Top Banner
7 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir Kritis Teori Hemisphere adalah sebuah teori yang berkaitan dengan teori belahan otak (Hemisphere Theory). Teori Hemisphere ditemukan olehRoger W.Sperrypada tahun 1981. Teori Hemisphere mengatakan bahwa sesungguhnya otak manusia itu menurut fungsinya terbagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kiri (left hemisphere) dan belahan otak kanan (right hemisphere). Otak belahan kiri mengarah kepada cara berpikir konvergen (convergen thinking) seperti berpikir kritis, sedangkan otak belahan kanan mengarah kepada cara berpikir menyebar (difergent thinking) seperti berpikir kreatif. Menurut Mustaji (2012) kemampuan befikir manusia dibagi menjadi 2 yaitu kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif. Dalam berpikir kritis meliputi analisis, mengumpulkan data, memperhitungkan peluang,dapat memutuskan sesuatu, berpikir memusat, selalu obyektif terhadap segala hal, pandai menggunakan kata-kata, befikir sejajar, menggunakan rasio atau masuk akal, dan sistematik. Sedangkan didalam berpikir kreatif meliputi mencipta atau membuat hal yang baru, meluaskan data, memikirkan kemungkinan, menggunakan keputusan, berpikir menyebar, subyektif, pandai menggambarkan sesuatu, mencari hubungan, berpikir tentang segala hal yang baru, dan tidak sistematik atau tidak terarah. Menurut John Dewey dalam Alec Fisher (2009:2) mengungkapkan bahwa berpikir kritis secara esensial adalah sebuah proses aktif, proses memikirkan berbagai hal secara lebih mendalam untuk diri sendiri, mengajukan berbagai pertanyaan untuk diri sendiri dan menemukan informasi yang relevan dengan diri sendiri. Dalam proses memikirkan berbagai hal, Dewey menekankan pada alasan-alasan yang mendukung keyakinan atau hipotesis sebelum menarik kesimpulan dari suatu masalah.
20

BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

Mar 13, 2019

Download

Documents

voque
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
Page 1: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

7

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis

Pengertian Keterampilan Berpikir Kritis

Teori Hemisphere adalah sebuah teori yang berkaitan dengan teori belahan

otak (Hemisphere Theory). Teori Hemisphere ditemukan olehRoger W.Sperrypada

tahun 1981. Teori Hemisphere mengatakan bahwa sesungguhnya otak manusia itu

menurut fungsinya terbagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kiri (left

hemisphere) dan belahan otak kanan (right hemisphere). Otak belahan kiri

mengarah kepada cara berpikir konvergen (convergen thinking) seperti berpikir

kritis, sedangkan otak belahan kanan mengarah kepada cara berpikir menyebar

(difergent thinking) seperti berpikir kreatif.

Menurut Mustaji (2012) kemampuan befikir manusia dibagi menjadi 2

yaitu kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif. Dalam berpikir

kritis meliputi analisis, mengumpulkan data, memperhitungkan peluang,dapat

memutuskan sesuatu, berpikir memusat, selalu obyektif terhadap segala hal,

pandai menggunakan kata-kata, befikir sejajar, menggunakan rasio atau masuk

akal, dan sistematik. Sedangkan didalam berpikir kreatif meliputi mencipta atau

membuat hal yang baru, meluaskan data, memikirkan kemungkinan,

menggunakan keputusan, berpikir menyebar, subyektif, pandai menggambarkan

sesuatu, mencari hubungan, berpikir tentang segala hal yang baru, dan tidak

sistematik atau tidak terarah.

Menurut John Dewey dalam Alec Fisher (2009:2) mengungkapkan

bahwa berpikir kritis secara esensial adalah sebuah proses aktif, proses

memikirkan berbagai hal secara lebih mendalam untuk diri sendiri, mengajukan

berbagai pertanyaan untuk diri sendiri dan menemukan informasi yang relevan

dengan diri sendiri. Dalam proses memikirkan berbagai hal, Dewey menekankan

pada alasan-alasan yang mendukung keyakinan atau hipotesis sebelum menarik

kesimpulan dari suatu masalah.

Page 2: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

8

Menurut Edward Glaser dalam Alec Fisher (2009:3) memberikan

definisi berpikir kritis sebagai :

1)Suatu sikap mau berpikir secara mendalam tentang masalah-masalah dan hal-hal yang berada dalam jangkauan pengalaman seseorang

2)Berpikir kritis menuntut upaya keras untuk memeriksa setiap keyakinan ataupengetahuan asumtif bedasarkan bukti pendukungnya dan kesimpulan-kesimpulan lanjutan yang diakibatkannya.

Penekanan dalam pengertian ini adalah mencari bukti dari segala sesuatu

yang diyakini dalam hal ini adalah gagasan. Jadi dalam memecahkan masalah,

pemikir kritis harus mencari bukti sebelum memutuskan sesuatu.

