Top Banner
ANALISIS FAKTOR DIVIDEN DAN I PADA PER MU FAK UNIVERSITAS R-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEB IMPLIKASINYA TERHADAP HARGA SAH RUSAHAAN MANUFAKTUR GO PUBLIC DI BURSA EFEK INDONESIA Disusun Oleh: UHAMMAD MIFTAHURROHMAN 106081002458 JURUSAN MANAJEMEN KULTAS EKONOMI DAN BISNIS S ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLA JAKARTA 1431 H / 2010 M BIJAKAN HAM AH
140

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

Mar 03, 2019

Download

Documents

hoanghanh
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
Page 1: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

ANALISIS FAKTOR

DIVIDEN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP HARGA SAHAM

PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR

MUHAMMAD MIFTAHURROHMAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN

DIVIDEN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP HARGA SAHAM

PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR GO PUBLIC

DI BURSA EFEK INDONESIA

Disusun Oleh:

MUHAMMAD MIFTAHURROHMAN

106081002458

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1431 H / 2010 M

I KEBIJAKAN

DIVIDEN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP HARGA SAHAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

Page 2: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

ANALISIS FAKTOR.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN

DEYIDEN, DAN IMPLIKASINYA TERHADAP HARGA SAHAM

PAI}A PERUSAHAAN MANUFAKTUR GO PUBLIK

DI BTIRSA EFEK INDONESIA

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial

Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh

MUHAMMAD MIFTAHURROHMANNIM: 106081002458

Di Bawah Bimbingan

Pembimbing I Pembimbing tr

GaProf.Dr.Ahmad Rodoni. MMNrP.196902B2$0dt21 003

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL

UNTVERSITAS ISLAM I\EGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

t431HJ 2010 M

Titi Dewi Warninda. SE" M.SiIIIIP: 1 973 12212005012002

Page 3: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

ANALISIS F'AKTOR.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN

DIVIDEN, DAN IMPLIKASINYA TERIIADAP HARGA SAHAM

PADA PERUSAHAAIT MANUFAKTUR GO PUBLIK

DI BURSA EFEK INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Untuk Memenuhi Syarat-syarat

Untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh:

MUHAMMAD MIX'TAHURROHMANNIM: 106081002458

Tim Penguji Ujian Skripsi

Pembimbing I Pembimbing II

m'dTiti Dewi Warninda. SE. M.SiMP: 19731221 20050 I 2402

Dr. Yahva Hamia. MM,l[IP: 1949A602197803 1 001

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UMVtrRSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAII

JAKARTA

t431HJ2010 M

NrP.19690203 200112 1 003

|[IP. 1976082220A701

t-- -

Page 4: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

Hari ini Senin Tanggal 20 Bulan Desember Tahun Dua Ribu Sepuluh telah

dilakukan Ujian Skripsi atas nama Muhammad Miftahunohman NIM:

106081002458 dengan judul Skripsi (ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YAIIG

MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA

TERIIADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAIIA.A^I\ MAFIUFAKTUR GO

PABLIK DI BURSA EFEK II\DONESIA". Memperhatikan Penampilan

Mahasiswa tersebut selama ujian berlangsffig, maka skripsi ini sudah dapat

diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Jakartra, 20 Desember 2010

Tim Penguji Skripsi

[LaProf. Dr. Ahmad Rodoni. MM

KetuaTiti Dewi Warninda, SE" M.Si

Sekretaris

Penguji Ahli IHerni Ali HT. SE.. MM

Penguji Ahli II

Page 5: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

Hari ini Kamis Tanggal 27 Bulan Mei Tahun Dua Ribu Sepuluh telah dilakukan

Ujian Komprehensif atas nama Muhammad Miftahunohman NIM:

106081002458 dengan judul Skripsi "ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI IffiBIJAKAN DEVIDENO DAN IMPLIKASINYA

TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUT'AKTUR GO

PUBLIK DI BURSA EFEK INDONESIA". Memperhatikan kemampuan

mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat

diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada

Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakartra.

Jakarta, 27 Mei2010

Tim Penguji Ujian Komprehensif

o'1 / 1 7-f__<'rIndo Yama Nasaruddin. SE. MAB

Ketua

./--\()*/

Prof. Dr. Ahmad Rodoni.(VftI

-tFauzan. Sn. MM

Penguji Ahli

Page 6: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

SURAT PERNYATAAN

Nama Mahasiswa : Muhammad Miftahurrohman

NIM :106081002458

Jurusan : Manajemen

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri yang

merupakan hasil penelitian, pengolahan dan analisis saya sendiri serta bukan

merupakan replikasi maupun saduran dari hasil karya atau hasil penelitian orang

lain.

Apabila terbukli skripsi ini plagiat atau replikasi maka skripsi ini dianggap gugur

dan harus melakukan penelitian ulang untuk menyusun skripsi baru dan kelulusan

serta gelarnya dibatalkan.

Demikian pernyataan ini dibuat dengan segala akibat yang timbul di kemudian

hari menjadi tanggungjawab saya.

. {"\qttu, l0 Desember 2010METERAI NqI'ffMTHf W /;,*ffi^

"'{*{l6wwii&^ffi',/- \Muhammad Miftahurrohman

Page 7: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

i

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Muhammad Miftahurrohman

Tempat Tanggal Lahir : Sukabumi, 2 September 1985

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Jl. Cilangla Rt 005/Rw 03 Cireunghas Sukabumi,

Jawa Barat 43193

Agama : Islam

Kewarganegaraan : Indonesia

Nama Orang Tua : Ayah : Said

Ibu : Enung Nurlathifah

Telepon : 0266-230210 (rumah)

021-95466892 (hp)

e-mail : [email protected]

PENDIDIKAN

• SD Negeri Cilangla Sukabumi 1991 – 1997

• TMI Al-Amien Prenduan Sumenep Jawa Timur 1998 – 2004

• UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Manajemen FEB 2006 – 2010

PENGALAMAN ORGANISASI

• Ketua Koperasi TOSERBA, Departemen KOPWIRA TMI Al-Amien

Prenduan (2003)

• Staf Keilmuan IKBAL Korda Jakarta (2006)

• Bendahara Umum IKBAL Korda Jakarta (2008-2010)

PENGALAMAN KERJA

• Klinik (BPSK) TMI Al-Amien Prenduan (2004-2005)

• Freelance Arabic Translator, Penerbit Pena Jakarta (2007)

Page 8: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

ii

ABSTRACT

This research aims to analyze the influence of ownership structure, corporate

life cycle, financial leverage and interest rate in dividend policy, and its

implication on stock price. This research also aims to analyze the direct and

indirect effect of independent variable on stock price. This research use

quantitative research by using method of path analysis. The sample in this

research is go public manufacture companies which listed in Indonesia Stock

Exchange for period 2005-2009. Data in this research is obtained from

companies financial statement which available in BEI and interest rate that

published by Indonesian Bank. Research finding of substructure I indicates that

ownership structure, corporate life cycle, and financial leverage have

significantly effect on dividend policy. Research finding of substructure II

indicates that ownership structure, corporate life cycle, interest rate, and dividend

policy have significantly effect on stock price. Besides, research finding also

indicates that the factors have direct effect on stock price are ownership structure

with positive coefficient around 20.9%, corporate life cycle with negative

coefficient around 39.8%, and interest rate with negative coefficient around

18.8%. While the factors have indirect effect on stock price are ownership

structure with positive coefficient around 5.2%, corporate life cycle with negative

coefficient around 13.1%, and financial leverage with negative coefficient around

5.8%.

Keyword : ownership structure, corporate life cycle, financial leverage, interest

rate, dividend policy, and stock price.

Page 9: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

iii

ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa struktur kepemilikan, tahapan daur

hidup perusahaan, financial leverage, dan suku bunga SBI terhadap kebijakan

dividen, serta implikasinya terhadap harga saham. Penelitian ini juga bertujuan

untuk menganalisa pengaruh langsung dan tidak langsung dari variabel

independen terhadap harga saham. Penelitian ini menggunakan pendekatan

kuantitatif dengan menggunakan path analysis. Sampel dalam penelitian ini

adalah perusahaan manufaktur go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

pada periode 2005-2009. Data dalam penelitian ini diperoleh dari laporan

keuangan perusahaan yang tersedia di BEI dan tingkat suku bunga SBI yang

dipublikasikan oleh Bank Indonesia. Hasil penelitian pada substruktur I

menunjukkan bahwa struktur kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan, dan

financial leverage berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Hasil

penelitian pada substruktur II menunjukkan bahwa struktur kepemilikan, tahapan

daur hidup perusahaan, suku bunga SBI, dan kebijakan dividen berpengaruh

signifikan terhadap harga saham. Selain itu, Hasil penelitian juga menunjukkan

bahwa faktor-faktor yang berpengaruh langsung terhadap harga saham adalah

struktur kepemilikan dengan koefisien positif sebesar 20.9%, tahapan daur hidup

perusahaan dengan koefisien negatif sebesar 39.8%, dan suku bunga SBI dengan

koefisien negatif sebesar 18.8%. Sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh tidak

langsung terhadap harga saham adalah struktur kepemilikan dengan koefisien

positif sebesar 5.2%, tahapan daur hidup perusahaan dengan koefisien negatif

sebesar 13.1%, dan financial leverage dengan koefisien negatif sebesar 5.8%.

Kata kunci : struktur kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan, financial

leverage, suku bunga SBI, kebijakan dividen, dan harga saham.

Page 10: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillâhirabbil’âlamîn. Segala puji bagi Allah swt. yang Maha

Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Tuhan yang Maha Berilmu lagi

menjanjikan akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang

diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Al-Mujadalah: 11). Shalawat dan salam

semoga selalu tercurah kepada Rasulullan Muhammad saw., beserta keluarga,

sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga hari Akhir.

Penulis bersyukur dapat menyelesaikan skripsi ini disamping penulis juga

menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Hal ini

dikarenakan keterbatasan kemampuan pengetahuan yang penulis miliki. Untuk

itu, kiranya pembaca dapat memaklumi atas kelemahan dan kekurangan yang

ditemui dalam skripsi ini.

Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

1. Kedua orang tua dan semua keluarga penulis yang senantiasa berdo’a dan

memberikan bimbingan akan arti hidup yang hakiki.

2. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan

Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni, MM, selaku Pembantu Dekan I Fakultas

Ekonomi dan Bisnis, sekaligus pembimbing I yang telah meluangkan

waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis sehingga skripsi

ini bias terselesaikan.

4. Bapak Indoyama Nasarudin, SE, MAB, selaku Kepala Jurusan Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

5. Ibu Titi Dewi Warninda, SE, M.Si, selaku dosen pembimbing II yang

selalu membimbing dan memotivasi penulis selama penyusunan skripsi.

6. Seluruh dosen pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah

memberikan bekal ilmu yang tak terhingga nilainya, semoga menjadi ilmu

yang bermanfaat sehingga menjadi amal kebaikan bagi kita semua. Amin.

Page 11: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

v

7. Para staf tata usaha Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah membantu

penulis dalam mengurus kebutuhan administrasi dan lain-lain.

8. Seluruh sahabat penulis, kalianlah yang punya andil besar dalam

membentuk kepribadian penulis selama ini, yang telah memperkenalkan

makna perbedaan dan menghadirkan indahnya warna-warni kebersamaan.

Bagaimana penulis bisa melangkah, jika bukan karena kalian yang selalu

menggandeng penulis selama ini untuk menatap masa depan. Bagaimana

penulis bisa bangun, jika bukan karena kalian yang selalu memotivasi

penulis untuk hidup lebih baik. Teman-temanlah yang selalu hadir di kala

penulis merasa sendiri, kalaupun harus pergi tidak lain agar penulis merasa

tenang bukan berarti kalian tidak ingin menemani. Ketulusan kalian

membuat penulis tersenyum dan menangis haru. Bagaimana penulis harus

berterima kasih, bagaimana penulis harus membalas segala kebaikan

kalian yang teramat luhur. Penulis hanya bisa bersyukur kepada Allah swt.

telah dipertemukan bersama teman-teman. Biarlah Ia yang membalasnya

karena penulis yakin tidak ada balasan yang lebih baik atas kebaikan

kalian melainkan balasan yang datang dari-Nya.

9. Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, suatu kebahagiaan

telah dipertemukan dan diperkenalkan dengan kalian semua.

Penulis menyadari bahwa hasil penelitian ini masih memiliki banyak

kekurangan. Dengan segenap kerendahan hati penulis mengharapkan saran,

arahan maupun kritikan yang konstruktif demi penyempurnaan hasil penelitian

ini.

Skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaan bagi berbagai pihak, bagi

pengembangan diri penulis khusunya dan para pembaca budiman pada umumnya.

Akhirnya segala urusan penulis pasrah-tawakkalkan kepada Dzat yang Maha

Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Jakarta, 20 Desember 2010

Penulis,

Muhammad Miftahurrohman

Page 12: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

vi

DAFTAR ISI

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ........................................................................... i

ABSTRACT ..................................................................................................... ii

ABSTRAKSI ................................................................................................... iii

KATA PENGANTAR ..................................................................................... iv

DAFTAR ISI ................................................................................................... vi

DAFTAR TABEL ......................................................................................... viii

DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... ix

BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................ 1

A. Latar Belakang ............................................................................ 1

B. Perumusan Masalah .................................................................... 6

C. Batasan Penelitian ....................................................................... 7

D. Manfaat Penelitian ...................................................................... 7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 9

A. Pasar Modal ................................................................................ 9

B. Saham ....................................................................................... 11

1. Pengertian Saham ................................................................. 11

2. Analisis dan Penilaian Harga Saham ..................................... 15

C. Kebijakan Deviden .................................................................... 19

1. Pengertian ............................................................................ 19

2. Kebijakan Pembagian Deviden ............................................. 21

3. Teori-teori Kebijakan Deviden .............................................. 23

D. Hubungan Kebijakan Deviden dan Harga Saham ...................... 26

E. Tinjauan Penelitian Terdahulu ................................................... 37

F. Kerangka Pemikiran .................................................................. 40

G. Hipotesis Penelitian ................................................................... 41

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 43

A. Ruang Lingkup Penelitian ......................................................... 43

B. Populasi dan Sampel Penelitian ................................................. 43

C. Metode Pengumpulan Data ....................................................... 44

Page 13: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

vii

D. Metode Analisis ........................................................................ 44

E. Dasar Pengambilan Keputusan .................................................. 47

F. Operasional Variabel ................................................................. 50

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 53

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ............................... 53

B. Penemuan dan Pembahasan ....................................................... 60

1. Analisis Deskriptif ................................................................ 60

2. Analisis Jalur Pengaruh Struktur Kepemilikan, Tahapan

Daur Hidup Perusahaan, Financial Leverage, dan Suku

Bunga SBI Terhadap Kebijakan Dividen, serta

Implikasinya Terhadap Harga Saham .................................... 70

3. Analisis Jalur Setelah Trimming ........................................... 92

C. Interpretasi Hasil ..................................................................... 106

BAB V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI ............................................. 114

A. Kesimpulan ............................................................................. 114

B. Implikasi ................................................................................. 115

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 117

LAMPIRAN-LAMPIRAN ........................................................................... 119

Page 14: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

viii

DAFTAR TABEL

Nomer Keterangan Halaman

4.1 Data Sampel Perusahaan Manufaktur 59

4.2 Korelasi antar Variabel Bebas 72

4.3 Uji t Regresi * 76

4.4 Koefisien Determinasi (Adjusted R Square) * 80

4.5 Uji F Regresi * 81

4.6 Uji t Regresi ** 84

4.7 Koefisien Determinasi (Adjusted R Square) ** 88

4.8 Uji F Regresi ** 89

4.9 Hasil Pengujian Pengaruh antar Variabel Eksogen dan

Endogen 91

4.10 Uji t Regresi *** 93

4.11 Koefisien Determinasi (Adjusted R Square) *** 96

4.12 Uji F Regresi *** 97

4.13 Uji t Regresi **** 97

4.14 Koefisien Determinasi (Adjusted R Square) **** 101

4.15 Uji F Regresi **** 101

4.16 Hasil Pengujian Pengaruh antar Variabel Eksogen dan

Endogen setelah Trimming 102

4.17 Koefisien Pengaruh Langsung, Tidak Langsung, dan

Total tentang Struktur Kepemilikan (IO), Tahapan daur

Hidup Perusahaan (RETE), Financial Leverage (DER),

Suku Bunga SBI, Kebijakan Dividen (DY), dan Harga

Saham (CP) 105

Ket.

*Substruktur I ***Substruktur I setelah Trimming

** Substruktur II ***Substruktur II setelah Trimming

Page 15: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

ix

DAFTAR GAMBAR

Nomer Keterangan Halaman

2.1 Kerangka Berfikir 41

4.1 Rata-rata IO Perusahaan 61

4.2 Rata-rata RETE Perusahaan 63

4.3 Rata-rata DER Perusahaan 65

4.4 Suku Bunga SBI 66

4.5 Rata-rata Dividend Yield (DY) Perusahaan 68

4.6 Rata-rata Harga Saham (CP) Perusahaan 69

4.7 Diagram Jalur 71

4.8 Diagram Jalur (hasil perhitungan) 91

4.9 Diagram Jalur setelah Trimming 93

4.10 Diagram Jalur setelah Trimming (hasil penghitungan) 102

Page 16: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Investor menginvestasikan modalnya pada saham dengan mengharapkan

tingkat pengembalian yang baik tanpa suatu resiko yang berarti. Mereka akan

lebih menekankan referensi pada return yang akan didapat dari investasi yang

ditanamkannya tersebut. Oleh karena itu mereka cenderung selalu melihat

dan menilai lebih teliti saham perusahaan mana yang nilainya stabil dan

bahkan ada kecenderungan naik. Di lain pihak, perusahaan juga

mengharapkan pertumbuhan sekaligus mempertahankan kelangsungan

hidupnya dan memberikan kesejahteraan bagi pemegang saham. Oleh karena

itu kebijakan pembayaran dividen mempunyai dampak yang sangat penting

bagi investor maupun bagi perusahaan yang membayarkan dividen, dan

menjadi masalah menarik karena akan memenuhi harapan investor, namun

disisi lain kebijakan tersebut jangan sampai menghambat pertumbuhan

apalagi mengancam kelangsungan hidup perusahaan. Murhadi (2008, vol.10)

mengatakan bahwa pengumuman dividen oleh suatu perusahaan, merupakan

signal bagi pemegang saham.

Besar kecilnya dividen yang akan dibayarkan oleh perusahaan tergantung

pada kebijakan dividen dari masing-masing perusahaan, sehingga

pertimbangan manajemen sangat diperlukan. Dengan demikian perlu bagi

pihak manajemen untuk mempertimbangkan faktor-faktor yang

Page 17: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

2

mempengaruhi kebijakan dividen yang ditetapkan oleh perusahaan

(Pradessya, 2006: 13). Selanjutnya, Dewi (2008: 47) berpendapat bahwa

wewenang dalam mengendalikan kebijakan dividen merupakan salah satu

wewenang yang didelegasikan para pemegang saham kepada dewan direksi.

Dividen akan dibayarkan atau tidak, bagaimana sifat dan jumlah dividen

merupakan masalah yang ditentukan olehh dewan direksi.

Perusahaan yang membayarkan dividen dalam 5 tahun terakhir terlihat

mengalami fluktuatif, hal ini dapat dilihat dari data statistik yang dikeluarkan

oleh research and development division of Indonesia Stock Exchange (IDX),

dimana terdapat 166 perusahaan atau 48.40% dari 343 perusahaan yang listed

di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2005, terdapat 158 perusahaan atau

44.89% dari 352 perusahaan di tahun 2006, terdapat 153 perusahaan atau

40.48% dari 378 perusahaan di tahun 2007, 157 perusahaan atau 38.57% dari

407 perusahaan di tahun 2008, dan 168 perusahaan atau 40.58% dari 414

perusahaan. Sementara itu, untuk perusahaan manufaktur yang membayarkan

dividen kepada pemegang saham secara continue selama periode tahun 2005

sampai dengan tahun 2009 hanya sebanyak 20 perusahaan, yaitu Astra

Internastional Tbk, Astra Otoparts Tbk, Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk,

Citra Tubindo Tbk, Delta Djakarta Tbk, Goodyear Indonesia Tbk, HM

Sampoerna Tbk, Indofood Sukses Makmur Tbk, Kageo Igar Jaya Tbk, Kimia

Farma Tbk, Lion Metal Works Tbk, Lionmesh Prima Tbk, Mayora Indah

Tbk, Merck Indonesia Tbk, Multi Bintang Indonesia Tbk, Selamat Sempurna

Page 18: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

3

Tbk, Semen Gresik (Persero) Tbk, Tempo Scan Pacific Tbk, Trias Sentosa

Tbk, dan Unilever Indonesia Tbk.

Alli (1993) dalam Prihantono (2003: 9) membedakan variabel yang

mempengaruhi pembayaran dividen, diantaranya adalah batasan legal (legal

restriction), posisi likuiditas (liquidity position), ketiadaan sumber

pembiayaan lain (absence or lack of other source of financing), prediksi

penerimaan (earning predictability), kontrol kepemilikan (ownership

control), dan Inflasi (inflation).

Apabila sebuah perusahaan mempunyai kemampuan dalam memberikan

dividen maka akan banyak investor yang tertarik menanamkan modalnya di

perusahaan tersebut, jika hal ini terjadi maka permintaan akan saham

perusahaan menjadi tinggi yang pada akhirnya diikuti dengan appresiasi

harga saham perusahaan dan memberikan keuntungan berupa capital gain.

Sementara itu, menurut Sartono (1998: 370) kenyataan harga saham berubah

mengikuti perubahan dividen semata-mata karena adanya information content

dalam pengumuman dividen. Sudah banyak penelitian untuk menguji

hipotesis ini, namun demikian hingga saat ini masih sulit untuk menentukan

apakah perubahan harga saham yang mengikuti perubahan dividen

disebabkan karena signaling effect, preference effect, atau karena kombinasi

keduanya.

Menurut Husnan (2005: 307) dalam Faizah (2009) harga saham yang

beragam pada umumnya mencerminkan keadaan fundamental perusahaan

pada periode tertentu. Analisis fundamental mencoba untuk memperkirakan

Page 19: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

4

harga saham di masa yang akan datang dengan mengestimasi nilai faktor-

faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan

datang dan menerapakan hubungan variabel-variabel tersebut sehingga

diperoleh taksiran harga saham. Namun, adakalanya perubahan harga saham

tidak begitu mencerminkan keadaan fundamental perusahaan pada periode

tertentu. Harga saham lebih dipengaruhi oleh faktor ekstern di luar faktor

fundamental, seperti kondisi makro ekonomi, stabilitas politik, kebijakan

pemerintah dalam dunia industri dan usaha atau faktor sejenis yang terjadi

pada perusahaan merupakan variabel yang bisa ikut memicu arah pergerakan

kurs saham.

Rata-rata saham perusahaan manufaktur selama 5 tahun terakhir terlihat

mengalami fluktuatif, hal ini dapat dilihat dari pergerakan rata-rata saham

yang selalu berubah-ubah (naik-turun) dari tahun ke tahun. Nilai rata-rata

saham perusahaan manufaktur sepanjang tahun 2005-2007 mengalami

peningkatan yaitu Rp 11088.00 di tahun 2005, naik menjadi Rp 13832.50 di

tahun 2006, dan naik kembali di tahun 2007 menjadi Rp 14953.90. Pada

tahun 2008 turun menjadi Rp 11858.45. Namun di tahun 2009 mengalami

peningkatan hingga pada titik harga Rp 27623.30.

Penurunan nilai rata-rata saham manufaktur pada tahun 2008 lebih dipicu

oleh keadaan ekonomi tepatnya krisis keuangan global yang dimulai dari

Amerika dan meluas ke hampir seluruh belahan dunia termasuk Indonesia,

penurunan ini tentunya akan memberikan respon yang buruk kepada investor.

Page 20: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

5

Sebaliknya, kenaikan di tahun 2009 memberikan sinyal atau tanda positif bagi

para investor perihal prospek berinvestasi pada saham tersebut.

Murhadi (2008, vol 10) melakukan penelitian mengenai kebijakan

dividen: anteseden dan dampaknya terhadap harga saham perusahaan.

Penelitiannya menjelaskan hubungan kausal antara harga saham dan

kebijakan dividen sebagai variabel endogen dengan set kesempatan investasi,

aliran kas bebas, tahapan daur hidup, kepemilikan institusional, dan regulasi

sebagai variabel eksogen.

Analisis terhadap faktor-faktor kebijakan dividen dan dampak faktor-

faktor tersebut terhadap harga saham mempunyai arti penting bagi investor

sebelum mengambil suatu keputusan investasi. Berdasarkan uraian di atas dan

penelitian-penelitian yang dilakukan, maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen dan

pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap harga saham perusahaan-perusahaan

manufaktur.

Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, dalam penelitian ini

akan dilakukan pengujian terhadap teori signaling dividen (signaling theory)

melalui kebijakan dividen yang diwakili dengan dividend yield, teori

keagenan (agency theory) melalui struktuk kepemilikan yang diwakili dengan

institutional ownership (IO), teori tahapan daur hidup perusahaan (life sycle

theory) melalui pendekatan earned contributed capital mix dengan variabel

pengukuran retained earning/total equity (RETE), dan financial leverage

Page 21: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

6

yang diwakili dengan debt to equity ratio (DER), serta dilengkapi dengan

variabel makro yang diwakili oleh tingkat suku bunga SBI.

Periode penelitian yang dilakukan adalah periode tahun 2005 sampai

dengan tahun 2009. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur go

public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memiliki laporan

keuangan lengkap dan melakukan pembayaran dividen secara konsisten

selama periode penelitian (lima tahun), yaitu meliputi tahun 2005, 2006,

2007, 2008, dan 2009. Penelitian dibatasi pada penggunaan data sekunder

yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan data yang

dipublikasikan oleh Bank Indonesia yang sifatnya kuantitatif dalam

melakukan analisis.

Dengan berbagai dasar dan latar belakang di atas, maka penelitian ini

mengambil topik yaitu “Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi

kebijakan dividen dan implikasinya terhadap harga saham pada

perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Indonesia.”

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, serta agar penelitian dapat dilakukan

secara sistematis dan terarah, maka perumusan masalah dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana pengaruh variabel struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, financial leverage, dan suku bunga SBI terhadap kebijakan

dividen?

Page 22: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

7

2. Bagaimana pengaruh variabel struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, financial leverage, suku bunga SBI, dan kebijakan dividen

terhadap harga saham?

3. Bagaimana pengaruh langsung dan tidak langsung variabel struktur

kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage, dan suku

bunga SBI terhadap harga saham?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian pendahuluan dan perumusan masalah, maka

penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut.

1. Untuk menganalisis pengaruh variabel struktur kepemilikan, tahapan daur

hidup perusahaan, financial leverage, dan suku bunga SBI terhadap

kebijakan dividen.

2. Untuk menganalisis pengaruh variabel struktur kepemilikan, tahapan daur

hidup perusahaan, financial leverage, suku bunga SBI, dan kebijakan

dividen terhadap harga saham.

3. Untuk menganalisis pengaruh langsung dan tidak langsung variabel

struktur kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage,

dan suku bunga SBI terhadap harga saham.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti. Memperluas dan menambah wawasan tentang kebijakan

dividen dan harga saham terutama masalah pengaruh variabel struktur

Page 23: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

8

kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage, dan suku

bunga SBI terhadap kebijakan dividen dan harga saham.

2. Bagi akademis. Sebagai bahan acuan dan referensi dalam memahami

kebijakan dividen dan harga saham, serta faktor-faktor yang

mempengaruhinya, pada suatu investasi.

3. Bagi ilmu manajemen, khususnya ilmu keuangan. Diharapkan dapat

mencerminkan dan memperkaya informasi ilmiah mengenai kebijakan

dividen dan harga saham, dengan senantiasa untuk ditindaklanjuti, serta

dilakukan perbaikan dan pengembangan yang lebih baik.

4. Bagi investor. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan dalam

melakukan atau membuat kebijakan investasi.

5. Bagi perusahaan. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan dalam

pengelolaan perusahaan, sehingga tercapai kinerja keuangan yang optimal.

Page 24: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pasar Modal

Menurut Fabbozi, Modigliani, dan Ferri (1999: 7) terdapat banyak cara

untuk menggolongkan jenis-jenis pasar keuangan. Salah satunya adalah

berdasarkan jenis klaim keuangan, seperti pasar uang dan pasar ekuitas.

Sementara itu, pasar modal (capital market) merupakan bagian dari

klasifikasi pasar keuangan—selain pasar uang (money market)—berdasarkan

lamanya jatuh tempo suatu klaim. Menurutnya pasar modal adalah pasar

keuangan bagi aset-aset keuangan jangka panjang, dan pasar uang adalah

pasar bagi instrumen-instrumen utang jangka pendek.

Menurut Siamat (2005: 487) Pasar modal dalam arti sempit adalah suatu

tempat yang terorganisasi dimana efek-efek diperdagangkan yang disebut

bursa efek. Bursa efek atau stock exchange adalah suatu sistem yang

terorganisasi yang mempertemukan penjual dan pembeli efek yang dilakukan

baik secara langsung maupun dengan melalui wakil-wakilnya. Fungsi bursa

efek ini antara lain adalah menjaga kontinuitas pasar dan menciptakan harga

efek yang wajar melalui mekanisme permintaan dan penawaran. Menurut

Rodoni (2008: 40) pasar modal (capital market) adalah pasar keuangan untuk

dana-dana jangka panjang (dana yang jatuh temponya lebih dari satu tahun)

dan merupakan pasar yang konkrit. Sedangkan bursa efek (stock exchange)

adalah suatu sistem terorganisasi yang mempertemukan penjual dan pembeli

Page 25: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

10

efek yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Efek

adalah setiap surat berharga yang diterbitkan oleh perusahaan, misalnya: surat

pengakuan hutang, surat berharga komersial (commercial paper), saham,

obligasi, tanda bukti utang, bukti right (right issue), dan waran (warrant).

Coyle (2002: 53) berpendapat, a stock exchange is a formal stock market,

whose trading systems, information dissemination systems and administrative

systems are used by the intermediaries participating in the dealing activities

on the exchange, yaitu pasar saham formal, dimana system perdagangan,

informasi diseminasi, dan administrasi, digunakan oleh perantara yang

berpartisipasi dalam penanganan kegiatan di bursa. Sedangkan stock market

is a more general term for an organized market in whice buyers and sellers

trade in securities, yaitu istilah yang umum untuk pasar yang terorganisir

dimana pembeli dan penjual melakukan jual beli sekuritas.

Stock market terdiri dari primary market (pasar primer atau perdana) dan

secondary market (pasar sekunder). Stock market fulfill both primary market

and secondary market functions. The primary equity markets are the market

in whice companies issue new shares that are sold to investors. the primary

markets are the markets for raising capital. The secondary markets are for

trading in shares after issue. (Coyle, 2002: 52). Artinya pasar saham

memenuhi kedua fungsi pasar primer dan pasar sekunder. Pasar primer adalah

pasar dimana saham baru perusahaan dijual kepada investor, untuk

meningkatkan modal. Sedangkan pasar sekunder adalah untuk perdagangan

saham setelah penerbitan.

Page 26: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

11

Ananto (2007: 38) berpendapat, pasar primer adalah pasar untuk surat-

surat berharga yang baru diterbitkan. Sedangkan pasar sekunder adalah pasar

perdagangan surat berharga yang sudah ada (sekuritas lama) di bursa efek.

Menurut Husnan (2001) terdapat empat instrumen pasar modal (Kholid,

2006: 10), yakni.

1) Saham. Saham merupakan suatu hak kepemilikan dari perusahaan yang

diperjual belikan. Terdiri dari saham biasa dan saham preferen.

2) Obligasi. obligasi adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi kontrak

antara pemberi dana (pemodal) dengan yang diberi dana (perusahaan) atau

biasa disebut obligasi biasa (bond). Sedangkan obligasi konversi

(convertible bond) secara umum tidak berbeda dengan obligasi biasa

sedikit memiliki keunggulan, yaitu dapat ditukar dengan saham biasa.

3) Sertifikat Right. Right merupakan surat berharga yang memberikan hak

bagi pemodal untuk membeli saham baru yang dikeluarkan perusahaan, di

mana Right merupakan suatu produk derivatif atau merupakan turunan dari

sebuah saham.

4) Waran. Waran merupakan hak untuk membeli saham biasa pada waktu

dan harga yang sudah ditentukan.

B. Saham

1. Pengertian Saham

Menurut Widyastuti (2006: 39) saham adalah surat berharga yang

bersifat kepemilikan pada suatu perseroan terbatas. Saham yang diperjual

Page 27: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

12

belikan di pasar modal adalah saham perusahaan-perusahaan yang telah go

public. Secara sederhana, Rodoni (2008: 45) mendefinisikan saham

sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam

suatu perusahaan. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan

bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang

menerbitkan kertas tersebut. oleh karena itu pemegang saham biasa

memiliki hak untuk memilih direktur-direktur perusahaan yang selanjutnya

akan memilih para pejabat yang akan mengelola bisnis.

Saham merupakan suatu hak kepemilikan dari perusahaan yang

diperjual belikan. Adapun saham dibagi menjadi dua yaitu saham biasa

dan saham preferen. (Kholid, 2006: 10)

a. Saham Biasa

Apabila perusahaan hanya mengeluarkan satu jenis saham saja,

saham ini biasanya dalam bentuk saham biasa (common stock).

Pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan yang mewakili

kepada manajemen untuk menjalankan operasi perusahaan (Jogiyanto,

2000). Saham ini memiliki dua hak yaitu hak kontrol yaitu hak

pemegang saham biasa untuk memilih pimpinan perusahaan, hak

menerima pembagian keuntungan perusahaan dan Hak Preemtive yaitu

hak untuk mendapatkan persentasi kepimilikan yang sama jika

perusahaan mengeluarkan tambahan lembar saham untuk tujuan

melindungi hak kontrol dari pemegang saham lama dan melindungi

harga saham lama dari kemerosotan nilai. Saham biasa sering dikenal

Page 28: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

13

oleh masyarakat dan banyak digunakan untuk menarik dana dari

masyarakat oleh perusahaan.

b. Saham preferen

Saham preferen merupakan saham yang mempunyai sifat gabungan

antara obligasi dan saham biasa (Jogiyanto, 2000). Saham preferen

dapat dikatakan serupa dengan saham biasa. Hal ini disebabkan karena

dua hal pokok yaitu: mewakili kepemilikan ekuitas dan diterbitkan

tanpa tanggal jatuh tempo yang tertulis di atas lembaran saham tersebut,

dan membayar (memperoleh) dividen. Sedangkan persamaan saham

preferen dengan obligasi terletak pada tiga hal yaitu: ada klaim atas laba

dan aktiva sebelumnya, dividennya tetap selama masa berlaku dari

saham, dan memiliki hak tebus serta dapat dipertukarkan dengan saham

biasa.

Menurut Anoraga dalam Widyastuti (2006: 39), dengan memiliki

saham suatu perusahaan akan memberikan berbagai manfaat. Manfaat

yang diperoleh antara lain:

1) Dividen, bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada

para pemilik saham.

2) Capital Gain, adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih jual

dengan harga belinya.

3) Manfaat non-finansial, yaitu timbulnya kebanggaan dan kekuasaan

memperoleh hak suara dalam menentukan jalannya perusahaan.

Page 29: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

14

Jadi saham merupakan salah satu sekuritas yang diterbitkan oleh

perusahaan dan diperdagangkan di bursa efek yang dengan memilikinya

memberikan indikasi penyertaan atau kepemilikan atas perusahaan

tersebut, sehingga pemilik saham berhak menentukan arah

kebijaksanaan perusahaan, dimana pemilik saham dapat bersifat

perorangan ataupun badan usaha, dan dikelompokkan menjadi saham

biasa (common stock) dan saham preferen (prefered stock).

Beberapa jenis saham yang dikenal adalah (Ananto, 2007: 41):

1) Saham atas tunjuk (bearer stock)

Setiap pemegang saham atas tunjuk dianggap sebagai pemilik

dan memiliki hak untuk menjual saham tersebut, memperoleh

bayaran atas dividen dan menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham

(RUPS).

2) Saham Atas Nama (Registered Stock)

Jenis saham ini nama dari pemilik saham terdapat di sertifikat

saham dan tercatat dalam daftar pemegang saham (DPS) perusahaan.

Pemegang saham jenis ini memperoleh hak untuk menjual saham,

memperoleh dividen, dan mengakhiri Rapat Umum Pemegang

Saham (RUPS).

3) Saham Biasa (Common Stock)

Saham biasa adalah saham yang tidak memiliki saham istimewa,

pemegang saham ini memiliki hak prioritas yang lebih rendah

Page 30: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

15

dibandingkan pemegang saham preferen terutama pada saat

pembagian dividen dan liquidasi perusahaan.

4) Saham preferen (Preferred Stock)

Pemegang saham preferen memiliki hak prioritas dalam

pembagian dividen dan pembagian kekayaan pada saat perusahaan

dilikuidasi dibandingkan dengan pemegang saham biasa. Selain itu

pemegang saham preferen berhak mengajukan usul pengajuan calon

anggota dewan komisarisdan direksi.

2. Analisis dan Penilaian Harga Saham

Nilai buku perlembar saham biasa adalah nilai kekayaan bersih

ekonomis dibagi dengan jumlah lembar saham biasa yang beredar.

Kekayaan bersih ekonomis adalah selisih total aktiva dengan total

kewajiban. Sedangkan harga pasar adalah harga yang terbentuk di pasar

jual beli saham. Sementara itu nilai intrinsik adalah nilai saham yang

seharusnya terjadi (Halim, 2005: 20).

Berdasarkan fungsinya nilai suatu saham dibagi atas tiga jenis, yaitu

sebagai berikut:

a. Par Value (nilai nominal)/Stated Value/Face Value, nilai nominal ini

tidak dapat digunakan untuk mengukur sesuatu. Jumlah saham yang

dikeluarkan perseroan dikali dengan nilai nominalnya merupakan

modal disetor penuh bagi perseroan, dan dalam pencatatan akuntansi

nilai nominal dicatat sebagai modal ekuitas perseroan di dalam Neraca.

Page 31: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

16

Untuk satu jenis saham yang sama harus mempunyai satu jenis nilai

nominal.

b. Base Price (Harga Dasar), harga perdana (untuk menentukan nilai

dasar), dipergunakan dalam perhitungan indeks harga saham. Harga

dasar akan berubah sesuai dengan aksi emiten, untuk saham baru harga

dasar merupakan harga perdananya. Nilai dasar merupakan perkalian

antara harga dasar dengan total saham yang beredar.

c. Market Price, merupakan harga pada pasar riil, dan merupakan harga

yang paling mudah ditentukan karena merupakan harga dari suatu

saham pada pasar yang sedang berlangsung atau jika pasar sudah tutup,

maka harga pasar adalah harga penutupannya (closing price). Harga

pasar ini merupakan harga jual dari investor yang satu dengan investor

yang lain, dan disebut sebagai harga di pasar sekunder. Harga pasar

inilah yang menyatakan naik turunnya suatu saham dan setiap hari

diumumkan di surat-surat kabar atau di media-media lainnya.

(Widyastuti, 2006: 39)

Analisis saham bertujuan untuk menaksir nilai intrinsik (Intrinsic

Value) suatu saham, dan kemudian membandingkannya dengan harga

pasar saham tersebut pada saat ini (Current Market Price). Nilai intrinsik

(NI) suatu saham menunjukkan Present Value arus kas yang diharapkan

dari saham tersebut. Pedoman yang dipergunakan adalah sebagai berikut:

Page 32: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

17

a. Apabila NI > harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai

Undervalued (harganya terlalu rendah), dan karenanya layak dibeli atau

ditahan apabila saham tersebut telah dimiliki.

b. Apabila NI < harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai

Overvalued (harganya terlalu mahal) dan karenanya layak dijual.

c. Apabila NI = harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai wajar

harganya dan berada dalam kondisi keseimbangan.

Model penilaian merupakan suatu mekanisme untuk mengubah

serangkaian variabel ekonomi atau variabel perusahaan yang diramalkan

(atau yang diamati) menjadi dasar perkiraan harga saham (Husnan, 2001).

Variabel-variabel ekonomi tersebut misalnya: laba dan dividen yang

dibagikan. Seorang investor sebelum mengambil keputusan untuk membeli

saham, biasanya akan menganilisis terlebih dahulu untuk menentukan

saham mana yang memberikan keuntungan paling optimal.

Penentuan harga saham dapat dilakukan melalui analisis teknikal dan

analisis fundamental. Pada analisis teknikal harga saham ditentukan

berdasarkan catatan harga saham di waktu yang lalu, sedangkan dalam

analisis fundamental harga saham ditentukan atas dasar faktor-faktor

fundamental yang mempengaruhinya, seperi laba dan dividen.

Analisis fundamental memiliki dua model penilaian saham yang

sering digunakan para analisis sekuritas (Jogiyanto, 2000) yaitu:

Page 33: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

18

a. Pendekatan Present value, mencoba menaksir Present value, dengan

menggunakan tingkat bunga tertentu, manfaat yang akan diterima oleh

pemilik saham.

b. Pendekatan Price earnings ratio, menaksir nilai saham dengan

mengalikan laba perlembar saham dengan kelipatan tertentu.

Pendapat lain—dengan gaya bahasa yang berbeda namun memiliki

konotasi yang sama—dalam menilai investasi berupa saham ada dua

pendekatan yaitu The Firm Foundation Theory dan The Castle in The Air

Theory. (Widyastuti, 2006: 42).

a. The Firm Foundation Theory

Pendekatan The Firm Foundatiuon Theory lebih dikenal dengan

sebutan Fundamental Analysis (Analisis Fundamental). Untuk dapat

menilai suatu investasi saham berdasarkan teori ini berarti seorang

investor harus memiliki saham tersebut untuk jangka panjang, formula

yang umum digunakan pada teori ini dalam menaksir nilai saham antara

lain Dividend Approach.

Pada dividend approach ini dapat digunakan formula sebagai

berikut:

1) Dividend Yield Approach

Pendekatan ini berdasarkan pada perkiraan dividen yang akan

dibayarkan untuk satu tahun dan hasilnya dibandingkan dengan

tingkat bunga umum di pasar (Risk Free Rate)

Dividend Yield Dividen Per Share

Share Price

Page 34: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

19

2) Earning Approach (PER)

Pendekatan ini berdasarkan pada perkiraan per saham di masa

mendatang, sehingga dapat diketahui berapa lama investasi dalam

suatu saham akan kembali. Formula dalam pendekatan ini sebagai

berikut:

PER Share Price

Earning Per Share

b. The Castle in The Air Theory

Pendekatan ini lebih menekankan pada pendekatan tingkah laku

investor di masa depan berdasarkan kebiasaan di masa lalu dan

bukannya pada nilai instriksik saham itu sendiri. Asumsi yang

digunakan dalam pendekatan ini yaitu antara lain:

1) Nilai pasar hanya ditentukan oleh investasi antara permintaan dan

penawaran.

2) Permintaan dan penawaran dipengaruhi oleh beberapa faktor baik

rasional maupun irrasional.

3) Mengabaikan fluktuasi yang sifatnya minor di pasar.

4) Perubahan trend disebabkan oleh pergeseran permintaan dan

penawaran.

C. Kebijakan Dividen

1. Pengertian

Kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh

perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau

Page 35: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

20

akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di

masa datang (Sartono, 1998: 370). Weston and Copeland (1996)

mendefinisikan kebijakan dividen sebagai: “Keputusan untuk menentukan

besarnya bagian pendapatan (earning) yang akan dibagikan kepada para

pemegang saham dan bagian yang akan ditahan di perusahaan.”

Pradessya (2006: 23) memberikan pandangan bahwa kebijakan

dividen dipengaruhi dua kepentingan yang saling bertolak belakang, yaitu

kepentingan pemegang saham dengan dividennya, dan kepentingan

perusahaan untuk melakukan reinvestasi dengan menahan laba. Dari sisi

pemegang saham, dividen merupakan salah satu motivator untuk

menanamkan dana di pasar modal.

Menurut Brigham dan Gapenski (1994: 610), dividend policy has

three key elements: (1) what fraction of earnings should be paid out, on

average, over time? This is the target payout policy decision, (2) should

the firm attempt to maintain a steady, stable dividend growth rate, or

should it very its dividend payment from year to year depending on its

internal needs for funds and on its cashflows? (3) what dollar amount

should the firm pay in current dividend?

Kebijakan dividen memiliki tiga elemen utama: (1) berapa rata-rata

bagian laba yang harus dibayarkan dari waktu ke waktu? (2) apakah

perusahaan mempertahankan tingkat pertumbuhan dividen yang stabil,

atau membayar dividen dari tahun ke tahun tergantung pada kebutuhan

Page 36: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

21

pendanaan internal dan arus kas perusahaan? (3) berapa jumlah dolar yang

perusahaan harus membayar dividen saat ini?

2. Kebijakan Pembagian Dividen

Menurut Sutrisno (2001) dalam Pradessya (2006: 23), ada beberapa

bentuk dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham antara lain:

a. Pembagian dividen secara tunai atau cash dividend. Pembagian dividen

secara tunai terdiri dari beberapa bentuk yaitu:

1) Kebijakan Pemberian Dividen Stabil

Kebijakan pemberian yang stabil ini artinya dividen akan diberikan

secara tetap per lembarnya untuk jangka tertentu walaupun laba yang

diperoleh perusahaan berfluktuasi. Dividen stabil ini dipertahankan

untuk beberapa tahun, dan kemudian bila laba yang diperoleh

meningkat dan peningkatannya mantap dan stabil, maka dividen juga

akan ditingkatkan untuk selanjutnya dipertahankan selama beberapa

tahun. Kebijakan pemberian dividen yang stabil ini banyak

dilakukan oleh perusahaan, karena beberapa alasan, yaitu: (1) dapat

meningkatkan harga saham, sebab dividen yang stabil dan dapat

diprediksi dianggap mempunyai risiko lebih kecil, (2) dapat

memberikan kesan kepada para investor bahwa perusahaan

mempunyai prospek yang baik di masa yang akan datang, (3) dapat

menarik investor yang memanfaatkan dividen untuk keperluan

konsumsi, sebab dividen selalu dibayarkan.

Page 37: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

22

2) Kebijakan Dividen Meningkat

Dengan kebijakan ini perusahaan akan membayarkan dividen kepada

pemegang saham dengan jumlah yang selalu meningkat dengan

pertumbuhan yang stabil.

3) Kebijakan Dividen dengan Ratio yang Konstan

Kebijakan ini memberikan dividen yang besarnya mengikuti

besarnya laba yang diperoleh oleh perusahaan. Semakin besar laba

yang diperoleh semakin besar dividen yang dibayarkan, demikian

pula sebaliknya bila laba kecil dividen yang dibayarkan juga kecil.

Dasar yang digunakan sering disebut dividend payout ratio.

4) Kebijakan Pemberian Dividen Reguler yang Rendah ditambah

Ekstra

Kebijakan dengan cara ini, perusahaan menentukan jumlah

pembayaran dividen per lembar yang dibagikan kecil, kemudian

ditambahkan dengan ekstra dividen bila keuntungannya mencapai

jumlah tertentu.

b. Pembagian Stock Dividen

Salah satu kebijakan yang bisa diambil oleh perusahaan adalah

dengan dengan memberikan dividen tidak dalam bentuk uang, tetapi

dividen diberikan dalam bentuk saham. Artinya pemegang saham akan

diberi tambahan saham sebagai pengganti cash dividen. Pemberian

stock dividen tidak akan mengubah besarnya jumlah modal sendiri,

tetapi akan mengubah komposisi modal sendiri perusahaan yang

Page 38: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

23

bersangkutan. Karena pada dasarnya pemberian stock dividen ini akan

mengurangi pos laba ditahan di neraca dan akan ditambahkan ke pos

modal saham.

c. Kebijakan Stock Split

Apabila harga pasar saham suatu perusahaan terlalu tinggi,

mengakibatkan banyak investor kurang berminat terhadap saham

perusahaan. oleh karena itu, perusahaan bisa mengambil kebijaksanaan

untuk meningkatkan jumlah lembar saham melalui stock split yaitu

pemecahan nilai nominal saham ke dalam nilai nominal yang lebih

kecil. Dengan stock split ini jumlah lembar saham menjadi lebih

banyak, maka mengakibatkan harga saham turun. Oleh karena itu,

dengan stock split harga saham menjadi lebih murah, sehingga harga

pasar masih dalam trading range tertentu.

d. Kebijakan Repurchase Stock

Repurchase stock adalah pembelian kembali saham-saham

perusahaan yang dimiliki oleh pemegang saham atau investor.

