJAN KABUPATEN / DAERAH

BAWAH NORMAL -Seluruh wilayah Pulau Bangka dan Belitung

NORMAL -

ATAS NORMAL -

Peta Prakiraan Curah Hujan dan Sifat Bulan November 2015 dapat dilihat pada Lampiran 5.

Page 14: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 11

1. INFORMASI JUMLAH HARI HUJAN DI PROV. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

KRITERIA

KABUPATEN / DAERAH

> 20 hari -

10 - 20 hari PangkalPinang, Lubuk Besar

< 10 hari

Jebus, Telak, Dendang, Simpang Tritip, Mayang, Kundi,

Muntok, Kelapa, Tempilang, Sungai Liat, Bukit Ketok,

Pemali, Pugul, Bakam, Kace, Rukam, Celuak, Koba,

Penyak, Cambai, Mangkol, Sungai Selan, Payung, Air

Gegas, Batu Betumpang, Rias, Stamet Buluh Tumbang,

BPP Perawas, Sijuk, Tanjung Binga, Pangkallalang,

Mambalong, Cerucuk, Air Saga, Perawas, Sungai Samak,

Badau, Tungkusan, Bukit Indah, Pegantungan, Kelapa

Kampit, Simpang Rengiang, Lalang, Air Asam, Gantung

IV INFORMASI JUMLAH HARI HUJAN JULI 2015

Page 15: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 12

PEMANTAUAN FDRS (FIRE DANGER RATING SYSTEM) BULAN JULI 2015

Pangkal Pinang

FFMC merupakan suatu indikator mudah-tidaknya serasah (sampah hutan) terbakar

dan bahan bakar lainnya yang diintegrasikan/dihubungkan dengan pengaruh cuaca

pada beberapa hari sebelumnya. Kode ini dipengaruhi oleh 4 unsur cuaca, yaitu : curah

hujan, suhu, kelembaban relatif dan kecepatan angin.

Dari grafik indeks FFMC di Stasiun Meteorologi PangkalPinang dari tanggal 1 sampai

dengan 31 Juli 2015 dapat dilihat bahwa persentase kejadian indeks FFMC (Indeks

bahan bakar halus) pada level rendah 0%, level Sedang 3.23%, Tinggi 6.45% dan

Ekstrim 90.32%

DC merupakan peringkat rata-rata kadar air dari bahan organik di bawah permukaan.

Kode ini merupakan suatu indikator yang sangat berguna dalam penggunaan bahan

bakar di hutan pada musim kering, termasuk jumlah kejadian asap pada lapisan bawah

dan merupakan indikator terjadinya kabut asap.

Kode ini dipengaruhi oleh 2 unsur cuaca, yaitu : Curah Hujan dan Suhu.

Dari grafik indeks kekeringan (DC) di Stasiun Meteorologi PangkalPinang dapat dilihat

bahwa kejadian indeks DC dari tanggal 1 sampai 31 Juli 2015 tercatat 100% pada level

Rendah.

FWI merupakan angka peringkat intensitas kebakaran, yang dapat digunakan sebagai

angka indeks secara umum dari sistem peringkat bahaya kebakaran.

Dari grafik indeks cuaca kebakaran (FWI) di Stasiun Meteorologi PangkalPinang dari

tanggal 1 sampai dengan 31 Juli 2015 dapat dilihat bahwa persentase kejadian indeks

cuaca kebakaran FWI pada level Rendah sebesar 3.32%, pada level Sedang 22.58% ,

pada level Tinggi tercatat 54.84%, dan pada level ekstrim tercatat 19.35%.

V EVALUASI TINGKAT BAHAYA KEBAKARAN

Page 16: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 13

Grafik FDRS Pangkal Pinang 01 sampai dengan 31 Juli Tahun 2015

Page 17: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 14

Berikut adalah monitoring hari tanpa hujan berturut – turut, hasil pantauan data pos

hujan di wilayah Bangka Belitung :

KRITERIA

KABUPATEN / DAERAH

Masih Ada Hujan Sampai Updating

Simpang Teritip

Tempilang

Sungai Liat

Celuak

SANGAT PENDEK

(1 – 5 Hari Tanpa Hujan)

Pugul

Bakam

Rukam

Stamet PangkalPinang

Koba

Penyak (Koba2)

Cambai

Sungai Selan

Rias

sijuk

PENDEK

(6 - 10 Hari Tanpa Hujan)

Jebus

Mayang

Muntok

Kelapa

Bukit Ketok

Lubuk Besar

Mangkol

Batu Betumpang

Stamet Buluh Tumbang

tanjung Binga

cerucuk

air saga

perawas

Sungai Samak

Pegantungan

MENENGAH

(11 - 20 Hari Tanpa Hujan)

Kundi

Air Gegas

PANJANG

(21 – 30 Hari Tanpa Hujan)

