Top Banner
TATALAKSANA KLINIS DAN TINDAKAN PENCEGAHAN PENGENDALIAN INFEKSI MIDDLE EAST RESPIRATORY SYNDROME-CORONA VIRUS (MERS-CoV) Rizka Humardewayanti
43

2.Dr Riaska Mers Cov

Sep 17, 2015

Download

Documents

mers cov
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
  • TATALAKSANA KLINIS DAN TINDAKAN PENCEGAHAN PENGENDALIAN INFEKSI MIDDLE EAST RESPIRATORY SYNDROME-CORONA VIRUS(MERS-CoV)

    Rizka Humardewayanti

  • Corona VirusVirus RNA Disebut Corona virus karena dibawah m.e. seperti corona atau halo. Genome virus corona ini merupakan single strand RNA dengan panjang 32 kilobasa Penyebab ke-2 common cold (setelah rhinovirus). Merupakan penyebab penyakit pada binatang hepatitis pada tikus, gastroenteritis pada babi, dan infeksi saluran nafas pada burung.Virus ini pertama kali dilaporkan pada bulan Maret 2012 di Arab Saudi.

  • Struktur Corona virus

  • Epidemiologi

  • Bagaimana penyebarannya?

  • Negara yang melaporkan

  • Kasus dalam penyelidikan/Suspek infeksi MERS-CoV a. Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan tiga gejala di bawah ini: Demam (38C) atau ada riwayat demam, Batuk, Pneumonia berdasarkan gejala klinis atau gambaran Ro yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. DAN salah satu dari kriteria berikut : Adanya klaster penyakit yang sama dalam periode 14 hari, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian, kecuali ditemukan etiologi/penyebab penyakit lain. Adanya petugas kesehatan yang sakit dengan gejala sama setelah merawat pasien ISPA berat (SARI / Severe Acute Respiratory Infection), terutama pasien yang memerlukan perawatan intensif, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian, kecuali ditemukan etiologi/penyebab penyakit lain.

    Perlu waspada pada pasien dengan gangguan system kekebalan tubuh (immunocompromised) karena gejala dan tanda tidak jelas.

  • Kasus dalam penyelidikan/Suspek infeksi MERS-CoV Seseorang yang memiliki riwayat perjalanan ke Timur Tengah (negara terjangkit) dalam waktu 14 hari sebelum sakit kecuali ditemukan etiologi/penyebab penyakit lain. Adanya perburukan perjalanan klinis yang mendadak meskipun dengan pengobatan yang tepat, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian, kecuali ditemukan etiologi/penyebab penyakit lain.

    b. Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ringan sampai berat yang memiliki riwayat kontak erat dengan kasus konfirmasi atau kasus probable infeksi MERS-CoV dalam waktu 14 hari sebelum sakit .Tidak perlu menunggu hasil tes untuk patogen lain sebelum pengujian untuk MERS-CoV.

  • Kasus Probabel Seseorang dengan pneumonia atau ARDS dengan bukti klinis, radiologis atau histopatologis DAN Tidak tersedia pemeriksaan untuk MERS-CoV atau hasil laboratoriumnya negative pada satu kali pemeriksaan spesimen yang tidak adekuat. DAN Adanya hubungan epidemiologis langsung dengan kasus konfirmasi MERS Co-V. b.Seseorang dengan pneumonia atau ARDS dengan bukti klinis, radiologis atau histopatologis DAN Hasil pemeriksaan laboratorium inkonklusif (pemeriksaan skrining hasilnya positif tanpa konfirmasi biomolekular). DAN Adanya hubungan epidemiologis langsung dengan kasus konfirmasi MERS Co-V.

  • Kasus Konfirmasi Seseorang menderita infeksi MERS-CoV dengan konfirmasi laboratorium Kontak eratSeseorang yang memberikan perawatan pada pasien mencakup petugas kesehatan atau keluarga, atau seseorang yang memiliki kontak fisik erat serupa;Seseorang yang tinggal di tempat yang sama (mis: tinggal bersama, berkunjung) dengan kasus probabel atau terkonfirmasi ketika kasus sedang sakit.

  • KlasterAdalah bila terdapat dua orang atau lebih memiliki penyakit sama, dan mempunyai riwayat kontak yang sama dalam jangka waktu 14 hari. Kontak dapat terjadi pada keluarga atau rumah tangga dan berbagai tempat lain seperti rumah sakit, ruang kelas, tempat kerja, barak militer, tempat rekreasi dan lainnya.