Sejalan dengan pendapat Glaser berpikir kritis menurut Robert Ennis

dalam Alec Fisher (2009:4) memberikan definisi berpikir kritis adalah pemikiran

yang masuk akal dan reflektif yang berfokus untuk memutuskan apa yang mesti

dipercaya atau dilakukan. Dalam pengertian ini penekanan yang diberikan adalah

pengambilan keputusan yang dilakukan harus masuk akal dan berpikir reflektif

melihat dari semua aspek. Pemikir kritis tidak tergesa-gesa dalam mengambil

keputusan, pemecahan masalah harus dipikir matang-matang berdasarkan bukti

yang sudah ditemukan.

Senada dengan Robert Ennis,Richard Paul dalam Alec Fisher (2009:4)

juga memberikan pengertian berpikir kritis adalah metode berpikir mengenai hal,

substansi atau masalah apa saja untukmeningkatkan kualitas pemikiran dengan

menangani secara terampil struktur-struktur yang melekat dalam pemikiran dan

menerapkan standar-standar intelektual. Dalam pengertian ini penekanannya

adalah berpikir krtis merupakan keterampilan berpikir yang menuntut agar

menangani masalah secara terstruktur atau berurutan. Pemikir kritis dalam

memecahkan masalah melalui beberapa tahap yang sudah diurutkan atau dengan

kata lain bekerja secara sistematik.

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai pengertian berpikir krtitis diatas

dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis adalah sikap atau proses untuk

memikirkan berbagai masalah, mengajukan pertanyaan, menemukan informasi

yang disertai bukti dan kesimpulan yang masuk akal dan reflektif untuk

memutuskan apa yang dipercayai.

Page 3: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

9

Indikator Keterampilan berpikir kritis

Pembelajaran yang dilakukan guru dalam kelas segarusnya menuntut

siswa untuk berpikir taraftinggi salah satunya berpikir kritis.Dalam berpikir kritis

siswa menuntut siswa memiliki keterampilan dalam berpikir kritis. Jadi dalam

pembelajaran di dalam kelas potensi siswa dalam berpikir kritis harus di

kembangkan oleh guru. Pengembangan kemampuan berpikir kritis mencakup 4

hal, yakni (1) kemampuan menganalisis, (2) membelajarkan siswa bagaimana

memahami pernyataan, (3) mengikuti dan menciptakan argumen logis, (4)

mengiliminir jalur yang salah dan fokus pada jalur yang benar (Harris, 1998).

Menurut Ennis dalam Hassaoubah (2008:91) menjelaskan ciri-ciri dari

keterampilan berpikir kritis antara lain:

a) Merumuskan masalah.b) Memberikan pendapatc) Melakukan pengumpulan datad) Menganalisise) Mengambil keputusanf) Menarik kesimpulang) Mengevaluasi

Menurut Bhisma Murti (2006) berpendapat bahwa seorang pemikir kritis

memiliki ciri-ciri antara lain:

a) Mengumpulkan dan menilai informasi-informasi yang relevanb) Menarik kesimpulan dan solusi dengan alasan yang kuat, bukti yang

kuat, dan mengujinya dengan menggunakan kriteria dan standar yangrelevan.

c) Mengkomunikasikan dengan efektif kepada orang lain dalam upayamenemukan solusi atau masalah-masalah kompleks, tanpa terpengaruholeh pemikiran orang lain tentang topik yang bersangkutan.

d) Mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dan masalah penting,merumuskan dengan jelas dan teliti.

e) Memunculkan ide-ide baru yang berguna dan relevan untuk melakukantugas.

Sedangkan menurut Glaser dalam Fisher (2008:7) ciri-ciri keterampilan

berpikir kritis adalah sebagai berikut:

a) Mengenal masalahb) Menemukan cara-cara yang dapat dipakai untuk menangani masalahc) Mengumpulkan dan menyusun informasi yang diperlukand) Menganalisis data

Page 4: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

10

e) Menarik kesimpulan-kesimpulan dan kesamaan-kesamaan yangdiperlukan

f) Mengevaluasi pernyataan-pernyataan

Berdasarkan ciri-ciri berpikir kritis dapat disimpulkan keterampilan

berpikir kritis yang meliputi:

a. Merumuskan masalah

b. Memberikan pendapat

c. Memunculkan ide-ide baru

d. Memunculkan pertanyaan

e. Mengumpulkan dan menilai informasi-informasi yang relevan

f. Menganalisis

g. Menemukan cara menangani masalah

h. Menemukan solusi

i. Mengambil keputusan

j. Menarik kesimpulan

k. Mengevaluasi pernyataan

l. Mengkomunikasikan hasil

Dari penjelasan di atas terkait ciri-ciri keterampilan berpikir kritis dari

para ahli, maka dapat dikelompokan menjadi indikator dari keterampilan berpikir

kritis yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Mengidentifikasi masalah

