Top Banner
REFERAT HUBUNGAN ANTARA TERAPI HIPERBARIK OKSIGEN DENGAN KEJADIAN BAROTRAUMA PARU Pembimbing: Letkol Laut (K) dr.Djati Widodo EP, M.Kes Penyusun : M. Fahmi Budiman 2015.04.2.0090 Maria Gabriella S. 2015.04.2.0094 Melia Yunita 2015.04.2.0097 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HANG TUAH
39

2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

Jun 26, 2018

Download

Documents

vokien
Welcome message from author
This document is posted to help you gain knowledge. Please leave a comment to let me know what you think about it! Share it to your friends and learn new things together.
Transcript
Page 1: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

REFERATHUBUNGAN ANTARA TERAPI HIPERBARIK OKSIGEN

DENGAN KEJADIAN BAROTRAUMA PARU

Pembimbing:

Letkol Laut (K) dr.Djati Widodo EP, M.Kes

Penyusun :

M. Fahmi Budiman 2015.04.2.0090

Maria Gabriella S. 2015.04.2.0094

Melia Yunita 2015.04.2.0097

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HANG TUAH

RSAL dr.RAMELAN SURABAYA

2015

Page 2: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

LEMBAR PENGESAHAN

Judul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan

Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa dan disetujui sebagai salah

satu tugas baca dalam rangka menyelesaikan studi kepaniteraan Dokter

Muda di bagian LAKESLA RSAL dr Ramelan Surabaya.

Mengetahui,

Dosen Pembimbing I

Letkol Laut (K) dr. Djati Widodo EP., M.Kes

Dosen Pembimbing II Dosen Pembimbing III

Mayor Laut (K/W) dr Titut H., M.Kes dr. Ni Komang S.D., M.Kes, Sp.S

i

Page 3: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena

atas berkah dan rahmatNya, kami bisa menyelesaikan referat dengan

topik “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian

Barotrauma Paru” dengan lancar. Referat ini disusun sebagai salah satu

penilaian tugas untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik di bagian

LAKESLA RSAL dr. RAMELAN Surabaya. Penulis berharap referat ini

dapat dijadikan sebagai tambahan ilmu pengetahuan yang bermanfaat

bagi penulis maupun pembaca.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

pihak-pihak yang membantu penulis dalam penyusunan referat ini, yaitu:

a. dr.Djati Widodo, M.Kes, selaku Pembimbing dari referat ini.

b. dr. Titut Harnanik, M.Kes dan dr. Ni Komang Sri Dewi, M.Kes, Sp.S

c. Para perawat dan pegawai di LAKESLA RSAL dr. RAMELAN

Surabaya.

d. Kelompok DM 39N dan 39O

Kami menyadari bahwa referat yang kami susun ini masih jauh dari

kesempurnaan, maka penulis berharap ada masukan, saran, atau kritik

yang membangun dari semua pihak. Semoga referat ini dapat memberi

manfaat bagi kita semua.

Surabaya, Agustus 2015

Penulis

ii

Page 4: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

DAFTAR ISI

Cover

Lembar Pengesahan...............................................................................i

Kata Pengantar....................................................................................... ii

Daftar Isi.................................................................................................. iii

Bab 1 Pendahuluan................................................................................1

Bab 2 Tinjauan Pustaka.........................................................................3

2.1. Anatomi dan Fisiologi Paru......................................................3

2.1.1 Anatomi Paru..................................................................3

2.1.2 Topografi Paru................................................................4

2.1.3 Fisiologi Paru..................................................................5

2.2 Barotrauma...............................................................................6

2.2.1 Definisi............................................................................6

2.2.2 Pembagian Barotrauma..................................................6

2.2.3 Barotrauma Paru.............................................................7

2.3 Terapi Oksigen Hiperbarik........................................................11

2.3.1 Definisi............................................................................11

2.3.2 Sejarah Terapi Hiperbarik...............................................12

2.3.3 Aspek Fisika....................................................................12

2.3.4 Efek fisiologis..................................................................13

2.3.5 Indikasi Terapi Oksigen Hiperbarik.................................15

2.3.6 Kontraindikasi Terapi Oksigen Hiperbarik.......................16

BAB 3 Hubungan antara Terapi Oksigen Hiperbarik dengan Barotrauma Paru.....................................................................................19

BAB 4 Kesimpulan..............................................................................22

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................23

iii

Page 5: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

BAB 1

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri

dari 13.466 pulau, dimana luas laut yang ada di Indonesia adalah 2/3 total

dari luas seluruh wilayah Indonesia. Luasnya perairan di Indonesia ini

berdampak pada kegiatan bawah laut yang dilakukan baik untuk rekreasi,

penyelaman, aktivitas ekonomi, dan juga keperluan militer. Banyaknya

penyelam baik yang professional maupun awam, juga berdampak pada

pengembangan kesehatan kelautan.

