Top Banner
BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook Sarwono (2000) mendefinisikan perilaku sebagai sesuatu yang dilakukan oleh individu satu dengan individu lain dan sesuatu itu bersifat nyata. Adapun menurut Soetjipto (2007), kecanduan atau adiksi merupakan suatu gangguan bersifat kronis dan kompulsif berulang-ulang untuk memuaskan diri pada aktivitas tertentu. Individu yang mengalami kecanduan tidak dapat menghentikan penggunaan pada suatu zat atau perilaku yang bersifat kompulsif dan terbawa di kehidupan sehari-hari (Egger & Rauterberg, 1996). Perilaku kecanduan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kecanduan dalam perilaku mengakses situs jejaring sosial facebook melalui internet. Young (1996) yang meneliti tentang kecanduan terhadap internet mendefinisikan kecanduan sebagai suatu keinginan atau dorongan yang tidak terkontrol, menikmati penggunaan internet dan terus berlanjut walaupun menyebabkan perilaku yang bermasalah. Kandell (1998) juga menyatakan definisi kecanduan internet, yaitu sebagai ketergantungan psikologis terhadap internet yang ditandai dengan meningkatnya keinginan untuk beraktivitas dengan internet, meningkatnya toleransi untuk selalu menggunakan internet, dan mengingkari bahwa, itu adalah perilaku yang bermasalah. 16
45

BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

Oct 13, 2019

Download

Documents

dariahiddleston
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
Page 1: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

16

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook

1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook

Sarwono (2000) mendefinisikan perilaku sebagai sesuatu yang dilakukan

oleh individu satu dengan individu lain dan sesuatu itu bersifat nyata. Adapun

menurut Soetjipto (2007), kecanduan atau adiksi merupakan suatu gangguan

bersifat kronis dan kompulsif berulang-ulang untuk memuaskan diri pada

aktivitas tertentu. Individu yang mengalami kecanduan tidak dapat

menghentikan penggunaan pada suatu zat atau perilaku yang bersifat kompulsif

dan terbawa di kehidupan sehari-hari (Egger & Rauterberg, 1996).

Perilaku kecanduan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

kecanduan dalam perilaku mengakses situs jejaring sosial facebook melalui

internet. Young (1996) yang meneliti tentang kecanduan terhadap internet

mendefinisikan kecanduan sebagai suatu keinginan atau dorongan yang tidak

terkontrol, menikmati penggunaan internet dan terus berlanjut walaupun

menyebabkan perilaku yang bermasalah. Kandell (1998) juga menyatakan

definisi kecanduan internet, yaitu sebagai ketergantungan psikologis terhadap

internet yang ditandai dengan meningkatnya keinginan untuk beraktivitas

dengan internet, meningkatnya toleransi untuk selalu menggunakan internet,

dan mengingkari bahwa, itu adalah perilaku yang bermasalah.

16

Page 2: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

17

American Medical Association (dalam Yuniar, 2008) mengemukakan

bahwa penggunaan yang berlebihan setara dengan suatu kondisi perilaku

kompulsif (ketidakmampuan mencegah diri untuk melakukan suatu keinginan

sebab bila keinginan tersebut tidak dilakukan akan menimbulkan rasa cemas

atau perilaku agresif). Lebih lanjut, Yuniar (2008) menyatakan bahwa

kecanduan atau adiksi pada internet terjadi bila waktu yang digunakan untuk

bermain atau menggunakan internet untuk keperluan di luar pekerjaan

mencapai level yang mengganggu bahkan “merusak” aktivitas wajar sehari-

hari, yaitu aktivitas bekerja, sekolah, maupun kegiatan sosial, dan turunnya

produktivitas kerja dan prestasi belajar secara bermakna. Salah satu bentuk

kecanduan internet adalah cyber-relational addiction, yaitu kecanduan

terhadap situs pertemanan di dunia maya (Young, dkk., 1999). Facebook

merupakan situs pertemanan di dunia maya, sehingga kecanduan facebook

termasuk dalam kecanduan internet.

Facebook merupakan situs jejaring sosial online yang membuat

penggunanya dapat menampilkan diri dalam profil online, menambah “teman”

yang dapat memposting komentar, serta saling melihat profil satu sama lain.

Para pengguna facebook juga dapat bergabung dengan grup virtual berbasis

kesamaan minat, seperti kelas, hobi, minat, selera musik dan status hubungan

romantis melalui profil mereka (Ellison, dkk., 2007). Jadi dapat dikatakan

bahwa situs jejaring sosial facebook menyediakan kumpulan cara yang

beragam bagi penggunanya untuk dapat berinteraksi dengan pengguna

facebook lainnya, seperti memperbarui profil pribadi, memperbarui status,

Page 3: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

18

berkirim komentar dan pesan, chatting, berdiskusi di grup, dll. Sebagai situs

jejaring sosial, facebook mampu memberikan kenyamanan tersendiri bagi para

penggunanya. Kenyamanan dalam penggunaannya tersebut dapat

menyebabkan kecanduan (Griffiths, 2000).

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa,

perilaku kecanduan situs jejaring sosial facebook adalah perilaku yang sulit

terkontrol untuk mengakses situs jejaring sosial facebook, disertai dengan

meningkatnya toleransi untuk selalu mengakses situs jejaring sosial facebook

dan menikmati penggunaan situs jejaring sosial facebook. Individu yang

kecanduan atau teradiksi situs jejaring sosial facebook, sulit menghentikan

penggunaan facebook karena dirinya merasa nyaman dan menikmati saat

mengakses situs jejaring sosial facebook.

2. Aspek Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook

Young, dkk. (1999) mengungkapkan bahwa terdapat lima

pengelompokkan kecanduan internet berdasarkan aktivitas yang dilakukan,

yaitu menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan pornografi (Cybersexual

Addiction), bermain game online (Computer Games), kompulsif dalam

menjelajahi dunia maya dan mencari informasi (Information Overload),

meliputi hal-hal yang cukup luas misalnya judi dan belanja lewat internet (Net-

compulsions), dan kecanduan terhadap situs pertemanan di dunia maya (Cyber-

relational Addiction). Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa, kecanduan situs

jejaring sosial facebook termasuk ke dalam adiksi atau kecanduan internet.

Page 4: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

19

Young (1996) mengembangkan suatu kuesioner singkat dengan delapan

kriteria berbentuk pertanyaan yang digunakan sebagai alat untuk mengetahui

perilaku adiksi internet, yang dapat membedakan antara pengguna internet

yang kecanduan dan yang tidak kecanduan. Delapan kriteria berupa pertanyaan

yang disebut Internet Addiction Diagnostic Questionnaire (IADQ) itu antara

lain:

a. Apakah anda merasa terus terikat dengan internet (memikirkan aktivitas

online sebelumnya atau membayangkan sesi online berikutnya)?

b. Apakah anda merasa membutuhkan tambahan waktu dalam penggunaan

internet agar mendapat kepuasan sesudah menggunakannya?

c. Apakah anda berulangkali merasa gagal untuk berusaha mengontrol,

mengurangi, atau berhenti meggunakan internet?

d. Apakah anda merasa memiliki waktu yang terbatas untuk beristirahat,

mudah berubah perasaan, depresi, atau sulit menyesuaikan diri ketika

mencoba mengurangi atau menghentikan penggunaan internet?

e. Apakah anda tetap online lebih lama daripada waktu yang sudah

direncanakan sebelumnya?

f. Apakah anda merasa akan timbul bahaya atau resiko kehilangan suatu

hubungan, pekerjan, pendidikan, atau kesempatan karir yang signifikan

karena penggunaan internet?

g. Apakah anda merasa harus berbohong pada anggota keluarga, terapis, atau

orang lain mengenai tingkat ketergantungan terhadap internet?

Page 5: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

20

h. Apakah anda menggunakan internet sebagai cara untuk melarikan diri dari

masalah atau menghilangkan perasaan yang tidak menyenangkan (misalnya

merasa helplessness, merasa bersalah, cemas, depresi).

Apabila terdapat jawaban “ya” pada lima pertanyaan dari delapan pertanyaan

yang ada maka individu tersebut dikriteriakan sebagai pengguna internet yang

kecanduan (Young, 1996).

Kriteria Internet Addiction Diagnostic Questionnaire (IADQ) kemudian

dikembangkan menjadi Internet Addiction Test (IAT) berdasarkan enam aspek

(Young, 1998). Keenam aspek tersebut adalah:

a. Ciri khas (Salience)

Biasanya dikaitkan dengan pikiran-pikiran yang berlebihan secara mencolok

terhadap internet, berkhayal atau berfantasi mengenai internet, timbul rasa

mudah marah, bosan, panik, depresif karena terlalu banyak beraktivitas

internet.

b. Penggunaan yang berlebihan (Excessive use)

Penggunaan internet yang terlalu berlebihan biasanya dikaitkan dengan

hilangnya pengertian tentang penggunaan waktu atau pengabaian

kebutuhan-kebutuhan dasar dalam kehidupannya. Individu biasanya

menyembunyikan waktu online (waktu yang digunakan untuk mengakses

internet) dari keluarga atau orang terdekat.

c. Pengabaian pekerjaan (Neglect to work)

Individu mengabaikan pekerjaannya karena aktivitas internet, sehingga

produktivitas dan kinerjanya menurun karena berinternet.