3. Teori-teori Kebijakan Dividen

Secara ringkas, pernyataan Keown (2000) dalam Pradessya (2006: 28-

33) mengenai beberapa teori yang mendasari kebijakan dividen:

a. Teori Ketidak Relevanan Dividen (Dividend Irrelevance Theory)

Teori ketidakrelevanan dividen adalah teori yang menyatakan

bahwa kebijakan dividen perusahaan tidak mempunyai pengaruh baik

terhadap nilai perusahaan maupun biaya modalnya. Penganjur utama

Page 39: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

24

teori ini adalah Merton Miller dan Franco Modigliani (MM). Teori ini

menyatakan bahwa nilai suatu perusahaan hanya ditentukan oleh

kemampuan dasarnya untuk menghasilkan laba serta resiko bisnisnya,

dengan kata lain, nilai suatu perusahaan tergantung semata-mata pada

pendapatan yang dihasilkan oleh aktivanya, bukan bagaimana

pendapatan tersebut dibagi di antara dividen dan laba yang ditahan (atau

pertumbuhan).

b. Teori Bird In the Hand

Kepercayaan bahwa kebijakan dividen perusahaan merupakan hal

yang tidak penting, secara tidak langsung membuat para investor

berasumsi bahwa pendapatan yang mereka harapkan melalui perolehan

modal akan berbeda besarnya dengan pendapatan yang berasal dari

dividen. Hal ini disebabkan karena dividen lebih bisa diramalkan

daripada pendapatan modal, manajemen dapat mengontrol dividen, tapi

tak dapat mendikte harga saham. Investor kurang yakin akan menerima

pendapatan dari perolehan modal daripada dari dividen. Dengan

mendapatkan dividen (a bird in the hand) adalah lebih baik daripada

saldo laba (a bird in the bush) karena pada akhirnya saldo laba tersebut

mungkin tidak akan terwujud sebagai dividen dimasa yang akan datang

(it can fly away). Pandangan yang mengatakan dividen lebih pasti dari

pada perolehan modal, disebut “bird in the hand theory” (teori burung

ditangan).

Page 40: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

25

c. Dividen Rendah Meningkatkan Nilai Saham

Pandangan ketiga adalah dividen yang rendah mempengaruhi harga

saham, sehingga dividen dapat merugikan investor. Pendapat ini

didasarkan pada perbedaan perlakuan pajak antara pendapatan dividen

dan perolehan modal. Setiap investor harus membayar pajak

pendapatan untuk memaksimumkan pengembalian setelah pajak atas

investasi, investor berusaha meminimumkan tingkat pajak atas

pendapatan, atau menunda pembayaran pajak jika memungkinkan.

d. Teori Dividen Residu

Teori dividen residu adalah teori yang menyatakan bahwa dividen

dibayar dari kapital yang sama setelah selesai mendapat keuntungan

investasi keuangan. Jika perusahaan memiliki biaya pengembangan,

yang mungkin secara langsung mempengaruhi keputusan dividen, maka

perusahaan harus menerbitkan jumlah sekuritas yang lebih besar untuk

mendapatkan modal yang dibutuhkan untuk kegiatan investasi.

e. Teori dividen Isyarat (Dividend Signaling Theory)

Signal atau isyarat adalah suatu tindakan yang diambil manajemen

perusahaan yang memberi petunjuk bagi investor tentang bagaimana

manajemen memandang prospek perusahaan (Brigham, 2001: 13).

Dividend signaling theory merupakan suatu teori yang mendasari

dugaan bahwa pengumuman dividen tunai mempunyai kandungan

informasi yang mengakibatkan adanya reaksi harga saham. Teori ini

menjelaskan bahwa informasi tentang perubahan dividen yang

Page 41: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

26

dibayarkan digunakan oleh investor sebagai signal tentang prospek

perusahaan dimasa yang akan datang. Hal ini disebabkan adanya

asymmetric information antara manajer dengan investor, sehingga para

investor menggunakan kebijakan dividen sebagai indikator tentang

prospek perusahaan.

D. Hubungan Kebijakan Dividen dan Harga Saham

Harga saham menurut Undang-undang No. 8 tahun 1995 tentang Pasar

Modal adalah penerimaan besarnya pengorbanan yang dilakukan oleh setiap

investor untuk penyertaan dalam perusahaan. Pergerakan harga saham dapat

ditentukan oleh permintaan dan penawaran oleh para investor. Pada saat

kondisi permintaan lebih banyak daripada penawaran maka harga saham

cenderung naik, demikian sebaliknya pada saat penawaran lebih besar

daripada permintaan maka harga saham cenderung akan turun. Harga saham

menurut Brigham dan Houston (2001) dapat dibedakan menjadi dua yaitu

harga pasar dan harga teoritis (nilai intrinsik). Harga pasar adalah aktual

saham di pasar modal, sedangkan nilai instrinsik adalah present value arus

kas (return) yang diharapkan dari sebuah saham pada periode tertentu. Harga

pasar suatu saham dibedakan menjadi harga pasar rata-rata selama satu

periode, harga pembukaan pada satu periode (open price) dan harga

penutupan pada satu periode (closing price).

Menurut Sartono (1998: 370), nilai perusahaan ditentukan oleh nilai

modal sendiri dan nilai utang. Sementara itu jika diperhatikan model harga

Page 42: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

27

saham untuk satu perusahaan yang mengalami pertumbuhan, Po = D1/(Ke-g),

menunjukkan bahwa pembayaran dividen yang lebih besar cenderung akan

meningkatkan harga saham. Kemudian meningkatnya harga saham berarti

meningkatnya nilai perusahaan. Tetapi perlu diingat bahwa pembayaran

dividen yang semakin besar akan mengurangi kemampuan perusahaan untuk

investasi sehingga menurunkan tingkat pertumbuhan perusahaan dan

selanjutnya akan menurunkan harga saham. Sementara itu, MM

berkesimpulan bahwa reaksi investor terhadap pembayaran dividen tidak

berarti sebagai indikasi bahwa investor lebih menyukai dividen disbanding

dengan laba ditahan. Kenyataan bahwa harga saham berubah mengikuti

perubahan dividen semata-mata karena adanya information content dalam

pengumuman dividen. Sudah banyak penelitian untuk menguji hipotesis ini,

namun demikian hingga saat ini masih sulit untuk menentukan apakah

perubahan harga saham yang mengikuti perubahan dividen disebabkan

karena:

1. Kebijakan dividen dilihat sebagai satu tanda bagi investor disebut juga

signaling effect, atau

2. Karena memang investor lebih menyukai dividen daripada capital gain

disebut juga dengan preference effect, atau

3. Karena kombinasi keduanya.

Menurut Black (1976 dalam Murhadi, 2008: 2) mengatakan bahwa

pengumuman dividen oleh suatu perusahaan, merupakan signal bagi

pemegang saham. Pada dasarnya antara manajer dengan pemegang saham

Page 43: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

28

memiliki informasi yang berbeda, dimana manajer lebih memiliki informasi

yang lengkap daripada pemegang saham. Pemegang saham akan

menginterpretasikan peningkatan pembayaran dividen oleh perusahaan

sebagai signal bahwa pihak manajemen memiliki prediksi arus kas yang

tinggi di masa yang akan datang. Sebaliknya, penurunan pembayaran dividen

diinterpretasikan sebagai antisipasi manajer terhadap terbatasnya arus kas di

masa yang akan datang. Sedangkan menurut Husnan (2005: 307) dalam

Faizah (2009) harga saham yang beragam pada umumnya mencerminkan

keadaan fundamental perusahaan pada periode tertentu. Namun, adakalanya

harga saham lebih dipengaruhi oleh faktor ekstern di luar faktor fundamental,

seperti kondisi makro ekonomi, stabilitas politik, kebijakan pemerintah dalam

dunia industri dan usaha atau faktor sejenis yang terjadi pada perusahaan

merupakan variabel yang bisa ikut memicu arah pergerakan kurs saham.

Alli (1993) dalam Prihantoro (2003: 9) membedakan variabel yang

mempengaruhi pembayaran dividen, diantaranya adalah:

1. Batasan Legal (legal restriction). Peraturan tertentu yang akan membatasi

besarnya dividen yang akan dibayarkan.

2. Posisi Likuiditas (liquidity position). Keuntungan yang diperoleh dan laba

ditahan yang tinggi tidak harus menyebabkan posisi kas yang tinggi juga.

Karena ada kemungkinan bahwa keuntungan dan laba ditahan tersebut

telah digunakan untuk membayar hutang atau melekat pada aktiva selain

kas.

Page 44: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

29

3. Ketiadaan sumber pembiayaan lain (absence or lack of other source of

financing). Bagi perusahaan yang baru tumbuh pada umumnya sumber

dana internal memiliki arti yang sangat penting. Hal ini disebabkan karena

perusahaan tersebut mengalami kesulitan untuk memperoleh pinjaman

atau menjual sahamnya. Sebagai konsekuensinya, dividen yang akan

dibayarkan cenderung rendah atau bahkan tidak membagi dividen, karena

manajemen akan berusaha mengakumulasikan keuntungan ke dalam laba

ditahan yang berguna untuk pendanaan internalnya.

4. Prediksi Penerimaan (earning predictability). Jika keuntungan

berfluktuasi, maka dividen tidak dapat bergantung semata-mata dari

keuntungan tersebut, sehingga diperlukan adanya trend keuntungan yang

stabil untuk menentukan porsi dividen yang direncanakan.

5. Kontrol Kepemilikan (ownership control). Jika perusahaan memutuskan

untuk membayarkan dividen yang tinggi, hal ini akan menyebabkan laba

ditahan tidak cukup untuk membiayai investasi barunya. Salah satu cara

untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan cara menerbitkan saham baru

untuk mencukupi dananya. Keputusan ini menimbulkan kontrol dari

pemegang saham perusahaan lama semakin berkurang. Tentunya hal ini

tidak diinginkan oleh para pemegang saham, sehingga mereka akan lebih

menyukai dengan tidak memperoleh dividen.

6. Inflasi (inflation). Inflasi yang tinggi akan menyebabkan kemampuan

perusahaan tidak dapat mencukupi untuk melakukan investasi yang baru,

sehingga perusahaan akan melakukan akumulasi dananya ke dalam laba

Page 45: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

30

ditahan. Hal ini akan berdampak pada penurunan terhadap pembayaran

dividen, atau bahkan tidak melakukan pembayaran dividen.

Mengacu pada pendapat Alli mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi

kebijakan deviden, serta pendapat Suad Husnan yang mengisyaratkan masih

banyaknya faktor-faktor lain—selain kebijakan deviden—yang dianggap

mempunyai pengaruh terhadap harga saham, berikut ini beberapa faktor yang

dianggap dapat mempengaruhi kebijakan deviden dan dampaknya terhadap

harga saham.

a. Struktur Kepemilikan.

Scott pada tahun 2000 dalam Dewi (2008: 50), memiliki pandangan

bahwa tingkat saham institusional yang tinggi akan menghasilkan upaya-

upaya pengawasan yang lebih intensif sehingga dapat membatasi perilaku

opportunistic manajer, yaitu manajer melaporkan laba secara oportunis

untuk memaksimumkan kepentingan pribadinya.

Secara teoritis, kepemilikan institusi akan mengurangi masalah

keagenan tipe I antara pihak manajemen dan pemegang saham, Jensen dan

Meckling pada tahun 1976 menyebutnya sebagai argumen konvergensi.

Menurutnya, struktur penyebaran kepemilikan dapat dilihat dari preferensi

masing-masing pemilik. Semakin besar porsi kepemilikan saham oleh

institusi berdampak positif, karena mendorong manajer bertindak sesuai

dengan kepentingan pemegang saham, akan tetapi sisi negatif tingginya

porsi kepemilikan institusi akan merugikan investor minorotas (Djumahir,

2009: 144).

Page 46: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

31

Menurut Shleifer dan Vishny tahun 1986 dalam Murhadi (2008: 5),

hubungan struktur kepemilikan dan deviden dapat dijelaskan dengan

menggunakan teori keagenan, dimana kepemilikan institusi akan dapat

membantu memecahkan masalah keagenan melalui pengawasan terhadap

manajemen. Pada sisi lain, menurut Morck, Shleifer, dan Vishny (1998)

kepemilikan institusi yang tinggi akan mengakibatkan munculnya masalah

keagenan tipe II antara pemegang saham mayoritas dengan pemegang

saham minoritas, mereka menyebutnya sebagai argumen entrenchment.

Hubungan struktur kepemilikan dengan harga saham juga dapat

dijelaskan dengan teori keagenan, dimana kepemilikan perusahaan oleh

institusi yang tinggi akan meningkatkan pengawasan terhadap manajer.

Peningkatan pengawasan ini akan mengurangi konflik kepentingan antara

pemegang saham dan manajer, sehingga berdampak pada peningkatan

nilai perusahaan. Pada sisi lain, kepemilikan institusi yang tinggi dapat

mendorong manajer untuk melakukan tindakan yang dapat merugikan bagi

pemegang saham minoritas (Murhadi, 2008: 6).

b. Tahapan Daur Hidup Perusahaan.

Ide utama dalam strategis bisnis menurut Boston Consulting Group

adalah untuk menciptakan cost advantage atau demand advantage yang

melebihi pesaing, dimana keduanya diharapkan akan menciptakan

halangan untuk masuk bagi pendatang baru. Teori daur hidup menyatakan

bahwa pengembangan strategi yang paling pas adalah dengan

memperhatikan tahapan daur hidup perusahaan.

Page 47: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

32

Anthony dan Ramesh (1992) menyatakan perusahaan yang berada

pada tahapan growth memiliki tingkat pembayaran yang rendah,

pertumbuhan penjualan yang tinggi, dan umur yang relative muda,

sedangkan perusahaan pada tahapan mature memiliki karakteristik

pembayaran dividen yang lebih tinggi, pertumbuhan penjualan yang

rendah, dan umur yang relatif lebih tua.

Sementara itu, ciri-ciri perusahaan dalam tiap tahapan daur hidup

menurut Aharony, Falk, dan Yehuda (2003) adalah sebagai berikut.

1) Tahapan star-ups. Ditandai dengan terbatasnya aset yang dimiliki,

adanya kesempatan untuk bertumbuh, earning dan aliran kas dari

aktivitas operasi yang rendah, dan umur yang relatif muda.

2) Tahapan growth. Ditandai dengan lebih banyak aset yang dimiliki,

pertumbuhan yang pesat, earning dan aliran kas dari aktivitas operasi

yang mulai tumbuh, dan umur yang memasuki tahap medium.

3) Tahapan mature. Ditandai oleh pertumbuhan yang rendah dan

perusahaan menjadi cash cow.

4) Tahapan decline. Ditandai dengan penurunan pertumbuhan, financing

cost yang tinggi dan kompetisi yang intensif.

Chang dan Rhee tahun 1990 dalam Murhadi (2008: 8), semakin tinggi

tingkat pertumbuhan suatu perusahaan, akan semakin besar tingkat

kebutuhan dana untuk membiayai ekspansi. Semakin besar kebutuhan

dana di masa yang akan datang, akan semakin memungkinkan perusahaan

menahan keuntungan dan tidak membayarkannya sebagai deviden. Oleh

Page 48: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

33

karenanya, potensi pertumbuhan perusahaan menjadi faktor penting yang

menentukan kebijakan deviden. Sebagai indikator dari atribut

pertumbuhan, digunakan tingkat pertumbuhan campuran yang diatur pada

setiap tahun dalam total aset. Lebih lanjut, Megginson (1997) menyatakan

bahwa perusahaan yang berada dalam industri yang mature cenderung

untuk membayarkan lebih banyak deviden daripada perusahaan yang

masih muda dan sedang mengalami pertumbuhan. (Murhadi, 2008: 6)

Menurut Senchack dan Lee pada tahun 1980 dalam Djumahir (2009:

144), tahapan daur hidup perusahaan dapat mempengaruhi kebijakan

dividen, perusahaan yang pada awal pertumbuhan yang tinggi cenderung

untuk tidak membagikan dividen akan tetapi pada perusahaan yang

memiliki pertumbuhan rendah akan cenderung untuk membagikan dividen

yang lebih besar.

Perusahaan akan menghadapi siklus daur hidup, dimana prospek ke

depan yang dimiliki akan sesuai dengan tahapan daur hidup dimana

perusahaan tersebut berada. Adapun pertimbangan sebagai dasar penelitian

Murhadi (2008) adalah bahwa perusahaan yang berada pada tahapan

pertumbuhan (growth) akan memiliki prospek ke depan yang lebih baik

sehingga diharapkan akan berpengaruh terhadap pergerakan harga saham.

Sementara itu, perusahaan yang berada pada tahapan dewasa (mature)

cenderung memiliki kesempatan berkembang yang terbatas sehingga

pergerakan sahamnya menjadi relatif stabil.

Page 49: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

34

c. Financial Leverage

Leverage menunjuk pada hutang yang dimiliki perusahaan. Dalam arti

harafiah, leverage berarti pengungkit/tuas. Sumber dana perusahaan dapat

dibedakan menjadi dua yaitu sumber dana intern dan sumber dana ekstern.

Sumber dana intern berasal dari laba yang ditahan, pemilik perusahaan

yang tercermin pada lembar saham atau prosentasi kepemilikan yang

tertuang dalam neraca. Sementara sumber dana ekstern merupakan sumber

dana perusahaan yang berasal dari luar perusahaan, misalnya hutang.

Kedua sumber dana ini tertuang dalam neraca pada sisi kewajiban

(widanarto.files.wordpress.com/2008/08/bab-iv-analisis-leverage.doc).

Menurut Dewi (2008: 50) pada tahun 2005 Nuringsih menyebutkan

bahwa apabila perusahaan mengalami keterbatasan laba ditahan,

perusahaan cenderung memanfaatkan hutang namun bila penggunaan

hutang terlalu besar dapat berdampak pada financial distress dan

kebangkrutan. Berdasarkan dampak ini apabila perusahaan ingin

menghindari hutang yang tinggi, maka laba perusahaan dialokasikan ke

laba ditahan yang digunakan untuk operasi perusahaan dan investasi di

masa yang akan datang sehingga akan mengurangi penggunaan hutang.

Secara tidak langsung tindakan ini akan menyebabkan penurunan

pembayaran dividen. Selain itu, Magginson (1997) serta Chen dan Stainer

(1999) mengatakan bahwa kebijakan hutang mempengaruhi kebijakan

dividen secara negatif. Perusahaan dengan tingkat hutang yang tinggi akan

berusaha mengurangi agency cost of debt dengan mengurangi hutangnya.

Pengurangan hutang dapat dilakukan dengan membiayai investasinya

Page 50: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

35

dengan sumber dana internal sehingga pemegang saham akan merelakan

dividennya untuk membiayai investasinya.

Menurut Matriadi (2007: 231), struktur hutang (financial leverage)

perusahaan menggambarkan earning yang diperoleh dan risiko yang

dihadapi oleh investor. Pembiayaan perusahaan melalui hutang

menggambarkan tingkat keuntungan yang diperoleh oleh pemegang

saham. Namun, hutang yang tinggi dapat menimbulkan risiko yang besar

apabila perusahaan tidak dapat melunasinya. Pada saat tingkat suku bunga

bank tinggi, perusahaan yang memiliki hutang yang besar cenderung

dihindari oleh investor karena besarnya cost of capital atas hutang

sehingga berpengaruh terhadap harga saham.

d. Tingkat Suku Bunga SBI.

Bodie, Kane, dan Marcus (2006: 638) mendefinisikan interest rate

(suku bunga) sebagai jumlah dolar yang diterima per dolar yang

diinvestasikan per periode. Lebih lanjut, Bodie, Kane, dan Marcus (2006:

180) menyatakan bahwa suku bunga dan prakiraan nilainya di masa depan

merupakan salah satu masukan yang penting dalam keputusan investasi.

Wiguna dan Mendari (2008: 132) mendefinisikan suku bunga

sertifikat bank Indonesia sebagai suatu nilai (dalam bentuk presentase)

yang digunakan untuk menandakan sertifikat bank Indonesia yang

diterbitkan oleh bank sentral sebagai salah satu surat berharga, dimana

nilai tersebut merupakan balas jasa atas investasi dalam sertifikat bank

Indonesia tersebut.

Page 51: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

36

Martin J. Pring (1988) dalam Feba (2002: 30) menyebutkan bahwa

perubahan tingkat bunga dapat mempengaruhi tingkat saham karena tiga

alasan berikut:

1) Fluktuasi pada harga yang dikenakan pada uang mempengaruhi

pendapatan atau profit yang bisa didapat oleh perusahaan sehingga

mempengaruhi harga saham yang akan dibeli oleh investor,

2) Pergerakan tingkat bunga mengubah antara aset-aset finansial yang

saling bersaing, dimana hubungan antara pasar obligasi atau pasar

saham menjadi sangat penting, dan

3) Sejumlah ekuitas yang berarti dibeli dengan uang pinjaman sehingga

perubahan-perubahan dalam biaya hutang tersebut, seperti tingkat

bunga, memengaruhi keinginan dalam memegang saham.

Sementara itu, Usman Marzuki (1990) dalam Faizah (2009)

menyatakan bahwa pengaruh suku bunga akan perdagangan saham yaitu

mempengaruhi persaingan di pasar modal antara saham dan obligasi.

Apabila suku bunga naik, maka investor akan mendapatkan hasil yang

besar dari obligasi, sehingga mereka akan menjual saham mereka untuk

ditukar dengan obligasi. Penukaran demikian atas naiknya suku bunga

akan menurunkan perdagangan saham. Kondisi seperti itu, dimana

banyaknya investor yang mengalihkan modalnya dari saham ke obligasi,

mengakibatkan perusahaan kekurangan modal untuk pendanaan

operasionalnya, pada akhirnya perusahaan akan mengakumulasikan

dananya ke dalam laba ditahan, yang berarti akan terjadi penurunan dalam

Page 52: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

37

pembayaran deviden. Maka perubahan tingkat suku bunga juga dianggap

dapat mempengaruhi kebijakan pembayaran deviden.

E. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian empiris yang dilakukan oleh Short, Zhang, dan Keasey (2002)

menunjukkan secara menyeluruh terdapat hubungan positif antara kebijakan

dividen dan kepemilikan institusi. Sementara itu Thomsen (2004) dengan

menggunakan analisis generalized method of moment diperoleh hasil terdapat

hubungan negatif antara kepemilikan institusi dengan nisbah pembayaran

dividen.

Moradoglu, et al. (2000) dalam (Octavia, 2007: 13) dikemukakan

penelitian tentang perilaku harga saham telah banyak dilakukan, terutama

dalam kaitannya dengan variabel makroekonomi, diantaranya Chen et al.

(1986), Geske and Roll (1983), dan Fama (1981). Hasil penelitian mereka

mengatakan bahwa harga saham dipengaruhi oleh fluktuasi makroekonomi.

Beberapa variabel makroekonomi yang digunakan antara lain; tingkat inflasi,

tingkat bunga, nilai tukar, indeks produksi industri, dan harga minyak. Masih

dalam Oktavia (2007: 30), Lee (1992) telah menemukan bahwa perubahan

tingkat bunga (interest rate) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

indeks harga saham. Sementara itu Gupta (2000) yang mengadakan penelitian

di Indonesia dengan menggunakan data periode 1993-1997 menyimpulkan

bahwa tidak ada hubungan kausalitas antara tingkat bunga, nilai tukar, dan

harga saham.

Page 53: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

38

Murhadi (2008) dalam penelitiannya “Studi Kebijakan Dividen:

Anteseden dan Dampaknya Terhadap Harga Saham,”menggunakan

persamaan simultanus dengan teknik estimasi path analysis, menghasilkan: 1)

kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap harga saham, 2) set

kesempatan investasi dalam penelitian ini tidak memiliki pengaruh langsung

terhadap harga saham, 3) aliran kas bebas memiliki pengaruh negatif terhadap

harga saham, 4) struktur kepemilikan yang diwakili oleh kepemilikan institusi

memiliki pengaruh negatif terhadap harga saham, 5) tahapan daur hidup

perusahaan berpengaruh terhadap harga saham, 6) struktur kepemilikan tidak

berpengaruh terhadap penentuan kebijakan dividen, 7) tahapan daur hidup

perusahaan berpengaruh terhadap penentuan kebijakan dividen, 8) set

kesempatan investasi memiliki pengaruh negatif terhadap kebijakan dividen,

9) regulasi berpengaruh positif terhadap harga saham, dan 10) aliran kas

bebas tidak berpengaruh terhadap penentuan kebijakan dividen.

Djumahir (2009) dengan judul “Pengaruh Biaya Agensi, Tahapan Daur

Hidup Perusahaan, dan Regulasi terhadap Kebijakan Dividen pada

Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia” menghasilkan temuan-

temuan empiris sebagai berikut: 1) variabel Dipersion Of Ownership,

Institutional Ownership, Free Cash Flow, Tahap Daur Hidup Perusahaan, dan

Regulasi berpengaruh secara simultan terhadap Kebijakan Dividen, 2)

variabel Dipersion Of Ownership, Free Cash Flow, Tahap Daur Hidup

Perusahaan, dan Regulasi secara parsial berpengaruh terhadap Kebijakan

Page 54: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

39

Dividen, dan 3) variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap

kebijakan dividen adalah variabel Free Cash Flow.

Wiguna dan Mendari (2008) dengan judul “Pengaruh Earning Per Share

dan Tingkat Suku Bunga SBI Terhadap Harga Saham,” menggunakan teknik

analisis regresi berganda (multiple regression), menunjukkan: 1) secara

parsial, EPS memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, dan

tingkat bunga SBI tidak memiliki pengaruh terhadap harga saham, 2) secara

simultan, EPS dan tingkat bunga SBI memiliki pengaruh terhadap harga

saham.