Kegiatan penyelaman harus didahului dengan pengetahuan akan

penyelaman terlebih dahulu. Sebagian besar penyelam tidak mengetahui

bahaya penyelaman bagi tubuh penyelam tersebut, ini terlihat dari

timbulnya keluhan yang sering dialami oleh penyelam. Menurut survey

dari 251 responden penyelam di 9 (Sembilan) propinsi di Indonesia,

keluhan yang sering didapat penyelam antara lain 21.2% pusing / sakit

kepala; 12.6% lelah; 12.5% pendengaran berkurang; 10.8% nyeri sendi;

10.2% perdarahan hidung; 9.7% sakit dada/ sesak; 6.4 % penglihatan

berkurang; 6,0% bercak merah di kulit; 5,6 gigitan binatang; 3.2 %

lumpuh; dan 1.7 % hilang kesadaran (Subdit Kesehatan Matra tahun

2009). Salah satu hal yang paling penting untuk diketahui penyelam

adalah kedalaman penyelaman. Kedalaman ini sangat berpengaruh

karena semakin dalam penyelaman, maka tekanan akan menjadi semakin

tinggi. Peningkatan tekanan tersebut akan mempengaruhi semua organ

tubuh penyelam. Penyelam yang tidak dapat mengimbangi pengaruh

tekanan ini, maka akan terjadi barotrauma yang dapat berakibat buruk

bagi penyelam tersebut..

Barotrauma adalah kerusakan jaringan dan sequelenya akibat

ketidakseimbangan antara tekanan udara rongga fisiologis dalam tubuh

dengan tekanan lingkungan di sekitarnya. Berdasarkan patogenesisnya,

barotrauma dapat dibedakan menjadi dua, yaitu barotrauma waktu turun

1

Page 6: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

(descent barotrauma) dan barotrauma waktu naik (ascent barotrauma).

Berdasarkan organ yang terkena, maka barotrauma dapat dibedakan

menjadi: barotrauma telinga, barotrauma paru, barotrauma gigi,

barotrauma wajah, kulit dan barotrauma intestinal. Barotrauma paru

merupakan barotrauma yang paling serius diantara barotrauma yang lain

(Riyadi, 2013).

Terapi oksigen hiperbarik adalah suatu terapi dimana pasien diberi

oksigen murni 100% dan tekanan tinggi dalam suatu Ruang Udara

Bertekanan Tinggi (RUBT). Dalam penanganan kasus barotrauma paru,

pemberian oksigen murni merupakan pengobatan utama yang harus

diberikan. Dalam referat ini, penulis berusaha mencari hubungan antara

terapi oksigen hiperbarik dalam penyembuhan kasus barotrauma paru.

2

Page 7: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Paru

2.1.1 Anatomi Paru

Anatomi Paru-paru adalah struktur atau bagian-bagian dari paru-

paru. Paru-paru itu sendiri sangat penting bagi tubuh manusia, sebab

salah satu fungsi paru-paru adalah memasukkan oksigen dan

mengeluarkan karbondioksida ketika tubuh menghirup udara.

Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar

terdiri dari gelembung-gelembung (gelembung hawa = alveoli).

Gelembung-gelebung alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan dan endotel.

Jika dibentangkan luas permukaannya lebih kurang 90 m2 pada lapisan

inilah terjadi pertukaran udara, O2 masuk ke dalam darah dan CO2

dikeluarkan dari darah. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih

700.000.000 buah yang terdapat pada paru-paru kiri dan kanan. Paru-

paru sendiri dibagi menjadi dua, yakni :

1) Paru-paru kanan, terdiri dari 3 lobus (belah paru) yaitu:

Lobus pulmo dekstra superior

Lobus medial

Lobus inferior

2) Paru-paru kiri, terdiri dari 2 lobus yaitu

Lobus superior

Lobus inferior.

Tiap-tiap lobus terdiri atas belahan-belahan yang lebih kecil

bernama segment.

Paru-paru kiri mempunyai 10 segment yaitu :

• 5 buah segment pada lobus superior dan,

3

Page 8: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

• 5 buah segment pada inferior

Paru-paru kanan mempunyai 10 segmet yakni :

• 5 buah segment pada lobus inferior

• 2 buah segment pada lobus medialis

• 3 buah segment pada lobus inferior

Tiap-tiap segment ini masih terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang

bernama lobulus. Diantara lobulus yang satu dengan yang lainnya dibatasi

oleh jaringan ikat yang berisi pembuluh-pembuluh darah getah bening dan

saraf-saraf, dalam tiap-tiap lobulus terdapat sebuah bronkiolus. Di dalam

lobulus, bronkiolus ini bercabang-cabang banyak sekali, cabang-cabang

ini disebut duktus alveolus. Tiap-tiap duktus alveolus berakhir pada

alveolus yang diameternya antara 0,2 – 0,3 mm.

2.1.2 Topografi Paru

Paru-paru terletak pada rongga dada, datarannya menghadap ke

tengah rongga dada/kavum mediastinum. Pada bagian tengah itu terdapat

tampuk paru-paru atau hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung.

Paru-paru dibungkus oeh selaput selaput yang bernama pleura. Pleura

dibagi menjadi dua :

• Pleura viseral (selaput dada pembungkus), yaitu selaput paru yang

langsung membungkus paru-paru.