Page 6: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

21

d. Antisipasi (Anticipation)

Internet digunakan sebagai strategi coping dari masalah, yaitu sarana untuk

melarikan diri atau mengabaikan permasalahan yang terjadi di kehidupan

nyata. Akibatnya, lama kelamaan aktivitas internet menjadi aktivitas yang

paling penting dalam hidup sehingga mendominasi pikiran, perasaan, dan

perilaku.

e. Ketidakmampuan mengontrol diri (Lack of control)

Ketidakmampuan dalam mengontrol diri sendiri mengakibatkan

bertambahnya waktu yang digunakan untuk melakukan aktivitas dengan

internet, baik dalam bentuk frekuensi maupun durasi waktu.

f. Mengabaikan kehidupan sosial (Neglect to social life)

Individu mengabaikan kehidupan sosialnya, yaitu sengaja mengurangi

kegiatan sosial atau rekreasi demi mengakses internet. Individu yang banyak

menggunakan waktunya untuk melakukan aktivitas yang ada kaitannya

dengan internet, akan mengurangi aktivitasnya di luar aktivitas yang

berkaitan dengan internet.

Goldberg (1996) juga menyampaikan aspek atau kriteria adiksi internet.

Individu dikriteriakan teradiksi atau kecanduan internet apabila memenuhi

minimal tiga kriteria dari tujuh kriteria yang ada, selama 12 bulan atau lebih

(Goldberg, 1996). Tujuh kriteria tersebut antara lain:

a. Toleransi (tolerance) didefinisikan sebagai salah satu dari pernyataan

berikut:

Page 7: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

22

1) Kebutuhan untuk meningkatkan waktu penggunaan internet yang

mencolok untuk mencapai kepuasan

2) Menurunnya efek yang dirasakan dari penggunaan internet yang terus

menerus dalam waktu yang sama

b. Penarikan diri (withdrawal), yang terwujud melalui salah satu dari

pernyataan 1) atau 2) berikut:

1) Karakteristik sindrom penarikan diri

a) Penghentian atau pengurangan pemakaian internet akan terasa berat

dan lama

b) Dua dari beberapa simptom berikut (yang berkembang beberapa hari

hingga satu bulan setelah kriteria a) yaitu:

(1) agitasi psikomotor (gejolak psikomotor)

(2) kecemasan

(3) pemikiran yang obsesif mengenai apa yang terjadi di internet

(4) fantasi atau mimpi mengenai internet

(5) gerakan jari seperti mengetik baik disadari atau tidak

c) Simptom pada kriteria b) menyebabkan distress atau kerusakan sosial,

baik yang berhubungan dengan dunia kerja atau fungsi lainnya

2) Menggunakan internet service online lainnya untuk menghilangkan atau

menghindari simptom-simptom penarikan diri

c. Internet sering digunakan lebih lama dari yang direncanakan

d. Adanya hasrat yang kuat atau upaya yang tidak brhasil dalam

mengendalikan penggunaan internet

Page 8: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

23

e. Menghabiskan banyak waktu untuk kegiatan yang berhubungan dengan

internet

f. Penghentian kegiatan-kegiatan sosial yang penting, pekerjaan ataupun

kegiatan rekreasi untuk penggunaan internet

g. Penggunaan internet tetap dilakukan walaupun telah mengetahui akan

adanya masalah-masalah fisik, sosial, pekerjaan, atau masalah psikologis

yang muncul karena penggunaan internet.

Penelitian ini menggunakan kriteria dari Young (1998) yang tertuang

dalam Internet Addiction Test (IAT) sesuai dengan enam aspek yang

menunjukkan tanda-tanda individu yang mengalami kecanduan internet, yaitu

salience, excessive use, neglect to work, anticipation, lack of control, dan

neglect to social life, yang akan dimodifikasi dan disesuaikan dengan bentuk

kecanduan dalam salah satu kelompok adiksi internet yaitu Cyber-relational

Addiction (kecanduan terhadap situs pertemanan di dunia maya). Pertimbangan

pemilihan aspek tersebut adalah karena aspek-aspek tersebut merupakan aspek

dari alat ukur Internet Addiction Test (IAT) yang dalam penelitian ini akan

digunakan sebagai acuan pada Facebook Addiction Test untuk mengukur

perilaku kecanduan facebook pada remaja yang menjadi subjek penelitian. Alat

ukur IAT yang dimodifikasi untuk mengukur perilaku kecanduan facebook

telah digunakan pada penelitian sebelumnya, yaitu pada penelitian Yulianti

(2014) tentang hubungan antara pengungkapan diri dengan kecanduan

facebook pada remaja. Alat ukur tersebut memiliki koefisien realibitas sebesar

0,902 dalam hasil penelitian Yulianti (2014).

Page 9: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

24

3. Faktor-faktor Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook

Young (2004) mengungkapkan bahwa, internet addiction termasuk

cyber-relational addiction (kecanduan terhadap situs pertemanan di dunia

maya) yang terjadi pada pelajar ditimbulkan oleh adanya beberapa faktor,

antara lain:

a. Akses internet gratis dan unlimited

Ketika seorang pelajar berada di sekolah yang memiliki hotspot area, maka

pelajar tersebut berkesempatan untuk mengakses internet secara gratis dan

unlimited. Hal itu memungkinkan intensitas beraktivitas online yang

dilakukan pelajar semakin meningkat.

b. Banyaknya waktu luang

Sebagian besar pelajar berada di kelas selama 12-16 jam setiap minggu.

Waktu luang yang dimiliki pelajar dapat digunakan untuk membaca, belajar,

bermain bersama teman, atau menjelajahi lingkungan baru di luar sekolah.

Namun beberapa dari pelajar di masa sekarang ini telah melupakan hal-hal

tersebut dan lebih banyak menghabiskan waktu luangnya untuk aktivitas

online.

c. Pengalaman baru tanpa kontrol dari orang tua

Dalam dunia online tidak ada kontrol dari orang tua, sehingga pelajar dapat

berinteraksi dalam chat room atau instant messaging dengan teman

sepanjang malam tanpa adanya keluhan dari orang tua.

Page 10: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

25

d. Tidak ada monitoring atau pemeriksaan atas apa yang mereka katakan atau

lakukan ketika online

Ketika pelajar berada di sekolah, terdapat para tenaga pendidik yang

memiliki kewajiban untuk memantau atau mengawasi setiap kegiatan

pelajar. Namun ketika pelajar melakukan aktivitas online, maka aktivitas

tersebut dapat luput dari pengawasan para tenaga pendidik.

e. Intimidasi sosial dan pengasingan diri

Beberapa pelajar merasa tidak dapat bergabung dalam kelompok

pertemanan di sekolahnya. Tetapi ketika pelajar tersebut mencoba

bergabung dalam kelompok pertemanan atau komunitas di dunia maya,

mereka memiliki kesempatan untuk mendapatkan banyak teman baru dari

dunia maya khususnya dari situs pertemanan. Hal itu dapat menyebabkan

pelajar tersebut menggunakan situs jejaring pertemanan di dunia maya

sebagai penghilang perasaan tidak menyenangkan seperti marah, cemas,

depresi, akibat berbagai tekanan masalah yang dimilikinya.

Lebih lanjut, The Computer-Addiction Services pada Harvard University

(dalam Yuniar, 2008) menyebutkan bahwa, usia menjadi faktor yang berperan

dalam kecenderungan internet addiction, yaitu kelompok usia remaja

mempunyai rasa ingin tahu yang besar, sehingga para remaja menjadi “haus”

akan informasi, dan informasi tersebut dapat dengan mudah diperoleh di

internet beserta situs-situs yang ada di dalamnya.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa, faktor-

faktor yang menyebabkan perilaku kecanduan situs jejaring sosial adalah akses

Page 11: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

26

internet gratis dan unlimited, banyaknya waktu luang, pengalaman baru tanpa

kontrol dari orang tua, tidak ada monitoring atau pemeriksaan atas apa yang

mereka katakan atau lakukan ketika online, intimidasi sosial dan pengasingan

diri, serta usia khususnya usia remaja.

4. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook pada Remaja

Perempuan

Facebook merupakan situs jejaring sosial online yang membuat

penggunanya dapat menampilkan diri dalam profil online, menambah “teman”

yang dapat memposting komentar, serta saling melihat profil satu sama lain.