Dewi (2008) mengenai “Pengaruh Kepemilikan Manajerial,

Kepemilikan Institusional, Kebijakan Hutang, Profitabilitas, dan Ukuran

Perusahaan Terhadap Kebijakan Dividen,” menggunakan teknik analisis

regresi berganda (multiple regression), dengan hasil penelitian: 1) perusahaan

dengan kepemilikan saham oleh managerial, kepemilikan saham oleh

institusional, kebijakan hutang, dan profitabilitas yang semakin tinggi akan

menurunkan kebijakan dividen, dan 2) perusahaan besar lebih cenderung

untuk menaikan kebijakan dividen daripada perusahaan kecil.

Haruman (2008) dengan judul “Struktur Kepemilikan, Keputusan

Keuangan, dan Nilai Perusahaan,” menggunakan regresi bertahap dengan

metode regresi linier berganda dengan 2SLS (two-stage least square),

menghasilkan: 1) pada model keputusan pendanaan (DER), variabel MOW,

INS, INV, DPR, STR, SIZE dan RISK secara simultan berpengaruh terhadap

DER, sedangkan secara parsial MOW, INV, DPR dan STR berpengaruh

Page 55: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

40

terhadap DER, 2) pada model keputusan investasi, secara simultan dan

parsial, variabel MOW, INS, DER, DPR, PRO dan GROWTH terhadap

investasi, 3) pada model DPR, secara simultan, variabel MOW, INS, DER,

INV, LIQ, RISK, dan PRO berpengaruh terhadap DPR, sedangkan secara

parsial, variabel yang berpengaruh terhadap DPR adalah MOW, DER, dan

RISK, dan 4) pada model nilai perusahaan (MVE), secara simultan, variabel

MOW, INS, DER, INV, dan DPR berpengaruh terhadap MVE, sedangkan

secara parsial, hanya variabel DER yang tidak berpengaruh terhadap MVE.

Matriadi (2007) mengenai “Pengaruh Financial Leverage dan Tingkat

Inflasi Terhadap Harga Saham,” menggunakan Regresi linier berganda

(multiple linier regression), menghasilkan: 1) financial leverage memiliki

pengaruh negatif terhadap harga saham, dengan besar pengaruhnya lebih

kecil dari tingkat inflasi, dan 2) tingkat inflasi mempunyai pengaruh yang

paling besar dan neatif terhadap harga saham.

F. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian yang disesuaikan

dengan konsep jalur, maka secara skematis dapat dibuat kerangka pemikiran

sebagai berikut.

Page 56: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

41

Gambar 2.1

Kerangka berfikir

G. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian mengenai analisis faktor-faktor kebijakan

dividen dan implikasinya terhadap harga saham, maka dapat dilakukan

beberapa hipotesis sebagai berikut.

Interpretasi

Hubungan langsung dan

tidak langsung

Uji t Uji F Koefisien

Determinasi

Analisis Jalur

Kebijakan

Dividen

Harga

Saham

Struktur Kepemilikan

Tahapan Daur Hidup

Suku Bunga SBI

Financial Leverage

Perusahaan Manufaktur

Perusahaan Go Public

Page 57: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

42

1. Analisa pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan,

financial leverage, dan suku bunga SBI terhadap kebijakan dividen.

Perumusan hipotesisnya adalah:

a. Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara struktur

kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage, dan

suku bunga SBI terhadap kebijakan dividen.

b. Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara struktur kepemilikan,

tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage, dan suku bunga SBI

terhadap kebijakan dividen.

2. Analisa pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan,

financial leverage, suku bunga SBI, dan kebijakan dividen terhadap harga

saham.

Perumusan hipotesisnya adalah:

a. Ho : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara struktur

kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage, suku

bunga SBI, dan kebijakan dividen terhadap harga saham.

b. Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara struktur kepemilikan,

tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage, suku bunga SBI,

dan kebijakan dividen terhadap harga.

Page 58: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

43

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan analisa kausalitas mengenai beberapa faktor

yang dianggap dapat mempengaruhi kebijakan deviden, sekaligus

implikasinya terhadap harga saham, baik secara langsung ataupun secara

tidak langsung. Variabel endogen dalam penelitian ini adalah kebijakan

deviden dan harga saham. Sedangkan variabel eksogen terdiri dari struktur

kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage, dan suku

bunga SBI

Penelitian dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bank Indonesia

(BI), lokasi ini dipilih karena dianggap sebagai tempat yang tepat bagi

peneliti untuk memperoleh data yang diperlukan berupa laporan keuangan

dan suku bunga SBI, serta buku-buku, jurnal, dan sumber-sember lain yang

berhubungan dengan penelitian ini.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan manufaktur yang

terdaftar di PT Bursa Efek Indonesia dengan periode pengamatan 2005-2009.

Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive

sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu

Page 59: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

44

dimana penentuan sampel tergantung dari kepentingan penelitian. Adapun

kriteria sampel yang digunakan adalah sebagai berikut.

1. Perusahaan manufaktur yang membagikan deviden kas selama periode

tahun 2005 sampai tahun 2009,

2. Perusahaan manafaktur yang memiliki data laporan keuangan lengkap

selama periode tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.

C. Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder atau data

yang diperoleh secara tidak langsung, seperti dari laporan keuangan, data

saham, dan data deviden.

Data mengenai laporan keuangan perusahaan, deviden, dan harga saham

diperoleh dari Bursa Efek Indonesia, dan data yang diterbitkan oleh Bank

Indonesia untuk suku bunga SBI. Data juga diperoleh melalui situs internet,

seperti www.jsx.co.id, www.idx.co.id, www.duniainvestasi.com, www.bi.go.id,

www.bei.co.id, juga situs-situs lainnya yang berhubungan dengan penelitian.

Penulis juga melakukan penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang

dilakukan dengan cara membaca, mempelajari, serta mendalami berbagai

literatur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

D. Metode Analisis

Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisa jalur (path

analysis), dengan menggunakan program SPSS 17.0 dam Microsoft Excel

Page 60: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

45

2007 dalam aplikasi penghitungannya. Tujuan dari analisis jalur adalah

menerangkan akibat langsung dan tidak langsung seperangkat variabel,

sebagai variabel independen terhadap variabel dependen.

Langkah pertama dalam anallisis jalur (Damanhuri, 2009: 43-48) adalah

dengan merancang paradigma penelitian berdasarkan fakta, konsep, dan teori.

Berdasarkan pada teknik yang dipilih maka dikembangkan model empiris

penelitian sebagai berikut.

Y1 = ρY1X1 + ρY1X2 + ρY1X3 + ρY1X4 + ε1 (1)

Y2 = ρY2X1 + ρY2X2 + ρY2X3 + ρY2X4 +ρY2Y1 + ε2 (2)

Keterangan:

ε = residual

Y1 = dividend yield perusahaan i periode t

Y2 = closing price perusahaan i periode t

X1 = kepemilikan institusional pada perusahaan i periode t

X2 = nisbah laba ditahan terhadap total ekuitas pada perusahaan i periode t

X3 = Debt to Equity Ratio pada perusahaan I periode t

X4 = suku bunga SBI

Langkah kedua dalam analisis jalur adalah memeriksa asumsi-asumsi

yang melandasi analisis jalur. Asumsi yang melandasi analisis jalur (Hair,

Anderson, Tatham, dan Black, 1998 dalam Nasarudin, 2004: 505) adalah:

1. Hubungan antar variabel adalah berbentuk linier dan bersifat aditif.

2. Model yang dipertimbangkan adalah model rekursif.

3. Semua variabel minimal dalam skala ukuran interval.

Page 61: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

46

4. Observed variables diukur tanpa ada kesalahan.

5. Model yang dianalisis diidentifikasi dengan benar berdasarkan teori dan

konsep-konsep relevan.

Langkah ketiga adalah pendugaan parameter atau perhitungan koefisien

jalur antar variabel. Perhitungan pengaruh yang ditunjukkan dengan anak

panah satu arah menggunakan perhitungan regresi variabel yang dibakukan

secara parsial pada masing-masing persamaan. Dari perhitungan ini diperoleh

koefisien jalur sebagai pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung, serta

pengaruh secara keseluruhan.

Langkah keempat adalah pemeriksaan validasi odel. Valid tidaknya

model tergantung dari terpenuhi atau tidaknya asumsi yang melandasi, seperti

yang dilakukan dalam langkah kedua. Terdapat dua indikator valid tidaknya

model, yaitu koefisien determinasi secara total dan terpenuhinya teori

trimming (Agusty, 2002). Total keragaman data yang dapat dijelaskan oleh

model diukur dengan:

Rm2 = 1 - P ε1

2, P ε2

2, ... P εn

2,

Interpretasi terhadap Rm2 dilakukan sama dengan interpretasi dalam

koefisien determinasi (R2) pada analisis regresi. Teori trimming dimaksudkan

untuk menguji kebermaknaan (test of significance) setiap koefisien jalur yang

sudah dihitung. Jika demikian, perhitungan diulang kembali dengan cara

menghitung jalur yang menurut hasil pengujian ternyata tidak bermakna atau

tidak signifikan. Langkah pengujiannya adalah dengan terlebih dahulu

menyusun hipotesis statistik atau sering disebut hipotesis operasional.

Page 62: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

47

Langkah kelima adalah dengan melakukan interpretasi atas hasil analisis

berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Yaitu berapa besarnya

pengaruh langsung dan tidak langsung antar variabel. Variabel mana saja

yang paling dominan, dalam arti yang memberikan pengaruh paling besar

atau pengaruh paling kuat terhadap variabel endogen yang dikonfirmasikan.

E. Dasar Pengambilan Keputusan

1. Koefisien Determinasi (Adjusdted R Square)

Koefisien Determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh

kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Dengan

kata lain koefisien determinasi dilakukan untuk melihat seberapa besar

variabel independent menjelaskan variabel dependen. Nilai koefisien

determinasi adalah nol dan satu. Bila nilai koefisien determinasi sama

dengan 0 (R2 = 0), artinya variasi dari Y tidak dapat diterangkan oleh X

sama sekali. Sementara apabila R2 = 1, artinya variasi dari Y secara

keseluruhan dapat diterangkan oleh X. Dengan kata lain bila R2 = 1, maka

semua titik pengamatan berada tepat pada garis regresi.

2. Uji Signifikansi Parsial (t-test)

Uji statistik-t pada dasarnya menunjukkan seberapa besar pengaruh

satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel

dependen. Menurut Husaini dan Purnomo (2006: 149) uji t digunakan

untuk mencari perbedaan atau persamaan dua rata-rata, maka uji rata-rata

digunakan untuk mencari perbedaan atau persamaan beberapa rata-rata

Page 63: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

(Damanhuri, 2009: 49).

berikut:

bi = koefisien variabel ke i

sb = kesalahan standar

sb adalah kesala

matematis sebagai berikut:

se adalah standar error sampel yang dirumuskan sebagai berikut:

Dimana Σ e2

Pengambilan keputusan berdasarkan perbandingan t

tabel, dengan ketentuan sebagai berikut.

a. Jika t-hitung > t

b. Jika t-hitung < t

Sedangkan pengambilan keputu

adalah dengan ketentuan:

a. Jika probabilitas signifikan > 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

(Damanhuri, 2009: 49). Untuk menghitung t hitung digunakan rumus sebagai

= koefisien variabel ke i

= kesalahan standar

kesalahan standar error dari koefisien regresi dengan rumus

matematis sebagai berikut:

adalah standar error sampel yang dirumuskan sebagai berikut:

2 dirumuskan sebagai berikut:

Pengambilan keputusan berdasarkan perbandingan t-hitung dengan t

tabel, dengan ketentuan sebagai berikut.

hitung > t-tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

hitung < t-tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Sedangkan pengambilan keputusan berdasarkan tingkat signifikan

adalah dengan ketentuan:

Jika probabilitas signifikan > 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

xYbYaYe ∑−∑−∑=∑22

48

digunakan rumus sebagai

han standar error dari koefisien regresi dengan rumus

adalah standar error sampel yang dirumuskan sebagai berikut:

hitung dengan t-

san berdasarkan tingkat signifikan

Jika probabilitas signifikan > 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Page 64: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

b. Jika probabilitas signifikan < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

3. Uji Signifikansi

Uji statistik F dilakukan untuk melihat kemaknaan dari hasil model

regresi tersebut. Bila nilai F

signifikannya lebih kecil dari 5% (

menunjukkan bahwa H

terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel eksogen terhadap

variabel endogen secara simultan. Untuk menghitung F

rumus sebagai berikut.

F = Nilai F hitung yang dihitung

R2

= Koefisien Determinasi

n = Jumlah pengamatan/sampel

K-1 = Jumlah variabel eksogen

Pengambilan

tabel, dengan ketentuan sebagai berikut.

a. Jika F-hitung >

b. Jika F-hitung <

Sedangkan pengambilan keputusan berdasarkan tingkat signifikan

adalah dengan ketentuan:

a. Jika probabilitas signifikan > 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

b. Jika probabilitas signifikan < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Jika probabilitas signifikan < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Simultan (F-test)

k F dilakukan untuk melihat kemaknaan dari hasil model

regresi tersebut. Bila nilai F hitung lebih besar dari F tabel atau tingkat

signifikannya lebih kecil dari 5% (α = 5% = 0,05) maka hal ini

menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa

terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel eksogen terhadap

variabel endogen secara simultan. Untuk menghitung F hitung

rumus sebagai berikut.

= Nilai F hitung yang dihitung

= Koefisien Determinasi

= Jumlah pengamatan/sampel

= Jumlah variabel eksogen

Pengambilan keputusan berdasarkan perbandingan F-hitung dengan

tabel, dengan ketentuan sebagai berikut.

hitung > F-tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

hitung < F-tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Sedangkan pengambilan keputusan berdasarkan tingkat signifikan

ketentuan:

Jika probabilitas signifikan > 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Jika probabilitas signifikan < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

49

Jika probabilitas signifikan < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

k F dilakukan untuk melihat kemaknaan dari hasil model

atau tingkat

= 5% = 0,05) maka hal ini

diterima yang berarti bahwa

terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel eksogen terhadap

digunakan

hitung dengan F-

Sedangkan pengambilan keputusan berdasarkan tingkat signifikan

Jika probabilitas signifikan > 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Jika probabilitas signifikan < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Page 65: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

50

F. Operasional Variabel

Variabel penelitian ini dikelompokkan menjadi dua yaitu: variabel

endogen, dan variabel eksogen. Variabel endogen pada penelitian ini adalah

kebijakan deviden (Y1) dan harga saham (Y2). Sedangkan variabel eksogen

terdiri dari stuktur kepemilikan (X1), tahapan daur hidup perusahaan (X2),

financial leverage (X3), dan suku bunga SBI (X4). Pengukuran untuk masing-

masing variabel adalah sebagai berikut.

1. Kebijakan Deviden

Kebijakan deviden merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh

perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai deviden atau

akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di

masa datang (Sartono, 1998: 370).

Indikator kebijakan deviden dalam penelitian ini adalah dividend

yield. Menurut Coyle (2002: 17) dividend yield is simply a measure of

income yield on investment.

�������� ���� ������� ��� ����

���� �����

2. Harga Saham

Secara umum saham adalah “surat tanda kepemilikan perusahaan.”

Pengertian harga saham menurut Jogiyanto (2000: 8), adalah: “Harga

saham yang terjadi dipasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh

pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang

bersangkutan di pasar modal.”

Page 66: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

51

Harga saham masing-masing perusahaan manufaktur yang digunakan

dalam penelitian ini yaitu harga penutupan saham atau closing price.

3. Stuktur Kepemilikan

Struktur kepemilikan merupakan proporsi kepemilikan saham oeh

manajerial, public, ataupun institusional (Haruman, 2008: 155).

Pengukuran struktur kepemilikan dalam penelitian ini diwakili dengan

kepemilikan institusi (institutional ownership).

Institusional ownership adalah penyertaan atau kepemilikan

perusahaan yang dimiliki oleh institusi. Institusional ownership dihitung

dengan rumus:

�� ����� ����� ������� ���������

���� �����

4. Tahapan Daur Hidup Perusahaan

Teori daur hidup (life cycle theory) menyatakan bahwa pengembangan

strategi yang paling pas adalah dengan memperhatikan tahapan daur hidup

perusahaan. Aharony, Falk, dan Yehuda (2003) mengklasifikasikan

tahapan daur hidup menjadi tahapan starsups, growth, mature, dan decline.

Anthony dan Ramesh (1992) membagi tahapan daur hidup menjadi

growth, mature, dan stagnant. Perusahaan yang berada pada tahapan

pertumbuhan (growth) akan memiliki prospek ke depan yang lebih baik

menjadi pertimbangan pada penelitian Werner (2008: 6).

Penelitian ini menggunakan pendekatan earned contributed capital

mix dalam menjelaskan tahapan daur hidup, dengan variabel pengukuran

retained earning/total equity (RETE).

Page 67: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

52

���� 慜慜慜慜������� �������

���� ������

5. Debt to Equity Ratio (DER)

Struktur hutang (financial leverage) perusahaan menggambarkan

earning yang diperoleh dan risiko yang dihadapi oleh investor (Matriadi,

2007: 231). Financial leverage dalam penelitian ini menggunakan indek

total hutang dibagi dengan total ekuitas (debt to equity ratio/DER). Secara

matematis diformulasikan sebagai berikut:

��� ���� �� �

���� ������

6. Suku Bunga BI

Menurut Brigham dan eugene (1993), suku bunga adalah harga yang

harus dibayar atas modal pinjaman dan deviden serta keuntungan modal

yang merupakan hasil dari modal ekuitas.

Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.8/13/DPM tentang

Penerbitan Sertifikat Bank Indonesia Melalui Lelang, Sertifikat Bank

Indonesia yang selanjutnya disebut SBI adalah surat berharga dalam mata

uang Rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan

utang berjangka waktu pendek. (Oktavia, 2007: 25)

Pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat suku

bunga SBI mulai tahun 2005 sampai dengan 2009.

Page 68: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

53

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Bank Indonesia

Berikut ini adalah sekilas perjalanan sejarah Bank Indonesia (a brief

history of Bank Indonesia).

• 1828: De Javasche Bank didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda

sebagai bank sirkulasi yang bertugas mencetak dan mengedarkan uang.

• 1953: Undang-Undang Pokok Bank Indonesia menetapkan pendirian

Bank Indonesia untuk menggantikan fungsi De Javasche Bank sebagai

bank sentral, dengan tiga tugas utama di bidang moneter, perbankan,

dan sistem pembayaran. Di samping itu, Bank Indonesia diberi tugas

penting lain dalam hubungannya dengan Pemerintah dan melanjutkan

fungsi bank komersial yang dilakukan oleh DJB sebelumnya.

• 1968: Undang-Undang Bank Sentral mengatur kedudukan dan tugas

Bank Indonesia sebagai bank sentral, terpisah dari bank-bank lain yang

melakukan fungsi komersial. Selain tiga tugas pokok bank sentral, Bank

Indonesia juga bertugas membantu Pemerintah sebagai agen

pembangunan mendorong kelancaran produksi dan pembangunan serta

memperluas kesempatan kerja guna meningkatkan taraf hidup rakyat.

Page 69: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

54

• 1999: Babak baru dalam sejarah Bank Indonesia, sesuai dengan UU

No.23/1999 yang menetapkan tujuan tunggal Bank Indonesia yaitu

mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.

• 2004: Undang-Undang Bank Indonesia diamandemen dengan focus

pada aspek penting yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan

wewenang Bank Indonesia, termasuk penguatan governance.

• 2008: Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti

Undang-Undang (PerPPU) No.2 tahun 2008 tentang Perubahan Kedua

atas Undang-Undang No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagai

bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan. Amandemen

dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan perbankan nasional dalam

menghadapi krisis global melalui peningkatan akses perbankan

terhadap Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek dari Bank Indonesia.

2. Bursa Efek Indonesia

Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia

merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial

Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu

didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah

kolonial atau VOC.

Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan

pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan

pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman.

Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada

Page 70: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

55

tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami

pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang

dikeluarkan pemerintah.

Secara singkat, tonggak perkembangan pasar modal di Indonesia

dapat dilihat sebagai berikut:

• 14 Desember 1912: Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk di

Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda.

• 1914 – 1918: Bursa Efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia I.

• 1925 – 1942: Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan

Bursa Efek di Semarang dan Surabaya.

• Awal tahun 1939: Karena isu politik (Perang Dunia II) Bursa Efek di

Semarang dan Surabaya ditutup.

• 1942 – 1952: Bursa Efek di Jakarta ditutup kembali selama Perang

Dunia II.

• 1952: Bursa Efek di Jakarta diaktifkan kembali dengan UU Darurat

Pasar Modal 1952, yang dikeluarkan oleh Menteri kehakiman (Lukman

Wiradinata) dan Menteri keuangan (Prof.DR. Sumitro

Djojohadikusumo). Instrumen yang diperdagangkan: Obligasi

Pemerintah RI (1950).

• 1956: Program nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa Efek semakin

tidak aktif. 1956 – 1977: Perdagangan di Bursa Efek vakum.

• 10 Agustus 1977: Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden

Soeharto. BEJ dijalankan dibawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar

Page 71: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

56

Modal). Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai HUT Pasar Modal.

Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT

Semen Cibinong sebagai emiten pertama.

• 1977 – 1987: Perdagangan di Bursa Efek sangat lesu. Jumlah emiten

hingga 1987 baru mencapai 24. Masyarakat lebih memilih instrumen

perbankan dibandingkan instrumen Pasar Modal.

• 1987: Ditandai dengan hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES 87)

yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan

Penawaran Umum dan investor asing menanamkan modal di Indonesia.

• 1988 – 1990: Paket deregulasi dibidang Perbankan dan Pasar Modal

diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing. Aktivitas bursa terlihat

meningkat.

• 2 Juni 1988: Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan

dikelola oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE),

sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer.

• Desember 1988: Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88

(PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go

public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar

modal.

• 16 Juni 1989: Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan

dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek

Surabaya.

Page 72: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

57

• 13 Juli 1992: Swastanisasi BEJ. BAPEPAM berubah menjadi Badan

Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ.

• 22 Mei 1995: Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan

dengan sistem computer JATS (Jakarta Automated Trading Systems).

• 10 November 1995: Pemerintah mengeluarkan Undang –Undang No. 8

Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai

diberlakukan mulai Januari 1996.

• 1995: Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya.

• 2000: Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading) mulai

diaplikasikan di pasar modal Indonesia.

• 2002: BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh

(remote trading).

• 2007: Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta

(BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).

3. Perusahaan Manufaktur

Secara umum perusahaan merupakan suatu organisasi di mana sumber

daya (input), seperti bahan baku dan tenaga kerja diproses untuk

menghasilkan barang atau jasa (output). Tujuan dari kebanyakan

perusahaan adalah untuk memaksimumkan laba atau keuntungan.

Perusahaan manufaktur (manufacturing) merupakan satu dari tiga

macam perusahaan—selain perusahaan dagang (merchandising) dan

perusahaan jasa (service)—ditinjau dari jenis usaha dan cara mendapatkan

laba.

Page 73: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

58

Manufaktur adalah suatu cabang industri yang mengaplikasikan

peralatan dan suatu medium proses untuk transformasi bahan mentah

menjadi barang jadi untuk dijual. Secara sederhana, manufaktur diartikan

sebagai proses fisik dalam produksi barang non jasa. Upaya ini melibatkan

semua proses antara yang dibutuhkan untuk produksi dan integrasi

komponen-komponen suatu produk.

Perusahaan Manufaktur adalah perusahaan yang menjalankan proses

pembuatan produk. sebuah perusahaan bisa dikatakan perusahaan

manufaktur apabila ada tahapan input-proses-output yang akhirnya

menghasilkan suatu produk. Industri ini sangat erat terkait dengan

rekayasa atau teknik. Industri manufaktur tersebut memiliki sub bagian

sebagai berikut:

a. Industri kimia dasar: Semen, keramik, porselen dan kaca, metal dan

sejenisnya, kimia, plastik dan kemasan, pakan ternak, kayu, kertas dan

alat tulis.

b. Aneka industri: Otomotif dan komponennya, garment dan tekstile, alas

kaki, kabel, elektronik dan lain-lain.

c. Industri Barang dan Konsumsi: Makanan dan minuman, pabrik rokok,

farmasi, kosmetik dan barang keperluan rumah tangga.

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2005

sampai dengan 2009. Sejumlah perusahaan diambil berdasarkan metode

purposive sampling yaitu penentuan sampel berdasarkan kriteria-kriteria

Page 74: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

59

tertentu. Dari metode tersebut, akhirnya diambil 19 perusahaan yang

mewakili industri manufaktur yang terdapat di BEI.