• Pleura parietal, yaitu selaput paru yang melapisi bagian dalam

dinding dada.

Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum

pleura. Pada keadaan normal kavum pleura ini vakum/hampa udara

sehingga paru-paru dapat berkembang kempis dan juga terdapat sedikit

cairan (eksudat) yang berguna unuk meminyaki permukaannya (pleura),

4

Page 9: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada dimana

sewaktu bernafas bergerak.

2.1.3 Fisiologi Paru

Pernapasan mencakup 2 proses, yaitu:

a. Pernapasan luar yaitu proses penyerapan oksigen (O2) dan

pengeluaran karbondioksida (CO2) secara keseluruhan.

b. Pernapasan dalam yaitu proses pertukaran gas antar sel jaringan

dengan cairan sekitarnya (penggunaan oksigen dalam sel). Proses

fisiologi pernapasan dalam menjalankan fungsinya mencakup 3 proses,

yaitu:

• Ventilasi yaitu proses keluar masuknya udara dari atmosfir ke

alveoli paru.

• Difusi yaitu proses perpindahan/pertukaran gas dari alveoli ke

dalam kapiler paru.

• Transfer yaitu proses perpindahan oksigen dari paru-paru ke

seluruh jaringan tubuh.

Untuk menyalurkan oksigen ke tubuh, udara dihirup melalui hidung,

mulut atau keduanya. Hidung adalah rute yang lebih disukai karena

merupakan filter yang lebih baik daripada mulut. Hidung menurunkan

jumlah iritasi yang dikirim ke paru-paru, sambil memberi pemanasan

menambah kelembaban udara yang kita hirup. Ketika sejumlah besar

udara diperlukan, hidung bukan cara yang paling efisien untuk

mendapatkan udara ke paru-paru dan karena itu pernapasan mulut dapat

digunakan. Pernapasan mulut umumnya diperlukan saat berolahraga.

Setelah memasuki hidung atau mulut, udara turun ke batang tenggorok

atau “pipa udara”. Trakea adalah tabung paling dekat dengan leher.

Bagian belakang trakea adalah kerongkongan atau “tabung makanan”.

Ketika kita bernafas, udara bergerak ke bawah trakea dan ketika kita

5

Page 10: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

makan, makanan bergerak ke bawah kerongkongan. Jalur udara dan jalur

makanan dikendalikan oleh epiglotis, gerbang yang mencegah makanan

memasuki trakea. Kadang-kadang, makanan atau cairan dapat masuk ke

trakea mengakibatkan tersedak dan batuk kejang.

Trakea terbagi menjadi dua, satu tabung kiri dan satu tabung

kanan, dan ini disebut bronkus. Bronkus kiri mengarah ke paru-paru kiri

dan bronkus kanan mengarah ke paru-paru kanan. Tabung pernapasan ini

terus membagi menjadi tabung lebih kecil dan lebih kecil yang disebut

bronkiolus. Bronkiolus berakhir pada kantung-kantung udara kecil yang

disebut alveoli.

Alveoli, yang berarti “buah anggur” dalam bahasa Italia, terlihat

seperti gugusan anggur yang melekat pada tabung pernapasan kecil. Ada

lebih dari 300 juta alveoli pada paru-paru normal. Jika alveoli dibuka dan

ditata datar, mereka akan menutupi area seluas lapangan tenis . Tidak

semua alveoli digunakan pada satu waktu, sehingga paru-paru memiliki

banyak cadangan jika terjadi kerusakan karena penyakit, infeksi atau

pembedahan.

2.2 Barotrauma

2.2.1 Definisi

Barotrauma adalah kerusakan jaringan dan sequelenya akibat

ketidakseimbangan antara tekanan udara rongga fisiologis dalam tubuh

dengan tekanan lingkungan di sekitarnya ( Riyadi, 2013).

2.2.2 Pembagian Barotrauma

Berdasarkan patogenesisnya, barotrauma dapat dibedakan

menjadi dua, yaitu: barotrauma waktu turun ( Descent barotrauma) dan

barotrauma waktu naik ( ascent barotrauma) ( Riyadi, 2013).

6

Page 11: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

Berdasarkan organ yang terkena, maka barotrauma dapat

dibedakan menjadi: barotrauma telinga, barotrauma paru, barotrauma gigi,

barotrauma wajah, kulit dan barotrauma intestinal ( Riyadi, 2013).

2.2.3 Barotrauma Paru

Barotrauma paru merupakan barotrauma yang paling serius

diantara barotrauma yang lain ( Riyadi, 2013). Barotrauma paru dapat

dibedakan menjadi:

1) Barotrauma Paru Waktu Turun ( Descent )

Barotrauma ini terjadi saat pengurangan volume paru-paru

melampaui batas akibat dari tekanan di sekitarnya, akibatnya terjadi

kompensasi berupa distensi pembuluh darah paru, dimana ketika sudah

melebihi ambang batasnya, maka dapat terjadi ruptur pembuluh darah

paru, dan menyebabkan perdarahan paru (CFUA, 2010).