  • Perjalanan penyakit

    Infeksi Pernapasan akut (ISPA) Demam > 38 C sakit tenggorokan, batuk, sesak/napas cepat Kriteria napas cepat pada anak : Usia < 2 bulan : 60 x/menit atau lebih Usia 2-

  • Perjalanan penyakit

    Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) akut dalam waktu 1 minggu dari timbulnya gejala klinis atau perburukan gejala respirasi, atau timbul gejala baru Gambaran radiologis (misalnya foto toraks atau CT scan): opasitas bilateral, yang belum dapat dibedakan apakah karena efusi, kolaps paru / kolaps lobar atau nodul. Edema paru: kegagalan pernafasan yang belum diketahui penyebabnya, apakah karena gagal jantung atau overload cairan Tingkat hipoksemia: ARDS ringan yaitu 200 mm Hg

  • Perjalanan penyakit

    Sepsis Terbukti Infeksi atau diduga infeksi, dengan dua atau lebih kondisi berikut: suhu> 38 C atau 90/min, RR> 20/min atau PaCO2 12 000 atau 10% bentuk imatur Sepsis BeratSepsis dengan disfungsi organ, hipoperfusi (asidosis laktat) atau hipotensi. Disfungsi organ meliputi: oliguria, cedera ginjal akut, hipoksemia, transaminitis, koagulopati, trombositopenia, perubahan kesadaran, ileus atau hiperbilirubinemia Syok septikSepsis yang disertai hipotensi (Sistole

  • DiagnosisSpesimen klinis rutin (kultur sputum dan darah) pada pasien dengan pneumonia (sebelum penggunaan antibiotik).Spesimen dari saluran napas atas (hidung, nasofaring dan/ atau swab tenggorokan) dan saluran napas bagian bawah (sputum, aspirat endotrakeal, bilasan bronkoalveolar) Pemeriksaan: virus influenza A dan B, virus influenza A subtipe H1, H3, dan H5 di negara-negara dengan virus H5N1 ditemukan pada unggas (peternakan); RSV, virus parainfluenza, rhinoviruses, adenonviruses, metapneumoviruses manusia, dan corona virus baru.

  • DiagnosisDiperiksa menggunakan RT-PCR spesimen dikirim ke Laboratorium Badan Litbangkes RI Jakarta.Ambil spesimen serial dari beberapa tempat dalam waktu beberapa hari (setiap 2-3 hari) untuk melihat Viral shedding. Dilakukan juga: pemeriksaan darah untuk menilai viremia, swab konjungtiva jika terdapat konjungtivitis, urin, tinja, cairan serebrospinal jika dapat dikerjakan

  • Diagnosis

  • Diagnosis

  • Algoritma pemeriksaan lab

  • Tata Laksana Klinis

  • Terapi oksigen pada pasien ISPA beratBeri O2 pada pasien dengan tanda depresi napas berat, hipoksemia (SpO2
  • Berikan antibiotik empirik untuk mengobati PneumoniaPada pasien pneumonia komunitas (CAP) dan diduga terinfeksi MERS-CoV, dapat diberikan antibiotik secara empirik secepat mungkin sampai tegak diagnosis. Terapi empirik kemudian disesuaikan berdasarkan hasil uji kepekaan.

  • Manajemen cairan dan steroid Pasien ISPA berat harus hati-hati dalam pemberian cairan intravena, karena resusitasi cairan secara agresif dapat memperburuk oksigenasi.No steroid sistemik dosis tinggi efek samping steroid : infeksi oportunistik, nekrosis avascular, infeksi baru bakteri dan kemungkinan terjadi replikasi virus yang berkepanjangan.

  • Perawatan intensif (ICU)Indikasi ICU : gagal nafashipoperfusi jaringansyok

  • TINDAKAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI

  • Langkah pencegahan dan pengendalian infeksi Hal yang harus dilakukan dalam pengendalian infeksi MERS-CoV :Tindakan pencegahan transmisi droplet.Tindakan pencegahan standar diterapkan pada setiap pasien yang diketahui atau dicurigai memiliki infeksi pernafasan akutPencegahan infeksi dan tindakan pengendalian harus dimulai ketika pasien masuk triase.

  • Langkah pencegahan dan pengendalian infeksi Pengaturan ruangan dan pemisahan tempat tidur minimal 1 meter antara setiap pasien ISPA.Pastikan triase dan ruang tunggu berventilasi cukup. Terapkan etika batuk.Tindakan pencegahan airborne digunakan untuk prosedur yang menimbulkan penularan aerosol. risiko penularan : tindakan intubasi trakea, saat melakukan ventilasi non-invasif, trakeostomi dan bantuan ventilasi dengan ambu bag sebelum intubasi

  • Kewaspadaan standar Kewaspadaan baku harus selalu diterapkan. Kewaspadaan Standar meliputi kebersihan tangan dan penggunaan APD pencegahan luka akibat benda tajam dan jarum suntik, pengelolaan limbah yang aman, pembersihan, desinfeksi dan sterilisasi linen dan peralatan perawatan pasien, dan pembersihan dan desinfeksi lingkungan.

  • Kewaspadaan standar Kebersihan tangan mencakup mencuci tangan dengan sabun dan air atau menggunakan antiseptik berbasis alkoholCuci tangan dengan sabun dan air mengalir ketika terlihat kotorPenggunaan APD tidak menghilangkan kebutuhan untuk kebersihan tangan. Kebersihan tangan juga diperlukan ketika menggunakan dan terutama ketika melepas APD.