Tabel 4.1

Data Sampel Perusahaan Manufaktur

No. Kode Emiten

1 ASII Astra Internastional Tbk

2 AUTO Astra Otoparts Tbk

3 SQBI Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk

4 CTBN Citra Tubindo Tbk

5 DLTA Delta Djakarta Tbk

6 GDYR Goodyear Indonesia Tbk

7 HMSP HM Sampoerna Tbk

8 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk

9 IGAR Kageo Igar Jaya Tbk

10 KAEF Kimia Farma Tbk

11 LION Lion Metal Works Tbk

12 LMSH Lionmesh Prima Tbk

13 MYOR Mayora Indah Tbk

14 MERK Merck Indonesia Tbk

15 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk

16 SMSM Selamat Sempurna Tbk

17 SMGR Semen Gresik (Persero) Tbk

18 TSPC Tempo Scan Pacific Tbk

19 TRST Trias Sentosa Tbk

20 UNVR Unilever Indonesia Tbk

Sumber: Data diolah, 2010.

Perusahaan-perusahaan tersebut menyediakan data berupa laporan

keuangan secara continue selama 5 tahun (2005-2009) sesuai dengan

kebutuhan analisis. Deskripsi statistik dalam penelitian ini meliputi

institutional ownership (IO), retained earning/total equity (RETE), debt to

equity ratio (DER), dan Suku Bunga SBI terhadap kebijakan dividen

(Dividend Yiel/DY) dan implikasinya pada harga saham (close price), yang

dilakukan dengan pengujian secara parsial maupun pengujian secara

simultan.

Page 75: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

60

B. Penemuan dan Pembahasan

1. Analisis Deskriptif

Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan menggunakan bantuan

Microsoft Excel 2007 dan SPSS 17.0 untuk dapat mengolah data dan

memperoleh hasil dari variabel-variabel yang diteliti, yaitu terdiri dari

variabel endogen; kebijakan deviden dan harga saham. Sedangkan

variabel eksogen; struktur kepemilikan, tahapan daur hidup, DER, dan

Suku Bunga SBI. Penjelasan lebih lanjut sebagai berikut:

a. Analisis deskriptif variabel struktur kepemilikan

Struktur kepemilikan merupakan proporsi kepemilikan saham oeh

manajerial, publik, ataupun institusional (Haruman, 2008: 155).

Pengukuran struktur kepemilikan dalam penelitian ini diwakili dengan

kepemilikan institusi (institutional ownership). Data Institutional

Ownership (IO) yang digunakan adalah kepemilikan institusi per tahun

pada perusahaan manufaktur periode 2005–2009. Data tersebut

diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan dalam

situs www.idx.co.id. Selama tahun penelitian tersebut diperoleh nilai

rata-rata IO tertinggi sebesar 73.17% (2009) dan terendah sebesar

69.26% (2006).

Secara umum, nilai rata-rata IO perusahaan manufaktur selalu

mengalami peningkatan, hanya pada tahun 2006 saja sedikit mengalami

penurunan sebesar 0.79% dari tahun sebelumnya, yaitu dari 70.05

menjadi 69.26. Hal ini menunjukkan kepemilikan institusi atas saham

Page 76: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

61

perusahaan memiliki tingkat pertumbuhan yang terus meningkat. Selain

itu, nilai rata-rata IO berkisar di 70% dari total saham, ini berarti

kepemilikan saham oleh institusi lebih besar dibandingkan kepemilikan

saham oleh manajemen dan masyarakat (public), sehingga akan

mendorong pengawasan yang lebih efektif karena institusi merupakan

profesional yang memiliki kemampuan dalam mengevaluasi kinerja

perusahaan. Secara tidak langsung, dengan kepemilikan institusi yang

tinggi akan meningkatkan pengawasan terhadap manajer yang

merupakan wakil dari pemegang saham dalam menjalankan aktivitas

operasional perusahaan.

Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, berikut ini adalah

grafik nilai rata-rata Institutional Ownership (IO) 20 perusahaan

manufaktur periode 2005-2009.

2005 2006 2007 2008 2009

IO 70.05 69.26 70.59 72.49 73.17

70.05

69.26

70.59

72.49

73.17

67.00

68.00

69.00

70.00

71.00

72.00

73.00

74.00

Sumber: Data diolah, 2010

Gambar 4.1

Rata-rata IO Perusahaan (dalam satuan persentase)

Page 77: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

62

b. Analisis deskriptif variabel tahapan daur hidup perusahaan

Ide utama dalam strategi bisnis menurut Boston Consulting Group

adalah untuk menciptakan cost advantage dan demand advantage yang

melebihi pesaing, dimana keduanya diharapkan akan menciptakan

halangan untuk masuk bagi pendatang baru. Teori daur hidup

menyatakan bahwa pengembangan strategi yang paling pas adalah

dengan memperhatikan tahapan daur hidup perusahaan (Murhadi, 2008:

6). Penelitian ini menggunakan pendekatan earned contributed capital

mix dalam menjelaskan tahapan daur hidup perusahaan, dengan variabel

pengukuran retained earning/total equity (RETE).

Data RETE yang digunakan adalah rasio laba ditahan atas total

equitas per tahun pada perusahaan manufaktur periode 2005-2009, yang

bersumber dari laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan

dalam situs www.idx.co.id. Selama tahun penelitian tersebut diperoleh

nilai rata-rata RETE tertinggi sebesar 12.18% (2008) dan terendah

sebesar 2.77% (2009).

Sepanjang tahun 2005-2008, nilai rata-rata RETE mengalami

peningkatan. Ini menandakan bahwa perusahaan manufaktur berada

pada tahapan growth yang di antaranya ditandai dengan pertumbuhan

secara continue. Pada tahapan pertumbuhan ini, perusahaan akan

memiliki prospek ke depan yang lebih baik sehingga diharapkan akan

berpengaruh terhadap pergerakan harga saham. Namun, nilai rata-rata

RETE di tahun 2009 mengalami penurunan yang drastis menjadi 2.77%.

Page 78: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

63

Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, berikut ini adalah

grafik nilai rata-rata Retained Earning/Total Equity (RETE) 20

perusahaan manufaktur periode 2005-2009.

2005 2006 2007 2008 2009

RETE 4.49 9.07 11.09 12.18 2.77

4.49

9.07

11.09

12.18

2.77

0.00

2.00

4.00

6.00

8.00

10.00

12.00

14.00

Sumber: Data diolah, 2010.

Gambar 4.2

Rata-rata RETE Perusahaan (dalam satuan persentase)

c. Analisis deskriptif variabel financial leverage

Pembiayaan perusahaan melalui hutang (financial leverage)

bertujuan untuk meningkatkan return bagi pemegang saham, tetapi

financial leverage juga berpotensi terhadap besarnya risiko yang

dihadapi oleh investor jika beban tetap yang harus dibayar perusahaan

atas hutang-hutangnya lebih besar dari laba yang diperolehnya.

Pengaruh penggunaan hutang terhadap harga saham dikemukakan oleh

Lasher (1997) yaitu: “leverage influences stock price because it alters

the risk-return relationship in an equity investment.” Leverage

keuangan yang semakin besar mengakibatkan risiko keuangan semakin

tinggi (Matriadi, 2007: 232).

Page 79: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

64

Penelitian ini mengukur financial leverage dengan menggunakan

indeks total hutang dibagi dengan equitas (DER) per tahun pada

perusahaan manufaktur periode 2005-2009, yang bersumber dari

laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan dalam situs

www.idx.co.id. Selama tahun penelitian tersebut diperoleh nilai rata-

rata DER tertinggi sebesar 106.99% (2009) dan terendah sebesar

72.60% (2006).

Di tahun 2006, nilai rata-rata DER mengalami penurunan dari

tahun sebelumnya, yaitu dari 79.30% (2005) menjadi 72.60%, namun

mengalami peningkatan lagi secara terus-menerus sepanjang 3 tahun

menjadi 75.82% (2007), 85.67% (2008), dan puncaknya di tahun 2009

meningkat signifikan menjadi 106.99%. Ini menunjukkan bahwa

perusahaan manufaktur selalu meningkatkan penggunaan hutang dalam

membiayai aktivitas operasional perusahaannya. Kenaikan ini

diharapkan dapat meningkatkan return bagi pemegang saham, tetapi

kondisi ini juga berpotensi terhadap besarnya risiko bagi investor jika

tidak diikuti dengan peningkatan laba perusahaan. Konsekwensinya,

perusahaan akan berada pada posisi default dan financial distress yang

dapat mengarah pada kebangkrutan.

Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, berikut ini adalah

grafik nilai rata-rata Debt to Equity Ratio (DER) 20 perusahaan

manufaktur periode 2005-2009.

Page 80: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

65

2005 2006 2007 2008 2009

DER 79.30 72.60 75.82 85.67 106.99

0.00

20.00

40.00

60.00

80.00

100.00

120.00

Sumber: Data diolah, 2010.

Gambar 4.3

Rata-rata DER Perusahaan (dalam satuan persentase)

d. Analisis deskriptif variabel suku bunga SBI

Menurut Wiguna dan Mendari (2008: 132), Suku Bunga Sertifikat

Bank Indonesia adalah suatu nilai (dalam bentuk presentase) yang

digunakan untuk menandakan sertifikat bank Indonesia yang diterbitkan

oleh bank sentral sebagai salah satu surat berharga, dimana nilai

tersebut merupakan balas jasa atas investasi dalam sertifikat bank

Indonesia tersebut.

Data tingkat suku bunga SBI dalam penelitian ini diperoleh dari

situs www.bi.go.id. Dalam 5 tahun terakhir diperoleh suku bunga SBI;

12.75% di tahun 2005, 9.75% di tahun 2006, 8.00% di tahun 2007,

10.83% di tahun 2008, dan 6.46% di tahun 2009. Jadi, suku bunga

tertinggi terjadi di tahun 2005 (12.75%) sedangkan terendah terjadi di

tahun 2009 (6.46%).

Page 81: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

66

Selama tahun penelitian tersebut, suku bunga SBI terlihat bergerak

menurun dari tahun ke tahun, hanya pada tahun 2008 mengalami

peningkatan namun mengalami penurunan di tahun 2009. Hal ini (saat

suku bunga SBI mengalami penurunan atau rendah) akan mendorong

hasrat individu untuk menginvestasikan uang dalam saham meningkat

sedangkan investasi dalam tabungan atau deposito akan berkurang

sehingga permintaan terhadap saham akan meningkat yang mana hal ini

akan berakibat pada penurunan harga saham.

Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, berikut ini adalah

grafik Suku Bunga SBI periode 2005-2009.

2005 2006 2007 2008 2009

SBI 12.75% 9.75% 8.00% 10.83% 6.46%

12.75%

9.75%

8.00%

10.83%

6.46%

0.00%

2.00%

4.00%

6.00%

8.00%

10.00%

12.00%

14.00%

Sumber: Data diolah, 2010.

Gambar 4.4

Suku Bunga SBI

e. Analisis deskriptif variabel kebijakan dividen

Kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang

diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai

Page 82: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

67

dividen atau ditahan dalam bentuk laba ditahan (retained earnings)

guna pembiayaan investasi di masa dating. Menurut Murhadi (2008)

pengukuran kebijakan dividen dapat berupa dividend yield. Dividend

Yield (DY) diperoleh dengan membandingkan antara dividend per share

dan share price (Coyle, 2002: 17).

Nilai DY perusahaan manufaktur per tahun bersumber dari laporan

keuangan perusahaan yang dipublikasikan dalam situs www.idx.co.id.

Selama tahun penelitian (2005-2009) diperoleh nilai rata-rata DY

tertinggi sebesar 5.92% (2008) dan terendah sebesar 3.45% (2006). DY

dalam 5 tahun penelitian ini terlihat fluktuatif (berubah-ubah atau naik-

turun), hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dimana DY pada

tahun 2005 adalah 4.44%, 2006 turun menjadi 3.45%, pada tahun 2007

naik menjadi 3.62%, dan pada tahun tahun 2008 naik menjadi 5.92%

namun mengalami penurunan pada tahun 2009 menjadi 4.41%.

Pergerakan DY yang naik-turun ini akan berdampak pada fluktuasi

harga saham. Menurut Black (1976), saat pembayaran dividen oleh

perusahaan meningkat maka pemegang saham akan

menginterpretasikan peningkatan ini sebagai signal bahwa pihak

manajemen memiliki prediksi arus kas yang tinggi, sebaliknya

penurunan pembayaran dividen diinterpretasikan sebagai antisipasi

manajer terhadap terbatasnya arus kas di masa yang akan datang.

Sehingga, penurunan ataupun peningkatan pembayaran dividen oleh

perusahaan akan memberikan signal positif ataupun negatif bagi

Page 83: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

68

pemegang saham. Namun keadaan ini bisa berbalik, dalam atian bahwa

dividen memiliki pengaruh negatif terhadap perubahan harga saham

seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Litzenberger dan

Ramaswamy (1979), hal ini disebabkan karena pajak atas dividen lebih

tinggi dari pada pajak yang dikenakan atas capital gain. (Murhadi,

2008)

Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, berikut ini adalah

grafik nilai rata-rata Dividen Yield (DY) 20 perusahaan manufaktur

untuk periode 2005-2009.

2005 2006 2007 2008 2009

DY 4.44 3.45 3.62 5.92 4.41

0.00

1.00

2.00

3.00

4.00

5.00

6.00

7.00

Sumber: Data diolah, 2010.

Gambar 4.5

Rata-rata Dividend Yield (DY) Perusahaan (dalam satuan kali)

f. Analisis deskriptif variabel harga saham

Harga saham masing-masing perusahaan manufaktur yang

digunakan dalam penelitian ini adalah harga penutupan saham per tahun

atau closing price (CP) untuk periode tahun 2005-2009 yang diperoleh

Page 84: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

69

dari data perdagangan saham. Berikut ini adalah nilai rata-rata CP 20

perusahaan manufaktur untuk periode 2005-2009.

2005 2006 2007 2008 2009

CP 11088.00 13832.50 14953.90 11858.45 27623.30

11088.00

13832.5014953.90

11858.45

27623.30

0

5000

10000

15000

20000

25000

30000

Sumber: Data diolah, 2010.

Gambar 4.6

Rata-rata Harga Saham (CP) Perusahaan (dalam rupiah penuh)

Pada grafik di atas, nilai rata-rata CP tertinggi sebesar Rp 27623.30

(2009) dan terendah sebesar Rp 11088.00 (2005).

Sepanjang tahun 2005-2007, nilai rata-rata CP perusahaan

manufaktur mengalami peningkatan yaitu Rp 11088.00 di tahun 2005,

naik menjadi Rp 13832.50 di tahun 2006, dan naik kembali di tahun

2007 menjadi Rp 14953.90. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan

atas saham perusahaan manufaktur selalu mengalami peningkatan yang

direspon dengan harga saham yang selalu meningkat tiap tahunnya, dan

kondisi ini juga akan memberikan sinyal atau tanda positif bagi para

investor perihal prospek berinvestasi pada saham tersebut.

Kenaikan ini berlangsung selama 3 tahun penelitian, dan pada

tahun ke-4 (2008) mengalami penurunan menjadi Rp 11858.45. Hal ini

Page 85: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

70

tentunya akan memberikan respon yang buruk kepada investor. Namun

penurunan ini hanya berlaku 1 tahun saja karena di tahun 2009 nilai

rata-rata CP mengalami peningkatan hingga pada titik harga Rp

27623.30.

Kondisi ini—peningkatan nilai rata-rata CP selama 2005-2007,

penurunan di tahun 2008, dan kenaikan yang signifikan di tahun 2009),

secara tidak langsung, ada faktor-faktor yang mendukung perubahan

(naik-turun) nilai rata-rata CP baik faktor dari dalam perusahaan

(internal) maupun faktor dari luar perusahaan (eksternal). Menurut

Mendari (2008: 133) faktor-faktor fundamental dapat dikatakan sebagai

faktor internal perusahaan seperti tingkat penjualan dan laba usaha

perusahaan. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi harga

saham menurut Husnan (2005) dapat berupa kondisi makro ekonomi,

stabilitas politik, kebijakan pemerintah dalam dunia industri dan usaha

atau faktor sejenis yang terjadi pada perusahaan merupakan variabel

yang bisa ikut memicu arah pergerakan kurs saham. Sebagai contoh

penurunan nilai rata-rata CP pada tahun 2008 lebih dipicu oleh keadaan

ekonomi tepatnya krisis keuangan global yang dimulai dari Amerika

dan meluas ke hampir seluruh belahan dunia termasuk Indonesia.

2. Analisis Jalur Pengaruh Struktur Kepemilikan, Tahapan Daur Hidup

Perusahaan, Financial Leverage, dan Suku Bunga SBI terhadap

Kebijakan Dividen, serta Implikasinya terhadap Harga Saham

Page 86: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

71

Analisis jalur ini dibagi menjadi dua substruktur. Substruktur yang

pertama (substruktur I) menganalisis pengaruh struktur kepemilikan,

tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage, dan suku bunga SBI

sebagai variabel eksogen terhadap kebijakan dividen sebagai variabel

endogen. Substruktur yang kedua (substruktur II) menganalisis pengaruh

struktur kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage,

suku bunga SBI, dan kebijakan dividen sebagai variabel eksogen terhadap

harga saham sebagai variabel endogen. Untuk lebih komunikatif berikut

diagram jalur dalam analisis ini.

Gambar 4.7

Diagram Jalur

a. Analisis Korelasi

Korelasi antar variabel struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, financial leverage, dan suku bunga SBI dengan hasil

penghitungan SPSS 17.0 dapat dilihat pada tabel berikut.

Kebijakan

Dividen

Harga

Saham

Struktur Kepemilikan

Tahapan Daur Hidup

Suku Bunga SBI

Financial Leverage

Page 87: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

72

Tabel 4.2

Korelasi antar Variabel Bebas

Correlations

IO RETE DER SBI

IO Pearson Correlation 1 -.078 -.130 -.035

Sig. (2-tailed) .440 .197 .731

N 100 100 100 100

RETE Pearson Correlation -.078 1 -.741** .029

Sig. (2-tailed) .440 .000 .771

N 100 100 100 100

DER Pearson Correlation -.130 -.741** 1 -.070

Sig. (2-tailed) .197 .000 .489

N 100 100 100 100

SBI Pearson Correlation -.035 .029 -.070 1

Sig. (2-tailed) .731 .771 .489

N 100 100 100 100

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Sumber: Data diolah, 2010.

Untuk menafsirkan angka tersebut digunakan kriteria sebagai berikut.

• 0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah (dianggap tidak ada)

• > 0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat

• > 0,5 – 0,75 : Korelasi kuat

• > 0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat

Untuk pengujian lebih lanjut, maka diajukan hipotesis:

Ho : Tidak ada hubungan korelasi yang signifikan antara dua variabel.

Ha : Ada hubungan korelasi yang signifikan antara dua variabel.

1) Korelasi antara variabel struktur kepemilikan dan variabel tahapan daur

hidup perusahaan

Korelasi sebesar -0.078 menunjukkan hubungan antara variabel

struktur kepemilikan yang diwakili institutional ownership (IO) dan

Page 88: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

73

variabel tahapan daur hidup perusahaan yang diwakili retained

earnings/total euity (RETE) cukup kuat dan berlawanan. Berlawanan

artinya apabila terjadi kenaikan nilai IO maka nilai RETE akan

mengalami penurunan, dan sebaliknya. Korelasi dua variabel tersebut

mempunyai probabilitas sebesar 0.440 > 0.05 telah cukup bukti untuk

menerima Ho dan menolak Ha sehingga korelasi tidak signifikan.

2) Korelasi antara struktur kepemilikan dan financial leverage

Korelasi sebesar -0.130 menunjukkan hubungan antara variabel

struktur kepemilikan yang diwakili institutional ownership (IO) dan

variabel financial leverage yang diwakili debt to equity ratio (DER)

sangat lemah dan berlawanan. Berlawanan artinya apabila terjadi

kenaikan nilai IO maka nilai DER akan mengalami penurunan, dan

sebaliknya. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai probabilitas

sebesar 0.197 > 0.05 telah cukup bukti untuk menerima Ho dan

menolak Ha sehingga korelasi tidak signifikan.

3) Korelasi antara struktur kepemilikan dan suku bunga SBI

Korelasi sebesar -0.035 menunjukkan hubungan antara variabel

struktur kepemilikan yang diwakili institutional ownership (IO) dan

variabel suku bunga SBI sangat lemah dan berlawanan. Berlawanan

artinya apabila terjadi kenaikan nilai IO maka nilai SBI akan

mengalami penurunan, dan sebaliknya. Korelasi dua variabel tersebut

mempunyai probabilitas sebesar 0.731 > 0.05 telah cukup bukti untuk

menerima Ho dan menolak Ha sehingga korelasi tidak signifikan.

Page 89: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

74

4) Korelasi antara tahapan daur hidup perusahaan dan financial leverage

Korelasi sebesar -0.741 menunjukkan hubungan antara variabel

tahapan daur hidup perusahaan yang diwakili retained earnings/total

euity (RETE) dan variabel financial leverage yang diwakili DER kuat

dan berlawanan. Berlawanan artinya apabila terjadi kenaikan nilai

RETE maka nilai DER akan mengalami penurunan, dan sebaliknya.

Korelasi dua variabel tersebut mempunyai probabilitas sebesar 0.000 >

0.01 telah cukup bukti untuk menerima Ha dan menolak Ho sehingga

korelasi signifikan pada level 1%.

5) Korelasi antara tahapan daur hidup perusahaan dan suku bunga SBI

Korelasi sebesar 0.029 menunjukkan hubungan antara variabel

tahapan daur hidup perusahaan yang diwakili retained earnings/total

euity (RETE) dan variabel suku bunga SBI sangat lemah dan searah.

Searah artinya apabila terjadi kenaikan nilai RETE akan dikuti dengan

kenaikan nilai SBI, dan sebaliknya. Korelasi dua variabel tersebut

mempunyai probabilitas sebesar 0.771 > 0.05 telah cukup bukti untuk

menerima Ho dan menolak Ha sehingga korelasi tidak signifikan.

6) Korelasi financial leverage dan suku bunga SBI

Korelasi sebesar -0.070 menunjukkan hubungan antara variabel

financial leverage yang diwakili DER dan variabel suku bunga SBI

sangat lemah dan berlawanan. Berlawanan artinya apabila terjadi

kenaikan nilai DER maka nilai SBI akan mengalami penurunan, dan

sebaliknya. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai probabilitas

Page 90: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

75

sebesar 0.489 > 0.05 telah cukup bukti untuk menerima Ho dan

menolak Ha sehingga korelasi tidak signifikan.

b. Analisis Regresi (Substruktur I)

Pada bagian ini analisis dibagi menjadi dua, pertama melihat

pengaruh secara sendiri-sendiri (parsial) dan kedua adalah melihat

pengaruh secara bersama-sama (simultan).

1) Melihat pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, financial leverage, dan suku bunga SBI terhadap

kebijakan dividen secara parsial.

Untuk melihat besarnya pengaruh variabel struktur kepemiikan,

tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage, dan suku bunga

SBI terhadap kebijakan dividen secara parsial, digunakan uji t,

sedangkan untuk melihat besarnya pengaruh, digunakan angka Beta

atau Standardized Coeffecient. Sedangkan untuk melihat kemaknaan

(signifikansi) pengaruh variabel-variabel independen terhadap

variable dependen yaitu dengan membuat hipotesis dan menentukan

kriteria uji hipotesis sebagaimana berikut.

Ho : Tidak ada pengaruh yang signifikan variabel independen

terhadap variabel dependen.

Ha : Ada pengaruh yang signifikan variabel independen terhadap

variabel dependen.

Kriteria uji hipotesisnya:

Jika thitung > ttabel maka Ho ditolak dan Ha diterima,

Page 91: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

76

Jika thitung < ttabel maka Ho diterima dan Ha ditolak, atau

Jika angka signifikansi < 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima,

Jika angka signifikansi > 0.05 maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Berikut adalah hasil analisis regresi secara parsial dengan

menggunakan SPSS 17.0.

Tabel 4.3

Uji t Regresi

Coefficientsa

Model

Unstandardized

Coefficients

Standardized

Coefficients

t Sig. B Std. Error Beta

1 (Constant) .016 .016 1.013 .314

IO .038 .012 .263 3.048 .003

RETE -.073 .014 -.647 -5.078 .000

DER -.008 .004 -.276 -2.151 .034

SBI 1.668 1.308 .106 1.275 .205

a. Dependent Variable: DY

Sumber: Data diolah, 2010.

a) Pengaruh variabel struktur kepemilikan terhadap kebijakan

dividen.

• Didasarkan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar 3.048

sedangkan nilai ttabel adalah t(0.05,95) = 1.99. Nilai thitung berada di

daerah penerimaan Ha atau Ho ditolak karena nilai tersebut

lebih besar dari nilai ttabel (3.048 > 1.99). Hal ini juga tercermin

dalam angka signifikansi 0.003 yang lebih kecil dari 0.05.