Kerusakan jaringan paru pada barotrauma ini (squeeze), adalah

kerusakan pada pembuluh-pembuluh vena kecil, perembesan cairan lewat

membran alveoli dari kapiler-kapiler dan jaringan ke dalam alveoli dari

kapiler-kapiler dan jaringan ke dalam alveoli dan saluran-saluran nafas.

Lebih lanjut bisa terjadi perdarahan( Riyadi, 2013).

Klinis dari barotrauma paru ini berupa nyeri dada dan eksudasi

ringan, pada barotrauma yang berat, bisa dijmpai batuk, sesak, dan

hemoptisis setelah menyelam( Riyadi, 2013).

Terapi dari barotrauma jenis ini berupa pemberian O2 100% dan

bronkodilator dan gravitational drainage bila ada perdarahan atau

eksudasi yang berat (Riyadi, 2013).

2) Barotrauma Paru Waktu Naik ( Ascent )

Saat naik ke permukaan, terjadi penurunan tekanan sekeliling dan

sesuai hukum Boyle udara dalam paru akan mengembang volumenya.

Masalah akan timbul apabila ekshalasi terhambat waktu naik, maka udara

7

Page 12: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

yang mengembang dalam paru akan terperangkap dan bila batas

elastisitas paru terlampaui, maka mengakibatkan ruptura paru (Burst lung)

( Riyadi, 2013). Ada 4 kemungkinan akibat dari barotrauma paru waktu

ascent, yaitu:

1) Kerusakan jaringan paru

Manifestasi kliniknya berupa wheexing ekspirasi, gejala dispneu,

batuk, dan hemoptisis( Riyadi, 2013). Pengobatannya ialah harus segera

diberikan oksigen 100% tanpa tekanan karena dapat memperbesar

kerusakan jaringan paru ( Mathieu, 2006).

2.) Emfisema surgikalis

Robekan dari alveolus menyebabkan gas lepas ke jaringan

interstisial paru-paru. Udara akan memenuhi jaringan sekitar paru dan

mediastinum. Dari sana udara akan bermigrasi ke leher ( Riyadi, 2013).

8

Page 13: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

Manifestasi klinisnya berupa rasa nyeri di bawah sternum, pada

kasus yang berat dapat terjadi gangguan kardiovaskuler seperti sesak

nafas, takikardi, sianosis, hipotensisampai sinkop akibat syok sebagai

akibat tekanan langsung pada jantung dan pembuluh pembuluh darah

besar ( Riyadi, 2013).

Manajemennya adalah berupa pemberian inhalasi O2 100%. Pada

kasus emfisema mediastinalis yang berat, dapat diberikan terapi

rekompresi untuk mengurangi ekspansi gas ( Mathieu, 2006).

3.) Pneumothorak

Apabila terjadi perobekan pada pleura viceralis, udara akan masuk

ke cavum pleura dan menimbulkan pneumothorak. Udara yang

terperangkap akan erus mengembang dan menimbulkan kenaikan

tekanan dalam cavum pleura selama ascent ( Riyadi, 2013).

Gejala-gejalanya berupa nyeri pleural yang mendadak di daerah

yang terkena, takipnea, dispnea ( Riyadi, 2013).

Terapinya berupa pemberian inhalasi oksigen 100%, dan pada

tension pneumothorak dilakukan thorakosintesis (CFUA, 2010).

9

Page 14: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

4.) Emboli udara

Akibat yang paling serius dari barotrauma paru ascent adalah

masuknya gas dari alveoli ke sistem vena paru. Emboli gas terbawa

jantung dan kemudain masuk ke dalam sirkulasi arterial sehingga

menimbulkan obstruksi emboli gas di pembuluh-pembuluh koroner,

cerebral, dan lain-lain ( Riyadi, 2013).

Gejala-gejala klinik emboli udara muncul segera setelah penyelam

mencapai ke permukaan. Udara yang berada di otak menyebabkan

kehilangan kesadaran, gelisah, dan gejala-gejala yang mirip dengan

“cerebral stroke”. Hal ini disebut dengan Cerebral Arterial Gas Embolism

atau CAGE. Gejala-gejala neurologis lain seperti keram, paralisis atau

kelemahan, ganggua pengelihatan, gangguan berbicaragangguan

koordinasi (CFUA, 2010). Gejala-gejala lain dapat berupa nyeri dada,

EKG abnormal ( Riyadi, 2013 ).

Terapi emboli udara harus segera dilaksanakan. Terapi yang efektif

ialah rekompresi sampai 6 ATA (kedalaman 50 meter). Dengan tekanan 6

ATA maka gelembung-gelembung akan menjadi kecil dengan demikian

dapat lewat pembuluh-pembuluh darah sehingga mengurangi emboli

udara seminimal mungkin ( Riyadi, 2013 ).