2. Merumuskan masalah

3. Mengumpulkan data

4. Menganalisis

5. Menemukan cara menangani masalah

6. Mengambil keputusan

7. Mengevaluasi

8. Mempresentasikan

Page 5: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

11

2.1.2 Model Pembelajaran Think, Pair and Share (TPS)

Pengertian model pembelajaran TPS

TPS (Think Pairs Share) adalah salah satu model pembelajaran kooperatif

yang dikembangkan oleh Frank Lyman, dkk dari Universitas Maryland pada tahun

1981. Menurut Frank Lyman dkk sesuai yang dikutip dari Arends (1997) dalam

Trianto (2011:61) menyatakan bahwa think-pair-share merupakan suatu cara yang

efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa

semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas

secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam think-pair-share dapat

memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling

membantu. Guru memperkirakan hanya melengkapi penyajian singkat atau siswa

membaca tugas atau situasi yang menjadi tanda tanya.

Think Pair Share juga dikemukakan oleh Anita Lie (2002:57) menyatakan

bahwa, Think-Pairs-Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan

untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain. Dalam TPS siswa

dituntut untuk berpikir secara individu ketika mendapatkan pertanyaan dari guru,

tetapi setelah itu mereka harus berdiskusi secara berasangan untuk menjawab

pertanyaan dari guru.

Pendapat lain mengatakan bahwa Think Pairs Share merupakan metodepembelajaran yang dilakukan dengan cara sharing pendapat antar siswa. Metodeini dapat digunakan sebagai umpan balik materi yang diajarkan guru. Pada awalpembelajaran, guru menyampaikan materi pelajaran seperti biasa. Guru kemudianmenyuruh dua orang peserta didik untuk duduk berpasangan dan saling berdiskusimembahas materi yang disampaikan oleh guru. Pasangan peserta didik salingmengkoreksi kesalahan masing – masing dan menjelaskan hasil diskusinya dikelas. Guru menambah materi yang belum dikuasai peserta didik berdasarkanpenyajian hasil diskusi (Endang Mulyatiningsih, 2011:233).

Dari beberapa pendapat yang sudah disebutkan diatas maka dapat

disimpulkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah model pembelajaran

yang dilakukan dengan siswa berpikir sendiri, kemudian berpikir dengan teman

sebelah (metode diskusi berpasangan) dan diskusi bersama dalam kelas yang

diadakan oleh guru.

Page 6: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

12

Dengan penggunaan model pembelajaran TPS siswa dilatih bagaimana

cara menyampaikan pendapat yang dimiliki siswa dan siswa juga dilatih untuk

belajar menghargai pendapat orang lain terutama pendapat temannya dengan tetap

mengacu pada materi/tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.

Langkah-Langkah Pelaksanaan Pembelajaran TPS

TPS memiliki langkah-langkah yang ditetapkan untuk memberi siswa

waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama

lain. Langkah-langkah pelaksanaan TPS yang dikemukakan oleh Wardani

(2010:32) dengan tahapan pelaksanaan sebagai berikut:

1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai2. Siswa diminta untuk berpikir tentang materi/permasalahan yang

disampaikan guru3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2

orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing – masing4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan

hasil diskusinya5. Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok

permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan parasiswa

6. Guru memberi kesimpulan7. PenutupPembelajaran kooperatif tipe TPS memiliki tahapan – tahapan pelaksanaan

sebagai berikut (Trianto, 2011:61)

Langkah 1 : Berpikir (Thinking): Guru mengajukan suatu pertanyaan ataumasalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakanwaktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah. Siswamembutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan bukan bagianberpikir.

Langkah 2 : Berpasangan (Pairing): selanjutnya guru meminta siswa untukberpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selamawaktu yang telah disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaanyang diajukan atau menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yangdiindentifikasi. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menituntuk berpasangan.

Langkah 3 : Berbagi (Sharing): Pada langkah akhir ini guru memintapasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah merekabicarakan. Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangandan melanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat kesempatan untukmelapor.

Page 7: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

13

Langkah langkah yang disampaikan Trianto adalah 3 langkah inti dari

TPS, yaitu Berpikir (Thinking), Berpasangan (Pairing), Berbagi (Sharing). Dan

langkah-langkah ini dilakukan di kegiatan inti dalam pembelajaran.

Sejalaan dengan langkah-langkah yang dikemukakan oleh Trianto, langkah

– langkah TPS menurut Endang Mulyatiningsih (2011:234) adalah sebagai

berikut:

1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang akan dicapai.

Pada tahap ini siswa menyimak apa yang disampaikan guru, supaya ketika

pembelajaran berlangsung siswa dapat tahu materi apa yang akan di

pelajari dan kompetensi apa yang nantinya harus dicapai oleh siswa.

2. Peserta didik diminta untuk berpikir tentang materi yang disampaikan

guru.

Pada tahap ini siswa diberikan pertanyaan atau peermasalahan mengenai

materi dan masing-masing siswa diminta untuk memikirkan jawaban dari

pertanyaan atau permasalahan tersebut.

3. Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (satu

kelompok 2 orang) dan mengutarakan persepsi masing-masing tentang apa

yang telah disampaikan oleh guru

Setelah pada tahap sebelumnya siswa secara individu diminta untuk

mencari penyelesaian dari pertanyaan atau permasalahan yang diberikan

guru, selanjutnya siswa berkelompok. Tetapi setiap kelompok hanya terdiri

dari 2 orang. Maka disebut berpasangan. Dalam berpasangan kedua siswa

berdiskusi dan bertukar pikiran untuk menyelesaikan pertannyaan atau

permasalahan yang tadi telah diberikan oleh guru.

4. Guru memimpin pleno atau diskusi kecil, tiap kelompok mengemukakan

hasil diskusinya.

Setelah semua pasangan selesai berdiskusi, kemudian guru meminta setiap

pasangan untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas.

Pasangan yag lain memberikan tanggapan terhadap pasangan yang sedang

melakukan presentasi

Page 8: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

14

5. Guru melengkapi materi yang masih belum dipahami siswa dan

menegaskan kembali pokok permasalahan yang harus dipahami.

Pada tahap ini guru membimbing siswa melakukan kesimpulan tentang

materi yang telah di pelajari dan guru meluruskan jika ada pemahaman

siswa yang salah terhadap materi yang telah dipelajari.

Berdasarkan uraian diatas, maka untuk menerapkan TPS dengan

menggunakan langkah-langkah yang telah dimodifikasi sebagai berikut:

1. Siswa menyimak materi pembelajaran

2. Siswa secara individu berpikir (Think) untuk menjawab pertanyaan yang

diberikan oleh guru

3. Siswa berpasangan (Pairs) untuk menjawab pertanyaan

4. Siswa berbagi (Sharing) jawaban

5. Siswa (pasangan) lain memberikan tanggapan

6. Siswa melakukan penegasan terhadap materi yang telah dipelajari dengan

bimbingan dari guru

Kelebihan dan Kelemahan model pembelajaran TPSKelebihan dan kelemahan model pembelajaran TPS menurut Hartina ( 2008: 12)adalah sebagai berikut:.

Kelebihan1. Memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-

pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsungmemperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, sertamemperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan .

2. Para guru dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamatireaksi siswa, dan mengajukan pertanyaaan tingkat tinggi.

3. Siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat danpemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalammemecahkan masalah.

4. Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnyadalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang.

5. Siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinyadengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar.

6. Memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam prosespembelajaran.

7. Meningkatkan pasrtisipasi siswa.8. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi.

Page 9: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

15

kelemahan model pembelajaran TPS1. Sangat sulit diterapkan di sekolah yang rata-rata kemampuan siswanya

rendah dan waktu yang terbatas, sedangkan jumlah kelompok yangterbentuk

2. Kelompok yang melapor dan perlu dimonitor,3. lebih sedikit ide yang muncul4. Tidak ada penengah jika terjadi perselisihan dalam kelompok

http://www.sriudin.com/2011/07/model-pembelajaran-think-pair-and-share.html

Pembelajaran keterampilan berpikir kritis dengan menggunakan model TPS

berpikir kritis adalah sikap atau proses untuk memikirkan berbagai

masalah, mengajukan pertanyaan, menemukan informasi yang disertai bukti dan

kesimpulan yang masuk akal dan reflektif untuk memutuskan apa yang

dipercayai.

TPS (Think Pairs Share) adalah salah satu model pembelajaran kooperatif

yang dikembangkan oleh Frank Lyman, dkk dari Universitas Maryland pada tahun

1981. Menurut Frank Lyman dkk sesuai yang dikutip dari Arends (1997) dalam

Trianto (2011:61) menyatakan bahwa think-pair-share merupakan suatu cara yang

efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa

semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas

secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam think-pair-share dapat

memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling

membantu. Guru memperkirakan hanya melengkapi penyajian singkat atau siswa

membaca tugas atau situasi yang menjadi tanda tanya.

Dalam pembelajaran ini, guru akan menekankan lebih lanjut tentang

penilaian keterampilan berpikir kritis yang akan dilakukan dalam proses penilaian.

Hal ini dilakukan untuk mengupayakn kerja tim yang optimal sehingga benar-

benar terjadi kerja ilmiah yang sesungguhnya dan mendapatkan hasil maksimal.