• Dengan angka Beta atau Standardized Coeffecient sebesar

0.263 atau 26.3%, maka variable struktur kepemilikan yang

diwakili dengan kepemilikan institusi secara parsial

Page 92: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

77

menunjukkan pengaruh yang signifikan bertanda positif

terhadap kebijakan dividen. Ini mengandung makna bahwa

setiap kenaikan kepemilikan institusi akan diikuti dengan

kenaikan pembayaran dividen.

• Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Shleifer

dan Vishny (1986) dimana kepemilikan institusi akan dapat

membantu memecahkan masalah keagenan tipe I melalui

pengawasan terhadap manajemen (Murhadi, 2008: 7), namun

bertentangan dengan hasil penelitian empiris yang dilakukan

Dewi (2008) yang menunjukkan terdapatnya pengaruh variabel

kepemilikan institusi terhadap kebijakan dividen dengan arah

negatif.

b) Pengaruh variabel tahapan daur hidup perusahaan terhadap

kebijakan dividen.

• Didasarkan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar -5.078

sedangkan nilai ttabel adalah t(0.05,95) = 1.99. Nilai thitung berada di

daerah penerimaan Ha atau Ho ditolak karena nilai tersebut

lebih besar dari nilai ttabel, baik itu bertanda positif ataupun

negatif (-5.078 > 1.99). Hal ini juga tercermin dalam angka

signifikansi 0.000 yang lebih kecil dari 0.05.

• Dengan angka Beta atau Standardized Coeffecient sebesar -

0.647atau -64,7%, maka variabel tahapan daur hidup

perusahaan yang diwakili retained earnings/total equity

Page 93: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

78

(RETE) secara parsial menunjukkan pengaruh yang signifikan

bertanda negatif terhadap kebijakan dividen. Ini mengandung

makna bahwa kenaikan RETE akan mengakibatkan penurunan

pembayaran dividen.

• Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Magginson

(1997) yang menyatakan bahwa perusahaan yang berada dalam

industry yang mature cenderung untuk membayarkan lebih

banyak dividen daripada perusahaan yang masih muda dan

sedang mengalami pertumbuhan. Hasil ini juga konsisten

dengan penelitian Murhadi (2008) dan Djumahir (2009) bahwa

tahapan daur hidup perusahaan berpengaruh terhadap

penentuan kebijakan dividen, dimana perusahaan dalam

tahapan pertumbuhan cenderung untuk tidak membagikan

dividen.

c) Pengaruh variabel financial leverage terhadap kebijakan dividen.

• Didasarkan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar -2.151

sedangkan nilai ttabel adalah t(0.05,95) = 1.99. Nilai thitung berada di

daerah penerimaan Ha atau Ho ditolak karena nilai tersebut

lebih besar dari nilai ttabel, baik itu bertanda positif ataupun

negatif (-2.151 > 1.99). Hal ini juga tercermin dalam angka

signifikansi 0.000 yang lebih kecil dari 0.05.

• Dengan angka Beta atau Standardized Coeffecient sebesar -

0.276 atau -27.6%, maka variabel financial leverage yang

Page 94: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

79

diwakili debt to equity ratio (DER) secara parsial menunjukkan

pengaruh yang signifikan bertanda negatif terhadap kebijakan

dividen. Ini mengandung makna bahwa kenaikan DER akan

mengakibatkan penurunan pembayaran dividen.

• Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sutrisno

(2001: 304) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi besar

kecilnya deviden yang akan dibayarkan oleh perusahaan

kepada pemegang saham dimana semakin banyak hutang yang

harus dibayar, semakin besar dana yang harus disediakan

sehingga akan mengurangi jumlah dividen yang akan

dibayarkan kepada pemegang saham.

d) Pengaruh variabel suku bunga SBI terhadap kebijakan dividen.

• Didasarkan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar 1.275

sedangkan nilai ttabel adalah t(0.05,95) = 1.99. Nilai thitung berada di

daerah penerimaan Ho atau Ha ditolak karena nilai tersebut

lebih kecil dari nilai ttabel (1.275 < 1.99). Hal ini juga tercermin

dalam angka signifikansi 0.205 yang lebih besar dari 0.05.

• Maka angka Beta atau Standardized Coeffecient sebesar 0.106

atau 10.6% yang menunjukkan besarnya pengaruh dianggap

tidak signifikan, artinya variabel suku bunga SBI secara parsial

tidak menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan terhadap

kebijakan dividen.

Page 95: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

80

• Hal ini tidak sesuai dengan pandangan Marzuki (1990) bahwa

peningkatan tingkat suku bunga menyebabkan investor

menjual sahamnya untuk ditukar dengan obligasi sehingga

perusahaan kekurangan modal untuk pendanaan operasional,

pada akhirnya perusahaan akan mengakumulasikan dananya ke

dalam laba ditahan, yang berarti akan terjadi penurunan

pembayaran dividen.

2) Melihat pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, financial leverage, dan suku bunga SBI terhadap

kebijakan dividen secara simultan.

Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel bebas terhadap

variabel terikat secara simultan, dapat dilihat hasil perhitungan

dalam model summary berikut.

Tabel 4.4

Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)

Model Summary

Model R R Square

Adjusted R

Square

Std. Error of the

Estimate

1 .595a .354 .327 .02374911

a. Predictors: (Constant), SBI, RETE, IO, DER

Sumber: Data diolah, 2010.

Besarnya angka R square (r²) adalah 0.327. Angka tersebut dapat

digunakan untuk melihat besarnya pengaruh variabel bebas terhadap

variabel terikat secara simultan dengan cara menghitung koefisien

determinasi (KD) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

KD = r² x 100% = 0.327 x 100% = 32.7%

Page 96: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

81

Angka tersebut mengartikan bahwa pengaruh variabel struktur

kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage, dan

suku bunga SBI terhadap kebijakan dividen sebesar 32.70%.

Sedangkan sisanya sebesar 67.30% (100% - 32.70%) dipengaruhi

oleh variabel-variabel lain di luar model ini.

Kemudian, untuk melihat kemaknaan dari hasil model regresi

tersebut diperlukan uji hipotesis. Berikut ini adalah hasil analisis

regresi secara simultan untuk melihat pengaruh variabel-variabel

independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4.5

Uji F Regresi

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression .029 4 .007 13.013 .000a

Residual .054 95 .001

Total .083 99

a. Predictors: (Constant), SBI, RETE, IO, DER

b. Dependent Variable: DY

Sumber: Data diolah, 2010.

Hipotesisnya berbunyi sebagai berikut:

Ho : Tidak ada pengaruh variabel struktur kepemilikan, tahapan

daur hidup perusahaan, financial leverage, dan suku bunga SBI

secara bersama-sama terhadap variabel kebijakan dividen.

Ha : Ada pengaruh variabel struktur kepemilikan, tahapan daur

hidup perusahaan, financial leverage, dan suku bunga SBI

secara bersama-sama terhadap variabel kebijakan dividen.

Page 97: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

82

Pengujian dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan

membandingkan besarnya angka Fhitung dengan Ftabel. Cara kedua

adalah membandingkan angka taraf signifikasi (sig) hasil

perhitungan dengan taraf signifikansi 0.05 (5%).

a) Membandingkan besarnya angka Fhitung dengan Ftabel

Berdasarkan perhitungan analysis of variance/ANOVA (lihat

tabel 4.3) diperoleh nilai Fhitung sebesar 13.013 sedangkan nilai

Ftabel (pada tingkat signifikansi 5% dengan df1 = 4, df2 = 95)

dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 adalah f(0.05,4,95) =

2.47.

Nilai Fhitung berada di daerah penerimaan Ha atau Ho ditolak

karena nilai tersebut lebih besar dari nilai Ftabel (13.013 > 2.47).

Ini berarti bahwa struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, financial leverage, dan suku bunga SBI secara

simultan mempengaruhi kebijakan dividen.

b) Membandingkan nilai taraf signifikansi (sig.) penelitian dengan

taraf signifikansi sebesar 0.05.

Berdasarkan hasil penghitungan analysis of variance/

ANOVA, nilai taraf signifikansi penelitian sebesar 0.000 lebih

kecil dari taraf signifikansi 5% (0.000 < 0.05), maka nilai taraf

signifikansi penelitian berada di daerah penerimaan Ha atau Ho di

tolak. Ini berarti bahwa struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

Page 98: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

83

perusahaan, financial leverage, dan suku bunga SBI secara

simultan mempengaruhi kebijakan dividen.

c. Analisis Regresi (Substruktur II)

Pada bagian ini analisis dibagi menjadi dua, pertama melihat

pengaruh secara parsial dan kedua adalah melihat pengaruh secara

simultan.

1) Melihat pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, financial leverage, suku bunga SBI, dan kebijakan

dividen terhadap harga saham secara parsial.

Untuk melihat besarnya pengaruh variabel struktur kepemiikan,

tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage, suku bunga SBI,

dan kebijakan dividen terhadap harga saham secara parsial,

digunakan uji t, dan untuk melihat besarnya pengaruh, digunakan

angka Beta atau Standardized Coeffecient. Sedangkan untuk melihat

kemaknaan (signifikansi) pengaruh variabel-variabel independen

terhadap variable dependen yaitu dengan membuat hipotesis dan

menentukan kriteria uji hipotesis sebagaimana berikut.

Ho : Tidak ada pengaruh yang signifikan variabel independen

terhadap variabel dependen.

Ha : Ada pengaruh yang signifikan variabel independen terhadap

variabel dependen.

Jika thitung > ttabel maka Ho ditolak dan Ha diterima,

Jika thitung < ttabel maka Ho diterima dan Ha ditolak, atau

Page 99: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

84

Jika angka signifikansi < 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima,

Jika angka signifikansi > 0.05 maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Berikut adalah hasil analisis regresi secara parsial dengan

menggunakan SPSS 17.0.

Tabel 4.6

Uji t Regresi

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients

t Sig. B Std. Error Beta

1 (Constant) 2627.576 14433.748 .182 .856

IO 32066.594 11901.824 .235 2.694 .008

RETE -25977.498 14815.919 -.243 -1.753 .083

DER 5304.767 3575.253 .188 1.484 .141

SBI -2711543.009 1201542.769 -.182 -2.257 .026

DY 219895.408 93422.068 .233 2.354 .021

a. Dependent Variable: CP

Sumber: Data diolah, 2010.

a) Pengaruh variabel struktur kepemilikan terhadap harga saham

• Didasarkan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar 2.694

sedangkan nilai ttabel adalah t(0.05,94) = 1.99. Nilai thitung berada di

daerah penerimaan Ha atau Ho ditolak karena nilai tersebut

lebih besar dari nilai ttabel (2.694 > 1.99). Hal ini juga tercermin

dalam angka signifikasi 0.008 yang lebih kecil dari 0.05.

• Dengan angka Beta sebesar 0.235 atau 23.5%, maka variabel

struktur kepemilikan yang diwakili dengan kepemilikan

institusi secara parsial menunjukkan pengaruh yang signifikan

bertanda positif terhadap harga saham. Ini mengandung makna

Page 100: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

85

bahwa setiap kenaikan kepemilikan institusi akan diikuti

dengan kenaikan harga saham.

• Hasil penelitian ini mendukung argumen konvergensi yang

dikemukakan oleh Jensen dan Meckling (1976) dimana

kepemilikan intitusi yang tinggi akan meningkatkan

pengawasan terhadap manajer, pada akhirnya mengurangi

konflik keagenan antara manajer dan pemegang saham

sehingga meningkatkan nilai perusahaan. Namun bertentangan

dengan hasil penelitian Murhadi (2008) dimana kepemilikan

saham intitusi berpengaruh negatif terhadap harga saham.

b) Pengaruh variabel tahapan daur hidup perusahaan terhadap harga

saham

• Didasarkan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar -1.753

sedangkan nilai ttabel adalah t(0.05,94) = 1.99. Nilai thitung berada di

daerah penerimaan H0 atau Ha ditolak karena nilai tersebut

lebih kecil dari nilai ttabel, (-1.753 < 1.99). Hal ini juga

tercermin dalam angka signifikasi 0.083 yang lebih besar dari

0.05.

• Maka besarnya pengaruh RETE terhadap harga saham sebesar

-0.243 atau -24.3% dianggap tidak signifikan. Artinya ada atau

tidaknya perubahan RETE tidak berdampak pada perubahan

harga saham.

Page 101: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

86

• Hal ini bertentangan dengan hasil penelitian Murhadi (2008)

dan Djumahir (2009) yang menunjukkan adanya pengaruh

yang signifikan tahapan daur hidup perusahaan terhadap harga

saham, dimana perusahaan dalam tahapan pertumbuhan

cenderung untuk tidak membagikan dividen.

c) Pengaruh variabel financial leverage terhadap harga saham

• Didasarkan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar 1.484

sedangkan nilai ttabel adalah t(0.05,94) = 1.99. Nilai thitung berada di

daerah penerimaan Ho atau Ha ditolak karena nilai tersebut

lebih kecil dari nilai ttabel (1.484 < 1.99). Hal ini juga tercermin

dalam angka signifikasi 0.141 yang lebih besar dari 0.05.

• Maka besarnya pengaruh DER terhadap harga saham sebesar

0.188 atau 18.8% dianggap tidak signifikan. Artinya ada atau

tidaknya perubahan DER tidak berdampak pada perubahan

harga saham.

• Hasil penelitian ini relevan dengan teori yang dikemukakan

oleh Lasher pada tahun 1997, menurutnya leverage

berpengaruh terhadap harga saham karena berkaitan dengan

tingkat risiko dan return atas investasi (Matriadi, 2007:236).

d) Pengaruh variabel suku bunga SBI terhadap harga saham

• Didasarkan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar -2.257

sedangkan nilai ttabel adalah t(0.05,94) = 1.99. Nilai thitung berada di

daerah penerimaan Ha atau Ho ditolak karena nilai tersebut

Page 102: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

87

lebih besar dari nilai ttabel (-2.257 > 1.99). Hal ini juga

tercermin dalam angka signifikasi 0.026 yang lebih kecil dari

0.05.

• Dengan angka Beta sebesar -0.182 atau -18.2%, maka variable

suku bunga SBI secara parsial menunjukkan pengaruh yang

signifikan bertanda negaif terhadap harga saham. Ini

mengandung makna bahwa setiap kenaikan suku bunga SBI

akan diikuti dengan penurunan harga saham, dan sebalikya.

• Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian

Wiguna dan Mendari (2008) yang menunjukkan tidak adanya

pengaruh tingkat suku bunga SBI terhadap harga saham.

e) Pengaruh variabel kebijakan dividen terhadap harga saham

• Didasarkan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar 2.354

sedangkan nilai ttabel adalah t(0.05,94) = 1.99. Nilai thitung berada di

daerah penerimaan Ha atau Ho ditolak karena nilai tersebut

lebih besar dari nilai ttabel (2.354 > 1.99). Hal ini juga tercermin

dalam angka signifikasi 0.021 yang lebih kecil dari 0.05.

• Dengan angka Beta sebesar 0.233 atau 23.3%, maka variable

kebijakan dividen secara parsial menunjukkan pengaruh yang

signifikan bertanda positif terhadap harga saham. Ini

mengandung makna bahwa setiap kenaikan dividen akan

diikuti dengan kenaikan harga saham, sebaliknya penurunan

dividen akan diikuti dengan penurunan harga saham.

Page 103: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

88

• Hal ini relevan dengan pernyataan Bajaj dan Vijh pada tahun

1990 bahwa dampak perubahan dividen terhadap harga saham

adalah besar dan dampak dari dividend yield adalah kuat pada

perusahaan kecil. Temuan ini juga mendukung teori signaling,

dan hasil penelitian yang dilakukan Murhadi (2008) dimana

kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap harga saham.

2) Melihat pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, financial leverage, suku bunga SBI, dan kebijakan

dividen terhadap harga saham secara simultan.

Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel bebas terhadap

variabel terikat secara simultan, dapat dilihat hasil perhitungan

dalam model summary berikut.

Tabel 4.7

Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)

Model Summary

Model R R Square

Adjusted R

Square

Std. Error of the

Estimate

1 .638a .407 .376 21625.124

a. Predictors: (Constant), DY, SBI, DER, IO, RETE

Sumber: Data diolah, 2010.

Besarnya angka R square (r²) adalah 0.376. Angka tersebut dapat

digunakan untuk melihat besarnya pengaruh variabel bebas terhadap

variabel terikat secara simultan dengan cara menghitung koefisien

determinasi (KD) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

KD = r² x 100% = 0.376 x 100% = 37.6%

Page 104: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

89

Angka tersebut mengartikan bahwa pengaruh variabel struktur

kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan, financial leverage,

suku bunga SBI, dan kebijakan dividen terhadap harga saham

sebesar 37.60%. Sedangkan sisanya sebesar 62.40% (100% -

37.60%) dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar model ini.

Kemudian, untuk melihat kemaknaan dari hasil model regresi

tersebut diperlukan uji hipotesis. Berikut ini adalah hasil analisis

regresi secara simultan untuk melihat pengaruh variabel-variabel

independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4.8

Uji F Regresi

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 3.018E10 5 6.036E9 12.908 .000a

Residual 4.396E10 94 4.676E8

Total 7.414E10 99

a. Predictors: (Constant), DY, SBI, DER, IO, RETE

b. Dependent Variable: CP

Sumber: Data diolah, 2010.

Hipotesisnya berbunyi sebagai berikut:

Ho : Tidak ada pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, financial leverage, suku bunga SBI, dan kebijakan

dividen secara bersama-sama terhadap harga saham.

Ha : Ada pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, financial leverage, suku bunga SBI, kebijakan

dividen secara bersama-sama terhadap harga saham.

Page 105: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

90

Pengujian dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan

membandingkan besarnya angka Fhitung dengan Ftabel. Cara kedua

adalah membandingkan angka taraf signifikasi (sig) hasil

perhitungan dengan taraf signifikansi 0.05 (5%).

a) Membandingkan besarnya angka Fhitung dengan Ftabel

Berdasarkan perhitungan analysis of variance/ANOVA (lihat

tabel 4.7) diperoleh nilai Fhitung sebesar 12.908 sedangkan nilai

Ftabel (pada tingkat signifikansi 5% dengan df1 = 5, df2 = 94)

dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 adalah f(0.05,5,94) =

2.31.

Nilai Fhitung berada di daerah penerimaan Ha atau Ho ditolak

karena nilai tersebut lebih besar dari nilai Ftabel (12.908 > 2.31).

Ini berarti bahwa struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, financial leverage, suku bunga SBI, dan kebijakan

dividen secara simultan mempengaruhi harga saham.

b) Membandingkan nilai taraf signifikansi (sig) penelitian dengan

taraf signifikansi sebesar 0.05.

Berdasarkan hasil penghitungan analysis of variance/ANOVA

(lihat tabel 4.7), nilai taraf signifikasi penelitian sebesar 0.000

lebih kecil dari taraf signifikasi 5% (0.000 < 0.05), maka nilai

taraf signifikansi penelitian berada di daerah penerimaan Ha atau

Ho di tolak. Ini berarti bahwa struktur kepemilikan, tahapan daur

Page 106: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

91

hidup perusahaan, financial leverage, suku bunga SBI, dan

kebijakan dividen secara simultan mempengaruhi harga saham.

Rangkuman seluruh pengujian pengaruh antar variabel eksogen dan

endogen dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.9

Hasil Pengujian Pengaruh antar Variabel Eksogen dan Endogen

Pengaruh Variabel Estimasi Probabilitas Kesimpulan

Endogen: Kebijakan Dividen (DY)

Struktur Kepemilikan (IO) 0.263 0.003 Signifikan

Tahapan Daur Hidup (RETE) -0.647 0.000 Signifikan

Financial Leverage (DER) -0.276 0.034 Signifikan

Suku Bunga SBI (SBI) 0.106 0.205 Tidak Signifikan

Endogen: Harga Saham (CP)

Struktur Kepemilikan (IO) 0.235 0.008 Signifikan

Tahapan Daur Hidup (RETE) -0.243 0.083 Tidak Signifikan

Financial Leverage (DER) 0.188 0.141 Tidak Signifikan

Suku Bunga SBI (SBI) -0.182 0.026 Signifikan

Kebijakan Dividen (DY) 0.233 0.021 Signifikan

Sumber: Data diolah, 2010.

Dari hasil penghitungan tersebut, seluruh koefisien pengaruh antar

variabel dapat digambarkan dalam diagram jalur sebagai berikut.

(Sumber : data diolah)

Gambar 4.8

Diagram Jalur

Kebijakan

Deviden

Harga

Saham

Struktur Kepemilikan

Tahapan Daur Hidup

Suku Bunga SBI

Financial Leverage

Є1 0.673Є2 0.624

-0.078-0.130

-0.035 -0.741

0.029 -0.070

0.233

0.106

-0.276

-0.647

0.263

0.188

-0.182

0.235

-0.243

Page 107: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

92

Dalam model tersebut masih terdapat pengaruh antar variabel yang

tidak signifikan. Selanjutnya dilakukan analisis jalur model trimming.

Yaitu model yang digunakan untuk memperbaiki suatu model struktur bila

koefisien betanya (eksogen) tidak signifikan. Dalam hal ini peneliti

menghilangkan salah satu jalur (panah) yang memiliki koefisien betanya

tidak signifikan dan yang memiliki probabilitas terbesar.

Trimming pada model I, jalur suku bunga SBI (SBI) pada kebijakan

dividen (DY) dihilangkan karena memiliki probabilitas 0.205 > 0.05 (tidak

signifikan). Modifikasi pada model analisis jalur tersebut diperoleh indeks

kesesuaian model yang cukup baik. Begitu juga trimming pada model

analisis jalur II dengan menghilangkan jalur financial leverage (DER)

pada harga saham (CP)—karena memiliki koefisien yang tidak signifikan

dan probabilitas terbesar 0.141 > 0.05, maka diperoleh indeks kesesuaian

model yang cukup baik.

Dikarenakan terjadi trimming bagi jalur yang tidak signifikan, maka

dari itu penelitian selanjutnya bertujuan sebagai berikut.

1. Untuk menganalisis pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, dan financial leverage pada kebijakan dividen.

2. Untuk menganalisis pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, suku bunga SBI dan kebijakan dividen pada harga saham.

3. Analisis Jalur Setelah Trimming

Analisis jalur setelah trimming terdiri dua substruktur. Substruktur

pertama menganalisis pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

Page 108: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

93

perusahaan, dan financial leverage sebagai variabel eksogen terhadap

kebijakan dividen sebagai variabel endogen. Substruktur kedua

menganalisis pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, suku bunga SBI, dan kebijakan dividen sebagai variabel

eksogen terhadap harga saham sebagai variabel endogen. Untuk lebih

komunikatif berikut diagram jalur dalam analisis ini.

Gambar 4.9

Diagram Jalur

a. Analisis jalur pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, dan financial leverage terhadap kebijakan dividen.

Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel bebas terhadap

variabel terikat secara parsial dan simultan, dapat dilihat hasil

perhitungan SPSS 17.0 berikut.

Tabel 4.10

Uji t Regresi

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig. B Std. Error Beta

1 (Constant) .030 .011 2.730 .008

IO .037 .012 .257 2.973 .004

RETE -.074 .014 -.654 -5.127 .000

DER -.009 .004 -.290 -2.259 .026

a. Dependent Variable: DY Sumber: Data diolah, 2010.

Kebijakan

Dividen

Harga

Saham

Struktur Kepemilikan

Tahapan Daur Hidup

Suku Bunga SBI

Financial Leverage

Page 109: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

94

1) Pengaruh variabel struktur kepemilikan terhadap kebijakan dividen.

Hasil perhitungan menunjukkan angka signifikansi 0.004 < 0.05,

maka telah cukup data untuk menerima Ha dan menolak Ho.

Artinya, ada hubungan linier antara variabel struktur kepemilikan

dengan kebijakan dividen. Besarnya pengaruh variabel struktur

kepemilikan terhadap kebijakan dividen adalah 25.7%.

Struktur kepemilikan yang diwakili Institutional Ownership (IO)

memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kebijakan

dividen (DY). Artinya, apabila terjadi kenaikan IO maka akan diikuti

dengan kenaikan DY, sebaliknya ketika terjadi penurunan IO maka

DY akan mengalami penurunan.

Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Shleifer dan

Vishny (1986) dimana kepemilikan institusi akan dapat membantu

memecahkan masalah keagenan tipe I melalui pengawasan terhadap

manajemen (Murhadi, 2008: 7), namun bertentangan dengan

penelitian Dewi (2008) yang menunjukkan pengaruh negatif variabel

kepemilikan institusi terhadap kebijakan dividen dengan arah

negatif, dan penelitian Djumahir (2009) yang menunjukkan tidak

adanya pengaruh kepemilikan institusi terhadap kebijakan dividen.