  • Kewaspadaan standar Ketika melakukan prosedur yang berisiko terjadi percikan ke wajah dan/ atau badan, maka pemakaian APD harus ditambah dengan,Pelindung wajah dengan cara memakai masker medis/ bedah dan pelindung mata/eye-visor/ kacamata, atau pelindung wajah,Gaun dan sarung tangan bersih.

  • Kewaspadaan pencegahan dan pengendalian infeksi tambahan ketika merawat pasien infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) Tambahan pada Kewaspadaan Standar, bahwa semua individu termasuk pengunjung dan petugas kesehatan yang melakukan kontak dengan pasien dengan ISPA harus:Memakai masker medis ketika berada dekat (yaitu dalam waktu kurang lebih 1 m) dan waktu memasuki ruangan atau bilik pasien.Melakukan kebersihan tangan sebelum dan sesudah bersentuhan dengan pasien dan lingkungan sekitarnya dan segera setelah melepas masker medis.

  • Kewaspadaan pencegahan dan pengendalian infeksi pada prosedur/tindakan medik yang menimbulkan aerosol Tindakan kewaspadaan tambahan saat melakukan prosedur medis yang menimbulkan aerosol:Pakai respirator partikulat (N95).Memakai pelindung mata/wajahMemakai gaun lengan panjang dan sarung tangan bersih (tidak steril/steril) Memakai celemek kedap air

  • Kewaspadaan pencegahan dan pengendalian infeksi pada prosedur/tindakan medik yang menimbulkan aerosol Melakukan prosedur di ruang berventilasi cukup, mekanik : min. 6-12 x pertukaran udara setiap jam Ventilasi alamiah: 60 L/dtk/ pasien Batasi jumlah orang yang hadir di ruang pasienLakukan kebersihan tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungannya dan setelah pelepasan APD

  • Kewaspadaan pencegahan dan pengendalian infeksi ketika merawat pasien probabel atau konfirmasi terinfeksi MERS-CoV Batasi jumlah petugas kesehatan, anggota keluarga dan pengunjung Tunjuk tim petugas kesehatan terampil khusus yang akan memberi perawatan secara ekslusif kepada pasien Dibutuhkan pelatihan lanjut dalam mengatur penempatan dimana pasien rawat inap sering dirawat oleh anggota keluarganya

  • PengunjungMemakai masker medis / bedah.Memakai pelindung mata Memakai gaun lengan panjang, dan sarung tangan bersih, Membersihkan tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan sekitarnya dan segera setelah melepas APD Semua individu termasuk pengunjung dan petugas kesehatan, ketika melakukan kontak dekat (dalam jarak kurang dari 1 m) dengan pasien atau setelah memasuki ruangan, harus selalu:

  • Peralatan MedisGunakan peralatan sekali pakai atau yang dikhususkan untuk pasien tertentu. Jika peralatan harus digunakan untuk lebih dari satu pasien, maka sebelum dan sesudah digunakan peralatan harus dibersihkan dan disinfeksi.

  • Penempatan pasienTempatkan pasien probabel atau konfirmasi terinfeksi MERS-CoV di ruangan /kamar dengan ventilasi yang memadai dengan kewaspadaan penularan Airborne, jika mungkin kamar yang digunakan untuk isolasi (yaitu satu kamar per pasien) terletak di area yang terpisah dari tempat perawatan pasien lainnya. Bila tidak tersedia kamar untuk satu orang, tempatkan pasien pasien dengan diagnosis yang sama di kamar yang sama. Jika hal ini tidak mungkin dilakukan, tempatkan tempat tidur pasien terpisah jarak minimal 1 m.

  • Penempatan pasien

  • Durasi tindakan isolasi untuk pasien terinfeksi MERS-CoV Lamanya masa infeksius MERS-CoV masih belum diketahui. Disamping Kewaspadaan Standar yang harus senantiasa dilakukan, kewaspadaan isolasi harus diberlakukan selama gejala penyakit masih ada dan dilanjutkan selama 24 jam setelah gejala hilang.

  • Pengumpulan dan penanganan spesimen laboratorium Semua spesimen harus dianggap berpotensi menular :Petugas yang mengambil spesimen memakai APD yang sesuai.Petugas yang membawa/mengantar spesimen telah dilatih mengenai prosedur penanganan spesimen yang aman dan dekontaminasi percikan/tumpahan spesimen. Tempatkan spesimen yang akan dibawa/antar dalam kantong spesimen anti bocor (wadah sekunder) yang memiliki seal terpisah untuk spesimen dengan label pasien pada wadah spesimen (wadah primer), dan form permintaan yang jelas.

  • Pengumpulan dan penanganan spesimen laboratorium Pastikan bahwa laboratorium di fasilitas pelayanan kesehatan mematuhi praktek biosafety yang tepat dan persyaratan pengiriman sesuai dengan jenis organisme yang ditangani.Bila memungkinkan semua spesimen dapat diserahkan langsung. Untuk membawa spesimen, jangan menggunakan sistem tabung pneumatik. Bersama dengan form permintaan, tuliskan nama dari tersangka infeksi secara jelas. Beritahu laboratorium sesegera mungkin bahwa spesimen sedang diangkut

  • Pertanyaan