Pembelajaran kooperatif pertama kali dilaksanakan di dalam kelas,

sebaiknya guru terlebih dahulu memperkenalkan kepada siswa. Salah satu model

pembelajaran kooperatif yaitu model TPS yang dilakukan dengan menggunakan

indikator keterampilan berpikir kritis. Indikator dari keterampilan berpikir kritis

Page 10: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

16

dimasukkan dalam model pembelajaran TPS .Langkah-langkah pembelajaran ini

adalah sebagai berikut:

1. Siswa secara mandiri mengidentifikasi masalah

2. Siswa berpasangan merumuskan masalah

3. Siswa berpasangan mengumpulkan data

4. Siswa berpasangan menganalisis data

5. Siswa berpasangan menemukan pemecahan masalah

6. Siswa berpasangan mengambil keputusan

7. Siswa berpasangan mengevaluasi

8. Siswa mempresentasikan hasil di depan kelas

2.1.3 Pembelajaran IPS

Latar Belakang Pembelajaran IPS

IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang

berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat

materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS,

peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang

demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai (KTSP

Standar Isi 2006).

Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat

karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat.

Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan

pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan analisis terhadap kondisi sosial

masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.

Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu

dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam

kehidupan di masyarakat. Dengan model tersebut diharapkan peserta didik akan

memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang

berkaitan (KTSP Standar Isi 2006).

Page 11: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

17

Ruang Lingkup IPS di SD

Pada jenjang pendidikan dasar, ruang lingkup pengajaran IPS dibatasi

sampai pada gejala dan masalah sosial yang dapat dijangkau pada geografi dan

sejarah. Terutama gejala dan masalah sosial kehidupan sehari-hari yang ada di

lingkungan sekitar peserta didik di SD. Ruang lingkup mata pelajaran IPS di SD

meliputi aspek-aspek sebagai berikut (KTSP Standar Isi 2006).

1. Manusia, Tempat, dan Lingkungan

2. Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan

3. Sistem Sosial dan Budaya

4. Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan.

Tujuan Pelajaran IPS di SDMata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki keterampilan

sebagai berikut (KTSP Standar Isi 2006).

1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat

dan lingkungannya

2. Memiliki keterampilan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin

tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan

sosial

3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan

kemanusiaan

4. Memiliki keterampilan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi

dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

Pembelajaran IPS di SD

Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus memperhatikan

kebutuhan anak yang berusia antara 6-12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7-11

tahun menurut Piaget 1963 (dalam Baharuddin:123) berada dalam perkembangan

keterampilan intelektual/kognitifnya pada tingkatan kongkrit operasional. SD

memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh,dan menganggap tahun yang

akan sebagai waktu yang masih jauh. Yang pedulikan adalah sekarang

Page 12: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

18

(kongkrit),dan bukan masa depan yang belum pahami (abstrak). Konsep- konsep

seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata angin,

lingkungan ,ritual ,akulturasi ,kekuasaan, demokrasi ,nilai ,peranan ,permintaan

,atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak yang dalam program studi IPS

harus dibelajarkan kepada SD.

Berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji untuk memungkinkan konsep-

konsep abstrak itu dipahami anak. Bruner 1978 memberikan pemecahan

berbentuk jembatan bailey untuk mengkongkritkan yang abstrak itu dengan

enactive,iconic,dan symbolic melalui percontohan dengan gerak tubuh, gambar,

bagan, peta, grafik, lambang, keterangan lanjut, atau elaborasi dalam kata-kata

yang dapat dipahami. Itulah sebabnya IPS SD bergerak dari yang kongkrit ke

yang abstrak dengan mengikuti pola model lingkungan yang semakin meluas

(expanding environment approach) dan model spiral dengan memulai dari yang

mudah kepada yang sukar, yang sempit menjadi lebih luas, dari yang dekat ke

yang jauh. Pembeajaran IPS harusnya bisa membuat pola piker siswa berubah,

dan bisa berguna bagi siswa .

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS

Pencapaian tujuan pembelajaran IPS dapat dimiliki oleh keterampilan

peserta didik yang standar dinamakan dengan Standar Kompetensi (SK) dan

dirinci ke dalam Kompetensi Dasar (KD). Kompetensi dasar ini merupakan

standar minium yang secara nasional harus dicapai oleh dan menjadi acuan dalam

pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD

didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun keterampilan,

bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru. Secara rinci

SK dan KD untuk mata pelajaran IPS yang ditujukan untuk kelas 4 SD disajikan

melalui tabel 2.1 berikut ini. (KTSP, 2006).

Page 13: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

19

Tabel 2.1Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Mata Pelajaran IPS Semester 2

StandarKompetensi

KompetensiDasar

2.Mengenal sumberdaya alam,kegiatan ekonomidan kemajuanteknologi dilingkungankabupaten / kotadanprovinsi

2.1 Mengenal aktivitas ekonomi yang berkaitan dengansumber daya alam dan potensi lain di daerahnya

2.2 Mengenal pentingnya koperasi dalam meningkat-kankesejah-teraan masyarakat

2.3 Mengenal perkembangan teknologi produksikomunikasi dan transportasi serta pengalamanmenggunakannya

2.4 Mengenal permasalahan sosial di daerahnya

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang akan digunakan

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Standar Kompetensi :

Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi

dilingkungan kabupaten/kota dan provinsi.

Kompetensi Dasar :

Mengenal permasalahan sosial di daerahnya.