2) Pengaruh variabel tahapan daur hidup perusahaan terhadap kebijakan

dividen.

Hasil perhitungan menunjukkan angka signifikasi 0.000 < 0.05,

maka telah cukup data untuk menerima Ha dan menolak Ho.

Page 110: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

95

Artinya, terdapat pengaruh variabel tahapan daur hidup perusahaan

terhadap variabel kebijakan dividen. Besarnya pengaruh variabel

tahapan daur hidup perusahaan terhadap kebijakan dividen adalah -

65.4%.

Tahapan daur hidup perusahaan yang diwakili retained

earnings/total equity (RETE) memiliki pengaruh yang negatif dan

signifikan terhadap kebijakan dividen (DY). Artinya, apabila terjadi

kenaikan RETE maka DY akan mengalami penurunan, begitu juga

sebaliknya.

Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Magginson

(1997) yang menyatakan bahwa perusahaan yang berada dalam

industri yang growth cenderung untuk membayarkan lebih sedikit

dividen. Hasil ini juga konsisten dengan penelitian Murhadi (2008)

bahwa tahapan daur hidup perusahaan berpengaruh terhadap

penentuan kebijakan dividen, dimana perusahaan dalam tahapan

pertumbuhan cenderung untuk tidak membagikan dividen. Namun

bertentangan dengan penelitian Djumahir (2009) yang menunjukkan

pengaruh dengan arah positif.

3) Pengaruh variabel financial leverage terhadap kebijakan dividen.

Hasil perhitungan menunjukkan angka signifikasi 0.026 < 0.05,

maka telah cukup data untuk menerima Ha dan menolak Ho.

Artinya, ada hubungan linier antara variabel financial leverage

Page 111: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

96

dengan kebijakan dividen. Besarnya pengaruh variabel financial

leverage terhadap kebijakan dividen adalah -29.0%.

Financial leverage (DER) memiliki pengaruh yang negatif dan

signifikan terhadap kebijakan dividen (DY). Artinya, apabila terjadi

kenaikan DER maka DY akan mengalami penurunan, begitu juga

sebaliknya. Hasil penelitian ini mendukung pandangan Sutrisno

(2001: 304) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya

deviden yang akan dibayarkan oleh perusahaan kepada pemegang

saham dimana semakin banyak hutang yang harus dibayar, semakin

besar dana yang harus disediakan sehingga akan mengurangi jumlah

dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham.

Tabel 4.11

Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)

Model Summary

Model R R Square

Adjusted R

Square

Std. Error of the

Estimate

1 .586a .343 .322 .02382634

a. Predictors: (Constant), DER, IO, RETE

Sumber: Data diolah, 2010.

Besarnya pengaruh variabel struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, dan financial leverage terhadap kebijakan dividen adalah

32.2%, sedangkan sisanya sebesar 67.8% (100% - 32.2%) dipengaruhi

oleh faktor lain.

Page 112: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

97

Tabel 4.12

Uji F Regresi

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression .028 3 .009 16.700 .000a

Residual .054 96 .001

Total .083 99

a. Predictors: (Constant), DER, IO, RETE

b. Dependent Variable: DY

Sumber: Data diolah, 2010.

Dengan nilai Fhitung > Ftabel (16.700 > 2.47) dan angka signifikansi

0.000 < 0.05 menunjukkan bahwa variabel independen secara simultan

berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

b. Analisis jalur pengaruh struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, suku bunga SBI dan kebijakan dividen terhadap

harga saham

Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel bebas terhadap

variabel terikat secara parsial dan simultan, dapat dilihat hasil

perhitungan SPSS 17.0 berikut.

Tabel 4.13

Uji t Regresi

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

t Sig. B Std. Error Beta

1 (Constant) 12962.221 12721.628 1.019 .311

IO 28530.541 11734.288 .209 2.431 .017

RETE -42639.854 9725.303 -.398 -4.384 .000

SBI -2807089.755 1207379.346 -.188 -2.325 .022

DY 190019.074 91801.357 .201 2.070 .041

a. Dependent Variable: CP

Sumber: Data diolah, 2010.

Page 113: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

98

1) Pengaruh variabel struktur kepemilikan terhadap harga saham

Hasil perhitungan menunjukkan angka signifikansi 0.017 < 0.05,

maka telah cukup data untuk menerima Ha dan menolak Ho.

Artinya, ada hubungan linier antara variabel struktur kepemilikan

dengan harga saham. Besarnya pengaruh variabel struktur

kepemilikan terhadap harga saham adalah 20.1%.

Struktur kepemilikan (IO) memiliki pengaruh yang positif dan

signifikan terhadap harga saham (CP). Hal ini berarti bahwa

kepemilikan institusi (IO) yang tinggi akan berdampak pada

kenaikan harga saham (CP). Temuan ini juga mendukung argumen

konvergensi dari Jensen dan Meckling (1976) yang menyatakan

bahwa kepemilikan institusi yang tinggi akan berdampak pada

peningkatan kemampuan pengawasan sehingga akan mengurangi

masalah keagenan antara manajer dan pemegang saham. Secara tidak

langsung hasil penelitian ini kurang mendukung argument

entrenchment yang dikemukakan oleh Morck, Shleifer, dan Vishny

(1988), serta hasil penelitian Murhadi (2008) yang menyatakan

bahwa kepemilikan institusi (IO) memiliki pengaruh negatif terhadap

harga saham.

2) Pengaruh variabel tahapan daur hidup perusahaan terhadap harga

saham

Hasil perhitungan menunjukkan angka signifikansi 0.000 < 0.05,

maka telah cukup data untuk menerima Ha dan menolak Ho.

Page 114: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

99

Artinya, ada pengaruh yang signifikan variabel tahapan daur hidup

perusahaan dengan harga saham. Besarnya pengaruh variabel

tahapan daur hidup perusahaan terhadap harga saham adalah -39.8%.

Tahapan daur hidup perusahaan (RETE) memiliki pengaruh

yang negatif dan signifikan terhadap harga saham (CP). Artinya,

perusahaan dengan RETE yang tinggi akan berdampak pada

penurunan harga saham (CP). Temuan ini mendukung penelitian

Murhadi (2008) dimana tahapan daur hidup perusahaan berpengaruh

terhadap harga saham, dimana perusahaan dengan RETE tinggi akan

memiliki pergerakan harga saham yang rendah, dan bertentangan

dengan penelitian Djumahir (2009) yang menunjukkan pengaruh

secara positif variabel tahapan daur hidup perusahaan terhadap

kebijakan dividen.

3) Pengaruh variabel suku bunga SBI terhadap harga saham

Hasil perhitungan menunjukkan angka signifikansi 0.022 < 0.05,

maka telah cukup data untuk menerima Ha dan menolak Ho.

Artinya, ada pengaruh yang signifikan variabel suku bunga SBI

terhadap harga saham. Besarnya pengaruh variabel suku bunga SBI

terhadap harga saham adalah -18.8%.

Suku bunga SBI memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan

terhadap harga saham (CP). Artinya, tingkat suku bunga SBI yang

tinggi akan berdampak pada penurunan harga saham, begitu juga

sebaliknnya. Temuan ini mendukung teori yang dikemukakan oleh

Page 115: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

100

Martin J. Pring (1988) tentang terdapatnya pengaruh suku bunga

terhadap tingkat saham, dan konsisten dengan pandangan yang

menyatakan bahwa tingkat bunga memiliki pengaruh terhadap harga

saham, seperti Fischer dan Jordan (1995) dalam Wiguna (2008),

Bolten dan Weigand (1998) dalam Wiguna (2008), Vinocur (1998)

dalam Wiguna (2008). Pada sisi lain, temuan ini kurang mendukung

penelitian Wiguna (2008) atas perusahaan LQ-45 yang menunjukkan

bahwa tidak adanya pengaruh tingkat suku bunga SBI terhadap harga

saham.

4) Pengaruh variabel kebijakan dividen terhadap harga saham

Hasil perhitungan menunjukkan angka signifikansi 0.041 < 0.05,

maka telah cukup data untuk menerima Ha dan menolak Ho.

Artinya, ada hubungan linier kebijakan dividen dengan harga saham.

Besarnya pengaruh variabel kebijakan dividen terhadap harga saham

adalah 20.1%.

Kebijakan dividen memiliki pengaruh yang positif dan

signifikan terhadap harga saham (CP). Artinya, pembayaran dividen

yang tinggi cenderung meningkatkan harga saham, begitu juga

sebaliknnya.

Didasarkan perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar 2.354

sedangkan nilai ttabel adalah t(0.05,94) = 1.99. Nilai thitung berada di

daerah penerimaan Ha atau Ho ditolak karena nilai tersebut lebih

besar dari nilai ttabel (2.354 > 1.99). Hal ini juga tercermin dalam

Page 116: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

101

angka signifikasi 0.021 yang lebih kecil dari 0.05. Hal ini relevan

dengan pernyataan Bajaj dan Vijh pada tahun 1990 bahwa dampak

perubahan dividen terhadap harga saham adalah besar dan dampak

dari dividend yield adalah kuat pada perusahaan kecil. Temuan

penelitian ini juga menunjukkan dukungan pada teori signaling,

seperti halnya hasil penelitian yang dilakukan Murhadi (2008)

dimana kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap harga saham.

Tabel 4.14

Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)

Model Summary

Model R R Square

Adjusted R

Square

Std. Error of the

Estimate

1 .627a .393 .368 21761.445

a. Predictors: (Constant), DY, SBI, IO, RETE

Sumber: output SPSS 17.0

Besarnya pengaruh variabel struktur kepemilikan, tahapan daur hidup

perusahaan, suku bunga SBI, dan kebijakan dividen terhadap harga saham

adalah 36.8%, sedangkan sisanya sebesar 63.2% (100% - 36.8%)

dipengaruhi oleh faktor lain.

Tabel 4.15

Uji F Regresi

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 2.915E10 4 7.288E9 15.390 .000a

Residual 4.499E10 95 4.736E8

Total 7.414E10 99

a. Predictors: (Constant), DY, SBI, IO, RETE

b. Dependent Variable: CP

Sumber: output SPSS 17.0

Page 117: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

102

Dengan nilai Fhitung > Ftabel (15.390 > 2.31) dan angka signifikansi

0.000 < 0.05 menunjukkan bahwa variabel independen secara simultan

berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

Rangkuman seluruh pengujian pengaruh antar variabel eksogen dan

endogen dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.16

Hasil Pengujian Pengaruh antar Variabel Eksogen dan

Endogensetelah Trimming

Pengaruh Variabel Estimasi Probabilitas Kesimpulan

Endogen: Kebijakan Dividen (DY)

Struktur Kepemilikan (IO) 0.257 0.004 Signifikan

Tahapan Daur Hidup (RETE) -0.654 0.000 Signifikan

Financial Leverage (DER) -0.290 0.026 Signifikan

Endogen: Harga Saham (CP)

Struktur Kepemilikan (IO) 0.209 0.017 Signifikan

Tahapan Daur Hidup (RETE) -0.398 0.000 Signifikan

Suku Bunga SBI (SBI) -0.188 0.022 Signifikan

Kebijakan Dividen (DY) 0.201 0.041 Signifikan

Sumber: Data diolah, 2010.

Dari hasil penghitungan tersebut, seluruh koefisien pengaruh antar

variabel dapat digambarkan dalam diagram jalur seperti terlihat pada

gambar 4.9 berikut.

(Sumber : data diolah)

Gambar 4.10

Diagram Jalur setelah Trimming

Kebijakan

Deviden

Harga

Saham

Struktur Kepemilikan

Tahapan Daur Hidup

Suku Bunga SBI

Financial Leverage

Є1 0.678Є2 0.632

-0.078-0.130

-0.035 -0.741

0.029 -0.070

0.201

-0.290

-0.654

0.257

0.188

0.209

-0.398

Page 118: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

103

Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disusun persamaan path

analysis setelah trimming sebagai berikut.

1. Persamaan Substruktur I

DY = 0.257 IO – 0.654 RETE – 0.290 DER + 0.678 �� ; R square =

0.322

2. Persamaan Substruktur II

CP = 0.209 IO – 0.398 RETE – 0.188 SBI + 0.201 DY + 0.632 �� ; R

square = 0.368

c. Penghitungan Pengaruh

Untuk menghitung pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung,

dan pengaruh total, digunakan formula berikut.

1) Pengaruh langsung (direct effect)

b) Pengaruh struktur kepemilikan (IO) terhadap kebijakan dividen

(DY)

X1 → Y1 = 0.257

c) Pengaruh tahapan daur hidup perusahaan (RETE) terhadap

kebijakan dividen (DY)

X2 → Y1 = -0.654

d) Pengaruh financial leverage (DER) terhadap kebijakan dividen

(DY)

X3 → Y1 = -0.290

e) Pengaruh struktur kepemilikan (IO) terhadap harga saham (CP)

X1 → Y2 = 0.209

Page 119: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

104

f) Pengaruh tahapan daur hidup perusahaan (RETE) terhadap harga

saham (CP)

X2 → Y2 = -0.398

g) Pengaruh suku bunga SBI terhadap harga saham (CP)

X4 → Y2 = -0.188

h) Pengaruh kebijakan dividen (DY) terhadap harga saham (CP)

Y1 → Y2 = 0.201

2) Pengaruh tidak langsung (indirect effect)

a) Pengaruh struktur kepemilikan (IO) terhadap harga saham (CP)

melalui kebijakan dividen (DY)

X1 → Y1 → Y2 = 0.257 x 0.201 = 0.052

b) Pengaruh tahapan daur hidup perusahaan (RETE) terhadap harga

saham (CP) melalui kebijakan dividen (DY)

X2 → Y1 → Y2 = -0.654 x 0.201 = -0.131

c) Pengaruh financial leverage (DER) terhadap harga saham (CP)

melalui kebijakan dividen (DY)

X3 → Y1 → Y2 = -0.290 x 0.201 = -0.058

3) Pengaruh total (total effect)

a) Pengaruh struktur kepemilikan (IO) terhadap kebijakan dividen

(DY); X1 → Y1 = 0.257

b) Pengaruh tahapan daur hidup perusahaan (RETE) terhadap

kebijakan dividen (DY); X2 → Y1 = -0.654

Page 120: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

105

c) Pengaruh financial leverage (DER) terhadap kebijakan dividen

(DY); X3 → Y1 = -0.290

d) Pengaruh variabel struktur kepemilikan (IO) terhadap harga

saham (CP); X1 → Y1 → Y2 = 0.209 + 0.052 = 0.261

e) Pengaruh variabel tahapan daur hidup perusahaan (RETE)

terhadap harga saham (CP); X2 → Y1 → Y2 = -0.398 x -0.131 = -

0.529

f) Pengaruh variabel financial leverage (DER) terhadap harga

saham (CP); X3 → Y1 → Y2 = -0.188 + -0.058 = -0.246

g) Pengaruh variabel kebijakan dividen (DY) terhadap harga saham

(CP); Y1 → Y2 = 0.201

Tabel 4.17

Koefisien Pengaruh Langsung, Tidak Langsung, dan Total tentang

Struktur Kepemilikan (IO), Tahapan Daur Hidup Perusahaan

(RETE), Financial Leverage (DER), Suku Bunga SBI, Kebijakan

Dividen (DY), dan Harga Saham (CP)

Pengaruh Variabel Pengaruh

Langsung

Pengaruh

Tidak

Langsung

Pengaruh

Total

IO → DY 0.257 - 0.257

RETE → DY -0.654 - -0.654

DER → DY -0.290 - -0.290

SBI → DY - - -

IO → CP 0.209 0.052 0.261

RETE → CP -0.398 -0.131 -0.529

DER → CP - -0.058 -0.058

SBI → CP -0.188 - -0.188

DY → CP 0.201 - 0.201

Sumber: Data diolah, 2010.

Page 121: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

106

C. Interpretasi Hasil

1. Persamaan Substruktur I

DY = 0.257 IO – 0.654 RETE – 0.290 DER + 0.678 �� ; R square =

0.322

Hasil pengujian secara simultan, diketahui variabel struktur

kepemilikan (IO), tahapan daur hidup perusahaan (RETE), dan financial

leverage berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen (DY) pada

perusahaan manufaktur.

Hasil pengujian secara parsial, diketahui variabel struktur kepemilikan

(IO) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kebijakan

dividen (DY) pada perusahaan manufaktur. Artinya, apabila terjadi

kenaikan IO maka akan diikuti dengan kenaikan DY, sebaliknya ketika

terjadi penurunan IO maka DY akan mengalami penurunan. Institusi

merupakan profesional yang memiliki kemampuan dalam mengevaluasi

kinerja perusahaan, kepemilikan institusi yang tinggi akan mendorong

pengawasan terhadap manajemen yang lebih efektif , kondisi ini tentunya

dapat memecahkan masalah keagenan antara pihak manajemen dan

pemegang saham. Hal ini sesuai dengan teori yang di kemukakan oleh

Shleifer dan Vishny (1986) dimana kepemilikan institusi akan dapat

membantu memecahkan masalah keagenan tipe I melalui pengawasan

terhadap manajemen (Murhadi, 2008: 7), namun bertentangan dengan

penelitian Dewi (2008) yang menunjukkan pengaruh variabel kepemilikan

institusi yang negatif terhadap kebijakan dividen, dan penelitian Djumahir

Page 122: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

107

(2009) yang menunjukkan tidak adanya pengaruh kepemilikan institusi

terhadap kebijakan dividen.

Sedangkan variabel tahapan daur hidup perusahaan memiliki

pengaruh yang negatif dan signifikan secara parsial terhadap kebijakan

dividen (DY), dimana kenaikan RETE menyebabkan penurunan pada DY,

dan sebaliknya penurunan RETE menyebabkan kenaikan pada DY.

Artinya, tahapan daur hidup perusahaan berpengaruh terhadap penentuan

kebijakan dividen, dimana perusahaan manufaktur yang berada dalam

tahapan pertumbuhan cenderung untuk tidak membagikan dividen. Hal ini

sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Magginson (1997) yang

menyatakan bahwa perusahaan yang berada dalam industri yang growth

cenderung untuk membayarkan lebih sedikit dividen. Hasil penelitian ini

juga mendukung penelitian Murhadi (2008), namun tidak konsisten

dengan penelitian Djumahir (2009) yang menunjukkan pengaruh dengan

arah positif.

Variabel financial leverage (DER) juga memiliki pengaruh yang

negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen (DY), dimana apabila

terjadi kenaikan DER maka DY akan mengalami penurunan, begitu juga

sebaliknya. Artinya semakin banyak hutang yang harus dibayar, semakin

besar dana yang harus disediakan sehingga akan mengurangi jumlah

dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham. Hasil penelitian ini

mendukung pandangan Sutrisno (2001: 304) tentang kebutuhan untuk

Page 123: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

108

melunasi hutang sebagai faktor yang mempengaruhi besar kecilnya

deviden yang akan dibayarkan oleh perusahaan kepada pemegang saham.

2. Persamaan Substruktur II

CP = 0.209 IO – 0.398 RETE – 0.188 SBI + 0.201 DY + 0.632 �� ; R

square = 0.368

Hasil pengujian secara simultan, diketahui variabel struktur

kepemilikan (IO), tahapan daur hidup perusahaan (RETE), dan suku bunga

SBI berpengaruh signifikan terhadap harga saham (CP) pada perusahaan

manufaktur.

Hasil pengujian secara parsial, diketahui variabel struktur kepemilikan

(IO) dan variabel kebijakan dividen memiliki pengaruh yang positif dan

signifikan terhadap harga saham, sedangkan variabel tahapan daur hidup

perusahaan (RETE) dan variabel suku bunga SBI memiliki pengaruh yang

negatif dan signifikan terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur.

Struktur kepemilikan (IO) memiliki pengaruh yang positif dan

signifikan terhadap harga saham (CP). Hal ini berarti bahwa kepemilikan

institusi (IO) yang tinggi akan berdampak pada kenaikan harga saham

(CP). Temuan ini juga mendukung argumen konvergensi dari Jensen dan

Meckling (1976) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusi yang

tinggi akan berdampak pada peningkatan kemampuan pengawasan

sehingga akan mengurangi masalah keagenan antara manajer dan

pemegang saham. Secara tidak langsung hasil penelitian ini kurang

mendukung argument entrenchment yang dikemukakan oleh Morck,

Page 124: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

109

Shleifer, dan Vishny (1988), serta hasil penelitian Murhadi (2008) yang

menyatakan bahwa kepemilikan institusi (IO) memiliki pengaruh negatif

terhadap harga saham.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya pengaruh variabel

kebijakan dividen (DY) yang positif dan signifikan terhadap harga saham,

dimana kenaikan DY akan diikuti dengan kenaikan harga saham, begitu

juga sebaliknya penurunan DY akan diikuti dengan penurunan harga

saham. Hal ini relevan dengan pernyataan Bajaj dan Vijh pada tahun 1990

bahwa dampak perubahan dividen terhadap harga saham adalah besar dan

dampak dari dividend yield adalah kuat pada perusahaan kecil. Temuan

penelitian ini juga menunjukkan dukungan pada teori signaling, seperti

halnya hasil penelitian yang dilakukan Murhadi (2008) dimana kebijakan

dividen berpengaruh positif terhadap harga saham. Berdasarkan pada

penelitian ini, kebijakan dividen memiliki kandugan informasi yang

berguna bagi investor. Hal ini berdampak pada perusahaan yang

membagikan dividen, memberikan tanda pada pasar bahwa perusahaan

tersebut memiliki kemampulabaan yang tinggi dan prospek ke depan yang

cerah, yang mampu mempertahankan tingkat kebijakan pembayaran

dividennya. Perusahaan dengan prospek ke depan yang cerah akan

memiliki harga saham yang semakin tinggi.

Sedangkan variabel tahapan daur hidup perusahaan (RETE) memiliki

pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap harga saham (CP). Artinya,

perusahaan dengan RETE yang tinggi akan berdampak pada penurunan

Page 125: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

110

harga saham (CP). Perusahaan yang berada pada tahapan matang (mature)

cenderung memiliki kesempatan berkembang yang terbatas sehingga

pergerakan sahamnya relatif stabil. Temuan ini mendukung penelitian

Murhadi (2008) dimana tahapan daur hidup perusahaan berpengaruh

terhadap harga saham, dimana perusahaan dengan RETE tinggi akan

memiliki pergerakan harga saham yang rendah, namun bertentangan

dengan penelitian Djumahir (2009) yang menunjukkan pengaruh secara

positif variabel tahapan daur hidup perusahaan terhadap kebijakan dividen.

Hasil penelitian juga menunjukkan adanya pengaruh variabel suku

bunga SBI yang negatif dan signifikan terhadap harga saham pada

perusahaan manufaktur. Suku bunga SBI memiliki pengaruh yang negatif

dan signifikan terhadap harga saham (CP). Artinya, tingkat suku bunga

SBI yang tinggi akan berdampak pada penurunan harga saham, begitu juga

sebaliknnya. Temuan ini mendukung teori yang dikemukakan oleh Martin

J. Pring (1988) tentang terdapatnya pengaruh suku bunga terhadap tingkat

saham, dan konsisten dengan pandangan yang menyatakan bahwa tingkat

bunga memiliki pengaruh terhadap harga saham, seperti Fischer dan

Jordan (1995) dalam Wiguna (2008), Bolten dan Weigand (1998) dalam

Wiguna (2008), Vinocur (1998) dalam Wiguna (2008). Financial leverage

perusahaan menggambarkan earning yang diperoleh oleh investor, namun

hutang yang tinggi dapat menimbulkan risiko yang besar apabila

perusahaan tidak dapat melunasinya. Pada saat tingkat suku bunga bank

tinggi, perusahaan yang memiliki hutang yang besar cenderung dihindari

Page 126: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

111

oleh investor, akibatnya permintaan terhadap saham rendah dan akhirnya

berpengaruh terhadap penurunan harga saham. Pada sisi lain, temuan ini

kurang mendukung penelitian Wiguna (2008) atas perusahaan LQ-45 yang

menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh tingkat suku bunga SBI

terhadap harga saham.

3. Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung

Struktur kepemilikan (IO) berpengaruh langsung terhadap harga

saham sebesar 0.209 dan berpengaruh tidak langsung sebesar = 0.257 x

0.201 = 0.052. Pengaruh total dari struktur kepemilikan terhadap harga

saham adalah 0.209 + 0.052 = 0.261. Hal ini berarti bahwa kepemilikan

institusi yang tinggi akan berdampak pada kenaikan harga saham. Temuan

ini mendukung argumen konvergensi dari Jensen dan Meckling (1976)

yang menyatakan bahwa kepemilikan institusi yang tinggi akan berdampak

pada kemampuan pengawasan sehingga akan mengurangi masalah

keagenan antara manajer dan pemegang saham. Sebaliknya temuan ini

tidak mendukung argumen entrenchment yang dikemukakan oleh Morck

(1988) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusi yang tinggi akan

berdampak pada voting power yang dapat merugikan kepentingan

pemegang saham minoritas sehingga berdampak pada penurunan harga

saham.