10

Page 15: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

2.3 Terapi Oksigen Hiperbarik

2.3.1 Definisi

Definisi kesehatan hiperbarik adalah ilmu yang mempelajari tentang

masalah-masalah kesehatan yang timbul akibat pemberian tekanan lebih

dari 1 Atm terhadap tubuh dan aplikasinya untuk pengobatan. Tekanan 1

Atmosfer adalah tekanan udara yang dialami oleh semua benda, termasuk

manusia, di atas permukaan laut, bersifat tetap dari semua jurusan dan

berada dalam keseimbangan (Riyadi, 2013).

Definisi terapi oksigen hiperbarik adalah pemberian oksigen

tekanan tinggi untuk pengobatan yang dilaksanakan dalam Ruang Udara

Bertekanan Tinggi (RUBT). Sedangkan menurut Undersea and Hyperbaric

Medical Society (UHMS), terapi oksigen hiperbarik merupakan suatu

perlakuan dimana pasien menghirup 100% oksigen murni di dalam suatu

ruangan tertutup yang diberi tekanan lebih besar dari tekanan di atas

permukaan laut (1 ATA). Peningkatan tekanan yang dilakukan harus

sistemik and diberikan di dalam suatu monoplace atau multiplace

chambers (Gill, 2004).

11

Page 16: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

2.3.2 Sejarah Terapi Oksigen Hiperbarik

Terapi hiperbarik pertama kali dicatat pada tahun 1662, ketika Dr.

Henshaw dari Inggris membuat RUBT untuk pertama kalinya. Sejak itu,

penggunaan RUBT ini banyak menghasilkan manfaat dalam mengobati

penyakit. Pada tahun 1879, penggunaan terapi hiperbarik dalam operasi

mulai dilakukan. Pada tahun 1921 Dr. J. Cunningham mulai

mengemukakan teori dasar tentang penggunaan oksigen hiperbarik untuk

mengobati keadaan hipoksia. Tetapi usahanya mengalami kegagalan.

Tahun 1930 penelitian tentang penggunaan oksigen hiperbarik mulai

terarah dan mendalam. Sekitar tahun 1960an Dr. Borrema memaparkan

hasil penelitiannya tentang penggunaan oksigen hiperbarik yang larut

secara fisik di dalam cairan darah sehingga dapat memberi hidup pada

keadaan tanpa Hb yang disebut life without blood. Hasil penelitiannya

tentang pengobatan gas gangren dengan oksigen hiperbarik membuat Dr.

Borrema dikenal sebagai Bapak RUBT. Sejak saat itu, terapi oksigen

hiperbarik berkembang pesat dan terus berlanjut sampai sekarang

(Riyadi, 2013).

2.3.3 Aspek Fisika (Gill, 2004)

Dasar dari terapi oksigen hiperbarik terletak pada hukum gas ideal

yaitu :

a. Hukum Boyle menyatakan bahwa pada suhu konstan, tekanan dan

volume gas berbanding terbalik.

P1 V1 = P2 V2

Ini adalah dasar untuk banyak aspek terapi hiperbarik, termasuk

sedikit peningkatan suhu chamber selama pengobatan dan

fenomena yang dikenal sebagai 'squeeze' (memeras), yang terjadi

ketika tuba eustachius yang tersumbat menghambat equalisasi

tekanan gas sehingga kompresi gas memberikan rasa nyeri di

telinga tengah. Pada pasien yang tidak bisa secara independen

melakukan ekualisasi tekanan, penempatan tabung tympanostomy

12

Page 17: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

harus dipertimbangkan untuk menyediakan saluran rongga udara

antara telinga luar dan dalam. Demikian pula, gas yang

terperangkap dapat membesar dan membahayakan selama

dekompresi, seperti dalam contoh langka yaitu pneumotoraks yang

terjadi selama pemberian tekanan.

b. Hukum Dalton menyatakan bahwa tekanan suatu campuran gas

sama dengan jumlah tekanan parsial masing-masing gas.

P = P1 + P2 + P3 + …..

c. Hukum Henry menyatakan bahwa jumlah gas terlarut dalam cairan

berbanding lurus dengan tekanan parsial gas tersebut pada

temperatur tetap.

d. Hukum Charles menyatakan bahwa pada volume tetap, temperatur

suatu gas berbanding lurus dengan tekanannya.

PVT

=K

2.3.4 Efek Fisiologis

Pada oksigen hiperbarik, tekanan yang diberikan lebih besar dari

tekanan atmosfer di atas permukaan laut (1 atm = 14.7 psi, 1 kg/cm 2 ,

101.3 kPa, 760 torr atau 760 mmHg). Pada tekanan 1 atm, konsentrasi

oksigen dalam plasma darah yaitu sebesar 0.3 mL/dL . Dalam keadaan

istirahat, jaringan akan mengambil 5-6 mL oksigen per desiliter darah bila

perfusi normal. Pemberian 100% oksigen dalam tekanan yang normobaric

akan meningkatkan oksigen yang terlarut dalam darah hingga 1.5 mL/dL,

dan bila diberikan pada tekanan 3 atm, maka oksigen terlarut akan

menjadi kurang lebih 6 mL/dL, sehingga akan lebih dari cukup untuk

memenuhi kebutuhan sel tanpa memerlukan keterlibatan dari

haemoglobin. Adanya oksigen yang terlarut ini, maka oksigen akan

teralirkan ke daerah yang tidak dapat dijangkau oleh eritrosit, dan dapat

menyebabkan terjadinya oksigenasi jaringan meskipun tanpa

pengangkutan Hb dengan oksigen, seperti pada keadaan keracunan

karbon monoksida dan anemia yang parah (Emi Latham, 2014).