Para pengguna facebook juga dapat bergabung dengan grup virtual berbasis

kesamaan minat, seperti kelas, hobi, minat, selera musik dan status hubungan

romantis melalui profil mereka (Ellison, dkk., 2007). Jadi dapat dikatakan

bahwa, situs jejaring sosial facebook menyediakan kumpulan cara yang

beragam bagi penggunanya untuk dapat berinteraksi dengan pengguna

facebook lainnya, seperti memperbarui profil pribadi, memperbarui status,

berkirim komentar dan pesan, chatting, berdiskusi di grup, dll. Sebagai situs

jejaring sosial, facebook mampu memberikan kenyamanan tersendiri bagi para

penggunanya. Kenyamanan dalam penggunaannya tersebut dapat

menyebabkan kecanduan (Griffiths, 2000).

Kecanduan dalam penggunaan internet dan situs-situs di dalamnya

terlihat dari intensitas waktu yang digunakan individu untuk terpaku di depan

alat elektronik berkoneksi internet untuk mengakses situs-situs tersebut, yang

berakibat pada banyaknya waktu yang dihabiskan individu yang bersangkutan

Page 12: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

27

untuk online. Terkait dengan hal tersebut, Santrock (2012) menyatakan bahwa

jumlah remaja yang menghabiskan waktunya untuk online semakin meningkat.

Selain itu, remaja menempati proporsi paling besar sebagai pengguna situs-

situs di internet seperti situs jejaring sosial online (Subrahmanyam &

Greenfield, 2008).

Lembaga penelitian Pew Research (2015) menyatakan bahwa, setidaknya

71% remaja dengan rentang usia 13 hingga 17 tahun menggunakan situs

jejaring sosial Facebook, bahkan, 41% di antaranya mengaku bahwa, facebook

adalah situs yang paling sering dikunjungi. Penelitian tersebut menyimpulkan

bahwa, facebook masih menjadi situs jejaring sosial yang paling populer dan

yang paling sering digunakan di kalangan remaja pada tahun 2015.

Penelitian yang dilakukan oleh Pew Research (2015) melaporkan bahwa,

remaja dengan usia 15 sampai 17 tahun sebagai yang paling sering

menggunakan situs jejaring sosial facebook dibandingkan dengan remaja yang

berusia lebih muda. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa, remaja

perempuan lebih mendominasi penggunaan jejaring sosial dibandingkan

dengan remaja laki-laki. Sejalan dengan hasil penelitian Pew Research (2015)

tersebut, Buntaran dan Helmi (2015) menyatakan bahwa, subjek penelitian

remaja perempuan lebih tinggi intensitas penggunaan jejaring sosial online

dibandingkan dengan subjek remaja laki-laki.

Page 13: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

28

B. Kesepian

1. Pengertian Kesepian

Kesepian diartikan oleh Peplau dan Perlman (dalam Baron & Byrne,

2005) sebagai suatu reaksi emosional dan kognitif individu terhadap

dimilikinya hubungan yang lebih sedikit dan lebih tidak memuaskan daripada

yang diinginkan oleh individu tersebut. Burger (dalam Baron & Byrne, 2005)

menjelaskan bahwa Individu yang tidak menginginkan teman bukanlah orang

yang kesepian, tetapi individu yang menginginkan teman dan tidak

memilikinya adalah orang yang kesepian.

Menurut Sears, dkk. (1994), kesepian menunjukkan pada kegelisahan

subjektif yang dirasakan pada saat hubungan sosial kehilangan ciri-ciri

pentingnya. Hilangnya ciri-ciri tersebut bisa bersifat kuantitatif, yaitu mungkin

tidak mempunyai banyak teman, atau hanya mempunyai sedikit teman, tidak

sepeti yang diharapkan. Tetapi kekurangan itu juga dapat bersifat kualitatif,

yaitu mungkin dirasa bahwa hubungannya dangkal, atau kurang memuaskan

dibandingkan dengan apa yang diharapkan (Sears, dkk., 1994). Sesuai dengan

pernyataan tersebut, Peplau dan Perlman (1982) mengatakan bahwa, kesepian

adalah perasaan yang timbul jika harapan untuk terlibat dalam hubungan yang

akrab dengan seseorang tidak tercapai.

Russell (1996) berpendapat bahwa, kesepian merupakan suatu keadaan

yang terjadi pada individu, dan kondisi tersebut muncul dari sistem-sistem

psikofisik yang menentukan karakteristik perilaku dan berpikir. Kesepian, baik

yang kronis maupun yang sementara, merupakan sebuah kesadaran yang penuh

Page 14: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

29

perasaan sakit mengenai hubungan sosial individu yang kurang banyak atau

kurang berarti dibandingkan dengan yang individu tersebut harapkan (Myers,

2012). Sementara Weiss (dalam Cacioppo & Hawkley, 2011) menjelaskan

kesepian sebagai suatu stres negatif yang bersifat kronis tanpa suatu

manifestasi.

Kesepian terjadi di dalam diri seseorang dan tidak dapat dideteksi hanya

dengan melihat orang itu (Sears, dkk., 1994). Sarwono (2002) mengatakan

bahwa kesepian harus dibedakan dengan kesendirian. Kesepian bersifat

subjektif, sedangkan kesendirian lebih bersifat fisik objektif, yaitu suatu

keadaan dimana seseorang sedang tidak bersama orang lain (Sarwono, 2002),

atau terpisah dari orang lain, dan dapat menyenangkan atau tidak

menyenangkan (Sears, dkk., 1994). Sementara menurut Sullivan (dalam Peplau

& Perlman, 1982), kesepian merupakan kondisi yang tidak menyenangkan, dan

berdasarkan pengalaman yang berhubungan dengan tidak mencukupinya

kebutuhan akan bentuk hubungan yang akrab. Lebih lanjut, Semat (dalam

Peplau & Perlman, 1982) berpendapat bahwa kesepian merupakan hasil dari

interpretasi dan evaluasi individu terhadap hubungan sosial yang dianggapnya

tidak memuaskan.

Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli di atas, dapat disimpulkan

bahwa kesepian adalah suatu keadaan tidak menyenangkan yang dirasakan

individu, akibat hubungan sosial yang dimilikinya tidak berjalan sesuai dengan

yang diharapkannya, baik karena individu tersebut tidak mempunyai teman

atau jumlah temannya sedikit, maupun karena kualitas hubungan yang dijalin

Page 15: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

30

oleh individu tersebut tidak akrab atau kurang memuaskan baginya. Jadi tidak

tercapainya harapan individu terkait dengan hubungan di lingkungan sosial dan

hubungan yang akrab dengan seseorang, dapat menyebabkan individu tersebut

merasa kesepian.

2. Aspek-aspek Kesepian

Russell (1996) menjelaskan bahwa, kesepian didasari tiga asek, yaitu:

a. Kepribadian (Personality)

Karakteristik pada individu yang muncul dari sistem-sistem psikofisik yang

menentukan perilaku dan berpikir pada lingkungan sekitar. Dalam hal ini,

individu yang kesepian dapat dikarakteristikkan sesuai dengan perilaku dan

perasaan kesehariannya.

b. Kepatutan sosial (Social desirability)

Adanya keinginan sosial yang diharapkan individu pada kehidupan di

lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, individu ingin mendapatkan

penerimaan yang pada akhirnya berujung pada keinginan untuk memperoleh

pengakuan dari masyarakat sekitar.

c. Depresi (Depression)

Suatu bentuk tekanan dalam diri yang mengakibatkan adanya perasaan tidak

berdaya dan kehilangan harapan, yang disertai perasaan sedih, kehilangan

minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju kepada

meningkatnya keadaan mudah lelah yang sangat nyata dan berkurangnya

aktivitas.

Page 16: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

31

Weiss (dalam Sears, dkk., 1994) membagi aspek kesepian dalam dalam

dua dimensi, yaitu:

a. Kesepian secara emosional

Kesepian emosional timbul dari ketiadaan figur kasih sayang yang intim,

seperti yang bisa diberikan oleh orang tua kepada anaknya atau yang bisa

diberikan tunangan atau teman akrab kepada seseorang. Lebih lanjut,

Clinton & Anderson (dalam Bogaerts, dkk., 2006) mengemukakan bahwa,

kesepian emosional menunjukkan kurang intimnya dalam berhubungan

dengan teman dekat, dan hal ini tidak berkaitan dengan jumlah hubungan

pertemanan itu sendiri.

b. Kesepian secara sosial

Kesepian sosial terjadi apabila individu kehilangan rasa terintegrasi secara

sosial atau terintegrasi dalam suatu komunikasi, yang bisa diberikan oleh

sekumpulan teman atau rekan sekerja. Weiss (dalam Bogaerts, dkk., 2006)

menyatakan bahwa, kesepian sosial disebabkan karena kurangnya jaringan

sosial yang dapat memberikan seorang individu a sense of connection

dengan orang-orang lain. Clinton & Anderson (dalam Bogaerts, dkk., 2006)

menyatakan bahwa, kesepian sosial secara khusus mengindikasikan

kurangnya hubungan pertemanan dan terkait pula dengan banyaknya teman

dekat yang dimiliki.