Perawas bpp

badau

Tungkusan

Simpang Rengiang

Air Asam

gantung

VI PETA MONITORING HARI TANPA HUJAN BERTURUT-TURUT (UPDATE 10 AGUSTUS 2015)

Page 18: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 15

SANGAT PANJANG

(31 -60 Hari Tanpa Hujan)

MAMBALONG

bukit Indah

damar

KEKERINGAN EKSTRIM (>60 Hari Tanpa Hujan)

Dendang Belitung Timur

Page 19: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 16

NO TANGGAL KEJADIAN TEMPAT DAMPAK

1 29 Juli 2015 Angin

Kencang

Kayu Arang

Kecamatan Muntok

- 20 rumah mengalami

kerusakan

2 04 Agustus

2015

Angin

Kencang

Tanjung

Kecamatan Muntok

- 16 Rumah mengalami

kerusakan

VII KEJADIAN EKSTRIM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG BULAN MARET 2015

Page 20: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 17

1. ARAH DAN KECEPATAN ANGIN RATA – RATA

2. DISTRIBUSI FREKUENSI KECEPATAN ANGIN

VII PENGAMATAN ARAH DAN KECEPATAN ANGIN DI PANGKAL PINANG BULAN JULI 2015

Page 21: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 18

Lampiran 1

Tabel 1

ANALISIS CURAH HUJAN DAN SIFAT HUJAN BULAN JULI 2015

Curah Hujan CH/HH ANALISIS

Rata - Rata JULI 2015 SIFAT HUJAN

Bulanan (mm) 85% 115% (mm) JULI 2015

I Kab. Bangka Barat

1 Mentok 97 83 112 44.7/6 BN

2 Mayang 133 113 153 15.7/2 BN

3 Kelapa 143 122 165 29.5/5 BN

II Kab. Bangka Induk

1 Sungailiat

2 Pemali 105 89 121 12.0/6 BN

III Kota Pangkalpinang

1 Stasiun Meteorologi 142 121 163 23.1/10 BN

IV Kab. Bangka Tengah

1 Sungaiselan 150 128 173 73.0/7 BN

V Kab. Bangka Selatan

1 Rias 203 173 234 33.7/2 BN

2 Payung 186 158 214 18.6/2 BN

VI Kab. Belitung

1 Stasiun Meteorologi 162 138 186 16.7/4 BN

No Stasiun

RATA - RATA

JULI (mm)

LAMPIRAN

Page 22: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 19

Lampiran 2

Page 23: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 20

Lampiran 3

Page 24: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 21

Lampiran 4

Page 25: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 22

Lampiran 5

Page 26: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 23

Lampiran 6

PERUBAHAN IKLIM SEBAGAI UPAYA ADAPTASI DAN MITIGASI

(sumber: Buletin BMKG)

Fenomena perubahan iklim sudah menjadi isu dunia. Indonesia pun tidak terlepas dari

dampak fenomena ini. Musim hujan dan musim kemarau berkepanjangan merupakan

pengaruh yang kita rasakan. Kerugian yang timbul dari fenomena ini tentunya sangatlah

besar. Perlu upaya konkret dalam menangani permasalahan ini. Adapatasi dan mitigasi di

berbagai sektor kehidupan perlu dilakukan bersama antara pemerintah dan masyarakat.

Langkah konkret tentu diawali dengan pemahaman yang benar, apa itu definisi cuaca, iklim,

dan perubahan iklim karena ini menjadi sangat penting menyangkut strategi yang akan

dilakukan. Selanjutnya, upaya adaptasi dan mitigasi kita dapat lakukan pada setiap sektor

kehidupan.

Umunya orangnya sering menyatakan kondisi iklim sama saja dengan cuaca, padahal kedua

istilah tersebut tidaklah sama. Pengertian cuaca dapat diartikan sebagai keadaaan atmosfer

secara keseluruhan pada suatu saat termasuk perubahan, perkembangan, dan

menghilangnya suatu fenomena.

Keadaan atmosfer ini dapat berupa suhu, tekanan, angin, kelembaban, dan berbagai

fenomena hujan, di suatu tempat atau wilayah selama kurun waktu yang pendek. Sedangkan

ilmu yang mempelajari seluk beluk cuaca ini disebut meteorologi. Kemudian iklim diartikan

sebagai sintetis kejadian cuaca selama kurun waktu yang panjang, yang secara statistic

cukup dapat dipakai untuk menunjukkan nilai statistic yang berbeda dengan keadaan pada

setiap saatnya. Sedangkan ilmu yang mempelajari seluk beluk iklim ini disebut klimatologi.

Sedangkan perubahan iklim dipahami sebagai berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antara

lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor

kehidupan manusia.