2.2 Kajian yang Relevan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fitria Ratnasari pada tahun

2010 yang berjudul Penerapan pembelajaran dengan pola pemberdayaan

berpikir melalui pertanyaan (PBMP) dengan metode kooperatif model think pair

share (TPS) untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar

biologi siswa SMA Negeri 2 Blitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1)

keterampilan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke II.

Secara berturut-turut taraf ke-berhasilan tindakan klasikal siklus I dan II adalah

25,00% dan 81,25%, 2) hasil belajar kognitif siswa yang diukur dengan persentase

ketuntasan belajar klasikal mengalami peningkatan dari siklus I ke II. Secara

berturut-turut persentase ke-tuntasan belajar klasikal siklus I dan II adalah 43,75%

Page 14: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

20

dan 84,37%. 3) hasil belajar ranah afektif siswa yang diukur dengan rata-rata nilai

mengalami pe-ningkatan dari siklus I ke II. Secara berturut-turut rata-rata nilai

siklus I dan II adalah 77,62 dan 80,80. 4) hasil belajar ranah psikomotor yang

diukur dengan taraf keberhasilan tindakan klasikal mengalami peningkatan.

Secara berturut-turut taraf keberhasilan tindakan klasikal siklus I dan II adalah

34,37% dan 87,50%. Pada pelaksanaan pembelajaran, guru harus dapat mengelola

kelas dan waktu secara maksimal sehingga pembelajaran dapat berlangsung

dengan baik. Kelebihan yang terdapat dalam penelitian ini adalah keberhasilan

yang dicapai untuk melatih dapat bekerjasama dengan temannya,. Kekurangan

dalam penelitian ini adalah perlunya penguasaan kelas yang baik oleh guru agar

pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan kondusif, serta waktu pembelajaran

memerlukan waktu yang cukup lama sehingga diperlukan manajemen waktu yang

baik oleh guru.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nilasari Firda Kurnia pada

tahun 2010 yang berjudul Implementasi Pembelajaran Kooperatif Think Pair

Share (TPS) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada

MataDiklat Siklus Akuntansi Kelas X AK SMK PGRI 6 Malang. Hasil penelitian

tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode TPS pada siswa kelas X AK

SMK PGRI 6 Malang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa yaitu

pada tahap diskusi, karena separuh jumlah siswa dari sejumlah 45 siswa kelas X

AK dapat memenuhi indikator keberhasilan tindakan kemampuan berpikir kritis,

peningkatan ini terjadi dari siklus I ke II. Sedangkan hal yang disarankan adalah

bahwa dalam menerapkan metode TPS guru harus lebih merata dan teliti dalam

mengelola kelas supaya setiap siswa dalam kelompok dapat lebih aktif dalam

melaksanakan proses pembelajaran. Siswa hendaknya bisa lebih aktif lagi dalam

kegiatan pembelajaran, peneliti harus dapat membagi waktu yang tepat dan

mengeloa kelas dengan baik agar tahapan dalam penelitian dapat terlaksana

dengan baik dan selesai tepat waktu, dan sekolah hendaknya dapat memberikan

dukungan terhadap penggunaan metode kooperatif khususnya model Think Pair

Share (TPS) agar kemampuan berpikir kritis siswa dapat meningkat.

Page 15: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

21

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dwi Putra Lelana pada tahun

2010 yang berjudul Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem

Based Learning) untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil

belajar kelas X SMA Laboratorium Malang. Hasil penelitian menunjukkan

persentase ketercapaian guru dalam menerapkan langkah-langkah model

pembelajaran berbasis masalah pada siklus I sebesar 83,33%, sedangkan

ketercapaian guru dalam menerapkan langkah-langkah model pembelajaran

berbasis masalah pada siklus II yaitu sebesar 90,91%. Hal ini dapat terlihat adanya

peningkatan prosentase sebesar 7,58%. Sedangkan dari observasi kegiatan pada

siklus I dalam ketercapaian dalam menerapkan langkah-langkah model

pembelajaran berbasis masalah sebesar 75%, dan pada siklus II ketercapaian

dalam menerapkan langkah-langkah model pembelajaran berbasis masalah

sebesar 87,5%. Tampak bahwa ketercapaian dalam menerapkan langkah-langkah

model pembelajaran berbasis masalah mengalami peningkatan sebesar 12,05%.