Page 17: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

32

Peplau dan Perlman (1982) membagi aspek-aspek kesepian menjadi tiga

pendekatan, yaitu:

a. Kebutuhan akan keintiman

Pendekatan ini menekankan pada kebutuhan seorang individu dalam

berhubungan dengan orang lain. Menurut Weiss (dalam Peplau & Perlman,

1982), kesepian pada individu tidak terjadi begitu saja tetapi disebabkan

oleh tidak adanya hubungan antar pribadi yang intim yang dimiliki individu.

Adanya kesepian menjadi jawaban dari tidak adanya beberapa bentuk

hubungan persahabatan yang istimewa atau hubungan yang lebih baik

b. Proses kognitif

Pendekatan ini menekankan kepada persepsi dan evaluasi individu terhadap

hubungan sosial yang dimiliknya. Flanders, dkk. (dalam Peplau & Perlman,

1982) berpendapat bahwa kesepian merupakan hasil dari ketidakpuasan

sesorang terhadap hubungan interpersonalnya. Dalam pendekatan ini,

dinyatakan bahwa kesepian terjadi saat seseorang mempersepsikan adanya

kesenjangan antara hubungan interpersonal yang diharapkan dengan

hubungan interpersonal yang dicapainya (Semat dalam Peplau & Perlman,

1982).

c. Penguatan sosial

Menurut pendekatan ini, kesepian merupakan suatu keadaan yang

diakibatkan perasaan ketidakterpenuhinya kebutuhan hubungan sosial

individu. Individu dapat merasa kesepian apabila interaksi sosial yang

Page 18: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

33

dialaminya kurang menyenangkan dan tidak dapat menghasilkan penguatan

hubungan sosial.

Penelitian ini menggunakan aspek kesepian yang dikemukan oleh Russell

(1996), yaitu kepribadian (personality), kepatutan sosial (social desirability),

depresi (depression). Alasan digunakannya aspek tersebut dalam penelitian ini

adalah karena aspek tersebut telah sering dipakai oleh para peneliti sebelumnya

untuk mengukur tingkat kesepian dalam penelitian-penelitian tentang kesepian.

Selain itu, aspek tersebut sejak tahun 1980 sampai 1996 terus dikembangkan

oleh para peneliti, dan akhirnya menghasilkan alat ukur kesepian (loneliness)

yaitu UCLA Loneliness Scale (Version 3) dengan nilai reliabilitas 0,94.

3. Faktor-faktor Kesepian

Peplau dan Perlman (1982) membagi faktor yang menjadi penyebab

kesepian ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah peristiwa atau

perubahan yang menimbulkan terjadinya kesepian (precipitate event).

Sedangkan kelompok yang kedua adalah faktor-faktor yang memungkinkan

individu cenderung merasa kesepian atau faktor-faktor yang membuat kesepian

dirasakan terus-menerus (predisposing and maintaining factor). Berikut adalah

penjelasan lebih lanjut mengenai kedua kelompok dari faktor penyebab

kesepian tersebut

a. Precipitate event

Terdapat dua perubahan umum yang menimbulkan terjadinya kesepian.

Perubahan yang paling umum adalah menurunnya hubungan sosial

seseorang sampai di bawah tingkat optimal. Contoh dari perubahan ini

Page 19: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

34

antara lain, berakhirnya hubungan dekat akibat kematian, perceraian atau

putus hubungan cinta. Perubahan juga dapat terjadi saat seseorang pindah ke

suatu lingkungan baru dan berpisah secara fisik dengan orang-orang

dekatnya (Peplau & Perlman, 1982). Perubahan yang kedua adalah

perubahan pada kebutuhan atau keinginan sosial seseorang. Perubahan ini

biasanya terjadi seiring dengan bertambahnya usia seseorang dan akan

menimbulkan kesepian jika tidak diikuti dengan penyesuaian pada

hubungan sosial yang aktual.

b. Predisposing and maintaining factor

Dalam kelompok ini, yang menyebabkan individu lebih rentan terhadap

kesepian adalah adanya keberagaman dari faktor personal dan situasional

individu. Kedua faktor inilah yang meningkatkan kecenderungan seseorang

merasakan kesepian dan juga mempersulit seseorang untuk mendapatkan

kepuasan hubungan sosialnya kembali (dalam Peplau & Perlman, 1982).

Menurut Peplau dan Perlman, terdapat beberapa karakteristik personal yang

dapat dihubungkan dengan kesepian. Individu yang mengalami kesepian

biasanya pemalu, introvert, dan tidak punya cukup keinginan untuk

mengambil resiko dalam berhubungan sosial. Kesepian juga sering

dihubungkan dengan pencelaan terhadap diri sendiri (self deprecation) dan

self esteem yang rendah. Menurut para sosiolog (dalam Peplau & Perlman,

1982), selain faktor situasional, nilai-nilai kebudayaan yang berlaku juga

dapat menyebabkan seseorang mengalami kesepian.

Page 20: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

35

Sears, dkk. (1994) menyatakan bahwa kesepian setidaknya dipengaruhi

oleh empat faktor berikut ini:

a. Faktor usia

Stereotip yang populer menggambarkan bahwa, usia tua sebagai masa

kesepian yang besar. Tetapi hasil penelitian memperlihatkan bahwa

kesepian tertinggi terjadi pada remaja dan pemuda, dan yang terendah

terjadi pada orang yang lebih tua. Penelitian yang dilakukan oleh Parlee

(dalam Sears, dkk., 1994) mengungkapkan bahwa 79 % orang yang berusia

di bawah 18 tahun mengaku kadang-kadang atau seringkali merasa

kesepian.

b. Faktor pengalaman individu

Pengalaman masa kanak-kanak dalam keluarga mempengaruhi kesepian di

masa selanjutnya. Sebuah penelitian besar yang dilakukan oleh Rubenstein

dan Shaver (dalam Sears, dkk., 1994) terhadap orang Amerika, menemukan

bahwa individu dewasa yang orang tuanya bercerai dimungkinkan lebih

besar untuk mengalami kesepian, terutama jika perceraian tersebut terjadi

sebelum orang itu berusia 6 tahun.

c. Faktor kepribadian introvert

Kepribadian introvert biasanya ditandai dengan ciri-ciri lebih suka menutup

diri, penyendiri, pemalu, lebih sadar diri, dan kurang asertif. Individu yang

memiliki kepribadian seperti ini sering mengalami kesepian.

Page 21: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

36

d. Faktor ketidakmampuan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain

Individu yang mengalami kesepian umumnya tidak mampu menjalin

hubungan yang baik dengan orang lain dan tidak memiliki keterampilan

sosial yang baik. Individu seperti itu seringkali gagal dalam menjalin

hubungan dengan orang lain.

Menurut Baron dan Byrne (2005), kesepian terbentuk dari kombinasi

ketiga faktor berikut:

a. Faktor genetis

McGuire dan Clifford (dalam Baron & Byrne, 2005) melakukan investigasi

genetis mengenai tingkah laku kesepian. Data yang dihasilkan secara

konsisten mengindikasikan bahwa kesepian dapat diatribusikan sebagian

pada faktor-faktor keturunan. Contohnya, ditemukan bahwa, kembar identik

lebih serupa karakteristiknya daripada kembar fraternal, dimana hal ini

mengindikasikan bahwa, kesamaan genetis yang lebih besar menghasilkan

kesamaan yang lebih besar pada kesepian.

b. Pengalaman individu

Ponzetti dan James (dalam Baron & Byrne, 2005) menyatakan bahwa,

kesepian pada masa remaja ditemukan lebih besar pada orang-orang yang

tidak memiliki hubungan yang dekat dengan seorang kakak atau adik,

terutama jika ada konflik antara kakak beradik. Lebih lanjut, Braza, dkk.

(dalam Baron & Byrne, 2005) menjelaskan bahwa, kegagalan untuk

membangun keterampilan sosial yang tepat pada masa kanak-kanak

Page 22: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

37

berakibat pada interaksi yang tidak sukses dengan teman-teman sebaya pada

masa selanjutnya, dan akhirnya menyebabkan kesepian.

c. Pengaruh budaya

Menurut Rokach (dalam Baron & Byrne, 2005), budaya memiliki pengaruh

pada kesepian dan kemungkinan asal-usulnya. Orang-orang Amerika Utara

menempatkan kesalahan utama pada hubungan intim yang tidak terpenuhi,

sedangkan orang-orang Asia Selatan lebih mengatribusikan kesepian pada

ketidakmampuan personal, seperti kekurangan pada karakter.

Cacioppo dan Hawkley (2011) menjelaskan bahawa terdapat enam faktor

yang mempengaruhi kesepian, yaitu:

a. Faktor sosiodermografis

Faktor struktural seperti usia, jenis kelain, rasa tau etnis, pendidikan, dan

pendapatan, membatasi peluang untuk berintegrasi ke dalam suatu

kelompok dan peran sosial. Faktor-faktor ini berkontribusi terhadap

perbedaan individu dalam kesepian.

b. Peran sosial

Peran individu dalam suatu kelompok atau adanya suatu aktivitas dalam

komunitas tertentu dapat menanggulangi seseorang dalam kesepian.

c. Kualitas dan kuantitas sosial

Jaringan sosial yang lebih kecil dan jarangnya interaksi yang berkaitan

dengan kualitas hubungan sosial dengan orang lain dapat mengakibatkan

perasaan kesepian.