13

Page 18: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

HBO meningkatkan terbentuknya oksigen bebas radikal yang dapat

mengoksidasi protein dan membran lipid, menghancurkan DNA dan

menghambat fungsi metabolik bakteri. HBO efektif dalam melawan bakteri

anaerob dan membantu system oksigen dependent peroxidase dimana

terjadi peranan leukosit yang membunuh bakteri. HBO juga meningkatkan

transport dari antibiotic yang oxygen dependent melewati dinding sel

bakteri (Gill 2004).

HBO meningkatkan penyembuhan luka dengan cara meningkatkan

gradient oksigen di sepanjang tepi luka yang iskemik, dan membantu

peningkatan terbentuknya kolagen yang diperlukan dalam proses

angiogenesis (Gill, 2004).

Beberapa efek terapi hiperbarik oksigen pada tubuh antara lain:

1. Angiogenesis. Terapi HBO dapat menstimulasi pertumbuhan dari

kapiler-kapiler pada jaringan yang hipoksia sehingga dapat

meningkatkan kecepatan penyembuhan luka.

2. Hiperoksigenasi. Terapi HBO dapat meningkatkan kadar oksigen

karena oksigen dapat diangkut melalui plasma.

3. Osteogenesis. Terapi HBO dapat menstimulasi produksi dari sel-sel

tulang baru.

4. Microbiological. Dengan kadar oksigen tinggi dapat membunuh

bakteri, terutama yang bersifat anaerob.

5. Imunologi. Terapi HBO dapat meningkatkan kemampuan dari

fungsi fagositosis dan sel-sel natural killer.

6. Menurunkan inflamasi. Terapi HBO dapat menurunkan mediator-

mediator inflamasi.

7. Vasokonstriksi. Terapi HBO dapat meyebabkan penyempitan dari

lumen pembuluh darah sehingga mengurangi oedema.

8. Reduksi gelembung udara. Terapi HBO dengan tekanan tinggi

dapat menyebabkan penurunan volume dari gelembung udara

termasuk gelembung nitrogen pada DCS.

14

Page 19: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

9. Perbaikan jaringan. Terapi HBO dapat meningkatkan kecepatan

perbaikan jaringan.

2.3.5 Indikasi Terapi Oksigen Hiperbarik

Indikasi mutlak terapi oksigen hiperbarik adalah (Riyadi, 2013):

1. Emboli gas

2. Decompression sickness

3. Keracunan gas karbon monoksida

Indikasi terapi HBO yang diterima secara universal:

Kondisi akut (terapi HBO harus diberikan sedini mungkin

dikombinasi dengan terapi konvensional):

1. Ulkus yang tidak mengalami penyembuhan, luka

bermasalah, cangkok kulit yang mengalami reaksi penolakan.

2. Crush injury, sindrom kompartemen dan penyakit iskemi

traumatik akut yang lain.

3. Gas gangren/infeksi clostridium.

4. Infeksi jaringan lunak yang necrotizing (jaringan subkutan,

otot, fascia)

5. Thermal burn

6. Anemia parah

7. Abses intrakranial

8. Post-anoxic encephalopathy

9. Luka bakar

10. Tuli mendadak

15

Page 20: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

11. Iskemik okuler patologik

12. Emboli udara atau gas (terapi kuratif / lini utama

pengobatan)

13. Penyakit dekompresi (terapi kuratif / lini utama pengobatan)

14. Keracunan karbon monoksida dan inhalasi asap (terapi

kuratif / lini utama pengobatan)

Kondisi kronis

1. Ulkus yang tidak mengalami penyembuhan / luka

bermasalah (diabetes / vena dll)

2. Kerusakan jaringan akibat radiasi

3. Cangkok kulit dan flap (yang mengalami reaksi

penolakan/rejection)

4. Osteomyelitis kronis (refrakter).

2.3.6 Kontraindikasi Terapi Oksigen Hiperbarik

A. Kontraindikasi absolut (Medscape, 2014)

Absolute Contraindications

Reason Contraindicated

Necessary Conditions Prior to HBOT

Untreated pneumothorax

Tension pneumothorax

Pneumomediastinum

Thoracostomy

16

Page 21: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

B. Kontraindikasi relatif (Medscape, 2014)

Relative Contraindications

Reason ContraindicatedNecessary Conditions Prior to HBOT

AsthmaAir trapping upon ascent

leading to pneumothorax

Must be well controlled

with medications

Claustrophobia AnxietyTreatment with

benzodiazepines

Congenital

spherocytosisSevere hemolysis

None; HBOT for

emergencies only

Chronic obstructive

pulmonary

disease(COPD)

Loss of hypoxic drive to

breatheObservation in chamber

Eustachian tube

dysfunction

Barotrauma to tympanic

membraneTraining, PE tubes

High fever Higher risk of seizures Provide antipyretic

Pacemakers or epidural

pain pump

Malfunction or deformation

of device under pressure

Ensure company has

pressure-tested device

and learn to what depth

Pregnancy

Unknown effect on fetus

(Previous studies from

Russia suggest HBOT is

safe.)