Pada data keterampilan berpikir kritis pada siklus I prosentasenya sebesar 46,05%,

sedangkan pada siklus II sebesar 73,09%. Dapat dilihat bahwa keterampilan

berpikir kritis meningkat sebesar 27,04% dari siklus I ke siklus II. Hasil belajar

berdasarkan lembar penilaian hasil belajar siklus I sebesar 76,58% dan siklus II

sebesar 79,21%. Hal ini mengalami peningkatan hasil belajar dari siklus I ke

siklus II sebesar 2,63%.Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan, maka

dapat dikatakan bahwa model pembelajaran melalui metode Pembelajaran

Berbasis Masalah dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis sebesar 27,04

%, dan hasil belajar sebesar 2,63%, dalam proses belajar mengajar menjadi lebih

tertarik karena guru memberikan variasi-variasi dalam proses belajar mengajar

sehingga tidak lagi merasa bosan. Selain itu, dalam proses pembelajaran lebih

berperan aktif dalam menanggapi permsalahan-permasalahan yang diberikan oleh

guru. Kelebihan dalam penelitian iniadalah lebih terlatih untuk ekerja sama dalam

kelompok, guru lebih menggunakan masalah-masalah yang actual,sehingga

menjadi tertarik,guru lebih mengaktifkan dengan di berikan masalah-

masalah,sehingga menjadi siap belajar. Kekurangan dalam penelitian ini adalah

Page 16: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

22

waktu yang dibutuhkan dalam menggunakan model ini minimal 2 jam pelajaran.

Guru harus bisa merespon jika sudah merasa bosan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Luluk Umiatin pada tahun

2010 dalam penelitiannya yang berjudul “Penerapan Think Pair Share (TPS)

Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V SDN

Segaran 03 Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang”. Dari hasil analisis

menunjukkan bahwa adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V

pada mata pelajaran IPS materi keanekaragaman suku bangsa dan budaya di

Indonesia. Hasil Pre test siswa rata-rata adalah 48,2 atau 48,2%, siklus I

mengalami peningkatan yaitu menjadi 69,8 atau 69,8% dan siklus II terus

mengalami peningkatan menjadi 81,8 atau 81,8%. Hasil belajar siswa dikatakan

naik 12% persiklus. Sedangkan untuk aktivitas siswa menunjukkan adanya

peningkatan dari 11,56 menjadi 12,88 di siklus II. Kelebihan yang terdapat dalam

penelitian ini adalah keberhasilan yang dicapai untuk melatih siswa dapat

bekerjasama dengan temannya, terutama dengan teman pasangannya. Kekurangan

dalam penelitian ini adalah perlunya penguasaan kelas yang baik oleh guru agar

pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan kondusif, serta waktu pembelajaran

memerlukan waktu yang cukup lama sehingga diperlukan manajemen waktu yang

baik oleh guru. Oleh karena itu dalam penelitian ini penguasaan kelas oleh guru

dan waktunya akan di atur dengan baik, supaya penelitian ini berjalan sesuai

dengan harapan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lina Anggraeni pada tahun

2012 yang berjudul penerapan model pembelajaran berbasis masalah untuk

meningkatkan keterampilan berpikir kritis mata pelajaran IPS di SMP N 2 Depok

Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan keterampilan

berpikir kritis pada setiap aspek yang diamati mulai dari siklus I sampai ke siklus

II. Ratarata jumlah siklus I pada aspek mampu berkomunikasi dengan orang lain

mencapai 4, sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 5. Pada

aspek mampu memunculkan ide baru mencapai 2, sedangkan pada siklus II

mencapai 5. Pada aspek mampu mengolah informasi mencapai 3, sedangkan pada

siklus II mengalami peningkatan menjadi 5. Pada aspek mampu mengemukakan

Page 17: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

23

pendapat mencapai 3, sedangkan pada siklus II mencapai 5. Pada siklus I aspek

mampu memberi solusi atas sebuah masalah mencapai 2 dan pada siklus II

meningkat menjadi 5. Pada aspek mampu menarik kesimpulan mencapai 2 dan

pada siklus II meningkat menjadi 5. Pada hasil analisis angket juga mengalami

peningkatan. Siklus I pada kategori tinggi dan sangat tinggi mencapai 45,45%,

sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu

88,5%. Selain observasi dan angket, peningkatan keterampilan berpikir kritis juga

dapat dilihat dari tes. Pada siklus I yang berada pada skor = 70 mencapai 36,36%,

sedangkan pada siklus II mencapai 78,13%.Kelebihan yang dicapai dalam

penelitian ini adalah secara individu dapat mengembangkan pemikirannya

masing-masing karena adanya waktu berpikir, sehingga kualitas jawaban yang

diberikan dapat meningkat menjadi lebih baik. Kekurangan dalam penelitian ini

adalah perlunya pengawasan kelas oleh guru untuk dapat memotivasi keaktifan

dalam pembelajaran dan juga perlunya bimbingan yang diberikan oleh guru baik

bimbingan secara kelompok maupun secara individu.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yanik Rinawati pada tahun