Tahapan daur hidup perusahaan (RETE) berpengaruh langsung

terhadap harga saham sebesar -0.398, dan berpengaruh tidak langsung

sebesar = -0.654 x 0.201 = -0.131. Pengaruh total dari tahapan daur hidup

Page 127: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

112

perusahaan terhadap harga saham adalah -0.529. Hal ini sesuai dengan

penelitian Murhadi (2008) dimana semakin tinggi RETE (perusahaan

berada pada tahap daur hidup matang) maka akan berdampak pada

penurunan harga saham. Sedangkan perusahaan pada tahapan

pertumbuhan justru menunjukkan peningkatan harga saham.

Pengaruh langsung dari Financial leverage (DER) terhadap harga

saham tidak terbukti signifikan. Hal ini berarti kondisi struktur hutang

(financial leverage) yang dimiliki perusahaan tidak berdampak langsung

pada harga saham. Hasil ini bertentangan dengan hasil penelitian Matriadi

(2007) yang menunjukkan bahwa financial leverage berpengaruh negatif

terhadap harga saham karena semakin tinggi financial leverage

mengindikasikan tingginya risiko keuangan perusahaan yang

mengakibatkan perusahaan berada pada posisi default dan financial

distress. Keadaan ini menjadikan investor menghindar berinvestasi pada

saham tersebut, akibatnya harga saham akan berubah kearah yang negative

atau turun. Namun dalam penelitian ini diperole hasil bahwa financial

leverage memiliki pengaruh tidak langsung terhadap harga saham melalui

kebijakan dividen sebesar = -0.290 x 0.201 = -0.058. Hal ini dapat

dijelaskan bahwa financial leverage yang besar akan berpengaruh pada

penurunan dividen yang dibagikan sehingga berdampak pada penurunan

harga saham. Temuan ini sesuai dengan pandangan Murhadi (2008: 12)

yang menyatakan bahwa dalam kondisi pasar modal di Indonesia terdapat

kecenderungan investor publik lebih menyukai dividen, sehingga kenaikan

Page 128: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

113

(penurunan) dividen akan direspon publik berupa kenaikan (penurunan)

harga saham perusahaan tersebut.

Suku bunga SBI memiliki pengaruh langsung terhadap harga saham

sebesar -0.188. Hal ini berarti bahwa pada saat suku bunga SBI tinggi,

perusahaan yang memiliki hutang yang besar cenderung dihindari oleh

investor sehingga permintaan terhadap saham rendah dan berpengaruh

terhadap penurunan harga saham. Temuan ini sesuai dengan teori yang

dikemukakan oleh J. Pring (1988) tentang terdapatnya pengaruh suku

bunga terhadap tingkat saham, dan konsisten dengan pandangan yang

menyatakan bahwa tingkat bunga memiliki pengaruh terhadap harga

saham, seperti Fischer dan Jordan (1995) dalam Wiguna (2008), Bolten

dan Weigand (1998) dalam Wiguna (2008), Vinocur (1998) dalam Wiguna

(2008). Pengaruh tidak langsung dari suku bunga SBI terhadap harga

saham melalui kebijakan dividen adalah tidak signifikan. Sehingga

pengaruh total suku bunga SBI terhadap harga saham adalah -0.188.

Page 129: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

114

BAB V

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil pengujian pada substruktur I diketahui variabel Struktur

Kepemilikan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap

Kebijakan Dividen, sedangkan variabel Tahapan Daur Hidup

Perusahaan dan variabel Financial Leverage memiliki pengaruh yang

negatif dan signifikan terhadap Kebijakan Dividen pada perusahaan

manufaktur.

2. Hasil pengujian pada substruktur II diketahui variabel Struktur

Kepemilikan dan variabel Kebijakan Dividen memiliki pengaruh yang

positif dan signifikan terhadap Harga Saham, sedangkan variabel

Tahapan Daur Hidup Perusahaan dan variabel Suku Bunga SBI

memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap Harga Saham

pada perusahaan manufaktur.

3. Hasil penghitungan pengaruh langsung dan tidak langsung diketahui

bahwa faktor yang berpengaruh langsung dan signifikan terhadap

harga saham adalah Struktur Kepemilikan, Tahapan Daur Hidup

Perusahaan, dan Suku Bunga SBI. Sedangkan faktor yang

berpengaruh tidak langsung dan signifikan terhadap harga saham

Page 130: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

115

adalah struktur kepemilikan, tahapan daur hidup perusahaan, dan

Financial Leverage.

B. Implikasi

Berkaitan dengan implikasi pada penelitian ini, peneliti menganalisis dua

variabel eksogen yaitu Kebijakan Dividen dan Harga Saham terhadap

variabel endogen yaitu Struktur Kepemilikan (Institutional Ownership / IO),

Tahapan Daur Hidup Perusahaan (Retained Earnings on Total Equity /

RETE), Financial Leverage (Debt to Equity Ratio / DER), dan Suku Bunga

SBI pada perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Indonesia

(BEI) pada periode 2005 sampai dengan 2009.

Penelitian ini memberikan implikasi bagi akademis sebagai bahan acuan

atau referensi dalam memahami kebijakan dividen dan harga saham, serta

faktor-faktor yang mempengaruhinya pada suatu investasi. Penelitian ini juga

dapat mencerminkan dan memperkaya informasi ilmiah mengenai kebijakan

dividen dan harga saham.

Bagi investor, pertimbangan mengenai kebijakan dividen dan harga

saham, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya menjadi penting sebelum

melakukan atau membuat kebijakan investasi. Begitu juga bagi perusahaan

itu sendiri sebagai pertimbangan dan masukan dalam pengelolaan perusahaan,

sehingga tercapai kinerja yang optimal.

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan penelitian ini

dapat membuka peluang bagi penelitian lanjutan di masa yang akan datang.

Page 131: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

116

Agar dapat memperoleh gambaran yang lebih mendalam serta komprehensif,

berikut keterbatasan dan saran penulis bagi penelitian selanjutnya.

1. Penelitian yang relatif pendek yaitu hanya 5 tahun (2005-2009), yang

mengakibatkan hasil yang kurang mendalam dan memuaskan. Untuk

penelitian selanjutnya dapat menggunakan periode penelitian yang lebih

panjang agar memperoleh hasil yang lebih baik.

2. Penelitian ini hanya menggunakan sampel pada perusahaan-perusahaan

manufaktur dengan teknik purposive sampling, menurut Neuman (2003)

teknik ini memiliki keterbatasan dalam menggeneralisir temuan penelitian.

Penelitian selanjutnya dapat menggunakan sampel penelitian yang lebih

banyak agar diperoleh hasil penelitian yang lebih akurat dan dapat

digunakan sebagai dasar generalisasi.

3. Koefisien determinasi dalam penelitian ini berkisar 32% untuk substruktur

I dan 37% untuk substruktur II. Hal ini menunjukkan adanya faktor lain

yang mungkin belum masuk dalam penelitian ini. Penelitian selanjutnya

diharapkan dapat memasukkan variabel-variabel independen lain yang

belum dimasukkan dalam model penelitian ini.

Page 132: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

117

DAFTAR PUSTAKA

Bodie, Kane, dan Marcus, 2006, Investment; Investasi, Edisi 6, Penerbit Salemba

Empat, Jakarta.

Brigham, Eugene F dan Louis C. Gapenski, 1994, Finacial management Theory

and Practice, Seventh Edition, The Dryden Press, Hourcort Brace College

Publishers, Florida.

Coyle, Brian, 2002, Equity Finance, Financial Word Publishing.

Desender, Kurt A, Miguel A. Garcia-Cestona, dan Rafel Crespi Cladera, 2008,

Stock Price Performance and Ownership Structure During Periods of

Stock Market Crisis, [email protected]

Dewi, Sisca Christianty, 2008, Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan

Institusional, Kebijakan Hutang, Profitabilitas, dan Ukuran Perusahaan

Terhadap Kebijakan Dividen, Jurnal Bisnis dan Akuntansi

Djumahir, 2009, Pengaruh Biaya Agensi, Tahapan Daur Hidup Perusahaan, dan

Regulasi terhadap Kebijakan Dividen pada Perusahaan Manufaktur di

Bursa Efek Indonesia, Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan

Fess, Warren Reeve, 2006, Accounting; Pengantar Akuntansi, Edisi 21, Penerbit

Salemba Empat, Jakarta.

Ghozali, Imam, 2007, “Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS”

Cetakan ke Empat, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

Hamid, Abdul, 2007, “Buku Panduan Penulisan Skripsi”. Jakarta : FEIS UIN

Press.

Haruman, Tendi, 2008, Struktur Kepemilikan, Keputusan Keuangan, dan Nilai

Perusahaan, Finance and Banking Journal

Husnan, Suad, 2006,” Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analsis Sekuritas”, Edisi

4.

Matriadi, Faisal, 2007, Pengaruh Financial Leverage dan Tingkat Inflasi

Terhadap Harga Saham, Arthavidya

Murhadi, Werner R., 2008, Studi Kebijakan Deviden: Anteseden dan Dampaknya

Terhadap Harga Saham, Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan

Page 133: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

118

Nishat, Muhammed dan Irfan, Chaudhary Mohammad, 2003, Dividend Policy and

Stock Price Volatility in Pakistan, University of Karachi

Prihantono, 2003, Estimasi Pengaruh Dividend Payout Ratio pada Perusahaan

Publik di Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Bisnis

Rodoni, Ahmad, 2008, Modul Institusi Depositori dan Pasar Modal, Program

Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta.

Santoso, Singgih, 2010, “Statistik Parametrik; Konsep dan Aplikasi dengan

SPSS.” Elex Media Komputindo, Jakarta.

Sartono, Agus, 1998, Manajemen Keuangan, edisi 3, BPFE-Yogyakarta.

Sarwono, Jonathan, 2007, “Analisis jalur untuk riset bisnis dengan SPSS”

Penerbit : Andi. Yogyakarta.

Sasanti, Retno Widya dan Nurfauziah, 2005, Analisis Faktor-faktor yang

Berimplikasi Terhadap Fluktuasi Harga Saham di Bursa Efek Jakarta,

Sinergi

Sasongko, Noer dan Nila Wulandari, 2006, Pengaruh EVA dan Rasio-rasio

Profitabilitas Terhadap Harga Saham, Empirika

Siamat, Dahlan 2005, Manajemen Lembaga Keuangan; Kebijakan Moneter dan

Perbankan, Edisi Kelima, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi

Universitas Indonesia, Jakarta.

Situs Bank Indonesia, “www.bi.go.id”, diakses tanggal 6 Bulan Juli tahun 2010,

pukul 16.00 WIB.

Situs Bursa Efek Indonesia, “www.idx.co.id”, diakses tanggal 6 Bulan Juli tahun

2010, pukul 16.00 WIB.

Situs Bursa Efek Indonesia, “www.duniainvestasi.com”, diakses tanggal 6 Bulan

Juli tahun 2010, pukul 16.00 WIB.

Widyastuti, Rini, 2006, Analisis Kinerja Keuangan Pendekatan Altman dan

Pengaruhnya Terhadap Harga Saham pada Perusahaan Jasa Go Public

di Bursa Efek Jakarta, Skripsi FIS Universitas Negeri Semarang.

Wiguna, Robin dan Anastasia Sri Mendari, 2008, Pengaruh Earning Per Share

dan Tingkat Suku Bunga SBI Terhadap Harga Saham, Jurnal Keuangan

dan Bisnis

Page 134: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

119

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Data Kepemilikan Institusi (IO) pada Perusahaan Manufaktur

Periode Tahun 2005 - 2009

No Emiten 2005 2006 2007 2008 2009

1 ASII 0.50115 0.50115 0.50115 0.50115 0.50115

2 AUTO 0.86723 0.86723 0.86723 0.93906 0.95654

3 SQBI 0.97971 0.97971 0.97971 0.97971 0.98571

4 CTBN 0.63551 0.58176 0.75299 0.76905 0.80926

5 DLTA 0.84588 0.84588 0.84588 0.84588 0.84588

6 GDYR 0.91613 0.91637 0.85000 0.85000 0.93924

7 HMSP 0.97948 0.97948 0.97948 0.98039 0.98179

8 INDF 0.51528 0.51528 0.51528 0.50050 0.50050

9 IGAR 0.63101 0.63101 0.63101 0.63101 0.67510

10 KAEF 0.90025 0.90025 0.90025 0.90025 0.90025

11 LION 0.57698 0.57698 0.57698 0.57698 0.57698

12 LMSH 0.37615 0.32216 0.32216 0.32216 0.32216

13 MYOR 0.33065 0.33065 0.38185 0.33065 0.33065

14 MERK 0.73992 0.73992 0.73992 0.73992 0.73992

15 MLBI 0.83370 0.83370 0.83370 0.83370 0.83370

16 SMSM 0.68024 0.61362 0.69936 0.69936 0.58126

17 SMGR 0.76537 0.75906 0.75906 0.76770 0.75906

18 TSPC 0.66329 0.68564 0.70919 0.95102 0.95107

19 TRST 0.42201 0.42201 0.42201 0.52941 0.59454

20 UNVR 0.84992 0.84992 0.84992 0.84992 0.84992

Sumber: Data diolah, 2010.

Data Tahapan Daur Hidup (RETE) pada Perusahaan Manufaktur

Periode Tahun 2005 - 2009

No Emiten 2005 2006 2007 2008 2009

1 ASII 0.19386 0.07724 0.17422 0.18189 0.16441

2 AUTO 0.14224 0.10372 0.17047 0.12034 0.16757

3 SQBI -0.25249 0.22473 0.16746 0.25803 0.18728

4 CTBN 0.08630 0.21698 0.08140 0.03939 0.11387

5 DLTA 0.12511 0.07312 0.05784 0.11801 0.11937

6 GDYR -0.06255 0.01887 0.06107 -0.00942 0.28560

7 HMSP -0.06829 0.19667 0.28908 -0.00614 0.23491

8 INDF -0.00586 0.12544 0.10046 0.07856 0.16377

9 IGAR 0.05000 0.03847 0.06468 0.01096 0.10490

10 KAEF 0.03511 0.03232 0.04294 0.04193 0.04889

11 LION 0.10289 0.10309 0.11831 0.15575 0.11673

12 LMSH 0.17560 0.09722 0.19403 0.23107 0.04593

13 MYOR 0.02969 0.07675 0.10608 0.13297 0.21105

14 MERK 0.14604 0.23426 0.15946 0.14389 0.07584

15 MLBI -0.09487 -0.14840 -0.00373 0.42552 -2.27131

16 SMSM 0.07467 0.10352 0.06208 0.11475 0.24951

17 SMGR 0.19253 0.18777 0.17014 0.20272 0.16873

18 TSPC 0.06515 0.07083 0.07840 0.02265 0.10273

19 TRST 0.00249 0.01796 0.00378 0.04240 0.10116

20 UNVR -0.03934 -0.03610 0.12043 0.13165 0.16272

Sumber: Data diolah, 2010.

Page 135: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

120

Data Financial Leverage (DER) pada Perusahaan Manufaktur

Periode Tahun 2005 - 2009

No Emiten 2005 2006 2007 2008 2009

1 ASII 1.11410 1.40770 1.16872 1.21412 1.00281

2 AUTO 0.70899 0.57225 0.48409 0.44889 0.39339

3 SQBI 0.62992 0.58611 0.43302 0.37372 0.21061

4 CTBN 0.69904 1.12803 0.86989 1.05557 0.84978

5 DLTA 0.32240 0.31934 0.28695 0.05905 0.05165

6 GDYR 0.67886 0.61735 0.93527 2.44534 1.71486

7 HMSP 1.55453 1.20709 0.94430 0.05484 0.04813

8 INDF 2.33090 2.09993 2.62059 3.08374 2.45057

9 IGAR 0.42038 0.44173 0.52751 0.37999 0.29306

10 KAEF 0.39490 0.44901 0.52720 0.52535 0.56998

11 LION 0.22852 0.25316 0.27233 0.25811 0.19125

12 LMSH 0.98766 0.85584 1.15546 0.63564 0.83348

13 MYOR 0.61193 0.58015 0.72568 1.32223 1.02606

14 MERK 0.20879 0.20005 0.18139 0.14585 0.22527

15 MLBI 1.52442 0.67477 0.68190 1.73492 8.44134

16 SMSM 0.61039 0.52899 0.65444 0.62482 0.79827

17 SMGR 0.61076 0.34825 0.27095 0.30104 0.25822

18 TSPC 0.26347 0.23029 0.26392 0.29339 0.34026

19 TRST 1.19680 1.07125 1.18006 1.08106 0.67870

20 UNVR 0.76300 0.94970 0.98037 1.09599 1.01988

Sumber: Data diolah, 2010.

Data Kebijakan Dividen (DY) pada Perusahaan Manufaktur

Periode Tahun 2005 - 2009

No Emiten 2005 2006 2007 2008 2009

1 ASII 0.03627 0.03121 0.01648 0.07434 0.02478

2 AUTO 0.02143 0.03932 0.02707 0.09143 0.05200

3 SQBI 0.08667 0.02432 0.03846 0.07308 0.05848

4 CTBN 0.02877 0.03696 0.06248 0.07029 0.00754

5 DLTA 0.00972 0.03081 0.08125 0.07000 0.05645

6 GDYR 0.02925 0.07424 0.04523 0.01760 0.00625

7 HMSP 0.06910 0.05670 0.02063 0.11111 0.05769

8 INDF 0.01923 0.00370 0.01204 0.04491 0.01324

9 IGAR 0.04762 0.03158 0.02521 0.08621 0.02197

10 KAEF 0.02880 0.01729 0.00779 0.03709 0.01963

11 LION 0.05000 0.04545 0.04762 0.04065 0.06429

12 LMSH 0.02105 0.02353 0.01429 0.01389 0.02500

13 MYOR 0.03047 0.01543 0.02000 0.03509 0.01111

14 MERK 0.05761 0.03500 0.03810 0.06479 0.06688

15 MLBI 0.10312 0.08891 0.07345 0.07273 0.15537

16 SMSM 0.08197 0.03866 0.08140 0.03077 0.08000

17 SMGR 0.01503 0.01221 0.01950 0.03626 0.03586

18 TSPC 0.07080 0.03333 0.03333 0.15000 0.03425

19 TRST 0.03333 0.02069 0.02874 0.03030 0.04545

20 UNVR 0.04678 0.03030 0.03185 0.03359 0.02896

Sumber: Data diolah, 2010.

Page 136: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

121

Data Harga Saham (CP) pada Perusahaan Manufaktur

Periode Tahun 2005 - 2009

No Emiten 2005 2006 2007 2008 2009

1 ASII 10200 15700 27300 10500 34700

2 AUTO 2800 2925 3325 3500 5750

3 SQBI 39000 55500 65000 52000 136800

4 CTBN 8500 17000 30000 31000 3100

5 DLTA 36000 22800 16000 20000 62000

6 GDYR 8000 6600 13000 5000 9600

7 HMSP 8900 9700 14300 8100 10400

8 INDF 910 1350 2575 930 3550

9 IGAR 105 95 119 58 139

10 KAEF 145 165 305 76 127

11 LION 2000 2200 2100 3075 2100

12 LMSH 1900 1700 2100 3600 2400

13 MYOR 820 1620 1750 1140 4500

14 MERK 24300 40000 52500 35500 80000

15 MLBI 50000 55000 55000 49500 177000

16 SMSM 305 350 430 650 750

17 SMGR 17800 36300 5600 4175 7550

18 TSPC 5650 900 750 400 730

19 TRST 150 145 174 165 220

20 UNVR 4275 6600 6750 7800 11050

Sumber: Data diolah, 2010.

Data Suku Bunga Tahunan

Periode Tahun 2005 - 2009

No Tahun Suku Bunga SBI

1 2005 12.75%

2 2006 9.75%

3 2007 8.00%

4 2008 10.83%

5 2009 6.46%

Sumber: Data diolah, 2010.

Page 137: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

122

Koefisien Determinasi (Adjusted R Square) Substruktur I

Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .595a .354 .327 .02374911

a. Predictors: (Constant), SBI, RETE, IO, DER

Sumber: Data diolah, 2010.

Uji F Regresi Substruktur I

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression .029 4 .007 13.013 .000a

Residual .054 95 .001

Total .083 99

a. Predictors: (Constant), SBI, RETE, IO, DER

b. Dependent Variable: DY

Sumber: Data diolah, 2010.

Uji t Regresi Substruktur I

Coefficientsa

Model

Unstandardized

Coefficients

Standardized

Coefficients

t Sig. B Std. Error Beta

1 (Constant) .016 .016 1.013 .314

IO .038 .012 .263 3.048 .003

RETE -.073 .014 -.647 -5.078 .000

DER -.008 .004 -.276 -2.151 .034

SBI 1.668 1.308 .106 1.275 .205

a. Dependent Variable: DY

Sumber: Data diolah, 2010.

Koefisien Determinasi (Adjusted R Square) Substruktur II

Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .638a .407 .376 21625.124

a. Predictors: (Constant), DY, SBI, DER, IO, RETE

Sumber: Data diolah, 2010.

Page 138: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

123

Uji F Regresi Substruktur II

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 3.018E10 5 6.036E9 12.908 .000a

Residual 4.396E10 94 4.676E8

Total 7.414E10 99

a. Predictors: (Constant), DY, SBI, DER, IO, RETE

b. Dependent Variable: CP

Sumber: Data diolah, 2010.

Uji t Regresi Substruktur II

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients

t Sig. B Std. Error Beta

1 (Constant) 2627.576 14433.748 .182 .856

IO 32066.594 11901.824 .235 2.694 .008

RETE -25977.498 14815.919 -.243 -1.753 .083

DER 5304.767 3575.253 .188 1.484 .141

SBI -2711543.009 1201542.769 -.182 -2.257 .026

DY 219895.408 93422.068 .233 2.354 .021

a. Dependent Variable: CP

Sumber: Data diolah, 2010.

Koefisien Determinasi (Adjusted R Square) Substruktur I setelah Trimming

Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .586a .343 .322 .02382634

a. Predictors: (Constant), DER, IO, RETE

Sumber: Data diolah, 2010.

Page 139: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

124

Uji F Regresi Substruktur I setelah Trimming

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression .028 3 .009 16.700 .000a

Residual .054 96 .001

Total .083 99

a. Predictors: (Constant), DER, IO, RETE

b. Dependent Variable: DY

Sumber: Data diolah, 2010.

Uji t Regresi Substruktur I setelah Trimming

Coefficientsa

Model

Unstandardized

Coefficients

Standardized

Coefficients

t Sig. B Std. Error Beta

1 (Constant) .030 .011 2.730 .008

IO .037 .012 .257 2.973 .004

RETE -.074 .014 -.654 -5.127 .000

DER -.009 .004 -.290 -2.259 .026

a. Dependent Variable: DY

Sumber: Data diolah, 2010.

Koefisien Determinasi (Adjusted R Square) Substruktur II setelah Trimming

Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .627a .393 .368 21761.445

a. Predictors: (Constant), DY, SBI, IO, RETE

Sumber: Data diolah, 2010.

Uji F Regresi Subtruktur II setelah Trimming

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 2.915E10 4 7.288E9 15.390 .000a

Residual 4.499E10 95 4.736E8

Total 7.414E10 99

a. Predictors: (Constant), DY, SBI, IO, RETE

b. Dependent Variable: CP

Sumber: Data diolah, 2010.

Page 140: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBIJAKAN …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/900/1/MUHAMMAD... · MEMPENGARUIil KEBIJAKAN DEVIDEN, DAI{ IMPLIKASINYA TERIIADAP

125

Uji t Regresi Substruktur II setelah Trimming

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

t Sig. B Std. Error Beta

1 (Constant) 12962.221 12721.628 1.019 .311

IO 28530.541 11734.288 .209 2.431 .017

RETE -42639.854 9725.303 -.398 -4.384 .000

SBI -2807089.755 1207379.346 -.188 -2.325 .022

DY 190019.074 91801.357 .201 2.070 .041

a. Dependent Variable: CP

Sumber: Data diolah, 2010.

Korelasi antar Variabel Bebas

Correlations

IO RETE DER SBI

IO Pearson Correlation 1 -.078 -.130 -.035

Sig. (2-tailed) .440 .197 .731

N 100 100 100 100

RETE Pearson Correlation -.078 1 -.741** .029

Sig. (2-tailed) .440 .000 .771

N 100 100 100 100

DER Pearson Correlation -.130 -.741** 1 -.070

Sig. (2-tailed) .197 .000 .489

N 100 100 100 100

SBI Pearson Correlation -.035 .029 -.070 1

Sig. (2-tailed) .731 .771 .489

N 100 100 100 100

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Sumber: Data diolah, 2010.