Page 23: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

38

d. Kesehatan

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kesehatan dapat memberikan

hambatan untuk berinteraksi sosial, seperti keterbatasan fungsional yang

dapat berpengaruh dalam melakukan komunikasi secara efektif.

e. Disposisi

Karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan kesepian termasuk di

antaranya adalah kurangnya keramahan, penghargaan diri yang rendah, rasa

malu yang berlebihan, permusuhan, ketidaknyamanan terhadap penampilan,

kecemasan, pesimisme, dan takut penilaian negatif.

Berdasarkan berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya kesepian antara lain faktor

genetis, usia, sosiodemografis, kesehatan, kepribadian introvert,

ketidakmampuan menjalin hubungan baik dengan orang lain, pengalaman

individu, menurunnya hubungan sosial, berakhirnya hubungan dekat, berpisah

secara fisik dengan orang-orang dekat, peran sosial, kualitas dan kuantitas

sosial, serta pengaruh budaya.

C. Self Disclosure

1. Pengertian Self Disclosure

Self Disclosure, yang dapat pula disebut keterbukaan diri atau

pengungkapan diri, diartikan sebagai kegiatan membagi perasaan dan

informasi yang akrab dengan orang lain (Sears, dkk., 1994). Sejalan dengan

pernyataan tersebut, Dindia (dalam Taylor, dkk., 2009) mengatakan bahwa self

Page 24: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

39

disclosure adalah tipe khusus dari percakapan dimana individu berbagi

informasi dan perasaan pribadi dengan orang lain.

Devito (1997) berpendapat bahwa self disclosure adalah jenis

komunikasi dimana seorang individu mengungkapkan informasi tentang diri

yang biasanya disembunyikan. Pendapat yang hampir sama dengan pernyataan

tersebut dikemukakan oleh Fisher (1996), yaitu self disclosure merupakan

penyingkapan informasi tentang diri yang pada saat lain tidak dapat diketahui

oleh pihak lain. Sedangkan Wheeless, dkk. (1986) menyatakan bahwa, self

disclosure adalah bagian dari referensi diri yang dikomunikasikan individu

secara lisan pada suatu kelompok kecil.

Derlega, dkk. (dalam Scouthen, 2007) menyebutkan bahwa, self

disclosure adalah memberikan informasi pribadi mengenai diri. Lebih lanjut,

Derlega, dkk. (dalam Kennedy-Moore & Watson, 1999) mendefinisikan self

disclosure sebagai pengungkapan verbal atas pikiran, perasaan, dan

pengalaman seorang individu. Self disclosure merupakan kemampuan

mengungkapkan aspek intim dari diri individu kepada orang lain (Myers,

2012). Selain sebagai bentuk pengungkapan, Jourard & Lasakow (dalam

Joinson & Paine, 2007) menyebutkan bahwa, self disclosure sebagai proses

membuat diri dikenal oleh orang lain.

Menurut Johnson (dalam Supratiknya, 1995), self disclosure adalah

mengungkapkan reaksi atau tanggapan terhadap situasi yang sedang dihadapi

serta memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan atau yang berguna

untuk memahami tanggapan di masa kini. Johnson (dalam Supratiknya, 1995)

Page 25: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

40

berpendapat bahwa self disclosure berarti membagikan perasaaan kepada orang

lain tentang sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukan, atau perasaan

terhadap kejadian-kejadian yang baru saja disaksikan.

Morton (dalam Sears, 1994) menjelaskan bahwa, self disclosure dapat

bersifat deskriptif maupun evaluatif. Dalam self disclosure deskriptif, individu

mengungkapkan berbagai fakta mengenai dirinya yang mungkin belum

diketahui oleh orang lain, seperti pekerjaannya, tempat tinggalnya, partai yang

didukungnya pada pemilihan umum, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam

self disclosure evaluatif, individu mengemukakan pendapat atau perasaan

pribadinya, seperti bahwa, dirinya menyukai orang-orang tertentu, merasa

cemas karena terlalu gemuk, tidak suka bangun pagi, dan lain-lain.

Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli di atas, dapat disimpulkan

bahwa self disclosure adalah kegiatan membagi informasi pribadi yang

dilakukan individu mengenai dirinya kepada orang lain, dimana informasi

tersebut dapat berupa ungkapan berbagai fakta mengenai diri, pengalaman

yang telah dilakukan, dan dapat juga berupa ungkapan perasaan,

pikiran/pendapat terhadap suatu hal/kejadian atau objek. Selain sebagai bentuk

pengungkapan, self disclosure juga dapat sebagai proses yang membuat diri

seorang individu dikenal oleh orang lain.

Page 26: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

41

2. Aspek-aspek Self Disclosure

Wheeless (1986) mengemukakan lima aspek dari self disclosure, yaitu:

a. Intent

Aspek ini terkait dengan kesadaran inidvidu dalam melakukan self

disclosure. Individu melakukan self disclosure secara sadar dan mempunyai

tujuan.

b. Amount

Aspek ini berfokus pada kuantitas individu dalam melakukan self

disclosure. Kuantitas tersebut berkaitan dengan jumlah dan tingkat

keseringan individu dalam melakukan self disclosure.

c. Positiveness

Aspek ini berfokus pada kemampuan individu dalam mengungkapkan hal-

hal positif tentang dirinya kepada orang lain.

d. Depth

Aspek ini terkait dengan kedalaman individu dalam mengungkapkan

informasi tentang dirinya. Apabila individu terbuka kepada orang lain, maka

individu tersebut cenderung akan mengungkapkan informasi tentang dirinya

secara mendalam.

e. Honesty

Aspek ini berfokus pada kejujuran individu dalam mengungkapkan

informasi tentang dirinya kepada orang lain.

Page 27: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

42

Fisher (1996) menyebutkan aspek self disclosure sebagai berikut:

a. Jumlah, yaitu berupa banyaknya informasi tentang diri yang diungkap.

b. Valensi, yaitu informasi mengenai diri yang dinilai positif atau negatif.

c. Keakraban, yaitu sejauh mana derajat informas itu mencerminkan orang

yang bersangkutan secara personal atau pribadi atau perasaan-perasaan yang

paling dalam dari diri.

Penelitian ini menggunakan aspek self disclosure yang dikemukakan oleh

Wheeless (1986), yaitu: intent, amount, positiveness, depth, dan honesty.

Alasan digunakannya aspek tersebut dalam penelitian ini adalah karena aspek

tersebut telah sering digunakan oleh para peneliti sebelumnya untuk mengukur

self disclosure dalam penelitian-penelitian tentang self disclosure.

3. Faktor-faktor Self Disclosure

Menurut Devito (1997), ada beberapa faktor yang mempengaruhi self

disclosure, antara lain:

a. Besar kelompok

Self disclosure lebih banyak terjadi dalam kelompok kecil daripada dalam

kelompok besar. Kelompok yang terdiri dari dua orang merupakan

lingkungan yang paling cocok untuk melakukan self disclosure dengan satu

pendengar, pihak yang melakukan self disclosure dapat meresapi tanggapan

dengan cermat.

Page 28: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

43

b. Perasaan menyukai

Individu melakukan self disclosure kepada orang-orang yang disukai atau

dicintai, dan tidak akan melakukan self disclosure kepada orang yang tidak

disukai.

c. Efek diadik

Individu melakukan self disclosure apabila orang yang lain juga melakukan

self disclosure. Self disclosure atau pengungkapan diri menjadi lebih akrab

apabila dilakukan sebagai tanggapan atas self disclosure orang lain.

d. Kompetensi

Individu yang kompeten lebih banyak melakukan self disclosure daripada

individu yang kurang kompeten. Individu yang kompeten mempunyai rasa

percaya diri yang diperlukan untuk lebih melakukan self disclosure.

Individu yang kompeten memiliki lebih banyak hal positif tentang diri untuk

diungkapkan daripada individu yang tidak kompeten.

e. Kepribadian

Individu yang pandai bergaul dan extrovert melakukan self disclosure lebih

banyak daripada individu yang kurang pandai bergaul dan lebih introvert.

f. Topik

Individu cenderung lebih melakukan self disclosure atau membuka diri

tentang topik tertentu daripada topik yang lain. Sebagai contoh, individu

lebih mungkin mengungkapkan informasi diri tentang pekerjaan atau

hobinya daripada tentang kehidupan seks atau situasi keuangannya.

Page 29: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

44

g. Jenis kelamin

Faktor terpenting yang mempengaruhi self disclosure adalah jenis kelamin.

Umumnya pria lebih kurang terbuka daripada wanita.

Mesch dan Beker (2010) mengemukakan dua faktor yang mempengaruhi

self disclosure, yaitu:

a. Usia

Usia seorang individu merupakan salah satu indikator atas perilakunya.