2011 dalam penelitiannya yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi

Melalui Model Pembelajaran Think Pairs And Share (TPS) pada Siswa Kelas V

SDN Dampit 2 Kecamatan Dampit Kabupaten Malang. Berdasarkan analisis data

hasil penelitian setelah diterapkan model pembelajaran Think Pairs and Share

(TPS) dalam menulis puisi diketahui bahwa: banyaknya siswa yang telah

mengalami peningkatan dari pra tindakan sampai siklus II. sebelum siklus hasil

yang didapat yaitu 65.5 %. Sedangkan pada saat sudah dilakukan siklus I hasil

yang didapat meningkat yaitu 73.26 % dan pada saat pelaksanaan siklus 2 nilai

siswa semakin meningkat yaitu 87.78 %. kelebihan dalam penelitian ini adalah

peningkatan yang cukup baik yaitu dimulai dari pra siklus sebesar 65,5%, pada

siklus I terjadi peningkatan sebesar 73, 26% dan pada siklus II terjadi peningkatan

sebesar 87, 78%, serta keberhasilan dalam mengembangkan sikap kerjasama

dengan teman dan berpikir kritis siswa. Kekurangan dalam penelitian ini adalah

perlunya variasi kegiatan belajar yang diberikan guru agar pembelajaran dapat

menarik perhatian siswa dan siswa tidak bosan.

Page 18: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

24

2.3 Kerangka Berpikir

Rutinitas pembelajaran yang berlangsung di kelas, adalah pembelajaran

yang berpusat pada guru. Guru mendominasi seluruh waktu pembelajaran dengan

menyampaikan materi pelajaran Matematika melalui ceramah dan langsung

penugasan. Kadang-kadang saja di tengah-tengah ceramah, guru menyelipkan

pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab. Respon terhadap pembelajaran yang

dilakukan guru, adalah mengantuk, tidak segera dapat peduli dengan situasi yang

ada baik yang diadakan oleh guru atau yang lain, sehingga cenderung untuk pasif

saja dan hanya mendengarkan penjelasan guru. Kondisi ini jika diberi pertanyaan

atau tes, hasilnya tidak dapat mengerjakan secara optimal, sehingga skor yang

diperoleh rendah.

Perubahan paradigma pembelajaran menuntut aktif, agar kompetensi yang

diharapkan dalam KTSP 2006 dapat tercapai. Suatu pembelajaran akan efektif bila

aktif berpartisipasi atau melibatkan diri secara langsung dalam proses

pembelajaran. diharapkan dapat menemukan sendiri atau memahami sendiri

konsep yang telah diajarkan yaitu dengan mengalami langsung.

Pembelajaran dengan metode ceramah yang pada umumnya dilaksanakan

oleh guru masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi. Guru masih

dominan sehingga membuat menjadi pasif. tidak mengalami pengalaman belajar

sendiri untuk mendapatkan pengalaman baru dalam kegiatan belajar mengajar di

sekolah, akibatnya keterampilan berpikir kritis rendah. Untuk mengatasi

paradigma di atas, dibutuhkan menerapkan suatu model pembelajaran yaitu model

pembelajaran TPS. Melalui model pembelajaran ini diharapkan siswa akan

mampu aktif, dapat memiliki keterampilan berikir kritis. Penjelasan lebih rinci

disajikan dalam gambar 2.1

Page 19: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

25

Gambar 2.1 kerangka berpikir

Proses Belajar Mengajar IPSKD 2.4 Mengenal permasalahan sosial

di daerahnya

Keterampilanberpikir kritis

siswa

model pembelajaran TPS denganmenggunakan keterampilan

berpikir kritis

Identifikasi masalah sosialYang ada dalam masyarakat

SkorKeterampilanberpikir kritis

siswa

Presentasi cara mengatasimasalah sosial

Pembelajaran KonvensionalMetode : Ceramah dan bersifat teachercenter. Guru menjelaskan materi denganhanya berbantuan buku pegangan/LKSsaja.

Merumuskan masalah sosialyang ada dalam

masyarakat.

Mengumpulakn data tentangmasalah sosial yang ada dalam

masyarakat.

Menganalisis data tentangmasalah sosial yang ada dalam

masyarakat.

Menemukan cara menanganimasalah sosial yang ada dalam

masyarakat.

Mengambil keputusan tentangcara menangani masalah sosial

yang ada dalam masyarakat.

Mengevaluasi cara menanganimasalah sosial yang ada dalam

masyarakat.

Keterangan:RPKBK=

Rubrik penilaianketerampilanberpikir kritis

THINK

PAIR

SHARE

RPKBKIdentifikasi

RPKBKPerumusan masalah

RPKBKPengumpulan data

RPKBKAnalisis

RPKBKPemecahan masalah

RPKBKPengambilan

keputusan

RPKBKEvakuasi

RPKBKPresentasi

Page 20: BAB II KAJIAN PUSTAKA - repository.uksw.edurepository.uksw.edu/bitstream/123456789/3805/3/T1_292009121_BAB II.pdf · 2.1.1 Keterampilan Berpikir Kritis Pengertian Keterampilan Berpikir

26

2.4 Hipotesis

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir tersebut di atas diajukan

hipotesis tindakan sebagai berikut : Dengan menerapkan model pembelajaran

Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis IPS di

kelas 4 di SD Negeri Ujung-Ujung 02 Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang

Semester 2 tahun ajaran 2012/ 2013”