None, but HBOT may be

used in emergencies

Seizures May have lower seizure

threshold

Should be stable on

medications; may be

treated with

17

Page 22: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

benzodiazepines

Upper respiratory

infection (URI)Barotrauma

Resolution of symptoms or

decongestants

Bleomycin Interstitial pneumonitis

No treatment for extended

time from use of

medication

Cisplatin Impaired wound healing

No treatment for extended

time from use of

medication

Disulfiram

Blocks superoxide

dismutase, which is

protective against oxygen

toxicity

Discontinue medication

Doxorubicin Cardiotoxicity Discontinue medication

Sulfamylon Impaired wound healingDiscontinue and remove

medication

18

Page 23: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

BAB 3

HUBUNGAN ANTARA TERAPI OKSIGEN HIPERBARIK DENGAN BAROTRAUMA PARU

Barotrauma adalah kerusakan jaringan dan sequelenya akibat

ketidakseimbangan antara tekanan udara rongga fisiologis dalam tubuh

dengan tekanan lingkungan di sekitarnya (Riyadi, 2014). Barotrauma paru

merupakan barotrauma yang melibatkan organ paru dan yang paling

serius dan membutuhkan penanganan segera. Terjadinya barotrauma

paru ini dapat dibedakan menjadi barotrauma paru waktu descent dan

barotrauma paru waktu ascent.

Barotrauma paru waktu descend dapat disebabkan oleh

penyelaman tahan nafas maupun dengan alat selam. Hal tersebut terjadi

saat pengurangan volume paru-paru melampaui batas akibat dari tekanan

di sekitarnya, akibatnya terjadi kompensasi berupa distensi pembuluh

darah paru, dimana ketika sudah melebihi ambang batasnya, dapat terjadi

ruptur pembuluh darah paru, dan menyebabkan perdarahan paru (CFUA,

2010). Kerusakan jaringan paru pada barotrauma waktu descent ini

(squeeze), adalah kerusakan pada pembuluh-pembuluh vena kecil,

perembesan cairan lewat membran alveoli dari kapiler-kapiler dan jaringan

ke dalam alveoli dari kapiler-kapiler dan jaringan ke dalam alveoli dan

saluran-saluran nafas, yang lebih lanjut bisa terjadi perdarahan (Riyadi,

2013). Terapi utama barotrauma waktu descent adalah dengan

memberikan oksigen 100% menggunakan intermittent positive pressure

(ventilator) tanpa perlu diberikan tekanan yang hiperbarik.

Barotrauma paru tipe ascend terjadi karena pada saat naik ke

permukaan, terjadi penurunan tekanan sekeliling dan sesuai hukum Boyle

udara dalam paru akan mengembang volumenya. Masalah akan timbul

apabila ekshalasi terhambat waktu naik, maka udara yang mengembang

dalam paru akan terperangkap dan bila batas elastisitas paru terlampaui,

19

Page 24: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

maka mengakibatkan ruptura paru (Burst lung). Menurut Edmond cs, ada

4 kemungkinan akibat dari barotrauma paru waktu ascend yaitu kerusakan

jaringan paru, emfisema surgikalis, pneumothorax, dan emboli udara.

Pada kerusakan jaringan paru, terapi utama yang digunakan

adalah inhalasi oksigen 100% agar tercapai kadar gas yang memadai

dalam sistem arteri. Penggunaan terapi oksigen hiperbarik sebaiknya

dihindari apabila tidak mutlak diperlukan, karena dapat memperluas

kerusakan jaringan paru (Riyadi, 2013).

Pada emfisema surgikalis dimana terjadi penyebaran gas ke

pembuluh darah besar, jalan nafas dan bahkan bisa ke mediastinum,

subkutan, maupun di pericardium, maka terapi yang diberikan merupakan

terapi simtomatis dan dapat diberikan inhalasi gas oksigen 100% pada

tekanan atmosfer (Unsworth, 1973). Terapi oksigen hiperbarik dapat

diberikan apabila terjadi emfisema mediastinalis yang berat, juga pada

emfisema surgikalis yang diikuti dengan adanya emboli udara (Riyadi,

2013).

Pada pneumothorax terjadi penurunan efisiensi pulmonal dan

oksigenasi, juga penurunan aliran vena akibat dari peningkatan tekanan

intra thoracal (Unsworth, 1973). Terapi untuk pasien dengan

pneumothorax adalah dengan pemberian oksigen secara intermittent

tanpa tekanan positif, analgesic, bed rest, dan fisioterapi. Pneumothorax

tidak memerlukan terapi rekompresi / oksigen hiperbarik, karena dengan

terapi rekompresi, pneumothorax akan cepat hilang gejalanya tetapi pada

saat dekompresi, gejala tersebut akan muncul bahkan memburuk menjadi

tension pneumothorax. Apabila indikasi terapi oksigen hiperbarik mutlak

diperlukan, maka boleh dilakukan terapi HBO setelah pneumothorax nya

diterapi terlebih dahulu dengan thoracocentesis (Riyadi, 2013).