Selama masa remaja, keterlibatan secara sosial dari individu mengalami

peningkatan, disertai dengan kecenderungan untuk mengungkapkan

informasi pribadi. Beberapa studi menunjukan bahwa, selama masa remaja,

seorang remaja membangun kemampuan untuk membina kedekatan

berdasarkan tingkat keterbukaan, kejujuran, dan pengungkapan diri (self

disclosure). Remaja memiliki kecenderungan melakukan self disclosure

kepada teman sebaya, daripada kepada orang tua mereka. Buhrmester &

Prager (dalam Mesch & Beker, 2010) menyatakan bahwa, hal tersebut

memainkan peran penting dalam pembangunan hubungan, memberikan

remaja sumber daya sosial yang membantunya menangani isu-isu yang

menjadi perhatian pada setiap titik dalam kehidupan remaja.

b. Perbedaan Gender

Gender merupakan faktor penting yang berkaitan dengan self disclosure.

Dalam penelitiannya, Murstein dan Adler (dalam Mesch & Beker, 2010)

mengungkapkan bahwa tingkat self disclosure yang lebih tinggi pada wanita

dibandingkan pria. Menurut Shulman, dkk. (dalam Mesch & Beker, 2010),

Page 30: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

45

terdapat pengaruh dari perbedaan gender terhadap self disclosure dalam

konteks remaja, baik secara kuantitas maupun kualitas. Dalam studi yang

dilakukan oleh Camarena, dkk. (dalam Mesch & Beker, 2010), ditemukan

bahwa remaja perempuan cenderung memiliki skor self disclosure lebih

tinggi dibandingkan laki-laki. Penjelasan untuk perbedaan gender dalam self

disclosure, dihubungkan dengan variasi dalam sosialisasi gender, dimana

laki-laki secara tradisional diajarkan untuk menahan diri dalam berbagi

perasaan mereka, sedangkan perempuan diharapkan untuk menjadi lebih

ekspresif dan terbuka dalam berkomunikasi. Cho (dalam Mesch & Beker,

2010) menyatakan bahwa perempuan lebih mudah dalam membentuk rasa

percaya ketika melakukan komunikasi online dibandingkan laki-laki, dan

untuk alasan ini, self disclosure pada perempuan lebih tinggi.

Taylor, dkk. (2009) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang

menjadi alasan dalam individu melakukan self disclosure. Faktor-faktor

tersebut antara lain:

a. Penerimaan sosial

Individu mengungkap informasi tentang dirinya atau melakukan self

disclosure guna meingkatkan penerimaan sosial dan agar disukai orang lain.

b. Pengembangan hubungan

Berbagi informasi pribadi dan keyakinan pribadi (melakukan self

disclosure) adalah salah satu cara untuk mengawali hubungan dan bergerak

ke arah intimasi.

Page 31: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

46

c. Ekspresi diri

Terkadang individu berbicara tentang perasaannya untuk “melepaskan

himpitan di dada.” Setelah bekerja keras seharian, individu mungkin ingin

memberi tahu temannya tentang perasaan jengkelnya pada atasan dan

bagaimana kesalnya karena tak dihargai. Mengekspresikan perasaan dan

melakukan self disclosure dapat mengurangi stres.

d. Klarifikasi diri

Dalam proses berbagi perasaan atau pengalaman pribadi kepada orang lain

(melakukan self disclosure), individu mungkin mendapatkan pemahaman

dan kesadaran yang lebih luas. Berbicara kepada teman tentang masalah

yang sedang dihadapi mungkin bisa membantu menjelaskan pemikiran

tentang situasi. Pendengar akan memberikan informasi yang berguna

tentang realitas sosial.

e. Kontrol sosial

Individu mungkin mengungkapkan atau menyembunyikan informasi tentang

dirinya sebagai alat kontrol sosial. Misalnya individu sengaja tidak

berbicara tentang dirinya untuk melindungi privasi, atau individu mungkin

menekankan topik atau ide yang menciptakan kesan baik bagi dirinya di

mata pendengar.

Berdasarkan berbagai pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa,

faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya self disclosure antara lain faktor

besar kelompok, perasaan menyukai, efek diadik, kompetensi, kepribadian,

Page 32: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

47

topik, usia, perbedaan gender/jenis kelamin, penerimaan sosial, pengembangan

hubungan, ekpresi diri, klarifikasi diri, dan kontrol sosial.

A. Hubungan antara Kesepian dan Self Disclosure dengan Perilaku Kecanduan

Situs Jejaring Sosial Facebook pada Remaja Perempuan

Menurut Santrock (2012), remaja di seluruh dunia semakin bergantung pada

internet. Pernyataan tersebut sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh

Subrahmanyam & Greenfield (2008) bahwa, remaja menempati proporsi paling

besar sebagai pengguna situs-situs di internet seperti situs jejaring sosial online.

Jumlah remaja yang menghabiskan waktunya untuk online semakin meningkat

(Santrock, 2012). Griffiths (2000) mengungkapkan bahwa, internet terutama situs-

situs yang ada di dalamnya, dapat memberikan kenyamanan tersendiri bagi para

penggunanya, dan kenyamanan dalam penggunaannya tersebut dapat

menyebabkan adiksi atau kecanduan.

Kecanduan dapat diartikan sebagai perilaku yang digunakan dalam upaya

untuk melarikan diri dari keadaan yang tidak nyaman ke keadaan yang nyaman

atau untuk bersenang-senang. Kecanduan dalam penggunaan internet terlihat dari

intensitas waktu yang digunakan individu untuk terpaku di depan alat elektronik

berkoneksi internet yang berakibat pada banyaknya waktu yang dihabiskan

individu tersebut untuk online. Kandell (1998) mendefinisikan kecanduan internet

sebagai ketergantungan psikologis terhadap internet yang ditandai dengan

meningkatnya keinginan untuk beraktivitas dengan internet, meningkatnya

toleransi untuk selalu menggunakan internet, dan mengingkari bahwa, itu adalah

Page 33: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

48

perilaku yang bermasalah. Salah satu bentuk kecanduan internet adalah cyber-

relational addiction, yaitu kecanduan terhadap situs pertemanan di dunia maya

(Young, dkk., 1999), dan salah satu situs pertemanan di dunia maya adalah

facebook.

Melalui facebook, para penggunanya dapat memperoleh dan menjalin

hubungan pertemanan dengan banyak orang. Individu terhubung dengan orang

lain melalui permintaan otomatis untuk memiliki status sebagai teman. Satu orang

meminta status pertemanan dengan orang lain. Setelah permintaan diterima,

keduanya adalah teman di facebook. Foto profil dan nama teman muncul pada

setiap halaman profil, yang berfungsi sebagai hyperlink ke profil teman di

facebook (Freeman, 2011). Oleh karena itu, situs jejaring sosial facebook seakan

menjadi solusi bagi para pengguna, khususnya para remaja yang rentan kesepian,

untuk membentuk hubungan dengan orang lain dan memasuki lingkungan

pergaulan yang lebih luas.

Sullivan (dalam Santrock, 2012) menyatakan bahwa, mempunyai banyak

teman atau sahabat menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan sosial

selama masa remaja. Jika remaja gagal untuk menjalin pertemanan atau

persahabatan, maka remaja akan mengalami kesepian (Santrock, 2012). Kesepian

diartikan oleh Peplau dan Perlman (dalam Baron & Byrne, 2005) sebagai suatu

reaksi emosional dan kognitif individu terhadap dimilikinya hubungan yang lebih

sedikit dan lebih tidak memuaskan daripada yang diinginkan oleh individu

tersebut. Kesadaran akan kesepian menyebabkan remaja terdorong untuk berusaha

memperluas pergaulan dan menjalin hubungan akrab dengan cara tertentu. Salah

Page 34: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

49

satu cara yang dapat ditempuh oleh remaja tersebut yaitu dengan aktif secara

online dalam situs jejaring sosial facebook.

Jin (2013) mengungkapkan bahwa, individu-individu yang kesepian

cenderung melihat facebook sebagai media untuk mengkoneksikan diri dengan

lingkungan sosial. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Skues, dkk. (2012)

mengatakan bahwa subjek penelitiannya dengan tingkat kesepian yang tinggi

menggunakan situs jejaring sosial facebook dalam beraktivitas online untuk

mengkompensasi kurangnya hubungan offline atau kebutuhan sosial di dunia

nyata. Schwartz (2010) juga melakukan penelitian tentang kesepian dan

penggunaan situs jejaring sosial facebook, dan hasil penelitiannya tersebut

menyatakan bahwa, kesepian berkorelasi positif dengan penggunaan aktif

facebook.