Pengertian yang tidak kalah pentingnya yakni adaptasi dan mitigasi. Adaptasi artinya

penyesuaian diri. Adaptasi mencakup cara-cara menghadapai perubahan iklim dengan

melakukan penyesuaian yang tepat, bertindak untuk mengurangi berbagai pengaruh

Page 27: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 24

negatifnya, atau memanfaatkan efek-efek positifnya. Sedangkan mitigasi artinya

pengurangan atau bisa juga diartikan sebagai upaya mengatasi penyebab. Mitigasi dilakukan

untuk mengurangi risiko dan dampak pemanasan global dan perubahan iklim. Mitigasi ini

meliputi pencarian cara-cara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca atau menahannya.

Upaya Adaptasi

Upaya adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi kebutuhan yang sangat mendesak bagi

Indonesia. Pemerintah beserta berbagai elemen masyarakat perlu mempertimbangkan isu

perubahan iklim ini pada setiap program kegiatan yang berkenaan dengan berbagai

persoalan seperti pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, keamanan pangan,

pengolahan bencana, pengendalian penyakit, dan perencanaan tata kota.

Adaptasi dari Kearifan Lokal

Adaptasi yang dilakukan masyarakat sebenarnya sudah ada sejak dulu, walaupun tidak

dinamakan adaptasi. Kearifan local mengajari kita bagaimana beradaptasi dengan baik.

Petani di wilayah yang sering terjadi kemarau panjang sejak dulu memilih tanaman pangan

yang tahan kekeringan dengan mengoptimalkan penggunaan air. Bahkan para petani ini

mencari alternative mata pencarian bila lahan pertaniannya tidak dapat ditanami. Kemudian,

mereka yang tinggal di daerah rawan banjir sejak dulu sudah membangun rumah panggung

supaya tidak terendam banjir. Masih banyak contoh kearifan local dari berbagai aktivitas

manusia yang sejak dulu dilakukan dalam beradaptasi dengan lingkungan.

Adaptasi dalam Perencanaan Pembangunan

Tantangan perencanaan pembangunan bagaimana menjadi tangguh terhadap iklim. Dampak

perubahan iklim terhadap ekonomi dan pembangunan manusia harus dievaluasi secara

seksama dan dipetakan. Kemudian strategi adaptasi harus diintegrasikan ke dalam berbagai

bentuk rencana dan anggaran, baik pada tingkat pusat maupun daerah. Upaya-upaya

pengentasan kemiskinan sebaiknya ditingkatkan di bidang-bidang yang khususnya rentan

terhadap perubahan iklim. Tentunya juga dibutuhkan inventasi tambahan untuk mengurangi

risiko bencana.

Pola pembangunan berdasarkan eksploitasi sumber daya alam dengan manfaat ekonomi

yang dinikmati di perkotaan dan biaya lingkungan dibebankan ke wilayah pedesaan harus

Page 28: BULETIN BMKG EDISI AGUSTUS 2015 PKP

Buletin BMKG Edisi Agustus 2015 25

diubah. Baik masyarakat di pedesaan maupun di perkotaan sudah sepatutnya menargetkan

pembangunan manusia yang berkelanjutan.

Perubahan pola pembangunan ini memerlukan strategi adaptasi yang lebih luas yang

melibatkan pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta yang memadukan antara

pendekatan pada tingkat pemerintah dan kelembagaan dengan pendekatan bottom-up yang

berakar pada pengetahuan kewilayahan, kebangsaan, dan local.

Adaptasi Dalam Pertanian

Petani sebagai profesi yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim. Sejauh ini para

petani di Pulau Jawa dapat menanam padi dua kali dalam setahun, tetapi dengan adanya

perubahan iklim ini, panen keduanya akan menjadi lebih rentan. Pengalaman para petani

dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim ini perlu terus ditingkatkan.

Petani perlu mempertimbangkan berbagai varietas tanaman pangan lainnya yang lebih tepat

untuk kondisi iklim di wilayahnya saat itu. Beberapa tanaman pangan memiliki kemampuan

adaptasi secara ilmiah, seperti jenis padi hasil persilangan yang berbunga lebih dini sehingga

menghindari suhu yang lebih tinggi di siang hari.

Alternatif lainnya yang petani perlu lakukan adalah dengan menggunakan varietas yang lebih

mampu bertahan terhadap kondisi ekstrem atau berbagai varietas padi yang lekas matang

yang lebih cocok untuk musim hujan yang pendek.

Peningkatan kesuburan tanah juga sesuatu yang sangat penting bagi petani dengan

menggunakan bahan-bahan organic agar mampu menahan air lebih banyak, seperti

menggunakan lebih banyak pupuk alamiah.

Kemudian prioritas lainnya adalah pengolahan air yang lebih baik untuk penyeimbang

peningkatan curah hujan pada musim penghujan dengan penurunan curah hujan pada

musim penghujan dengan penurunan curah hujan pada musim kemarau. Cara yang dapat

dilakukan dengan membangun dan memperbaiki saluran irigasi dan penampungan atau

tempat penyimpanan air yang lebih baik.