Emboli udara merupakan keadaan yang emergency dan

membutuhkan penanganan segera. Terapi rekompresi dengan oksigen

hiperbarik mutlak diperlukan agar gelembung gas dapat larut dan tidak

20

Page 25: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

menimbulkan penyumbatan. Dengan tekanan 6 ATA, ukuran emboli

dikurangi menjadi 1/6nya, sehingga dapat melewati pembuluh-pembuluh

darah. Segera setelah gelembung udara tersebut mengecil, maka

diberikan oksigen untuk mempermudah absorpsinya. Apabila keadaan

gawat dan jauh dari tempat yang menyediakan terapi rekompresi, maka

penyelam dapat direkompresi dengan melakukan penyelaman lagi pada

kedalaman 9 meter menggunakan oksigen 100% lewat full face mask

selama 30 sampai 120 menit, setelah itu kecepatan naik ke permukaan 1

meter/12 menit. Proses naik boleh dihentikan bila perbaikan klinis

berkurang. Sesudah sampai di permukaan, oksigen tetap diberikan secara

intermitten (Riyadi, 2013).

21

Page 26: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

BAB 4

Kesimpulan

Pemberian terapi oksigen hiperbarik pada kasus barotrauma paru

tidak selalu diperlukan, bergantung pada jenis barotrauma paru tersebut.

Pada barotrauma paru tipe descent, pemberian terapi oksigen

hiperbarik tidak diperlukan.

Pada barotrauma paru saat ascend maka pemberian terapi oksigen

hiperbarik bergantung pada jenisnya yaitu kerusakan jaringan paru,

emfisema surgikalis, pneumothorax, atau emboli udara. Pada kasus

kerusakan jaringan paru dan pneumothorax murni, terapi oksigen

hiperbarik tidak perlu bahkan tidak boleh diberikan sebelum kasus

tersebut diobati. Sedangkan pada kasus emfisema surgikalis dan emboli

paru, terapi oksigen hiperbarik dapat diberikan karena bermanfaat

mengobati kasus tersebut.

22

Page 27: 2015karyatulisilmiah.com/wp-content/uploads/2016/05/Referat... · Web viewJudul referat “Hubungan Antara Terapi Hiperbarik Oksigen dengan Kejadian Barotrauma Paru” telah diperiksa

DAFTAR PUSTAKA

Ajunk, 2012, Anatomi Paru dan Penyakit Paru, viewed 6 Agustus 2015, <http://paru- paru.com/anatomi-paru-paru/>

Gill, A.L. 2004, Hyperbaric oxygen: its uses, mechanisms of action and outcome. Oxford University Press Journal, Vol 97, Hal 385-395

Jain, K.K 1999, Hyperbaric Medicine 3rd Ed, Germany, Canadian Cataloguing in Publication Data

Kartono, Sad Ari 2007, Prevalensi dan faktor risiko kejadian penyakit dekomprasi dan barotrauma pada nelayan penyelam di Kecamatan Karimunjawa Kabupaten Jepara tahun 2007, Tesis, Universitas Gajah Mada

Latham, Emi 2014, Hyperbaric Oxygen Therapy, Medscape, viewed 6 Agustus 2015, < http://emedicine.medscape.com/article/1464149-overview#a2>

Ling Yan, Ting Liang, and Oumei Cheng 2015, Hyperbaric Oxygen Therapy in China, Medical Gas Research, Vol 5

Mathieu D. 2006, Handbook of Hyperbaric Oxygen. Springer

Novi, 2015, Struktur dan Fungsi Paru Paru Manusia, Edukasi Teknologi dan Informasi, viewed 7 Agustus 2015, < http://www.sridianti.com/struktur-fungsi-paru-paru-manusia.html >

R. M. Leach, P.J. Rees, and P. Wilmshurst 1998, Hyperbaric Oxygen Therapy, British Medical Journal, Vol 317, No 7166, Hal 1140-1143

Riyadi 2013, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Penyelaman dan Hiperbarik, Lakesla

Tibbles, Patrick M dan John S. Edelsberg 1996, Hyperbaric Oxygen Therapy, The New England Journal of Medicine, Vol 334, No 25, Hal 1642-1648

S, Susan dan Erick Supondha 2012, Tatalaksana Penyakit Akibat Kerja Karena Pajanan Hiperbarik dan Penyakit Lain Akibat Penyelaman, viewed 6 Agustus 2015, <http://hyperbaricmedicineconsultant.blogspot.com/2012_06_24_archive.html>

Unknown 2010, Pulmonary Barotrauma, viewed 6 Agustus 2015, <http://www.cfua.org/Pulmonary-Barotrauma.html>

U.S Navy Diving Manual 2008

23