Penelitian lain terkait dengan kesepian dan penggunaan facebook dilakukan

oleh Ryan dan Xenos (2011). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa,

pengguna facebook cenderung lebih ekstrovert, narsis, dan kurang cermat, serta

secara sosial kesepian, dibandingkan dengan non pengguna. Selanjutnya,

frekuensi penggunaan facebook dan preferensi penggunaan fitur spesifiknya juga

terbukti bervariasi sebagai akibat dari karakteristik tertentu, seperti kesepian,

neurotisisme, rasa malu, dan narsisme (Ryan & Xenos, 2011). Oleh karena itu,

dapat dikatakan bahwa kesepian yang dirasakan individu dapat menjadi salah satu

faktor yang berpengaruh terhadap frekuensi penggunaan situs jejaring sosial

facebook pada individu tersebut.

Page 35: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

50

Morahan-Martin dan Schumacher (2003) menyatakan bahwa, individu-

individu yang kesepian cenderung aktif secara online pada situs jejaring sosial

karena terdapat kemungkinan terbentuknya hubungan pertemanan atau

persahabatan melalui situs jejaring sosial. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa individu

yang merasa kesepian akan meningkatkan intensitasnya dalam menggunakan situs

jejaring sosial, karena individu yang merasa kesepian tersebut dapat mencari

teman baru dan mencari kepuasan dengan teman-temannya dalam situs jejaring

sosial (Morahan-Martin & Schumacher, 2003). Penelitian lain tentang kesepian

dan penggunaan situs jejaring sosial online maupun internet dilakukan oleh Kraut,

dkk. (1998), yang menunjukkan bahwa, individu yang lebih banyak

menghabiskan waktunya untuk menggunakan internet merupakan individu yang

seringkali merasakan kesepian dan depresi. Terkait dengan penelitian-penelitian

tersebut, Pratarelli, dkk. (1999) mengungkapkan bahwa, penggunaan internet

secara berlebihan dapat disebut sebagai kecanduan internet dan situs-situs di

dalamnya, sehingga penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa, kesepian

merupakan prediktor dalam penggunaan aktif facebook hingga penggunaan

berlebih atau kecanduan terhadap facebook.

Remaja sering menggunakan facebook dalam kehidupan sosialnya, sebagai

tempat menyalurkan suasana hati dan pikiran, serta mengembangkan jaringan

sosial (Selwyn, 2007). Berbagai aktivitas yang dapat dilakukan individu dalam

menggunakan facebook antara lain: membaca dan merespon pesan/catatan;

membaca komentar pada profile page; membuka wall milik teman; menulis

komentar; meminta izin pertemanan da menambah teman baru; mengecek wall;

Page 36: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

51

mengubah profile; melakukan update status; menggunakan fitur poked, winked,

dan gift; mencari musik atau band; melakukan upload dan mengomentari foto,

mengganti profile picture; dan bergabung dalam grup (Subrahmanyam &

Greenfield, 2008). Aktivitas-aktivitas tersebut cenderung menuntut individu untuk

membagikan berbagai informasi mengenai diri sendiri pada orang lain, yang

berartinya bahwa individu diberikan fasilitas untuk membuka diri saat mengakses

facebook.

Keinginan untuk memiliki hubungan dengan orang lain sangatlah besar

selama masa remaja (Papalia, dkk., 2009), dan keinginan tersebut biasanya

disertai dengan kecenderungan untuk membuka diri atau melakukan self

disclosure. Self disclosure diartikan oleh Johnson (dalam Supratiknya, 1995)

sebagai kegiatan individu dalam membagikan perasaaannya kepada orang lain

tentang sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukannya, atau perasaan terhadap

kejadian-kejadian yang baru saja disaksikannya. Terkait dengan kecenderungan

remaja untuk melakukan self disclosure, situs jejaring sosial facebook, yang telah

menjadi bagian dari tren dan gaya hidup saat ini, merupakan media yang

memudahkan remaja untuk melakukan self disclosure.

Penelitian tentang self disclosure dan penggunaan situs jejaring sosial

facebook dilakukan oleh Skues, dkk. (2012). Hasil dari penelitian tersebut

menyatakan bahwa, subjek dengan tingkat self disclosure yang tinggi dilaporkan

menghabiskan lebih banyak waktu di facebook. (Skues, dkk., 2012). Pernyataan

tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Kilamanca (2010), bahwa self

disclosure memiliki hubungan yang signifikan dengan intensitas remaja dalam

Page 37: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

52

mengakses situs jejaring sosial. Semakin tinggi tingkat self disclosure remaja,

maka penggunaan situs jejaring sosial oleh remaja tersebut juga cenderung

semakin tinggi, baik dari segi frekuensi maupun durasi pemakaian. Davis, dkk.

(2002) menyebutkan bahwa, semakin tinggi intensitas seseorang mengungkapkan

informasi pribadi secara online, yang dicirikan dari penggunaan situs jejaring

sosial yang berlebihan, maka semakin tinggi pula penggunaan internet bermasalah

yang mereka alami. Salah satu bentuk penggunaan internet bermasalah tersebut

yaitu kecanduan terhadap internet khususnya situs jejaring sosial yang ada di

dalamnya. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Pratarelli, dkk. (1999) juga

mengungkapkan bahwa penggunaan internet secara berlebihan dapat disebut

sebagai kecanduan internet dan situs-situs di dalamnya. Oleh karena itu, dapat

dikatakan bahwa self disclosure merupakan prediktor dalam penggunaan aktif

Facebook hingga penggunaan berlebih atau kecanduan terhadap facebook.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa tedapat hubungan

antara kesepian dan self disclosure dengan perilaku kecanduan situs jejaring sosial

facebook pada remaja. Dengan kata lain, tingkat kesepian dan self disclosure

remaja yang tinggi, berkorelasi positif dengan kecenderungan remaja tersebut

teradiksi atau kecanduan situs jejaring sosial facebook.

B. Hubungan antara Kesepian dengan Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

Sosial Facebook pada Remaja Perempuan

Selama masa remaja, Sullivan (dalam Santrock, 2012) menyatakan bahwa,

mempunyai banyak teman atau sahabat menjadi sangat penting untuk memenuhi

Page 38: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

53

kebutuhan sosial. Secara khusus, Sullivan menyatakan bahwa, kebutuhan akan

intimasi meningkat di masa remaja awal, dan memotivasi remaja untuk mencari

sahabat. Jika remaja gagal untuk menjalin persahabatan yang akrab, mereka akan

mengalami kesepian (Santrock, 2012). Terkait dengan hal itu, Desmita (2012)

juga mengungkapkan bahwa, akan muncul perasaan kesepian pada diri remaja

yang merasa ditolak atau diabaikan oleh teman sebayanya.

Kesepian diartikan oleh Peplau dan Perlman (dalam Baron & Byrne, 2005)

sebagai suatu reaksi emosional dan kognitif individu terhadap dimilikinya

hubungan yang lebih sedikit dan lebih tidak memuaskan daripada yang diinginkan

oleh individu tersebut. Heinrich & Gullone (dalam Myers, 2012) mengungkapkan

bahwa para remaja lebih banyak yang mengalami kesepian dibandingkan dengan

orang dewasa. Hal serupa juga dinyatakan oleh Sears, dkk. (1994), yaitu hasil

penelitian memperlihatkan bahwa kesepian yang tertinggi terjadi di antara para

remaja dan pemuda, dan yang terendah terjadi diantara orang yang lebih tua.

Parlee (dalam Sears, dkk., 1994) melaporkan bahwa, dalam suatu penelitian besar,

79% subjek yang berusia 18 tahun dinyatakan kadang-kadang atau seringkali

merasa kesepian.

Kesadaran akan kesepian menyebabkan remaja terdorong untuk berusaha

memperluas pergaulan dan menjalin hubungan akrab dengan cara tertentu. Salah

satu cara yang dapat ditempuh oleh remaja tersebut yaitu dengan aktif secara

online dalam situs jejaring sosial facebook. Jin (2013) menyatakan bahwa

individu-individu yang kesepian cenderung melihat facebook sebagai media untuk

mengkoneksikan diri dengan lingkungan sosial. Sejalan dengan pernyataan

Page 39: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

54

tersebut, Skues, dkk. (2012) mengungkapkan bahwa, subjek penelitiannya dengan

tingkat kesepian yang tinggi menggunakan situs jejaring sosial facebook dalam

beraktivitas online untuk mengkompensasi kurangnya hubungan offline atau

kebutuhan sosial di dunia nyata.

Individu dapat memperoleh dan menjalin hubungan dengan banyak orang

melalui facebook, karena salah satu aktivitas utama pada penggunaan facebook

adalah memperoleh teman di facebook. Individu terhubung dengan orang lain

melalui permintaan otomatis untuk memiliki status sebagai teman. Satu orang

meminta status pertemanan dengan orang lain. Setelah permintaan diterima,

keduanya adalah teman di facebook. Foto profil dan nama teman muncul pada

setiap halaman profil, yang berfungsi sebagai hyperlink ke profil teman di

facebook (Freeman, 2011). Oleh karena itu, situs jejaring sosial facebook seakan

menjadi solusi bagi para pengguna, khususnya para remaja yang rentan kesepian,

untuk membentuk hubungan dengan orang lain dan memasuki lingkungan

pergaulan yang lebih luas.

Penelitian tentang kesepian dan penggunaan situs jejaring sosial facebook

dilakukan oleh Schwartz (2010). Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa

kesepian berkorelasi positif dengan penggunaan aktif facebook. Penelitian lain

terkait dengan kesepian dan penggunaan facebook dilakukan oleh Ryan dan

Xenos (2011). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengguna facebook

cenderung lebih ekstrovert, narsis, dan kurang cermat, serta secara sosial

kesepian, dibandingkan dengan non pengguna. Selanjutnya, frekuensi penggunaan

facebook dan preferensi penggunaan fitur spesifiknya juga terbukti bervariasi

Page 40: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

55

sebagai akibat dari karakteristik tertentu, seperti kesepian, neurotisisme, rasa

malu, dan narsisme (Ryan & Xenos, 2011). Oleh karena itu, dapat dikatakan

bahwa kesepian yang dirasakan individu dapat menjadi salah satu faktor yang

berpengaruh terhadap frekuensi penggunaan situs jejaring sosial facebook pada

individu tersebut.

Morahan-Martin dan Schumacher (2003) menyatakan bahwa, individu-

individu yang kesepian cenderung aktif secara online pada situs jejaring sosial

karena terdapat kemungkinan terbentuknya hubungan pertemanan atau

persahabatan melalui situs jejaring sosial. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa individu

yang merasa kesepian akan meningkatkan intensitasnya dalam menggunakan situs

jejaring sosial, karena individu yang merasa kesepian tersebut dapat mencari

teman baru dan mencari kepuasan dengan teman-temannya dalam situs jejaring

sosial (Morahan-Martin & Schumacher, 2003). Penelitian lain tentang kesepian

dan penggunaan situs jejaring sosial online maupun internet dilakukan oleh Kraut,

dkk. (1998), yang menunjukkan bahwa individu yang lebih banyak menghabiskan

waktunya untuk menggunakan internet merupakan individu yang seringkali

merasakan kesepian dan depresi. Terkait dengan penelitian-penelitian tersebut,

Pratarelli, dkk. (1999) mengungkapkan bahwa, penggunaan internet secara

berlebihan dapat disebut sebagai kecanduan internet dan situs-situs di dalamnya,

sehingga penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa kesepian merupakan

prediktor dalam penggunaan aktif facebook, hingga penggunaan berlebih atau

kecanduan terhadap facebook.

Page 41: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

56

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa, tedapat hubungan

antara kesepian dengan perilaku kecanduan situs jejaring sosial facebook pada

remaja. Dengan kata lain, tingkat kesepian remaja yang tinggi, berkorelasi positif

dengan kecenderungan remaja tersebut teradiksi atau kecanduan situs jejaring

sosial facebook.

C. Hubungan Self Disclosure dengan Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial

Facebook pada Remaja Perempuan

Selama masa remaja, pada umumnya keinginan untuk memiliki hubungan

dengan orang lain sangatlah besar (Papalia, dkk., 2009). Keinginan tersebut

biasanya disertai dengan kecenderungan untuk mengungkapkan informasi pribadi.

Beberapa studi menunjukan bahwa selama masa remaja, seorang remaja

membangun kemampuan untuk membina kedekatan berdasarkan tingkat self

disclosure (Mesch & Beker, 2010).

Self disclosure diartikan oleh Johnson (dalam Supratiknya, 1995) sebagai

kegiatan individu dalam membagikan perasaaannya kepada orang lain tentang

sesuatu yang telah dikatakan atau dilakukannya, atau perasaan terhadap kejadian-

kejadian yang baru saja disaksikannya. Remaja memiliki kecenderungan

melakukan self disclosure kepada teman sebaya, daripada kepada orang tua

mereka. Hal itu terjadi karena remaja menyatakan bahwa, dirinya lebih

mengandalkan teman daripada orang tua untuk memenuhi kebutuhan akan

kebersamaan, untuk meyakinkan harga diri, dan untuk menjalin keakraban

(Furman & Buhrmester dalam Santrock, 2003).

Page 42: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

57

Santrock (2003) mengungkapkan bahwa, ketika para remaja ditanya apa

yang remaja inginkan dari seorang teman atau sahabat, dan bagaimana remaja

dapat mengetahui seseorang merupakan sahabat mereka atau bukan, remaja sering

mengatakan bahwa, sahabat akan membagi masalah dengan mereka, memahami

mereka, dan mendengarkan mereka pada saat mereka berbicara tentang pemikiran

dan perasaan mereka sendiri. Selain itu, kehidupan remaja dengan permasalahan-

permasalahannya membuat remaja cenderung membutuhkan orang lain untuk

berbagi dan menceritakan keluh kesahnya.

Terkait kebutuhan remaja untuk berbagi dan menceritakan keluh kesahnya,

situs jejaring sosial facebook, yang telah menjadi bagian dari tren dan gaya hidup

saat ini, merupakan media yang memudahkan remaja untuk menyalurkan keluh

kesah dan berbagi informasi. Hal itu sesuai dengan pernyataan Selwyn (2007),

bahwa remaja sering menggunakan facebook dalam kehidupan sosialnya, sebagai

tempat menyalurkan suasana hati dan pikiran. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan

melalui facebook seperti menulis profil, chatting, memperbarui status, mengirim

pesan, merupakan bentuk self disclosure atau pengungkapkan diri kepada orang

lain. Melalui situs jejaring sosial facebook ini, seorang remaja dapat membagikan

informasi tentang dirinya, perasaannya, aktivitas yang sedang dilakukannya, dan

lain-lain, kepada teman-teman yang ada dalam akun facebook yang dimilikinya,

dan pada saat itulah self disclosure berlangsung.

Penelitian tentang self disclosure dan penggunaan situs jejaring sosial

facebook dilakukan oleh Skues, dkk. (2012). Hasil dari penelitian tersebut

menyatakan bahwa subjek dengan tingkat self disclosure yang tinggi dilaporkan

Page 43: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

58

menghabiskan lebih banyak waktu di facebook. (Skues, dkk., 2012). Pernyataan

tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Kilamanca (2010), bahwa self

disclosure memiliki hubungan yang signifikan dengan intensitas remaja dalam

mengakses situs jejaring sosial. Semakin tinggi tingkat self disclosure remaja,

maka penggunaan situs jejaring sosial oleh remaja tersebut juga cenderung

semakin tinggi, baik dari segi frekuensi maupun durasi pemakaian. Davis, dkk.

(2002) menyebutkan bahwa semakin tinggi intensitas seseorang mengungkapkan

informasi pribadi secara online, yang dicirikan dari penggunaan situs jejaring

sosial yang berlebihan, maka semakin tinggi pula penggunaan internet bermasalah

yang mereka alami. Salah satu bentuk penggunaan internet bermasalah tersebut

yaitu kecanduan terhadap internet khususnya situs jejaring sosial yang ada di

dalamnya. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Pratarelli, dkk. (1999) juga

menyatakan bahwa penggunaan internet secara berlebihan dapat disebut sebagai

kecanduan internet dan situs-situs di dalamnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan

bahwa self disclosure memiliki hubungan yang signifikan dengan penggunaan

aktif facebook hingga penggunaan berlebih atau kecanduan terhadap facebook.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tedapat hubungan

antara self disclosure dengan perilaku kecanduan situs jejaring sosial facebook

pada remaja. Dengan kata lain, tingkat self disclosure remaja yang tinggi,

berkorelasi positif dengan kemungkinan remaja tersebut teradiksi atau kecanduan

situs jejaring sosial facebook.

Page 44: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

59

D. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran penelitian mengenai “Hubungan antara Kesepian dan

Self Disclosure dengan Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook pada

Siswi SMK PGRI Pedan Klaten” yang telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya

dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Gambar 1

Bagan Kerangka Pemikiran Hubungan antara Kesepian dan Self Disclosure

dengan Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook

Keterangan:

1. H1 : Hubungan antara kesepian dan self disclosure dengan perilaku kecanduan

situs jejaring sosial facebook

2. H2 : Hubungan antara kesepian dengan perilaku kecanduan situs jejaring

sosial facebook

3. H3 : Hubungan antara self disclosure dengan perilaku kecanduan situs jejaring

sosial facebook

Kesepian

Self Disclosure

Perilaku Kecanduan

Situs Jejaring Sosial Facebook

H1

H3

H2

Page 45: BAB II LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring ... · LANDASAN TEORI A. Perilaku Kecanduan Situs Jejaring Sosial Facebook 1. Pengertian Perilaku Kecanduan Situs Jejaring

60

I. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Terdapat hubungan antara kesepian dan self disclosure dengan perilaku

kecanduan situs jejaring sosial facebook pada siswi SMK PGRI Pedan Klaten.

2. Terdapat hubungan antara kesepian dengan perilaku kecanduan situs jejaring

sosial facebook pada siswi SMK PGRI Pedan Klaten.

3. Terdapat hubungan antara self disclosure dengan perilaku kecanduan situs

jejaring sosial facebook pada siswi SMK PGRI Pedan Klaten.